Dia Bimaku

Dia Bimaku
Malam terakhir Maudy


__ADS_3

Malam ini, semua sudah terkemas dengan rapi, apa yang harus di bawa besok, dan barang penting apa juga yang harus di bawa, semua sudah di periksa kembali dan tidak ada satupun yang tertinggal.


Benar, memang terkadang jika menjauhi waktu, semua malah akan terasa cepat, dan begitu juga sebaliknya.


Malam ini, gerimis turun membasahi bumi. Sekedar menghapus debu di permukaan tanah. Entah ini arti kesedihan sebuah keluarga atau apa, tapi hujan itu adalah salah satu anugerah.


"Sudah semua?" Tanya ibunya.


"Sudah bu." Terdengar suara helaan nafas yang berat. Capek jelas ia rasakan, satu hari berkemas, membersihkan kamar tidur yang akan ia tinggali beberapa tahun, tak lupa gitar barunya ia letakkan di dalam lemari. Berharap saat kembali suaranya masih bagus.


"Kamu mau kemana?" Melihat anaknya mengganti pakaiannya.


"Pergi sama Bima sebentar, boleh kan bu?" Mendekat ke arah ibunya.


"Emangnya Bima boleh keluar malam-malam?" Maudy tau, pasti pertanyaannya akan di jawab dengan pertanyaan juga.


"Aku nggak tau bu, buktinya dia udah jalan kesini. Entah alasan apa yang dia beri." Tersenyum membayangkan Bima meminta ijin. Pasti berbohong, batinnya. "Lagian juga ini malam terakhir sama Bima bu."


"Kamu bicaranya seperti orang yang mau mati saja." Memukul lengan anaknya.


Maudy kembali duduk di kasurnya sendirian setelah ibunya pergi ke luar. Besok, adalah hari keberangkatannya. Dimana hari yang bertepatan dengan pernikahan Rio. Maka dari itu malam ini, Bima memaksakan untuk keluar rumah hanya untuk menemui Maudy, karena ketakutannya besok tidak bisa ikut mengantarnya ke bandara.


"Dy, ada Bima." Suara ibunya nyaring terdengar di telinganya.


Dengan bergerak cepat Maudy menyambar tas samping miliknya dan siap berjalan keluar. Itu enaknya jika seperti Maudy, tidak susah payah berdandan. Hanya butuh waktu lima menit untuk mengatur menyisir rambut dan menguncinya tinggi.


Kenapa wajah Bima sendu?


"Kalian mau kemana?" Pertanyaan ayahnya membuatnya bingung. Karena memang Maudy sendiri tidak tau tujuan malam ini kemana.


"Jangan terlalu malam ya, karena besok pagi kamu sudah harus ke bandara." Untung ayahnya tidak menunggu jawaban.


"Permisi ya om." Pamit dengan sopan dan berjalan keluar bersama Maudy.


"Tunggu-tunggu." Teriak ibunya.


"Ini, pakai. Nanti kalian kehujanan kalau ke mobil." Menyerahkan payung berukuran jumbo untuk muat 3 orang sekaligus.


"Makasih bu." Ucap Bima.


Gerimis lebat siap menyambut mereka, walau menggunakan payung sekalipun, tetap saja kaki akan sedikit kotor.


"Sini kaki kamu." Saat sudah sampai di dalam mobil, Bima langsung mengangkat kaki Maudy dan di letakan ke pangkuannya. Dengan telaten Bima membersihkannya dengan tissue.


"Udah Bim, aku bisa sendiri." Menurunkan kakinya dan mengambil tissue dari genggaman Bima.


"Kenapa?" Suaranya terdengar dingin.


"Nggak pantes kalau kamu yang bersihkan."


Diam, Bima diam dan langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Kita mau kemana?" Setelah beberapa menit dalam perjalanan.


"Nggak tau!"


Maudy reflek dan langsung memukul lengan Bima.


