Dia Bimaku

Dia Bimaku
Berita gembira seluruh karyawan


__ADS_3

Ibu sudah berdiri di depan pintu, jalan mondar-mandir, sesekali mengintip ke arah jendela. Menajamkan pendengarannya untuk tau kalau mobil sudah memasuki halaman rumah atau belum.


"Ya duduk tenang aja gitu toh bu." Ayah masih santai berpangku kaki, menonton drama kesukaannya.


"Yah, ibu itu cuma khawatir. Kalau ternyata Maudy benar hamil gimana yah? Kalau terjadi apa-apa gimana yah?" Sekarang sudah duduk meskipun kekhawatiran seorang ibu tak berkurang sedikitpun.


"Bu, sudah tenang. Maudy kuat, kalau dia hamil ayah berani bertaruh pasti tidak akan terjadi apa-apa." Huh mendengus lalu berdiri lagi, mengintip di balik cela gorden jendela. Lampu yang menyorot menyipitkan matanya. "Yah, itu mereka pulang." Bergegas membuka pintu, ayah masih duduk tenang. Jadi harus bagaimana, lebih baik kan menunggu mereka masuk, begitu hatinya berbicara dan geleng-geleng melihat ulah istrinya.


Khawatir kok segitunya toh bu.


"Gimana Dy? Kamu nggak apa-apa kan?" Ayah mendengus lagi.


"Bu, biarkan mereka duduk dulu. Ayo Bim bawa istri kamu duduk disini." Perlahan Bima menuntun Maudy yang memang jalannya masih tertatih.


"Gimana?" Ya ampun, ibu!! Ingin sekali marah pada istrinya.


"Yah, bu. Sebentar lagi kalian bakal jadi nenek dan kakek."


"Yes!" Ibu berteriak sekencang mungkin. Tisha bahkan berlari keluar kamar, ikut duduk di samping ibunya, bertanya ada apa? Kenapa? Kenapa ibu sampai teriak. Tapi wajahnya malah terlihat bahagia sekali.


"Katakan Bim?" Ah ayah juga senang sekali, ya ampun.


"Dokter tadi menyarankan kami untuk periksa ke dokter kandungan. Mungkin dia juga tau bu kalau Maudy ibu hamil, kami juga tidak menyangka."


"Ah dugaan ibu benar kan Dy. Kamu tuh beda sekarang."


"Iya-iya, firasat seorang ibu memang selalu benar, kalau seorang ayah nggak punya firasat!" Maudy menggeleng sambil tersenyum. Tau dia kalau ayahnya juga kesal.


"Yah, aku bawa Maudy istirahat ke kamar ya?"


"Iya silahkan."


Baru beberapa langkah mereka pergi. Maudy samar-samar dapat mendengar kalau ayahnya sangat bahagia.


"Bu, dua hari lagi ayah pensiun. Tapi Tuhan kasih kita rezeki, ya ampun." Syukur selalu dia ucap, berupa doa yang ia tadahkan dengan kedua tangan, suami istri ini sama-sama berucap kata amin di akhir doa mereka.


***


Sampai berbaring di tempat, Bima bahkan masih tetap memijat dengan lembut kaki istrinya. Tersenyum dan selalu tersenyum.


"Aku besok undang karyawan aku datang ke acara peresmian resto kamu sayang. Soal biaya aku yang bayar." Dia tersenyum lagi. Mendekat ke wajah istrinya. Mencium setiap inci wajah, tersenyum lagi lalu mengelus lembut puncak kepalanya.


"Aku bahagia, terima kasih sayang. Aku benar-benar sudah dewasa hehe." Tak terbayang, dari masa sekolah sampai menikah.


"Bim, aku tidur ya?" Bima mengangguk.


"Tidur lah, aku akan jaga kamu."


"Kamu tidur juga Bim?" Bima tetap menggeleng. Aku mau jagain kamu! Begitu sekali lagi ia tekankan. Dan Maudy benar-benar terlelap dengan kaki yang masih di pijat dengan lembut.


Terima kasih sayang.


Mengecup puncak kepala istrinya lalu ikut berbaring. Sebelum tidur Bima menyempatkan untuk berbicara dengan janin yang masih sebesar biji kacang, mengelus perut istrinya dengan lembut. Baru lah Bima juga ikut memejamkan mata, memeluk istrinya dengan nyaman.


