
Lelah mendera disetiap sendi, mungkin karena terlalu lama tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Merasakan empuknya kasur bahkan lupa dengan niat memberi oleh-oleh kepada ayahnya. Berbaring walau matanya tidak terpejam, tapi lamunannya mengukir sejuta keinginan anak remaja seusianya.
Apa aku bilang aja ya sama ayah, kalau sebenarnya aku juga keberatan.
Memiringkan kembali tubuhnya, mengambil ponsel dan melihat isi galery nya saat ini. Terlalu banyak senyum di hari ini, takut kalau ada air mata, batinnya. Mengelus wajah Bima dengan jarinya. Membayangkan apa yang akan terjadi 3-4 tahun ke depan.
Apa Bima bakal berubah ya? Apa dia nggak jadi pemalu lagi? Atau, ah aku takut Bima nggak sayang aku lagi.
"Dy, Maudy." Teriak ibunya dari pintu kamar.
"Iya bu." Masih melihat layar ponselnya.
"Kamu belum makan, apa kamu kenyang hanya melihat layar ponsel sambil tersenyum?" Langsung melihat wajah ibunya, dengan menggeser ponsel miliknya hanya beberapa Cm.
"Hehe." Hanya tersenyum, kemudian bangkit.
"Bima aku makan dulu ya?" Mengecup pelan layar ponsel lalu pergi dengan senyum seribu Watt.
Suasana rumah yang hangat, kembali mendera pikiran Maudy. Kini ia mulai merasakan keraguan yang besar, apa bisa tanpa keluarga hangat selama bertahun-tahun? Apa bisa tidak mendengar suara ibu dan ayahnya? Hanya itu saja yang ia pikirkan ketika sedang makan.
"Mbak!" Bentak Tisha yang melihat saudaranya malah menyendokkan cabe ke mulutnya, hampir saja jika Tisha tidak menegur mungkin Maudy akan menjerit karena pedas.
"Kamu kenapa sih Dy?" Tanya ayahnya.
"Nggak yah, mungkin karena capek jadi nggak fokus." Melanjutkan makannya kembali.
"Tadi senyum-senyum sendiri, sekarang melamun. Apa ayah dulu gitu ya yah waktu jatuh cinta sama ibu?"
"Lebih dari itu bu." Ucap sang ayah lalu mengedipkan mata. "Makan dulu, bicara sama ayah setelah makan."
Kenapa ayah selalu tau sih?
Maudy hanya mengangguk, karena memang itu yang akan ia rencanakan setelah makan.
***
"Kenapa?" Tanya sang ayah dengan lembut, setelah Maudy membersihkan diri. Wajahnya nampak lebih segar sekarang.
"Yah, maaf sebelumnya. Aku mau jujur yah, sebenarnya aku keberatan jika harus jauh dari keluarga nantinya. Boleh nggak yah kalau aku kuliah disini aja?" Langsung bicara ke intinya. Ayahnya masih terdiam, mungkin tidak puas dengan alasan yang anaknya berikan.
"Maaf yah, aku nggak konsisten."
"Keberatan tanpa keluarga atau tanpa Bima?" Menatap wajah putrinya. Melihat dari matanya, bahwa Maudy akan jujur atau tidak.
"Yah?"
"Maudy, dengar. Ini yang ayah takutkan, ini alasan ayah nggak ngasih kamu pacaran dulu! Karena ayah tau, itu akan menjadi alasan yang kuat buat ganggu pelajaran kamu, masa depan kamu! Karena kamu akan merasa patah hati sebelum waktunya. Ayah tau, anak seusia kamu ini lagi seneng senengnya pacaran. Tapi, ayah nggak mau itu! Ayah perbolehkan kamu bergaul dengan siapa saja. Kamu tau, ayah seorang PNS. Tapi ayah mau, anak ayah itu bisa jauh lebih baik dari ayah. Dan sekarang, kamu mau menyerah hanya demi seorang Bima?"
"Yah, bukan Bima yah! Tapi keluarga!" Meninggikan suaranya.
"Maudy, lebih baik kamu kejar dulu cita-cita kamu. Apa kamu nggak mau buka usaha setelah lulus kuliah? Sebentar lagi ayah pensiun. Memang ayah masih sanggup buat kuliah kan kamu, tapi kasian Tisha nantinya. Jika uang tabungan ayah untuk biaya kamu, lalu bagaimana Tisha nanti? Ini kesempatan, om kamu siap buat bantu Dy. Kamu disana juga bakal belajar bagaimana mengelola usaha om kamu!" Maudy terdiam.
Tisha maafkan mbak yang egois.
