Dia Bimaku

Dia Bimaku
Bahagia! Finally


__ADS_3

Kiki juga bingung harus bagaimana, mau menangis lagi? Ah tidak mungkin rasanya, harus berapa kali menangis dalam satu hari. Tapi hatinya bergetar, terharu di kelilingi orang baik. Belum lagi bos satu ini, kenapa dia juga ikut-ikutan? Bukannya mereka bilang mau meeting. Dan mama kapan pulang? Ya ampun, aku banyak melewatkan hal. Tidak, tidak, ini semua memang direncanakan agar aku tidak tau.


"Sampai kapan mau berdiri disitu Ki?" Dia, Maudy yang satu harian berakting tidak tau apa-apa. Sudah bermanja di lengan suaminya. Berdiri di samping Revan yang tersenyum memegang bolu ulangtahun berserta lilin usia Kiki.


Masih tidak berkedip menatap satu-persatu orang-orang yang ada, berjalan menarik nafas. Memejamkan mata sebentar, berdoa kepada Tuhan untuk keinginannya. Lalu meniup lilin dan langsung di sambut tepuk tangan dari mereka.


"Makasih ya mas." Memeluk dengan satu tangan, kecupan juga mendarat di keningnya. "Makasih banyak." Lagi, belum rela melepas pelukannya. Sehingga yang berdiri di belakang mereka mulai berbisik.


"Sayang aku mau peluk juga." Salah satu aturan telah di langgar, tidak boleh bermesraan di hadapannya. Ah siapa lagi kalau bukan Bima. Memangnya hanya dia yang boleh romantis apa, begitu angin protes terhadap kelakuannya.


"Potong kuenya." Beralih ke ruang tamu. Dekor ala kadarnya buatan mama Ratih. Khusus untuk mengabadikan momen indah sederhana, berphoto dengan Kiki. Ya, memang itu keinginan mamanya setiap tahun, apalagi sekarang Kiki sudah memiliki suami. Berharap dan sangat berharap, umurnya masih panjang dan sehat. Sehingga bisa menimang cucu nantinya.


"Suapan pertama untuk mama ya." Kiki berjalan dan menyuapkan cake, Revan mengangguk dan tersenyum. Tidak apa-apa, sekarang ini istrinya masih mempunyai mama.


"Jangan papa sayang. Suami kamu." Kiki menoleh ke arah Revan, lalu dia menjawab dengan gelengan. Tidak, papa saja. Begitu yang dia maksud.


Kiki tetap berjalan ke arah papanya, melakukan hal yang sama. Dan potongan cake ketiga barulah untuk Revan. Dia sama sekali tidak marah, hanya merasa iri dengan istrinya yang masih bisa mendapatkan kebahagiaan dari kedua orang tua. Revan sendiri yang menjadi melow, mendongakkan wajahnya agar tak tumpah air mata. Sama sekali tak ingin terlihat sedih.


"Aku tidak mau." Saat Kiki menatap ke arah Bima. "Sayang, kamu saja yang suapin aku." Berbisik. Maudy mengangguk dan mengambil potongan cake lalu menyuapkan ke arah Bima. Tante Ratih yang tau maksudnya hanya bisa tersenyum. Sebegitu cintanya dengan istri, sehingga wanita yang di kenal dengan pun tak di perbolehkan untuk memberinya potongan cake.


Bi Asih datang dan menawarkan untuk makanan mau di siapkan sekarang atau nanti. Dan Tante Ratih langsung menjawab dengan anggukan, walau masih sore. Tapi malam nanti mereka juga akan kembali ke luar kota. Hari ini pulang khusus untuk merayakan ulang tahun putrinya. Jelas saja Revan merasa iri, melihat kedua orang tua istrinya sangat menyayangi anaknya. Dan pantas saja Kiki juga tak bisa jauh, begini ternyata kasih sayang yang di beri setiap hari untuknya.


Kejutan belum berakhir, Bima dan Maudy memiliki satu hadiah yang sangat mewah. Apalagi? Kiki saja sampai menggeleng tidak percaya. Setelah selesai makan, Bima meminta Revan dan Kiki untuk melihat ke luar rumah. Tepat setelah Bima menerima telepon.


