
Pagi hari yang berselimut kabut embun tebal, jarak pandang pun hanya berkisar meteran saja. Tapi semangat untuk berolahraga tak menutupi alasan tersebut. Bagi mereka kesehatan yang utama, embun di pagi hari adalah anugerah terindah dari Tuhan. Dengan menikmatinya yang hanya sesekali muncul di pagi hari. Senyum para orang-orang yang berlari kecil di sebuah jalur khusus pelari dengan membawa anggota keluarganya, ada juga yang berpasangan. Termasuk mereka berdua.
"Mau lanjut lari lagi?" Sundari mengangguk. Dia memang tipe orang yang sedikit bicara, tapi jika menyangkut pekerjaan, bahkan Bima mengakui kecerdasannya.
"Yakin? Nggak lelah?" Mengangguk lagi lalu tertawa kecil.
"Aku sudah sering lari pagi kalau saat weekend, berbeda dengan mu, tuh keringat sudah banjir di seluruh wajah." Tersenyum sambil geleng-geleng. "Sini aku bersihkan." Sundari mengeluarkan handuk kecil dan dengan telaten mengusap ke wajah Ilham.
Kenapa aku deg-degan? Dasar bodoh!
"Eh aku bisa sendiri." Ilham mengambil handuk, dan tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Sundari kikuk membuang pandangannya lalu menggerakkan kakinya berpura-pura sedang melemaskan anggota tubuh.
"Ya udah, kita duduk aja lagi. Kamu benar aku jarang olahraga, jadi baru lari sebentar udah lelah." Tersenyum.
Duduk di sebuah kursi besi yang memang hanya muat dua orang saja, tampaknya ini dirancang khusus untuk orang pacaran. Lihat saja, mereka bahkan sampai tak memberi ruang untuk angin lewat. Tubuh saling menempel, ingin rasanya Sundari berdiri dari sana. Tapi Ilham berkata, sudah nggak apa-apa.
Duduk dalam keheningan, gelisah, apa yang mau di bicarakan? Dan kenapa juga mau aja di ajak Ilham lari pagi, bukankah seharusnya mereka berkencan saja?
Ah aku mengharapkan apasih.
Sundari wanita dewasa yang memang belum pernah sama sekali merasakan apa itu pacaran, karena prinsip hidupnya harus patuh pada orang tua, walau orang tuanya juga tidak melarangnya untuk saat ini memulai hubungan dengan seseorang.
"Aku beli air mineral dulu ya, tunggu disini jangan kemana-mana." Tertawa kecil.
Memangnya aku mau kabur apa!
"Mau beli cemilan nggak? Roti gitu?" Sundari menggeleng.
Menatap kepergian Ilham menuju warung satu-satunya yang ada disana, dia tersenyum. Tampan, batinnya. Lamunan itu segera buyar, ketika satu botol air mineral di goyangkan tepat di hadapannya. Sundari menunduk malu, karena ketahuan sedari tadi ia menatap ke Ilham.
"Kita cari sarapan mau nggak? Aku nyerah deh, nanti weekend Minggu depan kita lari lagi. Dan aku janji bakal lebih dari ini."
Lebih dari ini? Maksudnya dia nembak aku gitu? Secepat itu?
"kamu mikir apa? Maksudnya larinya lebih dari ini." Ah ya ampun malunya.
"Sebentar ya?" Sundari berjalan sedikit menjauh untuk menerima telepon.
Pak Bima? Mau apa telepon pagi-pagi?
"Ya Hallo pak?"
"Kamu dimana?"
"Saya lagi olahraga pagi pak."
"Kamu sendiri?"
"Tidak pak, sama Ilham." Melirik ke arah Ilham yang masih duduk menatap lurus ke depan.
"Bagus."
Bagus???
"Saya minta tolong, nanti belikan bubur ayam ya, yang paling enak menurut kamu. Terus antar ke resto. Istri aku ngidam."
"Baik pak, setelah ini saya belikan." Tut, sambungan langsung terputus. Sundari tak mampu menolak, karena baru kali ini ia mendapat tugas yang bukan menyangkut pekerjannya.
Setelah kembali Ilham sudah berdiri dari duduknya, menatapnya tanpa berkedip, sehingga membuat Sundari sendiri salah tingkah.
