Dia Bimaku

Dia Bimaku
Edi si rambut klimis


__ADS_3

"Sayang, maaf bukan begitu maksudku."


"Udah ah Bim, aku mau tidur aja, aku ngantuk. Udah nggak usah di bahas lagi."


Dan Bima pun mengalah, mengunci pintu kamar lalu ikut naik ke atas tempat tidur. Memeluk Maudy dari belakang, mengatur posisi tidur yang paling nyaman.


"Sayang, maaf ya. Jujur, aku nggak bisa rubah sifat aku yang itu, aku bisa sekarang hilangin rasa malu aku ketika berada di keramaian, mungkin karena sudah biasa mengahadapi karyawan kantor. Tapi aku sulit untuk itu. Kenapa aku cemburu sama Bian? Karena sifat Bian hampir sama kayak aku, dia manja sayang. Boleh dia manja sama kamu karena kamu kakaknya, tapi tolong, jangan di depan aku. Boleh kok sayang. Tapi itu juga hanya berlaku untuk Bian, tidak dengan orang lain. Coba aja, kamu di posisi aku semalam? Aku yang begitu sama saudara aku, terus kamu aku cuekin, pasti kamu marah kan?"


"Hmm."


"Terus, kamu juga bilang aku sakit nggak bisa lah belikan kamu rujak. Gimana aku semakin nggak frustasi dengan keadaan ku sekarang. Rasanya untuk hal kecil aja aku nggak bisa belikan gitu. Coba deh kamu pikir." Menghela nafas. "Aku bakal hubungi papa untuk cari dokter terbaik disini, sehingga dalam waktu satu atau dua Minggu lenganku bisa kembali berfungsi dengan normal." Deg. Maudy berbalik.


"Iya maaf, aku juga salah." Maudy mengakui kalau perkataannya sore tadi menyakiti hati Bima.


"Lalu, kata bi Marni tadi sewaktu dia ngantar makanan ke kamar kamu lagi nelepon, itu siapa?" Bima mengubah posisinya, duduk dan memindahkan kepala Maudy ke pangkuannya.


"Itu Ilham, dia telepon pakai nomor Sundari." Jawabnya, tapi kenapa seperti tak bersemangat.


"Ilham? Mau apa dia?" Maudy mendongak menatap Bima.


"Hem, Ilham bilang Sundari mau mengajukan surat pengunduran diri setelah aku masuk nanti ke kantor."


"Loh, emangnya kenapa?"


"Ya memang itu kemauan suaminya. Kalau dulu kan Sundari belum menikah, jadi kalau lembur juga nggak masalah. Tapi sekarang kan beda sayang, sudah ada suami yang harus dia urus. Lagian aku juga yakin Ilham masih mampu memberi nafkah untuk Sundari." Maudy diam. "Kalaupun aku di posisi Ilham aku juga sama, aku nggak akan kasih kamu buat kerja."


"Tapi aku juga buka resto."


"Makannya aku cari chef, supaya kamu lebih banyak waktu buat aku." Deg. Maudy diam lagi. Kenapa setiap perbuatan yang dilakukan Bima selalu mempunyai alasan?


"Lalu, masalahnya dimana kalau kak Sun risigne? Kenapa sepertinya kamu kayak nggak rela?"


"Bukan nggak rela sayang, tapi aku masih pikirkan, siapa lagi penggantinya nanti? Aku bisa bekerja satu malaman kalau tidak ada sekretaris."


"Revan?" Bima masih berpikir.


"Dia kan sakit."


"Kalau kamu mau minta papa buat cari dokter terbaik untuk menyembuhkan lengan kamu, kenapa nggak sekalian untuk Revan juga? Bukankah itu juga salah satu tindakan sebagian penebus rasa bersalah?" Bima terdiam. Benar apa yang di katakan istrinya.


"Lagian bukankah lebih baik sekertaris kamu itu laki-laki? Aku malah bisa tenang."


"Kita tidur sekarang, kamu bilang tadi ngantuk." Heh, dia malah beralih topik.


Aku setuju denganmu sayang.


***


Pagi kembali datang, Maudy bangun lebih awal, karena hari ini dia akan memasak untuk Bima. Sudah lama rasanya tidak melakukan kewajiban semacam ini, padahal juga baru seminggu lebih.


Bima meminta sarapan tetap di dalam kamar, kenapa? Dia masih risih dengan tatapan para ART yang menatap dengan tatapan iba. Apalagi soal makan juga harus di suapi dengan Maudy. Terkecuali seperti kejadian tadi malam, barulah dia mau makan sendiri tanpa istrinya.


"Bim, sarapan udah siap. Kamu mau mandi dulu atau gimana?"


