Dia Bimaku

Dia Bimaku
Gara-gara mobil


__ADS_3

Berkemas memasukan barang ke koper, ada wajah yang saat ini ditekuk, ingin sekali rasanya dia berteriak AKU MAU IKUT!! Tapi melihat sedari tadi tidak ada reaksi ataupun sekedar mengajaknya. "Sayang, tidur ya? Aku berangkat ke bandara di antar supir." Harus menelan pahitnya di tinggal suami kali ini. Ah rasanya gimana ya?? Ya Bima harus berangkat malam ini, meninggalkan Maudy sendiri.


Apa rasanya tidur tanpa kamu Bim?


"Cuma satu Minggu sayang." Mengelus lembut puncak kepala Maudy, tersenyum manis ke arahnya. Dan langsung berjalan keluar kamar dengan membawa koper miliknya. Supir sudah menunggu didepan, begitu katanya sehingga tak bisa berlama-lama lagi, keberangkatan juga tidak lama lagi. Huh, bisa apa sekarang.


"Bim? Peluk dulu lah!" Menghentakkan kakinya ke lantai.


"Sini?" Merentangkan tangannya, menunggu Maudy berjalan mendekat. Tapi salah, bahkan hanya bergeser satu senti pun tidak Maudy lakukan. "Sayang, ku mohon. Jangan membuatku berubah pikiran karena melihat wajahmu?" Dia mengalah, memeluk Maudy dengan sangat erat. "Jujur, aku sengaja begini, supaya aku tidak goyah. Aku juga tidak bisa membayangkan jauh dari kamu!" Memeluk lagi.


Ajak aku Bim, ajak!!


"Ya sudah, pergilah Bim." Pasrah, menunggu Bima tidak mengatakan hal itu. Maudy benar-benar tidak mau mengantarnya bahkan sampai di depan rumah sekalipun, biar saja. Dari pada aku yang menangis nanti, pikirnya.


"Maudy mana Bim?" Ibunya melihat Bima yang hanya keluar kamar seorang diri, membawa koper dan sudah terlihat akan berangkat sekarang juga.


"Maudy di kamar bu, mungkin dia mau tidur." Ibu malah menghela nafas, jangan begitu seharusnya. Bima teus berjalan ke arah depan.


"Dy, Maudy. Buka pintunya." Ah ternyata ibu sudah jelas akan protes kepada anaknya. "Kamu gimana sih, suami kamu pergi bukannya kamu ikut mengantarnya walau hanya di depan rumah." Baru saja pintu terbuka. "Ayo sana." Maudy menutup pintu dan tidak menjawab.


Ibu sepertinya tak pernah merasakan indahnya pengantin baru!


Maudy hanya berdiri dan bersandar di samping pintu, layaknya seperti anak kecil yang akan ditinggal orang tuanya pergi. Begitu kan? Syukur tidak nangis menjerit.


Bima sudah menghilang bersama mobil yang sudah memasuki jalanan raya, nafasnya sesak. Jujur, sudah ingin menangis sekarang.


Ah Bima! Kamu beneran nggak ngajak aku!!!


"Dy?" Langsung menoleh. "Sekali Bima sudah pergi, kamu malah masih disini. Kenapa? Sedih?" Ya ampun, ibu masih bertanya. Maudy mengangguk dengan wajah lesunya.


Ibu malah tertawa.


"Wajar Dy, diakan lagi melakukan pekerjaannya. Bima sudah pamit sama ayah kalau mau ajak kamu, tapi ayah melarangnya. Takut nanti malah merepotkan Bima disana."


Jadi karena ayah? Apa katanya, aku merepotkan? Ayah kali ini jahat ah.


"Lagian kamu besok juga harus pergi ke resto, pembangunan sudah selesai."


"Loh kok aku bisa nggak tau bu?"


"Memangnya kamu bisa dihubungi? Bukan kah semua nomor ponsel laki-laki sudah tidak bisa menghubungi mu?" Maudy terdiam, benar kata ibunya. Maudy berlalu begitu saja. Meninggalkan ibu tanpa berkata lagi. Menuju ruang TV. dimana ayahnya sedang menonton drama.


"Ayah?" Cemberut.


"Iya, kenapa?" Tak mengalihkan pandangannya dari layar TV.


"Kenapa ayah nggak kasih ijin aku ikut Bima sih yah?" Protes, ibunya juga sudah ikut duduk disana.


"Dy, kamu sudah satu bulan menikah kan? Ayah takut kalau saat ini kamu mengandung, bukankah itu juga pengaruh buat kondisi kamu? Kamu sebentar lagi akan di sibukkan dengan membuka resto dan acara resepsi kamu." Lagi-lagi apa yang di katakan orang tuanya benar.