"Ya udah. Jika ini keputusan kamu, ayah nggak akan maksa kamu buat pergi. Itu tergantung kamu, tapi satu, jangan ada kata penyesalan nantinya." Bangkit dari duduknya meninggalkan anak sulungnya.
Jelas ada rasa kecewa padanya, sebagai seorang ayah. Merasa anaknya tidak bisa menuruti perintahnya. Padahal waktu itu Maudy sendiri yang mau, Maudy sendiri yang bersemangat untuk kuliah di luar negeri. Tapi sekarang, malah menjadi keraguan.
"Yah, kenapa?" Istrinya melihat suaminya yang berjalan masuk ke kamar dengan wajah menahan emosi. Bahkan tidak menjawab pernyataan istrinya.
"Dy?" Mendekat ke anaknya.
"Nggak apa bu." Bangkit dan berjalan meninggalkan ibunya.
"Sebenarnya kenapa sih?" Bingung dengan suasana saat ini.
Ibu Irma lebih memilih bertanya pada suaminya dan masuk ke kamar. Ternyata benar, pasti sedang tidak baik-baik saja, Batinnya. Melihat suaminya duduk di atas kasur dengan tangan menopang ke belakang.
"Yah, kenapa?" Tanyanya lembut.
__ADS_1
"Huh." Terdengar suara helaan nafas. "Bu, ini yang ayah takutkan. Maudy jadi ragu ujungnya, pasti karena disini dia udah ngerasain indahnya pacaran anak remaja."
Ikut duduk di samping suaminya.
"Yah, memangnya Maudy bilang apa? Dia nggak mau kuliah di luar negeri gitu?"
"Iya. Bu, apa ibu yakin kalau Bima sama Maudy itu bakal terus pacaran, dan terus menikah? Nggak kan bu? Menurut ibu sendiri gimana? Mereka kan belum mengenal orang lain lagi, yang bisa jadi tambatan hati mereka masing-masing. Iya bu, anak ibu sekarang masih menggilai Bima, nanti kalau sakit hati ujung-ujungnya menyesal kalau nggak jadi berangkat keluar negeri!" Mendengus. "Lagian, keluarga kita memang nggak cocok jika berbesan dengan keluarganya Bima bu. Sebaiknya ibu kasih tau Maudy, kasih tau ke dia kalau Bima itu belum tentu jadi jodohnya. Kalau pun mereka jodoh, pasti bakal tetap kembali nanti, walau terpisah bertahun-tahun." Merebahkan tubuhnya, mungkin sudah lelah memikirkan anak sulungnya.
"Iya-iya. Nanti ibu bilang ke Maudy. Ya udah, ayah tidur aja kalau lelah." Mencoba mengerti kemauan suaminya. Karena ada benarnya apa yang di katakan suaminya barusan.
***
Malam larut, Maudy juga tak kunjung memejamkan matanya. Membolak-balikkan ponsel miliknya, menyanyikan lagu galau dengan suara merdunya. Tidak menghubungi Bima, karena satu harian bersamanya sudah cukup baginya.
"Mbak. Udah tidur?" Suara ketukan pintu terdengar.
"Belum, masuk nggak mbak kunci." Tidak ingin merubah posisinya rebahan nya.
"Kenapa?" Setelah melihat adiknya masuk dengan memakai piyama tidur dan juga masker wajah.
"Mbek, kenepe tede seme eyeh?" Masker di wajahnya mungkin sudah mulai mengering sehingga sulit berbicara dengan jelas.
"Oh, nggak." Kembali memainkan ponselnya.
"Tede eke denger kek mbek." Maudy langsung duduk mengubah posisinya.
"Sekarang kamu bersihkan wajah kamu dulu baru ngomong, apa sih pakai gituan Tisha. Biar apa coba?" Protes dan mengeluarkan wajah galaknya.
Tisha langsung menarik masker di wajahnya, yang berubah seperti sebuah plastik jika masker sudah mengering. Ternyata tidak perlu di cuci dengan air.
"Ih, apa nggak sakit?" Melihat adiknya meringis saat membuka masker.
"Sudah." Memegang wajahnya yang baginya sudah mulai kinclong.
"Mbak, kenapa tadi sama ayah?"
"Mbak, ya udah kalau mbak nggak mau pergi. Nggak usah pikirin aku, lagian aku juga nggak mau kuliah nantinya. Otak aku juga nggak mampu mbak, nggak kayak mbak yang memang pandai." Tanpa Maudy menjelaskan atas pertanyaannya, Tisha lebih dulu mengungkapkan kesimpulan yang ia dengar tadi.
Maudy tidak menjawab malah menundukkan wajahnya. Rasa bersalah yang menyerang pikirannya saat ini.