Hampir keluar jantung Kiki, melihat mobil keluaran terbaru sudah ada di halaman rumahnya. Keduanya saling tersenyum melihat Kiki yang malah tercengang.


"Kamu mau juga sayang?" Maudy tertawa kecil, hei aku tidak sematre itu. Mobil aku juga masih bagus. Jelas Maudy langsung menolaknya. Bukan berarti mempunyai uang yang cukup untuk membeli apapun menjadikannya selalu ingin meminta yang berlebih.


"Sudah kan?" Revan menoleh, dan berjalan ke arah Bima. Ingin sekali bersujud di kaki pemilik perusahaan ini. Tentang ini, mobil. Revan benar-benar tidak tau. Mereka hanya meeting selama 30 menit. Lalu secepatnya kembali ke rumah. Lebih tepatnya rumah orang tua Kiki. Lalu menyiapkan segala sesuatunya, itu juga hanya Revan. Sementara Bima malah memejamkan matanya dengan posisi duduk di sofa. Tapi, bagaimana bisa mobil itu disini? Kapan di belinya? Sementara kemana pun Bima pergi juga Revan selalu ikut. Ah Revan sendiri belum berhenti berpikir.


"Ada kejutan lagi nggak Bim?" Tersenyum berdiri di samping mobil barunya.


"Kamu lihat sayang, dia semakin melunjak." Mengelus puncak kepala istrinya. Tersenyum dengan mengeratkan giginya.


Kemesraan keduanya harus terganggu, padahal sudah enak dengan posisi berdirinya, bergelayut dan Bima berkali-kali mengecup apa saja yang dia mau. Sambil melihat kedua pasangan yang masih mengelilingi mobil baru. Tentu tidak dihadapan kedua orang tua Kiki, mereka juga masih berada di dalam rumah. Mama Lisa menelpon dengan melakukan video call. Maudy langsung melambaikan tangannya ketika di layar ponselnya yang muncul ada kedua anaknya tengah memainkan jari mereka di dalam mulut.


"Sayang, tidak boleh ya." Bima mengintip karena penasaran. Dia langsung tersenyum, seakan hilang sudah lelah pekerjaannya hari ini. Eh tidak, bukankah Bima sedari tadi hanya tidur?


"Dy, kalau kalian pulang dan mau ambil baby Endah dan Gio. Sekalian ajak Kiki main kesini ya." Suara mama terdengar jelas, meskipun kamera tetap menyorot kedua anaknya.


"Nanti aku sampaikan ya ma. Sebentar lagi kami juga pulang kok. Endah dan Gio nggak rewel kan?"


"Nggak lah, mereka tenang. Tidur juga sama Opanya."


Hal yang sangat di inginkan Maudy sudah tercapai. Memiliki anak yang akan membuat papa Adi menyayanginya. Gambaran masa lalu sudah terkubur, tentang ketakutannya yang tidak akan mendapat restu. Semua sudah jelas dan nyata, papa Adi bahkan meminta kalau Endah dan Gio selalu ada dirumahnya. Tapi bukankah itu tidak mungkin? Bagaimana bisa mereka tinggal terpisah.


"Papa sangat menginginkan anak perempuan." Begitu yang selalu Maudy dengar dari Bima. Kedua anaknya laki-laki. Papa takut kalau tua nanti dan sudah sakit-sakitan tidak yang mau mengurusnya.


Itu memang selalu menjadi alasan orang tua, maka dari itu papa Adi dulu sempat tidak merestui hubungan mereka. Bukan tentang kasta sebenarnya, tapi dia mau mencari menantu dengan bibitbobot yang jelas. Dia sendiri yang memilih, dan pada akhirnya. Hanya Maudy yang memenangkan, berhasil menikah dan memiliki anak. Memberikannya cucu perempuan, tidak heran jika papa Adi terlalu berlebihan sampai-sampai meminta Endah untuk tinggal bersamanya. Dan meminta mama Lisa sendiri yang mengurusnya.

__ADS_1


"Bim, makasih ya?"


"Pak, terima kasih."


