Dia Bimaku

Dia Bimaku
Maaf


__ADS_3

Maudy


20 menit lamanya aku menunggu Bima di dalam sini, aku jadi segan. Pasti mama nunggu aku di belakang. Aku langsung memutuskan keluar dengan membawa Rafa, terserah lah kalau Bima marah. Nanti juga bisa aku bujuk.


Aku menuruni anak tangga, terlihat mama sedang duduk bersama suaminya, aduh aku harus gimana sekarang? Apa aku harus ikut duduk bersama mereka? Biarlah, pasti papanya juga akan pergi ketika aku datang menghampiri.


"Ma?" Aku menegur dan Rafa langsung minta turun. Aku melihatnya ternyata dia mendekat ke arah opanya. Oh ku pikir anak-anak juga tidak mau dengannya, ternyata aku salah.


"Mana Bima Dy?" Mama sudah menepuk ruang kosong di sebelahnya.


"Masih mandi ma." Asli, aku melirik ke arah papanya yang sedang mengajak Rafa berbicara.


"Kita ke meja makan aja sekarang, nanti mereka turun langsung makan." Aku mengangguk mengikuti langkah mama, papanya belum beranjak, terserah lah, baru beberapa jam aku disini rasanya sudah ingin bodo amat sama kehadirannya selalu tuan besar dirumah ini.


"Ma, biar aku aja yang siapin makanannya." Tanpa menunggu persetujuan, aku melangkah ke dapur, membawa makanan yang sudah di masak oleh ART. Mereka semua melarang ku, bahkan sampai memohon agar aku jangan mengerjakan itu.


"Tenang bi, derajat kita sama kok." Mereka langsung terdiam dan saling pandang, iya aku tau mereka tidak mengerti maksud perkataan ku barusan. Tapi memang benar, papanya Bima selalu menganggap ku tak sederajat dengannya kan? Itu berarti derajat ku masih sama seperti ART dimatanya.


"Dy, kenapa repot-repot." Sudah ada beliau rupanya duduk disana.


"Nggak apa ma. Udah biasa kalau begini?" Aku memainkan mata, sekalian menyindir orang kaya raya itu. Berdosa aku ya? Biarlah.


Kembali lagi, sampai yang ketiga karena banyaknya hidangan ART membantuku membawa. Dan yang terakhir ini benar, semua sudah mengumpul, termasuk Bima yang wajahnya sudah ketat seperti sangkar burung yang baru. Palingan marah karena aku tinggal.


Aku langsung duduk di salah satu kursi kosong, tapi, kenapa malah berhadapan dengan papanya?? Aku duduk di samping mama Lisa.


Aku tidak tau peraturan makan di rumah ini, karena mereka semua diam, dan aku juga ikut diam. Makan dalam keheningan, sesekali melirik ke depan dan ke samping. Ponselku berdering, sehingga aku mendongakkan wajah, dan dua detik aku saling tatap dengan papanya Bima. Deg, jantungku berpacu lebih cepat. Aku diam, tak berani mengangkat atau sekedar melihatnya. Sampai panggilan benar-benar berakhir.


Selesai makan, papanya langsung beranjak pergi. Yang kulihat sepertinya menuju suatu ruangan, ruangan kerja mungkin, aku juga tidak tau.


"Kamu nggak nambah Dy?" Aku menggeleng, kenyang sudah melihat wajah papanya Bima.


"Aduh, sakit." Kami semua menoleh, ternyata kakak ipar sudah meringis menahan sakit dan memegang perutnya.


"Apa sudah bukannya ini io?" Mama juga terlihat panik.


"Harusnya bulan depan ma, tapi nggak tau ini Siska kenapa udah ngerasa sakit, sebenarnya sudah dari pagi tadi." Mas Rio sudah merangkul istrinya.


"Kita kerumah sakit sekarang." Mama menoleh ke arahku ku, kenapa? "Dy, kamu nyusul nanti ya sama Bima, mama titip Rafa sama kamu." Oh kirain ada apa. Huh, aku menghela nafas. Yang di sebut namanya malah diam saja.


