
"Sayang, Winda itu suster yang merawat aku waktu itu, umurnya jauh lebih tua dari aku sayang, bahkan beda 9 tahun." Tetap menjelaskan walau melihat mata Maudy terpejam, karena Bima tau tidak mungkin secepat itu Maudy pulas. "Memang dia suka aku sayang, tapi siapa yang mau coba? Bahkan aku geli rasanya, kalau saja dia bukan perawat yang bertugas mengurus ku selama sakit, aku juga akan menolak dia ada di dekatku. Dia juga berbeda Agama dengan kita."
"Hmm.." Sambil terpejam Maudy menjawabnya.
"Itu hanya akal-akalan mas Rio aja supaya kamu cemburu, kan sudah aku bilang tadi." Hening.
"Lagian kenapa sih, sekarang kamu posesif sekali? Biasanya juga kamu acuh sayang. Ah atau jangan-jangan kamu lagi hamil ya? Kan katanya aku baca di artikel, kalau wanita moodnya sudah berubah-ubah, berarti dia hamil"
Maudy langsung duduk dan menutup mulut Bima dengan tangannya.
"Baru beberapa jam yang lalu Bim, mana mungkin langsung jadi."
"Kan bisa aja sayang. Ya udah kalau gitu kita buat lagi ya? Harus rutin supaya kamu cepat hamil." Memainkan alisnya.
Maudy langsung kembali berbaring, menutup matanya.
***
Ah tak terasa, setelah kesalahan pahaman malam itu, dan kejadian panas di ranjang terjadi berulang-ulang. Kini sudah tiba waktunya untuk mereka berbulan madu, walau selama dua hari Bima harus lembur demi mencapai keinginannya. Pulang larut, dan pagi sudah pergi lagi. Itu semua demi, demi dan demi.
"Sudah siap packing?" Maudy mengangguk. Dan Bima menyeret koper mereka keluar.
"Kalian hati-hati ya, jaga kesehatan, jangan terlalu lelah." Ibu sudah berdiri di depan pintu, sambil mengobrol dengan supir yang akan mengantar mereka.
Walau hanya di dalam negeri, mereka juga harus pergi dengan menaiki pesawat. Dan papanya sengaja mengirimkan supir untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Maudy melambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya, yang masih setia berdiri di halaman rumah, memandang mobil yang semakin menjauh. Ada senyum yang terpancar di sana, menampilkan bahwa ibunya bahagia saat ini, melihat putrinya yang sudah menikah dan merasakan banyak cinta dari pasangannya.
Dalam perjalanan, Maudy diam tak mengajak Bima bicara, bukan tentang marah, tapi sudah membayangkan pulau seperti apa nantinya yang akan mereka datangi.
"Sayang?" Maudy menoleh ke arah Bima, yang semula tengah menatap pohon pinggir jalan raya, seperti bergerak dengan sendirinya.
"Kamu senang nggak?" Berbisik. Maudy jelas langsung mengangguk, dan tak lupa senyum manisnya ia perlihatkanlah ke Bima.
"Nanti disana, semua pelayan laki-laki, jadi kamu jangan keluar kamar tanpa aku."
Apa? Jadi maksudnya aku di dalam kamar aja?
"Keluar saat bersamaku, dan hanya bersamaku." Tak bisa menjawab lagi, semua permintaan Bima harus ia turuti.
Perjalanan ke bandara memakan waktu 44 menit. Supir langsung turun terlebih dahulu, menurunkan koper mereka yang terletak di belakang jok mobil.
"Makasih pak."
"Sudah tugas saya nyonya."
"Ayo?" Bima menggandeng lengan Maudy, mengajaknya duduk hingga menunggu 10 menit lagi waktu pesawat take off.
Hingga sepuluh menit benar-benar berlalu, tampak seluruh penumpang siap untuk mengantri setelah semua barang milik mereka di periksa.
"Jangan dekat-dekat mereka." Berbisik.
"Gimana Bim, namanya juga ramai."
"Terus gandeng tangan aku." Lagi, Maudy hanya bisa menuruti.
Mereka berjalan setelah semua prosedur telah selesai. Maudy memandang luasnya bandara, dan angin kencang yang menerbangkan rambut pendeknya. Sambil terus menggandeng lengan Bima, bergelayut manja tanpa Bima memintanya.
"Sayang, kamu naik duluan?" Maudy melangkah menuju ke pesawat. Hingga sampai di dalam, duduk sesuai tempat yang sudah di tentukan. Padahal anak konglomerat, tapi Bima tak ingin menaiki pesawat pribadi, ataupun jet milik papanya. Karena dia sendiri tau, kalau Maudy pasti akan menolaknya.
