
Maudy
Baru sampai bandara, aku turun dan menarik nafas. Selamat datang di negeri orang, aku menyambut diriku sendiri. Menyemangati diriku sendiri. Ah rasanya aku bakal suka tempat ini, eh tunggu, enggak lah. Aku nggak suka disini, nggak ada Bima ku.
Tampak seorang lelaki melambaikan tangannya ke arahku. Wajahnya tampan di umurnya yang hampir 40 tahunan. Malah nampak rambutnya pirang lagi, wah wah. Nggak salah lagi, itu om ku.
"Om Wisnu?" Aku langsung berlari, ia membuka tangannya siap menyambut ku ke pelukannya.
"Hey." Mengacak rambutku. "Kamu sehat mo?" Ya ini yang aku suka, dia panggil aku tuh beda tau dari yang lain. Katanya itu lebih keren kalau disini, aku ya manut saja.
Hari pertama disini, aku yang baru saja turun dari pesawat langsung di ajak keliling kota ini. Mengenal tempat-tempat yang populer dan yang terpenting tuh om ku nunjukin kalau aku bakal kuliah dimana. Ternyata keluarga dari ibu juga ada yang kaya raya ya, ya ini salah satunya om ku sendiri.
"Nanti kamu kuliah ambil jam pagi ya, nah nanti sorenya kamu mulai bantu om di restoran. Belajar, kan katanya ayah kamu pengen punya usaha."
"Iya om. Tapi aku ambil jurusan apa nanti?" Tanyaku.
"Kamu om daftarkan di jurusan manajemen bisnis."
Ha? Ini nggak salah? Aku sebenarnya bingung. Bukan kah itu sudah jauh melenceng dari sekolah ku dulu, aku kan dulunya anak IPA. Tapi mau bagaimana? Ini juga yang harusnya aku jalani.
Satu harian aku keliling bersama om ku. Dan akhirnya, jam 4 sore aku sampai di rumah mewah milik om ku, yang di sampingnya terdapat sebuah restoran mewah kelas atas. Wah, rasa kagum tidak bisa aku tutupi. Bahkan ini seperti lebih mewah dari rumah Bima. Aku mikir apa sih? Kenapa aku jadi banding-bandingkan gini.
Om ku mempunyai satu anak, itu juga masih berusia 12 tahun. Seorang anak lelaki tampan yang mempunyai ke sopanan. Istrinya juga ramah, itu juga yang aku harapkan. Karena jika sang tuan ramah bukan kah kita sebagai tamu akan betah? Tapi aku bukan seperti tamu sih, bahkan aku akan disini selama beberapa tahun ke depan.
"Udah sampai Dy?" Suara Tante Aira yang menyambut ku ketika berjalan masuk.
Dia tanteku, Syaira Sabaniah. Kadang ada yang memanggilnya dengan sebutan Aira, tapi kalau omku selalu memanggil dengan sebutan Niah, panggilan mereka dari pertama kenal.
"Tante?" Aku tersenyum lalu mendekat. Biasakan kalau perempuan ini, kalau bertemu pasti akan cipika-cipiki.
"Tante sehat?" Aku bertanya, padahal aku sendiri tau keadaannya seperti apa.
"Sehat. Kamu gimana? Ibu? Ayah kamu?" Ah dia nanya semua. Wajar juga, jarang pulang ke Indonesia.
"Sehat kok tante. Bian mana tante?" Aku langsung mengarahkan pandangan ku ke penjuru rumah. Menanyakan adik sepupu ku. Ah namanya hampir sama seperti Bima.
Aku menyebut namanya langsung ke ingat sesuatu. Aku belum memberi kabar untuknya ah bod*hnya aku.
Tante Aira langsung menggiring ku ke sebuah kamar yang nantinya akan aku tempati. Tidak terbayangkan olehku, kamar ku saja semewah ini. Kamar mandi yang ada di dalam, ada bath up, AC dingin. Wih, bakal pamer sama Kiki aku nanti ni. Kenapa kesannya aku seperti kampungan sekali ya? Bukan sih, karena aku hanya sering melihatnya tapi belum pernah ngerasain langsung.
