
Bima
Aku baru saja teleponan dengan Kiki, mengaduh kan semua kesuntukkan ku yang berada di dalam kamar. Dan selesai menelpon Kiki, aku berdiri lagi di balkon kamar. Aku sudah mendengar kalau semua keluarga sudah pulang hanya saja aku tak mendengar suara Rafa. Mungkin dia tetap disana menunggu opa nya bersama kakak ipar.
Ponselku berkedip lagi layarnya, aku kira Kiki menelpon lagi. Tapi setelah ku lihat ternyata mang Sugi. Ada apa dia telepon malam-malam?
"Ya mang? Ada apa?"
"Mamang baru aja liat Maudy den, dia turun dari taxi bawa koper. Baru aja den, pas mamang mau beli cemilan di luar eh ternyata ngelihat. Langsung samperin aja den, tadi soalnya mamang tau orang tuanya pergi. Mungkin sekarang dia lagi di rumah sendiri."
"Oke, mamang dimana sekarang?"
"Ini udah di rumah kok den. Kenapa den?"
Aku tak menjawab lagi. Aku langsung saja tancap gas. Bonus besar menanti mang Sugi. hahaha
Dan karena bantuannya, malam ini aku berhasil tidur berdua lagi dengan Maudy. Memeluknya, mendengar kan dengkuran halusnya. Kasian, ku usap lembut rambutnya. Aku bahkan tak rela untuk terpejam, aku ingin memandangnya terus sampai waktu fajar kembali datang. Di sambut sang Surya di pagi hari, dan aku yakin itu tiba waktunya kami berpisah lagi. Walau hanya berpisah rumah bukan negara, tapi rasanya tetap tak rela.
Sekarang sudah pukul 03 dini hari, mataku sudah tak sanggup. Dan terpaksa aku harus tidur, memeluknya lagi dari belakang. Menjadikannya bantal guling ku. Aku cinta Maudy dengan seluruh hidupku.
***
Pagi itu kami terbangun, Maudy sudah menggeliat sehingga gesekan yang dia buat membuat adikku bangun. Aku makin memeluknya erat supaya dia tak bergerak lagi, ah sialnya anak ini memang kuat tenaganya. Maudy malah semakin bergerak tak karuan, ya aku menyerah aku kalah. Aku langsung melepasnya dan membiarkan berlari ke kamar mandi, mungkin malu memperlihatkan wajahnya ketika bangun tidur. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.
Sembari menunggu Maudy mandi, aku mengechek ponsel ku, yang masih aktif tapi sengaja aku silent kan. Aku benar-benar nggak mau di ganggu. Ah banyak sekali panggilan yang tidak terjawab, mulai dari Harimau (papa), mama, dan yang terakhir Luna? Mau ngapain dia telepon aku.
Terlihat dia juga mengirimkan pesan.
"Bim, kamu dimana? Om Adi khawatir sama kamu, kenapa kamu nggak pulang. Dimana Bim? Bilang sama aku."
Bilang sama kamu!! Emangnya kamu siapa? Ih beneran wanita ini nggak punya malu ya? Udah di tolak berkali-kali padahal.
Aku langsung membalas pesannya. Biarlah, aku nekat sumpah kali ini aku beneran nekat. Persetan sama perusahaan papa!!
"Aku di hotel." Nampak pesan langsung di baca tuh.
"Hotel mana?" Uwih, secepat itu ya kalau respon, padahal masih pagi.
"Hotel X." Jangan tanya aku sama siapa, dari pada kamu jantungan.
Ah aku kembali meletakkan ponselku dan tersenyum ke arah pacarku. Aku melihatnya sudah duduk di depan kaca, mengeluarkan semua alat make upnya. Aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi, walau tidak membawa baju ganti, setidaknya aku bisa membersihkan diri lah. 10 menit, aku keluar lagi, melihat Maudy juga masih sibuk memoles wajahnya.
