
"Tante, Kiki dan juga Revan. Kalian boleh beli apa saja, tinggal tunjuk dan pilih. Nanti aku yang bayar."
"Beneran pak?"
"Beneran Bim?"
"Makasih ya Bim?"
"Cih, anak sultan." Melipat kedua tangannya di dada lalu mendengus.
"Hei, aku sudah pernah bilang kan? Aku anak papa Adi bukan anak sultan." Kiki dan mamanya saling pandang lalu tertawa.
Seperti janji Bima, mereka berkeliling sekitar pasar buah. Melihat pernak-pernik apa saja yang terjual disana, hanya namanya saja pasar buah tapi tidak hanya menjual buah. Bahkan kuda juga ada. Tapi ada kenangan yang membuat Maudy teringat akan sesuatu. Maudy langsung mengeluarkan ponselnya, membuka galery ponselnya. Lalu mencari beberapa photo kenangannya yang ada di pasar buah bersama Bima bertahun-tahun lalu ketika mereka masih duduk di bangku SMA.
Ya ampun lucunya.
Tersenyum sendiri.
"Kamu ngapain? Kenapa nggak ikut pilih kayak mereka?" Maudy langsung mematikan layar ponselnya, dan berpura-pura mencari sesuatu, memegang padahal tidak tau akan membeli apa.
"Untuk ayah, ibu dan Tisha jangan lupa." Bima memperingati. Maudy hanya mengangguk.
Dan sekarang, aku bisa bayar sendiri Bim semahal apapun baju disini.
"Ma, ini bangus nggak?" Kiki memamerkan dress rajutan dan menempelkan di tubuhnya.
"Coba lihat?" Revan yang mendekat dan memandang dress yang Kiki perlihatkan. "Bagus, cuma cocoknya kamu pakai warna cokelat. Lebih manis, iya nggak tante?"
"Iya benar kata Revan." Mama Ratih tersenyum.
Dan akhirnya, semua yang mau mereka beli akhirnya terlaksana. Maudy juga sudah menemukan oleh-oleh yang pas untuk keluarga dirumah. Tisha dengan tasnya, ibu dengan bajunya, dan ayah dengan switer dan topinya.
"Kenapa kamu nggak beli untuk mama dan papa?"
Setelah duduk di dalam mobil Maudy bertanya.
"Sudah tidak usah, aku juga bingung harus belikan apa buat mama" Deg, Maudy menoleh.
"Maksudnya? Mereka nggak suka barang-barang dari pasar?" Bima menggeleng. "Iya aku ngerti kok keluarga kamu beda sama keluarga aku."
"Bukan itu masalahnya sayang. Tapi aku juga tau kamu sudah lelah berkeliling."
"Tapi itu nggak adil, masak iya papa dan mama nggak di belikan. Tunggu sebentar aku turun, kamu disini aja. Aku mau beli untuk mama, papa, dan juga keponakan aku." Bima tak bisa berkata lagi, Maudy turun dan mencari apa yang dia mau. Dan akhirnya Bima juga terpaksa ikut turun, tidak mungkin membiarkan istrinya belanja sendirian di keadaan hamil.
***
Bima segera melajukan mobilnya, setelah mendapat beberapa oleh-oleh untuk keluarga. Perkiraan mereka akan sampai kerumah sekitar pukul 06 sore. Itu jika tidak terjadi kemacetan di beberapa titik yang biasanya menjadi langganan untuk para mobil berhenti dan mengantri panjang di jalanan.
Terkadang heran, kenapa selalu terjadi kemacetan? Padahal tidak ada jalanan yang rusak ataupun kendala perbaikan, pikir Bima.
"Apa kamu masih marah?" Maudy hanya menoleh sekilas.
"Sayang, kasian anak kita harus jauh dari aku. Aku bersumpah, meskipun dia belum lahir ke dunia, tapi aku sangat merindukannya." Tuturnya dengan bahasa yang lembut.
"Karena pikiran kamu mesum!" Bima tersenyum tipis, memang benar begitu ya? Batinnya.
