
Tahun berlalu begitu cepat, saat sebuah keluarga kecil telah merasakan kebahagiaan. Karir yang sudah di rakit oleh sang mama juga menjadi alasan kesibukan setiap hari. Tapi tetap tidak lupa dengan mengurus anak.
Tahun yang di lalui juga tidak semulus yang semua orang lihat. Maudy yang sudah sukses dengan resto bintang limanya. Dan Bima, dia juga sudah berhasil mendirikan sekolah yang di impikan istrinya. Dan saat ini, kedua anaknya juga sekolah disana. Dua tahun lalu, Maudy harus merasakan sakit terberat di hidupnya. Kehilangan sosok ayah yang membuatnya syok hingga berbulan-bulan. Bima yang terus memberikannya semangat.
Kenapa harus pergi disaat aku ingin memperlihatkan kesuksesan ku? Begitu Maudy selalu Berteriak frustasi. Ibunya saat ini tinggal hanya berdua dengan adiknya, tapi Tisha juga sudah hampir menyelesaikan kuliahnya. Dan soal resto, Maudy juga mengajarinya untuk tau apa itu usaha, bisnis, dan yang lainnya, yang berhubungan bisa menghasilkan uang.
Pagi ini, sebelum anak-anak dan suaminya harus berangkat. Memang Maudy harus mengurus mereka terlebih dahulu, barulah bisa memulai lagi kegiatan di resto seperti biasanya.
"Sayang?"
"Bim sudah?" Kecup sana, kecup sini. Sekarang bisa bebas, kembali menikmati keromantisan di dalam kamar. Karena Endah dan Gio sudah tidur terpisah. Memiliki kamar masing-masing.
"Sayang, nanti Endah dan Gio pulang mau kamu yang jemput atau supir?" Maudy berjalan mendekat dan membantunya mengancingkan jas dan merapikan dasinya. "Soalnya nanti aku ada ketemuan dengan klien sayang, di luar. Revan juga ikut, jadi kayaknya nggak sempat." Maudy mengangguk.
"Aku aja yang jemput, kita sarapan ya? Anak-anak sudah menunggu di bawah?" Bak pasangan yang setiap harinya merasa seperti pengantin baru, ya memang begitu mereka. Bima bahkan setiap hari masih selalu menghubungi istrinya di sela-sela kesibukannya di kantor. Tak perduli walaupun hanya lima menit, yang terpenting bisa mendengar suara istrinya.
"Sayang?"
"Mama.." Mereka sudah duduk di meja makan, menyambut kedua orang tuanya datang. Maudy menarik kursi dan duduk. Menuangkan nasi ke dalam piring kedua anaknya dan juga suaminya.
"Gio, ingat pesan mama ya sayang. Selalu jaga Endah." Gio mengangguk dan memulai sarapan. Bima tetap Bima, mau tahun berganti sekalipun dirinya tidak akan berubah. Posesifnya, semua tetap sama. Bahkan Bima juga pernah mogok makan hanya karena Maudy sibuk mengurus kedua anaknya.
Endah, dia pendiam, pemalu. Dan Maudy sendiri tau itu sifat turunan dari siapa. Gio, dia selalu berulah, menjahili teman-temannya. Ah kalau untuk Maudy menolak jika Gio dikatakan seperti dirinya. Karena memang Maudy tidak pernah melakukan itu pada teman-temannya.
Jadi teringat saat Bima memarahi Gio. Waktu mereka pergi berlibur ke pulau, janji Bima waktu itu yang akan membawa anaknya kesana. Gio kembali berulah, dengan menjahili pelayan di waktu malam. Menakuti pelayan dengan berpura-pura menjadi hantu. Memakai pakaian serba putih dan bedak basah di wajahnya.
"Kalau tidak mau menurut. Papa akan kirim kamu keluar negeri."
"Aku mau pa. Malah aku ingin tau bagaimana luar negeri." Jawaban anak seusianya, bisa di katakan seperti jawaban orang dewasa. Bima yang merasa frustasi bahkan menyerah. Hanya Maudy yang bisa menegurnya, dengan cara halus. Sehingga Gio bisa mengerti.
