
Tidur memeluk guling dengan eratnya, mata yang di paksa terpejam malah bergerak-gerak dengan sendirinya. Berkali-kali mengubah posisi tidurnya, membuka mata sebentar menatap langit-langit kamar. Sungguh rasa frustasi melingkupinya saat ini, tidur tanpa seorang istri bukan sama sekali keinginannya.
Ponsel yang berdering membuatnya langsung beranjak dari tidurnya, menyambar ponsel yang berada di meja lampu tidur. Pesan singkat yang di kirimkan oleh istrinya, berulang-ulang membaca pesan yang sama. Takut kalau hanya salah baca. Dan akhirnya, Bima menampar wajahnya sendiri, terasa sakit. Berarti ini tidak mimpi.
Apa maksudnya? Kenapa jadi begini? Siapa yang mengaduh?
Dengan cepat Bima bangkit menyambar sebuah jaket, berjalan sambil memakainya, tak perduli jam berapa sekarang. Yang penting ingin memastikan bahwa ini tidak serius, Maudy hanya bercanda!
"Tuan, maaf tuan mau kemana?" Bima turun dan berjalan dengan tergesa-gesa.
"Keluar, aku titip rumah ya bi." Tatapan kedua pembantu ini jelas curiga. Kecurigaan mereka mengenai nyonya muda yang tidak pulang kerumah saja belum terjawab, dan sekarang ini melihat tuan mereka yang ingin pergi keluar rumah malam-malam.
Mereka saling pandang, jika bertanya satu sama lain juga jawaban mereka tetap tidak tau.
"Maaf tuan, apa tuan mau pergi?"
"Iya, tolong keluarkan mobil dari garasi." Penjaga rumah Bima mengangguk, tapi sesekali dia masih menoleh. Melihat raut wajah majikannya yang sepertinya sedang di landa kepanikan.
"Tuan, maaf sebelumnya. Sebaiknya saya antar aja gimana?"
"Tidak usah, ini bukan tugas kamu. Sebaiknya jaga rumah saja." Bima langsung masuk ke dalam mobilnya, melajukan dengan kecepatan di atas normal. Jalanan memang sudah sepi sekarang. Hanya terlihat beberapa pedagang yang mendorong gerobaknya menuju pulang kerumah.
"Ah sial!" Memukul kemudi. "Siapa yang memberi tahu Maudy!!" Semakin mempercepat laju mobilnya yang melihat jalanan sudah benar-benar lengang.
Dan, tidak sampai setengah jam Bima sudah sampai di rumah ibu mertuanya, lama dia menatap ke arah rumah. Dan niat untuk bicara sekarang sepertinya langsung di urungkan, melihat keadaan rumah yang sudah gelap.
Tapi Bima tetap turun, ini bukan Bima yang masih SMA dulu, yang tak tau dimana letak jendela kamar Maudy. Dan sekarang, Bima sudah berdiri tepat di bawah jendela kamar.
Tok.. Tok..
"Sayang?" Bima mengetuknya dengan pelan, yakin kalau Maudy juga saat ini belum tidur, terbukti pesan yang dia kirim belum ada satu jam.
"Sayang." Tok. tok. Lagi, Bima tetap berusaha.
"Sayang, ku mohon buka. Jangan begini!" Ya ampun, Bima mengacak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan keadaan ini.
Tok. Tok.
"Sayang, bangun." Samar-samar Bima mendengar suara langkah kaki. Dan dia sendiri semakin yakin kalau itu istrinya.
"Sayang? Aku disini, buka lah." Memohon dengan kalimat yang terakhir.
Bima sempat kaget ketika tirai kamar di sibakan, dia mundur dua langkah, menunggu istrinya membuka jendela kamar.
"Sayang?" Hanya tirai yang di sibakan, tapi jendela tidak terbuka, dan Bima juga tidak lagi mendengar pergerakan dari dalam sana. Bahkan telinga sampai Bima tempelkan di dinding.
"Maudy, sayang. Ku mohon, aku ingin bicara, jangan begini."
"Pergilah." Bima jelas mendengar itu!
"Buka sayang, buka!" Lagi, belum menyerah. Tapi sepertinya Maudy yang menyerah dan membuka sedikit jendela kamarnya, memberikan ruang untuk Bima berbicara. Tapi Maudy tetap tidak menampakkan wajahnya.
"Keluarlah sayang, kita bicaranya jangan begini. Kita bukan anak SMA lagi. Sebentar lagi juga kita akan menjadi orang tua." Tidak ada jawaban.
"Aku akan tetap disini menunggu kamu, apapun yang terjadi aku akan tetap disini. Bahkan sampai besok pagi sekalipun." Bima berjongkok di bawah jendela. Melipat kedua tangannya, bak anak kecil yang tengah di usir orang tuanya.
