
Tangis haru pecah begitu saja, meraung-raung dan saling memeluk. "Bagaimana Revan sekarang?" Kabar duka yang harus dia dengar, sebelum anaknya pamit pergi untuk melakukan pekerjaannya.
"Ma, mama sabar ya." Mamanya datang dengan duduk di atas kursi roda, beliau sudah dinyatakan lumpuh seumur hidup beberapa tahun lalu. Revan, dia adalah anak tertua di keluarganya, sejak papanya meninggal dialah yang menjadi tulang punggung. Dua adiknya juga yang masih berstatus anak sekolahan, banyak biaya yang harus dia tanggung. Tapi kalau begini, siapa lagi yang akan di harapkan orang tuanya?
"Dokter, gimana anak saya?" Mereka sudah duduk di dalam ruangan.
"Revan sudah sadar bu, hanya saja kakinya yang patah tulang."
"Apa dia akan lumpuh dok?" Panik, melihat kedua kakinya sendiri yang sudah tidak lagi bisa bergerak. Anak perempuannya mengusap lembut bahunya.
"Tidak bu, hanya patah tulang. Saudara Revan juga akan segera sembuh nantinya, asalkan selalu melakukan terapi sesuai perintah dokter."
"Kakakmu Lena?" Mamanya menangis.
"Sudah ma."
"Apa boleh saya melihatnya dok?"
"Boleh, mari saya antar. Pasien telah di pindah ruangan karena sudah melewati masa kritisnya."
Lena, dia adik perempuan Revan yang selalu merawat orang tuanya. Dengan sabar selalu membawa mamanya dengan kursi roda yang tak pernah lepas dari kesehariannya. Berulang kali mencoba menguatkan mamanya dengan mengatakan sabar.
"Silahkan." Pintu ruangan di buka dan dokter meninggalkan mereka disana. Tidak lagi ada larangan, karena ruangan sudah di pindah.
Detik kemudian mamanya sudah terisak, begitu juga dengan adiknya. Melihat Revan yang terbaring dengan kaki yang di balut kain dan di sanggah. Wajah lebam yang susah di kenali, mata bengkak di bagian sebelah kiri.
"Evan?" Lirihnya.
"Mama?" Suaranya juga lirih, matanya bergerak liar, posisi yang tidak bisa dia rubah sekarang membuatnya memiliki keterbatasan untuk sekedar memeluk mamanya.
"Lena, dekatkan mama kesini." Pintanya dengan memelas.
Lena mendorong pelan kursi roda hingga ke samping tempat dimana kakaknya berbaring.
"Evan? Mama nggak bisa lihat kamu seperti ini nak?"
"Ma, tenanglah. Evan anak kuat ma, ini hanya sebentar?" Dia masih bisa tersenyum, ini demi menghilangkan rasa khawatir seorang ibu.
"Ma, apa mama sudah makan dan minum obat?" Mamanya menggeleng dan menangis sambil terus mengusap lembut wajah anaknya.
"Ma, jangan sampai telat makan dan minum obatnya. Lena? Hari ini jadwal mama terapi kan?" Lena mengangguk. "Apa sudah kamu antar mama kesana?" Lena menggeleng, ada sejuta kesedihan di raut wajahnya saat ini, Revan tau apa yang dia rasakan.
"Mama nggak mau kak, mama lebih memilih kesini untuk lihat kakak."
"Ma?"
"Evan, mau bagaimana pun, mau obat apapun, terapi setiap hari pun. Mama juga nggak akan sembuh, kamu tau kan diagnosa dokter kepada mama? Kanker otak yang menyerang mama tidak akan bisa sembuh kecuali mama meninggal."
"Ma!" Revan membentak dan berusaha menggerakkan tubuhnya. "Aw."
"Kak?" Lena panik.
"Nggak apa-apa." Mengatur nafas. "Ma, dengar ya. Semua itu hanya Tuhan yang tau, sembuh atau tidaknya mama itu bukan dokter yang menentukan ma." Mamanya terdiam. "Yang penting usaha selalu kita lakukan, dan juga doa ma."
"Maafkan mama selalu buat susah kamu."
"Ma cukup, jangan bahas ini sekarang." Mamanya mengangguk.