Saat selesai sarapan, Bima sudah bangkit dari duduknya. Menggunakan jentikkan jari untuk mengajak anaknya berangkat. Dan keduanya sudah mengerti itu, Maudy tersenyum lalu mengusap kepala kedua anaknya sebelum mereka pergi.
"Ma, kenapa bukan mama aja sih yang antar?" Gio berbisik. "Nggak asik kalau sama papa ma." Dia mengaduh lagi, Maudy tergelak kecil.
"Memangnya kenapa papa?"
"Papa sombong ma, kalau mama temanku menyapa papa hanya diam dan tersenyum." Maudy langsung membulatkan matanya. "Mereka malah suka kalau papa yang antar, tapi kami tidak suka."
Papa sombong? Ya ampun anakku..
"Hei, masih kecil sudah pandai mengaduh! Ayo berangkat atau papa tinggal." Gio langsung mengecup singkat pipi mamanya lalu kabur dengan tertawa.
***
"Mbak, ada tamu VVIP nanti di jam makan siang. Mereka akan melakukan rapat disini katanya." Maudy mengangguk, lalu meminta karyawannya untuk membersihkan ruangan VVIP di restonya. Sekarang karyawan sudah berjumlah puluhan. Dan memakai seragam kompak yang lebih layak di lihat. Peraturan sudah jauh lebih ketat sekarang. Karena resto keinginannya sudah terkenal di kota ini.
"Nanti tolong kamu ingatkan mbak ya, jam 10 harus jemput Gio dan Endah."
"Iya mbak."
Kemudian, Maudy masuk ke dapur resto. Tersenyum kepada chef yang sudah mulai meracik. Walau resto akan buka 1 jam lagi, tapi mereka semua harus mempersiapkan lebih awal.
"Bahan-bahan masih banyak stoknya?" Bertanya pada salah satu karyawan wanita.
"Masih mbak, hanya aja seafood yang menipis. Soalnya pembeli lebih banyak memilih itu."
"Hubungi suplayer untuk mengirim paling lama sore ini, jangan sampai besok. Soal uang kalian bisa bilang akan segera di transfer."
"Baik mbak." Maudy langsung berjalan menjauh, ketika ponselnya berdering.
"Ya Hallo?"
"Dengan ibu Maudy? Orang tuanya Gio?"
"Iya benar, saya sendiri Bu."
"Maaf ibu, apa bisa menjemput Gio sekarang? Soalnya anak ibu berkelahi."
Deg. Lagi-lagi, ini bukan yang pertama. Harus bagaimana mendidiknya supaya memiliki rasa takut sedikit saja.
__ADS_1
Maudy langsung berlari kecil untuk pulang kerumah. Dan berpesan akan kembali nanti siang.
"Duh, kenapa tidak di angkat!" Maudy sudah duduk di dalam mobil, sebelum pergi berusaha menghubungi Bima. Tapi sepertinya Bima memang sibuk, tidak bisa menerima telepon.
"Hallo Ki? Bima mana?"
"Ada di ruangannya, kenapa Dy?"
"Ki, tolong kamu kasih ke Bima ya? Aku mau ngomong, penting!"
Suara derap langkah terdengar, Kiki cepat-cepat untuk masuk keruangan Bima.
"Bim, Maudy telepon!" Maudy menunggu, hingga terdengar suara Bima.
"Sayang, ada apa?"
"Aku telepon kamu nggak di angkat. Ke sekolah Gio sekarang Bim. Dia berulah lagi." Terdengar suara gebrakan meja.
"Anak itu benar-benar." Membuang nafas kasar.
"Aku jalan sekarang sayang."
Menutup telepon. Maudy langsung melajukan mobilnya, berharap ketika dia sampai juga Bima ada disana.
