Dia Bimaku

Dia Bimaku
Hanya milikku


__ADS_3

Bima masih setia parkir di pinggir jalan, iya memang hal itu yang ia pilih sekarang, mungkin itu lebih baik untuknya dari pada harus masuk halaman rumah pacarnya, lalu masuk dan memberi salam.


"Aku di depan rumah kamu?" Setelah beberapa saat barulah menghubungi Maudy.


"Aku tunggu disini aja ya? Malu ada ayah kamu kan?" Diseberang telepon Maudy sudah menggerutu.


"Iya-iya aku masuk ke rumah. Iya tunggu." Mengalah, mungkin sudah di ancam.


Bima menunggu, menarik nafas, atur detak jantung. Lalu melihat jalanan sepi, langsung menyebrang. Untuk pertama kalinya harus ijin ke calon mertua.


"Masuk Bim." Setelah sampai di depan rumah.


Semoga, semoga, semoga, intinya semoga tidak banyak pertanyaan.


"Permisi om, tante." Tersenyum, ya itu memang harus di lakukan.


"Oh, kamu. Masuk?" Meletakan koran yang sedang om Subiyanto baca.


"Apa kabar om?" Begitu kan? Menyapa menanyakan kabar kan? Pikirnya.


"Baik. Pada mau kemana ini?"


Kok nggak balik nanya kabar ku sih. Biasanya kan kalau di tanya bakalan balik nanya, aneh.


"Kok di tanya diam Bima?" Ibunya menyahut.


"Oh, eh ini mau kumpul nongkrong di luar bu. Sama Kiki juga kok bu." Keringat dingin mulai keluar tuh di dahi dan tangan Bima.


"Kok giliran ibunya Maudy yang ngomong kamu nyahut, apa muka om segitu seramnya, sampai kamu takut?"


Ah? Emang nya salah ya?


"Ah enggak lah om. Om ganteng kok, nggak seram."


Ya, puji dulu.


"Bisa aja kamu. Iya juga sih, kalau nggak mana mungkin anak om bisa cantik." Tergelak sendiri.


"Ya sudah. Duduk, apa kamu mau berdiri saja?" Dengan cepat Bima langsung duduk.


"Apa orang tua kamu kasih ijin kamu keluar?"


Jujur aja kali ya, kalau bohong dosa udah banyak pagi ini.


"Sebenarnya nggak om. Tapi karena papa hari ini pergi jadi ya bisa keluar." Nyengir menampakan barisan giginya.


"Ya ampun, kalau ketahuan emangnya kamu nggak di marahin papa kamu Bim?" Ibu Irma mulai khawatir.


"Iya di marahin bu. Tapi, aku juga bosan, setiap hari juga di rumah. Apa pun alasannya juga nggak boleh keluar."


Sepertinya dia berkata sangat jujur tentang kehidupannya, batin om Subi.


Cukup lama mereka terdiam dan menunggu Maudy siap untuk mengganti pakaiannya. Om Subi juga menjaga perasaan Bima, untuk bertanya lebih jauh juga ia urungkan.


"Ayo Bim?" Setelah selesai dengan urusannya Maudy datang.


"Ayah, kami ijin keluar ya?" Mendekat ke ayahnya.


"Iya, hati-hati ya? Jangan terlalu sore pulangnya. Nanti Bima di cariin papanya." Sedikit khawatir. Sebenarnya ia juga tau kalau Bima anak baik-baik. Dari cara Bima berbicara sudah kelihatan, kalau anaknya memang sopan.


"Pamit ya om, bu." Mengikuti Maudy menyalim tangan kedua orang tuanya.


***


"Kamu kenapa bisa keluar rumah Bim? Katanya kamu nggak di kasih ijin?" Bertanya setelah berada di dalam mobil.


Bima langsung menceritakan kejadian di pagi ini, Maudy juga tergelak mendengarnya.


"Segitunya ya yang pengen keluar?" Malah mengejek.


"Ih sayang, aku tuh cuma pengen sama kamu, tau!"


"Iya-iya. Kita tunggu Kiki di dekat lapangan aja ya? Soalnya aku udah kabarin dia kalau aku sama kamu."


Berhenti di pinggir jalan raya, menunggu sahabatnya yang akan menyusul. Soal tujuan juga belum mereka sepakati.


"Sayang, itu es cendol? Es apa itu?"


Maudy tergelak.


"Kamu mau? Belum pernah coba kan? Biar aku belikan ya?" Belum sempat Bima menjawab Maudy sudah turun.


Di dalam mobil Bima merasa tidak tenang, karena begitu banyak pembeli, dan yang pastinya laki-laki. Bima langsung mengeluarkan ponselnya.