"Kenapa? Orang tua kamu yang telepon?"
"Bukan, pak Bima. Dia suruh aku belikan bubur ayam. Soalnya Maudy ngidam."
"Oh ya sudah ayo?"
Kenapa dia yang semangat? Bukan kah aku yang di beri tugas.
"Aku temani kamu. Sekalian kita juga makan, kayaknya enak bubur ayam." Bahkan Ilham mengulurkan tangannya untuk menggandeng Sundari. Niat untuk menyambut uluran tangan jelas masih ia urungkan.
"Oh maaf." Sundari mengangguk. Mereka berjalan beriringan, di bawah pohon besar yang bertebaran daun berwarna kuning keemasan. Saling lirik lalu buang pandangan lagi. Hingga sampai di mobil, mereka juga tak saling bicara.
***
"Itu enak tempatnya, biasa aku sama papa beli disitu." Menunjuk salah satu warung kecil dengan gerobak sebagai tempat meracik bubur ayam. Pelanggan tampak ramai meskipun ini masih terbilang pagi. Membuat Ilham semakin yakin kalau yang di katakan Sundari benar.
"Pak, bubur ayamnya tiga ya. Makan disini dua mangkuk, dan yang satu di bungkus."
"Siap neng."
Sundari kembali duduk di depan Ilham, mengetuk jari ke atas meja sebagai pelampiasan suasana saat ini.
Menatap lalu lalang pejalan kaki dan kendaraan yang lewat, tak semuanya di antara mereka hanya lewat begitu saja. Ada yang berbelok untuk mengisi perut, sama seperti hal yang mereka lakukan saat ini.
Hingga bubur datang, tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Menyantap dengan diam, lalu Ilham tersedak. Sundari segera menyodorkan satu gelas air putih.
"Pelan-pelan makannya." Ilham mengangguk lalu meneguknya hingga habis.
"Ah so sweet benar ini pasangan anak muda, kalau bisa nanti sampai menikah juga begitu ya?" Istri dari penjual yang sedang membersihkan meja bekas pelanggan lain tersenyum menatap mereka.
"Menikah?" Serempak dan saling pandang, lalu menunduk lagi melanjutkan makan mereka.
Ting, suara sendok berdenting di atas mangkuk. Tanda kalau bubur sudah habis tak bersisa.
"Apa kita mau langsung kesana?" Ilham bertanya.
"Sebentar lagi ya, habis makan duduk dulu sebentar." Ilham mengangguk tanda setuju.
Sundari memang cantik, nggak jauh dari Maudy, dia juga tipe cewek yang natural.
"Kenapa?" Melihat Ilham yang menatapnya tanpa berkedip.
"Eh, nggak. Kamu cantik."
__ADS_1
Eh aku keceplosan!
"Hah?" Kaget, lalu meneguk air hingga habis.
"Kamu belum punya pacar?" Sundari menggeleng. "Mantan pacar?" Menggeleng lagi. "Nggak mungkin?"
Menggebrak meja dengan pelan.
"Sumpah!" Mengacungkan dua jarinya.
"Kalau begitu kita pacaran."
"Apa??" Lebih kaget.
"Loh, jadi kalian belum pacaran?" Ah istri penjual mendengar saja. Tak tau harus menyembunyikan wajahnya dimana sekarang.
"Terima aja atuh neng." Ya ampun, ibu ini kenapa sih.
"Neng, ini yang di bungkus ya?" Meletakkan bubur ayam di atas meja mereka. Ilham berdiri dan mengeluarkan dompetnya, siap untuk membayar lalu pergi. Sebenarnya dia juga malu.
"Eh aku aja yang bayar, tadi kan pak Bima yang suruh aku." Secepat mungkin mengeluarkan uang. Penjual menatap mereka satu persatu, lalu garuk-garuk kepala, uang mana yang akan ia ambil.
"Ini saja pak." Sundari meletakkan uang seratus di tangan penjual. Ilham kalah cepat.
"Kalau begitu ini ambil juga pak. Anggap rezeki bapak di pagi hari." Ikut meletakkan uang seratus ribuan.
