
Bima.
Ini salahku yang sengaja menjauh, karena misi yang aku punya. Aku berusaha meyakinkan papa untuk beberapa tahun belakangan ini, bahwa aku benar-benar sudah jauh dengan Maudy. Ya semua itu aku turuti, dan ketika aku sudah berada di posisi sebenarnya dalam perusahaan aku akan langsung datang untuk melamar Maudy. Karena aku yakin, dia juga menunggu ku.
Aku sampai rela menjauh dari mama. Tidak lagi seperti biasanya, yang selalu mengaduh jika ada masalah. Aku hanya fokus kuliah, perusahaan, pulang lelah langsung tidur. Padahal aku sudah di beri kebebasan. Kalau papa saja bisa merencanakan sesuatu aku juga bisa.
Ternyata aku kalah cepat. Semua rencana ku sudah gagal, papa sudah mengemukakan pendapatnya lebih dulu bahkan sebelum aku mendapat gelar sarjana. Hanya beberapa bulan lagi tapi papa langsung saja bicara. Dua bulan lagi aku bertunangan dengan Luna. Luna yang pernah di kenalkan olehku dulu. Aku tidak menjawab keinginan papa, aku diam. Tapi diamku di anggap papa sebagai jawaban setuju.
Dan hari ini, setelah aku lelah memikirkan semua yang terjadi selama ini, semua yang terjadi padaku saat jauh dari Maudy. Aku bisa bertemu kembali, memeluknya. Dan merasakan hembusan nafasnya lagi.
Bima end.
***
Maudy sudah duduk di depan rumah omnya. Lebih tepatnya di taman, yang dihiasi lampu temaram di setiap sudutnya. Sudah setengah jam ia menunggu seseorang yang telah mengirim pesan tanpa menyebutkan inisialnya. Meski tanpa itu Maudy juga tau siapa dia.
Tunggu aku nanti malam.
Sudah, hanya itu. Walau tidak membalasnya tapi Maudy sendiri tau, kalau Bima akan tetap datang. Manusia aneh dan sekarang bertambah aneh.
Huh. Membuang nafasnya kasar, sudah lelah duduk sendiri. Menatap langit, untungnya ada bintang yang bertebaran disana, setidaknya pemandangan indah di malam hari bisa menutupi sedikit kegundahannya.
Suara langkah kaki jelas terdengar di telinganya, lebih tepatnya sepatu hitam kulit. Maudy menatap dari bawah dan ke atas. Mengikut kemauan matanya. Ia menarik nafas perlahan, mencoba mengatur nafas dengan menyuplai oksigen sedikit demi sedikit. Siap untuk bertanya, kenapa lama sekali?
"Ken-"
"Maaf aku baru selesai meeting." Langsung menatap stelan Bima malam ini. Maudy terdiam, dia ingat tadi siang Bima menggunakan jas itu. Ah gila! Jadi dia langsung kesini tanpa mandi dulu. Pasti bau lah! Gerutuan dalam hati.
"Aku pakai parfum kok."
Gila! Dia juga tau aku batin apa.
"Dy?" Panggilnya lembut. Aku rindu panggilan itu Bim!!
"Duduk disini Bim." Menepuk bangku taman yang panjangnya hanya satu meter. Maudy menepuk tepat di sebelahnya.
Bima melihat sekeliling. Mau apa dia?
Bima mengikis jarak. Duduk rapat dengan Maudy. Menatap lekat wajah kekasihnya yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan begitu saja.
"Maaf." Ucapnya lirih. Membelai rambut dan wajah Maudy dengan jarinya. Ada air mata yang siap jatuh di pelupuk mata.
"Maaf aku tak memberi kabar untukmu." Diam lagi. Mereka sama-sama terdiam.
"Maaf, sudah membuatmu khawatir waktu itu." Langsung menarik Maudy ke pelukannya. Maudy diam tak menolak, perlahan tangannya juga ia tautkan. Membalas pelukan Bima. Kali ini, kaus tanpa lengan miliknya yang basah. Ah Bima menangis. Maudy ingin melepas, menghapus air matanya. Tapi Bima seperti tidak ingin di lihat jika dia menangis.
"Biarkan, sampai aku puas." Sepertinya Maudy mengerti. Dan dia juga tenggelam dalam pelukan Bima.