"Pa, papa?" Mama berteriak. "Pa, sini cepetan. Siska mau lahiran pa, mama mau antar ke rumah sakit." Papa langsung berjalan tergesa-gesa, wajahnya terlihat panik melihat menantunya meringis menahan sakit. Sekhawatir itu kah dia melihat kakak ipar? Jadi kebayang gimana kalau aku ada di posisi itu.


"Biar papa suruh supir antar kalian, papa masih ada kerjaan ma. Nanti papa nyusul." Deg. Semoga nggak barengan sama kami, doaku dalam hati.


Ku lihat mereka semua sudah pergi, aku langsung membantu membereskan meja, kali ini ART tak melarang ku. Rafa aku berikan dulu pada Bima. Mereka duduk di sofa ruang tamu.


Aku kembali ke depan, dan kulihat papanya berjalan dengan keringat dingin yang mengucur deras di wajahnya. Kenapa? Aku bertanya dalam hati.


"Pa." Ku beranikan diri bertanya. "Papa kenapa?" Dia hanya menggeleng.


"Kalian susul mereka, bawa Rafa ya?" Kembali melangkah setelah berbicara, dia bicara padaku kan barusan??? Kenapa begitu saja aku sudah senang. Ah ya ampun, menaklukan hati mertua tak semudah menaklukkan hati anaknya.


"Ayo?" Ini lagi, kenapa sih malah tingkahnya aneh-aneh di saat genting begini. Papanya aneh, pantas saja nurun ke anaknya!


Aku memangku Rafa ketika sudah berada di dalam mobil, Bima diam, ya aku juga diam. Ku lihat ini sudah pukul 8 malam. Aku mengeluarkan ponsel dan langsung memberi kabar ibu, pasti aku akan pulang sampai malam.

__ADS_1


***


Ku lihat, dari mulai atap sampai ke sudut bagian bangunan. Ini rumah sakit nomor satu di kota ini. Tidak, kenapa aku heran sekarang? Wajar, keluarga mereka kan kaya. Aku turun dari mobil, tanpa menunggu Bima! Kesal sendiri aku jadinya kan.


Aku mengentikan langkah ku ketika akan masuk, sok-sokan ninggalin. Padahal kan, dimana ruangannya juga aku nggak tau, paling malas tuh tanya, malah gendong Rafa lagi. Aku memperlambat langkahku, ku lirik Bima yang berjalan mendahului aku, dengan satu tangan yang ia selipkan ke kantung celana. Satu tangan ia gunakan memegang kunci mobil, memainkannya memutar tepat saat melewati ku, melirik lalu tersenyum mengejek. Sepertinya dia tau apa yang aku pikirkan.


Setelah sampai di ruangan, tampak mama Lisa duduk sendiri, menunggu di luar ruangan. Kalau mas Rio dia pasti menunggu istrinya melahirkan di dalam. Ah ini Rafa juga mulai rewel.


"Bim?"


"Hem?" Jadi terpaksa aku manggilnya.


"Sayang?" Nah kan, dia langsung melihat aku.


"Bisa bawakan tas aku sebentar? Aku susah bawanya, ini Rafa kayaknya mau tidur." Tanpa menjawab Bima langsung mengambil dari bahuku.


"Apa sudah lahiran ma?" Aku duduk di sampingnya, sambil menepuk lembut bahu Rafa agar dia tertidur.


"Belum Dy." Wajahnya benar-benar terlihat khawatir. Aku diam, dan melirik Bima. Ternyata dia sibuk dengan ponselku. Sesekali dahinya berkerut, dan wajahnya memerah. Ku biarkan saja, soal panggilan tadi juga aku tak sempat lihat. Begitu buka ponsel aku langsung menelepon ibu, tak sempat lagi memeriksa riwayat panggilan.


Bima berjalan menjauh tanpa pamit denganku ataupun mama. Entah mau apa dia sekarang, aku biarkan saja. Baru beberapa menit, ku lihat Rafa yang tidur di pangkuanku, tangannya melingkar memelukku, eh dia sudah tidur.