"Sayang, udah nggak usah beli lah. Ramai, ada banyak laki-laki lagi. Tuh, pada deket-deket sama kamu." Sambil terus melihat dari dalam mobil. Oh ternyata ia menelepon Maudy.


Maudy tidak menjawab dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Tidak kembali ke mobil, tapi melanjutkan dengan memesan es cendol.


Kembali membawa dua es cendol.


"Nih." Menyerahkan ke Bima. Tanpa menunggu Bima, Maudy lebih dulu menyedot es miliknya.


"Uh enaknya." Sementara Bima masih memandang Maudy tanpa berkedip.


"Kenapa?" Bertanya, karena ia tau kalau Bima belum juga mencicipinya.


"Rasanya gimana sayang?"


"Ya ampun Bima, tinggal kamu sedot aja kali." Memaksa Bima meminum.


"Enak sayang." Setelah menyedot es cendol.


"Besok kamu belikan lagi ya?"


"Eh itu Kiki." Belum menjawab.


"Besok belikan lagi ya sayang?" Masih tetap dengan permintaan nya.


"Iya Ki? Ya udah kita mau kemana?" Lebih memilih menjawab telepon dari Kiki.


Bima langsung menghabiskan cendol miliknya. Dan menunggu Maudy selesai menelpon.


"Kiki ngajak ke mall? Kamu mau?" Setelah membahas akan kemana, dan ternyata Kiki mengajak jalan-jalan ke mall.


"Iya udah terserah. Em, sayang."

__ADS_1


"Iya?" Menoleh ke arah Bima.


"Besok belikan aku es cendol lagi ya?" Benar-benar ya Bima, kalau belum di jawab pasti akan terus bertanya.


"Iya-iya." Walupun hanya menjawab begitu, pasti besok Bima akan menagihnya, pasti itu.


Sudah di jawab, Bima kembali diam dan fokus menyetir. Beberapa menit perjalanan menuju kawasan mall, entah apa juga tujuan mereka kesana. Terutama Kiki, karena dia sendiri yang memberi saran. Dan anehnya, Maudy setuju saja.


"Kamu turun dulu, aku mau parkir." Setelah sampai di mall mewah.


Maudy tidak heran melihat mall mewah ini, karena dia sendiri juga sudah sering kesini, bukan belanja, hanya menemani Kiki shopping.


"Tunggu Ki, kenapa kita kesini? Kan niatnya ngumpul?" Baru sekarang Maudy menyadarinya. Sejak tadi ia hanya menjawab iya, mungkin karena keenakan menikmati es cendol pinggir jalan.


"Kita belanja baju, tenang aku nanti yang belikan kamu, baru di kasih uang soalnya sama papa aku." Sedikit mengumbar rezekinya.


"Eh nggak perlu, biar Maudy aku yang belikan?"


"Wah bagus dong. Udah ayo kita masuk." Menarik tangan Maudy dan menggandengnya, padahal yang Kiki lakukan saat ini juga sudah salah.


"Ki tunggu, Bima mana?" Menyadari kekasihnya sudah tertinggal jauh.


"Lah iya, lupa. Karena biasanya kalau kesini selalu sama kamu." Kembali lagi ke tempat asal, tapi mereka tidak menjumpai Bima.


"Coba kamu telepon." Saran Kiki.


"Sebentar." Langsung mengeluarkan ponselnya.


"Nggak di angkat Ki." Melihat sekeliling, ramainya pengunjung saat ini membuat mereka juga kesusahan untuk mencari Bima. Apa lagi saat ini hari weekend. Sudah pasti mereka yang memiliki kartu sakti dan berkantong tebal akan datang kesini, belum lagi anak-anak seumuran mereka yang memburu diskon.


"Apa jangan-jangan dia balik ke parkiran?" Sebuah pikiran masuk begitu saja.


"Nggak mungkin." Jawaban Kiki. "Udah ah, kita belanja dulu, Bima juga usah besar Dy. Mana mungkin lah dia nyasar." Menarik tangan Maudy ke arah toko baju.


Maudy merasa tidak enak, karena ia tau Bima bagaimana. Sifatnya, pasti bakal jadi Boomerang untuknya sendiri.


"Kamu pilih yang kamu mau?" Ujar Kiki.


"Serius?" Kiki mengangguk.


"Ah kamu baik banget." Memeluk Kiki dengan hangatnya.


Langsung memilih, tentu seleranya berbeda. Maudy lebih memilih baju dengan lengan tiga perempat. Sementara Kiki sudah bolak-balik mencoba dress selutut, semua juga pas dan cantik, menempel di tubuh rampingnya.


"Ini gimana Dy?" Sudah entah baju yang ke berapa yang ia tunjukkan.


