
Maudy langsung menebar senyum ketika mendapat kabar kalau Bima akan pulang, karena waktu di setiap negara berbeda, jelas saat ini Maudy merasakan malam disini, sementara Bima melakukan keberangkatan siang hari.
Dengan cekatan Maudy membantu ibunya memasak, pelanggan resto sedang ramai, karena ini juga waktunya mereka mengisi perut. Tak kenal lelah, walau besarnya perut tak seperti ibu hamil lain jika di ukur dari usia kandungannya.
"Dy, kamu duduk aja kalau lelah. Ngapain juga bantu ibu." Maudy malah tersenyum dan mendekat ke arah ibunya. Mengatakan kalau dirinya tidak lelah, malah senang.
"Bima beneran pulang? Katanya satu minggu?"
"Ya malah bagus dong bu, jadi aku nggak tidur sendiri." Mengambil satu buah apel dan memakannya, duduk santai di dapur belakang resto. Huh tarik nafas jika merasa sesak melanda. Tendangan kecil dari dalam perutnya membuatnya semakin semangat menjalani hari, tanda kalau anak yang dia kandung sehat.
"Besok jadwal periksa kita nak, kalian sehat-sehat ya?" Mengelus perutnya lagi, tersenyum menatap langit yang penuh bintang.
Hingga resto tutup, Maudy masih setia menunggu kabar Bima, ya walau mustahil. Perjalanan tidak mungkin memakan waktu dua atau tiga jam, tapi perasaan tak tenang tiba-tiba saja melanda, seperti ingin cepat-cepat bertemu Bima. Tapi Maudy meyakini kalau ini hanya kemauan anaknya yang memang tidak bisa jauh dari papanya.
"Sebentar lagi nak, kita tidur dulu, semoga besok pagi kita bangun sudah ada papa ya?" Memiringkan posisi tidurnya, meletakkan tangannya di bawah kepala. Berharap waktu cepat berputar, tidak puas tidur tak masalah, yang terpenting bisa cepat bertemu suaminya.
***
Berita menyebar begitu cepat, kisak-kisuk dari ART nya terdengar ketika Maudy baru saja ingin menuruni anak tangga, mereka sama-sama berdiri di depan televisi, seperti ada tontonan menarik sampai-sampai mereka melupakan pekerjaannya dan lebih memilih melihatnya.
"Bagaimana kalau itu benar tuan kita? Bukan kah negara dan tujuannya sama? Tuan kita juga harusnya sudah sampai kan?" Maudy semakin tidak mengerti apa maksudnya, perlahan menuruni anak tangga.
"Iya, jangan deh. Kasian nyonya muda, aku nggak sanggup melihatnya seperti ini. Apalagi dia tengah hamil."
"Eh itu tuh nama-nama korban disebutkan." Mereka diam lagi, reporter TV kembali menyebut siapa saja penumpang pesawat dengan tujuan negara Indonesia.
"Bi, ada apa? Kalian lihat apasih serius sekali?" Mereka serempak menoleh, saling pandang, apa harus mengatakannya? Batin mereka berperang dengan pikirannya.
"Itu nyonya ada-"
"Eh nyonya mau sarapan pakai apa?" Secepat itu salah satu ART memotong ucapannya.
"Pengen makan nasi goreng bi, tapi nanti aja deh bi buatnya tunggu Bima sampai." Mereka langsung saling senggol saling pandang. Maudy berjalan ke arah sofa dengan menggenggam ponselnya yang akan menghubungi Bima.
Tetapi melihat wajah para ART sepertinya aneh, takut dan gugup. Maudy langsung mengamati layar televisi, sebenarnya apa yang mereka lihat sambil menempelkan ponsel di telinganya. Tapi nihil nomor Bima tidak aktif.
"Kemana sih? Bukankah harusnya sudah sampai?" Bingung, sampai mengulang panggilan.
Maudy bangkit dan berjalan ke arah televisi, dimana semua ART masih berkumpul disana.
"Kalian lihat apa?" Maudy mendengarkan lagi reporter bicara, tapi hanya sedikit karena harus terjeda dengan iklan.