"Belum ada tanda-tanda yah."


"Iya memang belum, kan ayah bilang kalau?" Hem, Maudy diam.


"Sudah sana masuk kamar, memangnya nggak mau nangis? Katanya sedih di tinggal Bima?" Eh malah orangtuanya meledek. Semua nyebelin, Maudy langsung berdiri dan pergi masuk ke kamar.


Melihat ke langit-langit kamar yang seluruhnya bercorak putih, lamunannya buyar ketika dering ponselnya berbunyi.


Bima???


"Iya Hallo?"


"Belum tidur?"


"Belum?" Merubah posisinya, sepertinya senang saat di telepon pacar.


"Tidur sudah malam, aku temani kamu sampai tidur sayang." Diam sebentar. "Ah ya ampun sayang, baru sebentar aku sudah rindu??"


Lebay Bima!


"Iya aku tidur Bim?"


"Ya sudah, jangan di matikan ya sambungan teleponnya. Pokoknya kamu harus tidur sekarang, jangan lupa mimpikan aku! Jangan ada laki-laki lain yang coba-coba masuk ke dalam mimpi kamu. Dan besok, ayah bilang kamu harus ke resto kan? Kalau kamu ketemu dia (Ilham) jangan lupa bilang kalau kita sudah menikah. Supaya dia nggak ganggu kamu lagi!"


Tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Sayang?"


"Sayang?"


Ya ampun, ternyata Maudy sudah tertidur secepat itu. Mendengar ocehan Bima malah seperti di Nina bobokan.


***


Maudy pergi ke resto yang memang sudah jadi, sudah selesai tahap pembangunan, hanya tinggal mengecatnya saja.


"Gimana? Apa kamu puas?" Maudy mengangguk. Masuk ke dalam resto miliknya. Melihat setiap sisi bangunan, semua sama persis sesuai keinginannya. Tangannya mengelus setiap dinding. Huh, rasanya masih seperti mimpi.


Terima kasih om, ini semua karena bantuan om.


Lanjut keruangan yang nantinya akan menjadi tempat khusus untuknya. Seperti sebuah kamar, yang nantinya juga akan di isi dengan tempat tidur, TV dan juga lemari es. Bahkan Maudy juga meminta ada kamar mandi di dalam ruangannya. Ini mah lebih mewah dari kamar yang ada di rumah ibunya.


"Kamu juga bisa lihat di bagian kanan, sesuai permintaan kamu kan? Ada kolam renang di tengahnya?" Ah iya Maudy mengangguk. Benar kata Ilham, ini malah bisa selesai lebih cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan Maudy.


Bentuk bangunan resto milik Maudy dari depan terlihat kecil, namun ketika masuk ke dalam. Bagian kanan ada kolam renang di tengah-tengah, dan di pinggirnya terdapat tempat untuk khusus para pembeli makan disini. Di sisi kiri ada ruangan VVIP yang seluruhnya terbuat dari dinding kaca, jadi semua dapat melihat tapi tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.


Lalu di depan tepatnya di hadapan kasir, tempat seperti biasa layaknya resto lain, hanya saja Maudy meminta nanti kalau kursi terbuat dari kayu yang di pernis. Lalu di belakang, Maudy juga menyediakan ruangan untuk karyawan resto nantinya beristirahat.


"Lalu, tahap pengecatan kira-kira siapnya kapan?" Masih terus berjalan, dengan Ilham yang mengikuti langkahnya dari belakang.


"Seminggu lagi kira-kira. Kamu bisa langsung stok bahan makanannya. Jadi kalau selesai bisa langsung di adakan peresmian." Iya Maudy manggut-manggut. Memang benar kata ayah, kali ini dirinya sendiri akan sibuk.


"Sebentar ya?" Maudy mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.


"Hallo?" Masih berdiri di dekat Ilham.


"Oh ini kamu Bim. Iya ini lagi di resto kok?"


"Hem iya?" Melirik ke arah Ilham yang tak memandangnya tetapi menajamkan telinganya untuk mendengarkan percakapan Maudy.


"Naik mobil ayah tadi." Tertawa, Ilham hanya mampu melihat Maudy yang sepertinya sangat senang hanya karena di telepon.


"Ya udah, kamu tidur aja? Sebentar lagi aku pulang kok."


"Siapa? Pacar kamu?" Bertanya setelah Maudy siap menelepon.


