Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kecemburuan!


__ADS_3

Semua mahasiswa tampak tersenyum hari ini. Dengan seragam yang kompak dan mengenakan topi boga. Berbagai macam make up menghiasi wajah setiap mahasiswi. Iya hari ini adalah acara wisuda mereka. Setelah berjuang beberapa tahun, melakukan sidang, menyusun sekripsi. Dan akhirnya done, gelar sudah mereka dapatkan. Ah selamat buat para mahasiswa dan mahasiswi yang tampan dan cantik.


"Ibu, geser sedikit. Nah ya begitu." Siap untuk mengambil gambar pada keluarga.


"Selamat ya nak." Ucapan yang berulang kali Maudy dengar hari ini.


Iya ibunya datang bersama ayahnya, tapi tidak dengan Tisha. Dia di titipkan oleh tetangga dekat ibu. Karena ujian ia tidak bisa ikut. Awalnya Maudy juga kaget, setelah jam 5 terbangun, karena akan mempersiapkan semuanya. Ada seseorang yang tengah tidur di sampingnya, ia sangat kenal wanita ini. Kenal sekali malah. Tanpa berpikir, Maudy langsung memeluk ibunya. Hingga yang di peluk terbangun.


"Udah selesai kan photonya? Kita balik aja yuk?" Sepertinya ayah yang tidak betah terus berada dalam keramaian orang bule.


"Ya udah yah." Maudy juga pasrah. karena memang sudah lelah, make up juga terasa berat di wajahnya. Mungkin karena terlalu tebal.


Mereka berangkat di antar supir, dan pulang juga dengan supir pastinya. Ternyata supir suruhan omnya masih stay disini.


"Dy, tunggu." Suara teriakan yang Maudy kenali. Lagian juga memanggilnya dengan bahasa di negaranya, sudah pasti tidak salah, ini Aldy.


"Ya Al?" Mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil.


"Dy, anak-anak pada ngajak makan di luar, kamu cepat banget baliknya?"


Anak-anak? Ah ogah ah.


"Nggak deh Al, kamu aja." Maudy menolak secara halus.


"Sudah sana. Tenang aja, ayah sama ibu pulangnya masih lama kok Dy." Ternyata mengerti posisi anaknya. Padahal Maudy memang benar-benar ingin pulang ke rumah. Beristirahat setelah terbangun cukup pagi, dan tidur terlalu larut. Membuatnya sangat ingin rebahan sekarang.


Maudy menoleh ke arah ibu dan ayahnya, sementara Aldy masih setia berdiri padahal sudah jelas-jelas di tolak.


"Ya udah, ayah sama ibu hati-hati ya?" Setelah menimang ternyata mau juga. Biar lah, sekalian jadi kenangan bersama teman yang lain.


"Aldy, maaf ya sebelumnya. Tapi kalau gabung sama mereka semua aku nggak bisa." Maudy mengentikan langkahnya ketika sudah berjalan jauh meninggalkan mobilnya tadi.


"Iya aku juga. Nggak kita cuma keluar berdua aja kok Dy, tenang."


Tenang? Ini maksudnya apa ya?


"Ayo?" Aldy menarik tangan Maudy untuk segera memasuki mobilnya.


"Ah iya." Maudy memasang wajah bingung. Menerka-nerka, jangan-jangan Aldy suka dengannya, ah kenapa jadi baper begini sih. Batinnya tak berhenti menebak. Karena setahu Maudy, jika orang-orang apa lagi untuk lawan jenis, jika bersikap di depan kita berbeda dan di hadapan orang lain berbeda. Itu patut di curigai, karena pasti ia mempunyai alasan tersendiri, entah itu suka atau cinta.


"Kita ke pantai karang mau nggak Dy? Bagus banget tempatnya, beda sama yang sering kamu kunjungi pastinya. Sumpah ini keren." Maudy tambah kesal mendengarnya.


"Kenapa Dy?" Melihat Maudy terdiam.


"Dengan pakaianku yang seperti ini? Setidaknya biarkan aku ganti baju dulu lah Al!" Melipat kedua tangannya. Mau enaknya sendiri tidak memperhatikan penampilan orang lain. Tadi juga janjinya mau makan kan, nongkrong, nah sekarang tiba-tiba ke pantai. Gerutunya terus dalam hati.


"Kamu bawa pakaian ganti?" Memperlambat laju mobilnya.


"Bawa kok. Kita berhenti di depan aja, itu ada toilet disana." Salah satu tempat pengisian bensin. Yang memang menyediakan toilet, di jamin bersih kalau di negara ini.


15 menit lamanya Aldy menunggu di dalam mobil. Sesekali Aldy mendongak, melihat sudah ada Maudy keluar atau belum.


Apa jangan-jangan Maudy kabur?


"Ah aku samperin aja deh."


Aldy berjalan gontai, meninggalkan mobilnya. Dan tujuannya adalah toilet. Langkahnya terhenti kala mendengar orang yang tengah berdebat, suara laki-laki dan perempuan, ini nggak salah dengar kan? Aldy mencoba mengintip.


