Dia Bimaku

Dia Bimaku
Pertunangan yang mendadak


__ADS_3

Kembali menghirup udara tanah air. Setelah berjam-jam di dalam pesawat. Seseorang bertubuh tegap dengan stelan baju berwarna hitam. Sudah menyambutnya turun dan membawakan koper miliknya. Tentu ini suruhan papanya.


Suasana langit sudah berbeda, jelas karena ini juga sudah beda negara. Langit tampak cerah, ada awan yang membentuk senyuman di hari ini, dan hanya Bima yang bisa melihat. Bukan hanya tentang awan, baginya pun pintu mobil yang terbuka juga tersenyum menyambutnya masuk. Entahlah jika sampai di rumah nanti. Bakal ada kejadian apa setelah acara makan malam di mulai.


"Jalan pak." Suara wibawa Bima terdengar. Pandai sekali menempatkan posisi.


Hah, nafasnya terasa sesak ketika sudah sampai halaman rumah. Mobil terparkir sempurna, nampak seroang wanita paruh baya sudah berdiri tempat di depan pintu, dengan senyuman menyambutnya. Mungkin rindu sudah beberapa hari tak bertemu anaknya.


"Kamu sudah sampai, kamu baik-baik aja kan selama disana?" Bima tersenyum, baginya penghangat rumah hanya seorang mama. Andai saja, papanya juga begini, mungkin beberapa AC tidak akan terasa dingin di rumah ini. Tidak mampu menghangatkan kasih sayang orang tua.


"Baik ma. Papa mana?" Wajah mamanya berubah sendu.


"Papa belum pulang, masih di kantor. Hem Bim, nanti malam-"


"Ya aku tau ma." Dengan lembut mamanya mengelus lengan Bima. Ada satu harapan yang ia ingin, memiliki menantu seperti Maudy. Tapi melihat Bima yang merasa tidak keberatan ia juga enggan mengeluarkan suaranya.


"Aku ke kamar ma. Mau istirahat capek." Alasan yang masuk akal. Padahal malas melihat isi rumah yang sudah di tata rapi. Akan menyambut tamu agung nanti malam, kalau papanya bilang calon besan. Sebegitu ambisius nya papa misahkan aku dengan Maudy. Pikirnya, dan berjalan gontai memasuki kamarnya.


Baru 10 menit Bima benar-benar sudah terlelap, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Bima tidur memeluk boxer yang ia pakai tadi malam. Dengan alasan masih bau Maudy. Sekali bucin gini amat ah Bim.


Suara ketukan pintu yang sangat keras membuatnya menggeliat, merasa terganggu dengan tidurnya. Perlahan matanya mengerjab, mengumpulkan kembali kesadarannya. Setelah beberapa jam tertidur tidak membuatnya puas untuk mempersiapkan mental makan bersama nanti malam.


Bima menatap ke arah luar jendela. Menampakkan langit yang sudah berwarna kemerahan, tanda kalau matahari sudah pamit dan beristirahat. Suara ketukan belum berhenti, enggan menjawab lebih baik turun dan membukanya. Dengan rasa yang teramat malas Bima memutar kenop pintu.


"Den, di tunggu tuan besar di bawah." Ternyata salah satu pekerja di rumah yang mengetuk.


"Papa? Mau apa bi? Apa tamunya sudah datang?" Mengucek matanya lagi.


"Saya kurang tau den, kalau begitu saya permisi." Ucapnya sopan, meski Bima terpaut jauh lebih muda. Tapi ART tetap menundukkan kepala setelah berbicara kepada sang majikan. Sudah peraturan di rumah ini. Bahkan sejak Bima belum lahir.


"Mau apa sih papa?" Menggerutu dan menyambar handuk, siap untuk membersihkan diri sebelum menghadapi neraka nanti.


***


"Bim, sini?" Belum juga selesai menuruni anak tangga. Papanya sudah berdiri menyambutnya.


"Gimana, tidak ada kendala kan selama disana? Atau klien kurang puas dengan kerja sama ini?" Setelah duduk bersebelahan papanya mulai membuka suara.