"Yang ini?" Dan seterusnya, walau akhirnya ia juga membeli semua baju yang sudah di coba.


Tak terasa hampir dua jam lamanya mereka berkeliling, itu jelas tanpa Bima. Dengan beberapa tas yang mereka bawa. Menghela nafas lega setelah berburu baju.


"Ki, Bima?" Iya, berjam-jam memilih baju tanpa sadar melupakan Bima untuk yang kedua kalinya.


"Gimana ni Dy? Pasti dia bakal marah sama kamu." Kiki juga khawatir.


"Ponsel, iya? Coba kamu chek!"


"Hallo, Bim kamu dimana?"


***


"Kamu marah ya Bim?" Menggeleng.


"Jadi kenapa kamu nggak ikut masuk?"


"Maaf." Hanya itu yang ia ucapkan.


"Kenapa minta maaf?"


"Aku lupa bawa dompet, jadi-"


"Bim?" Panggil mas nya yang sudah datang. Bak dewa penyelamat Bima langsung turun dari mobilnya.


"Nih." Menyerahkan ATM miliknya. "Nanti balikin. Kualat kamu tuh karena pergi diam-diam." Sambil terus menggandeng lengan tunangannya.


"Kak, mas." Maudy menyapa dan tersenyum ramah.


"Gaya-gayaan ngajak Maudy jalan, taunya nggak bawa uang. Untung bensin masih full." Mencecar Bima.


"Namanya juga lupa mas." Menggaruk kepalanya sendiri.


"Ya udah. Mas mau kesana, nanti kalau pulang jangan lupa kabarin." Langsung melangkah pergi.


"Duluan ya dek." Tersenyum ke arah Maudy.


Cantik banget kak Siska.


Kembali ke topik.


"Jadi kamu nggak bawa dompet Bim?"


"Iya maaf sayang, maaf ya nggak jadi beliin kamu baju." Mengelus pipi pacarnya.


"Ih nggak apa kali Bim, cuma kenapa kamu nggak mau masuk?"


"Di bilang nggak lupa bawa dompet juga. Kiki mana sekarang?"


"Dia lagi masukin belanjaannya ke mobil. Banyak banget lagi belinya."


"Gini deh, karena tadi kalian perginya berdua, sekarang kita yang perginya berdua ya? Gimana?" Memainkan alisnya.


"Iya deh. Tapi kemana?" Tanya Maudy.


Tanpa menjawab Bima langsung melakukan mobilnya setelah Maudy naik.


"Kiki gimana?" Baru sadar, sekarang Kiki sudah di tinggal. Sepertinya mereka memang sama-sama pikun, yang satu lupa bawa dompet. Yang satu dari tadi asik lupa dengan teman dan pacarnya.


"Biar aja, paling juga kalau liat mobil aku nggak ada dia pulang." Maudy langsung mendengus.


Sampai di pusat taman kota, hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena matahari sudah naik tepat di atas kepala, dan orang-orang lebih memilih di rumah dari pada harus ke taman disiang hari. Berbeda dengan pasangan yang satu ini, lebih memilih tempat yang memang tidak ramai pengunjung, bukan karena ingin bercumbu, tapi karena sifatnya yang cenderung aneh.


"Duduk disini aja ya?" Di bawah pohon rindang, satu-satunya tempat yang masih bisa menghindari panasnya sinar matahari.


"Kamu nggak lapar?" Tanya Bima, dan memandang wajah Maudy dengan tatapan lembut.


"Lapar lah Bim. Ini kan udah jam makan siang, lagian kenapa malah kesini sih?" Protes, ternyata Maudy juga tidak berminat disini.

__ADS_1


"Mau makan itu nggak?" Menunjuk satu-satunya penjual rujak.


"Mau." Langsung mengangguk antusias.


"Tunggu ya, aku beli dulu." Langsung berjalan ke arah penjual rujak yang menggunakan becak keliling.


Beberapa menit kemudian Bima kembali hanya membawa satu bungkus rujak.


Satu?


"Kok satu?" Langsung protes, bukannya terima kasih udah di belikan.


"Kamu aja yang makan, aku nggak." Menyerahkan kepada kekasihnya.


"Kenapa?" Langsung mengambil dan memakannya. "Enak tau Bim, seger. Nih?" Mencoba menyuapkan Bima.


"Nggak ah, pasti pedas kan?" Masih menolak.


"Ya udah kalau nggak mau?" Makan lagi dengan cueknya.


Ih kenapa nggak maksa sih?


"Maudy ya?" Tegur salah seorang yang juga berada di taman.


"Ha, iya?" Mendongak, melihat siapa yang menegurnya. Maudy melirik Bima yang wajahnya langsung berubah dingin.


