
Pembangunan sudah berdiri, rekonstruksi rancangan design juga sudah terlihat jelas. Ini akan menjadi satu-satunya rumah terbesar dan termewah di kawasan Cemara. Pemilik tampak menatap puas dengan hasil yang di kerjakan tukang. Perkiraan akan selesai sekitar satu bulan lagi.
Dan hari ini, Wisnu beserta istri dan anaknya datang berkunjung kerumah kakaknya yaitu ibunya Maudy, sekalian juga melihat proses pembangunan rumahnya.
"Semua tetangga kakak pada heboh, katanya rumahnya mewah sekali." Begitu aduan pertama yang di katakan kakaknya ketika adiknya datang. Mereka berdiri di samping pembangunan rumah, Niah selaku istri Wisnu berdiri dengan perutnya yang sudah terlihat mulai turun.
"Terus kakak jawab apa?" Adik iparnya bertanya.
"Ya kakak diem aja, senyum aja, kan memang benar kalau rumahnya mewah." Wisnu menoleh dan tersenyum.
Irma, dia juga sudah menyiapkan makanan, sengaja memasak banyak karena tau adiknya akan datang.
Di lain tempat, Bian dan Tisha sedang berbicara layaknya anak muda yang membahas masalah sekolah dan teman di ruang televisi. Tisha yang selalu menertawakan Bian karena aduhannya mengenai teman barunya, yang memanggil dengan sebutan bule.
"Bahkan ya kak, guru tuh suru aku buat warnai rambut aku jadi hitam. Aneh kan, aku harus gimana coba?"
"Terus kamu nggak bilang sama mami atau papi kamu?"
"Ya bilang, kata mereka ya udah sana pergi ke salon." Heh, Bian menghela nafas. "Lagian kan, ini juga karena papi yang warnai rambut waktu tinggal diluar negeri, jadi aku kan juga ikut-ikutan." Tisha tertawa lagi.
"Eh kak, kak Mody nggak kesini? Aku rindu sama dia." Bian secepat itu mengalihkan topik pembicaraan. "Itu kenapa sih kak Bima, kalau ada aku dia nggak pernah senyum?" Ah dia baru beberapa jam disini sudah banyak mengeluh, mengoceh dan mengoceh, mengeluarkan apa saja unek-unek yang ada di hatinya.
"Apalagi waktu itu, yang aku suapin kak mo? Dia lihatin aku kayak mau nelan aku hidup-hidup." Dia mengaduh lagi kan.
"Heh, memang begitu sih kak Bima. Dia tuh ngga suka ada laki-laki yang dekat sama kak Maudy. Jangankan laki-laki, perempuan sekalipun kalau kak Bima nggak suka juga pasti dia larang." Terang Tisha, memang begitu yang dia tau.
"Masak sih?"
"Iya. Makannya kamu jangan terlalu manja sama kak Maudy kalau lagi ada kak Bima." Lagi, dia mengingatkan.
"Tapi kan kita saudara kak." Tisha hanya mengangkat bahu. Memainkan ponselnya.
"Mungkin karena aku tampan ya kak, jadi kak Bima cemburu." Tertawa sendiri mendengar omongannya.
"Iya Bian, kamu tampan." Haha mereka tertawa bersama. "Sampai-sampai teman Kakak semua pada nanya kamu, mau tau akun sosial media kamu lah, mau tau nomor kamu. Bahkan ada yang mau datang kesini kalau tau kamu disini."
"Kenalin kak, kalau cantik. Tapi kalau bisa yang kayak kak mo ya, yang natural gitu dan nggak lebay." Eh kenapa dia selalu mengucapkan nama mbak Maudy sih, batin Tisha.
"Memangnya kenapa harus seperti mbak?"
"Iya aku kagum aja gitu kak sama kak mo. Gimana ya, dia beda sama yang lain, pinter, anaknya juga supel." Tisha manggut-manggut. "Kakak sadar nggak, karena kak mo keluarga kakak jadi banyak perubahan? Mulai dari ekonomi juga." Tisha terdiam. "Seperti sekarang ini, kakak menikmati fasilitas mewah meski ayah kakak sudah pensiun. Dia tuh tipe perempuan yang mengutamakan keluarga, kalau nggak mana mungkin dia mau kuliah di luar negeri, jauh dari kalian. Dia juga pernah bilang dulu sama papi, kalau dia mau kakak nantinya kuliah dia yang biayain." Tisha menunduk meletakkan ponselnya. Meski dia tau, gimana perjuangan saudaranya, tapi kenapa saat orang lain mengatakan hal itu malah membuatnya sedih. Seperti tidak pernah menghargai itu semua, Bahkan sempat kabur dari rumah.