"Alhamdulillah. Saya doakan hubungan kalian langgeng ya, sama kakek nenek." Hah? Saling tatap.
Amin. Ilham.
Amin. Sundari.
Ketika sudah duduk di dalam mobil, mesin sudah menyala tapi Ilham belum juga melajukan mobilnya.
"Maaf yang tadi."
"Iya."
"Jadi gimana?" Sundari menoleh sekilas.
"Apa kamu terima?" Diam, menunduk malu.
"Iya."
Hah?
"Jadi kita pacaran?" Sundari mengangguk.
Yes, hadiah dari Bima i'm coming.
Dua kali bertemu, satu kali jalan dan belum sempat berkencan. Hal yang di ingat Sundari, bahkan belum mengetahui seluk-beluk Ilham seperti apa. Kenapa aku terima saja? Batinnya.
Tapi aku senang, aku punya pacar sekarang.
"Sundari?" Dia menoleh.
"Secepat itu?"
Eh aku harus apa sekarang??
"Aku bilang papa dulu."
"Jangan?"
"Kenapa?" Bingung, bukannya harusnya begitu kan? Aku ijin ke orangtuaku?
"Biar aku yang datang dan bilang ke orang tuamu."
Ya ampun.
Hening...
***
Sundari turun dengan membawa kantung plastik berwarna putih, bukan hanya itu sebenarnya yang ia bawa. Ada juga degup jantung yang tak beraturan, serta nafas yang juga keluar tak terkendali. Oksigen, sepertinya dia butuh oksigen yang lebih sekarang.
Sementara Ilham masih bisa terlihat santai, tak lupa juga senyum di wajahnya mengembang saat melangkah memasuki resto.
Terlihat masih sepi, hanya ada beberapa karyawan resto milik Maudy. Dan tanda close yang masih menggantung. Memang saat ini belum buka, hanya saja mereka sudah mempersiapkan semuanya.
"Mbak, mau nanya. Apa Maudy ada?" Bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang membersihkan meja.
"Ada mbak, di dalam. Sebentar ya saya panggilkan."
Sundari dan Ilham duduk menunggu, hingga beberapa saat terdengar suara langkah kaki mendekat. Mereka sama-sama menoleh, lalu bingung.
"Pak, ini buburnya." Tapi Bima malah tersenyum ke arah Ilham.
"Iya makasih, jangan bilang kalau kamu yang beli ya? Soalnya Maudy minta aku yang belikan sendiri." Berbicara sedikit pelan, lalu menoleh ke belakang, aman batinnya.
Bima menarik kursi lalu ikut duduk.
"Maudy lagi sibuk di dapur." Tanpa mereka bertanya.
"Oh iya pak."
"Kamu cuma beli satu Sun?" Sundari mengangguk. "Pelit sekali, kenapa aku nggak di belikan?" Menoleh ke arah Ilham. Kenapa? Apa dia mencoba meminta bantuan pacarnya sekarang?
"Tapi bapak hanya minta di belikan untuk istri bapak?" Bingung, memang begitu yang dia dengar di telepon tadi.
"Iya, kamu benar. Dengan begini kami bisa suap-suapan." Tersenyum mengejek ke arah Ilham. Tidak, dia masih fokus dengan ponselnya dan berpura-pura tidak mendengar.
"Kalian hebat ya, baru berjumpa sekali sudah terlihat akrab, bahkan olahraga berdua." Menyindir lagi.
__ADS_1
"Jadi sudah sejauh apa?"
Apa maksudnya?
Sundari diam dan hanya tersenyum malu.
"Kita sudah pacaran, bentar lagi menikah?" Meletakkan ponsel ke atas meja.
Puas kamu Bim!
"Wah bagus dong. Bagus sekali itu. Nanti aku kasih hadiah mobil dan tiket bulan madu untuk kalian?" Hah? Sundari langsung menggeleng mendengarnya. Apa ini hanya bercanda?
"Aku serius?"
"Bim, apanya yang serius?" Datang dan berdiri di samping Bima.
"Eh sayang?" Tersenyum, menarik tangan Maudy lalu mengecupnya. "Sayang, mereka sudah pacaran sekarang." Dia yang pamer, dan dia yang bangga.
