
Malam sudah larut, Maudy juga sudah membersihkan diri. Dan sekarang yang ia lakukan adalah membuka kado dari orang-orang spesial. Maudy meraih tas yang di berikan dari keluarganya Kiki.
"Wah, baju." Mulutnya ternganga kali ini, karena melihat baju dress selutut berwarna merah hati. Dan ada corak bunga mawar di dekat pinggang.
"Ah mana mungkin aku pakai yang begini?" Selain baju ternyata juga ada sepatu high heels yang tingginya sekitar 7cm.
"Ini lagi, bagaimana caranya aku pakai?" Menggaruk kepalanya sendiri. Dan yang terakhir ada kotak, Maudy juga segera membukanya.
"Make up? Ini surat apa?"
Maudy sayang, sudah dewasa sekarang. Sudah saatnya kamu mencoba sedikit memoles wajah kamu dengan make up ini. Coba aja, pasti kamu bakal jadi wanita paling cantik di dunia, tapi itu hanya di mata Bima, hahahaha
- Kiki
"Ih, nggak pakai make up juga Bima udah tergila-gila kali sama aku." Gerutunya sendiri.
Oh ya ampun, seharusnya aku bersyukur atas pemberian mereka, baik lah baik lah. Aku akan pakai ini, tapi tidak sekarang.
Selanjutnya Maudy membuka kotak kecil yang diberikan oleh calon mertuanya. Dengan senyum Maudy membukanya, ah rasanya bahagia sekali hari ini. Maudy juga melirik pemberian Bima. Tapi ia akan melihatnya setelah membuka kado dari tante Lisa.
Kalung?
Batinnya.
Dengan cepat Maudy mengambil kalung di dalam kotak tersebut.
Astaga ya ampun, ini berlian bukan? Iya kan? Bener nggak sih?
Bingung saat ini harus bertanya dengan siapa. Tapi menurut sepengetahuannya ini memang berlian, karena Kiki pernah memakai kalung seperti ini, bukan berarti sama. Tapi Maudy tau ini memang berlian.
Ini kira-kira berapa ya harganya?
Mencoba menghitung. Tapi nihil, jarinya juga tidak akan cukup, meskipun meminjam jari ibu dan ayahnya untuk menghitung.
Maudy langsung memakainya.
"Bagus sekali." Setelah berkaca di kaca kamarnya.
Eh kalau aku pakai ini, lalu kalung hati pemberian Bima gimana? Ah bodoh ah, kalau dia marah bilang aja aku udah pakai ini, biar menghargai pemberian mamanya. Lagian kalungnya juga di simpan sama Kiki.
Maudy beralih dengan gitar yang terbungkus tas. Ia segera meraihnya dan membawa ke atas kasur. Saat ini tempat tidurnya masih berantakan dengan kado miliknya yang masih ia letak asal.
Wah, kenapa ada gitar sebagus ini??
Sebuah gitar berwarna merah metalic. Soal merk tidak usah di tanya, pasti Bima membeli yang terbagus di dalam toko.
Jreng..
Maudy mulai memainkannya. Perlahan, mengatur nada lirik.
Ah Bima lucu ah. Tau aja kalau aku pengen gitar, soalnya gitar ayah kan udah usang, suaranya juga sudah ngalor-ngidul.
Ponselnya berdering, hanya ada sebuah pesan yang masuk. Maudy meletakkan kembali gitarnya dan segera melihat ponsel.
-Agam
"Kamu udah tidur? Aku boleh telepon nggak?"
-Bima
"Sayang, udah tidur belum? Kalau belum kamu tidur ya, udah malam. Oh iya jangan lupa pikirkan tawaran aku. I love you."
__ADS_1
Maudy langsung membalas pesan Agam terlebih dahulu, ia mengatakan kalau belum tidur, tapi akan segera tidur. Itu juga tanda penolakan yang halus. Sementara Bima, bagaimana? Maudy mendengus ketika akan membalas pesannya.
"Aku sebenarnya belum mau tidur, masih mau bicara sama kamu, tapi karena kamu bahas ini lagi, aku akan segera tidur!"
Bima langsung membaca pesan. Dan di detik berikutnya. Sebuah video call masuk ke ponsel Maudy.
"Sayang." Ucapnya manja dan menutupi sebagian wajahnya dengan bantal.
"Apasih Bim?"
"Andai bantal ini kamu." Mengganti posisinya jadi memeluk bantal.
"Kamu lama-lama kayak orang sinting tau nggak Bim. Uda ah aku mau tidur."
