
Ah pagi kembali datang. Semua harus di mulai kembali. Pagi yang sangat indah untuk hati yang bahagia. Maudy sudah bersiap untuk melakukan kegiatan paginya, mandi, lalu sarapan bersama keluarga omnya, dan bersiap untuk kembali belajar menyetir mobil. Hingga benar-benar mahir.
"Om, nanti setelah selesai ini, aku keluar sebentar nggak apa kan? Soalnya teman ku dari Indonesia sedang berlibur disini." Omnya mengangguk saja.
"Siapa Dy?" Tanya tantenya.
"Bima tante, teman sekolah dulu. Tadi malam juga taunya karena dia mampir makan disini." Ucapnya dan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kak, ikut ya?" Nah kan, Bian sudah mulai.
"Nggak. Kamu di rumah aja?" Maminya langsung menyahut.
Tau aja tante nih kalau Bian bakal ganggu.
"Itu kan teman kak mo Bian, kamu ini." Ternyata papinya juga setuju dengan maminya.
"Ya udah deh." Toh Bian sekali di larang tidak keberatan tuh. Tidak protes ataupun cemberut.
Maudy sudah bersiap untuk berangkat. 1 jam, ya hanya satu jam saja ia belajar mengemudi. Setelah itu akan memberi kabar ke Bima. Itu sudah ia niatkan dari malam hari.
***
"Datang aja ke hotel X. Kamar nomor 112. Aku disini sendiri, mas Rio sama kakak ipar pergi jalan-jalan."
Maudy membaca pesan dari Bima.
Tadi aja di telepon nggak di angkat, sekarang malah kirim pesan, kamu waras Bim?
Maudy kembali memasukan ponselnya kedalam tas selempang miliknya, tas yang ia bawa dari rumahnya. Padahal juga sudah kumuh, tapi entahlah mungkin ada sebab kenapa ia sangat menyayangi tas itu.
"Sudah selesai kan pak?" Bertanya pada seseorang yang mengajarinya mengemudi.
"Sudah. Silahkan kalau mau pergi, mungkin ada keperluan lain." Ucapnya ramah.
Kenapa bapak ini bisa tau ya? Ah bodo ah.
Maudy berdiri menunggu taxi yang lewat, hanya 5 menit sudah ada taxi yang berhenti. Maudy menunjukan alamat yang di berikan Bima. Dan supir langsung mengantarnya kesana.
"Ini kan hotelnya? Nggak salah?" Hotel bintang lima, hotel yang terkenal di negara itu.
"Kenapa aku heran sih, ya jelas lah Bima disini. Kan anak konglomerat." Bertanya sendiri dan menjawab pertanyaannya sendiri.
"Permisi, saya mau ke kamar 112. Apa benar itu atas nama Bima Adi Nugroho?" Maudy lebih dulu datang ke meja resepsionis. Agar memastikan kalau ini tidak salah. Dan itu memang salah satu prosedur sebelum memasuki hotel.
"Benar, ada keperluan apa ya?" Bertanya dengan lembut.
"Saya temannya, dan sudah di undang kesini." Menunjukkan bukti pesan yang di kirim Bima. Tapi percuma pihak hotel juga tidak bisa membacanya, karena itu kan sudah berbeda bahasa.
"Oh maaf." Ucap Maudy dan kembali menerjemahkan bahasanya.
"Bisa tunjukkan KTP?" Maudy mengangguk dan mengeluarkan KTP nya.
Ah mau masuk hotel aja sesulit ini! Lagian kenapa nggak keluar aja sih Bim.
"Ini." Mengembalikan KTP milik Maudy. "Maaf jika anda merasa keberatan, karena ini sudah termasuk prosedur kami jika ada tamu datang dan bukan pengunjung hotel. Berbeda jika memang menginap disini, mereka akan di beri kartu agar gampang untuk keluar dan kembali." Tersenyum lagi dan merapatkan kedua tangannya seperti ingin menyembah.
"Iya baik. Terima kasih." Maudy juga tak kalah ramah.
Dengan menggerutu Maudy berjalan ke kamar sesuai nomor yang di berikan Bima.
Tok. Tok.
Maudy mengetuknya. Padahal sudah ada tombol untuk membunyikan bel. Agar manusia yang di dalam kamar dapat mendengar. Lama Maudy berdiri dan mengetuk pintu tapi tidak ada tanda-tanda Bima membukanya.
