Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kemurkahan papa 2


__ADS_3

"Apa maksud kamu bicara begitu Bima??"


"Itu memang kenyataannya pa! Pa selama ini aku hanya diam mengikuti semua kemauan papa. Dan soal tunangan itu, apa papa ada mendengar kalau aku setuju? Tidak kan pa? Semua papa sendiri yang atur. Dan mama, apa papa sudah pernah memberitahunya sebelumnya? Papa egois, papa nggak pernah mikirin perasaan aku. Aku berhak nentuin siapa pilihan aku pa. Kalau papa merasa keberatan, silahkan cabut saja semua fasilitas yang papa kasih, termasuk jabatan ku."


Bima melangkah pergi. Tidak peduli lagi dengan kemarahan papanya.


"Sampai kapanpun papa nggak akan setuju kamu sama wanita itu! Dan acara perjodohan masih tetap berlanjut!" Bima mengentikan langkahnya sebelum benar-benar keluar pintu. Tampak ia menaikan sudut bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


Bima terus melangkah keluar rumah.


"Bim, Bim mau kemana kamu?" Rio dan mamanya segera menyusul.


"Tenang ma, aku cuma keluar sebentar cari angin. Rafa mana mas? Biar aku ajak dia."


"Sebentar. Sepertinya udah tidur Bim. Tapi tunggu mas liat dulu."


10 menit kemudian. Putra tampan yang sudah berusia 3 tahun turun dengan di gendong papanya. "Rafa ikut om mau?" Anaknya langsung mengangguk.


"Beli ice pa." Kegirangan.


"No. Ini sudah malam, besok aja ya?" Wajahnya langsung cemberut.


"Tenang mas, aku cuma ajak Rafa jalan-jalan aja. Nggak mampir ke mall kok." Mengambil Rafa dari pelukan Rio.


"Ma aku pergi sebentar."


***


"Sayang, Bima mau bawa Rafa kemana?" Siska yang sudah membulat kembali seluruh badannya, berbaring di tempat. Terkadang juga ia kuwalahan menjaga Rafa. Untung mama Lisa selalu membantu mengurusnya. Karena mertuanya itu tidak memberi ijin untuk Rafa di momong oleh Baby sister. Pesannya, seorang anak harus tumbuh dengan kasih sayang orang tua, mau sesibuk apapun itu. Karena di keluarganya, meskipun tidak kekurangan uang, tidak perlu memperkejakan baby sister untuk membantu mengurus anak. Karena itu sudah resiko menjadi orang tua, mengurus anak, mau sebandal apapun dia, itu sudah tanggung jawab kita.


"Nggak tau. Biar lah, kasian juga Bima." Duduk di samping istrinya. Mengelus lembut puncak kepalanya.


"Papa bertengkar lagi sama Bima?" Rio mengangguk.


"Bima udah bilang ke papa, kalau dia cintanya sama Maudy." Siska langsung bangkit dan ikut duduk.


"Beneran sayang? Jadi Bima gimana?" Khawatir, ya itu raut wajahnya sekarang. Bagaimanapun Bima adalah adik iparnya.


"Papa nggak peduli. Dia tetap menjalani perjodohan ini."


"Sayang, kenapa kamu dulu nggak nolak seperti Bima? Kamu malah senang di jodohkan?" Rio langsung menoleh dan tersenyum.


"Kamu juga nggak keberatan sepertinya." Siska langsung menunduk malu.


"Kalau aku dulu memang nggak punya pacar sayang, lagian wanita yang di jodohkan juga cantik, baik lagi." Memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. "Makasih ya, udah mau lahirin anak untuk aku."


***


Bima masih setia duduk di dalam mobilnya. Menatap rumah yang pintunya tertutup, walau sesekali terdengar suara tawa di dalam sana. Tapi rasa ingin mengetuk mengalahkan rasa takutnya.


"Om, kita ngapain disini? Ayo beli ice." Sudah merengek kesekian kalinya.


"Tunggu ya, sebentar lagi." Entah apa tujuannya datang kesini.


10 menit kemudian, Bima malah kembali melajukan mobilnya. Rasanya ingin menyampaikan sekarang waktunya sangat tidak tepat. Lebih baik pergi saja, biar lah waktu yang tepat akan menghampiri.


Bima memasuki perumahan, tapi ini bukan rumahnya. Suasana juga sudah sepi, mungkin semua warga komplek sudah beristirahat dengan keluarganya di dalam rumah. Rafa diam dan tidak merengek lagi. Bima meliriknya, dan ternyata ia sudah tertidur. Oh sungguh kasian ya.


Mobil sudah berhenti tepat di sebuah rumah mewah. Dengan gerbang yang masih tertutup rapat. Kenapa hubunganku serumit ini? Batinnya.


Bima mengeluarkan ponselnya. Sepertinya akan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Ki, aku ada di depan rumah kamu. Kamu bisa keluar nggak?"


"Iya-iya, aku tunggu disini."


Beberapa menit kemudian.


"Bim, ayo masuk?" Menawarkan kepada Bima.