"Ada banyak hal yang harus kamu tau." Sambil memeluk Bima berbicara.
Kenapa Bim? Kenapa aku jadi canggung sekarang, bahkan ingin marah atau bicara aku juga merasa takut.
"Aku mau dengar." Maudy membuka suara.
"Aku akan di jodohkan, dua bulan lagi aku tunangan." Reflek Maudy mendorong tubuh Bima. Melepas pelukannya, dan menggelengkan kepalanya. Menatap sejurus manik mata, mencari kebenaran, apakah dia bercanda? Sepertinya Bima serius dengan pembicaraannya.
"Tenang." Meraih Maudy lagi, tapi kali ini dia menolaknya.
"Aku cinta kamu!" Lirih dengan penekanan.
Maudy tetap menggeleng. Kecewa, jelas! Untuk apa hadir lagi, dengan sejuta kerinduan, dengan semua kata-kata cinta? Lalu tadi siang apa? Bahkan Bima berani terang-terangan mencium di hadapan Kiki. Perasan itu kembali muncul, di pikiran Maudy.
"Pergi Bim!" Menahan ratusan air mata yang siap menetes.
"Pergi!" Dan tes, sudah jatuh tanpa terisak.
"Dy." Mencoba meraih tangan Maudy. Dengan kasar Maudy menepisnya.
"Seharusnya kamu nggak perlu datang untuk temui aku, kamu nggak perlu memberi kabar apapun. Lebih baik aku melihat mu bersama wanita lain, sehingga aku bisa menganggap Bima ku, sudah mati!!" Bima menggeleng.
"Aku tau, derajat kita berbeda. Sehingga orang tuamu mati-matian untuk memisahkan kita. Aku sadar, ini bukan di film, atau drama FTV yang berbeda derajat bisa menikah. Jadi pergilah. Aku anggap semuanya selesai. Terima kasih untuk kekhawatiran bertahun yang aku pendam. Terima kasih sudah hadir untuk jadi cinta pertama ku. Aku tau sekarang, nggak harus kamu yang jadi pendamping ku." Maudy bangkit siap melangkah.
"Dy." Panggilnya dan menahan lengan Maudy. Sepertinya Bima sudah kehabisan kata-kata. Bagaimana cara menjelaskannya, pikirnya.
"Kita berjuang sama-sama." Maudy terdiam. "Aku harap, ketika hari itu tiba nantinya, kamu hadir disana. Dan kita, kacau kan rencana papa?" Maudy membulatkan matanya. Ini adalah hal gila yang Maudy dengar.
__ADS_1
"Kamu mau buat malu papa kamu?" Berontak!
"Iya. Kenapa? Demi kamu!" Maudy melemas. Meremas celananya sendiri. Aku harus apa sekarang? Apa aku harus setuju dengan ide Bima?
"Nggak Bim. Sebaiknya kamu terima takdir, itu udah jalan kamu, dan kita? Berarti tidak jodoh."
"Kamu rela?" Perkataan Bima berhasil membuat Maudy menoleh. "Duduk dulu." Dengan terpaksa Maudy menurutinya.
Bima menghela nafas, sepertinya dari pagi hingga malam ini ia akan bekerja keras, memutar otak untuk meyakinkan orang yang disayangi. Bertahan, iya sakit Bima tau itu. Tapi sedikit egois untuk mempertahankan hubungan bukan kah tidak masalah. Jika akhirnya bisa bahagia, pasti tidak ada kata menyesal nantinya.
Langit seperti mengerti perasaan dua insan ini, perlahan bintang mulai menghilang. Awan hitam tampak berkumpul, siap disambut dengan gemuruh dan air yang akan menetes.
"Kamu mau?"
Apa? Maksudnya ide aneh kamu tadi?
"Maaf. Aku tau ini sakit. Tapi-"
"Aku mau!" Tanpa menoleh ke arah Bima.
Duar.. Suara petir menggelar. Entah alam menyetujui keputusan mereka atau tidak. Yang terpenting ini saatnya mereka sama-sama berjuang. Berjuang untuk menuju keseriusan, bukan lagi bocah sekolahan yang harus diam-diam dalam menjalin hubungan. Ini soal serius, sekali langkah tidak bisa putar balik.