"Hallo Bim, kamu dimana sih? Aku dari tadi berdiri di depan pintu kamar kamu, cepetan buka!" Bahkan baru kepikiran sekarang buat nelepon Bima.
Hanya 10 detik setelah Maudy menelponnya Bima sudah membuka pintunya.
"Masuk." Ucapnya dengan suara dingin. Ini Bima kenapa lagi ya?
"Kamu ngapain aja sih Bim, kamu suruh aku datang kesini. Sementara aku ketuk pintu kamu nggak buka. Malu tau aku di lihatin banyak orang!!" Protes dan langsung duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar hotel, dan sedikit membanting tasnya ke meja kaca. Terserah kalau pecah Bima yang ganti.
"Mau kamu ketuk pintu sampai malam aku juga nggak akan dengar, kan sudah ada tombol untuk membunyikan bel. Iya lah semua orang natap kamu, orang kamu aneh." Bima nampak menahan tawanya. Sementara Maudy tercekat, ih malu rasanya.
Ini juga salah satu bukti, bahwa seorang Maudy memang tidak pernah bermain di hotel. Jadi wajar jika ia menggerutu saat akan memasuki hotel dengan adanya peraturan tersebut. Dan kini, ia juga tidak tau menahu tentang masalah bel.
__ADS_1
"Udah nggak usah cemberut gitu. Maaf, iya maaf aku yang nggak dengar tadi." Duduk tepat di sebelah Maudy, bahkan sudah tidak berjarak lagi. Bima langsung menempel.
"Hem." Lalu membuka ponselnya.
"Sayang." Ucapnya mengeratkan gigi.
"Apa?" Tak kalah galaknya.
"Yang semalam itu siapa sih? Dan kenapa juga dia minta nomor kamu, pakai acara alasan supaya akrab segala lagi. Dan kenapa juga kamu kasih nomornya? Itu baru satu yang aku tau ya, yang lain gimana? Pasti ada lagi yang minta nomor kamu kan? Iya kan? Ih lebih baik kamu pulang aja lah ke Indonesia, kamu pulang ikut aku nanti." Menggoyangkan lengan Maudy, Bima sudah percis seperti anak kecil.
Maudy menghela nafas.
"Bima, itu hanya teman. Wajarlah Bim, disini aku nggak ada teman, lagian dia baik juga kok."
"Nah kan, kamu aja udah bilang dia baik. Terus kalau kamu suka dia gimana?" Belum sempat Maudy menjelaskan Bima sudah memotong ucapannya.
"Kamu apaan sih Bim, nggak lah. Lagian kalau aku pulang apa kata om dan orang tuaku nanti? Aku disini tuh mau kuliah Bim, belajar tentang usaha." Masih tetap dengan pendiriannya.
"Nanti aku bakal bantu biaya kuliah kamu kok, terus nanti kamu bisa kuliah sambil kerja, nanti aku minta mas Rio buat bantu kamu supaya bisa masuk ke perusahaan papa." Dan Bima masih juga ngotot.
"Segampang itu ya Bim kalau ngomong! Kalau bertemu aku disini, kamu jauh-jauh kesini hanya untuk bertemu sama aku tapi melakukan perdebatan semacam ini, lebih baik kita nggak udah ketemu Bim. Minggir, aku mau pulang." Dengan kasar mendorong tubuh Bima. Maudy langsung berdiri dan menyambar tasnya dengan cepat. Tapi kenapa Bima diam? Bahkan tak menahan Maudy.
"Ya udah pulang sana, buka aja pintunya kalau bisa." Ucapnya dan masih tetap duduk di tempatnya.
"Aku bakal teriak biar orang-orang dengar!"
"Teriak aja sampai sore, semoga berhasil. Aku mau tidur ah." Bima langsung melangkah menuju ranjang hotel yang mewah ini. Dan bergulung di dalam selimut, tertawa cekikikan melihat Maudy yang masih berusaha teriak dan menggedor pintu hotel.
"Bimaaaa!!!!" Teriaknya karena sudah geram. Maudy berjalan ke arah Bima, nafasnya sudah naik turun, emosi juga tidak terkendali lagi. Maudy langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Bima.
"Buka nggak!!" Bentaknya dan menarik tubuh Bima hingga terjungkal dari tempat tidur. Ih serem banget Maudy kalau sudah marah, rasakan lah Bim. Udah tau setengah jiwanya tertanam tenaga laki-laki.
