Dia Bimaku

Dia Bimaku
Perpisahan vs Pernikahan


__ADS_3

Semua orang di dalam rumah sudah sibuk, begitu juga para pembantu. Mereka akan ikut pergi ke gedung, tapi bukan untuk membantu disana, melainkan ikut ke dalam acara. Karena semua tugas sudah diserahkan pada anggota katering, dan soal dekor sudah ada WO. Ini juga salah satu permintaan nyonya mereka. Karena sudah bertahun menjadi ART setidaknya sudah di anggap seperti keluarga.


Bima sudah memakai batik lengan panjang sekarang. Memakai jeans berwarna hitam dan sepatu kulit yang sudah di pilihkan mamanya. Sungguh sangat terlihat tampan dan berwibawa.


Sementara Rio, sudah rapi dengan stelan jas pernikahannya. Wajahnya mengeluarkan keringat dingin, berulang kali menghafal lafaz di depan cermin untuk mengesahkan pernikahannya nanti. Itu sudah salah kewajiban untuk sebuah pernikahan. Dan itu memang yang utama.


"Bima mana ma?" Papanya sudah bersiap untuk berangkat. Dan ini masih pukul 6 pagi. Pernikahan akan di laksanakan jam 8.


"Sebentar, mama panggil pa. Mungkin lagi di kamar."


Mamanya menaiki tangga dan terus melihat ke arah pintu kamar Bima. Ia juga tau kalau saat ini Bima sebenarnya sangat ingin mengantar Maudy ke bandara.


"Bim?" Langsung membuka pintu karena tidak di kunci.


"Ayo, kita mau berangkat sekarang. Kenapa kamu masih disini?" Mendekat ke arah anaknya. Bima masih duduk melamun.


"Iya ma." Menunduk, dengan rasa malas Bima berdiri.


Mereka sudah berkumpul, begitu juga para pembantu lain yang akan ikut.


"Bima kamu berangkat dengan supir nanti, soalnya supir lagi dalam perjalanan ksisni. Sementara papa, mama, sama mas kamu akan berangkat duluan karena supir udah nunggu. Dan kalian." Menatap ke arah pembantu. "Kalian juga tinggal tunggu mang Sugi datang. Kalian akan disupiri mang Sugi ya." Perintah yang tidak dapat di ubah. Dan mereka yang mengangguk patuh, begitu juga dengan Bima.


"Mama duluan ya Bim. Kamu pasti bisa, keluarkan ide kamu sedikit ya?" Mamanya berbisik.


Aku tau maksud mama.


Para pekerja rumah mereka, menunggu di halaman depan. Sementara Bima duduk di sofa dalam rumah, dengan sesekali mengechek ponselnya yang sedari tadi belum mendapat balasan dari Maudy.


"Den, supirnya udah datang." Salah satu ART masuk ke dalam memberi kabar ke Bima.


Bima langsung berjalan keluar, ternyata mang Sugi juga sudah datang.


"Bi, kalian ikut sama supir ya? Biar aku sama mang Sugi aja." Sesekali Bima memberi perintah. Tapi wajah mereka semua malah tampak tegang, takut melanggar peraturan tuan besar dengan menuruti perintah tuan mudanya.


"Tapi den?" Mang Sugi mengeluarkan suara.


"Nggak apa mang. Aku udah bilang mama." Mengedipkan mata.


"Ya udah, kalian naik aja ke mobil." Dengan terpaksa harus nurut.


"Bi, nanti kalau papa tanya bilang ya, kalau aku sakit perut jadi mang Sugi nunggu aku sebentar." Berbisik dan memberikan 3 lembar uang seratus.


"Udah bi, ambil." Karena ia juga statusnya adalah seorang pembantu, ya harus menurut.


"Baik den, makasih." Mengangguk sopan.


Setelah mereka berangkat, Bima juga mengajak mang Sugi untuk segera pergi. Tetapi berbeda tujuan saat ini.


"Mang, kita ke bandara sekarang mang." Sudah duduk di samping kemudi.


"Lah kenapa kesana den?" Bingung dengan ucapan Bima.


"Mang, buruan. Udah mama yang ngatur nanti, mamang jangan takut. Sekarang mang, tancap gas."


Tidak bisa menolak mang Sugi melakukan saja apa yang di katakan Bima.


