
Ini sudah yang ketiga kalinya Bima cek up ke dokter mengenai kesehatannya, terutama untuk lengan dan kepalanya. Dan Maudy tetap setia menemani setiap kali Bima kerumah sakit. Tetap berada di sampingnya, melihat Bima yang meringis kesakitan, dan sekarang dia bilang semuanya sudah baik. Dan berharap ini adalah terakhir kalinya untuk datang kerumah sakit ini, sesuai keinginannya yang meminta papanya untuk mencarikan dokter terbaik.
Bahkan papanya rela membayar mahal untuk mendatangkan dokter dari luar negeri demi anaknya. Baginya kesembuhan yang utama, awalnya dokter menolak dan meminta Bima lah yang harus terbang ke negaranya, tapi melihat uang yang di tawarkan begitu besar, dokter tersebut lah yang datang kesini. Di salah satu rumah sakit yang masih mempunyai hubungan dekat dengannya. Memang benar ya, uang dapat mengalahkan segalanya.
"Bim? Semoga hasilnya baik ya?"
"Iya sayang."
Bima masuk keruangan dengan menggandeng tangan istrinya, dan sekarang tangannya sendiri sudah tak di sanggah, Bima sudah bisa menggerakkannya walau masih dengan gerakan yang hati-hati.
"Selamat pagi dokter." Bima menyapa dengan hangat.
"Pagi, silahkan naik biar saya periksa." Dokter mengalihkan pandangannya ke arah Maudy.
"Istrimu, sudah memasuki bulan kelahiran kah?" Baik Maudy dan Bima mereka sama-sama menggeleng.
"Belum dokter, genap usia kandungan tujuh bulan sekitar satu Minggu lagi."
"Benarkah? Perutnya sudah besar sekali ya." Tersenyum, begitu juga dengan Maudy.
"Ada dua janin di dalam perutnya dokter." Bima menjawab.
"Wah, selamat. Kita mulai periksa ya?" Bima mengangguk. Maudy duduk di kursi ruangan dengan memandang Bima.
Dokter menggerakkan lengan Bima ke atas dan ke bawah. Terlihat Bima sudah tak mengeluh sakit. Dia santai seperti biasa. Lalu beralih dengan luka yang ada di kepalanya. Bekas jahitan jelas sudah mengering.
Lalu tiba-tiba dokter meremas lengan Bima dengan wajahnya yang santai dan tersenyum.
"Sakit?"
"Tidak dok." Dokter mengangguk dan tersenyum.
"Saya sarankan jangan meminum jenis apapun yang dingin, semuanya sudah kembali normal. Hanya saja belum bisa mengangkat beban yang terlalu berat." Bima mengangguk dan memandang dokter yang tengah mencatat di atas kertas.
"Jadi sudah di pastikan suami saya sembuh dok?" Dokter mengangguk.
"Terima kasih dokter." Bima mengucap dengan sangat tulus, dan sesekali menggerakkan lengannya, bangga bahwa dirinya sudah sembuh.
Ah kalau begini kan melakukan kewajiban sebagai seorang suami jadi tidak terganggu.
Sambil menatap Maudy dengan senyum nakalnya.
Apa?
Maudy membulatkan matanya.
Mereka pamit untuk keluar ruangan, dan tentunya pulang. Soal admistrasi sudah lebih dulu dibayarkan di awal, seusai kesepakatan. Membayar dengan jumlah besar hingga Bima dinyatakan sembuh total. Satu bulan lebih Bima tidak menginjakkan kakinya di perusahaan. Dan besok adalah awal baginya untuk memulai segala kesibukan, itu sudah bisa di tebak. Melakukan pertemuan dengan beberapa perusahaan dalam negeri yang sudah mengajukan kerja sama dengannya. Rio jelas tidak mau melakukan itu, dengan alasan waktu yang memang tidak lagi sempat.
"Kiki jadi datang ke resto sayang?"
"Jadi lah Bim, palingan juga mau curhat dengan Edi." Tertawa kecil.
"Pak kita pulang ya, nanti sampai dirumah, langsung saja pergi ke tempat yang sudah saya katakan semalam."
Bima berniat untuk membagi rezeki kepada anak jalanan, dan makanan akan di bawa dari resto istrinya sendiri, tentu dia juga membayar. Walau Maudy menolak, Bima tetap mengirim uang ke ATM Maudy, dan jumlah yang sesuai dengan makanan yang dia mau.
