Dia Bimaku

Dia Bimaku
Akhirnya aku di lamar


__ADS_3

Panas semakin terik, Maudy duduk santai setelah Bima mengantarnya pulang ke rumah. Soal cincin, Bima membawanya pulang karena akan dipasang ke jari Maudy malam ini. Tatapannya masih kosong, hingga seseorang datang dan membuyarkan lamunannya.


"Permisi mbak. Ini benar rumah Maudy kan?" Lagi dan lagi, kenapa ada sebuah mobil box datang kesini. Apa ini? Batinnya. Bisa di tebak ini pasti Bima!


"Iya benar, kenapa ya mas?"


"Oh kami pihak WO mbak, yang di utus dari keluarga ibu Lisa untuk membuat dekor pertunangan nanti malam." Ucapnya. Maudy pamit sebentar untuk memanggil ibunya.


Setelah kembali mereka tidak bisa menolak, langsung memberi jalan untuk masuk ke dalam rumah. Membawa peralatan lengkap. Beserta karpet juga sudah di sediakan.


"Maaf bu, ini Sofanya bisa di geser sementara kan?" Pamitnya setelah melihat ruangan yang akan di pakai masih belum cukup.


"Oh iya silahkan."


"Dy, sia-sia kalau gini ibu nyuci karpet sama gorden." Bisik nya.


Masih berdiri menatap pihak WO mulai membuat dekor ada lagi tamu yang datang.


"Iya sebentar." Ibu Irma langsung melangkah keluar rumah.


"Mbak, ini catering sudah datang." Ternyata istri mang Sugi yang mengantarkan. Duh, sungguh repot. Satu hari ini benar-benar banyak sekali kejutan yang tak terduga.


"Oh, iya. Makasih ya?"


Lengkap, dengan semuanya. Baik buah dan beberapa kue manis yang di siapkan. Jelas, ini adalah pertunangan untuk seorang anak dari keluarga konglomerat. Mana mungkin biasa-biasa saja.


"Biar tak bantu mbak, mau di letakkan dimana?" Tanya istri mang Sugi lagi.


"Ya ampun, makasih banyak loh mbak." Ia mengangguk.


Setelah meletakkan semua makanan di meja. Semua tampak terlihat rapi. Beneran apa yang di katakan Bima semalam, ibu hanya perlu duduk jangan repot-repot masak, atau melakukan apapun. Semua sudah diatur oleh mamanya. Bahkan seluruh ruangan pihak WO yang membersihkan.


"Selamat ya mbak, akhirnya Maudy sama Bima bisa langgeng, dan melanjutkan hubungan mereka." Seperti tau semua kisah cinta mereka.


"Ah iya, makasih banyak ya mbak." Istri mang Sugi langsung pamit setelah membantu menata makanan di atas meja.


***


"Hallo?"


"Ada apa kak?"


"Ini, Maudy nanti malam tunangan sama Bima, kamu doain ya semoga semuanya lancar."


"Ya ampun, syukur lah kak. Di bimbing Maudy kak, jangan lupa tentang tujuannya, buka usaha."


Ternyata ibunya juga tak lupa mengabari adiknya, mau bagaimana pun dia juga harus tau. Walau tidak bisa hadir, yang terpenting kabar harus sampai kesana. Agar tidak ada kesalahpahaman. Nah, yang kedua, ibunya juga akan mengabarkan mama dari sahabat anaknya. Ratih, orang tua Kiki. Karena semua keluarganya jauh di kampung, jadi tidak mungkin bisa datang kesini.


"Iya mbak, Kiki udah bilang tadi. Ya udah nanti malam aku datang kok."


Dan yang terakhir, akan memberi tau tetangga kanan dan kiri, yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Setidaknya, ada perwakilan dari pihak wanita, meski bukan keluarga kandung, setidaknya harus ada.


"Bu, ibu mau kemana?" Melihat ibunya bersiap akan keluar rumah.


"Ibu mau kasih tau tetangga sebelah Dy, mereka juga harus tau. Kamu disini aja." Maudy mengangguk.


***


Huam, rasanya mengantuk sekali. Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 13:45. Pantas saja, rasanya sudah ingin rebahan.


