Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kemurkahan papa


__ADS_3

"Kamu semalam kemana Bim? Kenapa kamu ninggalin aku? Jadi itu pacar kamu?" Ini yang Bima tidak suka. Menurutnya Luna terlalu berlebihan.


"Bim jawab." Bima masih mematung di tempatnya, baru saja melangkah keluar pintu kamar, sudah di sambut dengan yang seperti ini.


"Bersiap. Ini pertama kalinya aku bertemu klien tanpa mas Rio. Dan hari ini kamu yang mendampingi, jadi bersikap lah profesional sedikit." Merapikan kembali jasnya yang sempat di tarik oleh Luna.


"Kamu jahat tau nggak Bim." Bima masih memasang wajah datarnya.


"Sudah ku bilang kan, jangan pernah merasa tersakiti. Karena memang aku tidak melakukannya. Itu hanya perasaan mu saja. Padahal disini yang terluka adalah dia, pacarku. Bukan kamu!" Lanjut berjalan meninggalkan Luna yang tersentak dengan ucapan Bima.


Aku bakal ngaduh ke papa kamu, kalau kamu disini berjumpa dengan kekasihmu.


"Jalan pak." Ucapnya pada supir taxi. Dan Luna, ia duduk di belakang. Sementara Bima memilih duduk di samping kemudi.


***


Karena pertemuan dengan klien sudah selesai. Dua jam kemudian Bima harus langsung berangkat pulang ke tanah air. Karena dia sendiri risih harus dekat terus dengan Luna. Tanpa pamit lebih dulu dengan Maudy, karena memang sudah tidak sempat.


Pesawat sudah menunggu, dengan sayap yang bertengger. Bima menarik kopernya sendiri, tidak peduli dengan Luna yang bertubuh kecil kesusahan membawa miliknya sendiri. Sumpah ya, Bima tuh ternyata begini banget orangnya.


Aba-aba dari pramugari sudah terdengar. Itu tanda kalau pesawat akan segera melaju terbang ke awan. Bima sudah siap. Untuk bergerak sedikitpun ia urungkan karena ada makhluk aneh yang duduk di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Luna.


***


Akhirnya sampai juga. Walau sampai sudah larut malam. Tetap saja suruhan papanya stay disana menunggu Bima.


"Silahkan den Bima." Luna merasa di acuhkan, bahkan bodyguard tidak menyapanya sama sekali.


"Bim, aku pulang bareng kamu kan?" Bima menatap bodyguard suruhan papanya. Biar dia yang menjelaskan, pikirnya.


"Tidak nona. Itu sudah ada taxi, tadi sudah di pesan." Itu hanya akal-akalan Bima saja sepertinya.


Mobil melaju menjauhi Luna yang masih berdiri. Entah menangis atau tidak, terserah. Asal jangan menangis di hadapanku, batin Bima.


"Nih, bonusnya. Makasih ya, jangan bilang papa." Suap menyuap di lakukan. Sudah bisa di duga kalau ini rencana Bima. Jika bisa menaklukkan satu, pasti yang lainnya juga bisa. Itu tujuan Bima.


***


Melihat beberapa lampu rumah mewah miliknya sudah redup. Itu berarti semua penghuni rumah sudah terlelap, begitu juga lebih bagus, batin Bima. Ia terus melangkah dan meninggalkan kopernya di dekat tangga. Biar saja besok ART yang membereskan. Lelah sudah mendera, sebaiknya tidur. Tapi bukan itu rencananya sekarang.


Bima berdiri di balkon kamar. Menatap langit yang tidak mendung tetapi tidak ada satupun bintang yang terlihat. Bima langsung tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. Terlihat sudah pukul 12 malam.


Pasti Maudy belum sibuk.


Tut. Dering pertama sudah terdengar.


"Ya Bim?" Suaranya terdengar.

__ADS_1


"Kamu ngapain?" Tanyanya. Dan merubah posisinya, semula berdiri dan kini duduk. Tidak dengan alas apapun. Mendengar suara Maudy saja bisa mengalihkan dunianya.


"Ini lagi siap-siap mau nganter ayah sama ibu ke bandara." Sibuk tapi tidak bicara secara langsung.