Kenapa sih orang-orang aneh, bertengkar kenapa harus di kamar mandi. Bukan kamar mandi rumah lagi, ih!!

__ADS_1


Eh, langkahnya langsung terhenti ketika memutuskan untuk berbalik. Dan berpikir kalau Maudy lama karena ada pertengkaran orang lain disana.


Tapi kali ini tidak, Aldy langsung berlari. Ia langsung melihat dengan kedua bola matanya, Maudy yang sudah mepet di tembok dengan di apit kedua tangan kekar seorang lelaki. Aldy baru menyadarinya dan segera berbalik karena mendengar kalau orang yang betengkar itu menggunakan bahasa dari tanah air. Ah bodohnya Aldy terlalu lama menyadarinya.


"Maudy?" Dengan nafas yang naik turun tak karuan, siapa laki-laki itu?


"Heh! Lepasin Maudy nggak?" Bentaknya, persetan pasti dia juga orang Indonesia, tau lah kalau aku ngomong. Batinnya.


Baik Maudy dan seseorang lelaki tampan itu terdiam, Maudy tampak meringis, tetapi lelaki di hadapannya bahkan nafasnya tak terdengar.


"Dy ayo? Kamu nggak apa-apa kan?" Aldy langsung menarik lengan Maudy. Tapi Maudy malah menahannya seperti ingin tetap disini.


"Ayo Dy?" Maudy menoleh ke belakang. Berharap Bima mencegahnya. Ha? Ternyata Bima. Tapi kenapa bisa? Sepertinya Bima cenayang, tau saja keberadaan Maudy dimana.


***


"Kamu nggak apa-apa kan? Kamu bisa ceritakan nggak kejadiannya? Dia siapa? Dan sebenarnya ada apa? Sepertinya kalian saling mengenal?" Sebuah rasa penasaran jelas muncul di dalam kepala Aldy. Otaknya masih bekerja dengan baik, sehingga sorot matanya mengatakan kalau mereka yang betengkar saling mengenal. Terbukti dan cara Maudy menatap lelaki tadi, pikirnya.


"Pacar aku." Masih menatap dengan tatapan sejurus ke depan.


"Ha?" Lebih kaget dari beberapa menit lalu. "Ka, kamu serius?" Kali ini lebih dalam menatap Maudy.


"Iya Al." Huh. Aldy membuang nafas kasar dan langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil.


"Ya udah, kalau gitu kita pulang aja. Aku nggak mau kalau nanti hubungan kamu malah tambah rumit." Siap menjalankan mobil, putar balik ya itu lebih baik menurut Aldy. Dari tatapannya tadi mengatakan, pria bertubuh tinggi tegap, kulit putih bersih, dan wajahnya memang tampan, apalagi memakai stelan jas. Dan itu membuktikan kalau dia bukan orang sembarangan.


"Nggak apa, kita lanjutkan aja jalan ke pantai, dia juga datang kesini bersama tunangannya?" Ah Aldy memegang kepalanya, mendengar ini semua opsi yang dia rangkai di otak langsung buyar. Jauh lebih rumit ternyata.


Tadi pacar, sekarang tunangannya, gimana sih!


"Kamu nggak usah pikirin, nanti pusing. Udah hari ini aku mau liat indahnya pantai, buat suasanya jadi lebih tenang." Ucapnya membuat Aldy mengurungkan niatnya untuk putar balik, ia malah semakin tancap gas. Lebih cepat lebih baik.


Tenang suasana hati kamu kali maksudnya Dy.


"Kamu ceritakan aja kali Dy, dari pada di pendam sendiri."


"Udah ah, malas bahasnya." Masih ingin melamun dengan sejuta pikiran yang memenuhi kepalanya.


Kalau Bima disini bersama wanita itu, apa berarti Bima juga menginap dalam satu kamar?


"Ahh!!" Jeritnya tiba-tiba. Membuat Aldy langsung mengerem mendadak.


"Dy, kenapa??" Panik, ya wajahnya terlihat panik.


Ha? Aku menjerit ya barusan? Aku kira dalam hati.


"Ah nggak. Udah lanjut." Kikuk, malu, cemburu. Ah campur jadi satu. Lebih baik memejamkan mata biar tidak terasa sudah sampai tujuan.


***


Angin pantai sudah bertiup menyambut kedatangannya, rambut sudah berterbangan tidak beraturan. Bahkan wajahnya sesekali tertutup dengan rambut, ini semua karena angin.


Maudy terus berjalan menuju karang, dimana tempat yang menjadi favorit para wisatawan untuk melakukan sesi photo.


Adly ikut duduk di setelah melihat Maudy duduk dengan tenang menatap laut yang tidak memiliki ujung.


"Dy, kalau boleh aku tau maksud ucapan kamu tadi apa ya? Tunangan, tapi dia pacar kamu?"


Maudy menghela nafas kasar. Lebih enak menjadi angin yang bisa bebas berhembus. Datang dan pergi seperti yang mereka mau.

