
Malam ini ada rasa sedikit lega di hati Bima. Tentu karena ponsel telah kembali ke tangannya. Saat Bima selesai makan, ia kembali ke kasur dan langsung melihat layar ponsel, ternyata tidak ada notif sama sekali. Itu tandanya Maudy tidak membalas pesan darinya.
Bima kembali menghubunginya, tapi tetap tidak bisa.
Tunggu dulu, Bima berpikir.
Kenapa disini tertera panggilan ke Maudy? Bukan kah di tanggal dan jam ini waktu terakhir kali aku bertengkar dengan papa? Apa ini!!
Bima kesal sendiri dan membanting ponsel miliknya, tapi sehabis itu ia ambil kembali, huh dasar Bima.
Saat ini ponsel sudah kembali ia genggam, tapi bingung harus menghubungi siapa.
Kiki, ya Kiki. Enggak mungkin Maudy enggak ada cerita sama Kiki, aku yakin pasti Kiki tau sesuatu.
"Ya Hallo Bim, ada apa?"
Kiki langsung menjawab begitu Bima menelepon.
"Ki, kamu jujur deh sama aku. Maudy ada cerita ke kamu enggak? Tentang papa aku yang menelepon dia?"
"Kamu tau dari mana kalau papa kamu nelepon Maudy?"
"Handphone aku baru di balikan sama papa ku, terus aku hubungi Maudy enggak bisa, dari satu jam yang lalu juga masih centang satu, eh terus aku telepon, tapi di panggilan kok di hari aku bertengkar sama papa aku, ada panggilan yang di terima Maudy. Aku yakin Ki, kalau papa aku yang nelepon. Dan juga sekarang pasti Maudy blokir nomor aku kan? Kamu tau kan Ki?"
Diseberang sana, Kiki bingung antara jujur atau tidak, keduanya sama-sama sahabatnya, ya walau lebih dekat dengan Maudy. Tapi Kiki rasa hal ini memang tidak cocok di tutupi, karenanya Bima juga korban keegoisan papanya.
"Ki? Kamu diam? Berarti kamu tau kan? Ayo lah Ki, kamu tau kan tanpa Maudy aku gimana?"
Ya Bim aku tau kamu tanpa Maudy gimana aku tau Bim!! Batin Kiki di seberang telepon.
"Iya ya. Papa kamu yang nyuruh Maudy buat jauhin kamu, bahkan dengan alasan teman sekalipun papa kamu tetap larang. Gimana ya Bim, aku kasian aja liat Maudy. Dan jujur, aku enggak suka aja sama papa kamu, apa-apa selalu lihat dari materi. Maaf ya Bim, aku hanya jujur."
"Aku juga benci papa!" Bergumam dan lirih.
"Ki, sebenarnya hari itu sebelum papa aku nelepon Maudy, aku udah lebih dulu bertengkar, karena papa larang aku buat dekat sama dia. Tapi aku enggak nyangka kalau papa bakal nekat kayak gini."
"Kamu nangis Bim?" Kiki malah menahan tawanya. Bukan ikut sedih, tapi lucu baginya.
"Enggak, cuma kangen aja sama Maudy."
"Lebay tau nggak Bim. Udah lah besok kamu kan bertemu Maudy kan, jadi bicarakan aja baik-baik. Udah ya, aku juga mau ngerjain tugas."
Alasan yang tidak masuk akal, Bima.
"Ya udah. Makasih atas informasinya ya."
Tanpa basa-basi Bima langsung keluar dari kamarnya, dan menuju dimana papanya berada, tidak peduli lagi, menurut Bima semua karena papanya. Bahkan saat ini di pikiran Bima, ia sudah siap jika di usir dari rumah ini.
"Mau kemana kamu Bim?" Melihat adiknya yang berlari menuruni tangga.
"Cari papa!" Ketus dan tak menghentikan langkahnya.
Enggak enak nih perasan aku. Pasti Bima mau melakukan sesuatu.
Rio kembali menuruni tangga dan mengikuti adiknya.
Benar saja, mata Rio menangkap sosok Bima yang memanggil papanya di kamar.
"Pa, papa!! Pa!!" Mengetuk pintu kamar papanya dengan keras.
"Bima, ada apa nak teriak-teriak? Udah malam Bima!" Ternyata mamanya yang membuka pintu.
"Papa mana ma?" Masih dengan nafas yang naik turun.
"Papa masih di ruang kerja. Ada apa Bima?" Masih belum menjawab, dan tanpa menjawab juga Bima langsung berjalan ke arah ruang kerja papanya.
Tadi Rio, dan sekarang mamanya juga ikut Bima keruang kerja papanya.