"Semoga kamu betah ya Dy disini." Tante Aira tersenyum hangat. Aku berbalik badan dan membalas senyumnya. Aku bahkan lupa kalau masih ada tante Aira disini, sangking kagumnya melihat isi kamar tidurku nanti.
"Betah lah tante, mewah banget lagi." Tanpa sadar aku berkata jujur, eh malah tante Aira tertawa.
Ia berjalan mendekat ke arahku.
"Kamu ini. Kamu buktikan sama orang-orang kalau kamu pulang nanti ya, kamu harus buat bangga orang tua kamu." Tante Aira mengelus puncak kepalaku. Rasanya perkataan tante Aira sangat mencubit ku, kenapa aku jadi ingin sekali membuktikan ini pada keluarga Bima ya? Mungkin karena papanya selalu menyepelekan aku ya.
"Nanti rubah penampilan kamu pelan-pelan. Biar lelaki tambah kagum sama kecantikan yang kamu punya." Nah ini kedua kalinya tante Aira berkata yang menurutku memang ngena banget. Bukan nyakitin, tapi emang sebuah kenyataan sih.
Cuma, Bima aja aku begini sudah tergila-gila. Haha pede sekali aku ya? Bagaimana kalau nanti aku berdandan? Hem, tapi perkataan tante Aira bakal aku pertimbangkan deh, soalnya kan udah dua orang yang berkata begini.
Kalau menyebut nama Bima aku jadi teringat lagi.
"Hem tante, disini dimana beli kartu perdana? Soalnya kan aku belum punya tante, ini masih nomor Indonesia. Aku mau ngasih kabar ke ibu sama ayah soalnya?" Sebelum tante Aira keluar baiknya aku bertanya. Dan alasanku nampaknya sudah pas.
"Oh itu. Sebentar biar tante panggil Bian buat nemenin kamu. Soalnya kan kamu belum hafal daerah sini."
Aku mengangguk saja. Setelah tante Aira keluar kamar, aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur mewah nan empuk. Berguling kesana kemari, sepertinya aku berdosa sempat melupakan ibu beberapa jam ini. Maaf ya ibu.
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuyarkan segala lamunanku. Aku tau, ini pasti Bima, eh Bian maksudku. Aku langsung membuka pintu dan melihat lelaki tampan yang berusia 12 tahun. Tingginya sudah seperti pria dewasa.
"Bian?" Mataku berbinar bertemu sepupu yang sudah 4 tahun belakangan ini tidak berjumpa. Bahkan sewaktu berduka kepergian nenek aku juga tidak ikut, padahal seharusnya aku bisa berjumpa kalau saja ibu mengajakku waktu itu.
"Kak mo?" Suaranya sudah berubah haha. Cara manggilnya juga sama seperti papinya.
"Ayo, tadi mami bilang kakak minta antar beli sesuatu." Ucapnya dan langsung saja menggandeng lenganku. Tidak canggung sama sekali dia, aku senang memiliki saudara seperti ini. Walaupun kehidupannya jauh berbeda dengan ku, tapi tidak mempunyai sifat sombong, aku percaya sekarang. Kalau keturunan nenekku memang baik-baik orangnya, termasuk aku hehe.
Aku pergi ke salah satu toko yang menjual kartu perdana disini. Setelah membelinya aku dengan cepat memasangnya ke ponsel ku. Siapa dulu yang aku kasih kabar? Ibu atau Bima?
"Kenapa kak?" Tanya sepupu tampan ku yang satu ini, mungkin dia tau kalau aku bingung.
"Tenang aja, tadi papi udah kasih kabar ke ibunya kakak kok." Ah Bian aku pengen peluk kamu sekarang. Ternyata kegalauan ku bisa berakhir. Baiklah jadi sekarang aku akan menelepon Bima.
"Hem iya?" Suara Bima sudah terdengar di telinga kiri ku. Aku langsung merubah panggilan menjadi video call. Tak tanggung-tanggung ya, haha iya aku jujur aku sudah rindu Bima sekarang.
"Bim? Kamu tidur?" Aku melihatnya yang masih menyipitkan matanya, Bima mengucek matanya lagi untuk memastikan kalau ini memang aku.
