Dia Bimaku

Dia Bimaku
Masih tentang sandal


__ADS_3

Mama Lisa semakin panik ketika tau kalau suaminya mendengar obrolannya bersama Rio. Matanya sedikit terpejam sebentar agar pandangan tak kabur.


"Nggak ada pa." Lebih baik menutupi kebohongan anaknya dulu. Sampai satu masalah terselesaikan, sampai satu masalah telah kelar. Karena Bima, dia sudah terlalu banyak menderita menurut mamanya. Menjalani hidup di bawah tekanan papanya sungguh sudah cukup membuatnya menjauh dari orang-orang.


"Tuan, maaf menganggu. Itu ada tuan Lukman beserta nona Luna datang." Helaan nafas terdengar lagi.


Mau apa mereka kesini lagi. Mamanya mulai menggerutu dalam batin.


"Suruh mereka masuk bi." ART mengangguk sopan lalu berjalan lagi ke depan. Siap mengerjakan perintah tuan besar di rumah ini.


"Papa mandi aja dulu, biar mama yang temani mereka." Itu lebih baik. Dan ini saatnya untuk mengutarakan isi hatinya. Sedikit menusuk untuk keduanya, baik anak ataupun orang tuanya.


"Ya sudah ma."


Lisa, dia sudah berjalan. Sambil sesekali memijat keningnya. Sungguh, memang kepalanya terasa pusing, kasian melihat Bima. Tapi kecewa juga atas sikap anaknya. Dia sendiri tau, kalau ini adalah salah satu bentuk protes dari anaknya itu. Lagi dan lagi, selalu merepotkan.


"Dari rumah man?" Ikut duduk di seberang sofa. Luna tersenyum ramah, dan Lisa membalas sekenanya.


"Iya, pulang dari kantor langsung kesini." Sepertinya memang sudah di niatkan.


"Bi, oh bi. Buatkan teh hangat untuk Lukman, dan keluarkan beberapa cemilan."


"Baik nyonya. Nona Luna mau minum apa?" Tawarnya. Mendengar nyonya nya tidak menyebutkan namanya, berinisiatif menawarkan.


"Luna minum air putih aja, lebih sehat. Dan bisa menjernihkan pikiran." Baru saja Luna akan menjawab. Tapi mamanya Bima sudah lebih dulu mengutarakan isi hatinya.


Biar, biar tersindir sekalian, pikirnya.


ART mengangguk lalu pergi.


"Ada apa man? Sepertinya ada masalah sehingga kamu datang kesini, bahkan belum mengganti pakaian kerjamu?" Tidak lagi lembut, percuma suami tidak pernah menghargainya. Bukan tentang perlakuan, tapi lebih tepatnya tidak pernah meminta pendapatnya dalam hal apapun sebagai seorang istri.


"Nanti saja nunggu Adi sekalian Lis, jadi lebih enak bicaranya." Wajah Lukman sepertinya sudah di tekuk.


"Kenapa? Bukan kah sama saja? Aku juga istrinya." Lukman terdiam.


"Kenapa? Pasti Luna dan Bima lagi?" Lukman mengangguk saja sebagai jawaban.


Oke, Lisa kali ini mengalah. Hening saja dulu, lagian suaminya tidak akan lama kalau sudah tau ada tamu penting menunggu. Tidak ada obrolan lagi, semua masih sibuk tenggelam dalam pikirannya. Lisa melirik ke arah Luna, tampaknya dia yang paling gelisah disini. Terlihat sesekali melihat ke arah tangga, mau apa? Berharap Bima atau Adi yang turun gitu?


"Man, ada apa?" Suara yang sangat mereka tunggu beberapa menit lalu akhirnya muncul. Ikut duduk di samping istrinya. Bersamaan dengan secangkir teh hangat dan air putih.


"Bima mana Di?" Pernyataan yang sedari tadi di tunggu Lisa. Apa susahnya bertanya padanya? Bukan kah sama saja, dia juga bisa menjawab. Ah hati seorang ibu makin sewot aja disini. Makannya jangan gila menjodohkan anak, apalagi kalau anaknya menolak, begitu sumpah yang dia sebut dalam hati.