"Baik tuan."
Berbagi rezeki tapi tidak ingin dirinya di sorot, yang terpenting siapapun yang menerima akan merasa senang dan mendoakannya dari jauh. Itu sudah cukup untuknya.
"Aku punya kejutan sayang."
"Apa?" Maudy menoleh, dengan posisi yang saat ini menyandarkan tubuhnya dengan Bima.
"Nanti kamu pasti akan lihat sendiri, kalau aku bilang sekarang bukan kejutan namanya."
"Hem, gitu ya?" Bima mencubit gemas pipi istrinya.
***
"Bim, kita langsung turun di depan resto aja?" Bima mengangguk, dan memberi perintah kepada supir.
"Itu mobil Kiki udah ada disana?" Menunjuk ke arah mobil satu-satunya yang terparkir di halaman resto miliknya.
"Dasar pengangguran, cepat sekali dia sampai." Pintu di bukakan oleh supir, barulah mereka turun.
Mata Maudy menangkap deretan nasi kotak yang sudah tersedia disana, berjumlah ratusan.
"Bim, apa satu mobil akan cukup membawa itu semua?" Berjalan mendekat.
Resto memang belum buka, karena ini memang masih jam 10 pagi. Hanya ada chef yang memasak dan karyawan yang membantu mereka, tidak semua hanya sebagian. Yang lain akan masuk ketika resto buka.
__ADS_1
"Nanti ada teman aku juga yang bantu sayang." Maudy mengangguk saja, memang suaminya selalu mempunyai kejutan.
Maudy berjalan ke arah dapur, mencari Kiki pasti dia sudah ada disana, yang selalu menganggu Edi ketika sedang memasak.
"Kan beneran disini." Kiki nyengir menampakkan deretan giginya.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan Edi lah Ki, nanti tunangannya marah."
"Ya ampun, enggaklah Dy, tunangan aku baik orangnya." Sepertinya Edi malah membela Kiki.
"Kita ke depan aja Ki? Jangan ganggu Edi, ada Bima juga disana."
"Kalian sudah selesai cek up?" Sambil berjalan Kiki bertanya.
"Sudah kok."
"Hasilnya gimana Dy?"
"Sesuai keinginan Bima. Bima dinyatakan sembuh total, tuh kamu lihat, dia juga bisa angkat nasi kotak ke mobil."
"Lah, kalau itu kan ringan Dy, jelas bisalah."
Langkah mereka terhenti karena sebuah mobil yang masuk ke halaman resto, memarkir tepat di sebelah mobil Kiki. Dari mulai merk mobil, juga plat tidak mereka kenali. Apa dikira resto sudah buka? Batin Maudy. Tapi melihat Bima yang berjalan mendekat, Maudy sekarang berpikir kalau itu temannya yang dia sebut tadi, akan membantu membagikan nasi kotak ke anak-anak jalanan.
"Siapa Dy?"
"Teman Bima. Kita duduk disana aja Ki? Lebih santai." Menunjuk pondok yang selalu jadi tempat favoritnya di sini.
"Kamu gimana Ki sekarang? Nggak pernah mikirin Agam lagi kan?" Kiki menggeleng.
"Cerita sama Edi ternyata asik juga Dy, dia selalu kasih aku masukkan gitu. Kalau aku cerita dia juga selalu kasih solusi, ya seperti sekarang ini, aku cerita gimana hubungan aku sama Agam, tapi Edi kasih aku motivasi."
"Kenapa?" Melihat Maudy yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Jangan bilang, kamu malah suka sama Edi? Ah tidak-tidak, dia sudah akan menikah Ki sebentar lagi."
"Hei! Sumpah aku nggak suka Edi, ya ampun. Dia bukan tipe aku lah Maudy!!! Walau dia juga sudah merubah penampilan, tetap saja lemah gemulainya masih ada, ih nggak ah. Dia sama sekali bukan selera aku."
"Lagian ya, sekarang kamu kan udah menikah, udah banyak kesibukan. Aku nggak mungkin kan ganggu kamu setiap hari untuk dengerin keluhan aku?" Maudy mengangguk, mengusap bahu Kiki.