***
Kedua orang tua ini sudah duduk di dalam ruangan guru. Seperti akan di sidang, padahal mereka adalah pemilik resmi sekolah ini. Tapi peraturan tetap berjalan, tentang anak. Mereka adalah orang tuanya. Hanya saja, seorang guru yang menegur berbicara dengan sangat lembut dan tersenyum.
"Bagaimana bisa terjadi?" Bima bertanya dengan suara dingin. Di seberang Gio duduk dengan wajah yang seperti tidak bersalah.
"Maaf pak, sebaiknya biar Gio sendiri yang menjelaskan. Karena saat itu kami sedang tidak ada dikelas."
"Gio?" Bima menatap Gio anaknya dengan tajam. Maudy hanya bisa mengelus lengan Bima agar jangan terpancing emosi, ini sekolah.
"Dia menggangu Endah pa. Buku Endah di ambil, tidak salah kan pa kalau aku marah dan memukulnya?" Bima terdiam. "Kalau tidak percaya, papa tanya aja sama Endah dan teman satu kelas." Guru juga terdiam, lalu permisi keluar untuk memanggil Endah dan salah satu murid yang bisa di jadikan saksi.
"Benar Bu."
"Lalu dimana anak yang di pukul oleh Gio?"
"Dia sudah pulang pak, tadi di jemput orang tuanya."
"Apa dia terluka?" Bima bertanya lagi.
"Hanya memar di bagian bibir." Bima mengangguk dan berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu saya permisi. Dan hapus saja nama Gio dan Endah dari daftar siswa disini." Maudy, guru, dan kedua anaknya yang mendengar langsung membuka mulutnya lebar, kaget.
"Ayo kita pulang." Menarik lengan Maudy.
"Bim, kenapa kamu ngomong gitu Bim? Kenakalan anak kan sudah biasa." Bima tetap diam dan malah mengeluarkan ponselnya.
"Hallo, Revan kamu handle semua hari ini? Saya ada urusan di rumah."
Menoleh ke arah Maudy dan tersenyum.
"Itu akan menjadi kebiasaan untuknya. Jadi biarkan kali ini aku yang akan bertindak." Deg. Maudy tidak bisa berkata lagi.
"Gio kamu ikut di mobil papa. Endah, kamu ikut di mobil mama. Kita pulang sekarang." Endah mengangguk, tapi Gio tak bergerak sedikitpun.
"Sayang, masuklah di mobil papa." Dia menggeleng. "Bim, jangan apa-apakan Gio." Bima tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Masuk." Ucapnya lagi, Gio hanya bisa menunduk. Biasanya tetao akan menjawab jika papanya berbicara, tapi kali ini benar-benar merasa ketakutan hanya dengan ditatap oleh papanya.
Sampai dirumah, seluruh ART berdiri menyambut. Mereka juga bingung, yang harusnya Endah dan Gio masih berada di sekolah, lalu tuan besar mereka juga harusnya masih di kantor. Kenapa semuanya cepat sekali pulang?
Gio dan Endah, mereka berdiri di hadapan papa dan mamanya. Keduanya menunduk, Bima berjalan mondar-mandir dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Mulai hari ini, kalian tidak lagi bersekolah. Kalian home schooling!" Ha? Tidak, tidak ada berembuk terlebih dahulu. Maudy merasa sangat keberatan dengan keputusan ini.
__ADS_1
"Sekali saja, kalian bertiga mendengarkan aku bicara!" Bentaknya. Memang benar begitu, biasanya hanya Maudy yang mengurus kedua anaknya. Setiap kali Bima mengambil keputusan Maudy tidak pernah setuju.
"Bim?" Maudy mengejar Bima yang naik ke atas. Masuk kamar dan menutup pintu.
"Ma? Maafkan Gio ma."
"Maafkan Endah juga ma. Karena kami mama juga di bentak oleh papa." Maudy tersenyum dan berjongkok.
"Tidak sayang, mama rasa kali ini keputusan papa ada benarnya. Endah juga tidak akan di ganggu teman yang nakal, dan Gio juga tidak akan merasa terganggu sebab Endah di ganggu orang." Mengelus kedua pipi anaknya. "Pergilah ke kamar kalian, ganti baju lalu jangan keluar kemanapun. Karena papa sedang marah besar." Mereka menurut dan turun.