"Serius Bim. Malam ini aku tuh nggak bisa tidur terlalu larut, besok penerbangan aku tuh jadwalnya jam 7 pagi. Jadi jam 4 aku udah harus bangun, bersiap. Belum lagi perjalanan ke bandara." Masih terus mengoceh dan Bima mengentikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Kamu tuh- hmm.." Mulutnya sudah terbungkam dengan kelakuan Bima. Tanpa aba-aba Bima langsung ******* dengan rakusnya. Maudy berusaha mendorongnya, menjauhkan tubuh Bima. Tapi Bima langsung menahan tangan Maudy dengan satu tangannya, sementara yang satu ia gunakan untuk menahan tubuh Maudy agar tidak bisa menjauh.


Setelah melihat Maudy hampir kehabisan nafas Bima langsung melepasnya.


"Gila kamu Bim! Gila!! Kamu baru aja lulus SMA udah segila ini! Aku turun sekarang!!" Ucapnya berapi-api. Saat akan membuka pintu mobil suara petir terdengar sangat kencang. Maudy kaget dan langsung mengurungkan niatnya.


"Kenapa nggak jadi turun?" Tersenyum mengejek.


"Pulang sekarang!" Keputusan yang Maudy ambil.


"Nggak"


"Pulang!"


"Nggak!" Bentaknya lebih keras. Tapi bukan Maudy namanya kalau nyalinya menciut, apa lagi saat ini dirinya tidak bersalah, malah di rugikan iya.


"Mau kamu apa sih Bim?" Berdecak kesal.


"Aku cuma mau ajak kamu makan aja kok, kenapa repot segala sampai marah-marah? Sebentar lagi juga sampai sayang." Merendahkan nada bicaranya.


"Jadi kenapa kamu tadi?"


"Apa?" Kembali melajukan mobilnya.


"Ih!" Mencubit lengan Bima.


"Aw!" Mengaduh kesakitan. Mungkin memerah, karena memang Maudy mencubitnya dengan kuat.


***


Mobil memasuki area cafe, tapi padangan Maudy melihat suasana ini sangat tidak asing.


Bukan kah ini cafe milik Agam?


"Bim, kita putar balik sekarang?" Pinta Maudy.


"Kenapa lagi?"


"Kamu mau aku jumpa sama Agam? Ini kan cafe miliknya!" Bima langsung mengerem mobilnya secara mendadak.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bilang sayang?" Protesnya.


"Lah, kamu yang nggak ada bilang kan kalau mau belok, mau kemana, mau makan dimana!"


Kenapa sih Bima nyebelin banget sekarang ih.


"Ya udah, kita ke hotel aja ya?" Menoleh ke arah Maudy.


"Mau ngapain?" Menjawab dengan nada ketus.


Hujan semakin lebat, dan Bima benar-benar tidak jadi mengajak makan di cafe yang sudah ia tentukan tadi. Padahal Bima sudah searching mencari cafe yang makanannya enak, eh tapi pemiliknya yang tidak enak di matanya.


"Kita dimana sekarang?" Setelah mobil berhenti. Padangan tidak begitu jelas, untuk melihat papan reklame juga sudah bisa. Sudah tertutup air hujan yang turun dengan derasnya.


"Kita belum sampai, tapi ini mobilnya yang mati." Bima sudah terlihat panik, berulang kali ia mencoba kembali menghidupkan mesin.


"Sayang, gimana ini?" Suara melow nya sudah terdengar. Maudy hanya melipat kedua tangannya di dada dan tidak menjawab ucapan Bima.


"Sayang, ih." Menggoyangkan lengan Maudy.


"Masak iya sih, mobil seorang bapak Adi Nugroho bisa mogok? Hanya karena terkena hujan lagi, atau memang nggak pernah di servis." Melirik Bima dengan sinis.


"Sayang, ini bukan mobil papa." Nyengir bagai kuda. "Ini mobil temannya mas Rio." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ah rasanya mengingat ini Bima jadi bingung. Padahal mati-matian biar bisa keluar rumah, eh malah gini ujungnya.