"Apa kabar Dy?" Melanjutkan perbincangan.


"Oh baik. Agam kan?" Basa-basi, padahal Maudy juga sudah tau kalau itu memang Agam.


Pergilah gam, pergi. Jangan bertanya lagi, wajah Bima sudah ketat.


"Iya. Kirain lupa. Eh Dy nomor kamu kok nggak pernah aktif?"


Oh ya ampun.


Melirik Bima lagi yang memainkan ponselnya.


"Eh iya." Gugup, Maudy sangat gugup. "Aku ganti nomor gam."


"Oh. Mana, boleh minta nomor kamu yang baru?"


Mati aku.


"Ha, apa?" Kaget sendiri.


Bima langsung mendongakkan wajahnya.


"Ini, Maudy nggak hafal nomornya. Catat aja." Menyerahkan ponselnya ke Agam. Entah keberanian dari mana sehingga Bima berani melakukan itu.


Tanpa berpikir Agam langsung mengambilnya, dengan cepat ia mencatat nomornya.


"Nih, makasih ya?" Menyerahkan kembali ponsel milik Bima.


Apa yang di lakukan Bima?


"Pacarnya Maudy ya?"


Bima hanya mengangguk dan Maudy tersenyum.


"Oh." Hanya itu.


Sudah tau kalau dia pacar aku, kenapa masih minta nomornya. Sebenarnya kemana sih pikiran manusia jaman sekarang!!


"Kalau gitu aku duluan ya Dy." Hanya pamit dengan Maudy loh si Agam. Bima yang tambah emosi, karena kesannya ia seperti tak di anggap disini.


Syukuri aku kerjain kamu!


"Bim?" Langsung menoleh ke arah Bima. "Kamu kasih nomor siapa?"


"Bi Lusi pembantu di rumah. Kan nggak apa sayang, bi Lusi juga janda."


"Bima, kok jahat sih?" Padahal saat ini Maudy juga sudah ingin tertawa.


"Aku juga nggak akan rela lah Dy, kasih nomor kamu sama dia. Coba, kalau kamu berjumpa dia, dan posisinya tidak ada aku disini, apa kamu bakal tetap kasih nomor kamu sama dia?" Maudy diam tidak bisa menjawab. Karena yang di katakan Bima benar.


"Jadi, salah nggak menurut kamu kalau aku kasih nomor orang lain?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Jadi sekarang harus bilang apa?"


"Makasih pacarku yang baik hati." Memeluk lengan Bima.


"Cium." Menyentuh pipi kirinya.


"Ada orang Bim?" Melihat ke sekeliling.


Bima juga menyadari, lagian mana mungkin. Pasti Bima juga bakal malu.


"Lagian ya, udah tau kalau aku pacarmu, tapi kenapa dia malah minta nomor kamu? Suka dia tuh sama kamu sayang."


"Kok di bahas lagi sih Bim?"


"Sayang kan-"


"Bima diam!" Menyuapkan rujak yang masih tersisa. Bima langsung menguyah dengan cepat, pedas ya itu yang ia rasakan.


"Sayang, air." Mengipas mulutnya.


Maudy tidak menolongnya dan malah menertawakan. Sampai Bima membuka mulutnya lebar-lebar, agar sedikit terbantu dengan adanya angin.


"Maaf." Mengeluarkan air mineral dari tasnya. Untungnya Maudy sempat membeli minuman tadi, kalau tidak mungkin kuping Bima bisa keluar api.


Di hari ini, Maudy berhasil melakukan satu lagi layaknya pasangan kekasih bersama Bima. Duduk berdua, bercerita tentang apa dan bagaimana mereka sewaktu kecil, meski cerita Bima banyak pahitnya tapi Maudy tetap mendengarkan. Maudy memiringkan tubuhnya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Dengan lembut tangan kanannya mengusap bahu Bima.


Ternyata, mimpiku waktu itu tidak benar. Bahkan saat ini Maudy malah bersandar di bahuku. Ah aku yakin sekarang, kalau Maudy hanya milikku.


Sampai hari mulai sore, Bima kembali mengantarkan Maudy pulang ke rumahnya. Tak lupa ia juga pamit kembali dengan bu Irma dan ayah Subi.


"Bim?" Panggilnya lembut dan berjalan mendekat sebelum Bima masuk kedalam mobil.


"Makasih ya buat hari ini, makasih, perlahan aku mulai merasakan pacaran selayaknya anak remaja."


"Kalau nggak ada orang, aku pasti cium kamu." Berbisik di telinga Maudy dan langsung masuk ke dalam mobil sebelum Maudy berubah galak.


--__

__ADS_1


__ADS_2