"Ma, apa mama mendapatkan kabar tentang pak Bima? Apa dia selamat ma?" Mamanya menoleh ke arah Lena.
"Kami nggak tau kak. Cuma ada kak Rina yang datang menanyakan tentang kakak."
"Ya ampun, bagaimana nasib pak Bima sekarang." Lirihnya.
"Apa dia yang pergi bersamamu Evan?" Revan mengangguk.
"Dia yang selalu memberi bonus lebih untukku ma. Aku khawatir dengannya, dia orang baik. Bagaimana dia sekarang ma? Istrinya tengah mengandung saat ini." Sontak mamanya kaget.
"Benarkah?" Revan mengangguk.
"Bagaimana pesawat bisa melakukan penerbangan jika ketika jatuh pihak bandara mengatakan kalau kabut sedang tebal dan cuaca buruk?" Revan terdiam mengingat semua kejadian di dalam pesawat sebelum jatuh.
"Kami hanya mendengar kalau surat keputusan keluar setelah pesawat take off ma. Semua sudah terjadi." Revan terdiam, matanya berkaca-kaca. Mengingat kala itu Bima selalu menggenggam ponselnya untuk segera memberi kabar ke istrinya begitu sampai di bandara.
Flashback
__ADS_1
"Pak, sebenarnya ada apa pak? Apa karena perempuan tadi? Lalu bapak serius akan mengakhiri kerjasama yang sudah di lakukan bertahun-tahun?" Revan kembali bertanya saat taxi sudah berhenti di bandara.
"Salah satu alasan ya itu? Tapi saya tidak bisa jauh dari istri saya." Revan terdiam, dan meyakini bahwa cintanya begitu besar untuk seorang Maudy.
"Tunggu disini."
"Bapak mau kemana?"
"Saya mau ke toilet." Revan mengangguk dan duduk di antara orang-orang yang juga akan melakukan penebangan. Revan sengaja memainkan ponselnya dan memberi kabar ke adiknya melalui pesan singkat bahwa akan pulang ke tanah air. Itu juga tidak di perbolehkan untuk memberi tau orang tuanya, dengan alasan ini sebagai kejutan saja. Karena sebelum pergi sempat ada drama dari mamanya yang tidak ingin Revan pergi.
Beberapa saat Bima kembali dan sudah waktunya mereka memasuki pesawat karena 15 menit lagi pesawat akan take off.
"Iya sayang, kamu tunggu ya. Kamu tidurlah, ini aku akan melakukan penerbangan. Nanti kamu bangun pasti bakal ada kejutan yang tak terduga." Bima tertawa kecil sambil menempelkan ponsel di telinganya. Revan tau kalau Bima juga sedang menelepon istrinya.
"Benarkah? Wah sepertinya dia juga rindu papanya ya?"
"Iya sayang, tidur yang nyenyak ya? I love you." Setelah mematikan sambungan telepon barulah Bima mengajak Revan segera beranjak.
"Pak, sepertinya kabut tebal ya pak? Ini memang di perbolehkan melakukan penebangan pak?" Padangannya mengarah ke sekeliling dan terkahir menatap ke arah langit.
"Saya tidak tau, sudah yang terpenting kita bisa pulang." Ah Revan langsung terdiam. Percuma jika mencegah, padahal saat ini perasaannya sungguh tidak enak.
Mereka sudah duduk di dalam pesawat, dengan duduk bersebelahan. Mendengar pengarahan dan melihat salah satu crew pesawat menghitung jumlah mereka. Hingga waktu sudah pas barulah pesawat siap untuk take off.
Bima memejamkan matanya, tapi tidak dengan Revan. Ia malah mengusap layar ponselnya yang terpampang jelas photo keluarganya.
Tunggu aku pulang ma, jadi aku bisa antar mama terapi nanti.
Awal mula semuanya masih baik, hingga terdengar suara ribut dari pramugari. Dan semakin panik ketika seluruh penumpang merasakan pesawat mulai oleng. Hanya ada instruksi untuk seluruh penumpang mengunakan oksigen.
"Ada apa ini?" Bima juga panik.
"Pak, sepertinya pesawat mengalami goncangan, apa kita akan jatuh pak?" Bima melihat kearah luar yang hanya terlihat awan gelap menyelimuti saat ini. Matanya membelalak ketika pesawat benar-benar kehilangan kendali.