"Ma, bisa panggil Bima?" Lisa mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Ya ampun man, kalau dari tadi bilang kan nggak perlu nunggu suamiku keluar. Jadi nggak perlu nunggu lagi." Suaminya melirik melihat istrinya berjalan sambil mengomel. Kalau yang waras pasti mengerti, kalau Lisa itu melakukannya tidak ikhlas. Tapi tidak, manusia yang duduk semua isi otaknya hanyalah bisnis, jadi tidak akan mengerti kejengkelan hati orang lain.


"Bim, Bima?" Mengetuk pintu.


"Ya ma?" Langsung membuka. Berdiri di hadapan mamanya.


"Ada yang mau ketemu kamu?"


"Siapa ma?"


"Turun aja sekarang. Semua udah nunggu." Bima mengekor di belakang mamanya.


Apa keluarga Maudy? Apa ayahnya mau menuntut minta aku nikahin Maudy? Ah kalau iya, aku senang sekali.


Berjalan dan tersenyum, basi Bim. Ini adalah sumber masalah. Mamanya menoleh ke arah Bima. Seketika senyum yang di ajak jalan-jalan langsung pudar. Melihat yang duduk di sofa ruang tamu adalah duri. Duri dalam hubungannya, hidupnya.


"Bim, duduk." Masih menyimpan dendam ternyata. Bicara dengan anaknya saja suaranya masih dingin. Jelas Bima menurut, duduk tidak mungkin berdiri.


"Bicara man, ada apa? Apa mau menentukan tanggal pernikahan mereka?" Dengan pedenya papanya membuka obrolan. Luna langsung menoleh ke papanya, berharap secepat mungkin mengutarakan maksud kedatangan mereka kesini.


Lukman, dia belum menjawab. Ia malah mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Siapapun yang melihat pasti langsung mengenalinya. Terutama Adi, selaku papa Bima. Karena dia sendiri yang membelinya. Jelas matanya langsung menangkap jelas benda kecil itu.


"Apa ini man?" Bingung, iya memang. Baik Bima dan mamanya juga bingung.


"Begini Di, tampaknya anakmu memang tidak bisa berpisah dengan kekasihnya. Jadi Luna-"

__ADS_1


"Pa, cukup. Gini om Adi, maaf sebelumnya. Bukan tentang siapa kekasih Bima, tapi sepertinya aku memang tidak mau melanjutkan perjodohan dan pertunangan ini. Aku ingin menikah dengan orang pilihan ku sendiri, bukan pilihan papa. Maaf om, mau di paksa dengan cara apapun kali ini, aku tetap tidak mau. Dan aku sudah menemukan tambatan hatiku." Dengan bibir gemetar Luna memberanikan diri berbicara. Belum, papanya Bima belum merespon. Dia masih diam, dan hanya Lukman yang tau ini.


"Maaf Di, aku tidak bisa lagi memaksakan keduanya. Silahkan kamu tanya sendiri bagaimana anakmu? Apakah dia keberatan jika semuanya di batalkan?"


Tidak om, bahkan setelah ini aku akan berterima kasih pada Luna, kalau perlu aku traktir dia makan.


"Tidak man, kamu lihat sendiri kan? Anakku malah tersenyum. Berarti memang dia senang kalau perjodohan ini di batalkan." Lisa juga ikut tersenyum menoleh ke arah anaknya. Senyum Bima langsung hilang ketika semua mata menatapnya.


Mama apaan sih ma!!!


"Kamu yakin ini keputusan anak kamu sendiri man? Bukan karena dia mendapat ancaman baik dari Bima dan wanita itu?"


Wanita yang mana? Apa maksud papa adalah Maudy?


Lukman menatap putrinya, Luna menggeleng.


"Maksud kamu wanita mana Di?" Tanyanya. Dengan maksud Adi dapat menjelaskan dengan detail.


"Nggak ada wanita-wanita, apa sih papa. Ini memang murni, mutlak keputusan Luna, dan papa kan tau kalau Bima juga keberatan dari awal. Jangan terus menyalahkan orang lain atas kesalahan papa sendiri. Dan kamu man, ini juga pelajaran untuk kamu, jangan memaksakan apa yang tidak di mau oleh anak." Sudah geram rasanya melihat suaminya sendiri. Kalau masih tetap menyalahkan calon menantuku, aku akan kunci pintu kamar, batinnya dengan berapi-api.


"Kamu kok sepertinya sangat membela wanita itu ya ma?" Sudah mulai panas nih suasananya.