"Sayang, mau kemana sih? Kok cantik banget." Yah, pacarku ini malah mendengus.
"Aku nggak mau kalah saing!" Aku langsung terdiam. Berarti dia juga sama, ingin selalu sama aku kan? Buktinya dia sampai belajar berdandan karena nggak mau kalah saing.
Aku menunggu saja, ku lihat sudah pukul setengah 8 pagi. Oke, bisa sekalian sarapan lah.
"Sudah Bim, ayo?" Aku tak berkedip, serius, ini pacar ku kah? Pacar ku yang dulu seperti lelaki? Benarkan? Sungguh aku takjub, dia cantik sekali.
"Bima!!!" Dia mulai kesal karena aku masih mematung. Oke, santai Bima.
Saat sudah memegang handel pintu, aku langsung berbalik. Tak tahan rasanya, aku memeluknya lagi, berulang-ulang ku kecup wajahnya. Mulai dari kening, pipi, bibir, tak sabar rasanya memiliki dia seutuhnya. Aku suka karena Maudy seorang yang tegar, menangis saja kalau sudah terlalu merasakan sakit. Hebat kan dia.
"Kita cari sarapan dulu ya sayang?"
"Iya Bim, aku juga laper." Kami berjalan dengan bergandeng tangan, sesekali tertawa dengan candaan yang kami buat. Tentang apalagi kalau bukan soal semalam. Huh ternyata Maudy punya tahi lalat di dada ya? Waktu di dalam mobil aku tak terlalu jelas melihatnya, karena kan gelap. Ih apasih pikiranku jadi jorok banget.
Tawaku langsung memudar, begitu juga langkahku, perlahan aku juga mengajak Maudy berhenti.
"Bim, kenapa?" Tanyanya yang masih tetap menatap wajahku. Aku sudah menatap beberapa meter kedepan, yang kulihat wajahnya, ia juga berdiri mematung. Secepat itu kah dia sampai disini?
"Bim?" Akhirnya Maudy ikut melihat kemana arah pandangan ku. "Bima, itu kan?" Dia juga sama kagetnya seperti aku. Gila ya benar-benar ini wanita aduh.
"Kita jalan aja, jangan hiraukan dia." Ucapku dengan suara tegas, kali ini tak main-main. Kalau Luna berani menyentuh Maudy, aku tak peduli dia juga wanita. Aku yang akan membalasnya.
Maudy sudah mengangguk setuju. Aku melangkah melewati Luna begitu saja. Seperti kebiasaan yang ku lihat jika bertemu dengannya. Ya itu, sedikit-sedikit menangis, sudah bisa kulihat tadi matanya berkaca.
__ADS_1
"Bim, tunggu!" Nah, kali ini dia berbalik dengan cepat berjalan menghampiri kami. Aku berhenti saja, menunggu hal apa lagi yang dia buat. Maudy menggoyang kan lenganku, sepertinya dia tidak suka ada di situasi seperti ini.
"Bim, kamu keterlaluan! Kamu tidur di hotel sama wanita ini?? Iya Bim?" Luna langsung menudingku, baik aku dan Maudy sama-sama saling pandang.
Hati-hati kamu Luna, ini Maudy pacar aku loh.
"Apa kalian sudah melakukan hal itu?" Tanyanya.
"Hal apa? Bicara yang jelas?" Nah kan, Maudy yang jawab. Pokoknya kalau Luna berani main tangan baru aku langsung ikut campur.
"Kalian sudah berzina ya? Kamu nggak tau malu ya? Untuk apa kamu kuliah jauh-jauh di luar negeri, kalau kamu aja nggak punya harga diri??" Ku lihat Maudy wajahnya sudah memerah. Aku takut sekarang, takut kalau Maudy menghajar Luna.
Maudy sudah melepas genggaman tangannya dari aku. Dia berjalan mendekat ke arah Luna.