"Kita ikut pulang kerumah Kiki, ambil koper kamu. Nanti bakal ada supir yang bawa pulang kerumah, setelah itu kita langsung kerumah ibu buat kasih oleh-oleh untuk mereka." Diam, tak menjawab. Entah keputusan apa lagi yang bakal dia ambil, yang terpenting Bima tidak pernah menyetujuinya.
"Punya mama sekalian." Hampir terlupakan sepertinya.
Jalanan memang sudah mulai padat, tapi untungnya mereka tidak terjebak macet. Maudy menoleh ke arah belakang, memastikan mobil Kiki masih ada di belakang mereka atau tidak. Maudy mengeluarkan ponselnya lagi, lalu menekan tombol yang sudah ada tertera nomor Kiki disana.
"Hallo Ki?"
"Iya kenapa Dy?"
"Kita mampir dulu ya cari tempat makan, aku lapar Ki."
"Iya sama, mama juga baru bilang gitu. Ya udah, kamu nanti belok aja kami ikut nanti."
"Oke."
Maudy kembali memasukkan kembali ponselnya ke ras miliknya.
"Kenapa? Kamu lapar?" Maudy mengangguk. "Kamu sayang nggak sama aku?" Eh kenapa pertanyaan tidak nyambung, pikiran Maudy saat ini.
"Nggak ya? Ya sudah." Maudy kembali menoleh.
"Kalau aku nggak sayang sama kamu aku bakal tetap dengan tujuan aku semalam." Bima tersenyum tipis. Bergerak mendekat, dengan masih fokus melihat ke arah depan, dan tangan juga tetap berada di stir kemudi. Sedikit lagi, dan cup Bima berhasil mencium pipi Maudy.
Dia tertawa, Maudy memegang pipinya lalu menoleh. Ingin marah, tapi melihat Bima sudah mulai dengan jahilnya kenapa malah terasa senang.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya Bim." Hanya itu, tapi malah Bima sekarang ingin menepikan mobilnya agar bisa memeluk istrinya, sekarang tidak lagi nanti. Ada kelegaan di hatinya sekarang, sungguh Bima ingin berteriak dan mengucapakan terima kasih kepada Tuhan yang sudah mengabulkan doanya, dengan meluluhkan hati istrinya dan tidak memberi rumah tangga berpisah.
Maudy menunjuk salah satu rumah makan Padang yang ada di depan, dia mau makan itu sekarang dan mengatakan kalau memang seleranya itu. Bima tidak protes, apa pun asalkan istrinya mau. Berbelok, dan memarkirkan mobilnya.
Maudy sudah memegang pintu mobil, tapi Bima menahannya dan menggeleng. "Tunggu, biar aku yang buka." Langsung turun dan berlari kecil memutari mobilnya.
"Lihat lah, begitu sayangnya Bima dengan Maudy." Tante Ratih tersenyum, dan memperlihatkan itu kepada Kiki dan Revan.
"Iya tante, aku juga akan begitu nanti kalau sudah menikah." Ucap Revan. Kiki hanya melirik sekilas dan bergelayut lagi dengan mamanya.
"Ya sudah, kapan kamu mau nikah Revan? Jangan lupa loh undang Tante."
"Ayo ma?" Kiki mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa, kok malah seperti cemburu mendengar mamanya mengatakan hal itu, yang berarti memang Revan akan menikah dengan orang lain dan hanya bercanda soal lamaran kemarin.
Kenapa aku kecewa? Aneh.
"Tante, makanya disini nggak apa-apa kan?" Maudy bertanya setelah mereka duduk di atas kursi plastik. Maudy menatap rumah makan Padang ini, yang memang terlihat bersih mulai dari luar, dan sekarang terbukti kalau memang tempatnya bersih.
"Nggak apa-apa lah Dy, memangnya kenapa?"
"Iya nih, yang penting kan Bima yang bayar. Benarkan pak Bima?" Kiki memainkan alisnya.
"Sampai kalian kenyang, kalau perlu bungkus juga nggak apa-apa buat stok dirumah."