"Kita keluar ya? Kamu mau?" Maudy menoleh ke arah rumah omnya. Sepertinya ia harus ijin terlebih dahulu.
"Bim."
"Iya aku tau, aku siap meminta ijin."
Bima, apa kamu sudah merubah sifat pemalu mu?
***
Maudy sudah berdiri di resto. Menatap sekeliling mencari sosok yang ia cari.
"Mas, dimana om Wisnu?" Bertanya kepada salah satu pekerja resto.
"Di ruangannya nona." Setelah mengucapkan terima kasih. Maudy langsung melangkah.
Maudy mengetuk pintu dengan pelan, berharap segera dapat jawaban dari dalam. Jika ia langsung masuk, bukan kah itu tidak sopan.
"Om, ada Bima di depan. Kami ijin keluar boleh?" Omnya mengerutkan keningnya. Sepertinya dia tau tentang hubungan mereka yang sudah lama kandas.
"Tunggu." Langsung mengunci pintu ruangannya dan berjalan bersama keponakannya.
***
"Om. Maaf sebelumnya, apa aku boleh mengajak Maudy keluar sebentar?" Bima bicara juga takut-takut. Karena om Wisnu menatapnya dari ujung kaki ke ujung rambut.
"Baik, Silahkan. Jangan sampai larut ya?" Ha ternyata di perbolehkan. Jantung sepasang kekasih ini sudah berdetak tidak karuan.
Setelah itu, mereka langsung pergi. Bima melajukan mobilnya, bukan lebih tepatnya mobil milik om Wisnu yang di setir olehnya. Ia diam, tidak memberi tau akan kemana.
"Loh kenapa kesini?" Maudy juga bingung. Melihat kawasan hotel yang sudah beberapa kali ia kunjungi.
"Aku mandi dulu." Menjawab dan langsung menepikan mobilnya. Bima turun, tapi Maudy masih tetap duduk di dalam. Bahkan sabuk pengaman masih terikat kuat.
"Kamu mau disini?" Mengetuk pintu mobil.
"Ayo turun? Aku nggak akan macam-macam."
"Kan ada mas Rio?" Maudy juga tau itu.
"Mas Rio udah pulang, tadi langsung melakukan penerbangan." Makin takut saja Maudy ikut Bima masuk.
Andai aja Kiki masih disini, pasti bisa menunggu di kamarnya.
Ya, Kiki pulang sore hari. Setelah papanya menelpon untuk menyuruhnya pulang.
Bima mengetuk kaca mobil lagi.
"Dy, ayo!" Maudy dengan malas membuka Stell belt nya.
Bima menggandeng tangannya hingga tepat di depan pintu kamar hotelnya.
"Kamu kapan balik?" Pertanyaan yang sedari tadi ingin Maudy tanyakan.
__ADS_1
"Besok." Ucapnya dan kembali menutup pintu. "Kenapa?" Mencubit pipi kiri Maudy. "Kamu mau ikut aku pulang? Terus kita nikah?" Tersenyum jahil.
Stop Bim! Ide gila apa lagi yang akan kamu buat.
"Kamu tunggu disini ya, aku mandi dulu." Maudy mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang, menatap arah luar.
"Ini kamu belum minum tadi kan?" Menyerahkan satu gelas air putih. Dengan senang hati Maudy menerima. Tau aja kalau haus, batinnya.
Maudy meneguk habis minumannya. 15 menit sudah berlalu. Menunggu Bima keluar kamar mandi terasa sangat lama. Maudy merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Lalu memejamkan matanya sebentar. Maudy juga masih mendengar suara gemercik air, itu tandanya ia masih sadar hanya saja matanya yang ingin terpejam.
"Bim, kalau aku ketiduran bangunkan ya?" Terserah yang di panggil nyahut atau tidak. Rasa lelah karena berpikir menggiringnya untuk memasuki alam mimpi. Walau hanya 20 menit tidak masalah, pikirnya.
***
Maudy mengerjab kan matanya. Terasa ada tangan melingkar yang menimpa tubuhnya. Keadaan gelap. Apa mati lampu? Batinnya.
Tapi tangan siapa ini?
