
Maudy mengelus lembut tangan suaminya yang masih terbaring lemah. Wajah sayu dengan duduk di kursi roda, dan saat ini selang infus juga sudah di lepas dari tangannya. Menunggu Bima, menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang tempat dimana Bima berbaring. Sungguh Maudy hanya ingin mendengar suara Bima, bukan hanya suara alat yang menempel di tubuhnya.
"Kamu tadi panggil aku kata dokter? Kamu pasti mimpi aku sekarang ya Bim? Buka dong mata kamu?" Disini, Maudy hanya sendiri. Dokter sengaja meninggalkannya, dengan alasan "biar Bima terpancing dengan suara istrinya dan mau membuka mata".
"Bim, hiks.." Menangis dan menutup kedua wajahnya dengan tangan. "Apa kamu nggak sayang aku Bim, calon anak kita Bim? Kamu bilang mau kasih kejutan, taunya ini kejutan yang kamu beri sama aku Bim? Tega sekali sih hiks." Maudy semakin terisak. Sesekali menggeleng melihat apa terjadi beberapa hari lalu.
Tidak sama sekali ada pergerakan dari Bima, mata yang tertutup rapat, wajah yang memucat dan beberapa goresan di pipinya. Dan kepala yang masih keadaan di perban. Operasi memang sudah berjalan dengan lancar, tapi Bima masih belum bisa melewati masa kritisnya.
Hingga Maudy kelelahan menangis, dia pasrah. Memejamkan matanya dan memeluk satu tangan Bima yang tidak terpasang alat. Dia menciumnya berulang-ulang. "Kamu sering cium aku gini kan Bim?" Lagi, sampai Maudy bosan sendiri.
"Aku nggak akan keluar sebelum kamu bangun Bim. Aku mau disini! Apa kamu nggak bosen Bim tidur terus!" Ah dia menggerutu sekarang.
***
"Pa, sebaiknya kita masuk juga ke dalam, ini sudah hampir dua jam Maudy di dalam pa?"
"Mungkin Maudy masih ingin bersama Bima, biarlah. Kita tunggu sebentar lagi."
"Tapi mama takut kalau akan terjadi sesuatu dengan Maudy pa, bisa saja kan Maudy pingsan di dalam karena tidak sanggup melihat keadaan Bima?" Suaminya langsung mengerutkan kening.
"Pa?"
"Sebentar ma." Suaminya bangkit dan melihat ke lorong sebelah, lalu kembali duduk lagi. "Dokternya lagi nggak ada ma." Mama Lisa nampak sangat khawatir. Lalu dia berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu.
"Ma, mama mau ngapain?"
"Mama mau masuk, papa apa memang nggak dan khawatirnya sama menantu." Tanpa menunggu persetujuan suami ataupun dokter, mama Lisa masuk dan membuka pintunya. Baru beberapa langkah terdengar suara jeritan.
"Ya Tuhan, Bima?" Papa Adi yang mendengar langsung ikut menerobos masuk.
"Bima?" Dia juga ikut tercengang.
Bima tersenyum lalu menempelkan telunjuknya di bibir. Lalu lanjut mengelus puncak kepala istrinya, sepertinya yang tidur nyenyak sekali karena di Nina bobokan.
"Eum." Maudy menggeliat, Bima langsung kembali ke posisinya. Berpura-pura lagi tertidur dalam koma memejamkan mata.
Kayak ada yang ngelus kepala aku tadi.
Bulu kuduknya meremang dan langsung menoleh ke arah pintu, dan apa? Dia malah melihat kedua orang tua Bima yang berdiri disana.
"Mama? Papa? Maaf ma, aku ketiduran. Aku nggak mau keluar sebelum Bima bangun."
"Kamu mau Bima bangun Dy? Coba kamu pukul lengan kirinya." Maudy bingung, lalu mama Lisa juga mengangguk.
"Ma, papa panggil dokter dulu ya?" Berbisik sangat pelan lalu berjalan keluar.
Mama Lisa berjalan mendekati, mengelus puncak kepala menantunya tersenyum sambil meneteskan air mata. Ini kah yang di namakan air mata bahagia? Menangis dalam senyum atau senyum dengan tangis?
"Ma, Bima ma?" Dia memeluk mama Lisa.
