
Kepulangan Kiki kerumah bukannya membawa kesenangan, yang seharusnya puas bisa meminta ijin untuk libur, melihat bayi mungil Maudy dan Bima. Tapi malah menjadi kesengsaraan perasannya. Makanan yang dia beli dari resto, yang meminta spesial masakan malah. Tapi sudah tak berselera lagi sekarang.
"Kamu bawa apa Ki?" Mamanya menegur setelah melihat Kiki masuk ke dalam, dan meletakkan asal makanannya.
"Eh ma. Ini tadi beli di restonya Maudy. Itu juga mama." Mamanya membuka bungkusan plastik RESTOKU.
"Ada dua? Buat siapa? Papa juga nggak lagi dirumah." Menatap ke arah Kiki menunggu jawaban.
"Mama aja yang makan." Kiki langsung saja masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil menggenggam ponsel di tangan sebelah kirinya.
Menatap langit-langit kamarnya, bosan sekarang Kiki pindah di balkon kamarnya. Menatap ke arah kota yang di penuhi rumah, mata yang sedikit menyipit karena sinar matahari yang memantul melalui genteng rumah orang-orang. Entah apa yang mau dia lakukan sekarang juga tidak tau.
"Ki?" Kiki menoleh, ternyata mamanya mengejarnya hingga ke kamar, yang dia pikir sekarang mamanya sedang makan.
"Iya ma. Kenapa?" Wajahnya tak sedikitpun memiliki semangat. Walau cantik, cerah. Tapi seorang ibu pasti tau kalau seorang anak memiliki masalah. Terbukti, sekarang mamanya bertanya ada apa? Dan kenapa?
"Kamu selalu pendam semuanya sendiri, setidaknya kamu bisa menceritakan masalah kamu sama mama. Jadi kamu nggak perlu manggung beban itu sendirian." Kiki menunduk. Mamanya menuntun Kiki untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Gini aja, mama yakin kalau kamu juga belum makan kan?" Kiki menoleh dan menggeleng.
"Kita makan sekarang, setelah itu kamu cerita ke mama."
"Tapi aku benar-benar nggak selera buat makan ma."
"Mama siapin kamu?" Kiki tersenyum.
"Mama."
"Ayo sayang?" Dan berhasil membujuk Kiki sekarang. Selangkah lagi, mamanya juga akan tau kebimbangan dari anaknya.
Mama Ratih sebenarnya sangat ingin selalu mendengar keluhan anaknya. Mereka dekat, tapi Kiki jarang sekali mau bercerita tentang apa yang dia alami dan rasakan. Kiki selalu tertutup, mamanya menyadari itu kalau sebenarnya Kiki sama dengannya.
Mamanya sengaja mengajak Kiki untuk duduk di belakang rumah mereka. Di gubuk yang terbuat dari kayu jati dan beralaskan keramik. Terkadang jika di siang hari pembantu mereka malah lebih memilih tidur disini. Selain nyaman, dan angin selalu datang berhembus. Membuat siapapun nyaman untuk rebahan meskipun punggung akan terasa sakit jika berlama-lama.
Dan mamanya benar-benar menyuapkan Kiki untuk makan. Kiki jelas tak menolak, lagian siapa yang akan iri disini. Saudaranya juga tidak ada. Papanya sedang keluar karena ada urusan. Papanya sekarang juga super sibuk, karena akan membangun pabrik di kota ini. Bisa di bayangkan ya? Gajih Kiki selama bekerja juga sama dengan uang bulanan dari papanya. Tapi tidak untuk sekarang, Kiki menolaknya jika papanya akan memberi. Dengan alasan, sudah punya penghasilan sendiri meskipun baru terhitung jutaan.
"Sudah ma, kenyang."
"Heh, satu suap lagi." Kiki menurut dan membuka mulutnya.
"Ceritakan sama mama sekarang sayang. Masalah apa? Apa Agam terus mengganggumu? Atau ada masalah di kantor?" Kiki menggeleng, yang berarti bukan keduanya.
"Revan ma."
"Revan? Kenapa Revan?" Meletakkan piring dan memberikan Kiki air minum.
