Dia Bimaku

Dia Bimaku
Motor baru untuk Tisha


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu kami permisi pulang ya?" Setelah menyantap hidangan yang di sediakan seorang Adi Nugroho pamit untuk pulang.


"Mbak, kami pulang ya?" Mereka saling bersalaman dengan senyum yang memang tidak di paksakan.


"Bim, kamu ikut pulang juga. Tahan sebentar lagi." Semua terdiam dengan perkataan papanya. Ayah Subi menoleh ke arah istrinya kata-kata tahan sebentar lagi membuatnya geli sendiri.


"Iya pa." Tidak berani membantah lagi karena semua keinginannya sudah terpenuhi.


Maudy tersenyum ke arah Bima, walau jantungnya masih berdetak tak karuan sedari tadi. Perasaan masih tidak menyangka masih berputar di otaknya. Seperti mimpi, padahal sebelumnya sudah pasrah akan batal.


Mereka mengantarkan keluarga Bima sampai ke halaman, melihat mobil yang sudah memasuki jalanan raya barulah mereka masuk kedalam rumah.


"Ibu mau kabarin keluarga kita dulu." Cepat-cepat masuk ke dalam, Maudy menoleh ke ayahnya.


"Ayah nggak kabarin keluarga ayah?" Menggeleng.


"Nanti saja kalau acara resepsi kamu." Maudy mengangguk saja, toh semua terserah ayah.


***


"Hallo, Wisnu? Apa kamu bisa datang kesini nanti hari Minggu?"


"Ada apa kak?"


"Maudy mau menikah!" Girang, sambil duduk di tepi ranjang.


"Kenapa mendadak sekali?"


"Iya, memang mendadak. Soalnya Bima yang minta, tapi cuma nikah aja. Resepsi bakal di adakan setelah pembangunan restonya selesai." Terdengar suara suaminya membuka pintu kamar dan ikut duduk di sampingnya.


"Ya udah, tapi aku nggak janji bisa datang ya kak? Soalnya istriku lagi ngidam."


"Apa? Kamu serius?"


Dan, malam ini ibu Irma mendengar kabar yang baik. Wisnu, setelah lama menantikan istrinya hamil lagi, dan akhirnya bisa di kabulkan oleh sang maha kuasa.


"Selamat ya, ya ampun kakak ikut senang. Kakak harap kamu bisa datang."


Panggilan berakhir.


"Kenapa bu?" Bertanya yang melihat istrinya tampak senang.


"Wisnu yah, bakal punya anak lagi. Akhirnya Nia hamil."


"Wah syukurlah bu. Seharusnya ibu jangan paksa dia untuk datang." Tak mendengarkan suaminya berbicara, kembali dengan ponselnya, mencari kontak lain yang berstatus keluarga dekatnya. Dengan sedikit menyipitkan Matanya dan menjauhkan ponselnya, ah kalau orang tua memang begitu ya kalau main ponsel.


"Hallo, bude?" (Kakak tertua di keluarganya).


"Iyo, Eneng opo?"


"Bude, hari Minggu bisa datang kerumah ku? Anakku Maudy mau menikah. Bisa kan bude?"


"Yo syukur, Iyo nanti di usahakan datang."


"Iya udah kalau gitu ya bude. Nanti kasih tau yang lain ya? Soalnya nggak punya nomornya bude."


Dan akhirnya selesai.


"Presiden nggak di kasih tau sekalian bu?" Beranjak dan berjalan keluar kamar.


"Apa sih yah? Iya nanti menteri keuangan aja ibu kasih tau. Jadi kalau kurang uang bisa ngutang." Sewot sendiri.


Bukannya ngabarin keluarga, ayah kebiasaan kalau ada apa-apa nggak pernah kasih tau keluarganya.


Menggerutu dan mengekor ikut keluar kamar.


***


Maudy berbaring di tempat tidur, menunggu notif masuk dari Bima. Iya dia yang lebih dulu mengirim pesan, bertanya sudah sampai atau belum. Saat akan merubah posisinya menjadi miring, terdengar suara pintu di ketuk.


"Mbak." Panggilnya, ah ternyata Tisha.


