
Bima
Aku nggak tau sekarang, mau gimana aku nggak tau! Jujur, aku kecewa, melihat Maudy dekat dengan lelaki lain. Sumpah, aku ini tidak bisa menghilangkan sifat ku yang begini, pencemburu. Dulu dia yang mengatakan kalau aku harus berubah, jangan terlalu pemalu. Iya, aku belajar untuk itu, setelah aku setiap hari di kantor, aku sering gabung dengan yang lainnya. Sering ngadepin klien, rapat. Lama-lama aku jadi terbiasa berbaur, walau kadang aku juga masih sering malas ada di keramaian.
Aku berharap, setelah aku pulang ke rumah, Maudy hubungi aku, setidaknya lewat pesan dan meminta maaf. Tapi ini nggak sama sekali. Meskipun ku lihat dia online. Sebegitu gengsinya apa dia minta maaf? Iya aku tau, kalau dulu aku memang tidak bisa berdiam lama dengannya. Tapi beberapa tahun ini bisa mengubah ku, dengan jarak kami yang terpisah jauh. Dari situ aku belajar, dengan kata terbiasa. Aku akan mematikan ponsel pribadiku, dan hanya mengaktifkan ponsel khusus untuk kerja, mulai dari sekarang. Aku ingin tau reaksinya, apa dia bakal cari aku? Memang, sekarang dia adalah tunangan ku, tapi aku juga nggak salah kan kalau kasih sedikit pelajaran, supaya dia ngerti perjuangan aku selama ini.
Aku tidak bisa tidur, ku lirik jam dinding ternyata sudah pukul 10 malam lewat beeberpa menit. Aku memutuskan keluar rumah, mencari angin malam, biar sedikit menghilangkan hati dan otakku yang memanas. Aku beralasan mau ke rumah sakit, tentu papa tidak akan banyak bertanya lagi.
Dan anehnya, aku malah bolak-balik sekitaran rumah Maudy. Sudah tiga kali malah, ku lihat lampu di dalam rumah dan teras sudah mati, mungkin dia juga sudah tidur dengan tenangnya. Berbeda sama aku, aku malah seperti orang gila sekarang. Tak tau arah tujuan, hingga yang terkahir aku melewatinya. Aku langsung tancap gas pulang kerumah.
Aku langsung masuk kamar, membanting tubuh ke ranjang. Mata tetap tak bisa terpejam, aku menatap langit-langit kamar. Kenapa jadi aku sendiri yang bingung? Padahal aku kan yang niat buat nggak kasih kabar. Ah, aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku bisa sesayang dan secinta ini sama Maudy??
Entah jam berapa aku tidur tadi malam, tapi yang aku tau sekarang aku sudah bangun pukul 6. Bergegas kembali ke kantor dan menghadapi setumpuk kerjaan. Berjumpa karyawan lagi. Huh ku hembuskan nafas kasar, lalu melirik ponsel ku sebelum pergi. Aku langsung pergi tanpa menyentuhnya.
Bima end.
***
Hari ini Maudy kembali beraktivitas, dengan mata yang sedikit bengkak bisa ia tutupi dengan foundation. Entah hal apa yang di bicarakan Bima semalam dengan Ilham, tampaknya Ilham sedikit menjaga jarak ketika bertemu dengannya. Biarlah, kenal Ilham juga baru satu hari, batinnya.
"Setelah satu bulan, kira-kira apa saja yang sudah terbangun?" Maudy menanyakan hal itu pada Ilham.
"Hem, kalau sudah satu bulan biasanya seluruh batu sudah berdiri, rekonstruksi sudah nampak. Tapi itu jika tidak ada kendala, seperti hujan dan lainnya." Maudy mengangguk.
"Oh begitu, baiklah." Masih berdiri melihat para pekerja yang mulai aktif sejak hari ini.
"Apa ada yang mau di tanya lagi?" Diam sebentar, sepertinya tak ada. Maudy menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Kalau begitu, aku permisi."