"Dy, coba kamu lakukan saja apa yang di perintahkan papa?" Maudy jelas langsung menggeleng, takut Bima tidak akan bangun dan malah akan menyakitinya.
"Tidak apa-apa, lakukanlah? Itu juga saran dokter." Maudy masih diam, dan perlahan berdiri dari kursi roda. Maudy memejamkan mata sebentar, mungkin berdoa sebelum memukul. Tangan sudah melayang seperti adegan slow motion. Bima mengintip sedikit dari celah matanya.
"Sayang jangan." Dia berteriak. Maudy kaget dan reflek mundur hingga menabrak tubuh Mama Lisa, mereka sama-sama terhuyung untuk dengan sigap mama Lisa menahan tubuh Maudy.
"Bi ma?" Ucapnya terbatah.
"Ma, Bima ma?" Mama Lisa berdiri di sampingnya, mengangguk dan tersenyum.
"Dasar anak nakal!" Bima tersenyum, terus menatap Maudy tanpa berkedip, begitu juga dengan Maudy. Mereka saling pandang tanpa berkata, hingga air mata jatuh begitu saja mengalir di pipinya.
"Sepertinya mama juga akan ikut papa memanggil dokter." Kemudian melangkah keluar ke arah pintu, sesekali menoleh dengan senyum bahagia.
Anakku sudah sadar kembali.
"Bim, kamu dengar aku bicara tadi kan Bim makannya kamu bangun?" Bima masih diam dan terus menatap. "Bim?"
"Sayang, aku bangun karena mendengar suara dengkuran kamu yang begitu kuat?" Maudy menggeleng tidak percaya, apakah di keadaan begini dia sempat bercanda? Batinnya.
"Bim, bahkan suara alat itu lebih kencang?" Perlahan mendekat ke arah Bima, mengelus wajahnya. "Bima?" Menangis.
"Sayang, jangan menangis. Maafkan aku yang pulang terlambat. Maafkan aku yang tidak bisa ikut sarapan bersama kamu sesuai janji aku. Maafkan aku sayang?" Maudy terus menangis.
"Bim, aku nggak tau bagaimana kalau kamu pergi ninggalin aku."
"Aku janji nggak akan pergi ninggalin kamu lagi, aku janji." Maudy mendongakkan wajahnya.
"Sayang, kenapa kamu duduk di kursi roda? Dan kenapa kamu juga memakai pakaian rumah sakit?" Maudy diam dan hanya memandangnya.
"Sayang, jangan bilang kamu juga di rawat? Kenapa? Kamu jatuh atau apa? Sayang jawab aku?" Maudy semakin terisak.
Bodoh! Aku begini karena kamu Bim, aku sangat takut kehilangan kamu!
__ADS_1
"Sayang?"
"Iya Bim, aku langsung kontraksi ketika mendapat kabar kamu kecelakaan pesawat."
"Sayang, itu artinya kamu cinta sama aku?" Maudy langsung menghapus air matanya. Menatap Bima dengan tajam.
"Permisi, wah sudah sadar ya. Benarkan, kalau dekat istrinya pasti cepat pulih. Saya periksa dulu ya mbak suaminya." Maudy langsung menunduk malu, pasti dokter tau dia habis menangis.
"Dokter, ijinkan istri saya tetap disini." Bima memohon.
"Baik lah, tapi berdiri agak jauh ya." Maudy mengangguk lalu berjalan ke sudut ruangan. Dia jelas melihat Bima meringis menahan sakit ketika suster mulai menyuntikkan sesuatu melalui selang infus, sesuai arahan dokter. Dan Maudy semakin khawatir sekarang, dokter menggerakkan lengan kirinya, Bima menggigit bibir bawahnya agar tidak menjerit.
"Aw sakit dok." Maudy sudah ingin sekali mendekat kesana, Bima masih sempat menoleh ke arahnya sambil memanyunkan bibirnya, ibarat mencium dari jarak jauh.
"Dasar! Masih sempat-sempatnya." Maudy menggerutu.
Tapi jujur aku rindu itu Bim.
"Catat detak jantung dan tensinya. Jika normal berarti sudah ada perkembangan."
"Baik dok." Suster mengangguk.
"Silahkan kalau mau kembali di temani suaminya." Sebelum keluar dokter masih sempat berbicara.
Kenapa senyum dokter seperti mengejek ya?