"Berita apasih? Pembunuhan ya bi? Sampai wajah kalian tegang semua." Mereka menggeleng bersamaan.
Lalu Maudy memindah Chanel televisi dan mencari kartun kesukaannya yang ada hanya di pagi hari, tapi semua Chanel penuh dengan berita kabar duka terbaru.
"Ini, ini benarkan?" Maudy masih fokus menatap ke layar televisi, menajamkan mata dan telinga, berharap dan sangat berharap kalau ini tidak benar, tapi semua fakta sudah mengarah kesana ketika salah satu reporter televisi mengatakan "baik, berikut kabar mengenai pencarian korban pesawat X yang melakukan penerbangan dari negara X dengan tujuan Indonesia. Dugaan sementara ini di karenakan kabut yang tebal tapi tidak ada surat turun untuk menunda keberangkatan" Tungkasnya.
Maudy kembali mengusap layar ponselnya, dengan tangan gemetar mencari panggilan terakhirnya, lalu secepat mungkin menekan untuk menghubungi Bima, baik ke nomor ponsel Indonesia dan nomor ponsel yang di pakai Bima ketika berada di luar negeri.
"Nyonya, nyonya sebaiknya duduk dulu. Kita harus menunggu kabar selanjutnya, jika sampai siang hari tuan tidak ada kabar baru lah nyonya bisa bertindak, atau setidaknya hubungi dulu keluarga tuan Bima." Maudy menatap semuanya dengan dua bayangan, kabur, semua terasa gelap. Yang dia sendiri yakin kalau memang Bima ada di dalam pesawat tersebut, mulai dari waktu penerbangan dan tujuan keberangkatan, semuanya benar. Hanya saja untuk mendengar siapa saja nama penumpang Maudy tak sanggup.
__ADS_1
"Bim, nggak mungkin?" Maudy menjerit, menangis sejadi-jadinya.
"Nyonya, nyonya." Mereka juga panik, berusaha menenangkan Maudy yang sepertinya sudah kacau sekarang.
"Aw, bi perutku bi, perutku sakit." Rintihnya sambil memegang perut.
"Hubungi ambulance sekarang!" Perintah ART tertua di antara yang lain.
"Eh tidak, hubungi keluarga nyonya, cepat!" Yang satu lari ke depan untuk meminta bantuan securitty dan dua bodyguard yang menjaga rumah. Dan yang satu berlari ke dapur untuk mengambil air, nah yang satu jelas menghubungi keluarga nyonya mereka. Dengan tangan yang bergetar memegang ponsel, menunggu panggilan di jawab di sebentar telepon.
***
Keadaan rumah sakit semakin riuh dengan kedatangan Maudy dan mama Lisa serta papa Adi. Maudy sudah langsung dibawa masuk ke dalam ruangan. Ada dua ART yang ikut untuk menjelaskan semua kejadian.
"Pa Maudy pa." Mama Lisa menangis sesegukan.
"Ini bagaimana bisa terjadi?" Papa Adi bertanya kepada mereka.
"Begini tuan besar, tadi malam sebelum tidur nyonya muda bilang kalau tuan Bima sudah dalam perjalanan pulang, dan menyuruh kita untuk tidak tidur terlalu lelap, dan membuka pintu ketika beliau pulang nantinya. Lalu, sampai pagi hari tuan Bima tidak juga sampai dan malah ada berita di televisi kalau pesawat jatuh dan korban belum ditemukan, lalu keberangkatan pesawat dengan tujuan Indonesia."
"Kenapa Bima nggak bilang ke saya kalau mau pulang." Papa Adi meraup wajahnya dengan kasar, sepertinya dia juga syok.
"Pa, mama juga dengar berita itu, mama lihat di sosial media, tapi mama nggak tau kalau Bima ada di dalam pesawat itu pa." Papa Adi memeluk istrinya, dia juga diam, terlihat matanya memerah seperti menahan tangis.
"Memang benar tuan besar, kalau tuan Bima pulang secara mendadak, itu juga kami mendengarnya dari nyonya muda."
"Kalian pulanglah, jaga rumah dengan baik." Mereka mengangguk dan pulang dengan di antar supir.