Melihat dekor yang sudah hampir selesai, mata Maudy berbinar. Ini sungguh mewah, berbeda dengan dekor biasa yang di pakai orang lain untuk melakukan sesi photo di pertunangan.


"Mbak Maudy, nanti sekitar jam 6 sore, MUA kami akan datang untuk merias wajah mbak ya?" Apalagi ini? Apa harus, pikirnya.


"Karena nanti akan melakukan sesi photo bersama keluarga, jadi mbak harus terlihat lebih cantik."


"Iya mas. Ini udah selesai belum?" Pihak WO tersenyum sebelum menjawab.


"Sedikit lagi kok mbak, kalau mbaknya mau istirahat silahkan, nggak apa." Tau saja kalau memang Maudy sudah tak tahan membuka mata. Kesempatan ini, batinnya. Maudy langsung saja masuk ke kamarnya, rebahan. Ah sungguh nikmat batinnya. Setelah seharian memikirkan hal yang mengejutkan lelah juga ternyata.


***

__ADS_1


Pukul 5 sore. Maudy terbangun, hal yang pertama kali ia lihat adalah ponselnya. Takut kalau Bima akan memberi kabar penting lagi. Setelah melihat ponsel ternyata tidak ada, ia masih rebahan di tempatnya.


Suara ibu yang teriak memanggil Tisha memekik sampai ke dalam kamarnya. Maudy segera turun dari tempatnya, kasian juga melihat adiknya yang satu harian ini harus membantu ibunya.


Mata Maudy menangkap pemandangan di ruangan rumahnya setelah keluar dari kamarnya. Memang ini yang akan dia lihat saat keluar dari kamar.


Ya ampun, bagus banget.


Sudah terlihat sepi, semua sudah pulang ternyata. Bahkan semua makanan juga sudah mereka pindahkan dari meja yang tadi sudah ibu siapkan. Mereka sudah membawa sendiri meja prasmanan. Tampak tirai putih dengan beberapa bunga menjadi hiasan. Dan ada lampu di kanan kiri panggung yang tingginya sekitar 20cm. Ini luar biasa, walau tampak sederhana tapi entah kenapa ini berbeda dengan yang biasa orang lain pakai.


"Bu, ayah pulang?" Maudy menoleh ke arah pintu. Dan ayahnya, seperti orang bingung yang melihat rumahnya sudah di sulap seperti ini. Maudy tersenyum, tapi tidak dengan ayahnya. Bahkan melirik Maudy juga tidak, matanya menatap lekat ke arah dekorasi pertunangan anaknya.


"Ayah baru pulang?" Sepertinya ayahnya benar-benar tidak menyadari ada anaknya disini. Setelah mendengar Maudy bertanya barulah ayahnya menatap.


"Eh iya, ayah lembur tadi." Masih kembali fokus. "Ini mau nikahan atau tunangan?" Tanyanya seperti orang bingung. "Apa ini ibumu yang buat?" Maudy tertawa.


"Bukan lah yah. Ini tadi sudah ada pihak WO yang datang untuk membuat ini semua." Ayahnya manggut-manggut. Membandingkan acara lamaran dengan dirinya jaman dulu, ya jelas bedalah ayah! Katanya, kalau dulu tinggal datang terus kasih cincin aja, sekarang aneh-aneh, oh ya ampun ayah. Maudy hanya menggeleng. Bisa-bisanya di bandingkan dengan 20 tahunan yang lalu.


"Ayah udah pulang?" Ternyata baru tau sekarang.


"Iya. Eh bu, coba ibu kesini. Dy photokan ayah berdua sama ibumu ya?" Langsung menarik lengan istrinya, berdiri dengan senyum manis ayahnya, Maudy tidak bisa menolak, biarkan saja mereka bernostalgia.


"Udah ah yah, ibu belum mandi." Langsung menjauh dari suaminya. Sementara ayahnya meminta Maudy menunjukan beberapa photo yang ia ambil tadi.


"Dy, udah kamu mandi. Udah jam berapa sekarang!" Ah lupa, kalau sebentar lagi MUA bakal datang.


***


"Langsung masuk aja mbak ke kamar." Ibunya mengantar MUA sampai ke pintu kamar Maudy.