15 menit berlalu, hingga setengah jam Bima benar-benar menunggu Maudy keluar. Tidak memanggil lagi, karena Bima sendiri yakin kalau Maudy tau dia berada disini menunggu.
Keluarlah sayang. Tak ku bayangkan aku hidup tanpa kamu!
Memejamkan matanya, sesekali memukul lengannya yang terkena gigitan nyamuk.
Plak!
Kali ini di wajahnya, habis seluruh tubuh terkena gigitan nyamuk.
"Kamu ngapain disini?" Bima langsung berdiri dan menggaruk beberapa bagian tubuh yang memang sangat terasa gatal.
"Sayang?" Dia mendekat.
"Stop! Jangan mendekat!" Menahan dengan kelima jarinya sebelum Bima benar-benar datang untuk memeluknya.
"Aku tanya, kamu ngapain kesini?"
"Kamu istriku!" Jawabnya tegas.
"Kalau aku istrimu, mana buktinya? Apa iya kalau aku istrimu, kamu bahkan lebih memilih pergi bersama wanita lain?" Deg. Bima langsung menunduk.
"Kamu tau, apapun alasannya, meski kamu jujur sekalipun aku akan tetap merasa sakit Bim. Yang pertama, kamu berbohong dengan aku, ayah ataupun yang lainnya. Kamu bilang rapat penting? Rapat bersama wanita yang menyukai mu? Bim, kamu lupa ya kalau aku ini pintar? Nggak semudah itu kan aku bisa percaya? Dan yang kedua, kamu lebih memilih pergi dengannya dari pada harus menemani aku kerumah sakit untuk periksa kandungan!" Nafas Maudy mulai tak terkontrol. Meski berbicara dengan sangat pelan saat ini takut kalau ibu atau ayahnya mendengar, tapi tetap saja bicara santai sekalipun tetap ada emosi di dirinya.
"Aku sadar sekarang kalau aku ini hanya beban kamu. Dan jika aku berpisah denganmu pun aku masih mampu membiayai anak dan keluarga ku nantinya, aku masih punya usaha yang memang bisa aku andalkan."
__ADS_1
"Sayang, jangan berbicara mengenai perpisahan!"
"Kenapa? Memang itu yang aku mau. Aku paling tidak suka di bohongi Bima!!"
Bima tak peduli lagi dan dia langsung saja memeluk Maudy, dengan tegas Maudy menolak dan menggoyangkan tubuhnya.
"Minggir!" Kalimat yang penuh penekanan.
"Sayang, ku mohon. Ijinkan aku menjelaskan!"
"Tidak perlu! Apa kamu tuli? Meski kamu berkata jujur dengan penjelasan, aku tetap sakit hati. Jadi pergilah, aku tidak akan mengaduhkan ini pada keluarga kamu Bim, biar kamu sendiri yang memberi tau mereka."
"Nggak sayang nggak? Aku minta maaf."
"Kemana kamu satu harian ini? Kenapa nggak datang kesini? Atau sekedar menjemput ku?" Bima diam.
"Haha, aku lupa, kamu kan sudah punya yang baru." Tersenyum sinis.
"Jangan bicara begitu sayang, ku mohon. Pulanglah bersamaku?" Maudy menggelengkan kepalanya.
"Kamu tau apa yang aku sesali sekarang? Bukan pernikahan, tapi aku menyesal sudah merawat mu sampai sembuh. Seharunya ku biarkan saja waktu itu, toh nyatanya sewaktu kamu sembuh kamu malah berjumpa dengan orang yang sudah membuatmu celaka dan hampir kehilangan nyawa!"
"Kamu ngungkit?"
"Iya, kenapa? Kamu juga mau ngungkit? Tenang, seluruh biaya pembangunan yang kamu keluarkan untuk rumah orang tua ku akan aku ganti Bim!"
"Sayang, bicaramu sudah berlebihan!" Wajah Bima mulai tak bersahabat.
Perdebatan mereka yang memang tak berujung, Maudy tetap dengan pendiriannya yang meminta pisah dengan Bima. Dan Bima, yang saat ini juga mulai goyah karena terus mendengar kata-kata pedas dari Maudy.
Alasan Maudy tetap sama, jika sekali saja Bima sudah berbohong, maka seterusnya juga Bima akan melakukan hal itu. Bima mengharapakan pertengkaran ini tidak akan lama, seperti cerita mereka dulu, tapi sepertinya Maudy memang benar-benar masih emosi dan tidak satupun orang yang bisa mengubah keputusannya saat ini.
"Pulanglah dan jangan pernah mencoba untuk berjumpa denganku!" Kata-kata terakhir sebelum Maudy masuk dan menutup pintu, meninggalkan Bima yang terdiam seribu bahasa.