"Iya aku ngerti posisi kamu, tapi satu ya ingat. Jangan sampai kamu jadi orang ketiga di hubungan orang lain."
"Sayang?" Maudy menoleh. "Aku cari kamu, ternyata kamu disini." Cup, mengecup kepala Maudy dan Kiki yang melihat langsung mendengus.
"Pacaran sana biar nggak iri."
"Berisik!"
Mata Maudy masih ingin melihat sosok yang berdiri di belakang Bima, jelas susah untuk dia kenali hanya dengan melihat kakinya saja. Karena postur tubuh Bima yang tinggi menutupi Pandangannya.
"Duduk Bim." Bima malah menoleh ke belakang.
"Revan, ayo duduk." Lah? Maudy memanjangkan lehernya ke samping, mengintip benar kah itu Revan? Batinnya.
"Iya pak." Kiki juga mendongak. Revan duduk di sebelah Kiki, reflek Kiki menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat.
Eh kenapa dia duduk disini?
"Revan? Kamu sudah sembuh?"
"Iya bu."
"Jangan panggil ibu, setua itu kah aku? Panggil nama aku aja Revan, Maudy."
Bima menatapnya tajam. "Eh nggak, panggil mbak aja, lebih enak di dengar."
"Iya mbak." Revan mengangguk sopan.
"Apa yang kamu maksud kejutan adalah ini Bim?" Bima tersenyum.
"Inikan juga ide kamu sayang. Kamu yang kasih saran ke aku." Menyandarkan kepala Maudy di bahunya, mengelus puncak kepalanya.
"Wah, berarti Revan juga sudah bisa masuk kantor dong?" Revan mengangguk.
"Dia sudah masuk dari dua hari yang lalu."
"Benarkah?"
"Iya, kenapa terus bertanya tentang Revan?" Maudy terdiam, dan Revan langsung menundukkan kepalanya. Hanya Kiki yang tampak menahan tawa sambil membuang muka.
"Ki, kamu nggak berminat sama tawaran aku waktu itu?" Kiki diam dan berpikir, sudah ada yang penasaran, kedua orang ini masih belum mengerti.
__ADS_1
"Tawaran apa?" Maudy bertanya.
"Aku tawarkan Kiki buat jadi sekretaris aku sayang, dia jugakan pengangguran, dari pada dia disini ganggu karyawan kamu terus." Maudy tau siapa, pasti Edi. Kiki masih diam.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku?"
"Iya, aku lupa sayang. Lagian juga baru semalam aku ngomong sama Kiki." Heh, Kiki menghela nafas. Sebenarnya Kiki juga ingin bekerja, apalagi saat ini di tawarkan menjadi sekretaris pengusaha terkenal, yang sangat sulit mendapatkan posisi itu, bahkan harus seleksi terlebih dahulu seperti yang di lakukan Sundari dulu.
"Bukannya sudah ada Revan?" Maudy bertanya lagi, memecahkan keheningan beberapa menit.
"Sayang, Revan akan menjadi sekretaris pribadi ku, yang akan ikut aku pergi jika aku akan bertemu klien. Dan Kiki yang berperan di dalam kantor saja. Revan akan tetap mengatur keuangan perusahaan, aku percaya dia, itu juga papa yang meminta." Bima menjelaskan, sungguh hati Revan saat ini sangat senang mendengar pujian.
"Gimana Ki? Kalau aku sih setuju aja, kamu juga sahabat kita kan?"
"Iya deh aku mau."
Padahal, papa aku sendiri udah minta aku buat kelola usahanya, tapi aku nggak suka keluar kota gitu. Lebih baik aku kerja aja deh.
"Beneran, bukan karena terpaksa kan?" Kiki menggeleng. "Bukan juga karena mau ketemu Revan terus kan?" Ha? Kiki sudah ingin melempar sesuatu di wajah Bima.
"Nanti kalian satu ruangan loh."
"Emangnya kenapa? Kan niatnya kerja."
"Haha." Bima malah tertawa.
"Bim, jangan bicara yang tidak-tidak, kalau pacarnya Revan dengar gimana?"
"Maaf, tapi aku nggak punya pacar." Kiki dan Revan saling pandang.
"Cocok ya Bim." Maudy berbisik, mereka tertawa melihat reaksi Kiki yang seperti salah tingkah sekarang.