"Jelas, dia baik pa. Sopan lagi." Melirik ke arah Luna. Biar, biar tersindir sekalian.


"Jadi maksud mama Luna nggak sopan gitu?" Ini memang Adi Nugroho tidak tau situasi ya, masih ada orangnya lagi disini.


Lukman dan Luna saling tatap. Bingung, kenapa jadi suami dan istri ini yang berdebat. Menyebut kata wanita lagi, pikir mereka.


"Ma, sudah. Maaf ya om. Aku juga sebenarnya tidak mau di jodohkan. Mau bagaimana pun, aku tidak bisa menyukai Luna."


Karena kamu sudah punya tambatan hati, yakkan Bim. Kenapa nggak jujur aja sih Bim di depan papa kamu.


"Ya sudah, kalau begitu ini." Lukman mengembalikan kotak kecil berwarna merah dan sepasang cincin itu kepada calon besan yang gagal. Dengan berat hati Adi menerimanya.


"Tenang aja Di, kerja sama kita tetap berjalan dengan semestinya. Anggap aja anak kita memang nggak jodoh. Nanti kan bisa cucu kita yang di jodohkan."


Dasar tukang menjodohkan! Bima.


Ya ampun, semoga cucuku nanti berjenis kelamin sama dengan cucunya! Mama Lisa.


"Jawab saja kalau iya." Lisa juga mengeluarkan suaranya.


Bima menggeleng pelan menatap Luna.


"Nggak kok om. Cuma aku." Ah lidahnya keluh.


"Cuma apa Luna? Katakan?" Adi pandai merayu dengan melembutkan nada bicaranya.


"Cuma semalam aku melihat Bima keluar hotel bersama pacarnya." Deg.


"Apa?"


"Apa?" Kedua lelaki yang statusnya kepala keluarga langsung menjawab dengan mengeluarkan otot lehernya.


Maaf Bim, dengan begini kamu nggak akan pisah sama pacarmu yang selalu di sebut orang katanya baik.


Bima, dia langsung menunduk.


"Kamu yakin, nggak salah lihat?" Lisa bersuara, berakting tidak tau apa-apa.


"Yakin tante, makannya aku nggak mau lanjutkan perjodohan ini, karena itu alasannya."


"Kenapa kamu nggak bilang sama papa?" Wajah Lukman tak kalah merahnya dengan Adi. Kalah sudah kepiting rebus.


"Bima itu benar?" Sudah ada suara gigi yang di eratkan.


"Di, sepertinya sudah jelas sekarang, baik status dan alasan. Selesaikan masalah keluarga kalian, sebaiknya mereka di nikahkan saja. Kalau begitu, aku permisi Di? Ayo nak?" Bangkit dari duduknya tanpa terlebih dahulu menyentuh secangkir teh yang sudah di hidangkan. Sementara kedua orang tua ini masih bingung harus apa. Mamanya takut kalau Bima akan di usir, sementara papanya sudah tak tau harus bagaimana dan berbuat apa.


"Maafkan kelakuan anakku man." Lukman mengangguk lalu pergi.


Di perjalanan.

__ADS_1


"Kamu kenapa nggak bilang sama papa Luna?" Emosi, iya masih emosi sampai saat ini, merasa anaknya di permainkan.


"Pa, papa nggak tau kan posisi aku bagaimana? Mereka sudah pacaran lama sekali. Tapi karena om Adi nggak setuju, jadi mereka selalu berjumpa diam-diam. Sudah lah pa, itu bukan urusan kita. Yang terpenting sekarang, papa juga jangan melarang soal aku nanti akan pacaran dengan siapa. Dan papa, jangan mengancam aku lagi dengan menyebut nama mama yang sudah tenang disana." Deg. Lukman terdiam, mencerna setiap kalimat dari anaknya. Iya, itu benar. Ia selalu mengancam dengan menyebut istrinya yang sudah lama pergi.


***


"Rio, io." Berusaha mengetuk pintu.


"Kenapa ma?" Siska yang membuka sambil menggendong Rafa dengan perutnya yang sudah membesar.


"Rio mana Sis?" Wajahnya panik.


"Itu baru selesai mandi ma."


"Kamu suruh Rio turun sekarang ya? Bima sis Bima."


"Kenapa ma?" Orang yang di cari muncul di balik tubuh istrinya.


"Apa ini masih tentang sandal yang mama bilang?" Siska yang paling bingung disini, panik, Bima, sandal? Maksudnya apa?


