
Sudah sangat jauh mereka berjalan dari penginapan. Maudy yang merasa lelah duduk di bawah pohon dengan Kiki. Rasanya malah malas untuk kembali kesana, sudah ada Bima dan pasti akan selalu berjumpa. Maudy menghapus keringat yang menetes di wajahnya. Mengelus perutnya lagi yang terasa kaku saat ini.
"Kamu nggak apa-apa kan Dy?" Maudy menggeleng. "Kita balik aja ya?"
"Sebentar lagi ya Ki?" Kiki berpindah duduk di samping Maudy. Memanjangkan kakinya dan sedikit menekuk tubuhnya, hanya berlari kecil membuatnya sedikit merasakan sakit di bagian punggung.
"Ki, aku yakin kalau tadi malam yang ketuk jendela itu Bima." Pandangannya menatap lurus ke depan. Melihat pepohonan yang bergoyang karena tertiup angin.
"Kamu tau dari mana?" Maudy menoleh sebentar.
"Iya, yakin aja. Kamu kan tau kalau Bima itu aneh."
"Suami kamu kan?" Maudy mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang aku tanya, kamu beneran mau pisah sama Bima?" Maudy menarik nafas, membuangnya secara perlahan. Sepertinya mulai kekurangan oksigen jika harus membahas masalah ini.
"Kamu tau nggak? Kalau di posisi aku sekarang pasti orang-orang akan tetap menyalahkan aku walau sebenarnya ini awalnya kesalahan Bima. Termasuk keluarga Bima dan juga keluarga ku. Mereka akan tetap mengalahkan aku Ki. Menganggap aku egois, hanya karena hal sepele aku sampai minta pisah." Kiki masih diam mendengarkan. "Tapi bukan itu maksudku sebenarnya. Aku cuma mau Bima mulai dari sekarang rubah sifatnya yang selalu menyembunyikan sesuatu, yang dia anggap jika orang lain tau malah akan menjadi masalah."
"Diamnya Bima itu menjengkelkan. Semua orang akan berpikir, mana mungkin Bima selingkuh, dia aja cuek atau apalah. Tapi yang tau itu hanya aku Ki, istrinya. Bagaimana sifat Bima aku yang tau dan paham."
"Maksudnya Bima nggak bisa berubah gitu?"
"Bisa sih, tapi harus sering di ingatkan. Terkadang aku berpikir, apa aku terlalu cepat membangun rumah tangga di usiaku sekarang? Sehingga aku juga masih terlalu pengecut untuk menghadapi masalah rumah tangga."
"Sudah ya? Jangan buat aku takut untuk menikah?" Kiki memeluknya. Pancaran sinar matahari pagi yang masuk melalui celah pepohonan menyaksikan kedua wanita ini menyalurkan tenaga saling menguatkan.
"Aku juga mau cerita Dy sebenarnya." Melepas pelukannya, menekuk kakinya dan tangan Kiki jadikan penopang tubuh.
"Aku bakal dengerin kamu ngomong?" Kiki mengangguk.
"Semalam, tepat dimana kamu datang sebenarnya memang Revan melamar aku Dy?" Maudy langsung menoleh kaget dan membulatkan matanya.
"Jadi, yang aku bilang semalam itu beneran?" Kiki mengangguk, tapi wajahnya langsung berubah sendu.
"Aku nggak tau Revan bercanda atau tidak. Tapi, jujur aku memang nyaman kalau dekat dia. Soal perasaan aku nggak tau Dy." Menghela nafas berat. "Aku masih trauma." Lanjutnya lagi.
"Terus, semalam kamu jawab apa?" Kiki menggeleng.
"Jawaban aku hanya kamu Dy, kamu datang selamatkan aku?" Maudy mengerutkan keningnya.
"Iya, karena aku juga nggak tau harus jawab apa. Dan kamu datang di waktu yang tepat. Jadinya Revan nggak bahas itu lagi. Tapi Dy, aku lebih takut."
Maudy menatapnya.
"Kenapa?"
"Aku yakin Revan akan bahas hal ini lagi nanti. Entah itu di dalam kantor atau di luar kantor, dan bisa saja di depan mama aku. Aku hanya takut aku nggak bisa jawab, menolaknya dan membuatnya sakit hati."
"Ki, tapi aku sangat yakin Revan orang baik."
"Iya aku juga begitu Dy. Hanya aja, aku memang belum siap untuk sekarang ini. Waktu Dy, aku hanya butuh waktu. Aku juga nggak tau kan, Revan bercanda atau serius."