"Yang nggak tau malu aku atau kamu?" Syukurlah dia masih bicara lembut. "Aku pacarnya, kalau kamu yang ngerebut pacar aku? Sekarang ambil dia, ambil bekas aku!! Nggak tau malu, masih mengandalkan orang tua untuk cari jodoh!" Gawat air mata Luna sudah hampir jatuh. "Apa? Kamu mau nangis? Nangis aja yang kencang biar orang-orang pada kasian lihat kamu, sekalian aja aku disini bongkar kalau kamu maksa buat tunangan sama pacar aku!" Asli Maudy keren sekali.
"Ayo Bim?" Dia sudah menarikku. Tak peduli dengan tatapan orang yang sekarang aneh melihat kami.
"Akan aku bilang ke papa kamu!" Teriaknya sebelum kami melangkah menjauh. Kali ini aku yang menjawab.
"Secepatnya kamu bilang ke papaku, lebih cepat lebih bagus, jadi kami bisa langsung di nikahkan." Luna langsung tercekat mematung, tak bicara lagi sampai benar-benar aku pergi meninggalkan halaman hotel.
***
"Jam berapa sekarang Bim?" Wajahnya sudah di tekuk ketika kami sudah duduk menunggu makanan datang. Iya kami sarapan bubur ayam yang cukup terkenal enak disini.
"Jam 9 kurang 15 menit. Kenapa sayang?" Aku mendengar Maudy menghela nafas panjang.
"Gara-gara berdebat sama dia, ah jadi telat sarapan. Lagian kenapa dia bisa tau sih Bim? Apa jangan-jangan kamu yang bilang kalau kamu di hotel ya?" Aku harus jawab apa sekarang?
"Iya sayang." Jujur saja.
"Untuk apa Bim?" Wajahnya sudah memerah. Kan, kalau jujur dia pasti marah, aku yakin itu.
"Iya memang niat aku, biar dia tau gitu."
"Tau kalau aku sama kamu tidur satu kamar!" Maudy langsung melempari aku dengan barang apa saja yang ada di dekatnya duduk.
"Sayang maaf, berhenti nggak? Kalau nggak, aku cium kamu!" Kulihat dia langsung berhenti. Padahal logika aja, mana mungkin aku berani nyium di depan banyak orang.
Tak lama sarapan datang. Aku dan Maudy sama-sama menyantap makanan dengan tenang. Setelah ini aku akan mengantarnya pulang, dan aku? Aku harus kembali lagi ke rumah itu. Aku akan terus menyebutnya sebagai rumah neraka, sebelum papa bisa menerima Maudy menjadi menantunya. Membawa dia pulang kesana, dan baru bisa di sebut rumah surga. Karena ada bidadari ku di dalamnya.
Bima end.
***
"Itu mobil ayah sayang?" Mata Bima langsung berbinar, rasanya satu bulan sekali masih bisa di hitung Maudy memanggilnya dengan sebutan itu.
"Ya sudah, kamu turun. Biar nanti aku yang bawa koper kamu masuk ya?"
"Tapi Bim, apa kamu nggak ngantor?" Ya ampun, Bima langsung membuang pandangannya. Bahkan Bima belum menceritakan tentang pertengkaran dengan papanya. Maudy benar-benar mampu mengalihkan dunianya.
"Nggak. Udah hari ini mau sama kamu dulu." Memberi alasan.
"Apa nggak cukup waktu semalam?" Ternyata tak secepat itu membuat Maudy melangkah pergi masuk ke rumahnya. Huh Bima membuang nafas kasar, tanpa jawaban malah Maudy melangkah pergi. Bima langsung bergegas untuk membawa koper Maudy setelah melihatnya sudah masuk ke rumah.
***
"Ibu." Berteriak dengan keras ketika ibunya masih fokus mengaduk masakan.
"Ap-" Matanya tak berkedip.
"Maudy!!!" Pekiknya lebih keras jelas terdengar di telinga Maudy.
