Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kelicikan Bima


__ADS_3

Suasana malam sangat ramai, banyak pejalan kaki yang menoleh ke arah bangunan mewah ini. Tempat makanan baru. Maudy sudah berdiri di sisi resto, menyambut semua para kerabat yang datang, kebanyakan yang tak dikenalnya. Kenapa? Karena itu memang ulah Bima.


"Pak, saya datang bawa istri dan anak saya." Pamer dengan menggendong anak umur dua tahun, dan yang satu di gandeng istrinya.


"Iya nggak apa-apa, ayo silahkan."


Maudy berdiri di sisi kanan, bersama dengan orang tuanya. Sementara Bima berdiri sendiri sisi lain. Semenjak pulang dan datang kesini, Maudy selalu mendiamkannya. Sudah di tanya lembut juga Maudy tetap diam.


Wajah cantik natural yang di miliki Maudy juga menjadi tatapan para karyawan suaminya, mengaguminya dari tempat duduk mereka. Wajah yang seperti bersinar di malam hari, setiap dia tersenyum bahkan semua ingin mendekat. Dress berwarna putih dengan corak hitam di sisi pinggang, menempel pas di tubuhnya. Rambut sebahu dengan tinggi badan bak model, ah semua itu jelas terlihat sempurna. Cocok dengan pasangan yang malam ini juga terlihat tampan.


"Kak Sun." Maudy sudah tersenyum lebih dulu. Melambaikan tangannya seperti ingin pamer kalau dia bahagia.


"Dy, selamat ya. Cie sebentar lagi bakal jadi ibu." Hah? Maudy kaget, kenapa bisa tau?


"Tadi pak Bima umumkan ke seluruh karyawan kantor?" Apa? Maudy menatap ke arah Bima yang berdiri berjarak sekitar 10 meter darinya. Bima juga menatapnya, tapi secepat mungkin Maudy membuang pandangannya.


"Yang penting kamu sehat ya." Maudy mengangguk dan tersenyum.


"Kakak sendiri?" Sundari mengangguk.


"Ayo kak, duduk disana aku temani." Menggandeng lengan sudah seperti kakaknya sendiri, secepat itu dia akrab. "Bu, aku kesana ya?" Ibunya mengangguk.


Ah ini sudah seperti acara resepsi saja. Banyak sekali yang datang, batin ibunya.


"Kak Sun, apa tadi Bima sempat sarapan di kantor?" Sundari mencoba mengingat, dan menggeleng.


"Kenapa Dy?"


"Hei, aku cari kamu taunya malah duduk disini. Bukannya nyambut tamu yang datang buat makan." Kiki langsung ikut duduk. "Kak Sun, apa kabar?" Nah, mereka juga sudah saling mengenal. Pandangan Maudy beralih ke arah lain, dimana juga ada Adam dan Ilham.


Ilham? Kenapa dia bisa datang?


"Ayah kamu yang ngundang aku Dy." Sepertinya dia tau kalau Maudy ketakutan dengan kehadirannya. Baiklah, detik berikutnya apa yang di pikirkan Maudy benar, Bima sudah berjalan mendekat. Duduk di sampingnya, bahkan tak memberikan jarak. Ilham membuang pandangannya, sengaja tak ingin melihat pasangan romantis.


"Kakak sendiri?" Setelah beberapa lama hening Kiki bertanya.


"Iya." Jawabnya, wajahnya berubah lesu, melihat sekeliling yang datang dengan keluarga atau pasangan.


"Wah pas dong, ini juga Ilham sendiri. Ham ini kenalkan, dia kak Sun, dia sekretaris Bima." Bima hanya melirik saja.


"Ilham, bisa kita bicara sebentar?" Bima bersuara. Ilham mengangguk, tapi Maudy sudah memucat, akan kah Bima salah paham? Akan kah Bima menuduhnya kalau dia yang mengundang Ilham kesini? Ah rasanya mood nya berubah lagi sekarang. Tangan ia eratkan dengan menggenggam jarinya sendiri. Melirik kemana Bima membawa Ilham.


"Dy, selamat ya Dy."


Kiki juga tau kalau aku hamil? Sebenarnya Bima sudah menyebar kemana saja sih.


"Pasti Bima ya?" Kiki lebih bingung sekarang.


"Maksudnya?"


"Ah nggak, aku kira Bima yang bilang."