"Revan, kita tetap bersama apapun yang terjadi." Revan mengangguk dan menggenggam tangan Bima. Eh malah seperti pasangan saja.
"Ahhhhhhhhh.." Suara jeritan terdengar nyaring dari seluruh orang-orang yang saat ini berada di dalam pesawat, baik itu penumpang ataupun mereka yang bertugas.
"Revan, Revan, ya Tuhanku bagaimana ini? Istriku, maafkan aku." Dan hingga pesawat sudah benar-benar jatuh. Bima membuka matanya, dia masih dalam kesadaran. Melihat keadaan sudah luluh lantak dengan kekacauan.
"Revan, bangunlah, sadarlah." Saat ini Bima tak sedikitpun merasakan sakit di bagian tubuhnya. Bima melihat kaki Revan terjepit. Memaksanya keluar, menariknya dengan paksa hingga terdengar suara tulang yang membuatnya ngilu. Entah bagaimana caranya, Bima bisa melakukannya. Tak peduli dengan keadaan yang lain, yang mungkin sudah tak bernyawa saat ini.
"Aku harus melompat." Dia membawa tubuh Revan melompat dari sana dan menahan jatuhnya dengan lengan kirinya. Bima menjerit sekuat-kuatnya, sakit yang teramat sangat dia rasakan.
"Maudy sayang." Gumamnya dan meneteskan air mata.
"Ahh." Suara lirih dari orang yang masih menimpa tubuhnya.
"Revan? Ayo cepat, apa kau bisa berjalan?" Revan menggeleng, kaki bahkan tak bisa di gerakan.
Bima memaksa untuk kembali bangkit, menyeret tubuh Revan menjauh dari badan pesawat yang saat ini berada tepat di atas mereka. Terlihat juga ada beberapa penumpang lain yang masih selamat dengan wajah dan tubuh berlumuran darah. Bima kembali memegang kepalanya, yang ternyata juga mengalir darah. Baru beberapa melangkah menjauhi badan pesawat, terdengar suara dentuman, dan mereka sama-sama terpental. Kepala Bima terbentur bebatuan, detik berikutnya semuanya gelap.
Flashback end
"Kalau pak Bima tidak menolongku saat itu, mungkin aku juga akan mati ma." Mamanya menangis sesegukan.
"Kamu benar, dia orang baik semoga Tuhan memberi keselamatan untuknya."
"Iya ma."
***
Beberapa saat setelahnya, mamanya Revan dan adiknya di haruskan menunggu di luar karena dokter akan segera memeriksa kondisi anaknya.
"Tante?" Suara yang sangat familiar di telinga mereka.
"Rina?" Ini kedua kalinya Rina datang menjenguk, tapi kali ini dia tidak sendirian. Mama Revan menangkap sesosok lelaki tampan yang berdiri di belakangnya. Dengan menggunakan pakaian rapi. Sepertinya bukan orang sembarangan, pikir mamanya.
"Silahkan pak." Mempersilahkan untuk memperkenalkan diri.
"Saya Rio tante, kakak dari Bima atasan Revan di kantor." Matanya langsung terbelalak, kaget. Jadi ini keluarganya? Batinnya.
"Saya kesini hanya untuk memastikan keadaan Revan?" Mama Revan mengangguk.
"Apa boleh saya masuk ke dalam?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya pak, Revan sedang di periksa dokter mengenai perkembangannya." Rio mengangguk, lalu duduk tak jauh dari mereka.
"Itu kakak kandungnya Rin?" Rina mengangguk, menoleh ke arah Rio lalu berbicara dengan berbisik.
"Iya tante, aku juga nggak tau kenapa pak Rio bisa mengerti kalau aku mengenal keluarga Revan. Jadi aku bawa dia kesini."
"Dokter, bagaimana anak saya?" Rina langsung mendorong kursi roda untuk mendekat ke arah dokter yang baru saja keluar.
Dokter tersenyum sebelum menjawab.
"Sejauh ini perkembangan maju pesat, mungkin itu karena doa ibu dan semangatnya yang ingin cepat sembuh. Kemungkinan besok Revan sudah di perbolehkan pulang jika hasil akhir sudah bisa di pastikan kondisinya stabil. Tapi ingat ya bu, Revan harus istirahat total, dan nanti pihak rumah sakit akan memberi jadwal untuk membuka pen yang ada di kakinya." Rio tersenyum samar dan mengelus dadanya, dia juga ikut mendengarkan.
