Dia Bimaku

Dia Bimaku
studi tour 2


__ADS_3

Suasana masih terasa hangat bagi mereka berdua. Keinginan Maudy sudah terwujud, memiliki kenangan indah bersama Bima. Yang bisa di ingat setiap waktu.


"Oh pantas ya nggak mau ngajak, ternyata malah peluk-pelukkan disini." Kiki sudah melipat kedua tangannya di dada. Sudah lelah ia berkeliling mencari sepasang kekasih ini.


"Ganggu!" Bima langsung melepas pelukannya. Maudy kikuk, ia juga malu dengan Kiki.


"Semua udah pada ngumpul, bus bentar lagi jalan. Kita akan segera pulang." Langsung melangkah pergi meninggalkan Bima dan Maudy.


"Ki, tunggu. Kamu marah ya?" Setengah berlari menjajarkan langkahnya.


"Enggak lah Dy. Aku juga tau kali, ini kesempatan kalian bisa berduaan." Maudy langsung menarik lengan Kiki. Dan memeluk sahabatnya dengan erat.


"Ki, aku seneng banget hari ini. Makasih ya kamu mau ngerti."


"Sayang jangan peluk dia, ada bekas pelukan aku tadi, enak aja Kiki ngerasain pelukan aku." Protes ketika sudah mendekat ke arah Maudy yang berdiri dengan Kiki.


"Oh ya ampun Dy pacar kamu!" Langsung melepas pelukannya.


Karena saat ini mereka sudah berdiri di antara murid lainnya. Bima kembali diam dan hanya bisa berdiri di samping Maudy dengan menundukkan wajahnya. Itu juga sudah hal yang biasa ia lakukan ketika berada di keramaian. Bima melirik Maudy yang masih fokus mendengarkan arahan dari guru yang bertanggung jawab saat ini.


"Tugas sudah selesai, dan soal nilai juga kesimpulan analisis terbaik akan segera saya umumkan ketika ada jam pelajaran saya nanti. Sekarang, kita akan kembali berangkat untuk pulang, nah nanti kita akan mampir ke tempat dimana kalian bisa membeli oleh-oleh, itu akan saya anggap sebagai bonus karena semua telah berhasil mengerjakan tugas dari saya. Tentunya juga saya ingin membeli sesuatu." Sorak dari siswa langsung terdengar sahut-sahutan.


"Sudah, sekarang masuk ke dalam bus dengan tertib." Kemudian guru yang menjadi pembimbing siap untuk mengabsen setiap siswa yang ikut. Yang hari ini pergi untuk studi tour hanya satu kelas. Sementara kelas lainnya akan mendapat giliran. Karena tidak ingin terlalu repot dengan banyaknya siswa yang pergi.


Baru beberapa menit bus melaju keadaan sudah hening, mungkin semua lelah karena mengerjakan tugas, entah juga lelah karena berphoto memenuhi memori di ponsel mereka masing-masing.


"Anak-anak, yang mau turun silahkan. Dan yang ingin tinggal di bus juga silahkan." Semua bersiap, tidak ada yang ingin tinggal, mereka semua juga anak-anak yang ekonominya menengah ke atas, mana mungkin pergi membawa uang yang sedikit. Juga tidak ingin melewatkan kesempatan membeli pernak-pernik untuk keluarga atau pun teman. Termasuk Maudy dan Bima, mereka juga sudah antusias untuk turun, tapi Bima menarik lengan Maudy yang sudah berdiri, bersiap untuk turun.


"Nanti belakangan aja, nanti kamu malah himpitan sama yang lain, aku nggak rela." Masih setia menahan lengan Maudy dan duduk dengan santainya menunggu seluruh siswa turun.


"Sudah sepi Bim." Mendengus karena Bima masih saja duduk dengan tenang.


"Ya udah ayo?"


Maudy langsung berbinar, ketika melihat banyaknya pernak-pernik. Bukan untuk dirinya, tapi untuk ibu, ayah dan juga adiknya.


"Kenapa, kamu suka yang itu?" Menunjuk baju tidur dengan celana pendek, yang bertuliskan nama gunung yang mereka datangi saat ini.


Maudy menggeleng cepat.


"Itu." Tunjuk nya pada daster yang bercorak bunga anggrek. "Unik." Ucapnya lagi.


"Kamu mau pakai daster?" Bima sampai menatap Maudy tanpa berkedip.