"Kok Bima? Kan kamu sendiri yang ngundang aku buat datang kesini, melihat peresmian resto kamu, sekalian makan gratis."


Ah aku kira.


"Dy, ini yang masak kamu?" Menunjuk sebuah hidangan yang tersusun di meja panjang.


"Iya, sama ibu. Ada yang bantu juga salah satu tetangga kami. Namanya juga sekalian perkenalkan rasa makanan Ki, jadi ya harus kami sendiri yang masak."


"Apa kamu nggak capek Dy? Kamu kan lagi hamil." Kiki sampai menggebrak meja, membuat sebagian tamu menatap mereka.


"Hamil?" Menoleh ke arah Agam. "Kok nggak kasih kabar baik sama aku sih Dy!!" Melipat kedua tangannya di dada.


"Ya ini juga baru mau aku kasih-"


"Dy, ada mertua kamu itu datang." Ah ucapannya lagi-lagi harus terpotong. Menoleh ke arah dapur, ke arah lain, mana Bima? Kenapa lama sekali hanya berbicara saja dengan Ilham.


"Ki, Gam, kak Sun, aku tinggal dulu ya?" Mereka serempak mengangguk.


"Ayo?" Ibu menggandeng lengan Maudy, berjalan ke arah ruang VVIP. Wow, ternyata mertuanya berbeda sendiri ya soal ruangan.


Maudy berjalan masuk, tersenyum dan mendekat.


"Dy, selamat ya nak?" Memeluk menantunya dengan penuh kehangatan.


"Makasih ya ma." Lagi-lagi pandangan Maudy masih mencari keberadaan Bima. Lama berbincang, barulah Bima masuk.


"Kamu dari mana saja Bim?" Ah mama selalu mewakilkan pertanyaan Maudy.


"Dari kamar mandi ma?" Tersenyum ke arah istrinya.


Bohong ma!!


"Gimana Bim? Apa kamu sudah bilang ke Maudy?" Tiba-tiba saja papanya mengatakan hal itu. Maudy segera menoleh ke arah mama Lisa, tapi mama Lisa tampaknya juga tidak tau.

__ADS_1


Bilang apa? Bima nggak ada bilang apapun!


"Belum pa."


"Sebaiknya kamu sampaikan nanti."


Ingin sekali rasanya Maudy bertanya, papa ngomong apa? Ngomong aja langsung! Kenapa melalui Bima sementara ada aku disini. Batinnya berteriak kesal melihat bapak dan anak ini.


***


Semua tamu sudah tampak datang, kini Maudy sudah berdiri tepat di depan resto. Ada beberapa yang sudah stay dengan kamera ponselnya, hingga hitungan mundur pemotongan pita di lakukan. Suara tepuk tangan riuh bahkan sampai terdengar oleh pengendara jalanan, bahkan juga ada yang sengaja berhenti sengaja menyaksikan momen ini. Maudy mengucapakan banyak terima kasih pada semua yang mau hadir, tak lupa ia juga meminta dukungan dan doa dari mereka.


Hingga acara doa selesai, kini tiba para tamu yang datang menyerbu hidangan di atas meja, dengan berbaris rapi memegang piring, mereka bebas memilih makanan. Gratis sampai kenyang.


"Kamu nggak makan Dy?" Mama Lisa melihatnya hanya duduk menatap semua para tamu yang makan. Hatinya tersenyum membayangkan kalau seandainya nanti pembeli akan seramai ini.


"Nggak ma, nanti aja." Menolak halus, dan melihat meja sudah penuh dengan piring, masing-masing dari keluarganya.


"Enak ya, rasanya pas."


"Iya pedas manis gitu." Maudy masih bisa mendengar mereka yang mengomentari makanannya.


Kuat ya nak kalau setiap hari mama sibuk masak.


Malam semakin larut, resto juga sepi. Menyisahkan piring kotor di dapur resto. Nah kalau ini, ini giliran Tisha. Tapi dia tidak sedikitpun menolak atau sekedar mengeluh, semua di lakukan karena rasa bersalah kemarin. Melihat saudaranya juga sudah hamil, mana tega membiarkan Maudy mengerjakan ini. Begitu juga dengan ibu, satu harian dia ada di dapur, memasak begitu banyak.


"Mbak, setelah ini kita pulangkan?"