Dan malam ini, Bima kembali menginap di hotel. Untuk pulang kerumah tidak akan ia lakukan, tanpa seorang istri. Dan besok, niat Bima akan pulang hanya mengambil baju . Lalu langsung pergi berangkat ke kantor.
***
Senyum yang tak terbalas dari Bima, sapaan karyawan yang mengucapkan selamat pagi tidak ia hiraukan. Walau setiap harinya begitu, tapi setidaknya masih ada senyum yang dia berikan. Tapi hari ini, wajah yang dingin tanpa senyum jelas terlihat. Dan, Bima juga tidak sedikitpun menampakkan semangatnya, kantung matanya menghitam, dan wajahnya juga tidak terlihat segar sama sekali.
Masuk keruangan dan duduk, diam belum memulai pekerjaannya, bahkan menyentuh apapun juga tidak. Laptop yang masih teronggok di meja, dan beberapa bekas laporan semalam belum ada yang di tanda tangani.
"Ki, gimana tawaran aku kemarin?" Kiki menoleh ke arah Revan.
Tawaran yang mana? Tawarannya begitu banyak walau hanya satu hari pergi berdua.
"Pergi ke puncak weekend ini." Kiki menggeser mouse dan tak tau akan mengklik apa. Menjawab pertanyaan Revan juga tak tau. Jujur hatinya sangat butuh refreshing, melupakan kejadian yang hampir merenggut kesuciannya. Tapi trauma berat ini masih ada, dan masih memenuhi hati dan pikirannya. Takut kalau Revan akan berbuat macam-macam.
"Ki?"
"Eh iya."
"Gimana? Kamu takut ya?" Kiki langsung mengangguk.
"Bagaimana kalau perginya kita ajak mama kamu sekalian?" Kiki mulai memikirkan tawaran Revan.
"Gimana? Gimana?"
"Nanti aku bilang ke mama dulu ya?" Revan menggeleng.
"Nggak usah, nanti aku sendiri aja yang bilang, sekalian antar kamu pulang." Kiki mengangguk lagi, setuju saja. Dan berharap kalau Revan memang orang baik.
"Kalian sibuk kerja atau sibuk mengobrol?" Bima tiba-tiba masuk. Kiki menatapnya dengan tajam, tak peduli dia yang punya perusahaan, dan membuang wajah ketika Bima melihatnya. Berpura-pura sibuk melihat layar laptop.
"Revan, bisa ke ruangan saya?" Revan mengangguk.
"Ki, tolong kamu keruangan bagian keuangan, minta copyan berkas bulan lalu." Kiki tidak menjawab dan hanya mengangguk.
Kenapa aku sih, harusnya Revan aja biar nenek lampir senang!
Kiki berjalan keluar ruangan, dengan langkah malas. Sesekali menjawab sapaan para karyawan kantor, beredar juga gosip katanya sudah ada banyak karyawan yang berstatus single disini ingin mengencani Kiki. Itu juga dia tau berita melalui Amel dan Lusi. Benar-benar kedua ibu muda itu sangat hobi bergosip.
"Mbak?" Menyapa Amel yang ingin keluar ruangan.
"Iya Ki, kenapa?"
"Mbak, kalau minta copyan berkas keuangan sama siapa?" Amel menunjuk ke arah meja Rina, yang wajahnya tak terlihat karena tertutup pembatas meja. Kiki mengangguk, setelahnya dia menghela nafas.
Kenapa harus sama dia sih, kenapa nggak kepala bagian aja!!
"Maaf, saya mau minta copyan berkas bulan lalu?" Rina mendongak, bukan hanya Rina yang menatap Kiki saat ini, tapi juga para karyawan yang lain.
__ADS_1
"Ssst.." Mengode dengan bahasa tangan, meminta nomor ponsel, Kiki hanya tersenyum menanggapi.
"Apa sih, ganjen banget." Lah, Rina yang protes.
"Heh, siapa yang minta nomor kamu Rin, pacaran sana biar nggak gabut!" Ejeknya, bebas mah kepala bagian lagi tidak ada di tempat.
"Kamu mau apa tadi?"
"Minta berkas copyan keuangan bulan lalu." Memperjelas kalimatnya lagi.
"Sebentar." Rina mencari di setumpuk berkas dan menarik salah satu di antaranya, Rina menyodorkan ke arah Kiki tapi saat Kiki akan mengambilnya, Rina menariknya kembali.
"Gimana Revan? Apa dia baik?" Heh, Kiki langsung ngedumel dalam hati. Bisa-bisanya, ya ampun.
Sepertinya nenek lampir ini harus di beri senam jantung di pagi hari, biar sehat.