"Udah ayo turun, Siska kamu jangan buka pintu ya? Usahakan Rafa tidak mendengar apapun yang akan terjadi di bawah sana." Makin melemas saja tubuhnya. Kasian dengan adik iparnya, mau di apakan lagi sih Bima? Batinnya.


***


"Apa kamu tidak punya otak Bim? Sehingga mengajak anak orang lain untuk tidur bersama? Ha? Di keluarga kita tidak ada yang seperti itu!! Kalau orang lain tau gimana Bim? Mau di taruh mana muka papa?" Berkali-kali memijat keningnya. Pertengkaran masih di terjadi di sofa ruang tamu, Bima masih tetap duduk pada tempatnya. Sementara papanya sudah bolak-balik, duduk berdiri, dan berjalan mondar-mandir.


Bukan kah wajah papa masih terletak di tempatnya?


"Jawab Bim!!" Suara bentakan yang memekik telinga, sehingga Rio dan istrinya mempercepat langkahnya.


"Iya pa." Masis menunduk. Sekarang, rasa takut kepada papanya sudah hilang, sepertinya sudah terlalu lama di bawah tekanan membuatnya berontak sampai sejauh ini.


"Pa, ada apa pa?" Rio datang dan langsung menghampiri papanya.


"Adik kamu Rio, papa nggak ngerti harus bilang apa lagi." Rio menatap Bima, eh dia malah tersenyum. Dan Rio membalas dengan kedipan mata.


Ini sebenarnya yang bodoh bapak Adi ya? Sampai tidak tau anaknya tidak ada yang panik.


"Pa, papa duduk dulu. Tenang pa, bicarakan baik-baik. Jangan emosi pa, itu berpengaruh dengan kesehatan papa." Perlahan Rio menuntun papanya untuk duduk. Dan mamanya sudah stay duduk di samping Bima. Siap menjadi tameng untuk anaknya, takut-takut suaminya emosi dan lalu memukul Bima.


"Sebenarnya ada apa pa?" Rio bertanya dengan lembut.


"Bima sudah meniduri anak itu, wanita itu!" Rio langsung menatap ke arah Bima, membulatkan matanya.


Sialan kamu Bim. Jadi ini yang di maksud mama dengan sebutan sandal!


Bima menjulurkan lidahnya ke arah Rio ketika papanya memejamkan mata sebentar. Ya ampun, padahal situasi sudah genting, tapi kenapa Bima masih bisa santai dan malah terlihat senang.


Yes, dengan begini aku akan di nikahkan.


"Semua papa serahkan sama mama. Papa nggak mau anak itu hamil di luar nikah, itu lebih menjatuhkan reputasi papa. Papa sudah pusing ma."


"Maudy pa namanya." Terserah, Adi tak ingin dengar lagi.


"Ya sudah pa, gimana kalau besok malam kita datang untuk melamar?" Lah ini, mamanya juga tak kalah antusias seperti anaknya.


"Terserah mama. Papa mau istirahat." Langsung berjalan meninggalkan mereka semuanya yang masih duduk.


"Oh iya pa. Ya sudah tidur yang nyenyak ya suamiku." Detik berikutnya, mereka saling pandang dan tersenyum, tidak jangan tertawa nanti papa kalian dengar, begitu mamanya memberi kode dengan gelengan.


"Ma?" Siska turun sendirian, mungkin Rafa sudah tidur. Ia mengerutkan keningnya, melihat tidak ada wajah tegang sama sekali, sebenarnya apa yang terjadi, lagi-lagi batinnya yang menebak.


"Ah Siska, besok kita belanja keperluan lamaran ya?" Lebih bingung sekarang.


"Siapa yang mau lamaran ma? Bima?" Mertuanya mengangguk dan tak lupa dengan senyumnya.


"Bukan kah Bima sama Luna sudah tunangan?" Rio tersenyum.


"Sudah sayang, ayo kita tidur. Aku masuk kamar dulu ya ma?" Pamit dan berjalan, ketika melewati Bima, Rio mengehentikan langkahnya sebentar.


"Kamu berhutang banyak sama mas!!" Bima acuh dan memeluk lengan mamanya.

__ADS_1


Anakku sudah kembali bermanja-manja, ya ampun ternyata semua ini karena seorang Maudy.


--__


__ADS_2