"Revan mau datang kesini nanti malam, sementara kak Niko mau ajak aku keluar nanti malam." Mamanya juga terdiam, berusaha menyikapi masalah anaknya, berpikir bahwa hanya tentang masalah percintaan.
"Kamu suka sama Revan?" Kiki diam, membuang pandangannya lalu mengangguk.
"Ya ampun, kenapa kamu malah mau terima perjodohan ini? Satu bulan lagi loh Ki, satu bulan lagi kalian menikah." Ha? Kiki langsung membulatkan matanya.
"Iya satu bulan lagi, papa yang bilang sama mama, kalau Niko itu sudah minta sama papanya." Kiki langsung kelimpungan.
"Ma, gimana? Aku belum siap."
"Kenapa kamu nggak nolak malam itu? Mama tau Niko kasih kamu cincin kan?" Kiki mengangguk lagi. "Mama bingung Ki, soalnya memang mereka berdua sama-sama anak baik." Heh, mamanya menghela nafas.
"Sekarang mama tanya, kamu pilih siapa?" Kiki menggeleng, mana mungkin bisa menentukan pilihan secepat ini batiknya.
"Mama kasih kamu waktu selama satu Minggu, dan kalau kamu memang pilih Revan kamu bilang ke mama, supaya pernikahan kamu di batalkan." Deg. Kiki semakin bingung sekarang.
"Apa Revan sudah menyatakan soal perasaannya?" Kiki menggeleng lagi.
"Revan selalu menunjukan lewat tindakan ma, bukan ucapan."
"Tindakan? Maksudnya?"
"Mama jangan berpikir buruk dulu, mereka berdua sama kok, nggak mau nyentuh aku sembarangan." Mamanya diam mendengarkan.
"Revan selalu perhatian ma, ya apa yang aku mau juga dia terkadang tau tanpa aku ngomong. Dan sebenarnya ini juga gara-gara aku yang salah paham waktu itu, yang aku kira Revan udah punya pacar, ternyata belum. Tapi terlambat, aku tau setelah menerima perjodohan itu ma." Mamanya sampai menggeleng. "Revan juga sempat mengatakan kalau dia kecewa sama aku ma karena aku mau di jodohkan." Kiki menunduk. "Semenjak itu, aku selalu merasa bersalah dengan Revan ma."
"Jadi sekarang yang mama harus tau, kamu bagaimana nanti malam? Siapa yang lebih dulu yang membuat janji sama kamu nanti malam?"
"Revan ma?"
"Kamu setuju kan waktu dia bilang ke kamu?" Kiki mengangguk.
"Menurut mama, kamu juga harus bilang ke Niko kalau kamu sudah ada janji dengan orang lain. Apapun itu, kamu harus jujur kalau tidak bisa."
Ya ampun, bagaimana ini.
"Mama tunggu, siapa yang datang kerumah nanti malam." Mamanya langsung beranjak pergi meninggalkan Kiki sendirian di gubuk, sengaja memberi waktu untuk anaknya berpikir. Kiki sudah dewasa, dan sudah seharusnya tau keputusan mana yang dia ambil, begitu pikiran mamanya.
Kiki duduk memeluk lututnya sendiri, menikmati setiap angin yang datang berhembus menerbangkan rambutnya kesana-kemari. Diam dan berpikir, siapa lelaki yang pantas dengannya. Kiki berharap Revan menyatakan langsung cintanya, karena Kiki yakin perasaannya pasti berbalas. Hanya saja, ini yang di benci oleh Kiki. Revan selalu bertele-tele, berbicara tentang cinta tapi tak pernah mau mengatakannya.
Keputusan sudah Kiki ambil, dan melangkah masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya.
"Hallo kak?"
"Iya Ki, kenapa?"
"Kak maaf ya, aku ada urusan nanti malam jadi nggak bisa pergi."
"Oh gitu, ya sudah. Next time ya?"
Huh, Kiki menghela nafas lega. Ternyata benar kata mamanya, harus jujur agar tak menambah masalah. Semua itu hanya perlu kejujuran.