Bima mengangguk saja. Posisi tetap sama setelah panggilan berakhir.


"Ki, mama Lisa suruh kamu datang. Kalian ikut kami pulang?" Kiki menoleh ke arah Revan. Mana mungkin dia menolak.


Kiki meminta Maudy dan Bima saja dulu yang pergi lebih dulu. Ada suatu hal yang tidak ingin dia lewatkan. Mandi, itu salah satunya. Istirahat tidak perlu, karena itu bisa di lakukan nanti malam. Itu juga tidak akan terganggu kalau Revan tak meminta haknya.


Hari mulai gelap. Bima yang meminta untuk Maudy ikut dengannya, soal mobil biar nanti supir yang ambil. Tak menolak, karena sebenarnya Maudy juga lelah. Iya, dia juga ikut andil dalam persiapan memberi kejutan untuk Kiki.


"Bim, aku mau bilang sesuatu." Bima mengangguk dan hanya menoleh sekilas, lalu fokus lagi dalam mengemudi. Trauma karena menabrak orang lebih membuatnya hati-hati dalam membawa mobil.


"Katakan." Dia menunggu.


"Aku mau renovasi resto aku Bim." Menunggu respon Bima. Dia diam dan mengangguk lagi. "Aku mau buat resto aku menjadikan resto termewah di kota ini." Bima langsung menoleh. Kenapa harus bahas ini didalam mobil sayang? Begitu arti tatapannya.


"Lakukanlah sayang." Hanya itu, Bima tau istrinya ini pintar. Jadi, yakin kalau Maudy mampu mewujudkan keinginannya.


"Di mulai Minggu depan Bim." Bahkan itu di luar pikiran Bima. Dia menggeleng takjub karena pemikiran istrinya sangat jenius. Maudy memberikan alasan, tidak mungkin selamanya begitu, harus memiliki perkembangan. Apalagi saingan juga banyak, jadi Maudy berpikir untuk mengubahnya jadi tempat yang memiliki daya penarik. Soal rasa masakan di resto sudah di akui. Dan pelayangan juga ramah. Tidak salah Maudy memilih karyawan yang masih muda. Mereka semua pintar dalam hal itu.


Di dalam kamar lain, setelah mereka menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Hanya sebatas mengusir lelah dan kesedihan hari ini. Kiki yang masih merasakan duka, dan Revan yang sangat bahagia hari ini. Sudah sukses memberi kejutan pertama kalinya untuk Kiki, istrinya.


Tidak hanya rebahan, mereka juga berebut hak milik. "Dia itu bukan hanya Bima nya Maudy, tapi Bima ku juga tau." Pamer, entah senang karena memang di belikan mobil. Mengoceh terus dan memarkan apa saja hal yang membuatnya kagum dengan sosok Bima.


"Dia juga pak Bima ku sayang. Dia jugakan yang mengangkat ku jadi asisten pribadinya." Tak mau kalah, pamer juga. Membanggakan beberapa prestasinya selama bekerja, sehingga bisa mendapatkan jabatan yang tinggi tanpa harus mencari muka.


"Sayang, mandi berdua." Kiki menoleh dan menghentikan langkahnya. Detik berikutnya dia tersenyum dan mengangguk.


Hanya mandi.


***


Kedatangannya sangat di sambut, penjaga rumah juga menundukkan kepala saat melihat keduanya turun dari mobil. Maudy yang selalu menebar senyum, tak lagi canggung saat mereka memperlihatkan kesopanan dan memberi hormat untuknya dan Bima. Jika melarang pasti Bima tetap mengatakan memang seperti itu peraturannya. Mang Sugi tampak berdiri dengan baju dinasnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Maudy. Ah dia tetangga rumah sekaligus pekerja dirumah papa Adi.


Maudy meminta ijin kepada Bima untuk menghampiri mang Sugi. Tentu Bima tak mempermasalahkan hal itu. Hanya untuk sekedar menyapa, dan menanyakan kabar. Karena setelah menikah dan pindah rumah Maudy jarang bertemu.


"Sehat mang?" Tanyanya.


"Sehat Nyonya muda." Mang Sugi mengangguk. Panggilan mang Sugi yang menurut Maudy sangat asing. Padahal disini juga tidak ada siapapun lagi.