"Oh dia baik. Tadi juga dia ngajak aku liburan ke puncak weekend ini, dia juga ngajak mama aku, katanya sih biar lebih akrab gitu." Kiki tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi wajah Rina yang langsung berubah memerah.
Dan kesempatannya mengambil berkas dari tangan Rina. "Permisi." Lagi, Kiki tersenyum mengejek.
Semoga sehat nenek lampir, haha.
Kiki langsung masuk saja keruangan Bima, karena akan menyerahkan berkas yang dia minta. Tanpa mengetuk, karena melalui pintu penghubung.
"Nih Bim." Meletakkan begitu saja berkas ke atas meja Bima, Revan yang berdiri di samping Bima dengan posisi membungkuk, karena mereka tengah membahas soal pekerjaan. Dia mendongak.
"Aku atasan kamu loh Ki." Merasa tidak di hargai, sejak kapan? Batin Kiki.
"Kenapa?" Kiki melipat kedua tangannya di dada, sementara Revan hanya menunduk. Tau, kalau Bima juga tidak akan marah apa lagi sampai memecatnya. Karena ada tali persahabatan di antara mereka.
"Ya di hargai sedikit dong Ki." Jawabnya santai sambil geleng kepala.
"Kalau kamu bisa hargai perasaan Maudy, aku juga bisa hargai kamu Bim! Jangan memakai kekuasan kamu lah kalau soal hati." Bima langsung terdiam, melirik ke arah Revan.
"Saya permisi sebentar pak." Berjalan menuju pintu penghubung, menoleh ke arah Kiki sambil mengedipkan satu matanya.
Kiki masih berdiri dengan angkuhnya. Melirik Bima dengan tajam.
"Apa kamu yang ngasih tau hal ini ke Maudy?"
"Hah, Bima. Justru aku tau ini dari Maudy Bim!!" Bima terdiam. "Kamu lupa ya, kalau karyawan kamu semuanya masih memiliki mata yang normal, bisa melihat, dan ada telinga yang bisa mendengar? Bukankah begitu juga dengan Maudy? Walau kabar terlambat datang pasti tetap dia akan tau! Kalau saja aku tau dari kemarin, aku yang akan hajar wanita itu duluan."
"Ki, tolong. Kalian semua jangan menghakimi aku begini. Kalian salah paham, nggak semua apa yang di lihat dan di dengar itu adalah sebuah kenyataan kan?"
"Dan nggak seharusnya kamu berbohong kan?"
"Kalian sama saja." Sewot sendiri karena Kiki selalu menjawab perkataannya.
"Samalah Bim, namanya juga kami sama-sama wanita."
"Ki, tolong kali ini bantu aku." Kiki diam, menunggu Bima bicara masalah pertolongan.
Kiki juga melihat kalau Bima pasti susah tidur, lingkar mata yang menghitam, dan keadaannya yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Padahal juga baru dua hari tanpa istrinya.
"Ki, tolong kamu bilang ke Maudy untuk merubah keputusannya. Aku nggak mau pisah sama dia Ki." Bima menangis, dia benar-benar menangis sekarang, air matanya jelas menetes dengan suara isakkan pelan.
"Bim, aku nggak bisa soal itu."
"Tolong aku Ki, cuma kamu yang bisa. Aku nggak mau sampai papa atau mama aku mendengar ini." Bima menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Tok. Tok.
"Permisi pak."
"Eh." Kiki menoleh ke arah pintu lalu menoleh lagi ke arah Bima. Bagaimana kalau ada yang tau Bima menangis saat ini?
"Eh, jangan masuk." Lah, mungkin seseorang yang ada di depan pintu akan merasa heran mendengar jawaban Kiki.
"Nanti saja, pak Bima lagi tidak bisa di ganggu." Kiki membuka sedikit pintunya, terlihat seorang karyawan wanita mengangguk dan tidak keberatan.
"Sudah Bim, diam lah. Jangan sampai karyawan kamu yang lain tau kamu menangis. Aku mau balik ke ruangan, masih ada tugas yang harus ku kerjakan hari ini. Soal itu nanti aku pikirkan." Bima mendongak dan mengangguk, menghapus sisa air matanya yang jatuh.
"Sudah?" Revan bertanya setelah melihat Kiki masuk ruangan, dan ternyata sedari tadi Revan berdiri di dekat pintu, sepertinya dia menguping.
"Jangan keruangan pak Bima dulu, tunggu lah sebentar lagi." Ucap Kiki. Revan semakin penasaran sekarang.
"Apa pak Bima menangis?" Dia mendekat ke meja Kiki.
"Sstt?" Menempelkan ibu jarinya ke bibir. Revan mengangguk lagi dan kembali ke mejanya.
--__
__ADS_1