"Aku ganggu ya?"


"Hehe, nggak kok. Kenapa rindu ya? Ya udah nanti kalau kamu nggak sibuk datang aja ke rumah om. Aku nunggu." Nafas Bima mencelos.


"Maaf sayang, aku udah pulang." Hening. Maudy belum menjawabnya.


"Oh.." Terdengar seperti nada kekecewaan.


"Kamu marah?"


"Nggak kok Bim. Udah biasa?"


Bima membuang nafasnya kasar. Mengetuk dinding dengan jarinya. Bingung ingin bicara apa lagi. Maudy selalu pandai menutupi rasa kekecewaan.


"Sayang?" Suaranya lembut.


"Iya Bim?"


"Kita nikah yuk?" Terdengar Maudy tersedak di seberang telepon.


"Kamu baru aja ngelamar aku ya Bim?"


Haha. Bima tergelak. Hal ini mampu mengurangi rasa lelahnya. Sampai matanya benar-benar tidak bisa lagi untuk menahan kantuk barulah ia mengakhiri panggilan teleponnya.


***


Bima turun dan langsung ke meja makan. Penampilan sudah rapi dan menggunakan jas yang tadi di berikan untuknya. Terlihat papanya tersenyum menyambutnya yang ikut duduk di meja makan. Seperti biasa keadaan selalu hening, setelah ini pasti ada sesuatu yang di sampaikan papanya. Terlihat dari wajahnya yang sangat cerah di pagi ini. Pasti suasana hatinya juga begitu.


"Bim, bersiaplah. Hari ini, kamu sudah pindah kantor. Kamu pimpin perusahaan sendiri. Hari ini papa akan umumkan kalau CEO baru sudah siap memimpin." Bima hampir saja tersedak mendengar nya. Tapi tidak dengan Rio, ia sudah mendengarnya sebelum Bima kembali dari luar negeri. Begitu juga dengan mamanya, ia hanya bisa tersenyum mendengar kabar gembira ini.


Tak terasa anakku sudah dewasa, batinnya.


"Tapi pa?" Bima malah meragukan kinerjanya sendiri.


"Tenang, papa akan disamping kamu." Ah iya. Tenang, satu kata itu dulu yang selalu Bima tanamkan.


***


Para staf kantor sudah duduk dengan rapinya, di dalam ruangan yang selalu dijadikan untuk rapat penting. Hanya saja menambah kursi dan meja. Karena kalau hanya menggunakan kursi yang tersedia tidak akan cukup menampung banyak nya staf penting di kantor ini. Yang hadir hanya kepala bagian saja, dan staf penting lainnya. Sementara pegawai kantor biasa tetap menjalani aktivitas pagi ini dengan duduk di depan layar monitor, mengerjakan tugas masing-masing yang sudah terlebih dahulu di berikan arahan kepada kepala bagian mereka, sebelum penyambutan Bima sebagai CEO di mulai.


"Baik, saya selaku pimpinan kalian, pemilik perusahaan ini. Hari ini saya serahkan jabatan kepada anak saya, resmi di Lantik oleh saya sendiri. Dia adalah Bima Adi Nugroho." Tepuk tangan sudah terdengar di ruangan yang kedap suara ini. "Bim, kamu berdiri dan beri kata sambutan." Bima mengangguk dan tersenyum. Ada keringat yang tak seharusnya keluar di ruangan ber AC ini. Tapi mustahil jika Bima tak mengalami nervous.


Semua mata menatapnya tanpa berkedip. Menatap wajahnya yang tampan, berwibawa. Itu hanya padangannya saja, tidak tau sifat asli Bima.

__ADS_1


"Hem." Memulai dengan berdehem. "Seperti yang papa saya sampaikan, mulai hari ini saya akan menjadi atasan kalian disini. Memimpin kalian dalam bekerja. Terima kasih sebelumnya saya ucapkan karena bertahun-tahun telah membantu papa saya menjalankan perusahaannya." Tepuk tangan kembali menyambut. "Saya harap, setelah ini kalian juga membantu saya dalam menjalankan bisnis, tegur saya jika saya sudah salah dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin. Saya kira itu saja, terima kasih." Bima tersenyum, meski tangannya mengalir deras keringat. Bima melirik Lukman, iya dia hadir disini. Lukman membisikan sesuatu ke telinga papanya, dan mereka langsung keluar meninggalkan ruangan.