"Terima kasih banyak dokter." Dengan suara bergetar. "Rina, bisa kamu antar tante ke dalam?"
"Ma, biar aku saja, jangan merepotkan kak Rina."
"Tidak apa-apa Lena, kamu juga lelah."
Yes, aku berhasil ambil hati mamanya Revan, tinggal Revan sekarang. Semoga dia cepat sadar.
"Pak ayo masuk." Rio mengangguk dan mengikuti mereka.
Revan menatap satu persatu orang-orang yang memasuki ruangannya, dan terakhir menangkap sosok yang dia kenali dan di hormati.
"Pak Rio?" Ucapnya lirih, Rio tersenyum mengangguk.
"Bagaimana, apa kamu sudah merasa jauh lebih baik?"
"Ba, baik pak. Tapi, tapi bagaimana pak Bima?"
Mama Revan, Rina dan Lena sengaja sedikit memberi ruang untuk Rio berbicara dengan Revan.
"Dia juga selamat."
"Alhamdulillah." Revan langsung mengadakan tangan dan mengucap syukur.
"Hanya saja masih koma. Tapi dokter berjanji akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ya Tuhan, semoga pak Bima cepat pulih dan sadar." Rio juga mengaminkan doanya.
"Itu mama kamu? Beliau sakit ya?" Berbicara sedikit pelan.
Revan langsung mengarahkan pandangannya ke arah sana, ia mengangguk lalu menatap ke arah Rio lagi.
"Mama sakit kanker otak pak. Itu berimbas pada organ tubuh yang lain, mama nggak bisa menggerakkan kakinya karena lemas, dan sampai mama di diagnosa lumpuh total." Rio menunduk.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud mengeluh."
"Tidak, tadi saya yang bertanya." Revan mengangguk. "Lalu itu adik kamu?" Revan mengangguk lagi.
"Kita tiga bersaudara pak, yang paling kecil laki-laki, dia tidak ikut kesini."
"Revan, begini. Ini saya lakukan bukan karena mengasihani kamu ataupun keluarga, tapi ini adalah bentuk atas permintaan maaf kami, ini semua papa yang meminta untuk tetap mengeluarkan gajih kamu dan bonus kamu, karena kamu pergi juga atas perintah Bima."
"Tapi pak?" Dia menoleh ke arah mamanya lagi yang kini juga menatapnya.
"Tidak, jangan menolak. Kami tidak mau di bilang lari dari tanggungjawab. Memang benar ini adalah kecelakaan yang memang melibatkan pihak bandara, tapi kami sendiri berinisiatif. Karena apa? Kamu kan harusnya masih sehat jika kamu bekerja di dalam kantor dan tidak ikut Bima. Mohon kamu mengerti."
Revan menggeleng tak percaya, ternyata seorang bapak Adi yang terkenal killer mempunyai hati dermawan, dan itu jelas menurun ke anak-anaknya.
Semoga keluarga kalian selalu di lindungi.
"Pak, saya mengucapkan banyak terima kasih." Rio tersenyum dan mengangguk. Dia mengelus bahu Revan lalu pamit untuk pulang.
"Rina, apa kamu masih mau disini? Atau pulang bareng sama saya? Soalnya tadi kan kamu saya yang ajak."
"Nggak pak, nanti saya bisa naik taxi." Menolak secara halus.
Yang benar saja, jika aku ikut dengan pak Rio malah menjadi gosip nantinya kalau ada yang melihat. Ah tidak, aku tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain.
"Oh baik kalau begitu, saya permisi. Saya pamit ya ibu." Mamanya memberikan senyum terbaik, melihat kepergian Rio yang sudah mulai melangkah keluar pintu.
"Itu benar pemilik perusahaan tempat kalian bekerja?" Memastikan sekali lagi.
"Iya ma, kenapa?"
__ADS_1
"Baik sekali dia, biasanya hanya utusan yang datang dan dia hanya menunggu kabar. Ini bahkan dia mau melihat dan langsung datang tanpa pengawalan. Sungguh luar biasa."
--__