Hati orang tua mana yang tidak kalut, melihat menantunya mengalami kontraksi, anaknya belum juga ada kabar. Untuk memastikan juga bagaimana.
Beberapa menit setelah kepergian suaminya, nampak seseorang berlari sambil menangis.
"Mbak, bagaimana keadaan anakku mbak? Apa semua itu benar mbak? Bima? Bagaimana bisa?" Mama Lisa memeluknya, keduanya menangis. Di susul oleh ayah Subi dan Tisha, mereka juga ikut meneteskan air mata. Apalagi dengan ayahnya, yang baru saja sembuh dari sakitnya. Mendengar kabar ini menjadikan dirinya juga syok berat. Apa yang terjadi dengan anak dan menantunya saat ini, sungguh bukan hal yang diinginkan setiap orang tua manapun.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Ayah langsung bertanya ketika melihat dokter keluar dari ruangan.
"Kami terpaksa membiusnya dengan obat penenang, agar pasien bisa melupakan dulu kejadian yang membuatnya syok berat hingga mengalami kontraksi. Kandungan masih baik, kita tunggu dua sampai tiga jam kedepan."
"Dokter, apa kami boleh masuk?"
"Boleh, tapi hanya satu orang saja, saya tidak ingin pasien terganggu, pastikan tidak ada suara keributan." Dokter kembali berbalik membuka pintu, dan mempersilahkan ayah Subi untuk masuk, tapi dokter juga harus menemani.
"Dy?" Ayah mengusap lembut puncak kepala anaknya. "Kamu kuat nak, kan ayah sudah bilang kamu kuat. Buktikan itu dengan ayah dan ibu nak." Air mata yang sudah siap jatuh menetes dengan derasnya, menangis tanpa suara. Dokter yang berdiri di sudut ruangan langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Sungguh hal ini pernah di rasakannya sebagai seorang ayah, tapi bedanya dokter benar-benar kehilangan anaknya untuk selamanya.
"Pak, biarkan pasien kembali beristirahat." Ayah Subi mengangguk dan berjalan keluar, tak lupa ia berdoa dalam hati untuk kesembuhan anaknya. Sesekali menoleh ke arah anaknya yang berbaring dengan terpasang selang infus dan bantuan oksigen melalui hidung, matanya yang masih menutup seakan benar-benar ingin melupakan kejadian yang di dengar beberapa jam lalu.
***
Hingga jam menunjukkan pukul 12 siang, Maudy belum juga membuka matanya, dan papa Adi yang pergi juga belum kembali dengan membawa kabar baik ataupun buruk. Ayah Subi mendatangi ruangan dokter yang menangani anaknya, mana yang di katakan hanya dua sampai tiga jam anaknya bisa kembali sadar, tapi sampai saat ini Maudy juga belum memberi tanda-tanda walau hanya menggerakkan tangan.
"Pak, mohon maaf. Jika sesuai obat yang kami berikan memang segitu, jika lebih dari itu berarti pasien memang sedang tertidur. Mohon tunggu sebentar, kami akan melakukan pemeriksaan." Ayah Subi kembali keluar dengan perasaan khawatir yang memenuhi hati dan pikirannya. Belum lagi melihat kedua wanita yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Ayah Subi duduk sendiri di sudut rumah sakit. Berdoa jika ini tidak benar, dan anaknya bisa kembali pulih, begitu juga Bima menantunya, semoga ini tidak benar.
__ADS_1
"Tisha, sebaiknya kamu pulang saja, dirumah tidak ada orang. Kamu bisa pulang naik taxi kan?" Tisha mengangguk lemah.
"Mbak Maudy yah." Dia memeluk ayahnya, jelas seroang adik juga akan merasa sedih melihat keadaan saudaranya yang melemah.
"Pulang lah nak, doakan mbak mu baik-baik saja." Tisha mengangguk dan menghapus beberapa bulir air mata yang jatuh. Bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ibu dan ayahnya.
Ya Tuhan, gantikan saja nyawa anakku dengan ku. Aku sudah tua, dan anakku lah yang harusnya merasakan bahagia di dunia ini, aku sudah cukup bahagia nantinya melihat dari alam yang berbeda.