"Kalau dia mengucapkan hal itu lagi, berarti dia serius. Tapi kalau tidak, berarti dia hanya bercanda." Kiki mengangguk. "Ya kamu merasa nggak, Revan itu bersikap bagaimana sama kamu? Atau kamu merasa spesial dimatanya." Kiki menggelengkan kepalanya.
"Revan memang baik sama semua orang."
"Ya sudah, jangan khawatirkan itu. Aku udah enakkan kita balik ya? Soal itu kita bahas lagi nanti."
***
Siang ini, Maudy tidak ada melihat Bima di sekitar penginapan. Rasa penasaran membuat Maudy mengintip dari jendela kamar penginapannya. Tapi memang tidak terlihat sosok Bima disana. Bayangan muncul di kepalanya, seperti mengingatkan bahwa Bima adalah suaminya, bagaimana bisa mereka tidak saling tegur sapa padahal sedang berada di tempat yang sama.
Maudy merasa kecewa, tapi entah hal apa yang membuatnya merasa seperti ini. Padahal, Maudy sendiri yang memutuskan untuk menjauhi Bima. Dengan langkah malas Maudy keluar kamar lagi, dan menjadi obat nyamuk di antara Revan dan Kiki yang tengah asik bermain permainan ular tangga.
"Kamu kalah lagi." Wajah Kiki sudah penuh coretan bedak basah, yang memang sengaja mereka buat untuk menghukum siapa yang kalah. Tapi Maudy langsung heran, sudah ada orang lain disana. Duduk tak jauh dari Revan dan memainkan ponselnya.
Kok bisa ada dia disini? Kapan datangnya?
Maudy celingak-celinguk, sejak kapan Bima masuk? Sejak kapan dia disini? Begitu terus pertanyaan yang muncul di kepalanya saat ini.
Padahal hanya beberapa menit saja Maudy masuk ke kamar dan kembali lagi keluar. Maudy mencari dimana keberadaan Tante Ratih saat ini. Berpura-pura tidak tau dengan keberadaan Bima dan melangkah melewati mereka yang tengah asik bermain.
"Dy, kamu mau kemana? Sini, ikut main." Dengan bangganya Kiki yang selalu kalah mengajak Maudy.
"Revan, kamu curang. Kenapa mainnya dua kali?" Maudy diam tak menjawab dan terus melangkah keluar penginapan.
Maudy melihat di depan Tante Ratih sedang berbicara dengan wanita yang sepertinya sebaya. Dengan berat hati kembali masuk ke dalam. Pasrah, Maudy duduk di samping Kiki dengan wajahnya yang di tekuk.
"Revan, di sekitar sini ada yang jual es buah tidak?" Bima bertanya, Maudy masih tetap sama berpura-pura tidak mendengar dan melihat Kiki yang saat ini bermain.
"Ada pak. Kenapa bapak mau? Akan saya belikan?" Bima mengangguk.
"Aku ikut!" Kiki langsung berdiri dan ijin untuk membersihkan wajah.
Aku yakin kali ini, pasti sudah di rencanakan kalian.
Maudy juga langsung bangkit dari duduknya dan lebih memilih masuk ke dalam kamar.
"Mau kemana?" Suara lembut tapi terdengar seperti orang asing. Maudy hanya menoleh sekilas lalu tetap melangkah.
"Mau kemana?" Mengulangi pertanyaannya lagi.
"Maudy kamu mau kemana?" Maudy mengentikan langkahnya dan berbalik.
"Mau masuk kamar, tidur. Kenapa? Apa ada masalah sama anda?"
__ADS_1
"Kalau begitu saya ikut!" Bima juga mengikuti Maudy yang berbicara seperti orang asing.
"Dih!" Maudy langsung mendengus.
"Kenapa? Aku suami mu!" Bima mendekat. "Apa harus dengan paksaan?" Semakin mendekat.
"Aku bakal teriak!" Ancamnya.
"Kita pulang sekarang!" Maudy langsung membulatkan matanya.
"Jangan ganggu liburan Revan dengan Kiki!"
"Mereka yang ajak, aku nggak ganggu! Lagian sore ini juga sudah harus pulang?" Maudy tetap ngotot tidak mau kalah, ganggu apa jelas-jelas Kiki yang ngajak juga, gerutunya dalam hati.
"Kamu mau bilang kan kalau Kiki yang ngajak kamu?" Maudy cemberut tapi dia tetap mengangguk.
"Memang itu kenyataannya!"
"Tapi kamu salah, itu karena Kiki nggak tau apa maksud Revan ngajak dia pergi kesini."