"Sayang?" Matanya langsung terbuka lebar ketika melihat aku tersenyum.
"Kamu sudah tidur? Baru jam berapa Bim?" Ucapku dan menopang tangan di dagu.
"Sayang, berbeda ini Indonesia. Disini udah jam 1 malam." Aku melihat Bima menguap. Nampaknya aku menganggu tidurnya.
"Ya udah kamu tidur aja lagi. Kamu ngantuk kan? Maaf ya Bim, aku ganggu kamu ya." Aku berpura-pura merubah wajahku jadi sendu.
Bian masih setia di sampingku sekarang. Karena kami masih duduk di salah satu bangku yang berada di komplek. Rasanya tak sabar kalau menunggu di rumah untuk mengabari Bima.
Bima membulatkan matanya ketika melihat ada sosok lelaki di sampingku yang menempelkan wajahnya di wajah ku. Bukan itu sebenarnya tujuan Bian, ia hanya ingin melihat siapa yang sekarang sedang berbicara dengan ku di telepon.
"Dia siapa?" Suaranya langsung berubah dingin. Bahkan Bima langsung duduk tuh, bangkit dari rebahannya.
"Hai, kak?" Sapa Bian dan melambaikan tangan ke arah Bima.
"Hai?"
Bima malah membuang padangan dan mendengus.
Aku tau keadaan ini pasti akan tidak nyaman, baik untuk Bima atau pun Bian.
"Bim, kamu tidur aja lagi ya? Aku juga mau balik ke rumah om." Aku sedikit ragu sebenarnya mengatakan ini.
"Bilang aja kamu yang merasa terganggu sekarang, baik lah kalau gitu."
Belum aja sempat aku menjawab Bima sudah lebih dulu mematikan panggilannya. Ah aku coba kirim pesan tapi hanya centang satu. Tau aku kalau Bima marah, atau cemburu. Gila ya, padahal Bian masih anak-anak, hanya wajah dan posturnya saja yang terlihat dewasa. Soal tampan juga Bima tak kalah, tapi biarlah. Besok aku akan memanggilnya dengan kata-kata sayang beribu kali, biar dia tidak marah-marah.
***
Berjalan di pinggiran kota sore hari seperti ini rasanya enak sekali. Daerahnya bersih, dan warganya juga banyak yang berjalan kaki. Padahal rata-rata juga aku yakin pada punya mobil. Ini yang selalu menjadi perbandingan dengan tanah air ku sendiri.
"Kak?" Panggil adik tampanku.
"Iya Bian? Kenapa?" Kami masih berjalan santai dan bergandeng tangan, mengayunkan tangan seperti anak-anak sedang berjalan.
"Yang tadi siapa? Pacar kakak ya? Soalnya kan kita nggak punya saudara seperti dia. Apa dia sepupu kakak dari pihak ayah?" Aku tau, pasti Bian akan bertanya hal ini. Sebaiknya aku jujur saja lah, lagian kan ayah ibu sudah tau.
"Iya Bian. Kenapa?" Aku sekarang yang bertanya. Dari raut wajah Bian aku bisa tau, kalau dia ingin mengatakan sesuatu.
"Nggak kak. Tampan kok." Bian tersenyum menoleh ke arahku.
__ADS_1
Kalau saja Bian tidak lancar dalam bahasa Indonesia pasti aku juga akan kesulitan. Tapi om ku selalu menggunakan bahasa Indonesia sejak Bian kecil, jadi walaupun dia di besarkan di luar negeri yang berbeda bahasa, setidaknya Bian akan tetap mengenal bahasa Indonesia.
"Bian, itu apa ya?" Tanyaku ketika melihat penjual di pinggir jalan, tak jauh dari rumah om ku.
"Oh itu cumi kak, tapi hanya di makan menggunakan cuka. Rasanya enak, kalau bagi yang terbiasa makan." Aku langsung bergidik mendengarnya. Setahuku biasanya menu ini disebut dengan sushi sih, itu juga adanya di restoran mewah, Indonesia juga ada. Tapi, ini ada loh di warung pinggir jalan. Kirain hanya di tanah airku saja yang banyak warung di pinggir jalan, ternyata disini juga ada.