Ternyata jadi anak tertua itu nggak enak ya? Ah, aku jadi pengen tukeran sama Tisha. Andai aja aku belum kenal cinta, aku yakin keraguan pasti tidak akan muncul. Huh, maaf Bim memang harusnya aku pergi. Ya, walau kamu nggak larang aku tapi aku tau, pasti kamu bakal rapuh kalau aku tinggal.
"Mbak? Mbak nggak dengerin aku ngomong ya? Ih tau gitu maskernya nggak usah di buka dulu tadi!" Menghentakkan kakinya seperti anak kecil, memang sebenarnya Tisha juga masih anak-anak.
"Iya-iya denger kok. Nggak, mbak tetap pergi nanti. Kami harus kuliah, kamu mau jadi apa emangnya kalau nggak kuliah? Emangnya cari perkejaan gampang hanya dengan ijazah SMA? Tenang aja, mbak juga disana bakal belajar sungguh-sungguh."
"Iya mbak, tapi masa-"
"Tisha, kamu ngapain disini? Udah malam, masuk kamar terus tidur." Ibunya masuk tanpa mengetuk pintu karena mendengar kakak beradik ini tengah berbincang.
Tisha tidak lagi melanjutkan perkataannya. Ia lebih memilih menurut dan mengikuti perintah ibunya.
Sekarang giliran ibunya yang akan bertanya pada Maudy, ia langsung duduk dan mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut.
"Benar kata ayah? Kamu keberatan kalau harus pergi?" Maudy mengangguk.
"Jadi gimana keputusan kamu?" Belum bisa menjawab.
"Gini aja, ibu sama ayah udah bahas ini tadi, kamu ibu kasih waktu sampai besok pagi. Renungkan pilihan kamu, jangan sampai ada penyesalan dalam memilih. Besok pagi kamu harus sudah memberi kejelasan, karena paspor akan diurus, ujian akhir sekolah kamu sebentar lagi Dy. Jadi jangan membuat keputusan secara mendadak. Ibu selalu mengajarkan kamu untuk selalu disiplin, dan mengambil keputusan dengan tepat. Sekarang kamu tidur, besok kamu harus sekolah kan? Nah, terserahlah kamu mau kasih jawaban pagi, siang, sore atau malam. Yang terpenting besok ya. Karena semuanya akan di urus sama ayah. Ingat ya Dy, kami begini sebagai orang tua bukan karena kami tidak sayang sama kamu, tapi awalnya kamu sendiri yang antusias sangat ingin kuliah disana. Setelah kami mendukung dan menaruh harapan besar sama kamu, masak kamu batalin gitu aja. Ingat, masa depan kamu Dy."
"Iya bu." Tidak mampu menjawab lagi, karena memang sudah terlalu telak perkataan ibunya.
"Bima, i love you." Mengirim pesan dan juga berkata dalam hati sebelum ia memejamkan matanya. Dan malam ini, Maudy mengatakannya dengan kemauannya sendiri, tanpa harus Bima yang meminta.
Ternyata jika melakukan hal tulus mampu membuatnya tertidur dengan pulas. Walau pikirannya kalut, tetapi dengkuran halus yang terdengar mengalahkan awan mendung yang sudah mengeluarkan kilatnya. Ibarat seperti suasana hatinya saat ini.
Pagi terbangun dengan semangat yang kembali ia tanamkan. Mandi, memakai seragam sekolahnya dengan rapi, menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Mengambil tasnya, dan membawa beberapa kantung plastik lainnya. Berjalan keluar kamar, melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan. Yang pertama ia tatap adalah ayahnya. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali berbicara dengan Maudy. Mungkin ayah masih marah sama aku, pikirnya.
"Sarapan, jangan telat ke sekolahnya." Ibu siap mengambilkan nasi miliknya, dan beberapa lauk yang ibunya masak.
__ADS_1
Dengan lahap Maudy menyantapnya. Mungkin balas dendam karena tadi malam makannya terlalu sedikit.
"Yah ini." Menyerahkan oleh-oleh yang ia beli kemarin setelah semuanya selesai sarapan, dan baru sekarang ia memberikan pada ayahnya, adik, dan juga ibunya. Mungkin terlalu lelah sehingga melupakannya kemarin.
"Ini untuk Tisha, khusus dari kak Kiki. Dan ini untuk ibu."
"Wah." Tisha langsung berbinar. "Bu, aku pakai ke sekolah, bagus nggak bu?" Bahkan Tisha langsung mencobanya. Ternyata benar apa yang di katakan Kiki, ini cocok untuk Tisha.
"Ada daster, ini apa? Ini sendal dari kayu ya? Ini kan mahal Dy?" Ibunya langsung menatap Maudy.