"Memangnya kamu tau?" Bima tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Kalau kamu mau dengarkan cerita aku, ayo ikut aku? Kita cerita di dalam kamar aku aja?" Cih, Maudy langsung mendengus dan membuang muka, tau kalau Bima akan memanfaatkan situasi.
"Gimana? Bukannya kamu juga sayang sama Kiki? Harusnya informasi penting ini nggak akan terlewati gitu aja dong. Lagian juga kan kamu sendiri yang ngotot mau jodohin Kiki sama Revan? Kenapa malah sekarang jadi pengganggu di sela-sela liburan mereka?"
"Cukup Bim! Aku ikut kamu?" Bima tertawa kecil berhasil menjadi provokasi, ah ya ampun. Padahal ini istrinya loh. Bima mengulurkan tangannya, tapi nihil Maudy hanya melirik dan tidak sama sekali menyambutnya. Bahkan dalam perjalanan menuju kamar Bima yang bersebelahan tepat dengan kamar penginapan mereka juga Maudy tidak sama sekali berbicara.
"Katakan!" Setelah sampai, Maudy hanya berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.
"Duduk dulu sini." Menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Nggak? Aku mau berdiri aja!"
"Sayang. Aku mohon, sudahlah. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Aku akan tetap menjelaskan masalah ini walaupun kamu nggak mau dengar." Maudy tetap diam.
"Aku hanya mau dengar cerita Kiki dan Revan!"
Bima menghela nafas berat. Dan tetap berniat akan meluruskan kesalahpahaman yang membuatnya harus terpisah dengan Maudy, barulah kembali ke topik awal.
Flashback
Siang ini, Bima mempercepat kerjanya. Apa saja yang harus menjadi target perusahaan harus siap sebelum jam makan siang. Karena tau ada jadwal periksa kandungan istrinya, dan juga sudah membuat janji.
"Revan, apa kamu ada bawa charger ponsel? Ponsel saya low?" Bima menyempatkan untuk masuk keruangan Revan.
"Maaf pak, saya juga nggak bawa."
"Oh ya sudah. Nanti jangan lupa ya, untuk menghendle pekerjaan saya dulu, siang saya akan pulang. Kembali ke kantor atau tidaknya akan saya beri kabar."
"Iya pak siap." Bima kembali menutup pintu ruangan dan kembali ke ruangannya.
Dengan malas Bima mempersilahkan Celine untuk masuk. Menunggu ada keperluan apa lagi Celine datang menemuinya, padahal soal kerja sama juga sudah selesai.
Pintu di ketuk, seorang karyawan mengantarkan Celine ke ruangan Bima.
"Duduklah ada apa?" Langsung to the point, itu juga Bima berbicara tanpa menatapnya. Fokus mengerjakan tugasnya sebagai pimpinan.
"Maaf menganggu waktu mu pak Bima. Tapi saya hanya meminta bantuan sedikit, sekaligus saya meminta maaf soal waktu itu."
"Langsung saja. Kalau mengenai tentang kerja sama, saya tidak tertarik untuk memulainya lagi." Tanpa sedikitpun melirik ke arah Celine yang duduk di sofa ruangan.
"Saya ada proyek di negara ini, dan saya minta bantuan anda untuk mengantar ke alamat ini." Celine mendekat dan memberikan sebuah alamat. "Ini proyek milik papa saya, tapi karena semua sudah beralih ke saya, saya juga ingin meninjaunya. Sudah satu tahun proyek ini tidak berjalan, karena papa bilang dia tertipu. Jadi saya mau melihatnya sendiri, melihat keadaannya layak atau tidak untuk di lanjutkan." Bima diam. "Bisakah pak Bima menolong saya?"
"Maaf, saya tidak bisa. Kalau mau saya akan menugaskan asisten saya untuk mengantarkan anda, itu juga menunggu pulang dari kantor."
"Tolong lah, saya hanya minta tolong. Karena nggak mungkin menunggu sore, saya juga harus pulang ke negara saya, perusahaan saya tinggalkan hari ini."
"Tapi saya tidak bisa, ada hal yang lebih penting dari ini. Saya harus pulang kerumah di jam makan siang." Bima tetap menolak. Celine mendekat ke arahnya, memohon dengan cara memegang tangan Bima. Situasi mulai tak enak, Bima melepas tangannya.
"Baik, akan saya antar." Celine langsung tersenyum. Bima tidak ingin karyawan sampai melihat, karena tau bagaimana Celine. Bisa bertindak sesuka hatinya.