"Lancar kok pa?"


Aku tau ini hanya sekedar basa-basi. Padahal mas Rio juga udah ngomong pastinya ke papa. Langsung aja kali pa ke intinya.


"Apa kamu bertemu wanita itu?" Bima langsung menoleh ke arah papanya.


"Maksud papa, siapa?" Ah begini, tenang. Dan pura-pura bodoh, karena selamanya papanya akan menganggapnya bodoh.


Jika waktu itu mas Rio menerima perjodohan dengan senang hati, bukan berarti aku begitu pa.


"Baguslah jika kamu pun sudah tak mengingat namanya. Mulai malam ini bersikap baik terhadap Luna Bim. Dia akan menjadi sekretaris pribadi mu mulai sekarang." Kabar apa lagi ini, batinnya.


"Maksud papa? Bukan kah aku masih berstatus sekretaris?" Ya, sampai saat ini Bima masih setia menjadi sekretaris nya Rio. Oleh sebab itu, jika Rio harus berangkat keluar negeri, begitu juga dengan Bima.


"Itu yang akan kita bahas nanti malam, persiapkan diri kamu!" Menepuk bahu anaknya lalu bangkit meninggalkan Bima yang masih dalam sejuta pertanyaan di pikirannya.

__ADS_1


Sepertinya jam berjalan sangat cepat hari ini, baru saja melakukan ritual mandi, kini Bima harus mengulang ritual mandinya. Bukan karena akan bertemu seorang Luna, tapi keringat yang terus jatuh membasahi membuatnya sedikit envy. Takut kalau tercium bau tidak sedap di meja makan.


"Bim?" Suara masnya sudah terdengar ketika Bima menata rambut didalam kamar.


"Apa?" Bicara ketus dan wajah datarnya.


"Selamat ya Bim? cie. Oh iya, kamu berhutang banyak cerita ya sama mas." Menunjuk kedua bola mata Bima dengan jari.


Ini ngasih selamat karena aku di jodohkan, atau selamat karena udah balikan sama Maudy sih.


"Heh, udah jangan ngelamun. Buruan, semua udah nunggu. Selamat buat hubungan yang masih bisa di selamatkan." Bima langsung menoleh ketika langkahnya sejajar dengan mas nya.


"Udah, mas tau. Tenang, aman." Mengedipkan sebelah mata untuk menggoda Bima.


Semua orang yang berada di meja makan sudah menatap Bima. Terutama Luna, ia bahkan tak berkedip. Terkahir kali bertemu Bima saat pernikahan mas Rio. Bima yang menyebalkan baginya, tapi saat ini Bima bahkan jauh lebih tampan. Wajah yang seperti bersinar, dan apa? Bagi Luna Bima tegas dan berwibawa.


Tak ada senyum atau sapaan yang dilakukan Bima kepada keluarga Luna. Ia langsung menarik kursi dan duduk. Tanpa menghiraukan tatapan mata papanya yang seperti ingin menelan Bima hidup-hidup. Malah Rio yang menyapa dan bertanya kabar kepada om Lukman, papa dari Luna yang menjadi rekan bisnis papanya di bagian pertambangan.


"Ya sudah kita makan ya? Soal yang lain akan di bahas setelah ini."


Tidak, tidak peduli dengan suasana canggung atau apa, Bima melahap makanannya. Mengikut suara perut yang sudah lapar. Persetan dengan seorang Luna.


Menit berikutnya selesai makan. Sudah ada wajah tegang, ya itu mamanya. Ia sepertinya masih tidak rela. Luna hanya datang dengan papa dan adik laki-laki yang masih berusia 10 tahun. Mamanya sudah meninggal sejak 10 tahun lalu, tepat dengan usia adiknya. Meninggal setelah berhasil mengeluarkan si jabang bayi dalam perutnya.


Luna, malam ini menggunakan dress yang mengepas dengan tubuh mungilnya. Wajahnya amat imut jika di pandang, dan salahnya Bima tidak tertarik untuk itu.