"Basi lah Bima." Tante Ratih sampai geleng kepala.
***
Perkiraan yang akan sampai jam 06 sore jelas tidak terjadi. Dan sekarang sudah tiba di rumah Kiki, suasana alam sudah gelap. Hanya ada cahaya lampu sebagai penerang malam, dan matahari sudah menutup sempurna, berganti dengan bulan yang di hiasi bintang malam ini.
Dan benar apa yang di katakan Bima, sudah ada supir yang membawa mobil Maudy menunggu disini. Salah satu ART membawakan koper Maudy keluar rumah. Lalu supir segera mengambilnya dan memasukkan ke dalam mobil.
"Pulang saja, bawa koper ini pulang dan tolong beri tau bi Marni untuk menyusun kembali ke dalam lemari. Ini kunci kamarnya." Bima menyerahkan kunci kamarnya kepada supir. Lalu kembali masuk ke dalam rumah, ya mereka juga harus mampir dulu. Lelah jangan di tanya ya, walau temanya liburan tetap saja perjalanan panjang yang membuat bosan dan pegal harus duduk di dalam mobil.
Bima melangkah masuk ke dalam rumah, dan dimeja sofa sudah terhidang teh hangat dan cemilan yang sudah disediakan seorang ART dirumah Kiki. Bima mendudukan tubuhnya di sebelah istrinya, Maudy hanya diam tak menolak. Tante Ratih menatap mereka sambil tersenyum.
"Minum dulu tehnya biar lelahnya hilang." Ucapnya. Revan juga berpikir begitu, sama persis yang di lakukan mamanya dirumahnya, meski tak bisa membuat tapi selalu memberi perintah kepada adiknya untuk membuatkannya teh hangat ketika pulang kerja.
"Dy, kamu harus berbesar hati karena suami kamu sibuk. Dan Bima, kamu juga harus lebih mengerti istrimu. Dia sedang hamil, moodnya suka berubah, itu juga karena bawaan bayi. Orang hamil bukan hanya ketika usia kandungan 1-3 bulan saja mengalami mood berubah seperti cuaca, tapi juga bisa sampai kehamilan memasuki hamil tua." Tiba-tiba saja Tante Ratih berkata begitu. Bima menunduk, begitu juga dengan Maudy. Mereka sendiri tau maksudnya.
"Rumah tangga itu seumur hidup, dan prinsip tante tidak ada yang namanya perceraian. Tetapi jika kita sudah merasakan sakit hati karena sebuah penghianat, barulah bisa melakukan tindakan itu." Bima mengangguk.
"Iya tante, aku juga berpikir begitu. Tapi memang disini aku yang salah karena nggak kasih kabar ke Maudy." Mendengar nasehat dari orang yang lebih tua dan yang memang sudah berpengalaman sepertinya malah membuat mereka nyaman dan tidak terusik sama sekali.
"Ya sudah, kalian lanjut lah ngobrol lagi. Tante mau mandi dulu ya." Tante Ratih langsung beranjak dari duduknya.
"Ki, kamu duduk di samping Revan lah, sepertinya cocok." Ah ya ampun, memang benar mood ibu hamil bisa berubah kapan saja, dan sekarang malah ingin menjadi Mak comblang.
"Sayang?"
"Hem."
"Biarkan mereka saja yang menjalani."
"Wait, Bim. Maksud kamu apa biarkan mereka yang menjalani? Aku sama Revan juga cuma teman lah?" Revan tak berkedip menatap Kiki yang sedang berbicara.
"Ya ampun Ki, kan Maudy yang mulai." Kiki sudah bersiap dengan bantal sofa di tangannya. "Lagian juga nggak masalah kan? Kalian juga sama-sama jomblo?" Kali ini tidak berpikir lagi Kiki langsung melempar bantal ke arah Bima, tapi meleset sepertinya dan mengenai tepat di wajah Revan.
"Aduh."
"Eh maaf." Kiki langsung mendekat. "Maaf ya Van. Ini Bima rese!"