Kini Bima juga sudah selesai dengan tugasnya. Dan memberi perintah kepada seluruh staf untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Setelah sunyi, hembusan nafas lega terdengar.


Kalau biasanya, seroang bos akan meninggalkan rapat terlebih dahulu, barulah seluruh bawahannya mengikuti. Nah, kalau Bima beda. Memberi perintah untuk semuanya keluar, baru lah ia bisa menarik nafas lega. Tak heran jika para bawahannya saling pandang ketika Bima memberi perintah.


Biarlah, ini juga awal baginya. Meski otaknya tidak secerdas Rio, tapi semoga dia beruntung dalam berbisnis. Kini, Bima sudah duduk di kursi kebesarannya. Entah kemana perginya papanya tadi, setelah berbicara dengan Lukman. Ah Bima sendiri saja malas menyebutnya dengan sebutan calon mertua. Tidak, baginya calon mertuanya hanya satu, ibu Irma dan ayah Subi.


***


"Kamu udah pulang Bim?" Mamanya sudah menyambutnya dengan senyuman, seperti hari-hari biasanya.


"Udah ma. Aku langsung ke kamar ya ma. Mau langsung mandi." Pamit sebelum ada pertanyaan lain. Segitu jauhnya kah perubahan Bima setelah dewasa? Tidak lagi merengek meminta sesuatu kepada mamanya? Terkadang mamanya juga merindukan hal itu.


"Ma? Mama?" Baru saja ingin melangkah setelah melihat anaknya sudah hilang di balik pintu kamarnya. Suara menggelegar sudah memanggilnya.


"Iya pa. Kenapa sih pa teriak-teriak?" Langsung mengambil tas yang di bawa suaminya.


"Bima mana ma?" Wajahnya memerah seperti menahan emosi.


"Masih mandi pa. Baru aja sampai dan masuk kamar?" Suaminya malah membuang nafas kasar.


"Kalau Bima sudah selesai, langsung suruh keruangan papa!" Dengan nada tinggi ia memberi perintah.


"Rio, ada apa?" Menatap Rio meminta penjelasan. Rio hanya bisa diam, tak tau bagaimana menyampaikan masalah rumit ini.


"Nanti saja ma, biar Bima yang menjelaskan. Aku ke kamar ma, mau langsung gendong Rafa." Rafa putra pertamanya, dan sebentar lagi akan hadir anak kedua mereka.


***


"Pa, ada apa?" Bima sudah masuk ruangan setelah mamanya menyampaikan pesan yang di katakan suaminya.


Mamanya merasa tidak tenang, jadi dia juga mengajak Rio takut kalau ada kemarahan yang tak terkendali. Karena mamanya yakin kalau Bima pasti membuat kesalahan.


"Apa yang di katakan Luna benar? Iya Bim?" Menatap Bima dengan tajam.


Oh jadi dia beneran ngaduh? Baguslah.


"Bima, sebentar lagi acara pertunangan kamu akan di laksanakan. Apa-apaan kamu ini, apa kamu benar-benar nggak bisa lupa sama perempuan itu?"


Mamanya yang mendengar langsung menatap Rio. Rio malah tersenyum. "Tunggu aja ma." Menguping lagi.


"Jawab Bima." Menghantam meja sekeras mungkin sebagai rasa pelampiasan.


"Aku cinta Maudy pa! Sampai kapanpun!" Menekan kan kalimatnya. Papanya menggeleng tidak percaya. Ia berharap ini hanya candaan Bima, bagaimana mungkin? Bertahun lamanya sudah tidak bertemu, dan sekarang masih menjalin hubungan? Begitu batinnya.


Sementara dua orang yang menguping saling pandang, lalu detik berikutnya mereka tersenyum.

__ADS_1


Ternyata dia memang Bima anakku!


--__


__ADS_2