Suara pramugari yang telah mengingatkan untuk semua penumpang yang sudah ada di dalam memakai sabuk pengaman. Dan pesawat akan segera berangkat.
"Kamu tidur aja, nanti kalau sampai aku bangun kan?" Meletakkan kepala Maudy di bahunya.
"Susah Bim."
"Buka aja sabuk pengamannya."
"Nggak usah, udah aku tidurnya begini aja." Menyandarkan kepalanya di kursi empuk.
Heh Bima langsung menghela nafas.
Andai naik jet milik papa tidak akan serepot ini.
***
"Sayang, Kita sudah sampai?" Maudy mengerjab, terlihat seluruh penumpang sudah mulai mengantri untuk turun, sementara dirinya malah baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ayo?" Bima mengulurkan tangannya, tapi enggan untuk langsung melangkah, karena masih ada penumpang yang lain. Dia mau, mereka lah yang di barisan terakhir. Karena apa? Tak ingin istrinya bersentuhan dengan orang lain, meskipun itu tidak sengaja.
Maudy masih mengamati bandara yang menjadi tempat persinggahannya kali ini, tapi sungguh memang dia tak tau. Meskipun masih di dalam negeri.
"Kenapa sayang?" Bertanya lembut.
__ADS_1
"Ini dimana Bim?" Bingung, setelah benar-benar turun dari pesawat.
"Sudah, nanti kamu tau. Ayo, itu supir sudah menunggu?"
Supir? Apa di luar kota juga ada supir?
"Mari saya bantu." Menunduk lalu memasukan koper kedalam mobil, membukakan pintu mobil dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Dia hanya supir travel sayang, jangan heran." Ah ya ampun, kirain. Batin Maudy.
"Nanti kita ke pulaunya naik apa Bim?" Ini yang sedari tadi mengganjal di pikirannya.
"Nanti ada kapal khusus untuk kita menyebrang." Sepertinya setelah menikah dengan Bima, suatu hal yang tidak mungkin, bisa terjadi di dalam hidupnya.
Dalam perjalanan, Maudy menyandarkan kepalanya di bahu Bima, dan Bima menyambutnya dengan merangkul dan memeluknya. Sesekali mencium puncak kepala Maudy. Bukan, bahkan berkali-kali.
"Sudah sampai mas." Ucap supir yang langsung membuat Maudy menegakkan tubuhnya. Melihat ke arah sekeliling.
Secepat ini? Berarti tidak jauh dari bandara.
"Mana kapalnya Bim?" Sudah berdiri di pinggir lautan yang memiliki air berwarna kebiruan, bahkan saat ini untuk menjelaskan gimana rasa senangnya tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang, kapalnya disana." Menunjuk pelabuhan kapal, Maudy langsung tersipu, bahkan sedari tadi tak melihat ke arah lain, selain hamparan laut yang luas tak memiliki ujung.
"Pulaunya di sebelah sana sayang?" Sambil berjalan menunjuk ke arah pulau.
Mata Maudy langsung terbelalak melihatnya.
"Nggak jauh ya Bim?" Bima tersenyum lagi, lalu menggeleng.
"Memang nggak jauh sayang, hanya 15 menit dari sini jika naik kapal, kalau naik perahu dayung bisa setengah hari."
"Nggak lucu." Melangkah cepat mendahului Bima. Ah tak sabar rasanya ingin cepat sampai kesana, pikir Maudy.
***
"Bim? Kok pulau sebagus ini sepi sih? Atau jangan-jangan angker lagi." Melihat ke seluruh sisi pulau, dan di hadapan mereka sudah berdiri sebuah bangunan, sebuah penginapan mewah yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca. Mungkin memang sengaja karena supaya tanpa keluar sekalipun pengunjung tetap bisa menikmati pemandangan indah dari atas sana.
Pantas saja Bima melarangnya untuk keluar kamar. Kalau di dalam saja sudah bisa menikmati pemandangan yang ada di pulau ini.
"Ayo?" Menarik lengan Maudy lagi. Dan sudah ada seorang pekerja disana yang membantu mereka membawakan koper ke dalam kamar.
"Dimana kamarnya Bim?"
"Bim, kenapa kamu pilih kesini? Memang sih semuanya bagus, tampak terawat. Tapi sepi Bim, masak iya cuma kita aja yang ada disini?"
"Iya karena aku sudah sewa pulau ini, khusus untuk kita. Karena aku suka dimana pun berada itu hanya berdua sama kamu, tanpa ada gangguan." Maudy mengentikan langkahnya.