"Bukan Bima, bukan aku, tapi bagus kalau buat ibu." Langsung berjalan ke tempat dimana daster itu di gantung.


"Mbak, daster yang ini berapa?" Sambil memegangnya.


"Oh, itu 150 dek, ambil dua ku kasih 270." Jawabnya dan masih mengunyah sirih.


Ih jorok banget sih. Batin Bima.


"Mbak kasih dua ya? Warnanya yang merah sama hijau." Tanpa berpikir lama Maudy langsung saja memesan.


"Sayang, orangnya jorok, liat mulutnya ih. Baru dia pegang dasternya lagi." Berbisik ketika penjual mengambilkan pesanan yang di minta Maudy.


"Ini dek." Bima langsung menyerahkan 3 lembar uang seratus ribuan, sebelum Maudy membayarnya.


"Makasih ya dek ya." Tersenyum ke arah Bima, sementara Bima membuang pandangannya tidak ingin sama sekali membalas senyuman kepada penjual.


Ih ya ampun joroknya, makan apa sih dia masak mulutnya merah semua gitu. Apa nggak pernah makan nasi ya?


"Bim, kenapa kamu yang bayar?" Bertanya setelah beberapa langkah pergi dari penjual.


"Kenapa?" Malah balik bertanya.


"Bima! Kan aku yang mau belikan ibu?" Berdecak kesal.


"Apa bedanya sayang? Kan kalau aku yang beli juga bakal kamu yang ngasih ke ibu, sama aja kan? Sekarang kita beli buat ayah kamu, terus Tisha, dan terakhir kamu?"


Ya ampun Bima!


Mereka memandang sambil berjalan, melihat apa lagi yang akan di beli.


"Itu bagus buat ayah kamu." Menunjuk sweater tebal.


"Kita liat yah?" Maudy yang bertanya harga, ia sempat kaget ternyata harganya melebihi harga dua daster milik ibunya, tapi Bima langsung mengeluarkan uangnya dengan jumlah seperti yang sudah di sebutkan penjual. Maudy juga tidak protes, karena percuma. Bima akan tetap membayarnya.


"Bim itu?" Menunjuk baju tidur tanpa lengan, dan celana selutut. "Beli dua ya, biar sama dengan Tisha."


"Sayang nggak? Kamu mau yang itu?" Maudy mengangguk. "Kalau kamu mau yang itu Tisha belikan yang lain aja?"


"Kenapa?" Maudy menghentikan langkahnya.


"Nggak boleh ada yang sama dengan kamu. Pokoknya Tisha belikan yang lain." Bima melangkah lebih dulu mendekat ke penjual.

__ADS_1


"Om mau yang itu ya?" Menunjuk baju yang sudah Maudy inginkan. Tanpa bertanya harganya terlebih dahulu. Dan kenapa Bima berani? Iya karena penjualnya lelaki, lagian juga mungkin umurnya sebaya dengan papanya.


"Ini 150 harganya dek." Mungkin meragukan Bima yang masih terlihat seorang pelajar. Bima langsung mengeluarkan uang dan membayarnya. Penjual langsung membungkus apa yang sudah Bima mau.


Di kira aku nggak ada uang apa!


"Kembaliannya ambil aja om." Maudy hanya geleng-geleng melihatnya. Sementara penjual berniat ingin mengucapkan terima kasih, tapi Bima sudah melenggang pergi dan kembali menggandeng lengan Maudy, sepeti takut kalau Maudy akan lari meninggalkannya.


"Dy, Bim tunggu." Suara Kiki berteriak dan berlari mengejar mereka.


"Kenapa lari-lari sih Ki?" Maudy berbalik dan berhenti melangkah setelah mendengar suara tidak asing memanggilnya.


"Aku.." Masih ngos-ngosan. "Aku beli sesuatu buat tante dan om?" Setelah bisa mengatur nafasnya.


"Ya ampun, kemarin papa kamu, eh aku lupa. Yang dari papa kamu belum aku kasih ke ayah." Menepuk keningnya sendiri.


"Ih kamu mah kebiasaan, pikun!"


"Kalau kamu udah beli, mana?" Bima melihat Kiki tidak membawa apapun di tangannya.


"Tunggu." Berbalik badan. "Edi cepetan!" Edi yang sudah kesusahan membawa beberapa kantung plastik.


"Ya ampun, kamu belanjanya sama Edi?" Kiki mengangguk dan tergelak.