"Hallo Ki? Kamu ikut ngantar ke bandara ya?" Ternyata Bima lebih dulu menghubungi Kiki.


"Oh setengah jam lagi ya? Aku usahakan bisa sampai disana dengan cepat." Kembali menutup teleponnya. Mang Sugi meliriknya sekilas, Bima tau kalau saat ini pasti mang Sugi penasaran.


"Maudy pergi mang hari ini, dia pergi keluar negeri?" Mang Sugi langsung menoleh ke arahnya.


"Serius itu den?"


Bima mengangguk.


"Kalau bercanda mana mungkin aku minta antar ke bandara sekarang mang." Tersenyum kecut.


Jalanan tidak terlalu macet, dan Bima datang tepat waktu. Bima meninggalkan mang Sugi begitu saja, berlari ke arah bandara tidak peduli lagi dengan orang-orang yang kini menatapnya. Urusan malu belakangan, yang terpenting bisa bertemu Maudy, pikirnya.


"Ki?" Menyapa Kiki terlebih dahulu, dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Bima?" Ibu Irma nampak kaget.


Dimana Maudy? Apa aku terlambat?


Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, yang ada hanya ayahnya, ibunya, dan juga Kiki. Karena hari ini Tisha sedang melakukan ujian jadi dia tidak bisa ikut mengantar mbaknya. Tapi Bima juga tidak akan bertanya soal Tisha, karena baginya saat ini yang terpenting hanya Maudy.

__ADS_1


Matanya langsung memanas begitu saja.


"Aku terlambat ya bu? Maudy udah berangkat?" Air matanya berlinang. Tidak peduli rasa malu, biarlah di anggap cengeng nantinya.


"Lah kok nangis kamu?" Ayahnya mendekat.


Bima menghapus air matanya yang jatuh.


"Bim, bukannya kamu harusnya ada di acara pernikahan mas mu?" Ibunya bertanya.


"Enggak, tadi minta antar supir dulu kesini, baru nanti nyusul kesana. Tapi sampai disini Maudy udah berangkat." Melow.


"Bim, yang bilang Maudy udah berangkat siapa? Kan tadi aku bilang di telepon kalau bakal berangkat sekitar setengah jam lagi? Ini juga masih tersisa 10 menit." Jelas Kiki dan langsung membungkam mulutnya sendiri menahan tawa.


"Itu tuh Maudy udah keluar dari toilet." Bima langsung menoleh.


Ah ya ampun, kenapa aku sampai nangis? Malunya aku.


"Bima? Kamu disini?" Maudy langsung berjalan mendekat ke arahnya.


"Loh kok nangis? Ayah marahin Bima ya?" Menatap ke ayahnya meminta penjelasan.


"Tadi kirain Bima kamu udah naik pesawat, eh ternyata kamu masih di toilet." Terang ayahnya.


Ya ampun Bima. Apa nggak malu nangis di depan ayah.


"Eh Dy itu udah ada panggilan, kamu masuk kesana sekarang sebelum tertinggal nanti." Ucap Kiki.


"Yah, bu, aku pamit ya? Ibu sama ayah sehat-sehat disini? Jaga Tisha dengan benar." Menoleh ke arah Kiki. "Ki, aku bakal rindu kamu pastinya." Memeluk sahabatnya dengan erat. Dan yang terakhir Bima.


"Bim, aku pergi ya? Kamu baik-baik disini?" Sudah siap untuk melangkah dengan membawa koper miliknya.


Kok aku nggak di peluk sih? Kenapa giliran Kiki di peluk? Awas aja kamu ya Ki.


"Dy." Air mata ibunya jatuh, sudah coba menahan tapi tidak bisa. Ia kembali memeluk erat anaknya.


"Sudah bu, nanti Maudy bisa tertinggal pesawat." Ayahnya mengingatkan.


Maudy berjalan menyeret kopernya. Berulang kali ia menoleh ke belakang. Lambaian tangan keluarganya mengiringi langkahnya saat ini. Kesedihan ia simpan, biar lah tangis jatuh pada malam hari. Malam pertama tanpa sosok keluarga. Malam pertama yang akan ia jalani dengan Bima jauh terbentang jarak.


Aku pasti rindu kalian, pasti.