Pagi hari Maudy terbangun lebih dulu, memang itu yang harus ia lakukan. Menyiapkan sarapan untuk Bima. Melihat di dapur sudah ada ibunya yang tengah meracik bumbu.


"Bu."


"Eh! Kamu kenapa sudah bangun? Kaki kamu masih sakit?" Maudy menggelengkan kepalanya, mungkin ini efek dari pijatan Bima. Bahkan terasa sakit sedikitpun tidak. Semua sudah normal kembali baginya.


"Kamu nggak usah masak ya? Biar ibu aja. Kamu tanya aja Bima maunya makan apa." Maudy menggeleng lagi.


"Bu, bukankah ibu yang bilang kalau soal Bima biar aku yang urus." Mengambil bahan makanan dari dalam kulkas.


"Bima cuma minta dibuatkan sandwich aja bu."


"Apa itu?" Ah ibu nggak tau, namanya juga asing.


"Roti pakai daging bu, tomat juga selada. Ibu tau burger kan? Nah hampir sama." Ibu manggut-manggut.


"Ibu masak apa?" Bertanya yang melihat ibunya mencuci sayuran.


"Ibu mau buat sayur lodeh, terus buat sambal belacan." Maudy menelan ludah. "Kamu mau?"


"Mau bu. Tapi ibu nggak masak banyak kan? Soalnya kita kan mau ke resto bu, siapkan acara nanti malam."


"Iya, ibu ingat kok. Berapa banyak yang mau datang?"


"Seluruh karyawan kantor juga di undang Bima bu." Hah? Ibu sampai tak bisa menutup mulut yang menganga.


"Serius?" Maudy tertawa.


"Iya bu. Bima sudah bilang tadi malam, katanya sebagai rasa syukur dia mau bagi-bagi rezeki walaupun hanya berupa makanan gratis." Maudy sudah mulai memaggang daging.


"Syukur kalau begitu. Ibu jadi merasa sangat beruntung sekali mempunyai menantu sepertinya." Ibu juga ikut tersenyum di pagi hari.

__ADS_1


Dan harapan Maudy saat ini dia tak ngidam seperti layaknya wanita hamil, bahkan ia selalu mengajak anaknya untuk semangat melakukan aktivitas di setiap hari.


Seperti pagi ini, Maudy selesai membutakan sarapan untuk Bima langsung mandi. Mengajak janin yang ada di dalam perutnya berbicara.


"Jangan susahkan mama ya nak, kamu harus kuat. Apa yang di kerjakan mama nanti kamu harus ikut, membantu mama buat mama semangat. Kalau mau nyusahin, papa kamu aja ya. Hehe." Tertawa sendiri.


"Sayang?" Mengetuk pintu kamar mandi. "Kenapa lama? Kamu nggak apa-apa kan?"


"Papa sudah bangun nak." Tertawa kecil.


"Sudah Bim, sebentar ya." Maudy merapikan lagi lilitan handuknya. Setelah itu baru membuka pintu.


"Kamu sudah bangun? Padahal tadi niatnya habis mandi mau bangunkan kamu." Bima tidak menjawab ia malah tersenyum ke arah Maudy.


"Ibu hamil seksi ya?" Mulai menggoda.


"Bim, iler kamu tuh masih nempel." Bima tertawa, tapi dia tidak peduli. Benar-benar mendekat dan menarik lilitan handuk dan terbuka seluruhnya. Maudy ingin menjerit tapi kalau ibu khawatir gimana?


"Bim?"


"Sayang? Ayo."


"Pelan-pelan ya Bim?" Tak mampu menolak.


Dan Bima sudah mengungkung tubuhnya, dengan gerakan teratur dan pelan. Tak ingin menyakiti anaknya, itu sih katanya.


Setelah melakukan kewajiban sebagai seorang istri, Maudy juga harus mandi dua kali. Dan sekarang mandi bersama Bima.


Bima melihat jam dinding ketika memakai pakaian. Matanya membulat, sudah terlambat ke kantor sepertinya.


"Kenapa Bim?"


"Sayang, kamu bisa bantu aku nggak?" Berjalan ke arah lemari.


"Pakaian kamu udah ada di atas tempat tidur. Lalu cari apa?"


"Tolong masukkan berkas ke dalam tas aku ya sayang, waktunya udah mepet." Iya Maudy menjawab, tapi sambil menggerutu.


Sudah tau ada meeting pagi! Tapi malah sempat-sempatnya mengajak bermain!


"Sayang kalau disuruh suami itu harus ikhlas." Hah, mau jawab apa lagi kalau sudah bawa-bawa status begini.