"Sayang, sini." Bima tersenyum dan menepuk ranjang di dekatnya.
"Disini aja Bim." Menarik kursi roda yang sempat di geser ketika dokter hendak memeriksa.
"Sayang, bisakah kamu sampaikan rinduku sama anak kita?" Maudy mengangguk.
"Sayang, papa rindu kalian. Bisakah kalian bantu doa supaya papa cepat pulih kembali?" Maudy mengelus perutnya dengan lembut. Bima tersenyum menatapnya.
"Bim, dia nendang?"
"Benarkah?" Aura pucat di wajah Bima tampak berubah. Seperti ada sinar yang kini terukir di wajahnya.
"Bim, lagi. Sepertinya mereka benar-benar rindu kamu Bim."
"Anak kita tau mamanya?" Maudy terdiam. Detik berikutnya dia tertawa.
"Bim, aku rindu kamu."
Disisi lain di dekat pintu ruangan.
"Eh mbak nanti aja deh masuknya, biarkan mereka di dalam berdua, tampaknya kita masuk malah akan menggangu."
"Memangnya mereka mau berbuat apa sampai kita menganggu?" Papa Adi tampak bingung. "Sudah ayo masuk." Papa Adi berjalan lebih dulu masuk, sementara mama Lisa, ayah Subi dan ibu Irma berada di belakangnya.
Baru beberapa langkah masuk, beliau berhenti, berbalik badan dan mengusir mereka yang berada di hadapannya sekarang dengan menggunakan bahasa tangan.
"Benar, nanti saja kita melihat Bima."
***
Satu minggu berlalu pasca Bima bangun dari komanya. Dan telah di pindah ruangan, ruangan sebelumnya yang dibuat untuk merawat Maudy. Tapi kini, Maudy sendiri sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Sehingga bisa bebas dari pakaian sebagai pasien. Tapi dia tidak pulang, tetap berada di ruangan ini dengan menunggu Bima dan dengan sabar merawatnya.
"Aak buka lagi mulutnya."
"Sayang, aku kenyang." Bima menggeleng.
"Satu suapan lagi aak." Memaksa dan terus menyodorkan sendok di depan mulut Bima. Baiklah, dia kalah dan satu suapan terakhir berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Hallo..." Kiki datang dan membawa pesanan Maudy, yang katanya sangat ingin memakan brownies karena mulutnya masih terasa pahit.
"Ki, duh makasih ya." Matanya berbinar dan langsung membuka kantung plastik yang berisi brownies.
"Kamu sendiri Ki?" Mengunyah dan mengunyah, tanpa menawarkan Kiki ataupun Bima.
"Iya lah Dy, kamu kira aku datang sama siapa? Agam gitu?" Kiki mendengus. "Dia udah bahagia Dy."
"Dia sudah menikah?"
"Sayang, jangan bicara ketika mulut kamu sedang penuh makanan." Maudy menoleh dan tersenyum.
"Sudah Dy, tepat dimana hari kamu masuk rumah sakit. Aku ngurung diri di kamar, terus iseng buka sosmed, eh malah terlihat ada siaran langsung pernikahan Agam."
"Pfftt.." Bima menahan tawa.
"Sedih ya jadi aku." Memelas wajahnya.
"Sudah lah Ki, cari yang lain. Masih ada kok, eh Revan gimana tuh? Cocok tuh sama kamu, kata Bima dia sih pintar, baik, tadi juga baru kita bahas."
__ADS_1
"Eh iya, gimana kabarnya dia? Dia jugakan ikut Bima pergi waktu itu?"
"Dia juga selamat kok Ki, tenanglah. Kok malah kamu yang khawatir." Lagi-lagi Maudy menggodanya.
"Apa sih Dy!"
"Sayang, kelihatannya enak ya brownies nya?" Bima melihat brownies yang warnanya hitam pekat berada di tangan istrinya.
"Kenapa kamu mau Bim?" Bima mengangguk, karena benar dia mau.
"Habis Bim, nih tinggal secuil di tangan aku. Aku juga masih kurang Bim." Seperti tak rela memberikan kepada Bima walaupun secuil.
"Ya sudah sayang makan aja, nanti aku bisa beli tokonya sekalian." Kiki tertawa, Maudy tak peduli dan langsung saja melahap brownies yang katanya tinggal secuil.
