
Maudy
Sudah sebulan lamanya semenjak kejadian itu, aku sudah beraktivitas kembali seperti biasa. Aku juga telah mahir mengemudi, sehingga om ku juga sudah membuatkan aku SIM. Dan mengenai kuliahku juga akan segera di mulai dua hari lagi. Aku berharap aku tidak akan pernah berjumpa dengan seorang Wira. Lelaki baj*ngan yang membuat Bima terluka.
Dan dia lah penyebab aku dan Bima tidak pernah lagi saling memberi kabar. Entah apa alasan Bima aku juga tidak tau. Mungkin dia menyalahkan ku atas semua kejadian ini. Memang, memang ini semua karena ku. Mungkin juga sudah keputusannya Bima untuk menjauh dariku, tidak lagi ingin mengenalku. Dan selama sebulan ini, aku sudah belajar untuk terbiasa tanpa Bima. Tanpa hubungan kami yang dulu. Tapi satu hal yang harus Bima tau saat ini, aku rindu!!
Pagi ini, aku di ajarkan untuk memoles wajahku, terutama dan yang paling utama aku mengoleskan lipstik di bibirku tanpa bantuan Kiki. Ini sudah aku pelajari sejak dua hari lalu. Tante yang memaksaku, katanya agar aku menjadi terlihat lebih elegan. Aku nurut saja, entah ada apa di bibir tanteku, sehingga kalau dia bicara aku selalu nurut.
Selesai dengan lipstik, aku mulai mengolesi wajahku dengan foundation lalu menggunakan bedak padat. Semua, semuanya telah disediakan oleh tanteku. Apa begitu menginginkannya dia melihat ku bersolek? Ah aku sayang dia seperti aku sayang ibu.
"Gimana Dy? Udah selesai?" Suaranya terdengar lagi, ini sudah yang ketiga kalinya, dan aku memang belum selesai hanya untuk memoles wajah dalam waktu satu jam. Ini yang aku tidak suka, ribet!
"Belum Tante." Aku masih sibuk dengan bedak padat yang aku pegang. Bagaimana mau cepat aku saja mencotoh dari internet.
Tante tidak puas, dia mulai berjalan mendekat ke arahku. Padahal awalnya hanya berdiri di depan pintu kamar ku. Memperhatikan ku dari jauh.
"Begini Dy." Tante mulai menata rambutku. Aku tidak bisa protes, sepertinya memang tangannya itu dingin, jika melakukan sesuatu pasti akan selalu berhasil.
15 menit kemudian, aku menatap wajahku di cermin. Aku sendiri sampai pangling melihatnya, sudah seperti pengantin saja. Haha padahal hanya menggunakan bedak, lipstik, lalu alisku sedikit di beri ukiran. Dan tak lupa ada tinta yang di gariskan tepat di bagian atas mataku. Apa itu namanya aku belum paham. Dan bulu mataku juga tampak lentik sekarang. Aku tertawa sendiri melihatnya. Apa ini bisa di bilang cantik? Tante ku hanya geleng-geleng karena aku belum juga beranjak dari depan kaca.
"Sekarang kamu keluar, om butuh bantuan kamu tuh di resto." Nah, ini bagian yang aku suka. Entah sejak kapan aku juga betah disana, jadi ketularan Bian deh sekarang. Kalau suntuk perginya ke sebelah.
***
"Om, katanya butuh bantuan? Di bagian mana?" Aku langsung to the point aja.
Om ku malah tersenyum.
"Di kasih kerjaan malah senang." Seperti biasa ia pasti akan mengacak rambutku kalau gemas. Wajar sih, om juga nggak punya anak perempuan.
"Itu, kamu lihat kan?" Menunjuk salah satu tempat penyimpanan bahan makanan di resto.
Aku lalu mengangguk. Menunggu perintah selanjutnya.
"Hari ini dan besok, kamu harus sudah hafal apa saja bahan yang di perlukan disini. Nanti, kamu boleh catat. Nah, jadi kalau sudah ada yang menipis. Kamu sendiri yang mengajukan ke om dan meminta uangnya ke bagian kasir. Kamu sendiri juga yang harus pergi belanja." Ini tugas berat. Aku langsung menghilangkan senyum ku dan berganti dengan ekspresi garuk-garuk kepala.