"Jadi gini, kita langsung pasang cincin untuk mereka. Soal perayaan bisa di samakan dengan syukuran atas kelahiran anak kedua dari Rio. Ini sudah kami sepakati." Bicara langsung ke intinya. Sementara Bima, mamanya dan Rio sama-sama menoleh. Disini yang paling kecewa adalah Lisa, istri dari Adi Nugroho. Kenapa, bisa-bisanya dia juga tidak membicarakan hal ini kepada istrinya. Kalau Bima, mau sekarang atau pun besok, sama saja, ia akan tetap kecewa. Cuma satu yang ia pikirkan, rencananya gagal lagi. Kenapa selalu papa sih yang maju selangkah lebih awal? Begitu protesnya dalam hati.


"Pa? Apa-apaan ini?" Lisa sebagai istri sudah tidak bisa diam melihat suaminya.


Protes Bim, protes! Begitu arti tatapan Rio.


Mamanya menggeleng setelah Bima menatapnya.


"Gimana Bim?" Tanya papanya. Bima masih menarik nafas.


"Diam berarti iya." Langsung mengeluarkan kotak cincin, sepasang. Dan itu jelas berlian.


"Kamu pasang ke jari Luna sekarang." Semua papanya yang mengatur. Bima enggan menariknya. Tapi satu panggilan papanya sudah mampu membuatnya menggerakkan tubuhnya.


Maafkan aku Dy. Aku janji ini nggak akan lama.


Sambil memasang cincin ke jari manis Luna, tanpa senyuman.


"Kamu juga masang cincin ke jari Bima Luna." Yang tersenyum disini hanya Lukman dan Adi. Orang yang hanya mementingkan soal perjodohan dan bisnis.


Tangan Luna nampak bergetar.


"Sini, aku bisa pasang sendiri." Ucap Bima ketus dan merebut cincin dari tangan Luna.


"Bim." Papanya memberi peringatan.


"Ah nggak apa Di. Mereka juga belum saling dekat."

__ADS_1


Setelah acara tukar cincin, entah hal apa lagi yang akan mereka rencanakan. Semuanya terdiam, yang sudah sangat ingin meluapkan emosinya adalah mamanya. Bahkan ia enggan tersenyum ke arah Luna yang disebut sebagai calon menantunya.


"Dan, dua bulan lagi Bima akan menyelesaikan kuliahnya. Begitu juga dengan Luna kan?" Tersenyum ramah ke Luna. Luna pun mengangguk. "Jadi, untuk perusahaan yang bergerak di pertambangan akan di pegang utuh oleh Bima. Dan Luna akan membantu Bima, sebagai sekretaris pribadinya. Jadi, kemana pun Bima pergi Luna akan ikut. Termasuk jika itu keluar negeri. Gimana? Kamu setuju Lukman?" Bukan bertanya dengan kedua pihak yang bersangkutan.


"Aku setuju itu Di. Malah mereka akan lebih akrab nantinya."


Cih, dia kira kayak novel apa, sekretaris ku idolaku. Nggak!! Nggak akan!


"Mau kemana ma?" Tanya suaminya yang melihat istrinya berdiri.


"Kamar mandi." Dengan suara malas dan bernada kekecewaan.


Aku harus bilang apa ke Maudy? Ah lebih baik aku nunggu dia pulang.


"Ya sudah. Bim, sana ajak Luna duduk di taman rumah. Kalian butuh ngobrol berdua." Rio sudah menekuk wajahnya. Melihat posisinya saat ini, bukan tentang perusahaan mana yang akan ia pimpin. Tapi rasa jengkel yang tak bisa ia tutupi melihat Bima diam tidak berontak.


"Rio, kamu tetap pimpin perusahaan yang saat ini kamu jalani. Sudah waktunya papa pensiun. Tinggal menghitung bulan" Suara nafas kelegaan terdengar. Sepertinya papanya menang, dan Bima kalah telak.