Dan Bima terpaksa mengantarkannya ke tempat dimana proyek yang di katakan Celine. Waktu perjalanan memakan hingga 1 setengah jam. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil sendiri-sendiri. Bima yang memimpin di depan. Hingga sampai di proyek, Bima langsung pamit untuk pulang. Karena melihat jam sudah waktunya untuk mengantarkan istrinya periksa.
"Saya pamit."
"Terima kasih pak Bima, sekali lagi terima kasih."
Bima memandang ke arah gedung, yang katanya adalah sebuah proyek ternyata ini adalah tempat judi terbesar di kotanya. Bima bahkan menggelengkan kepalanya ketika melihat beberapa mobil yang di kenali Bima, mobil dari salah satu rekan bisnisnya juga ada disana. Entah apa maksudnya Celine yang mengatakan kalau ini proyek papanya yang sudah vakum selama satu tahun, tapi ternyata malah menjadi gedung tempat perjudian.
Bima tak mau bertanya lebih jauh, lebih baik pulang kerumah secepatnya, soal Celine dia juga sudah dewasa bisa tau mana yang baik dan tentunya itu bukan tanggung jawabnya.
Bima melihat jam di tangannya, lalu mempercepat laju mobilnya. Bima benar-benar dalam keadaan ngebut, mulai tidak fokus saat mengambil ponselnya, bermaksud mengubungi Maudy untuk menunggu sebentar. Karena perjalanan cukup lama sepertinya, bisa telat setengah jam atau lebih.
Saat di persimpangan, Bima benar-benar tidak melihat kalau ada yang menyebrang, seorang anak-anak yang mengendarai motor. Karena tak bisa mengerem tepat waktu, anak itu tertabrak oleh Bima. Bima segera turun, dan orang-orang mulai berdatangan. Ada yang mendorongnya tubuhnya, menghakimi bahwa naik mobil sembarangan, dengan kecepatan tinggi saat melewati persimpangan. Bima melihat keadaan anak yang di tabrak olehnya, hanya ada luka lecet di bagian lutut dan lengan kirinya. Walau hanya itu, Bima juga ngilu melihatnya.
"Saya akan tanggung jawab, tolong bawa anak ini ke mobil saya."
"Memang harusnya begitu, dasar orang kaya bawa mobil nggak bisa pelan sedikit." Semua malah mencacinya, mulut pedas dari orang-orang Bima telan dengan pahit.
Sial sekali aku hari ini ya ampun. Mimpi apa aku semalam!!
Bima mengantarkan ke salah satu klinik terdekat, Bima juga sempat bertanya, berapa usia anak itu. Ternyata 16 tahun, dan memang belum pantas untuk mengendarai motor di jalan raya. Tapi Bima tak mau menegurnya, karena dia sendiri juga sudah membawa mobil di usia yang sama seperti anak yang tertabrak olehnya.
Bima kembali ke mobil dan mengambil ponselnya, lagi-lagi sialnya datang. Ponsel sudah benar-benar mati. Bima membuang asal ponselnya lagi ke dalam mobil, dan melihat keadaan anak yang mengalami luka lecet saja.
__ADS_1
Menunggu hingga satu jam, karena ini hanya klinik kecil yang juga mempunyai pasien lain, dokter hanya ada satu dan di dampingi dua perawat.
"Maaf dokter, bagaimana keadaan anak itu?"
"Baik, kami hanya menyuntikan vitamin agar tidak terjadi infeksi di lukanya." Bima mengangguk.
"Apa dia korban dari tabrak lari?" Dokter bertanya lagi.
"Tidak dok, saya yang menabraknya." Dokter langsung melihat ke arah Bima.
"Oh begitu ya mas."
"Apa ini masih lama dok?"
"Tidak, tunggu sekitar 15 menit lagi ya mas. Hanya tinggal menunggu obat dan silahkan melakukan pembayaran disana." Bima mengangguk.
Bima berjalan mendekati anak itu, melihat keadaannya sudah jauh lebih baik dan luka juga sudah di tutup oleh pihak klinik.
"Kak, motor saya gimana?" Ya ampun, Bima lupa tak melihat kondisi motornya tadi.
"Aku takut kak mau pulang, nanti pasti ibu bakal hajar aku, apa lagi kalau sampai ayahku tau." Deg. Bima melihat ke arahnya, tau pasti anak ini juga salah satu dari masyarakat yang ekonomi menengah ke bawah.
"Sekarang saya tanya, tadi kamu mau kemana?"
"Tadi mau jemput ibu pulang kerja."
"Ibu kamu kerja apa?"
"Ibu nyuci kak." Bima langsung mengusap wajahnya.
"Setelah ini ikut saya, kita ke dealer motor. Saya belikan kamu motor baru." Anak itu langsung memeluk Bima. Dengar eratnya dan tak mempedulikan luka di kaki yang membuatnya berjalan pincang.