"Disini aja Ki, nggak apa kan? Kasihan soalnya keponakan aku tidur." Kiki langsung melihat dari jendela mobil. Rafa sudah pulas ternyata.


"Ya ampun, kasian Bim. Kenapa kamu ajak?" Mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Rafa.


"Iya, aku nggak tau kalau dia bakal tidur."


"Ya wajar lah, namanya juga udah malam Bim." Kiki kembali berdiri dekat Bima. Mereka sama-sama menyandarkan tubuhnya di samping mobil. "Kamu ada perlu apa Bim?"


"Aku bertengkar lagi sama papa ku Ki. Dan aku udah bilang, kalau aku sebenarnya masih memiliki hubungan sama Maudy."


"Ha? Gila kamu Bim! Jadi gimana Maudy nanti?" Panik, bukan khawatir dengan Bima, tapi malah dengan Maudy yang mungkin disana masih tertawa. Tidak tau biduk permasalahannya.


"Menurutmu, mau sampai kapan aku menutupi ini? Sampai waktu pernikahan aku tiba?"


"Luna? Jadi dia gadis yang waktu itu hadir di acara pernikahan mas kamu?" Kiki mengingat-ingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Iya Ki. Cantik menang-"


"Stop! Lebih cantik Maudy Bim." Huh, Bima menggeleng dan tersenyum. Kalau itu nggak usah di perjelas, aku juga tau, batinnya.


"Lalu, kamu gimana sekarang?" Bima hanya mengangkat bahu.


"Apa kamu berharap setelah ini aku menyampaikan pada Maudy?" Nah, itu tujuannya. Karena belum sanggup untuk menyampaikan sendiri. Bukan pecundang, tapi takut kalau Maudy kecewa nanti, meskipun itu tentang hubungannya, tapi Maudy sendiri belum siap.


"Kapan dia pulang?" Tatapannya kosong.


"Kenapa kamu nggak tanya sendiri aja Bim?" Huh Kiki sudah menggerutu dalam hati.


"Dia masih sibuk disana Ki?" Membela diri. Padahal Maudy juga tidak ada bilang begitu.


"Ya udah. Kamu pulang aja sekarang Bim. Kasian Rafa." Melongok lagi melihat wajah Rafa yang menggemaskan.


"Iya, makasih ya Ki."


Lah, emang aku ngasih apa Bim?


Jawab saja iya, biar cepat kelar.


"Hati-hati." Teriaknya setelah Bima sudah putar balik.


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena melihat wajah Rafa tertidur sangat membuatnya takut kalau dia akan terganggu nantinya.


Mobil sudah kembali memasuki jalanan raya. Tampak lalu lalang pasangan kekasih yang berpegangan pinggang dengan menggunakan motornya. Saling berbicara dengan suara keras agar kata-katanya dapat di dengar. Bima tersenyum melihatnya, ya karena dia sendiri pernah merasakan itu. Dulu, sudah lama sekali. Saat pertama kali ia betengkar dengan papanya, dan memilih pergi dari rumah.


Ternyata mengingat suatu kenangan mampu mengeluarkan senyum dari bibirnya. Tanpa terasa, Bima harus kembali lagi ke rumah. Tampak semua penjaga menatapnya dengan tatapan iba.


Ada apa? Apa mereka tau kalau aku bertengkar?


"Bima." Mamanya langsung berjalan mendekati mobil. "Kamu dari mana?" Kenapa semua orang wajahnya terlihat khawatir sih?


"Nggak ada ma, cuma jalan-jalan. Ini juga Rafa sudah tidur." Perlahan membawa Rafa dalam pelukannya. Bima langsung saja berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya langsung terhenti kala melihat orang yang menjadi duri di hubungan serta kehidupannya sudah duduk dengan senyum manisnya. Seperti tidak mempunyai salah, dan malah bangga dengan semuanya.


"Bim, sini kamu." Panggil papanya. Sudah ada Lukman juga disana, wajahnya tak kalah ketat dari wajah calon besannya.

__ADS_1


"Aku capek mau istirahat." Tak peduli. Bima langsung menaiki anak tangga. Mengetuk pintu kamar masnya dengan hati-hati.


"Loh, Rafa tidur Bim?" Kakak ipar yang membuka pintu, Bima sedikit ngintip dari celah pintu. Sepertinya mereka baru selesai uwu-uwu. Tau saja kesempatan anaknya di bawa pergi, batinnya.


"Iya kak." Menyerahkan Rafa dengan hati-hati. Takut kalau dia terbangun, malah akan susah tidur lagi nantinya.


Bima langsung masuk ke kamar, menghempaskan tubuhnya dan memejamkan matanya. Perlahan tangannya memijat keningnya sendiri. Membuang semua pikiran yang mengganggunya.


Bisa cepat tua aku kalau begini!


Baru beberapa menit, sudah ada yang menganggu dengan mengetuk pintu kamarnya. Bima langsung bangkit, ia mengira kalau itu pasti mamanya.


"Bima." Wajah tak berdosa itu lagi yang berani mengetuknya.


Bima langsung berbalik saja, hatinya semakin jengkel karena melihat Luna sudah berani mendatangi kamarnya.