"Sayang, aku nggak sempat sarapan deh kayaknya. Aku sarapan di kantor aja ya? Nggak apa kan?" Maudy diam tak menjawab.


"Sayang, nanti malam jadikan?"


Melihat lagi ke arah jam.


"Sayang, aku pergi ya?" Mengecup kening. "Kamu jangan nakal ya, jagain mama kamu." Mengelus perut istrinya dengan lembut. Lalu berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa.


***


Sampai di area kantor, Bima langsung turun dan menyerahkan kunci mobil kepada securitty. Sudah tidak sempat lagi, matanya kembali membulat karena sudah ada mobil papanya disana.


Ah pasti papa bakal ngomel!


"Pak sudah di tunggu tuan besar di ruangan." Heh baru hendak masuk juga sudah di peringatan kan. Semakin berjalan tergesa-gesa. Mau apa papa datang sepagi ini? Bukankah meeting kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan papa.


Dilihatnya lagi jam di tangannya.


Sudah pukul 08:30


"Pagi pak." Tersenyum ke arahnya, Bima tak sempat membalas dan langsung masuk kedalam lift.


"Pak?" Sundari menyambutnya ketika lift sudah berhenti sesuai lantai ruangannya. "Ada-"


"Saya tau, dimana papa?"


"Di ruangan pak?" Bima mengangguk dan berjalan menuju pintu ruangannya. Dan Sundari juga mengekor di belakangnya.


"Papa, kenapa disini?" Menutup pintu kembali. Papanya sudah duduk di sofa dengan wajah yang sulit di baca, marah dia? Batin Bima bertanya.


"Apa kamu sering terlambat seperti ini Bim? Setiap hari."


"Nggak pa, tadi karena-" Ah aku mau buat alasan apa? Nggak mungkinkan jujur sama papa.


"Karena apa? Karena ulah kamu di pagi hari?"


Kenapa papa bisa tau?


Sundari menunduk dan berdiri di samping meja Bima, tapi pendengarannya masih waras, hanya saja tidak tau maksud kemana arah pembicaraan anak bapak ini.


"Papa juga pernah muda Bim, pernah pengantin baru. Tapi jangan pas kalau ada jadwal meeting kamu!" Bima sudah duduk dan membuka laptop.


"Iya pa iya." Sudah mengaku saja, begitu batinnya berbicara.

__ADS_1


Mereka bicara apa sih? Kok bawa-bawa nama pengantin baru, apa soal ranjang? Eh pikiranku kemana sih!


"Sun, apa semua sudah ada di ruangan?" Bima kembali melihat layar laptop, memeriksa setiap rincian laporan keuangan perusahaan.


"Sudah setengah jam yang lalu pak." Bima langsung berdiri.


"Pa, aku mau meeting." Silahkan begitu dia jawab hanya menggunakan tangan.


"Papa nunggu disini, papa bosan di rumah."


Ya ampun hanya karena itu? Lalu mama gimana.


"Ya sudah kalau gitu."


"Mari pak." Sundari menunjuk sopan.


Sampai di ruangan meeting semua tatapan para karyawan kantor tampak sedikit sebal, Bima tau itu. Tapi mereka tidak berani protes, memangnya siapa mereka. Bahkan kalau meeting pagi ini batal juga tidak masalah, begitu kan? Itu yang mereka pikirkan.


"Maaf saya agak datang terlambat." Mulai membuka laptop. Sundari juga sudah berdiri di samping Bima duduk, dia siap menjelaskan laporan yang di rekapnya.


"Laporan keuangan perusahaan meningkat 20% dari sebelumnya pak. Dan pengeluaran untuk biaya transportasi masih sama." Jelas Sundari.


"Siapa yang mengurus bagian keuangan?"


"Revan pak." Menyambut namanya, yang merasa di panggil juga memanjangkan lehernya. Menajamkan telinganya, hal apa yang akan ia dengar di pagi ini.


"Kamu bisa berdiri menjelaskannya, kenapa keuangan perusahaan bisa meningkat 20% sementara pengeluaran tetap."


Revan sudah berdiri dari duduknya, dia selaku bagian keuangan kantor yang sudah bertahun-tahun bekerja semenjak papanya yang memimpin dulu. Dan caranya bekerja juga jujur, dan yang terutama dia cekatan.