"Iya, masuk dek?" Merubah posisinya menjadi duduk, tau kalau Tisha datang pasti akan berbicara hal penting.


"Mbak, kalau mbak udah nikah nanti tinggal dimana?"


Ah ya ampun, kenapa aku nggak kepikiran kesitu ya?


Lama Maudy terdiam, dan detik berikutnya ia langsung menyambar ponsel dan mengetik pesan untuk bertanya kepada Bima, persis seperti pertanyaan yang di ajukan Tisha.


"Mbak, kok malah main ponsel bukannya jawab!"


"Iya mbak juga lagi tanya ke Bima, soalnya mbak juga nggak tau. Kenapa sih emangnya?" Bertanya balik.


"Hem, gini. Kalau mbak udah nikah, pasti motor mbak kan nggak di pakai lagi? Jual aja kenapa mbak, terus ganti motor matic. Aku juga pengen mbak bawa motor." Wajahnya di buat sesedih mungkin, supaya Maudy merasa iba.


"Kalau aku bilang ke ayah pasti ayah nggak akan ngasih dengan alasan itu hadiah ayah buat mbak, tapi kalau mbak yang bilang kan pasti ayah mau mbak." Lagi, merayu lagi. "Masak iya aku harus naik angkutan umum terus mbak, ya walau kadang pergi di antar ayah, sama juga mbak pulang naik angkutan umum. Kalau pulang di antar teman lelaki pasti ayah sama ibu marah." Sudah menggoyangkan lengan Maudy. Maudy masih tampak berpikir.


Kasian Tisha memang, tapi motor itu kenangan aku.


"Mbak." Maudy terkesiap.


"Udah nanti aja mbak belikan kalau resto yang mbak buka lancar." Menarik kembali tangannya yang bergelayut.


"Mbak janji Tisha. Ya ini memang ada uang, tapi kalau beli motor kamu, nanti kalau buat modalnya kurang gimana?" Tisha menoleh.


"Janji ya mbak?" Maudy mengangguk.


"Iya mbak janji." Tisha kembali tersenyum dan berjalan keluar. Ya, kamar mereka memang terpisah.


Maudy kembali memikirkan perkataan adiknya, memang soal kasih sayang ibu dan ayahnya terkadang berbeda. Mungkin karena dirinya yang selalu berprestasi dalam belajar, tapi bukan dengan itu bisa jadi alasan. Maudy kembali rebahan menatap langit kamar yang tidak akan memberikan jawaban atas apa yang ia pikirkan. Sampai dering telepon kembali berbunyi.


Bima?


Secepat mungkin Maudy mengangkat telepon.


"Iya Bim?" Terlihat lesu dalam menjawab.

__ADS_1


"Kenapa? Kok kayak nggak semangat?"


"Hem nggak kok."


"Kamu masih mikirin nanti tinggal dimana ya?"


"Iya Bim." Memainkan kuku jarinya. "Bukan itu aja sih, tapi tadi Tisha datang ke kamar aku, dia bilang pengen motor, jadi minta motor aku di jual. Ya sebenarnya aku nggak apa Bim, tapi motor itu juga kan kenangan kita." Eh dia malah curhat.


"Ya udah, nanti kalau ada rezeki lebih di beli sayang. Gitu aja di pikirin."


"Bukan gitu Bim, kasian juga lihat Tisha, ayah nggak pernah belikan dia ini itu." Mengaduh lagi.


"Iya aku ngerti, udah jangan pikirin dulu ya? Soal itu jangan khawatirkan. Hem, tadi katanya mau bahas soal kita tinggal dimana nanti?"


Ah iya, Maudy bahkan melupakan itu, ha gara-gara Tisha ini mah. Malam-malam ada saja permintaannya.


"Ya aku terserah sih Bim, tapi aku maunya tinggal disini sama ibu. Itu kalau kamu nggak keberatan. Cuma kamu tau kan keadaan rumah aku ya begini."


"Ya udah kalau kamu maunya disana, nanti kalau rumah kita udah siap juga kita pindah."


"Rumah kita?" Dahinya berkerut. Sejak kapan aku ikut menabung membangun rumah? Batinnya bertanya.