"Berawal dari sini dulu. Nanti kalau kamu mau buka usaha jadi udah tau keperluan apa saja yang utama di dapur." Ah aku mengerti sekarang. Memang sangat cerdas om ku. Pantas saja keluarga ku semua begitu, termasuk aku juga, hehe air laut asin sendiri ternyata ya.
Aku langsung berjalan dan tak lupa menyiapkan kertas dan pulpen. Dengan teliti aku mencatat satu persatu, memastikan tidak ada yang terlewat. Tapi tetap saja ada yang menganggu.
"Nona, maaf permisi sebentar. Ada yang cari nona di depan?" Dahiku langsung mengkerut.
"Siapa?" Tanyaku kepada salah satu karyawan om ku ini.
"Saya tidak tau nona, dia lelaki masih muda, tampan juga." Deg. Apa Bima?
Aku langsung berjalan dengan cepat, meninggalkan semua pekerjaan yang harusnya dengan cepat aku selesaikan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memandang setiap sudut dimana adanya pengunjung yang datang. Tapi tidak ada Bima, tidak ada orang yang aku kenal. Tapi, ada satu orang yang melambaikan tangannya ke arah ku. Siapa ya? Batinku.
Aku langsung berjalan ke arahnya, pria ini terus saja tersenyum.
"Dy apa kabar?" Bukan dia harapanku. Tapi kenapa bisa ada disini?
"Gam? Kamu kenapa bisa disini? Dan, kenapa kamu bisa tau juga kalau aku ada di resto ini? Tinggal disini? Gimana caranya bisa tau?" Wajar kan jika aku langsung menanyakan hal ini sekaligus.
Agam bukannya menjawab malah tertawa.
"Kenapa gam?" Aku heran.
"Duduk dulu Dy, baru cerita." Aku menurut pula itu.
"Udah. Sekarang jelaskan coba? Siapa yang kasih tau kamu kalau aku disini?" Agam malah menunjuk seseorang di belakang punggungku.
__ADS_1
"Derr.." Kali ini aku benar-benar hampir spot jantung beneran.
"Kiki?" Aku menoleh lagi ke Agam. Agam tersenyum dan mengangguk.
"Kalian kesini berdua? Gimana kuliah kalian? Bukan kah akan mulai Minggu ini juga?" Mereka malah serempak menggeleng. Tunggu, bukan itu harusnya aku tanyakan. Tapi, ini kenapa mereka bisa berdua disini?
"Kami tau kali Dy hal apa yang kamu pikirkan saat ini." Agam langsung menggenggam tangan Kiki dan di tunjukan padaku. Maksudnya? Mereka pacaran? Aku hanya berbicara dalam hati padahal, tapi mereka berdua mengangguk.
Tampaknya hanya beberapa bulan saja aku sudah banyak melewatkan sesuatu.
"Kalian tunggu disini ya, jangan kemana-mana. Aku akan siapkan pekerjaan ku secepat mungkin. Setelah itu kita pergi jalan-jalan. Ingat, kalian berdua berhutang penjelasan sama aku." Aku langsung berdiri dengan gaya berbicara menunjuk mata mereka dengan kedua jariku.
"Dy tunggu." Aku terpaksa menghentikan langkah dan berbalik?
"Apa?" Tanyaku.
"Belajar make up dimana?" Mereka berdua sama-sama tertawa. Aku langsung pergi saja. Tidak sabar rasanya mendengar cerita mereka yang sekarang bisa pacaran. Pasti menarik, dan lebih menarik lagi kalau Kiki membawa kabar tentang Bima sih. Ah aku masih berharap lebih untuk hubungan kami.
Aku jadi tidak konsen mengecek bahan makanannya. Kalau sudah teringat Bima, pasti apa-apa aku jadi tidak konsentrasi. Duh, susahnya ini yang mau move on. Bukan ya, aku bukan mau melupakan Bima. Tapi aku hanya ingin fokus tanpa memikirkan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
Setengah jam semua selesai. Untungnya stok masih cukup hari ini, jadi soal belanja bisa besok saja. Aku langsung pamit pada om ku, menyebut nama Kiki. Bilang kalau dia yang datang, om ku mana mungkin tak memberi ijin, dia juga sering mendengar aku membicarakan sahabatku dan keluarganya yang baik hati.
"Ayo?" Ucapku dengan gaya cool mengajak mereka segera pergi.
"Mau kemana?" Setelah sampai di depan dan menunggu taxi.