"Bukan." Tersenyum. "Tapi suami aku." Deg. Ilham langsung terdiam.


"Aku udah liat semua, jadi aku pulang duluan ya Ham? Apa kamu masih mau disini?" Ilham mengangguk. Maudy langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan raut wajah Ilham, Maudy tau kalau terus berdiri di dekatnya, Ilham akan terus bertanya dan mengorek informasi. Padahal sudah di perjelas dengan mengatakan kalau Bima suaminya.


Iyalah jelas dia pilih Bima, orang anak orang kaya.


***


"Mobil siapa ini?" Maudy bingung, ia langsung berjalan masuk ke rumah. Di sana sudah ada orang asing yang memakai seragam dealer mobil.


"Itu anaknya." Ayahnya menunjuk ke arah Maudy yang baru saja melangkah masuk dengan wajah bingungnya.


"Kenapa yah?" Ikut duduk di samping ibunya.


"Silahkan tanda tangan mbak, disini." Menunjuk di kertas bagian depan. "Mobil sebentar lagi sampai."


"Tunggu mas, maksudnya apa? Mobil siapa? Saya nggak beli mobil." Bingung, ayah juga sama. Tapi Maudy bisa menebak, kelakuan siapa ini.


"Sudah." Menyerahkan kertas yang sudah ia tanda tangani.


"Baik kalau begitu saya permisi, nanti ada pihak kami yang mengantar kesini." Semua mengangguk lalu saling tatap. Maudy langsung masuk ke kamar, menelpon nomor yang beberapa menit lalu meneleponnya. Tapi tidak di angkat, sepertinya dia benar-benar tidur.


Sementara ibu dan ayahnya kembali lagi di kejutkan dengan kedatangan segala perlengkapan bangunan. Maudy tidak tau lagi tentang hal ini.


"Maaf pak, benar ini alamat rumahnya bapak Subi?" Ibu dan ayah saling pandang, Bima lagi pasti batin mereka.


"Iya benar, saya sendiri orangnya." Mendekat ke arah supir.


"Ini ada pembelian dari ibu Lisa, katanya di antar ke alamat ini?" Iya ayah Subi mengangguk saja.


Anak dan ibu benar-benar suka buat kejutan, untung saya dan istri tidak punya riwayat penyakit jantung.


Ayah Subi pasrah dan tidak bisa menolak, melihat mereka yang mengantar meletakkan semua keperluan bangunan di samping rumahnya. Berupa, keramik, genteng, pasir dan juga semen.


"Sudah ya pak." Iya mengangguk lagi.

__ADS_1


"Kenapa anak dan ibu selalu tak pernah bertanya kepada kita dulu ya bu kalau mau kasih sesuatu, setidaknya bilang dulu kek?" Eh dia mengomel.


"Ayah, bersyukur lah yah? Kok malah menggerutu. Ibu tau yah, karena kalau mereka bilang pasti kita menolaknya kan?" Ayah Subi terdiam.


"Iya sih bu." Garuk-garuk kepala lagi. Bagian mana yang akan di bangun? Batinnya bertanya.


"Kita masuk aja yah? Ini siapa yang mau ngerjain yah?" Entah lah, begitu jawaban suaminya. Jangan tanya dulu lah, masih bingung.


"Yah, mobilnya datang." Ibu malah terlihat girang, melihat sebuah mobil mewah berwarna putih dengan ikat tali pita di depan bagian mobil masuk ke halaman rumahnya.


"Sepertinya, setelah ini kita jangan sering-sering makan makanan yang berlemak ya bu. Atau berkarbohidrat."


"Lah, kenapa yah?" Merasa tidak nyambung.


"Iya, karena takut terkena riwayat sakit jantung." Ayah pergi meninggalkan ibu yang masih mematung mendengar ucapannya tadi. Terlihat seorang laki-laki turun dari dalam mobil, menyerahkan kunci lalu pamit.


"Surat-surat bisa di ambil nanti setelah satu bulan ya pak. Ini kuncinya, saya permisi." Tak banyak berbicara, hanya begitu saja? Nggak minta uang bensin, batin ayah Subi.


"Ibu, kenapa masih berdiri disana?? Panggil Maudy bu, bilang mobilnya sudah datang." Ibu Irma langsung masuk ke dalam. Kembali setelah beberapa menit dengan membawa Maudy.


"Lihat Dy, itu mobil keluaran terbaru kan? Pasti mahal kan Dy?" Tak menghiraukan ucapan ibunya dan langsung berjalan mendekat ke mobil, dimana ayahnya juga masih berdiri disana.