"Jadi begini pak. Pertambangan yang melakukan kerja sama bulan lalu, mereka menjual dengan harga standard. Sementara kita menjual secara import dengan harga yang tinggi. Dan karena mata uang kita berbeda, disitu menjadi selisih 2% setiap kita melakukan pengiriman. Mereka tidak rugi dan kita untung. Jadi bisa di pastikan kalau mereka terus melakukan kerja sama dengan perusahaan bapak, maka kenaikan akan terus meningkat. Itu menjadi keuntungan tersendiri untuk kita pak." Tepukan tangan langsung riuh, Bima sampai menggeleng kagum, tidak percaya dengan pemikiran yang jabatannya masih jauh di bawahnya.


Aku akan menaikan jabatannya setelah ini.


Revan juga masih tergolong muda, usianya berbeda tiga tahun dari Bima, tapi dia berada di perusahaan semenjak magang dan berhasil menjadi karyawan tetap, begitu papa memberitahu siapa saja orang pintar yang bekerja di perusahaan.


"Baik, saya akan segera memberi bonus kamu. Hari ini juga." Lagi, mereka bertepuk tangan dan Revan mengucap syukur tak henti-hentinya.


"Terima kasih pak." Dia kembali duduk.


Meeting berjalan selama satu jam, semua laporan mereka berikan dari kepala bagian masing-masing. Biasanya setiap perusahaan akan menghitung hasil dan melaporkan mengenai perusahaan hanya di akhir tahun. Tapi tidak dengan Bima, dia meminta setiap akhir bulan. Karena jika mengalami penurunan maka akan segera di antisipasi. Ini juga papanya yang mengajarkan, makannya perusahaan papanya jauh dari kata kebangkrutan.


"Kalian jangan bubar dulu, saya ada sedikit pemberitahuan." Hening, mereka siap mendengar.


"Nanti malam, pukul delapan. Kalian bisa datang ke resto istri saya yang akan resmi di buka besok. Kalian boleh datang mengajak anak dan istri atau pacar, terserah. Gratis!!" Sudah riuh tepuk tangan lagi, tapi jika mengangkat tangannya agar mereka diam, dia belum selesai bicara.


"Tolong beritahu kepada bawahan kalian. Ini sebagai acara syukuran karena istri saya hamil." Doa langsung memenuhi ruangan kedap suara ini. Ada yang mengucap dalam hati dan ada yang langsung menyuarakan kepada Bima.


"Pak, kalau nantinya anak bapak laki-laki semoga tampan dan baik seperti bapak, dan kalau anaknya perempuan cantik seperti-"


"Jangan memuji istri saya."


Hampir saja Sundari tak bisa menahan tawa.


"Kalian cukup datang dan makan, kalau merasa makanan kurang enak kalian boleh komplain. Kalian bisa bubar." Meraka berbaris rapi keluar ruangan. Menunduk hormat dan mengucapakan terima kasih.


"Pak, beneran ibu Maudy hamil?"


"Jangan panggil dia ibu, dia masih muda." Ya ampun, tenggorokan Sundari bahkan terasa tercekat.


"Kamu kira saya becanda. Makannya kamu pacaran sana biar semangat kerjanya."


Loh kok saya?


Bima kembali ke ruangannya, sementara Sundari masih membereskan meja dengan setumpuk berkas. Memikirkan hal yang di katakan Bima, memang benar dia tidak punya pacar.


"Pa?" Melihat papanya yang menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata.


"Sudah bagaimana?" Bima tersenyum dan menjelaskan semua laporan kantor. Papanya juga ikut tersenyum, yang di kira Bima tidak bisa memimpin bahkan malah bisa menjadi peningkatan.


"Pa, nanti malam papa datang kan?" Papanya mengangguk. Karena memang dia sudah di beri kabar duluan.


"Pa, aku bakal kasih kejutan nanti malam."


"Kamu mau ngapain? Ngelakuin itu di hadapan orang lain?"


"Pa?" Bima sampai menggeleng, apa sifatnya yang me**m ini nurun dari papanya.


"Bukan pa. Maudy hamil." Ah ngapain nunggu malam lagi, sementara karyawan saja sudah di beri tau, pikirnya.


"Serius? Papa mau pulang kasih tau mama." Bahkan dia semangat, Bima juga ikut senang, yang di kira papanya hanya cuek.


"Papa mau cucu perempuan Bim!" Berbalik badan sebelum keluar pintu ruangan.


Perempuan? Lalu kalau laki-laki gimana?

__ADS_1


--__


__ADS_2