***


"Macet mungkin pa." Memberi sedikit alasan yang logis.


Adi Nugroho, ia sudah berdiri gelisah menunggu anaknya tak kunjung sampai.


"Maaf tuan, nyonya. Tadi sebenarnya saat akan berangkat den Bima sakit perut. Bolak-balik ke kamar mandi, terpaksa mang Sugi yang menunggu, dan menyuruh supir untuk lebih dulu pergi bersama kami. Maaf tuan kami sudah lancang tidak mengikuti perintah tuan." Akhirnya ia lebih memilih mengeluarkan suara, untuk bekerja setelah menerima uang yang di beri Bima.


"Ah ya ampun. Jadi gimana? Apa tadi mang Sugi nggak bawa ke dokter?" Helaan nafas terdengar, ternyata tuan mereka percaya. Malah sekarang terlihat khawatir.


"Ma, coba hubungi Bima sekarang?" Istrinya langsung bergegas mengambil ponselnya, dan berjalan sedikit menjauh dari suaminya.


"Hallo Bima, gimana nak?"


"Beres ma, udah. Ini udah jalan ke gedung kok."


Jawaban Bima di seberang teleponnya dengan suara yang lemah.


"Udah di jalan pa." Setelah kembali duduk tepat di sebelah suaminya.


Adi hanya mengangguk, itu sudah di anggap sebagai jawaban. Sehingga mereka semua yang tau kalau Bima berbohong merasa sudah aman sekarang.


Acara pernikahan segera di mulai. Yang terlebih dahulu dilakukan adalah, nasehat untuk kedua mempelai. Aturan ketika menjadi suami istri, kesopanan yang harus di jaga oleh istri. Dan tanggung jawab sebagai suami. Keduanya menunduk dan mendengarkan.


Siska sudah nampak menganak sungai, saat di nyatakan bahwa tanggung jawab orang tua akan lepas ketika para saksi mengatakan kalau pernikahan sudah sah. Siska hari ini sangat terlihat cantik, pangling kalau orang-orang bilang ya.


Siska memakai gaun berwarna putih, dengan bagian dada yang terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya.


Dan kini, mereka telah di nyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Rio langsung memeluk istrinya dan mengecup keningnya. Rio menatap ke arah mamanya, dan mamanya tersenyum lalu mengangguk. Padahal bukan itu sebenarnya.


Kemana Bima?


Itu yang Rio cari saat ini.


***

__ADS_1


"Ma, pa. Aku telat ya?" Duduk di samping mamanya. Papanya menatapnya dengan tajam. Ia berpikir pasti akan mendapat hukuman lagi.


"Kamu kenapa nggak bilang kalau sakit? Apa kamu udah ke dokter?"


Sakit? Oh ya ampun. Bibi beneran bantu aku ternyata.


"Udah enakan kok pa. Ma, apa acaranya udah di mulai?" Mengalihkan pandangannya.


"Ya ampun Bim, udah lah. Udah dari setengah jam yang lalu." Ucap mamanya lagi dan tersenyum.


Nggak apa lah telat kesini, asal tadi nggak telat lihat Maudy.


***


"Apa lagi sih Bim? Kamu ngapain masih disini? Sebentar lagi kak Siska mau masuk kamar, masak iya kamu masih disini?" Berdecak kesal melihat Bima yang masih santai duduk di kasurnya. Kasur yang baru, lebih mewah dari miliknya yang sebelumnya. Ternyata, setelah mereka menikah Rio memutuskan untuk tinggal di rumah papanya. Dan Siska tidak keberatan, karena itu juga salah satu hal yang harus ia patuhi sebagai seorang istri.


"Mas aku nggak bisa tidur."


Rio makin pusing melihat tingkah Bima.


"Is Bima ini malam pertama mas. Jangan ganggu, kamu ganggu mama aja sana. Atau nggak kamu video call Maudy, terus rebahan sambil bayangin kalau lagi berdua gitu. Nanti juga bakal tidur." Cerocosnya panjang lebar.


"Sayang, kenapa marah-marah?" Siska yang mendengar dari balik pintu langsung masuk dengan membawa dua koper miliknya. Tentu dia tidak membawa sendiri, semua di bantu oleh penjaga rumah.