"Tapi kamu janji harus lebih hati-hati bawa motornya. Dan maaf, saya nggak bisa ikut antar kamu kerumah ya, soalnya saya juga ada urusan penting." Melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua siang.
Setelah urusan selesai, dan Bima pamit setelah anak itu mengatakan alamatnya ada dimana. Bima meninggalkannya di dealer motor. Biar pihak mereka yang urus sekalian membawa pulang anak itu ke alamat rumahnya.
"Kak terima kasih." Ucapnya dengan senyum. Bocah 16 tahun yang memiliki tinggi badan kurang mendukung. Dan Bima sempat berpikir kalau anak itu pasti kekurangan gizi dan berdampak dengan perkembangannya.
Di tabrak kok malah makasih.
Bima kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulangnya, tapi keadaan jalanan sudah macet. Sehingga sampai di rumah sudah sore, dan Bima tidak mendapati istrinya dirumah.
Flashback end
"Kalau kamu nggak percaya aku bisa bawa kamu ke alamat anak itu dan bertanya langsung dengannya. Jam berapa dia di tabrak, dan jam berapa aku pulang dari dealer mobil." Maudy terdiam mematung.
"Sayang, aku tau aku salah. Aku salah sama kamu, aku juga salah dengan anak itu, dan lebih parahnya aku juga salah karena menaiki mobil dengan kecepatan tinggi."
"Aku percaya?" Bima langsung berdiri mendekat, ingin memeluk istrinya sekarang juga.
"Tapi aku tetap marah sama kamu, kenapa nggak kamu tolak aja tawaran Celine waktu itu?" Deg, Bima langsung menghentikan langkahnya.
***
"Kamu gimana sih Ki? Kenapa Maudy di tinggal?" Eh tetangga penginapan sebelah tengah sibuk mencari keberadaan Maudy yang tidak ada di tempat penginapan mereka.
"Paling juga sama Bima ma." Mamanya menggeleng melihat Kiki yang malah terlihat santai.
"Kamu kan tau kalau Maudy itu sama Bima lagi betengkar." Menghela nafas. "Kalau ada apa-apa sama Maudy mama yang akan di salahkan Ki, dia lagi hamil!" Kiki menoleh ke arah Revan.
"Biar saya cek di kamar penginapan pak Bima Tante, tunggu sebentar." Baru beberapa langkah Revan pergi Maudy sudah muncul dan masuk.
"Kenapa tante? Ada apa?" Tanpa rasa bersalah. Melihat wajah orang-orang yang mulai panik mencarinya.
"Ya ampun Dy kamu dari mana aja?" Maudy tersenyum.
"Tante khawatir. Sudah gini aja, kita pulang sekarang ya. Besok juga Kiki dan Revan kan harus kembali bekerja." Wajah Revan langsung berubah pias.
"Nanti kita tetap mampir ke pasar buah untuk beli oleh-oleh." Janji mamanya Kiki.
"Yah, gagal deh Revan." Revan langsung mendongak dan menatap ke arah Maudy.
"Maksudnya?" Kiki bertanya.
Maudy kembali terngiang tentang apa yang di katakan Bima barusan, kalau Revan memang menyukai Kiki sejak pertama ketemu dan berkenalan. Dan, Revan sudah beberapa kali tak sengaja melihat Kiki sewaktu mereka belum saling kenal.
"Ya sudah tante, kita pulang aja sekarang." Dengan lemas Revan menyetujui kemauan mamanya Kiki.
"Sabar ya Revan, pasti bakal dapet kok." Berbisik lalu pergi mengikuti langkah tante Ratih yang mulai membereskan barang-barang bawaan mereka.
***
Revan sudah duduk di depan kemudi, begitu juga dengan yang lainnya.
"Revan tunggu." Bima mendekat ke arah mobil mereka.
"Kenapa pak?" Bima menoleh ke arah Maudy sekarang.
"Turunlah, kamu pulang sama aku. Karena mama sedang ada di rumah dan menunggu kita sampai." Deg. Maudy menoleh ke arah Tante Ratih yang mengangguk dan tersenyum.
"Tante aku?"
"Iya Dy, turunlah. Dia suamimu." Maudy membuka pintu mobilnya, dan turun. Liburan macam apa ini, batinnya.
"Bim jangan lupa ya, nanti kita mampir ke pasar buah." Kiki berteriak dari dalam mobil.
__ADS_1
Bima mengangguk dan memberikan jempolnya sebagai tanda persetujuan.
--__