"Bagaimana bisa? Bahkan rencana untuk menjodohkan mereka belum saja di mulai."
Suami istri sama saja!
Maudy menatap ke arah Ilham, meminta penjelasan. Bagaimana bisa! Begitu saja yang di pikirkan saat ini.
"Kak Sun? Apa benar?" Sundari mengangguk lagi lalu tersenyum.
"Kalau begitu besok kamu nggak usah lembur Sun, kamu pulang cepat aja biar bisa kencan sama pacar kamu."
Maudy ikut senang mendengarnya, bahkan dia mendukung ucapan Bima barusan.
"Makasih pak. Tapi tidak perlu seperti itu, kerjaan saya biar saya kerjakan sampai selesai."
"Wah, beruntung sekali kamu Ham dapat pacar seperti dia." Ilham manggut-manggut.
"Apa sejak pandangan pertama kalian sudah saling suka?" Bima, ah Ilham sudah frustasi dengan akting sebagus dia.
"Bim, kenapa kamu nanya begitu? Itukan urusan mereka."
Ini semua karena kamu Bim! Eh tapi nggak apa, aku memang suka Sundari.
"Sudah Dy, kamu nggak mau makan buburnya?" Sundari mengalihkan topik pembicaraan. "Enak tau bubur ayamnya."
"Kok kak Sun tau bubur ayamnya enak?"
"Iya tadi kami yang be-" Bima sengaja berdehem untuk memberi peringatan.
Aduh gawat, bakal dapet karma ini sepertinya.
Bima mulai gelisah karena Maudy sudah menatapnya tajam, bahkan tanpa berkedip.
Saatnya balas dendam.
"Tadi memang kita yang beli Dy, soalnya tadi suami kamu telepon Sundari waktu kami selesai olahraga. Katanya kamu ngidam pengen makan bubur ayam, jadi ya Sundari beli di tempat yang biasa dia beli, memang enak kok. Soalnya tadi kita berdua juga sudah makan di sana." Mengoceh tanpa sedikit pun melirik ke arah Bima.
"Oh gitu ya, kalau begitu makasih ya Ham, kak Sun." Tersenyum, lalu melirik ke arah Bima yang diam.
"Sayang, sini makannya aku suapin." Membuka bubur ayam.
"Oh nggak usah Bim, itu buat kamu aja. Sekarang juga kamu belikan buat aku, aku sudah lapar." Deg, nah kan benar.
Dasar, Ilham sia**n!!
"Iya sayang, sebentar ya tunggu." Bima melangkah pergi, lalu berbalik lagi.
"Itu belinya dimana tadi?" Bertanya.
"Di dekat taman, penjual pakai gerobak dan ada warung kecilnya pak." Sundari menjelaskan.
"Kak Sun, gimana bisa?" Setelah Bima pergi, dia bisa leluasa bertanya.
"Hem, nggak tau." Sebenarnya dia malu di tanyakan hal begini, apalagi masih ada Ilham disini.
"Ya sudah, yang penting selamat ya kak, Ham. Jadi aku nggak perlu lagi nih carikkan jodoh buat kamu kan Ham?"
Carikan jodoh??
Sundari menatap Ilham, menunggu dia menjawab.
"Enggak Dy. Bilang makasih ya sama Bima."
"Kenapa Bima?"
"Ayo sayang kita pulang." Menarik lengan Sundari.
Ada dua orang yang bingung disini, kenapa Bima? Itu yang sama-sama mereka pikirkan.
Aku harus bertanya dengan Bima!
Besok aku akan bertanya dengan pak Bima.
***
"Pak, bubur ayam satu di bungkus."
Menunggu beberapa menit.
"Ini mas." Bima mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Ambil aja kembaliannya pak." Langsung pergi begitu saja tak menghiraukan ekspresi dari wajah penjual bubur. Bahkan belum sempat untuk mengucapkan terima kasih.
"Bu, ibu." Dia berteriak memanggil istrinya yang sedang mengantar bubur ke meja pelanggan.
"Kenapa pak?" Panik.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita tutup bu, keuntungan sudah lebih dari cukup." Hah? Istrinya bengong. Nggak ngerti maksud ucapan suaminya.
--__