"Saya harus melakukan itu, kalau tidak bisa di tegur." Ucapnya lagi. Benar, tapi kan belum tentu ada yang mendengar.


"Istri mamang sehat?" Dan obrolan singkat terjadi, sekedar menanyakan kabar agar tidak di katakan sombong. Karena sebelumnya derajat mereka masih sama. Maudy segera pamit untuk masuk ke dalam. Dia sudah rindu anaknya. Sebelum masuk juga Maudy sudah menyelipkan beberapa lembar uang seratus di kantung mang Sugi. Mengatakan untuk membayar uang sekolah anaknya. Maudy juga tau, kehidupan mang Sugi yang sederhana. Sehingga jika memberinya uang yang tidak banyak saja sudah membuat mang Sugi sangat merasa bersyukur.


"Jangan menolak rezeki mang." Begitu Maudy memperingatkan ketika mang Sugi hendak mengembalikan uang ke tangannya.


Semoga keluargamu selalu tentram dan di beri Kebahagiaan setiap harinya.

__ADS_1


Doa-doa baik mang Sugi langsung mengapung di udara. Kata-katanya yang terbawa angin akan segera di sampaikan oleh Tuhan. Berharap rasa syukurnya saat ini bisa menjadi alasan meminta doanya segera di kabulkan.


Endah dan Gio sudah tertidur. Padahal harapan saat sampai mereka masih bisa mengajak anakmya mengoceh. Bima masuk ke dalam kamarnya, di susul dengan Maudy. Tubuh juga terasa lengket, tak salah jika mama Lisa meminta mereka untuk segera membersihkan diri.


Mama Lisa mengatakan kalau ayah dan ibunya Maudy juga sudah mereka hubungi. Ada apa? Sempat bertanya, tapi mama Lisa memberikan alasan hanya makan malam bersama. Sekedar mengeluarkan rasa syukurnya atas keberhasilan kedua anaknya. Ya, mas Rio kembali memenangkan tender besar di perusahaannya. Jadi tak salah melakukan hal ini.


Hingga semua sudah berkumpul di halaman rumah, kali ini suaminya yang meminta. Meminta seluruh ART dirumah untuk mempersiapkan, dengan waktu singkat semua bisa di sulap oleh mereka. Padahal sewaktu Maudy dan Bima datang belum ada apa-apa. Semua masih tampak kosong. ART dirumah mama Lisa sepertinya sudah terlatih untuk melakukan hal-hal diluar nalar seperti majikannya.


"Ma, makasih ya ma. Padahal aku juga nggak ada kepikiran buat ini." Rio memeluk mama Lisa dengan kasih sayang seorang anak. Dia juga mengatakan kalau sebenarnya masih tidak percaya, menjadi satu-satunya perusahaan yang bisa memenangkan tender dengan mengeluarkan produk terbaru ini. Semua hasil kerjanya sangat nyata, dengan modal yang cukup besar dan keberanian. Tak lupa juga doa, sehingga bisa sukses.


Semua sudah berkumpul, Kiki datang bersama Revan. Meski kedatangannya agak terlambat. Dan makan pun di mulai, kali ini suasana tidak hening seperti biasanya. Semua orang yang duduk makan sambil berbincang, hanya ada satu orang yang tampak mengunyah makanan tanpa mengeluarkan suara. Dia orang yang biasanya membuat peraturan di rumah ini, ah lucunya Maudy bahkan diam-diam menertawakannya dalam hati.


Kalau ada ibu mana bisa diam aja di meja makan. Eh kenapa papa nggak berani larang sekarang?


"Dy aku ada kabar bahagia." Menoleh ke arah Revan, saling menggenggam tangan dan tersenyum. Mereka sibuk berbincang masing-masing setelah selesai makan. Ibu dan mama Lisa asik dengan Endah dan Gio. Ayah dengan papa berbincang di ujung halaman, memasukkan tangan ke kantung celana. Posisi berdiri juga tak bisa diam, entah apa yang di bahas mereka selaku orang tua.