"Kak?" Tisha kaget. "Kok melamun? Kakak nggak dengerin aku ngomong ya?"
"Iya dengerin lah Bian."
"Kita kerumah kak mo yuk? Naik mobil papi."
"Ijin dulu sama orang tua kita." Mereka bangkit dari duduknya, Tisha masuk ke dalam kamar untuk bersiap.
"Duduk dulu, duduk tarik nafas. Sebentar ya, sebentar." Tisha mendengar suara riuh panik dari ruang tamu. Dia menyambar jaket dan berjalan keluar.
"Sudah? Ayo kita langsung kerumah sakit."
"Ibu, kenapa?" Tisha berjalan tergesa-gesa.
"Tante kamu mau lahiran, kita kerumah sakit sekarang."
"Ayah dirumah aja ya yah? Nggak ada yang jaga rumah." Berteriak sebelum pergi meninggalkan rumah.
Ternyata Bian juga sudah ada di mobil, membantu maminya untuk naik ke mobil. Tisha bingung.
"Bu, sebentar aku ambil ponsel mau kabarin mbak." Dia berlari.
"Cepetan Tisha." Berteriak lagi.
"Hu, hu, sakit kak." Mengaduh dan mengelus perutnya. Wisnu selaku suaminya sesekali menoleh ke belakang, tempat dimana istrinya duduk bersama kakaknya. Keringat dingin keluar dari wajahnya.
"Sudah bu." Tisha naik ke dalam mobil. Dan omnya langsung melajukan mobil, memecahkan jalannya raya di siang hari.
"Semoga lahiran istrinya lancar." Begitu doa para pekerja yang sempat melihat istrinya Wisnu tiba-tiba mengeluh sakit.
***
"Gimana dok?" Panik, karena belum juga anaknya keluar dari rahim istrinya.
"Pak, sebaiknya kita melakukan tindak operasi, soalnya istri bapak kelihatannya sudah sangat tidak kuat, mengingat juga usianya yang sudah lebih dari 30 tahun."
"Iya tidak masalah dokter."
"Kalau begitu anda bisa menandatangani suratnya, mari ikut keruangan saya." Saat dia melangkah disitulah istrinya juga di pindah ruangan, sesekali menoleh kebelakang mendengar suara rintihan istrinya.
"Bude, mami bude." Bian mengaduh panik, budenya merangkul.
"Hei, kamu kan sudah besar. Memang begitu perjuangan seorang ibu ketika melahirkan. Makannya sayangi mami kamu, begitu juga dulu dia merasakan sakit ketika melahirkan kamu Bian."
"Iya bude." Dia meneteskan air mata.
Tau gini aku nggak akan minta adik.
"Hallo mbak?" Tisha berjalan sedikit menjauh dari ibu dan Bian.
"Kenapa Tisha?"
__ADS_1
"Mbak, aku sama ibu dirumah sakit sekarang. Soalnya tante mau lahiran."
"Bima, Bim. Kita kerumah sakit sekarang."
"Dek, mbak kesana sekarang ya."
"Iya mbak hati-hati." Tisha mematikan sambungan telepon.
"Kamu menelepon mbak mu kan?" Tisha mengangguk, dan ikut duduk di samping ibunya.
"Sudah Wisnu?" Melihat adiknya yang sudah kembali.
"Sudah kak. Operasi juga sudah di mulai kan?" Kakaknya mengangguk.
"Duduklah dulu. Jangan terlalu panik, kamu juga kan sudah pernah mengalaminya sewaktu Bian lahir."
***
"Hei, lucunya ini adiknya kakak." Maudy melihat ibunya menggendong bayi yang baru saja lahir dari rahim tantenya. Begitu juga Bima, mereka sama-sama antusias untuk melihat dan mengajak bicara.
"Om, mau di kasih nama siapa?" Sambil menoel pipi bayi mungil ini, mulutnya yang terbuka dan menutup, sepertinya meminta ASI.
"Wini, om mau kasih nama Wini." Jawabnya dan mengelus puncak kepala istrinya terbaring, dimana kedua kelaki yang di sayang mendampinginya.
"Wah, bagus namanya. Wini, yang berarti Windu dan Niah." Ucap Maudy.
"Iya, kamu tau aja."