"Iya, kenapa? Kamu capek ya?" Dia tersenyum lalu mengangguk.


"Nanti mbak kasih uang jajan buat kamu." Ah Tisha semakin gesit menggosok piring.


"Dy, aku pulang ya? Oh iya, kamu masih berhutang penjelasan sama aku." Maudy tertawa, melihat Kiki menunjuk dua bola matanya dengan jari.


"Iya, makasih ya sudah datang. Nanti kasih tau aku gimana rasa masakannya." Baik, begitu Kiki menjawabnya.


***


Sampai dirumahnya, baik ibu dan ayah langsung masuk ke kamar, Maudy tau mereka sangat lelah begitu juga dengannya. Satu hari tanpa istirahat, huh rasanya gimana.


Maudy juga sudah berbaring, mengganti pakaiannya dengan daster tidur. Tidak dengan lingerie kali ini.


"Sayang?" Mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Sayang." Belum menjawab malah pura-pura tidur.


Iya!!


"Sayang?"


"Hem." Bima menghela nafas lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Mendengar suara pintu tertutup Maudy membuka matanya dengan perlahan, ternyata Bima mandi, pikirnya. Lalu pura-pura tidur lagi setelah mendengar handle pintu terbuka.


"Sayang, jangan begini."


"Hiks.." Lah, Bima bingung. Sekarang dia malah menangis.


"Sayang, kenapa?" Memegang wajah Maudy dengan kedua tangan, memaksa untuk menatap manik matanya.


"Sayang, maaf. Aku minta maaf kalau aku salah? Apa karena aku tak membantumu di resto tadi?" Maudy menggeleng.


"Katakan sayang, jangan begini." Tangisnya malah semakin kencang, pasti Tisha mendengarnya.


"Kamu jahat Bim."


Apa soal Ilham tadi? Aku yakin Maudy salah paham.


"Jahat, ahh.." Memukul dada Bima berulang kali. "Sayang, papamu jahat." Ah dia berbicara dengan janinnya.


"Sayang?" Memeluk, memeluk dengan erat. "Kenapa? Katakan kalau aku salah." Tetap memeluknya.


Maudy melepaskan pelukannya, berjalan menuruni tempat tidur lalu detik berikutnya dia keluar. Bima hanya terdiam, membiarkan istrinya keluar. Biarkan dia merendamkan kemarahannya, begitu yang Bima pikirkan.


Beberapa menit kemudian, Maudy kembali. Membuka pintu kamar dan masuk membawa sebuah nampan, apa itu? Bima mengerutkan keningnya.


"Sayang?" Melihat Maudy terus mendekat dengan wajah yang di tekuk, dan masih ada sisa air mata di pipinya.


"Aku masak buat kamu, aku bangun pagi. Tapi kamu nggak mau makan sarapan buatan aku, kenapa!!" Menangis lagi.


"Sayang ya ampun maaf, iya sayang aku makan sekarang ya?" Maudy diam. Melihat Bima benar-benar memakan sandwich buatannya tadi pagi. Bahkan saus dan selada sudah mengering.


"Enak Bim?"


"Hem." Masih mengunyah.


"Kalau nggak enak buang aja Bim." Menghentakkan kakinya ke lantai.

__ADS_1


"Sayang enak sayang." Tersenyum dan lanjut memakan sandwich hingga gigitan terakhir, walaupun ingin muntah karena rasanya sudah aneh, tapi Bima tetap tersenyum dan mengatakan 'enak' berulangkali.


"Bim?" Menoleh, mengambil air dan meneguknya hingga habis.


"Tadi papa bilang begitu, maksudnya apa? Kamu sembunyikan sesuatu dari aku ya Bim?" Bima mengingat, apa ya? Apa ya? Menatap ke atas.


"Oh itu." Diam, tarik nafas. Ingin berkata bohong saja, takut kalau Maudy akan ngambek lagi. "Cuma bilang selamat sayang, terus kata papa kamu juga harus jaga kesehatan." Maudy semakin mendekat, mendekat ke wajah Bima, dua bola matanya bahkan tak berkedip. Senyum tipis keluar dari bibirnya.


"Kamu bohong!" Kembali duduk ke tempat semula, melipat kedua tangannya dan melirik. "Kamu bohong kan? Iya kan Bim?" Melengos.