"Iya, nggak jauh kok. Udah ah, udah malam kamu istirahat ya tidur? Jaga kesehatan, calon pengantin nggak boleh sampai sakit." Maudy tersenyum mendengarnya, ada perasaan senang Bima mengatakan hal itu. Sungguh, jadi pengantin memang impian setiap orang bukan? Apalagi kalau calon suaminya tajir melintir.


Maudy mengurungkan niatnya untuk langsung tidur, ia kembali berjalan keluar kamar, dan ternyata melihat ayah dan ibunya tengah menonton tv berdua.


"Yah?" Ikut duduk di antara mereka.


"Kamu belum tidur? Tadi Tisha ngapain ke kamar kamu Dy?"


"Itu dia bu. Tisha pengen motor, tapi dia juga nggak berani bilang ke ayah. Ya udah, jual ajalah yah motor aku, nanti uangnya buat beli motor Tisha." Ayah yang semula diam dan fokus melihat layar TV kini beralih menatap ke Maudy.


"Kamu tau, dia minta motor itu karena lihat temannya kalau pulang sekolah bisa kesana-kemari Dy. Nanti kalau udah di belikan juga pasti dia pulang sekolah selalu telat." Maudy tau, ayahnya nggak akan setuju.


"Dulu, aku juga gitu yah, kalau pulang sekolah ya nggak langsung pulangkan?" Kali ini membela Tisha.


"Tapi kamu nggak lupa sama belajar kamu, dan selalu dapat juara umum." Maudy menghela nafas, benar kan ini alasan ayah, batinnya.


Tisha, Tisha, andai kamu fokus belajar pasti ayah nggak pelit begini.


"Udah lah yah, kasian juga Tisha." Selamat Tisha, kali ini ada dua pembelaan.


"Ayah ada tabungan bu, tapi itu kan untuk kuliahnya nanti." Belum, ayah belum goyah.


"Yah, kan aku udah janji soal biaya Tisha nanti aku yang nanggung. Dan kalau beli motor aja pasti tabungan ayah masih lebih yah?"


Ternyata Tisha menguping di balik pintu, mengatupkan kedua tangannya, berdoa semoga ayahnya mau.


Aku janji tahun ini akan mendapat juara kelas kalau ayah belikan aku motor.


Dan lanjut kembali menguping di balik pintu, ingin mendengar jawaban ayah selanjutnya.


"Ya sudah, besok kalau ayah sempat ke Dealer motor." Hah Tisha langsung melompat kegirangan di dalam kamarnya. Langsung mematikan lampu dan siap tidur nyenyak.


***


Maudy tidak ada jadwal di hari ini, baik untuk sekedar melihat proyek pembangunan juga tidak ia lakukan. Dan Kiki berjanji akan datang sebentar lagi, membawa lulur khusus pengantin. Dan akan membalur nya ke seluruh tubuh Maudy. Dengan alasan, itu harus di lakukan ke setiap wanita yang akan menikah.


"Iya." Kembali fokus melihat layar televisi. Melihat sinetron kesukaannya yang di hadirkan dari kalangan kulit hitam.


"Dy, coba lihat itu siapa yang datang?" Terdengar suara klakson mobil.


"Kiki lah mungkin bu." Sudah memegang handle pintu dan siap masuk.


"Bukan, kok ada suara laki-laki yang ngucapin salam. Coba lihat dulu, nanggung ini filmnya loh Dy." Maudy menghela nafas dan melangkah malas ke depan.


Sampai di depan pintu rumahnya, Maudy di buat tercengang. Kenapa cepat sekali datang, batinnya.


"Bu, kesini dulu sebentar." Berteriak agar ibunya mendengar.


"Ini rumah mbak Maudy kan?" Tanya seroang pria yang memakai baju merah putih yang bertuliskan salah satu merk motor.


"Iya benar, kenapa ya mas?" Menoleh lagi ke belakang, belum ada tanda-tanda ibunya muncul.


"Boleh saya masuk? Mau minta tanda tangan."


"Ah iya, silahkan mas." Memberi jalan dan mempersilahkan masuk.