"Itu Kiki yang beli bu. Kalau daster baru Maudy yang beli, lagian mana cukup uangnya kalau beli itu." Kembali menatap ayahnya yang sama sekali belum membuka oleh-oleh darinya. Padahal disitu juga ada oleh-oleh dari Kiki dan juga papanya.
"Yah, kenapa nggak buka?" Tanya istrinya, ia tau kalau anaknya pasti akan kecewa melihat ayahnya seperti ini.
"Coba ibu aja yang buka?" Menyerahkan paper bag dan kantung plastik biasa.
Ibu Irma membuka paper bag lebih dulu.
"Wuih, ada batik yah. Ini apa ya kok berat?" Membuka satu lagi. "Yah, ini sepatu kulit asli." Menatap wajah suaminya tidak percaya. "Ini mahal kan?" Mengalihkan pandangannya ke Maudy.
"Itu oleh-oleh yang di belikan om Septian bu. Maudy lupa ngasih ke ayah waktu itu." Jelasnya.
"Ya ampun, repot-repot segala." Kembali membuka kantung plastik biasa.
"Ini sweater, nah ayah kemarin bilang kan kalau pengen beli ini? Ini kamu yang beli Dy?" Maudy menggelengkan kepalanya.
"Itu Bima yang belikan bu, khusus buat ayah. Dia juga yang pilih sendiri?" Mengatakan dengan sejujur nya. Tapi wajah ayahnya langsung berubah.
"Benarkah?" Ibunya yang merasa takjub.
"Ayah suka nggak?" Maudy bertanya.
"Suka, tapi ayah nggak enak kalau begini." Maudy mendekat ke ayahnya.
"Yah, anggap aja itu kenang-kenangan buat ayah dari Bima. Kalau suatu saat ayah bertemu dia di luar, dan ayah pakai sweater itu, Bima pasti senang. Karena pemberiannya di hargai. Anggap semua pemberiannya sebagai kenang-kenangan. Yah, maaf kalau aku sempat melawan ayah, aku siap kuliah di luar negeri yah, aku siap berangkat." Memantapkan keputusannya saat ini. Ibu dan ayahnya langsung tersenyum.
"Itu baru jagoan ayah!" Memeluk putrinya dengan hangat.
"Ih, mbak aku nebeng ya, aku udah telat ini." Melihat sandiwara di pagi hari Tisha merasa waktunya terbuang.
"Mana bisa Tisha, kita kan nggak searah." Menolak mentah-mentah permintaan adiknya.
"Is, ya ampun. Mbak kan kencang bawa motornya, kan masih sempat mbak." Ayahnya tau, bahkan ia lebih tau sifat anak-anaknya dari pada istrinya sendiri.
"Udah, Tisha berangkat sama ayah. Ayah antar kamu?" Maudy tersenyum dan mencubit pipi adiknya. Ia merasa menang pagi ini.
"Yah, tapi bukan kah lebih jauh ayah nanti kalau antar aku?" Malah protes ketika di antar ayahnya.
"Ya kalau ayah telat, ayah salahkan kamu." Berjalan meninggalkan anaknya.
"Iya udah yah, iya Tisha naik angkutan umum aja. Masih sempat, dari pada ayah bolak-balik." Mengalah, Maudy malah sengaja menggeber kan suara motornya membuat Tisha semakin jengkel.
"Bu, aku pergi." Menyalim tangan ibunya dengan wajah yang sudah di tekuk beberapa lipatan. "Bu, pokoknya kalau aku SMA nanti, aku juga mau naik motor kayak mbak!" Ibunya hanya tertawa melihat anaknya yang satu ini.
"Ayo?" Ucap ayahnya yang sudah di dalam mobil.
"Nggak ah, aku naik angkutan umum aja yah. Nanti ayah telat." Berjalan terus ke arah pinggiran jalan raya.
"Nggak, ayah bercanda. Ayah masuk jam 9 nanti kok. Pulang ke rumah lagi juga masih sempat?" Langsung tersenyum dan berlari untuk segera masuk mobil ayahnya.
"Yah, nanti kalau aku SMA aku juga mau naik motor kayak mbak! Pokoknya aku belikan motor ya yah!" Mengaduh lagi ke ayahnya, mungkin tidak puas kalau hanya berbicara dengan ibunya. Lagian juga Maudy di belikan motor kan oleh ayahnya.
"Tapi kamu harus dapat juara kelas kayak mbak mu." Melajukan mobilnya memecahkan keramaian di jalan raya pagi ini.
Tisha langsung menyandarkan tubuhnya, rasanya itu tidak mungkin.
Lebih baik aku belajar naik motor trail aja, biar bisa pakai punya mbak!
--__
__ADS_1