***
Kiki selesai mandi dan lebih memilih menggunakan piyama tidur, kenapa? Kiki teringat kata-kata Revan yang mengatakannya cantik waktu itu ketika Kiki memakai piyama tidur. Revan bahkan pernah memujinya, lebih seperti anak rumahan. Ah Kiki tersenyum sendiri di depan kaca sekarang.
Tapi satu hal kali ini mengganjal di hatinya, bagaimana kalau tiba-tiba Niko nekat datang. Dan memastikan Kiki ada dirumah atau tidak? Kiki menggeleng di depan cermin, lalu untuk memastikan hal itu Kiki mencoba mengirim pesan duluan ke Niko. Bertanya sudah makan atau belum, lalu lanjut bertanya dimana. Dan Kiki berniat akan selalu chattan dengan Niko, agar tidak tiba-tiba Niko datang kesini.
Pukul delapan malam, Kiki turun ke bawah. Sengaja memang nggak makan malam lebih dulu, Kiki sudah memutuskan pilihan malam ini dan memberi kabar mamanya tadi sore, sesuai pesan Revan kan, jangan makan malam dulu.
"Eh itu Kiki Van." Kiki langsung melihat ke arah sofa ruang tamu, benar saja Revan sudah duduk disana.
"Ma, kenapa nggak bilang kalau Revan sudah datang?" Berbicara sedikit pelan.
"Baru aja juga mama mau panggil kamu, lagian Revan baru datang kok." Kiki mengangguk saja lalu berjalan ke arah sofa.
"Maaf ya Van, nggak lama nunggu kan?" Revan mengerutkan keningnya.
"Kenapa minta maaf?" Heh, Kiki langsung terdiam.
__ADS_1
Iya ya, kenapa aku minta maaf.
"Aku juga baru aja sampai, aku kira kamu turun karena tau aku datang." Jawabnya santai. "Kamu pasti udah lapar ya? Kita langsung makan aja ya, aku udah bawa ini." Memamerkan sebuah kantung plastik, dan masih sama seperti tadi siang, makanan yang di beli dari RESTOKU. Resto milik Maudy, ah ya ampun sepertinya memang masakannya enak dan cocok di lidah pembeli.
"Sini aku bantu kamu." Kiki membawakan makanan ke meja makan.
"Ma? Mama, ini Revan udah bawa makanannya ma." Kiki berteriak sebelum akhirnya duduk karena melihat mamanya juga sudah keluar dari kamar.
"Duh, repot-repot loh Revan." Ucapnya dan menarik kursi lalu duduk.
"Enggaklah Tante, nggak repot kok. Kiki juga sama tadi siang repot-repot antar makan siang aku ke kantor." Kiki hampir saja tersedak, dia melewatkan cerita ini kepada mamanya.
"Benarkah?" Melirik ke arah Kiki.
"Iya tante."
"Ini beli di restonya Maudy ya?" Revan mengangguk.
"Ki, kamu nggak tuangkan nasi ke piring Revan?" Kiki langsung meletakkan ponselnya, dan mengambil nasi ke piring Revan. Menu malam ini yaitu seafood pedas manis yang masih hangat karena begitu pesan baru di buat. Dari bumbu yang melekat di seafood yang akan mereka makan, sudah sangat menggugah selera.
"Udah Ki, cukup segini aja. Makasih ya." Kiki mengangguk dan beralih menuangkan nasi ke piringnya sendiri.
Andai aja ini sebuah keluarga yang nyata.
"Van? Kenapa ayo makan?" Revan mengangguk, semula ia termenung membayangkan hal yang belum pernah terjadi di kehidupannya, yakni sebuah keluarga kecil yang dia bangun sendiri.
"Ma, papa pulang jam berapa?" Di sela-sela makan Kiki bertanya.
"Tadi mama udah sempat telepon, katanya sih malam baru sampai? Kenapa? Ada hal yang mau kamu bicarakan?" Kiki menggeleng, padahal mamanya berharap jika Kiki sudah mengambil keputusan soal pernikahannya yang katanya akan di laksanakan sekitar satu bulan lagi.
Kiki tengah mengunyah, meletakkan sendoknya dan beralih ke ponselnya. Mengetik pesan yang akan di kirim ke Niko.
"Kak? Aku mau tanya deh? Apa benar pernikahan kita akan dilaksanakan satu bulan lagi?"