"Aku aja yang cari tempat." Ucap Agam, aku dan Kiki mengangguk saja.
***
"Kenapa kesini?" Aku langsung berhenti melangkah setelah turun dari taxi.
"Kenapa? Kamu udah pernah kesini?" Tanya Agam.
"Dy, jangan kaitkan semuanya dengan Bima. Mulai sekarang belajarlah untuk melupakan." Aku makin ragu untuk melangkah, maksud Kiki bicara begitu apa? Aku nggak mau nangis disini ya, aku nggak mau ngerusak make up yang aku rias berjam-jam.
"Udah ayo." Kiki langsung menarik tanganku. Dan Agam juga menggandeng lengan Kiki. Ah jadi terbalik sekarang ya, biasanya juga Kiki yang selalu aku gandeng dan Bima. Sekarang aku percaya kalau dunia itu berputar.
Aku kembali ke tempat dimana satu bulan lalu aku merentangkan tangan dan menghirup udara segar dan bersih. Dan aku mengulanginya lagi, bedanya hanya orang yang di sampingku. Kenapa sih, selalu saja berkaitan dengan Bima. Nah aku jadi teringat sesuatu.
"Ki, tadi maksud kamu ngomong gitu apa?" Sepertinya Agam tau kalau kami akan berbicara serius, dia sengaja menjauh dan berpura-pura mengambil beberapa photo yang menurutnya menarik.
"Hem. Gini." Kenapa sih Kiki ini, biasanya juga selalu ceplas-ceplos.
"Aku pernah datang kerumahnya, sesuai janji aku sama kamu kalau aku akan cari kabar tentang Bima. Tapi, saat aku datang penjaga langsung bilang kalau Bima tidak ada dirumahnya."
"Kamu nggak tanya dia kemana?"
"Ih dengerin dulu lah kalau orang lagi jelasin." Oh iya, aku langsung diam.
"Terus aku tanya sih kemana, katanya malah itu privasi keluarganya. Oke lah aku berbalik. Terus pas aku udah kembali masuk mobil, aku lihat Bima tuh keluar dari pintu rumahnya. Karena aku penasaran aku turun lagi, aku bilang itu Bima. Aku menunjuknya Dy, ih malah Bima langsung masuk lagi. Dan malunya penjaga ngusir aku gitu." Kiki menghela nafas berat, lalu bagaimana perasaan ku? Jangan di tanya aku masih bingung.
"Aku pulang Dy, aku pulang. Saat di jalan ada mobil yang nyalip aku gitu, ternyata itu masnya Bima. Mereka ngajak aku bicara serius. Terus aku turun." Aku sudah mulai bergetar. Kenapa sekarang aku jadi lemah begini sih semenjak kenal cinta.
Maudy end.
***
Flashback.
"Kita bicaranya di cafe aja ya Ki? Nggak enak disini." Ucap mas Rio. Sementara Kiki juga hanya mampu mengangguk karena ia juga penasaran sebenarnya ada hal apa.
__ADS_1
Saat sampai di sebuah cafe, lebih tepatnya cafe milik Agam. Mereka memesan makanan terlebih dahulu, sambil menunggu tampaknya Rio sudah tidak sabar untuk mengatakan sesuatu.
"Gimana kabar Maudy?" Ia langsung bertanya.
"Maudy, dia baik. Cuma dia juga baru sembuh dari sakit. Baru juga lepas infus." Karena memang itu adanya. Ini kejadian sejak 2 hari Kiki pulang dari luar negeri untuk membesuk Maudy.
"Dia sakit?" Kiki mengangguk.
"Gini, tadi penjaga rumah kami bilang kalau Bima nggak ada ya?" Kiki mengangguk lagi. "Tapi kamu sempat lihat Bima kan?" Hanya bisa mengangguk lagi.
"Langsung aja kali yang ceritanya. Kiki juga penasaran." Ucap Siska yang tak sabar, karena menurutnya suaminya terlalu bertele-tele.
"Bima udah berubah Ki. Kami semua juga nggak tau. Semenjak sembuh dari kejadian itu, Bima berubah. Kami membahas tentang Maudy dia juga nggak mau. Entah hal apa yang di katakan papa sehingga membuat Bima seperti membenci Maudy. Mas kira itu adalah sebagian dari rencananya. Ternyata memang itu kemauannya sendiri. Terbukti ia tidak lagi menggunakan ponsel lamanya." Rio menghela nafas berat. Pasalnya ia juga menyukai calon adik iparnya itu.