"Ma, mama mau kemana?" Rio yang berjalan di belakang mamanya.
"Mau lihat Bima, kenapa dia cari papa. Sepertinya dia sangat emosi, mama takut. Kamu ngapain? Bukannya tadi juga mau masuk kamar?"
"Rio juga mau ngikutin Bima ma, tadi dia lari aja turun dari tangga."
Wah, sehati ni mama sama anak.
Memang benar, Bima tidak pernah melawan, ia selalu nurut dengan semua aturan papanya, tapi kali ini mamanya melihat sendiri bagaimana emosinya Bima tadi. Tidak lagi ia bicara dengan lembut, tidak.
"Ya udah kita kesana sekarang." Langsung berjalan menuju ruang kerja papanya.
Sampai di pintu, mamanya langsung menutup mulutnya sendiri yang terbuka lebar, melihat pemandangan di depannya sangat menyakitkan hati.
Ya Bima sudah di tampar oleh papanya di hadapan mamanya.
__ADS_1
"Ma." Rio memeluk mamanya yang kini tubuhnya melemas. Seumur hidup mamanya yang mengurus anaknya dengan sabar, belum pernah ia sekalipun main tangan.
"Tampar lagi aku pa, tampar!! Pa, apa sih salahnya aku bergaul dengan mereka, dengan orang yang nggak sederajat sama papa! Apa salahnya apa? Pa, soal aku dengan Maudy, sebentar lagi juga dia akan pergi pa ninggalin aku. Maudy bakal pergi ninggalin aku disini. Untuk saat ini saja aku minta ketulusan hati papa sebagai orang tua, memang nggak bisa ya pa?"
"Bima!!" Tangan sudah menggantung, siap untuk menampar Bima lagi.
"Pa, cukup!!" Teriak Rio yang memang sakit melihat adiknya seperti ini.
"Kalau kamu mau hidup sesuka hatimu, kamu pergi dari rumah papa!"
Sontak mamanya melemas, dan tak sadarkan diri di pelukan anak sulungnya.
"Oke pa, aku pergi." Bima langsung keluar dari ruangan, dan berjalan menuju ke kamarnya untuk membereskan pakaian yang akan ia bawa.
Sebelum itu, Rio sudah melarangnya. Tapi Bima tetap tidak mau.
"Bim, kasian mama Bim." Memandang adiknya dengan memelas.
"Rio biarkan dia pergi, sejauh mana dia bakal bertahan tanpa keluarga." Suara papanya yang menggelegar.
Bima terus saja keluar rumah dengan membawa tas besarnya yang berisi pakaian.
"Loh, loh den Bima mau kemana malam-malam begini?" scurity penjaga rumahnya panik melihat majikannya akan keluar.
"Aku diusir papa mang. Aku mau pergi." Menahan air matanya yang sudah menganak sungai di sudut. Jika berkedip pasti langsung jatuh.
"Iya tapi masalahnya den Bima mau kemana sekarang? Ini sudah malam den!" Masih belum membuka kan pintu gerbangnya.
"Aku juga nggak tau mang. Yang penting aku pergi, ngapain masih disini kalau udah di usir."
Mang sugi tampak bingung, karena jika terjadi sesuatu pasti tetap dia sendiri yang di salahkan karena memberi ijin majikannya keluar malam-malam. Mang Sugi melihat ke dalam rumah, tidak ada tanda-tanda bahwa sang tuan besar mengejar atau melarangnya, berarti den Bima memang di usir, batinnya.
"Begini saja, den Bima pergi kerumah mamang sekarang ya, di jalan Cemara, nomor rumahnya nomor 15. Nah, ini mamang telepon istri mamang."
"Tapi mang, aku nyusahin keluarga mamang nantinya." Masih menunduk, sejujurnya ini adalah hal gila yang ia lakukan selama seumur hidup nya. Hanya demi mempertahankan Maudy, ia bahkan rela meninggalkan rumah yang seperti istana.
"Udah den, sekarang ya. Sebentar, mamang telepon ojek yang ada di depan, nanti mamang suru antar ke rumah. Udah sekarang den Bima nunggu aja di depan situ ya."
"Mang, jangan bilang papa ya kalau aku di rumah mamang."
"Iya den." Dan Kemabli menutup gerbangnya. Mang Sugi langsung menelepon ojek, dan kemudian menelepon istrinya bahwa anak majikannya akan menginap beberapa hari disana. Istrinya jelas tidak keberatan, tapi yang ditakutkan hanya satu, anak majikannya itu tidak betah dan malah menghina tempat tinggalnya, seperti di film-film.
"Kamu tenang aja dek, anaknya baik. Percaya sama Abang." Kata itu sudah mampu menjamin kalau yang di katakan suaminya benar.