"Mandi dulu sayang, kamu bisa bantu aku kan?" Dia belum bergerak. "Bantu aku buka baju. Atau nggak mau mandi bareng?" Maudy langsung menggeleng.


"Nggak, aku nanti aja Bim. Kamu mandi sendiri."


"Kenapa? Kamu takut?" Maudy diam, berjalan mendekat dan membantu Bima melepas pakaian.


"Sudah sana mandi, aku tunggu kamu disini ya?" Lebih baik beralih topik, pikirnya.


"Kenapa nggak tunggu di dalam?" Masih menggoda.


"Bim!" Mengepalkan tangan membentuk tinju.


"Haha, iya aku mandi."


Cklek. Suara pintu kamar mandi kembali terbuka, Bima mengeluarkan kepalanya.


"Yakin nggak mau?"


"Bim!" Haha dia tertawa lagi dan mungkin kali ini beneran mandi, karena suara air kran sudah hidup.


Karena alasan tangannya yang sakit, Bima mandi tidak terlalu lama, berbeda dengan hari-hari biasanya yang kalau mandi bisa hampir satu jam.


"Sudah?" Bima mengangguk.


"Aku bantu pakai baju ya?"


"Memang harus sayang." Heh, Maudy mendengus.


"Sudah kita makan ya sekarang?" Bima mengangguk. Ah dia bahkan tetap bergelayut walau hanya jarak dua meter dari sana.


"Bim hari ini jadi kan teman kamu itu bawa chef-nya kesini?" Bima mengangguk saja karena mulutnya penuh dengan makanan, istri yang menyuapkan sepertinya tidak kira-kira.


"Jam berapa?" Menelan dulu.


"Kemungkinan sebentar lagi sayang, kenapa?"


"Nggak apa-apa sih, cuma kan mau langsung bekerja kalau cocok atau gimana? Jadi ibu nggak perlu repot datang kesini."


"Kita lihat nanti saja ya sayang." Maudy mengangguk sajalah.


Baru satu hari dirumah setelah pulang dari rumah sakit, dan hari kedua Bima sudah harus sibuk menerima telepon, entah itu dari klien yang ingin mengajak kerja sama, dan juga mas nya Rio. Seperti saat ini, baru beberapa suap saja Bima makan dia sudah harus menjawab panggilan telepon.


"Kenapa mas?"

__ADS_1


"Bim, coba kamu periksa bentar dokumen dari perusahaan B. Soalnya di laptop kamu nggak ada, mungkin ada berkasnya dirumah kamu."


"Sebentar, aku masih makan mas. Nanti aku telepon lagi."


"Nggak bisa Bim, aku mau lihat sekarang. Tanggal berapa waktu itu mereka menandatangani. Soalnya Sundari udah harus buat laporan sekarang."


"Iya-iya, sebentar ini aku mau lihat."


Bima melempar ponselnya asal, lalu bangkit dari duduknya dengan wajah yang di tekuk.


"Bim, kenapa? Cari apa?"


"Sebentar sayang, mau cari berkas." Maudy duduk diam dan menunggu, mau bantu tapi ini urusan suaminya yang memang dia sendiri tidak tau berkas seperti apa.


"Nah ketemu." Mengambil lagi ponselnya, duduk di samping istrinya sambil menerima suapan. Memfoto berkas lalu mengirimnya ke Rio.


"Berkas apa sih Bim? Kenapa nggak makan dulu aja?" Mengunyah dan terus membaca halaman berkas.


"Mas Rio minta di kirim sekarang sayang."


"Hallo? Sudah kan?"


"Iya udah."


"Memangnya ada masalah apa mas? Kenapa harus buat laporan?"


"Iya mereka mulai melenceng dari kerja sama."


Heh, Bima menghela nafas berat.


"Mas sibuk Bim, kalau bisa secepatnya kamu kembali masuk ke kantor. Mas bahkan nggak ada waktu buat keluarga mas. Setiap hari harus lembur, pulang tengah malam. Susah pegang dua perusahaan sekaligus."


"Iya mas, aku juga maunya begitu. Maaf sudah menyusahkan."


Kalau mas Rio sekarang mengeluh padahal juga baru satu Minggu, lalu gimana dengan papa dulu yang sampai bertahun-tahun?


"Bim? Kenapa melamun?" Dia terkesiap.


"Eh nggak."


"Mas Rio kenapa? Sepertinya kalian bicara sangat serius?" Melanjutkan suapan lagi.


Maudy menunggu hingga Bima menelan makanannya.


"Iya sayang. Dia ngeluh karena pegang dua perusahaan sekaligus. Aku jadi kepikiran papa, dulu papa kerjakan semuanya sendiri, bertahun-tahun malah."