"Eh Ham tunggu." Ilham menghentikan langkahnya. "Ada yang mau aku tanya, tapi bukan soal kerjaan." Tampaknya Ilham siap mendengar, dengan dia mengangguk. "Apa semalam kamu telepon aku?" Sekarang Ilham berbalik, dan berdiri di hadapan Maudy.
"Iya, kenapa?" Bingung, mau tanya gimana caranya.
"Apa kamu ada ajak aku datang kerumah kamu?" Ilham mengangguk lagi.
"Tapi kemarin saudara kamu yang angkat, katanya kamu lagi keluar. Jadi ya udah, aku tunggu kamu nggak ada telepon balik."
Jadi Bima nggak bilang kalau dia itu tunangan aku???
"Oh itu, iya aku nggak ada pegang ponsel lagi."
"Jadi gimana?" Ha? Maudy mendongak menatap Ilham. "Iya, gimana? Apa kamu mau nanti malam aku jemput main ke rumah aku? Sekalian kita ke rumah Kiki." Cobaan ini namanya, kalau Maudy tak menolak berarti benar yang di katakan Bima.
"Kayaknya nggak bisa deh Ham. Aku mau jenguk kakak ipar, maksudnya calon. Soalnya dia lagi lahiran."
"Ya sudah, nggak apa? Next time ya?"
Next time? Maksudnya dia bakal tetap ajak aku gitu? Nggak, mulai sekarang aku harus jaga jarak. Tapi mau bagaimana, bahkan kalau aku datang kesini orang yang aku jumpai juga dia kan?
Maudy kembali ke rumah, setelah melihat hari ini semuanya berjalan lancar, bahan bangunan juga sudah lengkap, tinggal menunggu waktunya. Selesai makan siang di rumah, Maudy akan kembali pergi ke salah satu perkebunan, yang menamakan cabai, tomat, atau sayuran lainnya. Maudy berniat akan meminta mereka setiap panen akan mengantar ke resto yang akan ia buka? Kenapa, karena jika membeli di supermarket atau pasar, harga akan lebih mahal. Jadi lebih baik, langsung pada taninya. Harga pertama dari tangan penjual pertama pasti jauh lebih murah.
Ini daerah desa, semuanya masih asri. Walau di siang hari yang terik, tak membuat aktivitas para penanam sayuran berhenti melakukan kegiatan berkebun nya.
"Permisi ibu, mau tanya, apa ini kebun milik ibu?" Seseorang yang di tanya langsung membuka topi berukuran besar, dan masker di wajahnya.
"Iya neng, kenapa?" Maudy tersenyum.
"Gini, kalau setiap panen apa ibu keberatan kalau seluruh hasilnya saya yang tampung? Jadi ibu juga nggak perlu repot buat menjualnya ke pasar. Gimana bu?" Seketika wajah sang ibu ini berbinar.
__ADS_1
"Bisa neng bisa, saya mau. Memangnya mau untuk apa neng?" Maudy mengucap syukur dalam hati, tak apa panas hari ini membakar kulit, yang terpenting ada hasil, pikirnya.
"Saya mau buka resto bu, jadi kan lebih bagus langsung beli dari perkebunan, masih fresh." Maudy bertanya soal harga, tapi ibu tani ini menjawab katanya kalau soal harga bisa berubah kapan saja, tak apa yang terpenting sudah dapat.
"Hem sekitar dua bulan lagi bu, saya datang kesini, kalau begitu saya permisi dulu ya?"
Tujuan selanjutnya, adalah nelayan. Mencari hewan laut, terutama seafood.
Ya melihat jam di tangannya, masih sempat lah pulang sore. Nanti malam bisa lihat kakak ipar di rumah sakit.
***
Maudy turun dari motornya, tidak menggunakan mobil hari ini. Ayah juga harus bekerja kan, dan itu pilihannya. Waktu akan cepat terkejar jika menaiki motor. Maudy memandang para pelayan yang ada di pinggir laut. Sepertinya mereka masih sibuk dengan hasil tangkapan hari ini.
"Permisi pak?" Menyapa dengan ramah.
"Iya ada yang bisa saya bantu?"