Pesan terkirim, Kiki kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan makannya. Revan berkali-kali meliriknya, tetapi Kiki tidak menyadari itu. Malah mamanya yang lebih tau, karena sedari tadi memperhatikan keduanya.
"Ki, kalau makan itu jangan main ponsel!" Mamanya langsung memberi peringatan.
"Iya ma, tadi tuh karena penting." Jawabnya dan lanjut mengunyah.
Selesai makan, Revan mengajak Kiki untuk duduk diluar dekat teras rumah. Dan mamanya lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Eh ada den Revan ganteng." Bi Asih tersenyum ramah.
"Bi? Apa kabar?" Bi Asih yang melongok dari balik pintu, memang selalu begitu dia, berpura-pura mengerjakan sesuatu. Padahal hanya karena ingin melihat siapa yang datang.
"Baik dan, den Revan sendiri gimana?"
"Baik bi."
"Mau bibi buatkan teh hangat nggak den?" Revan tersenyum.
"Boleh bi." Revan mengangguk. "Sekalian cemilannya dong bi." Bi Asih tertawa.
"Iya-iya tunggu sebentar ya den, nanti bibi bawakan." Setelah bi Asih masuk ke dalam barulah Kiki bersuara.
"Kamu cocok deh sama bi Asih. Tuh, lagian bi Asih janda Van." Revan menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.
"Memangnya kalau sama majikannya nggak boleh ya?"
Ting. Bunyi notif pesan masuk ke ponsel Kiki.
"Iya, orang tua kamu sudah bilang kan?"
Kiki langsung meremas jarinya sendiri, ternyata benar.
"Iya kak, udah kok. Tapi apa itu nggak terlalu cepat?"
Kiki membalas lagi.
"Siapa?"
"Ha?" Kaget karena Revan menatapnya sedari tadi.
"Pacar kamu ya?"
"Bukan." Sambil menggelengkan kepalanya.
"Calon suami kamu?" Deg. Kiki langsung terdiam dan menunduk.
"Kamu mau hadiah apa kalau menikah nanti? Pasti sebentar lagi kan?" Kenapa tebakan Revan selalu benar, batinnya.
"Eh, nggak usah bahas itu bisa nggak?" Kiki menoleh.
"Den, ini tehnya. Dan ini cemilannya." Bi Asih datang membawa nampan.
"Loh, kok aku nggak di buatkan sih bi?" Kiki protes, karena hanya ada satu teh disana.
"Oh, kan hari ini non nggak kerja. Jadi ya nggak usah minum teh atuh." Jawabnya santai sambil memeluk nampan yang sudah kosong.
"Nggak adil ah. Aku bilang mama lah."
"Jangan-jangan, iya bibi buatkan jus aja ya? Jus mangga kesukaan non." Kiki langsung mengangguk dan tersenyum.
"Kamu beneran nggak mau kenang-kenangan dari aku?" Ternyata Revan memang berniat sekali membahas hal ini.
"Terserah kamu aja kasih apa. Eh tapi jangan bilang kenang-kenangan dong, kayak nggak bakal jumpa aja lagi."
"Sepertinya memang begitu sih." Deg. Kiki menatapnya sekarang. Revan mengangguk.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya lirih.
"Aku ada rencana sih mau pulang kampung. Dan mulai hidup baru disana. Tabungan aku juga sudah cukup untuk bangun usaha kecil-kecilan di kampung. Aku pengen aja kumpul bareng keluarga aku disana, karena aku gagal buat bangun rumah tangga disini." Ucapnya.
"Ha? Gagal? Sebentar, memangnya kamu sudah pernah mau menikah?" Revan menggeleng.
"Lalu?" Kiki mulai penasaran, pasalnya Revan tak menceritakan hal ini dengannya.
"Aku pernah melamar seorang wanita, tapi di tolak dan tak di beri jawaban." Kiki terdiam sebentar.
Jadi beneran Revan pernah melamar wanita?
Kiki mencoba mengingat apa saja yang pernah diceritakan Revan padanya, tapi nihil memang tidak pernah. Dan yang selalu di ceritakan Revan hanya tentang keluarga dan kesehatan mamanya.