"Sebentar ya mas." Berjalan untuk memanggil ibunya yang tengah serius menonton film.


"Ibu, itu ada Dealer motor datang, apa ayah udah beli? Cepat sekali." Ibunya juga kaget dan langsung berdiri.


"Mas ini nggak salah alamat kan?" Belum duduk dan langsung bertanya.


"Nggak bu, disini rumahnya, dan alamatnya benar. Bapak Subi kan? Dan anaknya Maudy kan?" Mereka berdua mengangguk.


"Silahkan tanda tangan disini ya bu, atau mbaknya juga boleh. Sebagai tanda terimanya. Motor akan segera di turunkan." Menyerahkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani.


"Ibu aja yang tanda tangan." Maudy melihat ke arah luar, sebuah motor matic keluaran terbaru, cantik berwarna biru langit, sesuai dengan kesukaan warna Tisha.


Ah benar ayah yang beli, apa ayah ijin dari kantor ya?


"Sudah mas."


"Oke, kalau begitu saya permisi ya bu. Untuk surat yang lainnya bisa di ambil langsung ke kantor kami, nanti setelah 3 bulan ke depan."


"Iya mas." Mereka juga ikut keluar, untuk memasukan motor baru milik Tisha.


"Bagus ya Dy, pandai juga ayah kamu pilihnya." Maudy mengangguk saja, tapi ini juga bukan motor tipenya.


"Udah bawa masuk sana, nanti kalau Tisha tau pasti dia bakal loncat kegirangan." Ah Maudy sudah membayangkan seperti apa senangnya Tisha nanti, baru tadi malam minta eh ini sudah ada di rumah.


Setelah selesai dengan urusan motor, Maudy kembali lagi untuk masuk ke dalam kamarnya. Di lihat sudah pukul 12 siang, pasti Bima sedang istirahat sekarang. Maudy berinisiatif mengirimkan pesan, mengingatkan jangan lupa makan, tak lupa di beri gambar hati di ujung kalimatnya.


Menunggu balasan, sambil memejamkan mata. Tak lama, notif pesan juga masuk.


"Sayang, hari ini aku lembur. Kamu nanti jangan lupa makan juga ya" Ah Maudy senang rasanya, tersenyum lalu kembali membalas pesan Bima. Walau tau Bima juga tidak akan membalasnya lagi.

__ADS_1


"Dy!!" Suara gedoran pintu, bukan lagi ketukan.


"Masuk." Masih rebahan dengan santainya.


"Kita langsung mulai ya? Aku udah belajar loh gimana cara pakai lulur yang benar, sambil di pijit gitu." Maudy manggut-manggut saja.


"Buka dong Dy!"


"Apanya?" Bingung.


"Ih baju kamu lah, semua tuh harus di lulurin Maudy! Lagian ya Bima, kenapa sih nggak suruh kamu ke salon aja gitu, biar SPA, masak iya seorang CEO nggak ngasih persiapan buat calon istrinya." Maudy tertawa mendengarnya.


"Dia sibuk kali Ki." Mengikuti saran Kiki yang melepas pakaiannya dan di balut selimut.


"Kenapa malah buka toko? Lebih baik buka salon aja sekalian." Kiki mendengus.


Pijatan di mulai, Maudy mulai nyaman dengan sentuhan tangan Kiki. Mata sudah ingin menutup.


"Enak nggak Dy?"


"Hem iya." Bergumam karena mata sudah benar-benar tak bisa di ajak kompromi.


"Nanti kalau aku nikah pasti Agam senang karena aku bisa mijit begini." Tak ada jawaban.


"Kamu juga Dy, nanti kalau udah nikah. Kalau kamu lihat Bima lelah, kamu pijitin dia, jadi dia tambah sayang sama kamu." Hening.


"Ah aku sendiri rasanya jadi nggak sabar, pengen cepet-cepet nikah kayak kamu Dy." Pijitan sudah sampai ke kaki, tapi manusianya tak bergerak atau sekedar berdehem untuk menjawab perkataan Kiki.


"Dy!! Kamu tidur ya?" Memukul dengan sekeras mungkin.


"Ha?" Kaget.


"Kamu tidur?"