Mengingat kembali kejadian terakhir sebelum tidur. Detik berikutnya Maudy kelimpungan. Ia langsung turun dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Mencari dimana saklar lampu berada. Setelah menyala, Maudy langsung melemas. Melihat keadaannya ini, lututnya seperti tak mampu menopang bobot tubuhnya.
"Nggak mungkin." Ucapnya lirih dan menampar wajahnya sendiri. Berharap ini mimpi, tapi ia merasakan sakit saat menampar. Itu artinya ini nyata bukan mimpi.
Maudy langsung berjalan mendekat ke arah kasur. Menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Bima. Maudy langsung menutup mulutnya sendiri, melihat Bima hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada. Sedikit kekaguman yang melihat tubuh six pack Bima. Tapi ia segara menyadarkan dirinya, bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.
"Bim, bangun?" Mengguncang tubuh Bima. Bima hanya bergerak lalu kembali tidur lagi.
Maudy cemas, melihat jam sudah pukul 4 pagi. Dan beralih mencari ponselnya.
12 panggilan tidak terjawab.
Semua dari omnya. Ah tidak terbayangkan hal apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
"Bima, bangun!!" Maudy sudah mengeluarkan energinya untuk membangunkan Bima.
"Bim, kamu apa-apaan sih Bim. Kenapa kamu nggak bangunkan aku? Dan kenapa kamu malah ikut tidur?" Setelah melihat Bima membuka mata.
"Atau jangan-jangan kamu sengaja ya Bim?" Menuding wajah Bima.
Bima menjawab dengan anggukan.
Ah ya tuhan, rasanya saat ini Maudy sangat ingin menggorok leher Bima.
"Bima, ya ampun." Maudy frustasi dan rasanya ingin menjerit, menangis, tapi ia juga menikmati tidur di pelukan Bima.
"Tenang-tenang." Memeluk tubuh Maudy yang terus meronta.
"Bim, apa sebenarnya yang kamu rencanakan?" Bima menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu takutkan?" Malah bertanya balik.
Sumpah ya Bim. Ih kamu tuh, pengen aku cekik sekarang tau nggak!!
"Waktu kamu tidur, om kamu udah telepon berulangkali. Terus aku angkat, dan bilang kalau mobilnya mogok. Terus aku bilang kalau kita menginap di hotel, karena hujan sedang turun dengan lebatnya."
"Lalu?" Mengingat panggilan yang begitu banyak, apa bisa omongan Bima di percaya.
"Dia hanya bilang, jangan berbuat macam-macam. Ya sudah. Aku langsung ikut tidur aja." Masih bisa bersikap santai, sementara Maudy sudah hampir pingsan.
"Kamu serius om ku sudah tau?" Bima mengangguk. Tidak puas Maudy langsung membaca pesan yang masuk.
"Dy, besok kalau pulang langsung bawa mobilnya ke bengkel ya? Kamu hati-hati. Tante kamu khawatir soalnya."
Beralih menatap Bima setelah membaca pesan. Bima tersenyum dan memainkan kedua alisnya.
"Bima!!" Teriaknya dan mengambil bantal siap untuk memukuli Bima. Tapi ini bukan Bima yang dulu, dengan sigap ia menghalau serangan dari Maudy. Dan beralih ke tangan, Maudy tidak bisa bergerak.
Bima langsung menariknya ke pelukannya. Membawa Maudy dalam dekapannya. Perlahan nafas menderu saling terdengar, lama mereka saling tatap. Ada rasa yang bergejolak.
Maudy memejamkan matanya saat Bima sudah menyentuhnya dengan bibir. Ya, kejadian itu terulang lagi. Maudy tak mampu menolak karena sudah ada hasrat di dalam sana. Tapi mereka juga tidak terlewat batas. Hanya itu saja yang berani Bima lakukan. Baginya bisa tidur malam ini dengan memeluk Maudy sudah menjadi keajaiban untuknya.
Dan Bima yang sekarang, lebih banyak melakukan dengan tindakan dari pada dengan kata-kata tanpa harus mempunyai sebuah permintaan. Ternyata kata tahun bisa merubah seseorang ya.
Tak tau sudah berapa lama mereka bergumul, satu yang pasti. Maudy tidak membiarkan Bima menjamahnya terlebih dahulu.
--__
__ADS_1