"Maksud kamu?" Bima mengangguk lagi.


"Sayang, apa kamu pikir aku bisa keluar malam-malam dengan menggunakan mobil papa? Dan apa papa bakal kasih ijin?"


"Lalu mama kamu tau?" Bertanya lagi.


"Tau, ini juga rencana mama. Apa kamu yakin, aku sendiri yang meminjam mobil ini ke orang lain gitu? Ide aku nggak seluas itu Dy. Kamu tau kan, Bima kamu ini gimana? Susah buat ngerubah sifat aku, tapi mulai sekarang aku bakal belajar, biar gampang jumpa sama kamu?" Tersenyum.


"Telat tau nggak Bim. Besok juga aku berangkat."


Hening, lama mereka sama-sama terdiam. Sampai Maudy kembali mengutarakan isi hatinya saat ini, bukan tentang cinta, tapi hanya kemarahan yang ada. Itu juga menyalahkan Bima.


Makan belum, padahal udah aku stell nggak makan dari rumah, taunya malah gini. Mogok, terjebak hujan lagi.


"Bim, ini nih karena kamu tuh selalu keluar diam-diam. Jadinya gini kan, sekarang gimana coba? Harusnya kamu nggak usah paksain." Gerutunya.


"Dy, sekali aja kamu hargain usaha aku? Besok Dy, besok adalah hari pernikahan mas Rio. Sementara kamu berangkatnya pagi, aku nggak bisa jumpa kamu lagi? Kenapa sih Dy, semua orang sama aja sekarang. Nggak kamu, nggak papa, nggak bisa hargain usaha orang." Bima membuka pintu mobilnya, menerobos derasnya air hujan. Sementara Maudy mematung mendengar ucapan Bima.


Aku udah keterlaluan ya? Ini mulutku memang nggak ada remnya.


"Bim kamu ngapain?" Berteriak dari jendela melihat Bima yang sudah basah kuyup. Bima mencoba melihat mesin mobilnya, padahal ia juga tidak sama sekali tau soal mobil.


"Masuk Bim." Bima hanya diam tidak menjawab. Padahal, di derasnya hujan Bima juga menjatuhkan air matanya, sakit bila usaha tidak di hargai, padahal semua ini di lakukan hanya demi Maudy, tapi malah Maudy yang menjatuhkan semangat nya.


Dengan terpaksa Maudy ikut turun, untungnya payung yang di berikan ibunya ia bawa.


"Bima, ayo masuk ke mobil, kita tunggu aja hujan redah Bim?" Berteriak karena hujan lebat disertai petir mengalahkan suaranya.


"Udah kamu masuk aja, aku mau ngechek mesinnya." Masih tetap berpura-pura melihat keadaan mobil.


Keadaannya sudah basah, seluruhnya. Maudy yang khawatir Bima akan masuk angin. Melihat Bima sudah memeluk tubuhnya sendiri menggunakan tangan. Bibirnya bergetar dan pucat, menahan dinginnya malam ini.


"Kamu bawa baju ganti nggak Bim?" Tidak mungkin Maudy diam saja.


Bima hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin berbicara sudah susah, karena menggigil.


"Kamu sih, ngapain juga lah pakai keluar segala. Kalau marah sama aku jangan gitu kali Bim, ini bahayain kamu." Malah menggerutu lagi, dan Bima membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil.


"Shh.." Suaranya terdengar gemetaran.


"Bim? Kenapa?" Maudy mulai panik.


"Dingin banget ya Bim?" Bima mengangguk.


"Sini." Maudy langsung memeluknya, memberi sebuah kehangatan. Karena ini juga cara mencegah supaya tidak terjadi hipotermia.


"Udah mendingan belum Bim?" Bima menggeleng.


Maudy melihat keluar jendela, sepi. Toko pinggir jalan juga pada tutup. Mengeluarkan lagi kepalanya dari jendela mobil, melihat keadaan isi jalan, tau aja ada taxi yang lewat, pikirnya.