"Kamu beneran nggak ingat?" Kiki menggeleng lagi.
__ADS_1
Dan, entah kenapa. Kejadian beberapa waktu lalu masuk ke dalam pikirannya begitu saja. Sepertinya Tuhan memang sengaja untuk mengingatkan Kiki tentang hal ini. Dimana sewaktu mereka liburan, Revan yang secara tiba-tiba melamarnya.
Keheningan beberapa saat inilah di jadikan kesempatan untuk Kiki berpikir, respon apa yang akan dia berikan saat ini. Kiki melirik ke arah Revan yang kali ini tidak sama sekali menoleh ke arahnya. Keadaan seketika menjadi canggung. Kiki yang saat ini memang terus berpikir keras. Niko, dia hanya lelaki mapan dan tampan yang baru saja masuk ke dalam hidupnya dan memutuskan untuk segera menikah. Sementara Revan, dia lelaki yang setiap harinya tak luput dari pandangan matanya. Tau sifat dan asal-usulnya. Bagaimana cara memperlakukan seorang perempuan juga Kiki tau.
Tapi kenapa harus ada di pilihan ini? Jika membatalkan perjodohan, akan kah papanya kecewa dan menanggung malu? Lalu bagaimana nanti respon papanya? Dan jika memilih Revan? Apakah yakin Revan serius? Sementara Revan tidak sama sekali pernah menyatakan perasaannya.
Ya Tuhan, beri aku petunjukmu.
Kiki memejamkan matanya sebentar, lalu terbuka saat bi Asih datang membawa jus yang Kiki mau.
"Loh kok pada diam?" Bi Asih meletakkan jus di atas meja.
"Pada bertengkar ya?" Bi Asih mulai menggoda. Dia masih berdiri disana sebelum mendapat jawaban.
"Bi, apa bibi mau menikah denganku?" Sontak bi Asih langsung tertawa dengan kerasnya, bahkan sampai memegang perutnya yang keram karena banyak tertawa. Begitu juga dengan Kiki, berpikir sebegitu frustasinya kah dia? Sampai mengikuti sarannya yang menyuruh menikahi bi Asih.
"Den, kalau bercanda jangan keterlaluan. Ah ada-ada saja." Bi Asih melanjutkan lagi tawanya.
"Memangnya sudah di tolak sama non Kiki ya?"
"Iya bi. Kiki juga yang suruh aku nikahi bibi." Dengan polosnya Revan berbicara, tanpa tertawa dengan apa yang dikatakannya.
"Kenapa di tolak toh non? Ah bibi tau, pasti karena den yang super tampan yang kemarin ya?" Kiki langsung membulatkan matanya.
"Bi?" Peringatan pertama.
"Pasti lebih tampan dari aku ya bi?"
"Hem, sama sih den. Cuma yang ono agak sombong."
"Bibi!" Kiki frustrasi sendiri melihat kelakuan bi Asih.
"Udah ah den jangan di tanya lagi, bibi orangnya suka jujur nggak bisa bohong." Bi Asih langsung berlalu pergi dan masuk ke dalam. Lalu saat ini Revan menatap Kiki tanpa berkedip.
"Aku kira waktu itu kamu hanya bercanda." Kiki langsung menyuarakan isi hatinya.
"Kamu sudah ingat?" Kiki mengangguk.
"Maaf Van, tapi-"
"Aku mengerti kok Ki, kamu mengira aku hanya bercanda. Aku memang tidak pernah menyatakan soal perasaan ku. Karena aku memang tidak mau pacaran. Aku selalu ingat apa yang sudah di pesan oleh mama aku. Tapi aku terlambat, dan kamu harus tau. Aku tidak mau dikasihani, aku tidak mau kamu berubah haluan hanya karena merasa kasihan denganku." Kiki hanya bisa diam dan menunduk.
Apa benar aku hanya merasa kasihan?
"Lakukan saja, pernikahan mu. Dan, jika pengantin pria tidak hadir maka aku bersedia menggantikannya." Kiki mendongak, dengan mata yang berkaca-kaca.