"Eh dia belikan aku baju loh Dy." Tergelak lagi. Tidak menyangka ternyata Edi membawa uang yang cukup banyak.


"Kasian tau Ki." Protes melihat ulah sahabatnya.


"Ki berat, udah belum belanjanya?" Tidak bisa membenarkan kaca matanya yang mulai turun karena kedua tangannya saat ini sudah penuh dengan membawa berbagai macam pernak-pernik yang dibeli oleh Kiki.


"Kalian masih mau belanja lagi?" Maudy melirik ke arah Bima.


"Iya sih, tinggal beli buat Tisha."


"Eh enggak usah. Tisha juga udah aku belikan kok, aku belikan dia cardigan lengan panjang, cocok kalau di pakai sama Tisha." Jawab Kiki.


"Beneran ya ampun? Makasih ya Ki?" Maudy tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Uang aman belanja tenang, haha.


"Kita balik ya Bim? Kan udah?" Menggoyangkan lengan Bima.


"Ada yang mau aku beli." Ucapnya.


"Ya udah aku duluan ya? Ayo Edi?" Menggandeng lengan Edi dan menjulurkan lidahnya ke arah Bima.


"Mereka cocok sayang." Tergelak dan menutup mulutnya dengan tangan.


Setelah berjalan lagi, Maudy sudah bertanya sebenarnya apa yang mau Bima beli, tapi Bima hanya menjawab "Ada deh." Hingga Maudy merasa lelah dan menghentikan langkahnya.


"Itu dia." Menunjuk toko yang menjual berbagai macam jenis pernak-pernik berupa gelang, jam tangan, dan juga hiasan lainnya.


Mau apa dia sekarang?


Bima langsung menunjuk gelang sepasang dan juga kalung yang berbentuk hati. Seperti biasa, jika Bima yang membeli pasti tidak menanyakan harga terlebih dahulu.


"Cantik ya?" Bima tersenyum senang, sambil memakaikan gelang couple yang hanya terbuat dari tali. Dengan inisial nama mereka. Maudy memakai gelang yang ada huruf B menandakan inisial dari Bima, begitu sebaliknya Bima memakai dengan menggunakan inisial Maudy. Dan juga kalung hati yang juga sepasang.


"Jadi kamu cuma mau beli ini? Kalau ini juga banyak Bim di daerah kita?" Protes atas pemberian Bima.


Bima diam tidak menjawab, kemudian melangkah untuk kembali ke bus. Sudah terlalu lama mereka membeli oleh-oleh. Mungkin semua siswa juga udah pada kumpul.


"Bim?" Menegur setelah duduk di dalam bus.


"Dy, aku duduk sama Edi, nggak jadi duduk sama kalian." Tiba-tiba Kiki datang mengagetkan.


Setelah berbicara langsung kembali berjalan ke arah dimana ia duduk bersama Edi.


"Bima, kamu marah?" Masih diam dengan wajah dinginnya.


"Sayang?"


"Aku tau Dy, kamu nggak suka kalau aku beli gelang itu, walau hanya dari tali tapi bagi aku itu udah lebih dari emas atau berlian, aku bakal belikan itu nanti suatu hari ketika aku ngelamar kamu. Tapi, aku hanya ingin memakai yang sama dengan kamu, apa aku salah?" Sekarang gantian Maudy yang terdiam.


"Kalau kamu nggak suka kamu boleh buang kok. Tapi aku bakal tetap pakai ini. Bagiku ini sangat berharga." Tanpa terasa air mata Maudy jatuh begitu saja.


Bima, kenapa aku menjadi melow dengar kamu ngomong gini. Maaf ya Bim, maaf.


"Maaf." Ucapnya lirih. "Maaf Bim aku nggak hargai yang kamu beli." Menghapus setitik air mata bahagianya saat ini.


Ya ampun, ini bukan aku kali yang harus nangis di depan orang lain.


"Kamu nangis?" Bima kaget setelah melihat ke arah Maudy. Dengan cepat ia menghapus.


"Sayang maaf, kamu nangis? Maaf ya, maaf. Kenapa nangis? Aku ngomongnya kasar ya? Maaf sayang." Kini malah Bima yang merasa bersalah. Berulang menghapus air mata Maudy, padahal juga sudah tidak keluar lagi.


Ah Bima!!!

__ADS_1


"Kok sekarang tersenyum? Sayang, jangan-jangan kamu gila ya?" Memegang kening Maudy, mungkin bermaksud mengecek suhu tubuh. Padahal juga nggak ada kaitannya gila sama suhu tubuh.