"Kalau nama adik Wini karena singkatan nama papi dan mami, lalu nama aku Bian, kenapa pi? Singkatan dari mana itu?" Mereka saling pandang yang berada di ruangan, begitu juga dengan ibu Irma, yang awalnya dia bergoyang ke kanan dan kiri sambil menggendong, kini dia berhenti, saling pandang dengan Maudy dan Bima.
"Papi lupa." Sontak mereka langsung tertawa.
"Kok gitu sih pi." Wah, kelihatannya Bian kesal.
"Itu tuh dulu nama pemain bola andalan papi kamu, waktu mami mengandung kamu dulu, nah dia tuh yang jadi pemain andalan Indonesia." Mengedipkan mata ke arah suaminya. "Ya kan pi?"
"Iya Bian." Dia setuju.
"Masak sih?" Bian langsung mengambil ponselnya, entah apa yang akan di lakukan.
"Kok nggak ada? Nggak ada pemain bola Indonesia yang bernama Bian pi. Di tahun kelahiran ku, nggak ada." Ya ampun, ternyata dia menunjukkan layar ponselnya ke arah papi dan maminya yang mencari itu di internet. Oh sungguh kali ini internet menjadi tidak berguna.
"Nggak ada ya? Mungkin karena dia sudah pensiun."
"Papi bohong."
"Owek." Suara bayi menangis.
"Sepertinya dia minta ASI. Sudah keluarkan?" Adik iparnya mengangguk. Ibu Irma segera menyerahkan bayi mungil itu kepada ibunya.
Selamat lah kedua orang tua ini dari pertanyaan anaknya, semoga dia juga lupa dan tidak bertanya lagi nanti.
"Bu, anaknya cantik mirip tante." Setelah duduk di luar ruangan Maudy tersenyum membayangkan mungilnya bayi yang tadi ia lihat.
"Iya, nanti anak kamu juga cantik seperti kamu Dy." Maudy tersenyum lagi.
"Sayang, kalau anak kita hanya mirip kamu, lalu aku papanya gimana?" Eh dia berbisik pelan.
"Pertanyaan macam apa itu Bim?" Ibu menoleh.
"Apanya Dy?" Ibu bertanya.
"Nggak bu, ini Bima. Dia bilang kalau anaknya mirip aku, lalu dia papanya bagaimana?" Ibu tertawa kecil. Dengan pelan Bima menyenggol lengan Maudy.
Kenapa harus bilang ke ibu sih!
"Ya wajahnya mirip kamu Dy, biasanya sifatnya seperti Bima. Karena seorang anak itu pasti akan tetap nurun seperti kedua orang tuanya." Maudy manggut-manggut.
"Kamu dengar itu Bim."
"Memangnya kenapa toh Bim? Kamu takut nggak di akuin papanya kalau anaknya nggak mirip kamu?"
"Hehe, iya bu." Ibu tertawa lagi.
Aku salah ya?
Bian keluar dari ruangan, wajahnya masih di tekuk.
"Kenapa Bian?" Budenya bertanya.
"Nggak apa-apa bude, cuma kasian lihat mami." Dia duduk di samping budenya, menyandarkan kepalanya, pasti akan mengaduhkan sesuatu lagi. Ah dia mengerti sekarang ya, tidak lagi mendekat ke Maudy.
"Memangnya mami kamu kenapa?" Bertanya dengan lembut.
"Liat mami tadi katanya jahitan di perut mulai nyeri, terus papi bilang mungkin biusnya sudah hilang. Memang gitu ya bude? Berarti tadi perut mami di belah pakai pisau?"
Bagaimana cara menjelaskannya?
"Iya, kan udah bude bilang. Perjuangan seorang perempuan yang akan menjadi ibu itu sungguh luar biasa." Deg, Bima menunduk, begitu juga dengan Maudy. Dia akan merasakannya juga nanti. Dan Bima? Pasti juga akan berada di dalam kekhawatiran seperti yang dirasakan Bian saat ini ketika melihat istrinya akan melahirkan.
"Iya bude, aku janji nggak akan melawan sama mami lagi."
"Lalu papi?"
__ADS_1
"Kalau papi kan nggak melahirkan?" Sepolos itukah jawaban Bian?
"Sama saja, kamu tetap tidak boleh melawannya. Mami kamu berjuang untuk melahirkan, dan papi kamu berjuang mencari nafkah untuk kamu." Jelas budenya lagi.
Tiba-tiba Bima menggenggam tangan Maudy dengan sangat erat, Maudy sampai menoleh. Melihat Bima yang menunduk dan berkeringat dingin.
"Kenapa?" Bertanya pelan.