"Jadi maksud mas papa mas sendiri yang menghasut Bima gitu?" Kiki menyimpulkan sesuatu.
"Iya, gitu. Tapi mama juga nggak maksain Bima. Semua keputusan ada di Bima. Hanya saja, sekarang Bima sudah tidak seperti biasanya. Bima cuek, sifatnya dingin. Bicara sama mas juga sekenanya saja. Bedalah Dy." Kiki menggeleng tidak percaya.
Jahat sekali om Adi!
"Lebih baik kamu kasih tau ke Maudy, agar dia tidak mengharapkan Bima dulu. Untuk saat ini kita belum tau apa penyebabnya Bima berubah. Cuma kalau mas sendiri yakin, Bima itu nggak akan bisa melupakan Maudy." Kiki juga setuju atas perkataan Rio.
Maudy, ya ampun. Kasian kamu.
Flashback off.
"Jadi itu alasannya kenapa aku langsung memutuskan keluar negeri. Aku lebih memilih menjelaskan langsung kepada kamu Dy. Kalau bicara lewat telepon pasti akan ribet."
Memang ya, Kiki adalah sahabat terbaik. Walau jarak sudah tidak dekat, ia rela melakukan penerbangan untuk memberi tau tentang kabar pujaan hati sahabatnya.
"Makasih ya Ki?" Maudy menahan air matanya agar tidak menetes.
Kiki hanya mampu mengelus pundak Maudy, hanya itu sekarang yang bisa ia lakukan sebagai tanda penguat untuk sahabatnya.
"Oh iya, sekarang kamu ceritakan. Gimana bisa kamu dan Agam?"
"Pacaran?" Kiki menjawabnya. Maudy langsung mengangguk.
"Ah itu, sebenarnya sebelum kamu berangkat keluar negeri aku udah sering chatting melalui sosmed. Dan terus berlanjut sih. Nah, akhirnya pacaran. Hehe." Maudy sekarang bisa tersenyum melihat sahabatnya bahagia.
"Kami juga akan membuka usaha bersama, doain ya?"
"Kamu serius? Usaha apa?" Maudy langsung menanggapi.
"Aku kan nggak pandai masak. Jadi aku sama Agam mau buka usaha jual sneaker shoes, sesuai sama yang di pakai anak jaman sekarang lah Dy, terus baju-baju juga." Ternyata Kiki juga pandai.
"Bagus dong. Semoga lancar ya." Kiki mengaminkan doa Maudy.
Aku Ki, setelah kamu pulang aku pasti akan kembali merasakan kesepian. Aku pasti kembali murung, apa lagi mendengar hal seperti ini. Sudah menjadi sebuah kenyataan untuk sulit aku kembali bersama Bima. Tanpa adanya komunikasi, berjumpa. Itu sebuah hal yang mustahil untuk aku sama Bima.
"Kita photo ya?" Agam sudah kembali setelah melihat Maudy dan Kiki selesai membicarakan hal yang serius.
Hari ini, yang harusnya semangatnya sudah di kumpulkan kembali. Malah jadi lemah saat mendengar hal yang tidak pernah Maudy harapkan.
Hingga sore hari, mereka kembali. Kiki dan Agam langsung pamit pulang. Mereka langsung melakukan penerbangan untuk pulang ke tanah air malam ini juga. Jadi mereka disini hanya satu hari, tidak menginap. Itu semua demi Maudy.
Pelukan hangat Kiki berikan, entah kapan lagi mereka akan berjumpa. Setelah sibuk kuliah nantinya pasti akan lebih sulit untuk pergi keluar negeri. Begitu juga Maudy, ia akan di sibukkan dengan kuliah dan resto omnya.
"Jaga diri kamu baik-baik disini. Yakinlah, jika Bima jodoh kamu pasti akan kembali sama kamu. Aku pasti bakal rindu kamu Dy." Ucapnya sebelum memasuki taxi dan kembali pergi dari hadapan Maudy.
Bima, maaf. Sepertinya aku harus belajar untuk benar-benar melupakan kamu sekarang. Kekonyolan kamu, sifat anehnya kamu, rasanya aku tidak bisa memiliki itu lagi. Aku harus melupakan kamu secepat mungkin, sama seperti kamu yang melupakan aku, tanpa alasan!
__ADS_1
--__