"Bima, aku sayang kamu." Berbisik di telinga Bima.


Aku bakal protes tentang kuliahku nanti Bim, setelah pulang dari sini.


"Aku juga." Bima mengeluarkan ponsel miliknya. Dengan cepat mengetik sesuatu.


"Lihat ponsel kamu sekarang!" Ucapnya sambil mengedipkan mata. Maudy yang memang penasaran tanpa bertanya langsung membuka, yang sudah ada notif dari Bima.


"Emuah, aku cium kamu dari sini aja ya. hehe, aku sayang kamu Maudy Ambar Sari!!"


"Bim." Panggilnya lembut.


"Iya sayang?" Menoleh dengan tersenyum.


"Aku ngantuk, aku tidur ya? Nanti bangunkan kalau udah sampai." Langsung menyandarkan kepalanya di bahu Bima.


Aku kirain minta cium!!


Tidak protes. Bima juga ikut tertidur setelah melihat Maudy pulas. Bus juga sampai dimana mereka tidak tau. Yang penting bisa tidur bareng, hehe.


***


"Dek bangun, semua udah pada turun." Ucap supir bus.


"Ha? Udah sampai?" Maudy langsung berdiri melihat sekeliling isi bus sudah sepi.


"Bim bangun udah sampai." Mengguncang tubuh Bima. "Makasih ya pak." Tersenyum.


Setelah Bima sadar dari tidurnya, Maudy langsung membawa belanjaannya, takut kalau tertinggal nantinya.


Mereka turun dengan semua tatapan memandang ke arah mereka. Seluruh orang tua siswa yang sudah menunggu di halaman sekolah. Pandangan Maudy teralih dengan dua sosok pasangan suami istri.


Ha? Om Adi dan Tante Lisa?


"Bim, papa kamu." Berbisik.


Bima menoleh ke arah pandangan Maudy saat ini.


Papa, mama. Mereka jemput aku?


Takut, itu yang dirasakan Maudy saat ini. Karena mereka orang terkahir yang turun setelah semuanya. Pasti akan ada masalah baru nantinya, tentang pikiran orang tua Bima yang melihat mereka turun bersamaan.


"Bim, aku-"


"Nggak apa, kamu juga harus menyapa mama." Maudy tidak bisa menolak, karena saat ini Tante Lisa juga sudah tersenyum ke arahnya. Berbeda dengan om Adi yang masih menatap tanpa berkedip dengan wajah dinginnya. Sangat mirip dengan Bima ketika marah.


Ya ampun, mati aku!


"Tante." Tersenyum dan menyalim tangannya. "Om." Menunduk tapi juga menyalim.


"Kita pulang sekarang ma." Bahkan tidak menegur Maudy sama sekali.


"Dy, Tante duluan ya?" Ucapnya ramah.


Maudy hanya mampu mengangguk dan meremas jarinya sendiri. Ada aliran darah terasa mengalir dengan cepat, juga detak jantung yang tidak beraturan.


Apa Bima bakal dapat masalah setelah ini?


"Dy?" Suara yang sangat ia kenali.


"Ibu, ayah?" Tersenyum senang. Ternyata orang tuanya juga menjemputnya.


"Kamu bawa apa? Banyak sekali?" Tanya ayahnya.


"Ah ini oleh-oleh yang di belikan Bim. Ah aku yang beli yah, nanti di rumah bukanya ya yah." Langsung ikut masuk ke mobil bersama orang tuanya.


Dalam perjalanan pulang kerumah, Maudy tidak bisa berhenti memikirkan Bima. Tidak, khawatir sungguh ia rasakan saat ini.


Apa papanya Bima memang tidak bisa tersenyum ya?


"Dy?" Tegur ibunya yang melihat anaknya melamun.


"Itu tadi mamanya Bima ya? Kok sepertinya kamu sudah akrab?"


Apa? Jadi ibu lihat? Ya ampun.


"Ah iya bu. Cantik ya bu?"


"Papanya Bima sombong ya?" Ayahnya bersuara.


"Namanya juga orang kaya yah." Ucap ibu Irma.


"Tapi kalau ayah sih kalau jadi pengusaha juga nggak akan sombong begitu bu." Dan terus melanjutkan membanggakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Ah ayah, air laut asin sendiri!


--__


__ADS_2