"Orang tua memang begitu Bim, semua di lakukan demi anak dan istri."


"Aku juga bakal begitu sayang, dan tampaknya setelah aku kembali ke perusahaan nanti pasti aku akan sibuk, dengan dua jadwal sekaligus."


"Karena Sundari bakal risigne?" Bima menggeleng.


"Air sayang?"


"Air? Kok air??" Bingung.


"Air sayang, aku mau minum." Ah ya ampun.


Meneguk hingga habis setengahnya.


"Kamu lupa, kalau kita akan bangun sebuah sekolah? Sesuai keinginan kamu?" Maudy langsung tersenyum.


"Serius bakal di bangun tahun ini juga Bim?" Bima mengangguk, mengelus pipi istrinya.


"Iya aku serius."


"Ponsel kamu Bim?" Menunjuk ke arah ponsel yang berdering. Bima ngedumel sendiri, kenapa lagi? Apa lagi? Batinnya.


"Hallo?"


"Pak, saya sudah di depan ini."


Bima menoleh ke arah Maudy.


"Sebentar ya, tunggu." Mematikan sambungan telepon.


"Sayang, mereka sudah datang."


Maudy meletakkan piring dan melihat lewat balkon kamar.


"Bim, kok sepertinya aku kenal ya?" Masih memfokuskan pandangannya yang agak kabur melihat karena terlalu jauh.


"Sayang, aku turun ya?"


"Loh, aku ikut Bim." Dia cepat-cepat mendekat ke arah Bima sebelum pintu kamar di kunci dari luar, tidak ada yang tidak mungkin kalau soal kelakuan Bima.


"Dikira nggak mau ikut, mau lihat dari saja aja." Menunjuk balkon kamar.


***


Bima berjalan ke depan sendirian, menghampiri rekannya yang membawa salah satu chef yang akan bekerja di resto milik istrinya. Sementara Maudy masih berada di rumah, ketika sudah turun di bawah pakai acara mau buang air kecil segala dan meminta Bima untuk lebih dulu pergi ke resto, dengan alasan kasian temannya menuggu. Kalau tidak mungkin Bima tetap akan menunggu Maudy.


"Ayo kita duduk disana." Bima memimpin jalan dan berhenti setelah sampai di salah satu kursi resto.


"Ini orangnya pak Bima, pengalaman kerja sudah banyak. Ya sebenarnya dia juga saat ini masih terikat kontrak ditempat kerjanya, hotel X."


"Edi Bim?" Dia mengulurkan tangannya, tapi Bima masih diam dan menatap lekat wajahnya, wajah yang dia kenali sepertinya.

__ADS_1


"Oh iya saya Bima." Setelah berpikir tak menemukan jawaban Bima menyambut uluran tangannya.


"Jadi gimana? Kalau saya sih maunya ya besok langsung bekerja disini." Langsung to the point.


"Bim?" Maudy datang dan menepuk pelan bahu Bima.


"Sayang, duduklah." Tersenyum. "Dia istriku, pemilik resto ini." Mereka mengangguk.


"Soal itu nggak masalah, besok juga Edi bisa mengajukan surat pengunduran dirinya. Saat ini dia sedang di rumahkan, karena hotel sedang dalam perbaikan, jadi ya hanya beberapa kamar saja yang bisa dibuat menginap, sehingga separuh karyawannya di beri cuti dulu." Rekan Bima menjelaskan.


"Baik, kalau begitu saya setuju? Besok bisa mulai bekerja, soal gajih akan saya bayar lebih tinggi dari tempat sebelumnya dia bekerja." Edi tersenyum.


"Tangan kamu kenapa Bim?" Hah? Maudy sekarang menatap lekat ke arahnya, menilik dengan manik mata.


Rekan Bima langsung menyenggol lengannya, mempringati untuk bicara lebih sopan.


"Maaf pak Bima, keponakan saya agak kurang sopan memanggil anda."


Bima menjawab dengan bahasa tangan, menyuruhnya diam.


"Sayang, kamu kenal dia kan?" Berbisik ke Maudy, Maudy yang masih melongo juga mengangguk.


"Edi? Itu kamu kan?" Edi tertawa.


"Beneran kamu Edi?" Lagi, Maudy mengulang pertanyaannya.


"Iya." Jawab Edi malu.


Gila! Dia tampan setelah melepas kaca matanya, bagaimana bisa Edi berubah begini.


"Jangan puji dia bertambah tampan." Berbisik lagi. Maudy langsung mengurungkan niatnya untuk bicara tentang itu.


"Kalian saling kenal?" Rekan Bima yang berstatus omnya Edi bingung.