"Jangan di matikan. Kamu tidur aja, aku mau lihat kamu benar-benar tidur. Kalau memang kamu sudah tidur baru aku matikan sambungan teleponnya." Kalau sudah begini, tidak akan ada hal yang dapat merubah keputusan Bima.
Maudy merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu, menyisihkan barang yang ada di atas kasurnya. Setelah itu barulah ia mulai meletakan kepalanya di atas bantal empuk. Dan Bima sudah tersenyum.
"Sekarang kamu tidur. Mimpi indah ya sayang."
"Hem." Sambil memejamkan matanya.
***
Pukul 02 dini hari, Maudy terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Dengan antara sadar atau tidak, Maudy melihat ke sisi layar ponselnya. Ia membulatkan matanya, ternyata Bima lupa mematikan sambungan teleponnya.
Maudy mengucek matanya agar terbuka sempurna, meski terasa berat tapi ia paksakan. Bima tertidur dengan memeluk guling. Maudy tersenyum.
Ya ampun lucunya kalau tidur. Sepertinya lebih tampan saat tidur dari pada bicara.
Di sebrang sana Bima menggeliat, menggaruk wajahnya dan lalu tertidur lagi.
Berjalan keluar kamar, karena tadi malam ia tidak sempat menyiapkan air di kamar.
Beberapa menit Maudy kembali masuk ke kamarnya. Dan kembali naik ke atas kasur, langsung mengambil ponselnya.
"Ahh." Berteriak dan mencampakkan ponselnya.
"Sayang!" Suara Bima sudah terdengar.
"Kamu ngapain sih Bim. Kenapa nggak di matikan?" Sekarang Maudy kembali mengambil ponselnya. Dan melihat Bima yang sudah terduduk tanpa memakai pakaiannya.
"Kamu kenapa buka baju?" Maudy mengalihkan pandangannya.
"Aku terbangun, panas. Ternyata AC aku mati." Sambil mengibaskan tubuhnya dengan baju.
"Udah ah tidur lagi." Sekarang menatap layar ponsel. Pandangannya teralih melihat tubuh Bima yang tidak tertutup kain. Putih, dan nampak otot-otot milik Bima.
Ah ternyata Bima seksi juga ya, aku kira karena anak manja nggak akan punya otot begini.
"Sayang, kenapa? Air liur kamu mau netes tuh!"
Maudy langsung memegang bibirnya, dan Bima tertawa.
"Apaan sih." Menutup wajahnya dengan bantal. Mungkin malu karena sudah ketahuan memandangi tubuh Bima.
"Aku mau tidur lagi Bim." Masih tetap menutup separuh wajahnya dengan bantal.
"Ya udah kamu tidur. Aku nggak bisa tidur lagi kayaknya."
Tidak menjawab lagi mungkin memang Maudy sudah tertidur kembali. Dan kali ini Bima mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Pagi hari suara ibunya sudah berteriak memanggilnya, tapi mata Maudy masih sulit untuk di buka. Ini karena semalam terbangun, efeknya ya begini.
"Sebentar lagi bu." Teriaknya dengan posisi masih tengkurap.
"Nggak bisa, ayah kamu mau antar kamu, ada urusan mengenai paspor kamu nanti."
Ah ya ampun.
Dengan berat hati Maudy turun dari kasur.
"Kamu mandi sekarang, jangan mentang-mentang udah nggak sekolah bangunnya siang-siang terus Dy. Nggak baik anak gadis seperti itu." Setelah Maudy membuka pintu ibunya langsung memberi nasehat untuknya.
"Iya bu." Langsung berjalan keluar kamar dengan menyambar handuk yang tergantung di balik pintu.
Ibu.
Aku baru saja selesai masak, suamiku yang baru saja bangun langsung mengatakan kalau hari ini harus pergi mengantar Maudy untuk mengambil paspor, atau apalah aku juga tidak paham. Intinya Maudy harus ikut, karena memang dia yang bersangkutan. Tapi tiba-tiba saja hatiku seperti tidak rela sebagai seorang ibu. Memang dari awal seberangnya aku tidak memberi ijin, tapi mau bagaimana? Ini kesempatan untuknya, dan juga adikku yang akan mengurusnya disana sudah berjanji sejak dulu, kalau ia sukses ia akan membawa anakku. Hanya untuk di sekolahkan. Itu janjinya, membantu sedikit perekonomian ku melalui anakku. Karena selama ini aku selalu menolak untuk dikirim uang olehnya, walaupun dia adik kandung ku, tapi aku tidak ingin nantinya menjadi ketergantungan ketika aku membutuhkan uang. Biar lah suamiku saja yang bertanggung jawab. Atas aku dan anakku.