"Kita pulang sekarang ya? Ada yang mau aku omongin tanpa di dengar orang lain." Maudy bingung sekarang, kenapa? Apa ibu dan aku salah bicara? Dan Bian juga nggak ada dekat-dekat aku kan? Batinnya terus menebak.
"Sebentar lagi ya Bim." Bima diam.
Heh, terdengar Maudy menghela nafas.
"Bu, aku sama Bima pamit pulang ya?"
"Kalian udah mau pulang? Ya udah, pamit sama tante dan om kamu." Maudy mengangguk. Mengajak Bima untuk kembali masuk ke ruangan.
Ketika membuka pintu Bima segera membuang pandangannya.
"Kamu aja yang pamit." Maudy tau, dia tidak ingin melihat tantenya yang masih memberi ASI.
"Dy?" Bima langsung keluar, tanpa lagi melihat ke arah dimana tante dan omnya.
"Tante, aku pamit mau pulang ya? Semoga Tante sama Wini sehat." Memeluk. "Maaf ya adik kecil, kakak nggak bawa apa-apa. Soalnya tadi juga buru-buru." Omnya tersenyum.
"Memangnya kamu mau bawa apa sih Dy? Wini juga belum tau mainan."
"Iya baju baby lah om."
"Iya-iya terserah kamu. Ya udah sana pulang, hati-hati di jalan ya."
"Iya om, tante."
***
Begitu sampai, Bima langsung masuk ke dalam kamar, duduk di tepi ranjang sambil menunduk, menatap kedua kakinya ataupun lantai. Wajahnya terlihat sendu, lebih tepatnya seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa Bim? Kamu mau ngomong apa?" Ikut duduk di samping Bima.
"Huh." Bima menarik nafas, kemudian menatap kedua manik mata istrinya.
"Sayang, aku akan cari dokter terbaik di dunia yang akan menangani kelahiran kamu nanti, aku akan cari yang terbaik supaya kamu nggak merasakan sakit ketika melahirkan." Deg. Maudy terdiam, dia menggeleng pelan.
"Nggak bisa Bim." Maudy berdiri, berjalan mondar-mandir di hadapan Bima sambil terus mengusap perutnya.
"Kenapa nggak bisa sayang? Bisa, aku saja bisa menyembuhkan lenganku dengan mencari dokter terbaik."
"Bim, itu istimewa seorang ibu. Kamu dengar sendiri kan apa yang di katakan ibu tadi?" Bima diam. "Semua perempuan akan merasakan hal yang sama ketika akan melahirkan." Menoleh ke arah Bima. "Dan aku mau, aku mau berjuang supaya aku bisa melahirkan secara normal tanpa operasi."
"Sayang." Dia melow sekarang, menatap istrinya dengan berkaca-kaca. "Dulu aku lihat kak Siska merasakan sakit yang teramat, tapi aku tidak sekhawatir sekarang ini. Mungkin karena sekarang istriku juga akan melahirkan. Aku takut sayang." Maudy tersenyum dan mendekat.
"Kamu lupa kalau istri kamu ini wanita kuat?" Dia mendongak menatap wajah istrinya.
"Jangan ragukan soal itu. Percayalah, saat kamu ada di sampingku Bim, itu akan menjadi obat penenang terbaik." Bima tersenyum getir.
Benarkah begitu? Atau hanya alasan supaya aku tak sepanik sekarang ini?
"Sayang?"
"Iya?" Maudy menjawab dengan lembut.
"Apa nanti kamu juga akan memberi ASI kepada anak kita?" Maudy mengangguk.
"Dua anak sekaligus? Gimana caranya?"
"Bergantian lah Bim." Bima menggeleng.
"Lalu aku bagaimana sayang?"
"Maksudnya?" Maudy bingung dan kembali duduk di samping Bima.
"Iya, itukan juga punya aku?"
"Bima!!" Dia tau maksudnya sekarang.
"Sayang, aku mau anak kita nanti di berikan susu formula saja."
"Bim?"
"Sayang, untuk apa susu formula di ciptakan kalau tidak di konsumsi?" Hei, alasan macam apa ini? Ingin sekali Maudy berteriak begitu?
"Pokoknya aku mau anak kita di beri susu formula saja, agar kamu juga tidak repot dan tidak menghilangkan jatahku."
"Iya Bim, terserah kamu."
"Yes! Papa aman nak?" Dia mengusap dan mencium perut Maudy.
"Dia nendang Bim, berarti dia nggak setuju."
"Dia setuju sayang, buktinya saja waktu itu juga begitu."
Apalagi sekarang Bim.
__ADS_1
--__