"Aw." Memegang dahinya yang memerah karena menghantam lantai.
"Udah jangan pura-pura. Buka nggak, aku mau pulang." Masih tetap berdiri melipat kedua tangannya. Bahkan tidak ada niatan menolong untuk Bima berdiri.
Bima berusaha berdiri sendiri, mengusap keningnya yang memang terasa sangat sakit. Dan, Bima langsung menyambar ID CARD miliknya untuk membuka pintu hotel. Oh ternyata nggak pakai kunci toh, cuma main gesek pintu akan terbuka.
Bima diam dan tidak bicara lagi, ia hanya menggunakan bahasa tangan untuk mempersilahkan Maudy keluar.
"Bim? Kening kamu?" Baru sadar sekarang dan mengehentikan langkahnya untuk keluar kamar hotel.
"Sakit ya?" Menyentuh kening Bima.
"Aw." Bima langsung memegangnya.
"Maaf ya Bim? Sini aku obatin?" Menarik lengan Bima untuk kembali duduk di sofa. Dan secepat itu semuanya berubah, padahal tadi juga udah mau keluar.
Bima masih diam, membiarkan Maudy mengoleskan salep di keningnya.
"Maaf ya Bim?" Bima hanya mengangguk.
"Kita keluar jalan-jalan mau nggak?" Menebus rasa bersalahnya. Bima menggelengkan kepalanya.
"Kepala aku sakit, aku mau tidur aja, kalau kamu nggak keberatan kamu temani aku tidur disini."
"Bima, mesum tau nggak!" Maudy sudah terpancing lagi.
"Aku kan nggak bilang kalau mau gituan, aku cuma minta di temani tidur aja?" Ada benarnya juga perkataan Bima.
"Ya udah. Tapi disini aja ya, di sofa? Nggak usah di tempat tidur. Kamu tidur di pangkuan aku aja?" Memilih jalan keluar yang lebih baik.
Bima langsung mengatur posisinya tanpa menjawab lagi, itu berarti tanda kalau memang ia setuju.
"Bim, coba kamu ceritakan gimana bisa papa kamu kasih ijin kamu ikut kesini?" Tanya Maudy sambil mengelus puncak kepala Bima.
"Ah itu, iya kakak ipar yang beri bantuan. Mas Rio juga sih. Cuma pas mau berangkat ada sedikit kendala. Hampir saja aku batal ikut waktu udah mau berangkat."
Flashback.
Bima masuk ke kamar setelah papanya melarangnya. Percuma orang-orang di rumah ini tidak akan bisa membantunya kalau papanya sudah berkata. Bima menangis sejadi-jadinya sepeti anak kecil, kasur sudah berantakan. Rasanya tuh gimana ya, geram, jengkel, marah, tapi nggak tau mau marah sama siapa! Mau mukul juga mukul siapa. Kebayang nggak sih, udah siap mau pergi tiba-tiba batal gitu? Nyesek ya.
Keterlaluan papa! Padahal baru saja semalam ngasih kejutan kalau aku akan ikut, dan sekarang. Apa? Dia sendiri yang larang aku buat pergi, hanya karena aku sedikit pusing.
Bima terisak, tidak ingat umur dan jenis kelaminnya saat ini. Toh dia ada yang tau.
__ADS_1
"Bim, Bima?" Suara mamanya terdengar. Bima tidak ada niatan untuk membukanya, karena ia sudah tau kalau mamanya pasti hanya bilang maaf karena mama sudah berkata begitu di depan papa kamu.
"Keluar nak, mas mu sudah menunggu. Sudah ayo berangkat sekarang." Mendengar itu Bima spontan reflek turun dari kasurnya. Sepertinya otak dan hati tidak sejalan, ah Bima.
"Iya ma." Menghapus sisa air matanya.
"Cepetan turun, sebelum telat penerbangannya." Mamanya berbicara menggebu-gebu.
"Papa gimana?" Hal yang sangat ia takut kan.
"Udah, kamu berangkat aja. Intinya nomor ponsel kalian jangan ada yang aktif. Lagian kalau disana nanti nomor ponsel kalian tidak akan berfungsi. Soal itu biar mama yang tanggung jawab nanti, udah buruan." Sepertinya mereka semua sepakat untuk membantu Bima pergi secara diam-diam.
"Ma?" Bima khawatir akan hal konyol yang di rencanakan mama dan masnya. Tapi ini juga kesempatan untuknya.