"Sayang, sudah ayo tidur lah? Kan besok kamu juga harus buka resto, cie. Selamat ya udah punya usaha sendiri. Hem jangan-jangan nggak butuh uang dari suami lagi nantinya." Mengalihkan topik, ah pandai sekali dia.


"Bilang nggak?" Bima terdiam, membuang nafas kasar.


Apa semenjak hamil dia jadi dukun selalu tau kalau aku berbohong.


"Bima! Kamu kan yang bilang, jangan kebiasaan bicara dalam hati."


Nah kan dia tau?


"Iya-iya, papa bilang dia mau cucu perempuan." Menatap lekat wajah Maudy, melihat perubahan ekspresi wajahnya.


"Benarkah? Ah aku juga sama." Tersenyum sendiri, membayangkan jika memang anaknya nanti perempuan gimana? Apa jangan-jangan juga bakal jarang tidur dengannya karena sangking sayangnya kakeknya. "Eh, jadi kalau anak kita laki-laki, papa nggak mau terima gitu? Iya?"


Deg.


"Nggak gitu sayang."


"Aneh, ya sudah kalau anak kita laki-laki, aku juga tau diri nggak akan bawa kerumah kamu."


Deg.


Duhai anakku, kenapa mama mu begini.


"Sayang. Sudah lah, ayo tidur." Aku ngantuk sayang! Aku capek! Ingin berteriak begitu, ah tapi juga memakluminya, mungkin ini balasan dari janin yang di kandung istrinya, mengingat dulu kelakuannya juga seperti ini. Apa-apa harus dituruti.


"Sayang, apa anak kita balas dendam?" Maudy langsung menoleh.


"Maksudnya?" Bima menggeleng.


"Dengan sifat ku dulu yang selalu nyusahin kamu." Maudy tersenyum dan membuang pandangannya.


Baiklah Bim, kamu udah kasih aku ide.


"Oh jadi kamu anggap aku sekarang aku nyusahin kamu ya?"


Tuhan, sesusah inikah bicara dengan istriku??


Bima frustasi sendiri, memijat keningnya lalu berdiri, melompat-lompat di atas tempat tidur, bernyanyi balonku ada lima. Haha Maudy bahkan sampai memegang perutnya, melihat ulah Bima di luar dugaannya.


"Cukup Bim, haha." Tertawa lagi. "Aw." Memegang perutnya dan meringis.


"Sayang kenapa?" Panik, memeriksa seluruh tubuh istrinya. Yang sakit perut kali Bim?


"Yang mana yang sakit?" Maudy diam menatap lekat wajah panik Bima.


"Nggak ada, haha." Lanjut tertawa, ah ya ampun.


"Kita tidur sekarang." Suaranya berubah dingin, merebahkan tubuhnya dan menatap tajam kearah Maudy.


Merinding Bim kalau lihat kamu begitu.


***


Epilog


"Kenapa kamu ngajak aku kesini Bim?" Mereka sudah berdiri di halaman belakang resto, sepi tidak ada satupun orang disini.


"Aku mau bicara sama kamu."


"Iya kenapa harus disini?" Melihat ke sekeliling, sepi.


"Aku dengar kamu minta ke Maudy untuk dicarikan jodohkan?" Ilham mengangguk.


"Aku kasih kamu sekretaris ku, tapi ingat jangan kamu coba dekati istriku lagi. Kalau kalian berhasil kencan aku akan beri hadiah besar." Ilham langsung menatapnya, apa yang di katakan Bima?


"Gimana? Aku bisa bantu atur waktu, tapi ingat tak perlu melibatkan istriku." Masih diam.


"Oke kalau kamu nggak mau. Kesempatan tidak datang dua kali!" Bima sudah berbalik ingin meninggalkannya.


"Tunggu Bim, iya aku setuju. Aku mau. Atur waktunya."


"Good." Tersenyum menang. "Sekarang kembalilah ketempat mu, jangan bicara apapun pada mereka." Ilham mengangguk saja, seperti kerbau yang sudah di tusuk hidungnya. Dan Bima kembali berjalan dengan santainya, memasukkan kedua tangannya di saku celana, lalu melihat sudah ada kedua orang tuanya yang datang dan duduk di dalam ruangan VVIP resto.


Tersenyum lagi dan melangkah masuk. Huh, aku menang sekarang!

__ADS_1


--__


__ADS_2