"Dia tidur Dy?" Sepertinya mama tau karena aku melihat wajahnya tadi. Aku mengangguk.


"Jam berapa sekarang?" Ku lihat jam tangan yang selalu aku pakai.


"Jam delapan lewat ma." Mama diam seperti memikirkan sesuatu.


"Udah gini aja, kalian pulang antar Rafa. Nanti kan ada papa dirumah, biar Rafa papa yang jaga. Terus minta Bima buat antar kamu pulang." Belum juga lama sampai. Kenapa tadi kami harus kesini? Tak mungkin aku menyalahkan mama Lisa kan.


Saat aku berjalan di lorong rumah sakit, pandangan ku menangkap Bima yang sedang berdiri di sudut ruangan, sepertinya dia sedang menelepon seseorang. Tapi siapa? Aku semakin penasaran, karena yang menempel di telinganya itu ponselku.


"Bim? Kamu ngapain?" Seharusnya dia yang kaget, ini malah aku yang kaget karena melihat wajahnya memerah seperti emosi setelah menutup panggilan.


"Bim, mama suruh kita pulang antar Rafa, terus antar aku pulang." Dia malah ninggalin aku dan berjalan duluan tanpa menjawab. Kenapa lagi sih???


"Bim!!" Aku mengeraskan suaraku ketika sudah sampai di parkiran, aku susah payah menggendong Rafa bukannya di bantu, malah di tinggal.


Ku lihat dia sudah masuk dan duduk di depan kemudi, ya sudah aku masuk aja juga.


"Bim, kenapa sih?" Saatnya aku bertanya. Bima menyuruhku meletakkan Rafa di tempat duduk belakang. Iya, aku menurut.


Mobil sudah melaju kembali keluar dari area rumah sakit, jalanan kota tetap masih ramai dan akan selalu ramai. Tapi Bima, dia menepikan mobilnya saat sudah sampai di persimpangan yang tak jauh dari rumah sakit, aku menatap keluar jendela, disini sepi. Dan juga ada beberapa ruko gandeng yang tutup? Apa mobilnya bermasalah? Tapi mesin menyala. Aku langsung menatap Bima, meminta jawaban. Ku lihat dia mencengkeram kemudi sampai jarinya memerah.


"Bim? Kenapa apa mobilnya rusak?" Bima langsung mendekat ke arahku, menciumiku dengan kasar, aku sampai kuwalahan, sudah ku tolak dengan cara aku menggerakkan kepalaku. Tapi semakin aku berontak, Bima semakin memaksa. Kedua tanganku sudah ia pegang, dan tangan yang satu ia pakai untuk menahan kepalaku. Sumpah, nafasku hampir habis.


"Bim! Kamu gila ya??" Aku marah, kesal, kenapa sampai seperti ini?


"Siapa Ilham?" Deg. Yang awalnya aku membuang pandangan, kini aku beralih menatapnya.


"Dia arsitek yang akan membangun resto nanti." Aku jujur.


"Jadi kenapa dia ngajak jumpa? Bahkan dia ngundang kamu datang besok malam ke rumahnya, sedekat itu kah hubungan kalian?" Aku tau, dan aku takut. Ini kemarahan Bima yang dulu, yang dulu masih berstatus anak sekolahan.


"Nggak, aku nggak respon Bim?"

__ADS_1


"Iya karena aku yang angkat telepon kan? Kalau tadi kamu yang angkat, pasti kamu nggak bisa nolak kalau besok dia jemput kamu!" Deg, kali ini aku benar-benar takut.


"Udah kita pulang, kasian Rafa." Ku dengar dia mendengus, tapi tetap menyalakan mesin mobilnya.


Hening tak ada pembicaraan lagi sampai mobil sudah memasuki halaman rumahnya lagi.


"Bi, papa mana?" Aku dengan perlahan menggendong Rafa, agar dia tak terbangun. Dan Bima, dia sudah lebih dulu masuk ke dalam.