"Keluarga pasien." Ayah Subi, ibu serta mama Lisa berdiri, mendekat ke arah dokter. Sepertinya ada hal penting yang akan di sampaikan.
"Begini, pasien sepertinya mengalami syok berat, keadaannya semakin melemah. Saya takut ini berakibat fatal dengan janinnya." Ibu langsung melemas, kaki bahkan tak sanggup lagi menopang, tubuhnya terhuyung ke belakang, untung dengan cepat suaminya menangkap.
"Bu, ibu, tahan, ibu harus kuat."
"Jadi bagaimana dok?" Mama Lisa membuka suara.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU." Hah? Mereka serempak saling pandang. "Jangan khawatir, bantu dengan doa." Kemudian dokter pergi meninggalkan mereka. Ibu melihat Maudy yang masih terbaring tak sadarkan diri, membayangkan hal yang menjadi ketakutannya saat ini. Tidak, dia tidak ingin kehilangan anak dan cucunya.
"Hallo pa? Bagaimana?" Mama Lisa langsung mengangkat telepon ketika melihat suaminya menghubungi.
Ibu dan ayah Subi siap untuk mendengar.
"Apa??" Mama Lisa melemas dan langsung terduduk di lantai, tak ia idah kan lagi panggilan yang masih tersambung, padangannya kabur, detik kemudian mama Lisa kehilangan kesadaran.
***
Malam, Maudy sudah kembali ke ruangan sebelum ia di pindahkan keruang ICU. Keadaannya sudah membaik, entah usaha apa yang di lakukan dokter, sehingga dengan hitungan jam Maudy bisa kembali sadar. Saat ini, semuanya tengah berkumpul di dalam ruangan, begitu juga dengan papa Adi. Dan Siska juga Rio mereka juga ikut datang kesini.
"Dy?" Ibunya mengusap lembut, Maudy langsung meneteskan air mata.
"Ini nggak benar kan bu?" Ibunya terdiam. "Ma? Pa?" Menatap kedua mertuanya dengan raut wajah yang amat pucat, mereka tau kalau saat ini mau membutuhkan kepastian dan penjelasan.
"Dy, kamu jangan bebani dengan hal ini dulu, ingat Dy, kamu masih mengandung." Maudy menggeleng dan menangis.
"Katakan kalau ini nggak benar." Dia masih tetap berharap ini mimpi. Dan terbaringnya Maudy disini juga hanya ketidaksengajaan, atau kesalahpahaman yang mengira suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat.
"Masih ada korban yang selamat, tidak semuanya meninggal. Papa juga berharap Bima selamat." Mereka serempak mengaminkan, semoga saja.
"Pesawat tidak jatuh ke laut dan juga tidak jatuh di langsung ke tanah, badan pesawat tersangkut di pepohonan, entah pohon seperti apa yang bisa menopang bobot pesawat. Dan pesawat meledak setelah satu jam mengalami jatuh, jadi bisa di pastikan masih ada yang menyelamatkan diri. Berita yang kamu dengar tadi pagi, itu belum pasti." Maudy terdiam dan mengelus perutnya, hanya mampu menatap ke langit-langit ruangan rumah sakit.
"Dy, kamu makan ya nak?" Maudy menggelengkan kepalanya dengan lemah, untuk mengingat makan saja tidak mau, apalagi untuk makan.
"Dy, ingat ada dua anak yang berada di kandungan mu."
Ibu benar, aku harus sehat kembali, demi kalian.
Ponsel dari salah satu di antara mereka yang berada di ruangan berdering, mereka saling pandang dan Rio berjalan keluar ruangan, ternyata ponsel miliknya.
Sesaat Rio kembali dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan, sepertinya ingin tersenyum tapi juga sedih.
"Pa? Bima sudah ditemukan. Kita kesana sekarang pa?" Maudy mengucap syukur dalam hati, dan berharap Bima masih dalam keadaan bernyawa.
__ADS_1
"Kalian semua tunggu disini, kami akan pergi." Mama Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya kembali pecah, jantungnya berdegup kencang, entah hal apa yang akan dia dengar nantinya.
--__