"Bim tunggu." Bima lupa tak mengunci pintunya kembali, sehingga Luna bisa masuk dengan gampangnya.


"Bim." Mendekat ke arah Bima yang menelungkup kan tubuhnya di kasur. Bima tau, suara langkah kakinya semakin mendekat.


"Kamu keluar dari sini! Kamu ini perempuan apa sih! Nggak sopan masuk kamar orang sembarangan!" Membentak Luna.


"Tapi kamu kan tunangan aku Bim, aku rasa nggak masalah kan kalau aku kesini?" Eh dia malah duduk. Bima langsung menjauh. Rasanya risih, jangankan di sentuh, mendengar suaranya saja membuat Bima emosi.


"Cih tunangan?" Bima langsung berdiri, dan ia berjalan menuju lemari. Membuka salah satu selorokkan. Dan terlihat Bima sudah memegang benda yang berukuran kecil itu.


"Ini, ini ambil. Mulai sekarang nggak ada yang namanya tunangan! Jadi sekarang kamu bisa pergi dari sini." Entah ada setan apa yang merasuki Bima. Sampai berani melakukannya, persetan dengan pertengkaran. Ini akan tetap terjadi di rumah ini, pikirnya.


Luna mematung, wajahnya menunduk memandang cincin yang di kembalikan Bima. Lalu mendongak menatap Bima. Benar kan, sudah ada air mata yang siap jatuh menyerbu kesalahan Bima.


"Selama ini, aku udah coba sabar. Aku begini karena tidak ingin orang tuaku kecewa. Tapi sepertinya kamu lebih memilih untuk itu." Menghapus air matanya yang sudah lolos terjatuh. Bima lebih memilih membuang pandangannya.


"Iya, memang aku lebih memilih menyakiti hati papa dari pada hati kekasihku. Karena papa ku adalah orang yang sangat tidak mengerti aku!" Tidak, kali ini benar-benar Bima tidak peduli. "Sekarang kamu silahkan keluar. Jangan pernah temui aku lagi." Luna langsung berjalan keluar. Menutup pintu dengan kerasnya. Dan Bima, dengan sigap mengunci pintunya. Kali ini, mau papanya yang memanggil Bima akan bersikap bodo amat. Itu sudah ia niatkan.


Bima menghela nafas lega dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Perlahan melemas dan terduduk di lantai.


Semoga papa cepat mengerti.


***


Luna berjalan menuruni tangga dengan cepat, air matanya tidak berhenti menetes. Saat ini, di hadapan Bima Luna seperti tidak memiliki harga diri, keistimewaan, tidak. Sama sekali tidak pernah ia dapatkan.


Tiba-tiba terbayang kata-kata Bima yang mengatakan "jangan menggunakan hati, nanti kamu akan merasa tersakiti padahal aku tidak melakukannya" ya memang benar, Luna mulai menggunakan hati sekarang.


"Pa ayo kita pulang?" Tanpa menghentikan langkahnya Luna terus saja berjalan.


"Loh, Luna ada apa nak? Kenapa?" Tidak ada jawaban. "Adi, sebenarnya Bima apakan Luna, kenapa anakku sampai menangis seperti itu?"


"Biar aku yang mengurus Bima nanti. Kamu pulang lah, susul anakmu man. Maaf atas kelakuan Bima."


Lukman membuang nafas kasar dan segera keluar dari rumah ini. Adi ikut mengantarnya sampai ke depan. Setelah itu ia langsung berjalan menuju kamar Bima, nafasnya sudah naik turun tak terkendali.


"Pa, papa mau kemana?" Menghentikan langkah suaminya yang sudah mulai menaiki anak tangga. "Jangan buat keributan pa! Ini udah malam. Papa dengar nggak sih pa, mama ngomong?" Masih terpaku. "Semuanya bisa di bicarakan baik-baik pa!" Mengalah, Adi akhirnya turun dan mengurungkan niatnya untuk menghajar Bima malam ini.


"Pa, kasian Rafa dia udah tidur. Kalau papa buat keributan lagi dia pasti mendengar pa. Nggak baik untuk anak seusianya. Kenapa sih pa, turunkan sedikit egois papa!" Setelah berhasil membujuk suaminya untuk duduk.


"Mama ini sebenarnya mendukung pertunangan Bima nggak sih ma?" Baru sekarang dia merasa kalau dirinya memang tidak ada yang mendukung.


"Menurut papa bagaimana? Apa papa sebelumnya ada berembuk sama mama? Ada pa? Papa bahkan langsung membeli cincin tanpa sepengetahuan kami semua. Istri mana yang tidak kecewa pa, mama merasa tidak di hargai. Kalau papa mau semuanya hanya tentang bisnis dan ambisi papa. Biarkan mama pergi pulang ke rumah orang tua mama, dan membawa Bima pergi dari sini." Langsung berdiri dan berjalan ke arah kamar. Meninggalkan suaminya yang mematung tak bergerak setelah mendengar semua keluhannya. Biar lah, selama ini semua orang yang hanya diam atas keputusannya. Sekali berontak, Adi merasa di serang habis-habisnya.


--__

__ADS_1


__ADS_2