Revan benar-benar tidak sama sekali menyatakan perasaannya saat ini, marah atau cemburu juga tidak ia ucapkan. Meski di hatinya memang sudah sepenuhnya terukir nama Kiki. Tapi Revan tak mau, seperti apa yang dikatakannya barusan, tidak mau Kiki berubah haluan hanya karena merasa kasihan.
"Van? Apa yang kamu katakan tadi benar? Kamu akan memulai hidup baru di kampung?" Revan tertawa kecil.
"Itu hanya rencana ku, belum aku pikirkan matang-matang." Kiki sedikit bernafas lega.
"Minggu ini aku mau datang ke pusara untuk mengunjungi kedua orang tuaku. Apa kamu mau ikut?" Kiki langsung mengangguk.
"Kamu ijin aja dulu sama orang tua kamu, soalnya kan jauh." Benar, mamanya di makamkan di kampungnya, memang itu permintaan mamanya jauh sebelum sakitnya bertambah parah dan akhirnya meninggal.
"Iya nanti aku ijin ke mama dan papa." Revan tiba-tiba saja reflek mengelus puncak kepala Kiki dengan lembutnya, meski tangannya bergetar dan Kiki juga tidak menolak.
Cukup Revan, sepertinya memang benar aku mencintaimu bukan hanya karena kasihan. Tapi maaf, aku tidak ingin papa kecewa dan menanggung malu.
"Ki?" Kiki mendongak yang semula menunduk karena merasa nyaman rasanya di belai dengan sentuhan lembut oleh Revan.
"Apa bisa di ulang ya kejadian di dalam mobil?" Kiki langsung membulatkan matanya, jika di singgung soal ini kenapa langsung ingat.
"Kamu orang pertama tau nggak." Revan tersenyum, senyum yang sangat Kiki sukai.
"Nggak mungkin." Menggeleng.
"Aku bersumpah."
"Aku mohon jangan di bahas lagi, aku malu tau nggak?" Menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Iya-iya maaf." Menarik nafas. "Ki? Setelah ini, aku janji akan menjauh." Deg. Kiki langsung membuka wajahnya.
"Kenapa?"
"Kamu sudah ada yang menjaga." Eh ini kenapa ceritanya seperti sedang putus, padahal pacaran juga tidak kan?
"Semoga kamu bahagia ya?"
"Tapi kenapa kamu malah ajak aku buat datang ke pusara?"
"Iya aku mau kamu juga pamit sama mama aku." Kiki semakin tidak tau maksudnya.
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Aku pamit pulang ya?" Kenapa aku jadi tidak rela! Batinnya.
"Kenapa?" Melihat Kiki hanya diam.
"Kamu belum balas pesan calon suami kamu tuh, takutnya dia nyari lagi." Revan tersenyum kecut.
"Sudah sana masuk." Kiki mengangguk, dan berjalan ke arah pintu. Berdiri disana dan menunggu Revan melajukan mobilnya.
Dia menangis?? Kenapa!
Kiki jelas melihat itu, dan memang sangat jelas. Ketika Revan memutar mobil, dia menghapus air mata dengan tangannya. Meski tak menatap ke arah Kiki, tapi Kiki bisa melihat itu, matanya tidak kabur saat ini.
Revan, ya Tuhan.
Kiki masuk ke dalam kamar, lalu berbaring di tempat tidur seperti biasa. Tapi Kiki kali ini memutuskan untuk menelpon papanya.
"Pa? Papa jam berapa sampai dirumah?"
"Kenapa sayang? Sebentar lagi papa jalan pulang."
"Aku mau ngomong sama papa. Ya sudah, hati-hati. Aku tunggu papa dirumah." Kiki melempar asal ponselnya, dan kembali berjalan keluar kamar untuk mengatakan apa yang dia rasa kepada mamanya.
***
Epilog.
Saat Revan memasuki mobil, matanya kemasukan binatang malam. Entah dari mana asalnya, nyamuk atau apapun Revan juga tidak tau. Yang pasti membuat matanya pedih dan mengeluarkan air mata. Sehingga untuk sekedar melambaikan tangan dengan Kiki juga tak bisa karena sibuk mengucek matanya sendiri.
"Sialan, ini binatang dari mana sih asalnya." Gerutu Revan sambil memutar mobilnya.
--__
__ADS_1