Pelukan langsung terjadi, ibunya masih berharap ini tidak mimpi. Anaknya sudah kembali, dengan membawa segudang ilmu dari negeri seberang. Ya ampun, ia tak henti-hentinya bersyukur.
"Ibu masak apa?" Tanyanya dan melihat ke arah kuali.
__ADS_1
"Kok banyak banget Bu?"
"Hem, iya ada temen ibu yang mau datang." Melanjutkan masaknya.
"Siapa bu?"
"Nanti kamu tau. Hem Dy, apa Bima tidak ada mengabari kamu?" Maudy langsung tercekat.
Ya ampun Bima.
"Bu, sebentar ya?" Maudy langsung berlari ke depan. Melihat Bima yang masih mematung di depan pintu dengan membawa kopernya.
"Bim? Kenapa nggak masuk?" Bima diam.
"Masuk ayo?" Masih diam.
"Maaf ya iya maaf. Tadi ngobrol sama ibu." Masih tetap diam.
"Bukan itu!" Suaranya terdengar dingin.
"Tapi tadi waktu mau masuk rumah kamu senyum sama siapa??" Maudy mencoba mengingat kejadian beberapa menit lalu. Senyum? Senyum sama siapa? Pikirnya.
Astaga!!
"Ya ampun Bim. Itu tuh cuma anak tetangga sebelah, wajar lah Bim lagian kan dia tetangga aku." Huh mengelus dada.
"Tapi kan dia lelaki sayang, memangnya dia udah nikah?" Maudy menggeleng.
"Jangan terlalu ramah sama orang." Bima langsung masuk dan duduk di sofa.
Ya ampun Bim. Padahal wajah nya juga nggak ganteng-ganteng amat yang manggil aku.
Maudy ikut duduk di sofa.
"Kamu tuh sekarang cantik banget, jadi tambah banyak yang suka. Kamu senyum aja di kira mereka kamu kasih lampu ijo." Masih melanjutkan perdebatan.
"Jangan berlebihan deh Bim." Maudy bangkit dari duduknya, cukup dulu perdebatan ini. Maudy menarik kopernya memasuki kamar. Kamarnya yang sudah beberapa tahun ini tak dia tiduri. Ah ternyata ketika masuk, semuanya masih rapi. Ibu menepati janjinya untuk selalu membersihkan setiap hari.
Maudy sampai lupa, dimana ayahnya? Kalau Tisha jelas pasti dia sekolah. Maudy mengingat hari, oh ya ayahnya pasti bekerja. Pantas saja rumah sepi. Namun ada hal yang harus Maudy tanyakan, kemana mereka semalam.
Maudy langsung membuka lemarinya. Masih ada menggantung sisa bajunya beberapa tahun lalu, baju yang tidak boleh lagi di pakai oleh tantenya. Dan pandangannya teralih pada gitar. Dengan cepat ia mengambilnya dan membawa keluar kamar.
"Bim, lihat?" Memerkan gitar yang ia bawa. Bima tersenyum dan menepuk sofa di sebelahnya. Mempersilahkan Maudy untuk duduk dan memainkannya.
Satu lagu di mulai, Maudy bernyanyi dengan suara bagusnya. Bima sangat menikmati, terbukti kalau dia selalu tersenyum mengiri Maudy bernyanyi.
Tok.. Tok..
"Mbak?" Suara berasal dari pintu rumah.
"Bu. Ada yang cariin?" Rasanya malas bangkit sekedar untuk melihat siapa yang datang.
"Iya." Ibunya langsung berjalan ke depan. Tanpa menoleh sedikitpun ke sofa, sekedar melirik juga tidak.
"Mbak, masuk?" Menawarkan kepada tamunya.
Detik berikutnya.
"Mama?"
"Bima?"
"Loh, kok ada Bima disini?"
"Tante?"
Mereka saling pandang, Maudy merutuki kebodohannya hari ini, dia bahkan lupa tak memberi tau ibunya kalau ada Bima disini!!!
__ADS_1
--__