__ADS_1


"Iya aku memang pacarnya, dan dia di jodohkan dengan orang lain." Menekuk kedua kakinya, memeluk lututnya sendiri.


"Jadi, kenapa dia nggak nolak?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Nggak bisa. Semua sudah di atur papanya."


"Siapa sih papanya?" Sepertinya malah Aldy yang berapi-api sekarang, pecundang mana yang tidak bisa menolak perjodohan kalau sudah memiliki pacar, batinnya.


"Kalau memang kamu dulu tinggal di Indonesia, pasti kamu tak asing dengan Adi Nugroho." Sengaja menggantung kalimatnya, melihat reaksi Aldy dengan meliriknya. Sepertinya Aldy sedang berpikir keras.


"Maksud kamu seorang pengusaha yang terkenal?" Maudy mengangguk.


"Jadi, jadi maksud kamu yang tadi ada toilet itu anaknya? Dia pacar kamu?" Maudy mengangguk lagi. Entah kenapa jika di sebut kalau Bina pacarnya, ada sedikit hati yang tersenyum.


"Kok bisa?" Nah ini pertanyaan yang menurut Maudy aneh. Kali ini Maudy diam tidak menjawab. Biar Aldy berpikir sendiri, menyimpulkan segala sesuatunya dengan sendiri. Fix setelah ini juga tidak akan berjumpa lagi dengan seorang Aldy.


Langit yang mulai menampakkan senjanya, entah sudah berapa lama mereka disini. Sama-sama terdiam, mengurungkan niatnya untuk bertanya satu sama lain. Hingga Maudy mengajaknya pulang Aldy juga tidak protes.


"Dy, kita mampir buat makan dulu ya? Kamu mau kan?"


Aku juga lapar kali Al, mikirin Bima tuh butuh energi.


Aldy langsung membelokkan mobilnya di salah satu tempat makan. Sudah bisa di tebak, Maudy tidak akan berselera dengan menu yang ada, begitu juga dengan Aldy. Lidah mereka sama, tidak ingin mencicipi makanan yang menurutnya aneh.


"Al, maaf ya? Gini aja kalau nggak, kita makan di resto om aku. Disana semua menu makanan Indonesia. Kamu bisa tahan sedikit lapar kamu kan?" Aldy langsung mengiyakan saja.


***


Sampai di resto sudah pukul 7. Ah ya ampun Maudy merasa bersalah melihat wajah Aldy yang sudah memucat menahan lapar. Berdiri juga nampak bergetar, secepat mungkin Maudy berlari memesan terlebih dahulu.


"Kamu baru pulang mo?" Maudy tersentak dengan suara omnya.


"Ah ya ampun aku kaget om. Iya om, itu ada temanku kelaparan kasian, jadi minta di buatkan makanan dulu sama chef-nya."


"Ya udah. Kamu jangan kecapean, nanti sakit lagi. Malam ini nggak usah bantu di resto, om tau kamu pasti capek. Bermanja aja sana sama ibu kamu, besok mereka pulang?"


Besok? Kata ibu lama disini!!


"Iya om, makasih ya? Om selalu ngerti." Memeluk omnya.


"Iya-iya. Udah sana, keburu pingsan teman kamu!" Ah iya hampir lupa.


Maudy kembali membawa nampan berisi makanan yang masih mengepulkan asap. Baru saja di angkat dari kuali. Mata Aldy langsung berbinar, seperti melihat sesuatu yang di tunggu sejak lahir.


"Eh kamu mau kemana Dy? Nggak makan disini?" Melihat Maudy sudah berbalik.


"Iya inikan mau ambil makanan aku Al. Tunggu ya? Eh nggak, kamu makan aja duluan, keburu pingsan." Terkekeh sambil berjalan. Tapi tidak, Aldy belum menyentuh makanannya. Ia benar-benar niat menunggu Maudy, mengelus perutnya dan berkata 'sabar ya cacing'.


"Ya ampun kenapa belum makan Al?" Melihat semua makanan masih utuh di meja.


"Nunggu kamu lah, mana enak makan sendiri." Maudy langsung tersenyum, rasanya menjadi tak enak hati. Mereka langsung menyantap makanan yang menggugah selera. Setelah selesai urusan perut Aldy belum ingin pulang, masih mengobrol ringan dengan Maudy. Membahas rencana apa setelah ini, setelah lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Ah Maudy bahkan melupakan ibunya yang menunggu di rumah omnya sejak siang tadi.


***


Sementara di sudut resto, Bima yang mengamati Maudy sudah meremas sendok yang ia genggam.


Sepertinya kamu bahagia sekali hari ini, bersama pria itu. Tertawa dan tersenyum. Berbeda dengan ku yang harus selalu di buntuti sama wanita ini!


Tiba-tiba menggebrak meja. Sehingga beberapa pengunjung yang datang sekedar mengisi perut langsung menoleh, heran melihat Bima. Terutama dengan Luna.

__ADS_1


"Kamu kenapa Bim?"


--__


__ADS_2