Aku sudah sampai di dalam, aku jelas bingung. Ini Rafa mau di letak dimana?


"Dia tidur?" Aku mendongak melihat ke asal suara.


"Iya pa."


"Sini?" Katanya, aku dengan perlahan aku memindahkan Rafa ke gendongan papanya Bima, sebelum beliau pergi melangkah membawa Rafa, aku mencium lembut pipinya. Dan papa, sepertinya dia menunggu, dan membiarkan aku melihat Rafa sebentar.


"Pa, aku pamit pulang ya?" Ku beranikan diri untuk memanggilnya papa berulang-ulang, meski dia tak menyebut namaku, biarlah.


"Iya, hati-hati." Aku menunggu dia berbalik barulah aku melangkah. Ku lihat Bima juga sudah menuruni anak tangga, sepertinya dia baru keluar dari kamar.


"Ayo?" Lagi-lagi aku harus mendengar suara dinginnya.


***


"Kamu langsung pulang?" Bima menggelengkan kepalanya. "Ya udah ayo turun?" Dia belum bergerak, aku pasrah. Menyandarkan tubuhku di kursi mobil.


"Ambil kotak musik itu." Ha? Apa??? Jadi dia periksa semua pesanku??


"Tapi Bim?"


"Ambil?" Ih ya ampun. Aku keluar mobil, pintu tidak di kunci mungkin ibu tidur. Aku langsung ke kamar mengambil barang yang sudah Bima sebutkan. Perlahan ku elus kotak musik pemberian Aldy, aku sayang kotak musik ini sebenarnya, tapi aku lebih sayang sama Bima.


Aku berjalan keluar kamar lagi. Dengan cepat melangkah masuk ke mobil Bima.


"Ini." Kuserahkan padanya. Detik berikutnya, prak!!


Sudah hancur, kotak musik yang menurutku cantik. Bima membantingnya keluar jendela mobil. Ya ampun, segitunya dia marah.


"Bim, kenapa di hancurin?" Aku sendiri juga rasanya tak terima, itu kan kenang-kenangan.


"Kenapa?" Dia malah tanya balik. "Kamu tau, disitu udah ada lambang hati yang bertuliskan nama kamu, apa kamu nggak sadar kalau lelaki itu suka sama kamu? Dengan kamu menerimanya, bahkan mengucapkan terima kasih, itu kamu memberi harapan sama dia!" Bima membentak ku.


"Dia hanya teman ku Bim?" Aku juga gak kalah ngotot, terlihat Bima mengeraskan rahangnya.


"Oke. Jadi, kalau aku terima semua kado dari wanita lain, terus aku simpan di kamar. Gimana perasaan kamu?" Aku terdiam tak bisa menjawab.


"Kamu tau, dari semasa sekolah aku menjauhi yang namanya wanita, itu demi kamu. Karena bagiku sudah cukup satu. Aku mau kamu juga seperti itu Dy. Oke, kamu kasih nomor kamu sama orang lain yang kamu sebut dia arsitek, aku nggak masalah. Itu tentang pekerjaan, tapi dia bahkan lancang ngajak kamu keluar dan datang kerumahnya. Dan ini, kamu juga dengan senang hati terima kado yang katanya sebagai kenangan? Apa kamu nggak bisa jaga perasaan aku sedikit saja?"


"Maaf." Ucapku lirih. "Maaf untuk itu." Tes, air mataku terjatuh. Entah karena aku merasa bersalah sekarang, entah juga aku takut dengan kemarahannya.


Aku langsung turun dari mobilnya, berlari masuk kedalam rumah.


Aku langsung berbaring di tempat tidur, ku lihat dari jendela, Bima juga sudah menyalakan mesin mobilnya. Kenapa aku nggak rela Bima pergi sekarang, padahal aku duluan yang meninggalkannya masuk ke rumah. Ah pikiran ku kacau, ternyata bukan bertengkar dengan papanya melainkan anaknya.


Ternyata sebuah pertunangan malah akan menambah cobaan dalam hubungan kami.

__ADS_1


--__


__ADS_2