"Bima cepat!" Mamanya kembali mengingatkan.
"Iya ma." Bima keluar sementara mamanya sudah membawa salah satu penjaga rumah untuk membawakan koper milik Bima. Tentu itu juga menggunakan uang, agar penjaga tidak membuka mulut di hadapan suaminya.
"Ma, aku pergi ya?" Mamanya hanya mengangguk dan mengusir Bima dengan bahasa tangan, sesekali menoleh ke belakang. Takut kalau tiba-tiba suaminya muncul dan keluar dari kamarnya.
Flashback end.
"Haha kamu serius Bim?" Maudy tergelak bahkan air matanya sampai keluar sangking lucunya.
"Tapi ya Bim, kamu ngerasa nggak kamu jadi maksain keadaan? Kayak kesannya tuh aku terlalu istimewa buat kamu, bahkan kamu sampai rela menipu papa kamu sendiri." Maudy kembali dengan mode seriusnya. Bima langsung membuka matanya.
"Kamu tau kan sekarang, kamu sadar kan? Kalau kamu itu istimewa, bukan hanya buat aku Dy, tapi juga buat mama? Buktinya, mama rela menghadapi masalah ini nanti, karena dia dukung aku bertemu dengan kamu." Maudy tercengang mendengar perkataan Bima. Tidak di sangka olehnya, Bima bisa bersikap dewasa. Mungkin karena berjalannya umur itu juga menjadi pengaruh. Eh tidak, buktinya Bima masih sering menangis seperti anak kecil.
"Makasih ya Bim. Makasih bilang sama mama kamu, makasih juga sama mas Rio, dan kakak ipar." Kali ini Maudy meneteskan air mata sungguhan, bukan karena banyak tertawa, tapi hanya sedikit mendengar ucapan Bima yang berhasil menggoyahkan hatinya.
"Cium dulu, jauh-jauh dari tanah air, perjuangan juga banyak. Lagian udah lama nggak di cium, terakhir kali hanya di dalam mobil waktu itu." Bima tersenyum dan memainkan alisnya.
Bayangan kembali masuk ke pikiran Bima.
Bra merah, bra merah, bra merah!
"Kamu kenapa senyum-senyum Bim?" Maudy sudah menaruh curiga.
"Sayang, kamu sekarang pakai bra warna apa?" Maudy langsung membulatkan matanya. Maudy menyentil kening Bima, tepat dimana ada luka lebam.
"Sakit sayang, sumpah sakit." Mengaduh kesakitan.
"Rasain! Kenapa masih di ingat sih Bim."
Ah bra merah. Kau sungguh berharga waktu itu.
"Bima!" Bentaknya setelah melihat Bima tersenyum lagi. Sepeti tidak ada ujungnya kalau sudah Bima membayangkan hal tersebut.
"Bim, kenapa ada suara bel?" Mereka sama-sama mendengarnya. Bima langsung berjalan siap untuk membuka pintu.
"Bim, lama banget buka nya!" Padahal suara bel baru berbunyi dua kali. "Nih makanan buat kamu." Menyerahkan makanan untuk Bima.
"Makasih mas, kalian mau pergi lagi?" Bertanya dan berdiri seperti menghalangi pintu, tidak memberi ijin untuk masnya masuk, bahkan melihat ke dalam.
"Ada siapa di dalam Bim?"
"Nggak ada." Ucapnya tapi sedikit tergagap. Tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
"Minggir!" Mendorong tubuh Bima yang menghalangi pintu dan menggandeng lengan istrinya untuk ikut masuk ke dalam.
"Maudy, kamu disini?" Rio kaget. Begitu juga dengan Maudy. Maudy langsung reflek bangun dari duduknya.
"Iya mas." Jawabnya.
"Kalian ngapain di kamar? Jawab, kalian ngapain?" Siska tidak ingin ikut berkomentar, karena ia yakin kalau Bima tidak mungkin melakukan hal diluar batas. Mengingat tentang prihal leher merah saja Bima tidak tau, begitu yang di pikirkan Siska.
"Duduk mas?" Jawab Maudy jujur.
"Aku bilang ke mama kalian ya, biar kalian di kawinkan aja." Ucapnya seperti sedang tidak bercanda.
"Ya udah mas cepat!"
"Jangan mas!!" Maudy dan Bima menjawab secara bersamaan tetapi dengan jawaban yang berbeda.
--__
__ADS_1