***


"Bim." Panggil Luna lembut setelah duduk berdua di kursi taman. Entah sudah berapa lama mereka sama-sama terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Hem." Tanpa menoleh. Bahkan Bima duduk dengan jarak yang jauh. Andai saja ini Maudy, pasti dia sendiri tidak akan memberi jarak dan ruang untuk angin malam masuk menelusup ke tubuh mereka.


"Kamu keberatan ya Bim dengan pertunangan ini?" Hati-hati dalam berbicara, Luna juga tidak berani menatap wajah Bima, hanya meliriknya. Seperti orang yang sedang mencuri pandang.


Bima menoleh, melihat dan menatap wajahnya. Luna malah semakin salah tingkah.


"Kamu cantik." Luna langsung tersenyum. Mendengar dirinya di puji, memang itu hal yang ia harapkan. "Tidak mungkin kalau laki-laki menolak mu. Tapi tidak untuk aku. Dari pertama kali kita ketemu, hatiku masih sama. Mencintai satu orang. Sebaiknya kamu yang pergi dari pada merasa seperti tersakiti, padahal itu karena perbuatan kamu sendiri."


"Jangan tanya aku keberatan atau tidak, karena memang aku tidak mau! Kamu dengar ini, AKU TIDAK MAU!! Tapi, aku tidak bisa menolak papa, aku berharap kamu lah yang memberontak. Tapi aku salah, sepertinya kamu menang menerima ini dengan senang hati." Bima tersenyum kecut. Luna terbungkam. Ada air mata yang menganak sungai, tapi sudah Bima tekankan. Tidak peduli!


"Jalani saja alurnya. Tetap damai di hadapan orang tua kita. Dan, setelah itu. Carilah kehidupan masing-masing ketika aku dan kekasihku sudah menyatu kembali, bersama dalam satu negara. Menghirup udara di tempat yang sama. Jika itu sudah aku dapatkan, silahkan pergi tanpa memberi alasan. Karena bagiku, secuil pun kamu tidak ada pentingnya. Dan cincin ini." Menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Aku anggap hanya sebuah lambang keterpaksaan."


"Aku tau, di dunia ini yang baik hanya mama dan papaku." Ucapnya lirih dan sesekali menghapus air mata yang jatuh.


"Andai, andai mamaku masih ada." Terisak. "Ku kira kamu orang baik." Luna berdiri dan melangkah.


Bima dengan cepat menariknya. "Maaf atas ucapan ku. Tapi itu kenyataannya, aku memang tidak bisa mencintai wanita lain, selain mama dan Maudy ku." Luna menghempaskan tangannya.


"Duduklah, tenangkan dirimu. Jangan menangis di depan mereka kalau tidak ingin keadaan semakin kacau, cukup pertunangan yang mendadak ini yang membuatku semakin tak semangat. Jangan ada masalah baru." Luna melunak. Duduk kembali dan menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Awalnya Bima ingin menolak, tapi melihat Luna yang memang menangis karena mengingat mamanya yang sudah tenang di alam lain, itu Bima urungkan. Yang terpenting baginya, hatinya masih sama. Hanya untuk satu orang.


Setelah cukup lama mereka terdiam. Suara panggilan membuat mereka harus menoleh. Dan itu adalah Lukman, papa dari Luna.


"Wah, nampaknya anak kita secepat itu ya Di akrabnya. Sampai sudah senderan." Tersenyum bangga dengan temannya.


Baik Bima dan Luna, mereka sama-sama tersenyum kecut.


Semoga hatiku tidak akan luluh jika melihatnya menangis.


***


Malam sudah larut. Bima belum siap untuk tidur, mungkin mata yang terpejam beberapa jam lalu masih ingin terbuka. Ada hati yang tidak siap memberi kabar, memberi tau tentang malam ini. Dalam lamunan ia tenggelam, berharap ini mimpinya di sore hari. Tapi sepertinya mustahil, bahkan dia sudah tidak lagi merasakan lapar setelah mengisi perut, yang artinya ini memang nyata.

__ADS_1


Satu harapan ku. Kamu nggak akan menyerah Dy.


--__


__ADS_2