Berapa uang yang akan di keluarkan Bima? Bukankah menginap disini saja sudah fantastis harganya, ini malah menyewa seluruh pulau hanya untuk mereka berdua, semua pikiran itu langsung menghujam otaknya untuk berpikir lebih keras.
"Sayang, ayo?" Bima langsung kembali menariknya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar penginapan yang sudah ada di hadapan mereka.
Mata Maudy kembali terbelalak melihat isi kamar, ini lebih mewah dari kamar Bima ataupun kamarnya yang dulu ada di rumah omnya. Ada sofa yang sudah di sediakan dengan menghadap ke arah luar, dan juga ada perapian yang mungkin bisa digunakan ketika cuaca sedang tidak stabil. Juga ada kamar mandi tanpa pintu, hanya ada tirai disana yang menjadi penutup. Sepertinya memang ini benar-benar tempat untuk seseorang yang akan berbulan madu.
Lalu menatap lagi ke sekeliling, lemari pakaian yang terbuat dari kaca, dan di ujung tempat tidur juga terpampang kaca besar.
Jadi kalau melakukan bisa kelihatan di kaca gitu??
"Semuanya dari kaca, lalu kalau tidur jelas kelihatan dari luar lah Bim." Menatap dinding di hadapannya yang seluruhnya terbuat dari kaca bukan tembok selayaknya hotel atau penginapan lainnya.
"Sayang, disana ada tirai kan?" Maudy langsung mengedarkan pandangannya. "Nah, kalau sudah malam kita bisa menutupnya, lalu matikan lampu agar tak terlihat dari luar. Itu sudah ada warning disana." Menunjuk lagi ke balik pintu.
"Ada-ada saja." Dan duduk di tepi ranjang yang sangat empuk dan nyaman.
"Sayang, bukan ada-ada saja. Lagian kan, kalau kita tidak matikan lampu atau menutup tirainya ketika malam, siapa yang mau mengintip?? Mau dari mana mereka melihatnya?" Lagi, Maudy berpikir keras. Memang semuanya benar, ah rasanya Maudy ingin berjumpa dengan orang yang membuat design seperti ini.
"Kita mandi sekarang ya?"
"Kita?" Bima mengangguk.
"Kalau pun kamu mandi sendiri, aku tetap bisa melihat dengan menyibakkan tirai." Memainkan kedua alisnya, menyentuh dagu Maudy. Tapi tidak hanya menyentuh saja, Bima langsung mendekatkan wajahnya, dan ******* bibir istrinya. Menggiringnya ke arah kamar mandi tanpa melepaskan pangutan mereka. Menutup tirai perlahan, dan langsung melakukan adegan yang belum pernah ia coba.
Di bath up, ya kali ini di bath up. Bermain di bawah guyuran air, suara ******* Maudy terdengar menggema ke seluruh isi kamar. Bima semakin lihai selama belajar di internet. Ya ampun sampai segitunya yang ingin memuaskan istri.
"Sekarang giliran kamu sayang." Dengan suara berat yang dipenuhi gejolak panas dalam dirinya. Maudy menggeleng, bukan karena tidak mau tapi karena memang dia sendiri tidak tau. Bagiamana? Apa maksudnya? Begitu yang ia pikirkan.
"Kamu berlutut sayang." Lagi, sudah tak tertahankan rasanya. Maudy menuruti kemauan Bima, dan satu kali ajaran saja Maudy sudah mengerti apa yang di mau Bima. Meski masih merasa jijik, tapi akhirnya dia sendiri menikmati.
"Lagi.."
Hingga ******* panjang terdengar dari mereka berdua yang sama-sama sudah mencapai puncaknya. Maudy merasakan lelah dan lemas, Bima mengajaknya kembali berendam di bath up.
***
__ADS_1
"Tolong sediakan alat pemanggang dan dua kopi." Bima memberi perintah kepada pelayan. Setelah itu kembali masuk ke kamar penginapan, dia meninggalkan Maudy sendiri disana. Setelah Bima masuk, ternyata Maudy sedang berdiri di depan jendela, memandang ke arah luar, mungkin sedang menikmati keindahan malam dan kelip lampu di sebrang pulau.
"Sayang, ayo?" Bima memeluk tubuh istrinya dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu.
"Ha? Lagi Bim?" Bima tertawa.
"Kamu mau?" Merubah posisinya dan menghadap ke arah Maudy.
"Lelahnya juga belum hilang Bim." Bima tersenyum.
"Ayo, aku ajak kamu ke atas. Sesuai rencana kita tadi?"
Ah syukurlah. Aku kira mau lagi.
"Kamu berpikiran apa sih sayang?" Maudy membuang pandangannya, malu karena sempat memikirkan hal jorok.