"Iya, enak sih pijitan kamu Ki."


"Ya ampun, udah ni selesai. Sana kamu bersihkan di kamar mandi. Setelah itu kita lanjutkan dengan maskeran di wajah ya?" Rasanya malas sekali untuk bangkit, udah lebih baik tidur aja gitu, bisikan dari telinga kiri, ah berarti setan ya. Maudy bangkit dengan malasnya, tak lupa sekalian membawa handuknya.


***


Beberapa menit setelah selesai, Maudy kembali ke dalam kamar, melihat Kiki yang membuka sebuah kotak berisi beberapa kemasan yang bergambar wajah. Kemudian menuangkannya ke dalam mangkuk kecil, dan di campur dengan air mawar.


"Sudah? Sini kamu tiduran disini." Menepuk bantal yang sudah di posisikan sedemikian rupa.


"Ya ampun, Nemu dimana aku ya dapet sahabat sebaik ini." Memuji Kiki dengan tulusnya.


"Ah lebay, cepetan. Kalau aku nanti yang nikah, aku mah minta di salon ternama. Agar seluruh tubuh ku tampak kinclong."


"Buktikan Ki."


Kiki mulai mengolesi ke wajah Maudy dengan memakai scrub. Maudy memejamkan matanya lagi, merasakan gel dingin menyentuh kulit wajahnya, seperti masuk kedalam pori-pori kulitnya.


"Jangan tidur." Mengingatkan dan terus mengolesinya secara telaten.


"Tunggu hingga kering ya. Ini waktunya aku tidur." Mengambil posisi untuknya, membiarkan wajah Maudy yang masih berlumur masker. Batinnya tertawa, kini giliran ku yang tidur.


***


"Ayah udah pulang?" Baik Maudy dan ibunya sudah menyambut begitu melihat ayahnya pulang, sekedar ingin bertanya soal motor.


"Iya. Ayah nggak sempat mampir ke Dealer motor. Besok aja ya, besok kan ayah pulang tengah hari."


Sontak ibu dan anak saling pandang.


"Nggak sempat?"


"Bukan ayah?"


Serempak dengan kata-kata yang berbeda.


"Iya, kenapa? Apa Tisha ngambek?" Maudy dan ibunya menggeleng serempak, dengan wajah yang tak memiliki ekspresi, lebih tepatnya bingung.


"Apa mereka salah alamat?"


"Maksudnya bu?" Ayahnya bertanya sambil meletakkan tas kerja di tempat biasa.


"Ayo yah." Maudy menarik lengan ayahnya, menunjukan sebuah motor matic baru yang sudah ada di dalam rumah, berdampingan dengan motor trail miliknya.


"Ini motor siapa?" Lah, Maudy lebih bingung. Jadi semuanya pada bingung.


Maudy menghela nafas, menjelaskan semuanya. Bahwa mereka sudah datang mengantar kesini, bahkan tau nama ayahnya. Jika memang salah alamat, kenapa mereka juga tidak ada datang kesini, padahal ini juga sudah sore.


"Sekarang Tisha mana? Apa dia udah tau?" Tanya ayahnya. Maudy mengangguk, ya karena memang Tisha sudah di beri tahu tadi.


"Jangan-jangan Tisha beli sendiri?" Eh malah hal mustahil terpikir oleh ayahnya.


Apa mungkin Bima?


"Sebentar yah." Maudy langsung berlari ke kamarnya. Menyambar ponsel miliknya dan langsung menghubungi Bima. Tapi lagi-lagi tidak di angkat. Ha kesal sendiri, Maudy kembali melempar ponsel ke atas kasur.


Ah ya ampun, aku lupa Bima lembur hari ini.


Ting.


Suara pesan masuk.


"Sayang, apa sudah sampai motornya?"


Benarkan dugaan ku!!!


"Ayah." Berlari lagi keluar kamar mencari ayahnya.


"Ayah, Bima yang belikan motornya untuk Tisha."


"Bima??" Ayah.


"Bima?" Ibu.

__ADS_1


"Kak Bima?" Tisha yang baru sampai setelah mendengar Maudy berteriak.


--__


__ADS_2