"Makasih bu, mari." Tersenyum ramah lalu masuk ke dalam kamar Maudy.


Dalam waktu satu jam, Maudy sudah di poles wajahnya. Walau hanya seperti make up natural, tapi ini benar-benar mengagumkan. Memang dasarnya Maudy sendiri juga cantik, dan lebih cantik lagi saat sudah di rias oleh MUA profesional.


"Perfect." Ucapnya dan mempersilahkan Maudy untuk melihat wajahnya sendiri di kaca.


"Ya ampun, kayak bukan aku ya mbak?" Sambil mengelus wajahnya sendiri.


Pukul 7 malam lewat 30 menit. Maudy masih tetap berada di kamarnya. Dan dua tetangga yang di undang ibunya sudah datang, Maudy bisa mendengarnya dari dalam.


"Dy?" Suara yang ia kenali.


"Masuk." Ceklek. Suara handle pintu terbuka.


Kiki mematung sejenak, menatap wajah sahabatnya ini. Maudy sudah berganti pakaian. Mengenakan gaun yang di berikan oleh Bima semalam.


"Ya ampun, cantik banget. Maudy bukan sih?" Perlahan Kiki mendekat. Maudy juga tak mampu menahan tawa melihat ekspresi wajah Kiki.


"Udah ah, biasa aja lah lihatnya Ki."


"Beneran, cantik banget."


"Jadi biasanya nggak cantik?" Menggoda Kiki.


"Cantik juga, cuma ini kebangetan!" Haha sama-sama tertawa.


"Papa kamu ikut?" Kiki mengangguk. Pandangannya teralih dengan benda yang berukuran tak terlalu kecil, yang Maudy letakkan di atas meja kamar, tepat di samping kasurnya.


"Ini apa?" Tanyanya dan meneliti.


"Kotak musik, itu aku di kasih kena-"


"Dy, ayo keluar. Keluarga Bima udah datang!" Suara teriakan ibu bersamaan ketukan yang keras.


Deg.


Deg.


Jantung Maudy berpacu lebih cepat, ada rasanya yang berbeda. Kenapa sekarang jadi tegang?


"Kenapa?" Tanya Kiki yang melihat wajah Maudy seperti orang bingung.

__ADS_1


"Aku kok jadi deg-degan ya Ki, kayak nervous gitu sih."


Sambil mengeggegam erat jari jemarinya sendiri.


"Udah ayo, biar aku bantu kamu keluar." Padahal nggak ada yang perlu di bantu, dasar Kiki lebay. Maudy juga tidak menggunakan gaun yang sampai ke lantai, semuanya simple, bahkan make up yang tidak tebal ini saja sudah mampu membuat wajahnya bersinar.


Saat setelah melangkah keluar, seluruh pandangan mata tertuju olehnya. Maudy hanya mampu tersenyum, jauh dari kata dirinya jika malu, tapi saat ini memang benar-benar nervous.


Bima datang dengan mamanya, mas Rio, kakak ipar dan dua ART rumahnya. Maudy kenal mereka, itu yang Maudy bantu mencuci piring sewaktu berkunjung ke rumah Bima untuk pertama kali.


Kemana om Adi? Dia nggak ikut?


Masih menatap satu persatu orang yang duduk di ruangan ini. Tapi nihil, memang papanya tidak ikut.


Maudy duduk di samping ibu dan ayahnya. Pandangan Bima tak lepas dari Maudy. Maudy sendiri tau itu, tapi ia hanya berpura-pura tidak tau. Biar kan saja, batinnya.


"Bisa kita mulai kan?" Oh ternyata yang mewakili ini mas Rio toh.


Maudy mengarahkan pandangannya kepada Rafa, keponakan Bima yang menggemaskan. Tampaknya Rafa juga tau kalau Maudy tersenyum ke arahnya, sehingga dia sendiri terus menggoyangkan lengan mamanya dan menunjuk ke arah Maudy.


Kok malah lihat Rafa sih? Bukannya lihat aku!!


"Silahkan, Bima kamu pasang cincin ke jari Maudy?" Lah, Bima sama Maudy mereka saling pandang, bingung. Dari tadi nggak mendengar mas Rio ngomong apa? Kenapa tau-tau sudah pasang cincin.