"Begini pak, biasanya bapak kalau lagi berlayar untuk tangkap ikan, bapak juga bisa menangkap Cumi?" Nelayan langsung meletakkan jaringnya dan menanggapi percakapan ini.
"Iya, setiap hari juga ada. Tapi kalau laut sedang pasang saya ya nggak bisa ngelaut neng." Wajahnya berubah sendu, sepertinya itu beban terberat dalam pekerjaannya, tidak bisa memberi nafkah keluarga, maksudnya.
"Oh gitu. Nama bapak siapa?" Maudy berbicara sedikit keras, karena ombak laut dan angin membuat suara mereka juga seperti terombang-ambing.
"Nama saya Sobri. Kenapa ya neng?"
"Gini pak, mungkin sekitaran dua bulan lagi saya mau buka resto, jadi kalau bapak berminat, bapak bisa antar hasil panen setiap hari ke resto saya?"
"Beneran neng?" Wajahnya langsung berbinar. Seperti menemukan harta Karun yang lama tersembunyi.
"Iya pak, bapak nggak keberatan kan kalau mengantarkan? Nanti saya kasih alamatnya." Pak Sobri mengangguk antusias.
"Apa ini neng?"
"Buat keluarga bapak, bapak semangat ya tangkap ikannya." Maudy langsung pergi, dan ketika ia menoleh tampak pak Sobri bersujud di perahu kecil miliknya. Senyumnya semakin mengembang, melihat ternyata uang segitu sudah mampu membuat orang lain bahagia.
Oke, tugas hari ini selesai.
***
"Kamu baru pulang Dy?" Ibu sudah menyambut di depan pintu dengan memegang sapu, sepertinya tengah beresin rumah.
"Iya. Ayah udah pulang bu?" Terlihat wajah Maudy yang sangat lelah.
"Udah, ayah di dalam. Kamu mandi sana, bau keringat. Wajah kamu juga sepertinya lelah sekali." Melanjutkan aktivitas menyapunya.
"Bu, nanti malam aku mau kerumah sakit, liat kakak ipar Bima." Berteriak sebelum masuk ke dalam kamar. Maudy langsung membuka ponselnya, bermaksud mengubungi Bima, tapi sudah beberapa kali panggilan nomornya masih tidak aktif. Ya sudah, mandi aja dululah, pikirnya.
Pukul sudah menunjukan jam 7 malam. Maudy ikut makan bersama keluarganya sebelum pergi ke rumah sakit. Lain sekali disini, makan bersama keluarganya masih bisa berbincang, tetapi tadi malam, bahkan rasanya untuk menelan makanan pun susah karena terlalu hening.
"Dy, teman ayah bilang kalau adiknya punya tambak udang. Jadi ayah mau tanya dulu sama kamu, gimana kalau ngambilnya dari mereka aja?" Maudy mengambil air putih dan meneguknya.
"Bagus dong yah. Iya nggak apa, Maudy mau kok. Tapi kita juga harus kesana, biar bisa ketemu langsung sama pemiliknya." Mengelap mulutnya dengan tissue. Sepertinya sudah selesai makan.
"Ya sudah, Minggu ini kita kesana ya?" Sepertinya hari-harinya akan semakin di sibukkan sekarang. Huh, harus pandai bagi waktu setelah ini.
"Bu, ayah aku pamit ya?" Sudah bangkit dari duduknya.
"Kamu mau naik motor?" Maudy mengangguk. Karena memang itu kan yang dia punya?
__ADS_1
"Naik mobil ayah aja, mau naik motor dengan pakaian kamu yang seperti itu?" Maudy menatap penampilannya sendiri.
"Hehe." Nyengir, iya juga ya batinnya.
"Ya udah, mana kunci yah?"
"Di dekat meja TV." Cus, langsung berangkat sekarang.
***
Jalanan kota memang selalu ramai, Maudy sengaja melajukan mobilnya dengan pelan. Sesekali melirik ponsel yang ia letak di sebelah kemudi. Berharap Bima membalas pesannya. Sudah ada kata maaf yang ia selipkan disana. Tapi tetap saja tak ada jawaban. Kemana Bima? Pikirnya.