Ada memang, tapi semua tampak ngebut, kalau mau mengentikan ya terpaksa harus turun, karena jika berteriak percuma, supir taxi tidak akan mendengarnya. Sementara saat ini juga hujan masih lebat, berkurang sedikit pun juga tidak.


Maudy kembali duduk ke semula, melihat ke arah Bima.


"Ya ampun Bim, kamu pucat banget." Panik, saat ini Maudy benar-benar panik, dan bingung apa yang harus ia lakukan.


"Bim, apa kaca mobil ini terlihat dari luar? Maksudnya, jika orang melihatnya dari luar, apa kita akan terlihat di dalam sini?" Bima menggeleng lagi.


"Bim, dengar aku ya? Aku lakukan ini, kamu jangan ambil kesempatan. Maaf Bim, aku harus lakukan ini dari pada kamu kejang disini." Tanpa berpikir panjang lagi, Maudy langsung membuka bajunya, menampakan dua gunung kembar miliknya. Tampak putih mulus, dan sepertinya kenyal. Bima kaget langsung membulatkan matanya. Maudy hanya menyisahkan bra miliknya. Ia lalu memeluk tubuh Bima dengan erat.


Semoga ini bisa mengurangi rasa dingin Bima. Sampai dia bisa bicara baru aku melepasnya.


Setelah satu jam Maudy memeluknya dengan tubuh polosnya.


"Bim?" Masih tetap memeluknya.


"Bima?" Panggilnya ulang.


"Hem." Jawabnya dengan mata tertutup rapat.


"Kamu udah enakkan?" Bima mengangguk.


"Kenapa kamu nggak bilang?" Langsung melepas pelukannya. Tetapi Bima menariknya lagi, seperti tidak ingin Maudy melepaskan.


"Bima, udah ya Bim. Aku bilang kan jangan ambil kesempatan." Maudy mendorong tubuh Bima, dan langsung mengambil bajunya kembali, dengan cepat ia memakainya.

__ADS_1


"Sayang, makasih ya." Ucapnya lemah dengan mata yang masih tertutup.


"Kamu kenapa dari tadi memejamkan mata Bim? Apa kamu pusing?" Bima menggeleng.


"Lalu? Kenapa? Bilang Bim, jangan sampai aku khawatir." Sudah mulai panik lagi.


Bisa gawat kalau Bima kenapa-napa disini.


"Apa kamu udah pakai baju?" Masih setia dengan mata tertutupnya.


"Udah dari tadi kali Bim, emangnya aku apaan sengaja kasih liat ke kamu. Itu tuh salah satu cara yang ampuh kalau tidak ada medis." Jelasnya. "Udah buka mata kamu."


Perlahan Bima membuka matanya, melihat pemandangan di hadapannya yang sudah kembali normal.


"Kamu kenapa tutup mata?" Tanyanya.


"Aku malu, lihat kamu begitu aku nggak siap!" Menunduk, lebih malu sepertinya Bima mengatakan hal ini.


"Ya ampun, Bima." Memegang kepalanya yang kini terasa pusing melihat kelakuan Bima.


"Jadi kenapa waktu itu kamu maksa aku buat mau lakuin hal mesum yang seperti kamu minta? Dan, kamu juga bilang kamu udah sering lihat adegan itu di video yang kamu tonton, lalu kamu pelajari?" Mencecar dengan pertanyaan. Selebihnya masih Maudy simpan dan akan bertanya kembali setelah yang ini di jawab Bima.


"Iya aku nonton memang, tapi hanya saat adegan ciuman saja, dan kalau itu aku nutup mata?" Jawabnya.


"Bohong!"


"Sumpah, aku hanya sering baca adegan itu di novel sayang."


"Jadi kenapa kamu berani ajak aku?" Pertanyaan selanjutnya.


"Aku, aku hanya ngetes kamu aja kok. Maaf?"