"Mobil baru ya pak lek?" Salah satu tetangga menyapa dan bertanya. Mungkin hanya iseng lewat karena rasa ingin tahunya, sudah hafal kalau Maudy mah sifat orang-orang disini.


"Iya nih, menantu yang belikan." Makin berbangga diri, Maudy tertawa. Tak sangka ayahnya juga suka pamer.


"Biarin aja Dy, biar makin iri mereka." Maudy langsung masuk ke dalam mobilnya. Semua tempat duduk masih terbungkus plastik, ah ya ampun. Padahal bertekad mau membeli mobil sendiri, tapi malah sudah di belikan duluan sama suami.


"Kamu mau coba?" Ayah menunduk berbicara melalui kaca mobil.


"Iya yah? Ayo?" Ayahnya juga mengangguk dan langsung masuk.


"Loh, ibu ikut lah kenapa di tinggal?" Ikut masuk juga.


Tisha yang baru saja memasuki halaman rumah dengan menaiki motor maticnya, dan itu juga pemberian dari Bima. Bingung melihat semua keluarganya masuk ke dalam mobil baru yang masih terlihat jelas ada sebuah pita berwarna merah di depan mobil.


"Loh, mbak mau kemana?" Mengentikan motornya, dan berlari ke arah mobil sebelum pergi.


"Kamu mau ikut?" Bingung, mobil siapa ini? Bertanya lagi dalam hati.


"Ikut, tunggu sebentar." Tisha berlari lagi ke arah motornya. Memasukan ke garasi dan berlari lagi lalu masuk ke dalam mobil, duduk di samping ibunya. Sementara ayahnya duduk di samping kemudi.


"Moh bil siapa bu?" Nafasnya terengah-engah. Wajahnya meringis, tangannya memegang dada. Sesak rasanya berlari walau hanya jarak dekat.


"Atur nafas dulu baru ngomong Tisha." Ibu mengingatkan.


"Kita mau kemana yah?" Sudah keluar dari daerah rumahnya. Sampai di persimpangan, menunggu jawaban dari ayahnya.


"Terserah kamu, kan kamu yang nyupir. Kamu yang punya mobil." Maudy tersenyum, dia langsung belok ke kiri. Menyusuri jalanan kota yang tampak lenggang di siang hari, hanya ada beberapa anak sekolah yang tampak berdiri menunggu angkutan umum. Dan ada juga yang membawa motor berboncengan dengan temannya.


"Kita ke taman aja ya yah? Mau nggak? Minum es gitu disana?" Ah usul yang baik, cocok kalau disaat begini.


"Boleh?" Ibu juga setuju.


Oh jadi mobil mbak Maudy ini?


Sedari tadi pemikiran Tisha terlambat, sekarang baru menyadari setelah mobil sudah melaju jauh.


Sampai di taman kota mereka langsung turun, memilih tempat yang sejuk di bawah pohon besar. Memesan minuman dingin, ayah pasti selalu dengan minuman favorit nya, kolak dingin.


"Kolak dingin dua." Untuk pasangan lansia, batin Maudy. "Kolak durian dua." Pelayan mengangguk, ah bukan pelayan sih. Hanya penjual biasa yang memakai mobil box sebagai tempat dapur mereka. Unik, tampak di hias dan di beri polesan sehingga jika di lihat sekilas seperti bukan mobil box.


"Mbak, dimsum enak tuh?" Menunjuk ke arah stand lain, Maudy menelan ludah. Iya tampaknya enak, pikirnya.


"Yah, aku nggak bawa dompet pinjam dulu uang ayah? Nanti aku ganti?"


"Lah, ayah juga nggak bawa dompet lah Dy. Tadi kan kita perginya mendadak." Menatap ke arah ibu.


"Ibu juga nggak bawa?" Sambil menggeleng, memegang kedua saku celananya.


"Jadi kita bayarnya gimana ini yah? Malu lah yah kalau ngutang, masak iya naik mobil mewah nggak bawa uang." Semua sudah panik, yang terakhir mereka semua menatap ke arah Tisha.


"Ini ada, tapi ini uang sekolah tadi pagi yang ibu kasih. Belum di bayarkan karena gurunya tidak datang." Mengeluarkan uang seratus ribuan lima lembar. Huh mereka semua bernafas lega.


"Itu sudah cukup, ayo kita beli dimsum." Mengajak Tisha dan mereka langsung pergi.

__ADS_1


"Yah, tadi pintu rumah masih terbuka kan??" Diam, ayah hanya bisa menepuk keningnya. Gara-gara mobil baru semua ambyar.


--__


__ADS_2