Maudy sudah memasuki area rumah sakit. 45 menit perjalanan kesini, mungkin kalau bawa mobilnya tak selambat tadi bisa lebih cepat sampainya. Maudy langsung turun saja, soal ruangan ia juga sudah tau. Berjalan gontai melewati lorong rumah sakit.
Sampai ruangan paling ujung sudah terlihat, ruangan semalam yang ia datangi. Padangannya menangkap sosok yang paling ia benci, duduk berdua dengan orang yang ia sayangi. Apa lagi ini, batinnya kesal.
Ingin sekali berbalik, sebelum sosok yang ada disana menyadarinya kehadirannya. Tapi Maudy juga tidak mau kedatangannya menjadi sia-sia. Sudah ada dua paper bag yang ia bawa malah, pakaian bayi yang akan di berikan pada kakak ipar. Sempatkan beli tadi setelah berkeliling satu harian.
Pantas saja tidak membalas pesan, ternyata lagi sibuk dengan yang satu ini.
"Maudy, kamu datang?" Mama Lisa keluar dari ruangan, menatap Maudy dan menoleh menatap Bima yang sedang duduk dengan Luna. Bima langsung mendongakkan wajahnya setelah Mendengar mamanya menyebut nama kekasihnya.
"Iya ma. Gimana keadaan kakak ipar? Dan jenis kelaminnya apa ma?" Tahan Maudy, jangan menoleh. Anggap mereka tidak ada, begitu yang terus ia ucapkan dalam hati.
"Anaknya cowok lagi." Mama tertawa kecil. "Keduanya juga sehat." Menggandeng lengan Maudy untuk masuk kedalam ruangan. Matanya langsung menatap ke seluruh isi ruangan, ini malah seperti hotel, batinnya.
Apa kalau aku melahirkan bakal begini juga ya? Ah pikirannya selalu ngaco, Maudy menggeleng berulangkali.
"Dy, kamu sendiri?" Mas Rio sudah menyambutnya.
"Iya mas." Maudy langsung mendekat ke arah Siska berbaring, mengucapkan selamat dan memberikan paper bag yang ia bawa. Untung belinya netral, bisa di pakai cowok atau cewek. Kalau belinya warna pink, gimana tuh.
"Aku lihat baby nya ya kak, boleh kan?" Siska tersenyum.
"Boleh, tuh dia juga lagi bobok." Maudy langsung beralih ke box dimana baby tidur. Tapi pikirannya selalu menelisik. Ngapain Bima di luar? Negur aku juga nggak? Oh jadi dia lebih milih duduk sama wanita itu ya?
"Namanya siapa nih mas?" Tak mengalihkan pandangan dari box bayi.
"Dafa Senta Nugraha."
"Wih, bagus namanya mas." Kini Maudy duduk di sofa ruangan bersama mama Lisa. Berkali-kali memanjangkan lehernya agar dapat melihat sebenarnya Bima ngapain.
"Kamu nggak samperin Bima Dy?" Maudy diam, mama Lisa sepertinya yang tau situasi ini.
"Bima masih diluar sama Luna io." Rio membuang muka, sepertinya dia juga tidak suka.
Apa-apaan Bima itu!!
"Hem, aku nggak bisa lama-lama deh ma, sebentar lagi juga pulang." Rio dan mama Lisa saling tatap. Apa Maudy marah? Itu yang ada di pikiran mereka.
"Apa ada urusan lagi?" Eh mertua tak rela menantunya secepat itu mengatakan untuk pulang.
"Nggak sih ma, cuma lelah aja satu hari ini ada kegiatan." Alasan, tapi memang benar dia juga lelah kan?
"Mas panggil Bima dulu." Langsung beranjak.
"Mas, nggak usah. Udah nggak apa, aku bisa ngerti kok." Maudy menahan sebelum Rio benar-benar memanggil Bima.
"Beneran?" Maudy mengangguk dan tersenyum, menutupi kekecewaan yang ada di hati setiap detiknya di ruangan ini.
__ADS_1
--__