Obrolan terus berlanjut, tapi hanya Bima dan Revan sepertinya, Maudy dan Kiki hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Mereka membahas masalah perusahaan, dan tentang posisi Revan yang sekarang. Jauh lebih tinggi daripada posisi jabatannya yang dulu di dalam kantor. Bima sendiri yakin, kalau Revan mempunyai skill yang memang bagus dalam posisinya yang sekarang. Jadi jika Bima tidak dapat hadir dalam rapat ataupun bertemu dengan klien, Bima bisa mengandalkan Revan.
Tak salah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk kesembuhan Revan, dan malah memiliki keuntungan tersendiri untuknya.
"Jadi Kiki, besok kamu akan diberi tau oleh Revan, apa-apa saja tugas kamu di kantor." Kiki mengangguk saja dan melirik Revan sekilas.
"Pak, gimana nasi kotaknya? Apa jadi saya yang antar?" Revan bertanya, setelah dari tadi mendengar Bima berbicara panjang lebar.
"Oh iya, kamu antar di daerah Cemara ya? Kalau daerah Niagara sudah ada supir saya yang antar tadi."
"Saya sendiri pak?" Bima menoleh ke arah Kiki, Maudy tau maksudnya. Memang tidak mungkin dia pergi sendiri, pasti akan sulit. Sementara supir saja pergi dengan salah satu karyawan resto.
"Sayang, apa masih ada salah satu karyawan kamu yang bisa temani Revan?"
"Ada sih, tapi mereka juga sibuk Bim." Kiki berpura-pura tidak tau dan memainkan ponselnya.
"Kiki aja lah Bim, dia juga nggak ada kegiatan. Lagian anggap aja ini tugas pertama dari kamu." Kiki melirik ke arah Maudy, ponsel masih ia genggam. Meremas malah dengan tangannya.
Ini kenapa suami istri sama aja ya? Kayak berusaha jodohin aku sama Revan!
"Iya juga. Ya sudah, kalian pergi berdua. Ayo saya bantu memindahkan ke mobil."
"Eh, nggak usah pak. Biar saya sama Kiki aja." Hah? Kiki langsung menoleh ke arah Revan.
"Ayo?" Kiki masih tercengang.
"Cepetan Ki!" Maudy sepertinya sangat bersemangat.
Maudy menghela nafas lega, menatap punggung Kiki yang berjalan beriringan dengan Revan. Berharap memang mereka berjodoh, bahkan sudah sejauh itu pikirannya. Kenapa? Maudy juga sayang Kiki, mau kalau sahabatnya itu menemukan orang baik untuk kehidupannya nanti. Maudy tersenyum sekarang, menoleh ke arah Bima yang pasti tau apa maksudnya.
"Aku nggak akan jodohkan mereka sayang. Kalau Ilham kan karena dia terus ganggu aku, jadi jangan berharap aku jadi pak comblang lagi." Heh, Maudy mendengus.
"Biarkan Kiki menentukan pilihannya tanpa campur tangan dari kita, meski aku tau Revan orangnya jujur, baik nggak neko-neko, tapi biar Kiki sendiri yang menilai itu dari pandangannya tanpa mendengar dari orang lain ataupun kita." Maudy memeluk Bima, dan kali ini Bima bisa membalas pelukan itu lagi dengan kedua tangannya.
"Maaf mbak, resto sudah bisa di buka sekarang kan?" Eh, Maudy langsung melepas pelukannya. Bagaimana bisa menganggap resto ini adalah kamar, ini bukan ruangan, resto tempat terbuka yang bisa di lihat dari segala arah.
"Hem." Bima berdehem mengembalikan wibawanya.
"Iya-iya, bisa." Karyawan wanita itu mengangguk lalu pergi, padahal dia sendiri juga malu sudah memergoki pemilik resto yang tengah berpelukkan.
"Kenapa?" Bima bertanya.
"Malu Bim, segan ketahuan pelukan?"
"Ya sudah, kita lanjut di kamar aja ya? Soalnya aku mau coba gaya yang udah lama nggak di praktekkan." Dengan santainya Bima berbicara begitu. Ah tapi Maudy juga tidak menolak, dia malah tersenyum.
"Ayo?" Bahkan lebih bersemangat dari Bima, dasar ibu hamil.
--__
__ADS_1