"Ki, kita pamit pulang aja ya? Soalnya kan mau kerumah ibu juga." Kiki langsung duduk kembali.
"Cepat sekali sih."
"Ki, kamu lupa sahabat kamu ini sedang hamil? Dia juga perlu istirahat." Mengelus perutnya sendiri, menyebut dia, mengatasnamakan anaknya.
"Kamu disini aja dulu Revan, kasian Kiki nggak ada temannya. Ingat loh ini perintah dari istri bos kamu."
Dan apa? Revan menurut dan langsung mengangguk. Kiki mulai diam saat mereka tinggal berdua, jantungnya mulai berdegup sekarang melihat Revan yang mulai menatapnya. Takut, takut sekali kalau Revan akan membahas hal perihal hati.
"Van, ponsel kamu berdering." Menyadarkan karena sedari tadi Revan hanya diam sambil menatap Kiki. Sampai-sampai ponselnya yang sudah berdering dengan nyaring dia tak mendengar.
"Oh iya sebentar ya?"
Revan berdiri dan sedikit menjauh, lalu mengangkat telepon. Kiki menyandarkan tubuhnya sambil terus menatap ke arah Revan. Sungguh, hatinya penasaran dengan siapa yang menelpon.
"Apa? Iya kakak pulang sekarang." Ucapnya yang langsung panik, begitu juga dengan Kiki, walau sudah yakin kalau adiknya Revan yang menelepon, tapi ada apa? Kenapa sampai panik begitu? Batinnya.
"Van, kenapa??"
__ADS_1
"Ki, mama aku Ki. Mama aku meninggal." Ha? Bak di sambar petir di malam yang cerah, Kiki juga ikut melemas. Ikut merasakan kaget dan juga kesedihan yang dirasakan Revan saat ini.
Kiki mendekat dan langsung memeluknya, entah keberanian dari mana yang terpenting sekarang Kiki bisa sedikit membelinya kekuatan, sebagai teman tidak lebih.
"Kamu nggak bisa bawa mobil sendiri Van. Aku antar kamu pulang, aku yang supirin kamu! Nanti biar aku di jemput sama supir." Kiki Langsung buru-buru ke kamar mamanya dan memberi kabar duka ini.
***
Susana dirumah bapak Adi saat ini sedang tidak tenang, karena membahas soal anaknya. Anaknya yang belum lama menikah tapi malah di landa masalah.
"Mama tau darimana ma?"
"Waktu kemarin mama kerumah Bima, salah satu ART mereka mama tanyain, dan mereka langsung bilang yang sebenarnya. Mama kurang puas dan tadi siang mama datang kerumah ibunya Maudy. Memang benar mereka pergi liburan, tapi mama curiga soal koper itu. Dan apa? Ibunya bercerita."
"Papa nggak habis pikir melihat Bima!" Sudah geram wajahnya memerah. Istrinya lebih memilih membahas soal ini di dalam kamar. Karena tidak mau sampai Rafa ataupun Dafa melihat Opanya marah seperti apa.
"Mama penasaran pa, sebenarnya siapa Celine? Dan untuk apa dia selalu menggoda Bima? Bukannya laki-laki diluar negeri juga banyak yang jauh lebih tampan dan sukses?"
"Dulu, papanya Celine itu sempat meminta papa untuk menjodohkan anaknya. Tapi papa menolak karena beda negara, meskipun dia rekan bisnis papa."
Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu.
"Tuan, nyonya. Maaf menganggu. Di luar ada den Bima." Mama Lisa langsung berjalan membuka pintu.
"Bima? Sama siapa dia bi?"
"Sama istrinya nyonya. Saya permisi." Mama Lisa mengangguk, lalu menoleh ke belakang. Papa Adi berjalan melewatinya.
"Mama ini kasih informasinya nggak jelas!" Mama Lisa menutup pintu kamarnya dan mengikuti langkah suaminya.
Sesampainya di sofa ruang tamu, mama Lisa kembali di kaget kan. Benar, ada Maudy dan Bima. Dan, mereka juga duduk berdekatan, Maudy tersenyum ke arahnya.