"Sudah, ayo kita ke atas." Memilih beralih topik dan tak membahasnya.
Sampai di atas gedung penginapan, Maudy memeluk tubuhnya sendiri. Angin malam selalu datang tanpa henti. Matanya memandang ke arah perapian yang sudah tersedia, lalu beralih menatap ke Bima.
"Pelayan yang siapkan sayang." Tau saja kalau Maudy ingin bertanya.
Bima menggiring Maudy untuk duduk disebuah kursi yang terbuat dari kayu.
"Sayang, dengar. Nanti ada beberapa pelayan yang akan membantu untuk menyiapkan ikan bakar untuk kita. Kamu duduk disini aja, jangan bergerak dari tempat. Jangan melihat ke arah pelayanan. Karena pelayanan disini semuanya tampan!" Maudy mendengus. Lalu untuk apa mengajak kesini kalau tidak boleh bergerak, sekalian aja tidak boleh bernafas. Gerutunya dalam hati.
"Sayang, aku tau apa yang kamu pikirkan." Menatap tajam ke arah Bima.
"Apa?"
"Sudah pokoknya kamu harus ingat kata-kata aku tadi." Huh Maudy tak bisa lagi protes, karena beberapa pelayan sudah terlihat datang dengan membawa segala perlengkapan, tak lupa satu mangkuk besar yang berisi ikan laut.
Maudy penasaran dengan yang di katakan Bima, kenapa dia yang statusnya lelaki saja bisa mengatakan kalau pelayan disini tampan. Tanpa sadar Maudy menatap ke arah beberapa pelayan yang memakai seragam kompak, matanya juga terbelalak. Apa yang di katakan Bima semuanya benar. Mereka bahkan tidak cocok jadi pelayan, cocoknya jadi turis.
Derap langkah kaki yang semakin mendekat tak di hiraukan oleh Maudy.
"Aku sudah bilang jangan melihat mereka kan!" Berbicara pelan tapi dengan suara geratan gigi.
"Bima? Nggak." Kaget, malu karena ketauan.
"Sayang, apa aku harus berdiri disini? Menutupi pandangan kamu dari mereka?" Maudy menggelengkan kepalanya.
"Baik lah, sepertinya memang harus aku lakukan." Dan apa? Bima benar-benar berdiri di hadapan Maudy yang sedang duduk, menutupi Pandangannya dari arah depan.
"Kamu hanya boleh melihat ku, bahkan kalau tidak berkedip sekalipun aku tidak keberatan." Melipat kedua tangannya di dada.
Maudy tertawa kecil.
"Sayang, iya-iya aku janji nggak lihat mereka lagi, sudah sana." Mendorong pelan tubuh Bima.
"Lebih baik kamu main ponsel saja." Maudy mengangguk dan mengeluarkan ponselnya.
Setelah melihat pasti istrinya sudah patuh, Bima kembali melihat pelayan yang sudah mulai memanggang ikan.
Beberapa menit kemudian.
"Sayang, sebenarnya kamu lagi lihat apa sih di ponsel? Bahkan kamu tidak ada sekalipun mengalihkan pandangan kamu dari layar." Maudy mendongak.
"Tapi kamu yang suruh aku buat main ponsel aja?" Diam, belum menjawab.
"Ya udah, kalau gitu aku ikut bergabung disana ya? aku mau bantu." Sudah akan bangkit.
"Eh jangan-jangan. Udah kamu disini aja, jangan main ponsel lagi. Kamu hanya boleh melihat aku ya? Terus melihat aku." Ya ampun, Maudy ingin melompat saja rasanya sekarang.
"Jangan-jangan kamu hamil ya Bim, soalnya kan kalau ibu hamil moodnya suka berubah-ubah." Menirukan perkataan Bima.
"Sayang."
"Bima."
"Aku cium kamu sekarang ya?" Mendekat kan wajahnya.
"Mas, sudah selesai ini." Salah satu pelayan memanggil.
"Ah ganggu saja." Mendengus lalu pergi meninggalkan istrinya.
Apa? Ganggu? Memangnya serius mau cium aku di depan mereka!
Dan malam yang di inginkan Bima terjadi, rencana yang dia buat setelah menginjakkan kakinya ke pulau ini. Tinggal menunggu rencana apalagi yang mau dia buat disini, selama berbulan madu. Selain ngamar pasti akan ada hal lain yang di tunjukan Bima untuk menyenangkan hati Maudy.
"I love you." Memeluk tubuh Maudy di atas gedung penginapan, dengan di temani angin malam dan asap yang masih keluar dari sisa pembakaran.
--__
__ADS_1