"Sayang maaf ya, aku nggak bisa bantu kamu bawa barang. Ini nih gara-gara Bima." Bima menunduk.


Biarin aku ganggu malam pertama kalian.


"Bima, kenapa?" Bertanya dengan lembut. Bima yang tau kini iparnya menatap menjadi canggung.


"Galau, pacarnya yang kemarin itu keluar negeri." Rio yang menjawab.


"Ya ampun, kasian kamu Bim. Tapi pacar kamu itu cantik ya, nggak sombong juga." Ucapan yang sangat tulus. Malah saat ini Siska benar-benar prihatin. Lain hal dengan Rio yang merasa terganggu dengan adanya Bima disini. Untungnya Siska tidak cerewet kalau nggak pasti dia sudah ikut mengusir Bima, sama seperti hal yang di lakukan Rio.


"Udah sana Bim masuk kamar." Kembali mengusir Bima.


"Nggak apa sayang. Pasti dia mau cerita sekarang." Siska berbisik.


"Nggak, pasti dia mau meminta sebuah permintaan." Bisik Rio kembali.


"Apa Bim? Kamu mau bilang apa?" Rio yang sudah paham sifat Bima. Pasti ada sesuatu yang akan ia minta kalau sudah begini.


"Mas, bisa nggak kalau aku kuliah di luar negeri?"


Ampun deh Bima!!


"Kamu ini Bim. Pasti mau di negera yang sama dengan Maudy kan?" Bima mengangguk.


"Bima, satu tahun lagi kamu harus langsung belajar pimpin perusahaan. Nggak usah aneh-aneh. Sekarang kamu masuk kamar." Pintanya lagi.


"Udah-udah. Gini, Maudy di negara mana Bim?" Siska bertanya dengan lembut.


"Di negara X kak." Menunduk. Rasanya belum terbiasa untuk berbicara dengan Siska.


"Ya udah sayang, gini aja. Kita bulan madu di negara itu aja ya? Nanti Bima ikut. Pasti papa akan kasih kalau dia pergi sama kita. Lagian Bima sekarang belum ada kegiatan kan?" Usul yang sangat bagus menurut Bima.


"Ha? Tapi kan bukan itu tujuan kita sayang?" Rio merasa keberatan.


"Iya mulai dari sekarang kita ubah. Tiket kan belum kita pesan?" Masih berada di pihak Bima.


"Bim, kamu berhutang banyak sama kak Siska ya!!" Menunjuk wajah Bima.


"Ya udah Bim. Sekarang kamu masuk kamar, tenang aja 2 hari lagi kok setelah pesta kami nanti." Bima mengangguk setelah mendapat angin segar malam ini. Senyumnya kembali mengembang. Padahal belum juga satu hari berpisah. Oh Bima Bima.


"Makasih kak." Tersenyum lalu pergi untuk kembali ke kamarnya.


Eh setelah aku keluar mereka ngapain ya?


Penasaran sendiri dengan berbagai macam pikiran negatif berputar di otaknya.


Bima mengambil ponsel miliknya. Berharap Maudy akan memberi kabar. Dengan setianya Bima masih belum memejamkan matanya, harapan besar masih ia tunggu.


Mas Rio lagi ngapain ya sekarang?


Pikiran itu kembali muncul. Ia mulai mendengar suara-suara aneh. Padahal tembok sudah tebal, ah apakah Rio seganas itu. Membayangkan hal itu Bima jadi tertawa sendiri.


Pukul 2 malam. Bima mulai mengantuk, ia telungkup dan memejamkan matanya. Ia juga berharap bisa tidur nyenyak dan tidak mendengar suara aneh lagi yang berasal dari kamar sebelah, kamar pengantin baru.

__ADS_1


Maudy, tunggu lah aku datang. Tunggu lah aku disana. Aku rindu sekarang, berbeda memang ya ketika masih sekolah. Bahkan setiap pagi udah bisa lihat kamu. Sekarang aku tau, pagi-pagi yang lain akan terasa beda. Tanpa kamu, tanpa ada kamu di tanah air. Ah Maudy, tapi setidaknya malam itu ada kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Pelukanmu, pelukan hangat mu yang hanya menggunakan bra berwarna merah. Ah Maudy haha aku bisa gila memikirkan ini.


--__


__ADS_2