"Eh siapa tuh Bim?" Mendengar suara ruangan di ketuk.
"Palingan juga dokter." Mereka sama-sama menatap ke arah pintu ruangan. Menunggu siapa yang datang, dan detik berikutnya terlihat seseorang yang duduk di kursi roda. Masuk dengan di antar seorang wanita. Yang menurut penglihatan Maudy dan Kiki asing.
"Pak Bima?" Ucapnya dengan senyum. Kiki tak berkedip menatapnya.
Revan?
"Revan? Kamu sudah sehat sampai bisa datang kesini?" Maudy berdiri dan pindah duduk di samping Kiki.
Dan setelahnya menyusul juga seorang wanita paruh baya dan sama, dia juga duduk di kursi roda di dorong oleh wanita muda.
"Ma, ini pak Bima. Pak, maaf saya nggak ijin kalau mau datang kesini. Ini mama saya, beliau sangat ingin melihat kondisi anda." Bima tersenyum ke arah wanita yang di sebut Revan dengan mama.
"Pak Bima." Dia juga tersenyum.
"Dan yang dibelakang mama saya itu adik perempuan saya?"
"Kalau itu, pasti kakak kamu ya?" Maudy asal menebak dan menunjuk ke arah Rina.
Apa wajahku setua itu? Eh tapi emang aku lebih tua dari Revan sih.
"Bukan ibu Maudy, dia juga sama bekerja di perusahaan pak Bima." Maudy dan Kiki saling pandang.
"Pacarnya mungkin Dy?" Kiki berbisik lalu beralih memainkan ponselnya.
"Pak, terimakasih atas kebaikan anda kepada anak saya?" Bima diam, kebaikan yang mana batinnya.
"Selalu memberi bonus lebih untuknya dan tetap memberinya gajih walau saat ini Evan belum bisa masuk bekerja."
"Ibu, itu bukan kebaikan saya tapi karena memang kinerja anak ibu sangat bagus dan di akui perusahaan." Revan merasa tersanjung, dia tersenyum ke arah mamanya yang juga tersenyum menatapnya.
"Revan, apa kakimu?" Revan mengangguk.
"Iya pak, tapi saya tidak lumpuh kok. Saya akan rajin cek up ke dokter supaya bisa kembali berjalan."
"Itu pasti karena saya menariknya terlalu kencang." Ucap Bima merasa bersalah.
"Dan kalau bapak tidak menariknya waktu itu mungkin saya tidak lagi berada disini pak, pasti ledakan pesawat itu akan merenggut nyawa saya." Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih pak, karena bapak saya masih bisa melihat mama saya dan bisa terus berada di sampingnya sampai beliau sembuh." Bima menggelengkan kepalanya tidak percaya, hal yang dilakukannya waktu itu, meski menyakiti fisik orang lain tapi bisa menyelamatkan hidup orang itu.
Hingga perbincangan hangat mengalir, beberapa menit berlalu. Revan dan juga mamanya segera pamit untuk pulang. Dan tepat hari ini juga Revan akan melakukan cek up ke dokter khusus yang menanganinya.
"Revan, apa itu pacarmu?" Revan mendongak menatap Rina. Rina tersenyum, sepertinya dia senang diberi pertanyaan itu.
"Bukan pak, kami hanya berteman."
"Tapi kalian cocok." Bima melirik ke arah Kiki.
Apa?
Kiki membulatkan matanya menatap ke arah Bima.
Kenapa dia melirikku? Apa dikira aku cemburu apa? Dasar gila, sudah sekarat masih aja nyebelin?
"Bapak bisa aja." Berpura-pura tersipu malu, mencari perhatian Revan.
"Ya sudah, kalian pulang lah hati-hati di jalan."
Setelah Revan dan mamanya sudah keluar Bima langsung tertawa.
"Sayang, tampaknya teman kita ini tidak mempunyai jodoh." Tertawa lagi, Maudy menoleh ke arah Kiki dan tersenyum.
"Dy, Bima jahat ya ternyata."
"Tenang, nanti kita cari yang jauh lebih baik dari Revan dan Agam." Mengelus punggung Kiki.
"Ada securitty kantor aku Ki. Dia di tinggal istrinya, kamu mau?" Haha Bima tertawa lagi.
__ADS_1
"Bima!!!"
--__