"Yah, ayah sedih nggak kalau Maudy pergi nanti?" Tanyaku saat suamiku sudah selesai memakai baju. Aku duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah senduku.
"Ibu ini ngomong apa sih bu? Ya sedih lah. Memangnya kenapa bu?" Suamiku sudah ikut duduk di samping ku.
"Nggak kok yah, namanya juga seorang ibu, pasti ada rasa nggak rela kalau pisah sama anak? Apa kita nggak terlalu memaksakan kehendak kita yah?"
"Maudy nya mau loh bu. Dia itu kemarin nolak pasti karena ada yang di beratkan disini, bukan kita bu. Ibu tau kan maksud ayah?"
"Mana mungkin Maudy juga nggak berat buat jauh dari kita yah?" Aku mulai tidak suka anakku disudutkan. Meskipun itu benar, tapi aku yakin ibu-ibu yang lain juga tidak akan senang anaknya disudutkan.
"Udah lah bu, ayah nggak mau berdebat pagi-pagi. Jadi ibu maunya gimana? Mau Maudy nggak usah pergi gitu?" Sekarang suamiku sudah berbicara dengan lembut.
"Nggak, udah ya udah biar Maudy pergi." Aku mengalah sekarang.
"Kan ayah udah janji bu, nanti setahun Maudy disana kita juga bakal susul kesana, kita lihat keadaan anak kita. Ayah juga udah nabung dari sekarang kok bu, ayah sisihkan uang masuk yang ayah dapat." Aku tidak menyangka suamiku begitu hemat hanya demi anaknya.
"Kapan ayah janjinya?" Aku bertanya sekarang, karena memang dia tidak pernah mengatakan hal itu padaku.
"Oh iya, ayah bilangnya cuma sama Maudy kemarin. Ya udah yang penting ibu kan sudah tau sekarang." Ucapnya santai. Padahal begitu saja aku hampir marah.
"Sekarang ibu bangunkan Maudy, suruh dia bersiap sekarang." Aku mana mungkin bisa menolak perintah suamiku. Aku langsung pergi keluar kamar untuk membangunkan anakku.
Lama aku berdiri di pintu kamar anakku, kenapa rasanya berat sekali untuk membangunkannya. Aku merasa Minggu yang akan di jalani hanya terasa seperti hitungan jam sekarang.
Mengingat waktu yang berjalan, aku langsung mengetuknya, berteriak. Tak lama ia bangun dan berjalan gontai keluar kamarnya. Aku memandang punggung anakku ketika masuk ke dalam kamar mandi. Ah rasanya baru saja semalam aku mengurusnya, mengajarinya berjalan. Dan sekarang dia sudah dewasa.
Maudy ini memang berbeda dengan anak yang lain, terutama pada Tisha adiknya. Maudy pintar, dalam hal apapun dia juga bisa. Sikapnya lebih seperti lelaki, tidak suka yang aneh-aneh, berdandan apa lagi. Sementara adiknya, baru SMP saja sudah ribet, yang makai bedak, lipstick, selalu maskeran kalau di rumah. Nanti kalau aku melarangnya pasti jawabannya. "Ibu mau kalau anak ibu itu dekil." Aku terdiam, susah bicara sama anak jaman sekarang memang.
"Bu, aku pergi." Baru juga aku ngebatin, anaknya udah muncul.
"Hati-hati ya." Ucapnya dan mengelus puncak kepalanya.
Karena sifat Maudy yang cenderung humble gampang bergaul, juga tidak takut dengan siapapun. Itu kalau dia tidak salah. Hal itu yang membuat ayahnya yakin kalau Maudy bisa jaga diri.
"Bu, ayah sama Maudy berangkat dulu." Aku mengantar mereka sampai di depan pintu rumah. Aku memandang anakku, memang selalu seperti itu gayanya, memakai celana jeans, sepatu, dan baju favoritnya, yang hanya dengan lengan tiga perempat, kalau tidak itu ya palingan kaus, dan lengannya gulung.
Aku tersenyum lagi, lalu menutup pintu. Ah semoga anakku bisa sukses, bisa mewujudkan keinginan kami yang membuka usaha disini nantinya.
Ibu end.
--__
Aku bakal ungkapin isi hati orang tuanya, supaya tau jalan ceritanya. Bagaimana perasaan seorang ibu harus berpisah dengan anak, tidak akan ada yang senang. Tapi semua harus karena keadaan, jangan lupa like ya beri semangat aku supaya tetap rajin update 🙏🙏🙏
__ADS_1