"Ma, ini ada oleh-oleh yang tadi kami beli?" Maudy menyerahkan sebuah kantung plastik ke hadapan mama Lisa yang sudah duduk di seberang sofa. "Tapi harganya nggak mahal ma, cuma enak kalau di pakai adem." Mama Lisa membukanya. "Itu topi buat Rafa dan Dafa ma." Batin mama Lisa terus bertanya, apa mereka hanya sandiwara sekarang menutupi pertengkarannya?
"Untuk papa mana?" Papa bertanya.
"Ada kok, buka aja pa." Mama Lisa membongkar isinya, dan benar ada khusus untuk papanya. Sweater rajut yang di pilih sendiri oleh Maudy. Papa Adi tersenyum, Maudy bisa lega sekarang. Selain di terima ternyata papa Adi juga senang atas pemberiannya.
"Bim, mama mau tanya?" Bima menatap mamanya, begitu juga dengan papa Adi. Yang saat ini juga menoleh ke arah istrinya.
"Iya ma?"
"Apa kalian beneran bertengkar?" Maudy dan Bima saling tatap lalu menggeleng pelan secara bersamaan, dengan ekspresi wajah bingungnya.
Kenapa mama bisa tau??
"Ma, kan sudah papa bilang. Itu hanya ketakutan mama saja."
"Tapi pa."
"Buktinya mana ma? Mereka sekarang disini."
Mama Lisa terdiam.
"Mama juga berharap itu nggak benar."
Maudy dan Bima bisa menghembuskan nafas lega sekarang, melangkah keluar dari rumah orang tuanya. Yang ternyata percaya kalau memang mereka tidak betengkar apa lagi sama memutuskan untuk pisah. Rumah tangga pasti tetap ada kerumitan, apa lagi usia mereka juga masih muda, begitu yang di pikirkan mama Lisa ketika menatap anak dan menantunya berjalan menjauhi rumahnya.
Tapi tidak sampai disini senyum mereka mengembang, kabar duka kembali terdengar saat Bima akan melajukan mobilnya. Menerima telepon dari Kiki yang menyampaikan kabar duka dari Revan.
"Jadi kamu disana Ki?"
"Bim? Kenapa?" Maudy juga sudah mulai panik, melihat reaksi wajah Bima yang syok setelah menerima telepon. Dan terakhir Bima menyebut nama Kiki.
"Kalau tidak sempat malam ini, aku akan kesana besok." Bima mematikan sambungan teleponnya.
"Sayang, mamanya Revan meninggal." Deg. Maudy langsung mengucapakan belasungkawa. "Kalau aku kesana malam ini nggak apa-apa kan? Kalau kamu mau nginep dulu di rumah ibu juga nggak apa-apa. Pasti aku pulang larut malam." Maudy mengangguk saja, tidak mungkin melarangnya. "Kamu nggak mungkin ikut, kamu hamil dan belum ada istirahat satu harian."
"Iya Bim. Ya udah, kamu antar aku kerumah ibu."
Bima langsung melajukan mobilnya, sekarang sudah pukul 09 malam. Padahal Bima sendiri juga belum mandi, tapi mengingat ini Revan yang dia kenal baik selama ini. Tidak mungkin harus menunggu besok lagi kan. Dan selama Revan masih berduka, Bima pasti akan di repot kan dengan mengerjakan semuanya di kantor sendiri.
"Sayang, nanti aku pulang kesini ya. Aku juga ikut tidur dirumah ibu." Setelah sampai dirumah.
Bagaimana reaksi ibu nantinya ya? Melihat aku dan Bima sudah baikan.
"Iya, kamu hati-hati." Bima menarik Maudy dalam pelukannya. Mengecup kening berkali-kali. Mengelus kepala Maudy dengan lembutnya. Padahal malam ini harusnya Bima sudah bisa menyalurkan rasa rindu bersama istrinya. Bima menggeleng pelan, tidak sekarang, harus tahan dulu, pikirnya.
"I Miss you." Ucapnya sebelum pergi.
"I no!" Maudy tertawa dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
--__