Bima langsung mengambil kotak yang di berikan mamanya, perlahan maju ke hadapan Maudy. Menarik tangannya lembut, dan memasukan cincin ke jari manis kekasihnya. Tapi tidak semudah itu, Bima tampak bergetar, begitu juga dengan Maudy. Sehingga tinggal memasukan saja harus menunggu beberapa menit.


Keringat tampak jatuh dari dahi Bima, dia menghapus setelah cincin sudah terpasang.


Keputusan kedua keluarga akan segera menikahkan anaknya dengan jangka paling lama satu tahun setelah pertunangan ini, dan tampaknya kedua belah pihak tidak keberatan.


"Ya sudah, mau makan dulu atau photo?" Tanya mamanya. Semua setuju jika photo saja dulu, nanti selesai tinggal makan. Benar juga, tampaknya semua setuju.


Lagi-lagi, lagi dan lagi. Seorang photography terkenal di sewa Bima malam ini. Ya, Maudy senang tapi sepertinya ini berlebihan. Karena seorang kang photo sepertinya lebih cocok jika memotret kalau acaranya di dalam gedung. Ah tapi sudahlah, kalau protes Bima akan marah nantinya.


Semua keluarga berkumpul, melakukan sesi photo hingga beberapa kali. Dan sudah entah yang ke berapa, bahkan Bima sudah menggerutu katanya giginya kering dari tadi suruh senyum, nyengir terus.


Acara selesai, pukul 10 malam, keluarga pamit untuk pulang. Tapi tidak dengan Bima, beralasan dengan mamanya ingin bicara berdua dengan Maudy. Iya, biarkan karena mereka sudah resmi tunangan.


"Tau gini langsung nikah aja jangan tunangan lagi." Gumamnya pelan yang sudah duduk bersama Kiki, Maudy dan juga Agam. Ya Agam datang setelah acara tukar cincin.


"Nggak usah aneh Bim."


"Dy photokan aku dong sama Agam?" Mulai, Kiki langsung menarik lengan Agam dan berdiri di antara dekor yang masih tetap rapi walau rusuhnya ibu-ibu tadi ketika berphoto.


Yang kedua, ketiga Bima masih diam menatap. Yang ke empat, ketika Kiki dan Agam sudah bergaya dan tersenyum, Bima langsung menarik lengan Maudy untuk kembali duduk.


"Sudah!" Ucapnya tak bisa di bantah. Kiki langsung mendengus dan menghentakkan kakinya berkali-kali. Sebal, iya melihat Bima rasanya pengen nyekik. Bima acuh saja, masih melanjutkan game di ponselnya.


"Dy, aku pulang ya?" Eh marah atau gimana ini?


"Agam lelah Dy, kasian dia juga belum ada istirahat dari siang, tadi toko dia jaga sendiri." Ah nggak, ternyata memang lelah bukan karena marah, batin Maudy.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Makasih ya Ki, gam?" Maudy berdiri, bermaksud mengantar kedua temannya ini sampai ke depan, tapi lagi-lagi Bima menariknya untuk kembali duduk, dan sama sekali tak mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Kamu jangan terlalu ramah sama Agam! Ingat dia pernah suka sama kamu sayang, aku nggak suka ya!" Huh, Maudy membuang nafas kasar. Iya baik menurut saja.


Kiki berbalik dan berjalan ke arah Bima.


"Bim, ajak ngamar lagi, jadi besok bisa langsung nikah."


Langsung berlari secepat mungkin setelah mengatakan hal itu. Bima tersenyum dan menoleh ke arah kekasihnya.


"Boleh juga ide Kiki?"


"Apa?" Sudah membulatkan matanya.


"Ah nggak." Lanjut game lagi dong.


Malam semakin larut, Bima juga harus pamit untuk pulang, dan sebenarnya memang itu yang di inginkan Maudy sedari tadi. Tapi jika menyuruhnya pulang pasti dia akan bilang, kamu ngusir ya sayang? Sehingga menunggu Bima sendiri yang berinisiatif untuk pamit pulang.


--__

__ADS_1


__ADS_2