"Dia teman sekolah kami dulu, satu kelas. Tapi dia dulu nggak begini, kurus, pakai kacamata lagi, kenapa bisa berubah seperti ini?" Bima menoleh ke arah istrinya.


Lemah gemulai dari seorang Edi masih tampak terlihat, tapi soal postur tubuh yang sekarang, dan juga penampilannya itu membuat orang-orang yakin kalau dia lelaki tulen.


"Iya, aku dulu hobi sekali memasak. Jadi aku kuliah ambil jurusan itu, nah terus aku ngelamar kerja sebelum kuliah ku selesai, eh aku bertemu perempuan baik yang membantuku merubah penampilan ku." Maudy sampai menggeleng tidak percaya, ternyata bukan hanya sinetron, di kehidupan nyata juga ada, batinnya.


"Kalian jodoh ya? Nggak sangka, dari sekolah kalian pacaran." Bima dan Maudy tersenyum, mereka menautkan jemari tangan di bawah meja.


"Jadi sekarang kamu udah punya pacar Edi?" Maudy bertanya yang sifatnya pribadi, tapi Edi menjawab dengan anggukan dan tersenyum.


Aku harus kasih tau Kiki.


"Dia sudah tunangan, tahun depan akan menikah." Wah, Maudy lebih kaget lagi sekarang.


"Bim, kasih tau Kiki kalau Edi aja udah bertemu jodohnya. Orang yang dulu dia tolak." Berbisik pelan, lalu Bima tersenyum, tapi lebih tepat menahan tawa.


"Selamat ya Edi, wih masih nggak nyangka loh."


"Makasih Dy, hidup juga harus ada perubahan kan."


"Jadi gimana? Hem, Edi kamu bersedia kan bekerja disini? Apalagi kalian sudah saling mengenal, kan malah lebih enak."


"Iya saya bersedia om."


Dan, Edi di ajak untuk melihat dapur restoran, mengelilingi halamannya. Edi berkomentar katanya tempatnya sangat bagus. Begitu juga soal dapur, tidak sempit, dari pandangan Edi, dapur bahkan sekalian bisa di jadikan tempat beristirahat.


Setelahnya, Edi kembali pamit pulang bersama omnya. Dia akan datang besok tepat waktu, tidak akan terlambat walau hanya satu detik. Eh begitu tadi janjinya yang Edi bilang.


Maudy dan Bima menatap Edi yang berjalan menjauh dari resto, mereka saling pandang, detik berikutnya.


"Haha Bim, itu Edi loh Bim. Ingat nggak kamu pernah cemburu sama Edi waktu kita di hukum bersihkan toilet?" Bima tersenyum, dan lalu tertawa.


"Benar Bim, kamu nggak salah cemburu sama dia, buktinya dia bisa berubah tampan sekarang." Tertawa lagi.


"Sayang, kenapa memuji dia?" Heh, Maudy langsung berhenti tertawa. "Tapi memang benar yang kamu bilang." Saling pandang dan tertawa bersama.


Sambil tertawa, Maudy mengeluarkan ponselnya, mencari nomor yang akan dia hubungi.


"Hallo Ki? Besok kamu harus datang ke resto aku ya? Soalnya ada mantan kamu yang bekerja di resto aku!"


Ya ampun, dia beneran telepon Kiki, Bima menggeleng dan masih menyisahkan sedikit tawanya.


"Siapa? Maksud kamu Agam? Nggak ah Dy, aku nggak mau, untuk apa coba. Eh apa dia bangkrut sampai melamar kerja disana? Kenapa di terima sih Dy! Harusnya biarkan aja."


"Bukan, mantan kamu di sekolah dulu." Tertawa. "Udah pokoknya kamu besok datang aja kesini ya?"


Maudy langsung mematikan sambungan teleponnya. Mengelus perutnya yang terasa keram karena terlalu banyak ketawa.


"Kalian kenapa disini? Mana ketawa terus."


"Ibu? Kapan ibu datang?" Bingung, ternyata ibu datang juga nggak tau, batinnya.


"Baru aja kok, ibu lihat dari waktu turun dari mobil kamu tertawa sampai terpingkal-pingkal."


"Nggak ada bu. Besok chef yang kami bilang udah mulai kerja."


"Syukurlah." Ucap ibunya.


Maudy dan Bima kembali pamit untuk pulang dulu kerumah, mungkin mau melanjutkan tawa mereka yang sempat terjeda dengan kedatangan ibu.


"Sayang, sudahlah. Jangan berlebihan, kalau anak kita seperti Edi bagaimana?"


Maudy langsung terdiam, mengelus perutnya dan mengatakan "amit-amit jabang bayi".

__ADS_1


--_


__ADS_2