Tak terasa hari mulai gelap. Aku dan Bian sama-sama mengeluarkan keringat, ya mungkin karena berjalan cukup jauh. Kenapa tidak menggunakan mobil saja? Oh tidak, ternyata om ku tidak membiarkan Bian membawa mobil sekarang. Jadi teringat Bima terus, Bian juga memiliki peraturan ketat, tapi tidak keterlaluan seperti papanya Bima lah.
Aku langsung pamit kepada om dan tante ku, untuk masuk ke kamar, membersihkan diri. Berendam di bath up. Sudah ku bayangkan itu rasanya pasti segar.
Dan om ku tidak keberatan.
"Ya udah. Nanti biar pelayan mengantar makanan ke kamar. Om harus ke restoran juga sekarang, melihat kondisi dan situasi."
Apa? makan pun di antar pelayan ke kamar? Wah benar-benar seperti majikan saja aku disini.
"Eh mo tunggu?" Aku berbalik dan menghentikan langkah ku.
"Kamu jangan tidur larut malam ya, besok pagi kamu akan belajar bawa mobil. Soalnya kalau kuliah bawa mobil sendiri. Jadi dari sekarang harus belajar." Aku mengangguk dan kembali berjalan memasuki istana ku, eh kamar maksudnya.
Satu lagi kejutan di hari ini, rasanya aku benar-benar berdosa membandingkan kehidupanku bersama keluarga ku. Maaf kan aku ayah, bukan itu maksudku. Mungkin karena perekonomian kita berbeda dengan om.
Aku langsung masuk ke kamar mandi, mengerjakan semua yang sudah aku bayangkan sejak tadi. Bahagia, ya itu yang aku rasakan sekarang.
Semua selesai sekarang, aku sudah segar lagi. Aku kembali berbaring setelah tadi tertunda karena membeli kartu perdana. Aku harus menelepon ayah sekarang.
"Hallo, ayah ini Maudy?" Ayah langsung tertawa. Aku juga heran kenapa dia tertawa?
"Kenapa yah?"
"Ibu mu dari tadi nunggu kamu telepon, eh baru aja ibu tanya kamu langsung telepon. Gimana disana, apa kamu betah?"
Belum aku menjawab, suara ketukan pintu harus menjeda panggilan ku bersama ayah.
"Sebentar ya yah." Aku meletakkan ponselku. Lalu berjalan ke arah pintu.
Setelah membuka, wah ternyata pelayan membawa nampan yang berisi makanan lengkap beserta buah dan jus, juga ada susu. Ya ampun, ini om ku yang berlebihan atau aku yang kampungan sih?
"Thank you." Ucapku dan tersenyum, pelayan mengangguk dan pergi.
Aku membawanya, dan meletakkan di atas meja yang berada di kamar.
"Kamu ngapain Dy?" Telepon sudah teralih sekarang, dan ibu yang memegangnya.
"Itu tadi pelayanan nganter makan malam ke kamar."
"Apa?" Ibu malah kaget. Aku juga ikut kaget karena ibu berteriak sangat kencang, entah lah mungkin ayah juga sama.
"Kenapa bu?" Tak salah kan aku bertanya.
"Ya udah kamu makan sekarang. Ibu mau menelepon om kamu. Bisa-bisanya perlakukan kamu seperti tuan putri, ini nggak sesuai perjanjian."
Loh maksudnya apa? Jadi ibu mau aku dijadikan seperti pembantu gitu? Ih jahat ibu ah.
Karena panggilan berakhir aku langsung saja menyantap makanan yang sudah menggugah selera. Mungkin ibu juga sudah menelpon om Wisnu. Siap untuk komplain. Terserah ibu lah, yang penting perutku terisi sekarang.
--__
Hai, aku bakal nulis bahasanya tetap menggunakan bahasa Indonesia ya. Soalnya kalau menggunakan bahasa Inggris pasti kalian bakal bingung bacanya, jadi anggap saja nanti kalau Maudy berbicara dengan warga sipil disana itu menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1