"Bim?" Menutup pintu kembali. Bima berdiri di dekat jendela kamar, melawan sinar yang masuk melalui celahnya. Sehingga kamar menjadi sedikit gelap.
"Bima?" Bima hanya mengunakan tangan untuk Maudy tidak mendekat.
"Jangan minta aku buat rubah keputusanku. Aku merasa ini memang yang terbaik. Jangan berpikir aku akan seperti opah mereka. Aku mengerti tentang itu, jadi jangan khawatir. Hanya saja belajar mereka yang harus dirumah, aku tidak akan mengekang tentang pergaulan." Maudy mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Kamu sudah siap?" Berbalik badan.
"Siap apa?" Maudy mendongak.
"Siap untuk mempunyai anak lagi?" Maudy tersenyum dan mengangguk. Lalu mulailah pergulatan di siang hari, eh tidak ini masih jam 9. Berarti masih pagi.
***
Seminggu setelahnya, kedua anaknya rutin mengikuti homeschooling. Pelajaran tetap mengikuti seperti yang ada di sekolah. Gio juga jauh lebih patuh. Maudy selalu mengawasi saat mereka sedang belajar.
Saat selesai dengan pelajaran mereka, guru yang di cari oleh Bima itu pamit untuk pulang. Seorang guru yang sudah di akui di kotanya. Cara dia mengajar dan kedekatan bersama murid.
"Sayang?" Berjalan masuk ke dalam rumah.
"Papa?" Mereka berlari kecil. "Papa sudah pulang?" Bima mengangguk.
"Mama mana?" berjalan dengan kedua tangannya yang di gandeng masing-masing anaknya.
"Loh, kamu kok pulang Bim?" Bingung, berjalan tergesa-gesa.
"Suprise..." Bima mengeluarkan sebuah tiket pesawat. "Kita berangkat liburan."
"Ha? Sekarang Bim?" Bima mengangguk lagi.
"Asik.." Kedua anaknya juga berteriak girang.
Bima mendekat ke arah Maudy, dan berbisik. "Sekarang, tapi setelah aku mendapat hak ku, ingat ini tidak gratis." Maudy langsung memukul lengan Bima. Dia tergelak.
"Endah, Gio. Kalian minta bi Marni untuk membereskan pakaian kalian, sekarang. Mama sama papa mau ke kamar dulu, mau bereskan pakaian juga." Mereka mengangguk dan langsung berlari kecil.
"Bim." Bima tidak peduli dan terus berjalan menaiki tangga sambil memeluk lengan istrinya.
Pergulatan benar-benar terjadi, sehabis menutup pintu Bima tidak memberi Jedah sebentar untuk Maudy berbicara, mau ataupun menolak. Terus menggiring ke arah tempat tidur. Suara-suara aneh mulai terdengar, menggema di setiap sudut kamar. Hingga mencapai puncak dan Bima merasa puas.
Tok tok..
Suara pintu kamarnya di ketuk, Bima berjalan dengan menyambar handuk lalu membuka pintu kamar dan hanya mengeluarkan kepalanya saja.
"Kalian ngapain?" Kaget melihat kedua anaknya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Papa, apa papa betengkar dengan mama? Kenapa mama menjerit?" Mati aku! Batinnya.
"Sejak kapan kalian berdiri disini?" Kedua anaknya saling pandang.
"15 menit lalu pa." Deg. Bima langsung menutup pintu.
"Tunggu saja di bawah sebentar lagi papa dan mama akan turun." Teriaknya di balik pintu. Dan bukan Gio namanya kalau tidak jahil.
"Iya papaaaaa." Dia berteriak sangat kencang dari arah luar, dan pasti yang sedang memasak di dapur pun mendengar.
"Sayang, sepertinya kita harus mengubah tembok menjadi lebih tebal agar kedap suara." Lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
T A M A T
__ADS_1