"Maksud kamu?" Tidak puas dengan jawaban yang Bima berikan.


"Iya, kalau seandainya waktu itu kamu mau, aku juga nggak berani lakuin. Aku hanya berani sebatas mencium kamu aja, nggak lebih. Dan akhirnya kamu menolak, itu tanda kalau kamu memang wanita baik-baik dan siap menjaga kesucian kamu. Sama aku aja kamu nolak, apa lagi dengan orang lain. Itu yang buat aku yakin kalau kamu nggak akan macam-macam di luar negeri nanti. Kamu kan tau remaja disana tidak seperti disini, disana seperti sudah bebas. Dan sekarang aku benar-benar yakin 100% kalau kamu bisa jaga itu." Ucapnya penuh wibawa dari seorang Bima Adi Nugroho.


"Tunggu, jadi maksud kamu, kamu mau buktikan aku itu wanita murahan atau nggak?"


Bima mengangguk.


"Eh, eh bukan itu maksud aku sayang." Menggaruk kepalanya sendiri. Sekarang keadaanya sudah jauh lebih baik.


Gimana sih cara jelasinnya. Kenapa Maudy tempramen banget ih.


"Intinya kamu udah milikku. Udah diem."


Maudy langsung mendengus.


"By the way punya kamu besar juga mulus lagi."


"Bima!!" Siap untuk Kembali memukul Bima.


Setelah beberapa menit kemudian.


"Bim? Gimana sekarang? Nggak mungkin kan kita disini terus? Ini udah malam Bim." Melihat hujan yang sudah redah.


"Sebentar, aku hubungi mas Rio. Semoga aja di angkat." Hampir dua jam lamanya mereka terjebak di dalam mobil. Dan itu membuat Maudy sangat tidak nyaman, malah perutnya juga sudah bunyi minta di isi.


Tau gini tadi aku mau aja makan cafenya Agam.


"Gimana Bim?" Setelah Bima selesai menelpon.


"Mas Rio bilang suruh tunggu sebentar, ini aku lagi share lock. Yang punya mobil akan kesini."


"Ah ya ampun akhirnya."


Tak lama, datang seseorang lelaki seumuran dengan mas nya. Dan membawa mobil lain untuk di gunakan Bima pulang dan mengantarkan Maudy.


"Memang sering gini nih mobilnya." Setelah melihat keadaan mesin mobil.


Udah tau kenapa di kasih pinjam yang ini mas!!


"Ya udah kalian langsung balik aja, biar ini saya yang urus." Bima mengangguk.


Dan akhirnya, malam ini hanya berakhir dengan terjebak di dalam mobil. Tidak ada acara makan atau semacamnya. Hanya satu macam menurut Bima, kenekatan Maudy demi dirinya.


***


Epilog.


"Ma gimana?" Bertanya untuk yang kesekian kalinya.


"Sebentar, mas kamu lagi pinjam mobil temannya." Berdiri di samping kasur Bima.


"Soal papa gimana ma?"


"Papa keluar nanti melihat keadaan gedung buat acara nikah mas kamu besok." Jelasnya dan menatap ke arah anaknya.


Tak lama terdengar suara Rio datang mengetuk pintu kamar.


"Gimana io?" Setelah Rio masuk dengan wajah yang di tekuk.


"Udah, udah ada di depan mobilnya. Lagian kamu ya Bim, mana orang sibuk begini tapi ada-ada aja permintaan kamu." Mendengus.


"Udah-udah. Kasian lah io, besok juga Maudy harus berangkat. Wajar kalau malam ini Bima ingin bertemu." Mamanya dengan setia selalu membela Bima.


"Nih kuncinya." Menyerahkan ke Bima.


"Sebentar lagi Bim. Papa kamu belum pergi." Mamanya tau kalau Bima sudah akan bergerak.

__ADS_1


"Iya ma. Makasih ya ma." Memeluk hangat mamanya.


--__


__ADS_2