Disini mereka sekarang, para generasi muda. Baik Maudy dan Siska mereka siap mendengarkan. Duduk saling bersebelahan, dan masing-masing pasangan mereka tengah membahas soal bisnis. Samar-samar Maudy juga mendengar kalau Bima mengatakan pada masnya tentang keinginannya yang akan merenovasi resto.


"Aku nunggu loh Ki dari tadi, kakak ipar juga." Kiki malah tersenyum lagi. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Maudy membuka kertas lipatan.


"Aku hamil Dy." Benarkah, begitu dia menjawab serempak bersama dengan Siska. Tidak, mereka lelaki yang ada di sebelah seperti tak peduli sangking seriusnya berbincang.


"Aku sebelum kesini tadi langsung periksa ke dokter. Karena aku udah telat satu Minggu. Dan hasilnya, memang positif."


Hujan, iya benar kata Revan. Itu adalah anugerah terindah.


"Selamat ya Ki." Siska lebih dulu memberi ucapan selamat dan memeluk Kiki dengan singkat, di susul Maudy. Kali ini, matanya memanas, merasa terharu dengan semua kejadian di hari ini. Kado dari Bima, surprise dari mereka, dan Tuhan juga ikut memberinya kejutan. Berupa hadiah yang seluruh wanita di dunia nantikan ketika sudah menikah, tak bisa di beli dengan uang. Ini benar-benar anugerah terindah.


"Sudah jangan menangis." Melihat sudah ada air menggenang di pelupuk matanya, dan apa? Lagi-lagi mereka lelaki tak mengerti dan masih sibuk membahas hal yang sama sekali mereka sebagai wanita tak tau. Dunia bisnis.


"Harapan kamu apa Ki?" Kiki mengusap kedua matanya.


"Aku cuma pengen anakku sehat di dalam kandungan. Sampai aku bisa melihatnya lahir ke dunia, tumbuh menjadi anak yang baik. Dan satu, aku nggak ingin ngidam yang macam-macam." Maudy tersenyum.


"Itu juga harapanku, dan sekarang tinggal bagaimana aku mendidik kedua anakku." Mereka tersenyum.


Suara gelak tawa dari Dafa dan Rafa yang tak ada lelahnya berlarian kesana-kemari. Dan suara para orang tua yang terdengar samar-samar sedang melatih cucu kecilnya berbicara. Ini sungguh suasana tenang dan hangat, siapapun juga ingin merasakannya. Akur dalam berumah tangga, sampai mereka memiliki cucu.


Hingga malam semakin larut, semua sudah kembali kerumah masing-masing. Termasuk Maudy dan Bima. Mereka juga harus membawa anak mereka pulang kerumah. Suasana malam bersama keluarga masih menyelimuti pikirannya. Bahagia, itu yang dia rasakan sekarang. Semua sudah lengkap, Maudy merasa hidupnya sempurna. Suami dan anak, papa dan ibu mertua yang menyayanginya dan juga anaknya. Ah itu memang hadapannya sedari dulu.


Disini, di tempat tidur. Mereka berbaring dengan posisi menyamping saling berhadapan. Bertatap muka tanpa berkedip, senyum mengembang setelah menyatakan perasaan seperti pertama kali menjalin hubungan semasa SMA.


"Makasih Bim." Memberikan senyum termanisnya.


"Makasih juga masih bertahan, dan melahirkan kedua baby lucu untuk ku."


Apapun Bim, sifat kamu yang aneh. Tak ku sangka kalau kamu bahkan berani mengajakku menikah. Hingga kita memiliki anak. Terima kasih, atas cerita kita dulu, kenangan kita.


***

__ADS_1


Kisah mereka berakhir. Dengan bahagia sama-sama. Terima kasih yang sudah membaca "Dia Bimaku" Dari awal. Mensuport author hingga mampu menyelesaikan novel ini. Hingga tamat. Terima kasih banyak, semoga hidup kalian juga baik-baik aja, sehat selalu dan lancar rezekinya.


Nantikan novel terbaruku ya, salam sayang dari aku :* Oh iya, insyaallah bakal ada bonus chapter ya! Tetap stay dukung aku, hehe.... Makasih banyak


__ADS_2