-__
Sampai di jalan Cemara, Bima diantarkan oleh ojek yang sudah di pesan mang Sugi. Yang memang jelas tau alamat scurity nya itu. saat Bima akan membayar ojek tersebut menolak dan bilang kalau akan di bayar oleh mang Sugi, wah mang Sugi baik hati sekali. Semoga yang namanya mang Sugi selalu lancar rezekinya ya.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu yang diketuk oleh Bima.
"Permisi." Ucapnya lagi.
"Iya." Membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Den Bima?" Ucapnya dengan senyum yang ramah. Bima mengangguk. "Mari masuk den."
Bima langsung mengikuti, dan ia memandang sekeliling rumah mang Sugi. Rumah yang rapi, walau terlihat sederhana.
"Begini lah keadaan rumahnya mang Sugi den Bima." Ia tau saat ini Bima sedang memandangi isi dari rumahnya.
"Enggak apa bi, biar sederhana tapi bisa buat nyaman, dari pada megah tapi suasana kayak neraka." Membayangkan keadaan rumahnya sendiri.
"Sebentar ya den, bibi buatkan teh hangat."
Saat ini, mang Sugi tinggal hanya dengan istri dan anaknya. Mang Sugi hanya memiliki satu anak perempuan, yang masih berusia 7 tahun.
"Silahkan den, diminum dulu."
Meletakan satu gelas teh hangat.
"Bi, maaf sebelumnya. Tapi jangan panggil den Bima, panggil aja Bima bi. Disini lebih nyaman kalau di panggil biasa, kalau di rumah kan karena menghormati papa."
Benar ternyata yang di katakan suamiku. Kalau Bima anak baik.
"Ya udah Bima, begitu kan?" Bima tersenyum, tersenyum dengan tulus.
Bima pergi keluar teras milik mang Sugi. Ia memandang langit yang penuh dihiasi dengan bintang. Huh.. Bima membuang nafasnya, sepeti ia membuang sedikit beban di pikirannya.
Andai, Maudy tidak menjauh pasti aku masih bisa mengaduh dan ada sedikit semangat untuk ku saat ini.
Bima kembali mengingat sesuatu, ia lalu masuk ke dalam.
__ADS_1
"Bi, bibi." Panggilnya ketika sudah di dalam.
"Bi, ini daerah Cemara kan?" Bi Minah istri dari mang Sugi mengangguk.
"Apa di sekitar sini ada yang namanya Maudy bi?"
Bu Minah diam mencoba mengingat-ingat.
"Ada Bim, palingan cuma berjarak lima rumah dari rumah bibi. Emangnya kenapa Bim?"
Pantas saja aku enggak asing sama jalan sini, sungguh aku tidak ingat, mungkin karena tadi sewaktu pergi pikiranku masih kacau, jadi tidak terlalu mendengarkan alamat yang di sebut mang Sugi tadi. Ya ampun, kenapa aku bodoh sekali.
"Bima?" Panggil bi Minah yang melihat Bima melamun.
"Eh iya bi. Boleh aku keluar sebentar Bi, kerumah Maudy."
"Dia teman kamu Bima?"
"Dia yang saat ini aku cari bi. Boleh ya bi, sebentar aja aku keluar, nanti setelah itu bakal aku ceritakan ke bibi."
"Tapi ini udah jam 9 malam Bim, bentar lagi mang Sugi pulang, kalau dia tanya kamu nggak ada bagaimana?"
"Percaya sama aku bi, aku bakal balik kesini." Mengatupkan kedua tangannya, memohon agar di beri ijin.
"Baik lah, cepat Kembali." Melihat Bima yang berjalan keluar rumah, dan bi Minah melihatnya dari teras, ternyata benar Bima memang berbelok ke rumah anak dari pak Subiyanto.
Bima telah sampai di depan rumah Maudy saat ini, tetapi pintu rumahnya tertutup. Bima ingin sekali saat ini melihat wajahnya Maudy. Bahkan, untuk menelpon juga sudah tidak bisa.
Lima menit sudah Bima berdiri mematung, memandang rumah yang tak bergerak.
Ah akun sosmed, ya aku yakin pasti Maudy aktif sekarang.
Dengan cepat, Bima melihat akun sosmed milik Maudy, yang masih terpampang jelas photo mereka berdua sebagai profil.
Untungnya yang ini tidak di blokir, kenapa enggak dari rumah tadi ya kepikiran gini, ah. Tapi nggak apa lah, yang penting sekarang bisa jumpai Maudy.
"Sayang, aku mohon keluar lah. Aku ada di depan rumah kamu sekarang." Terkirim, karena Maudy sedang aktif mungkin akan langsung terbaca.
Bima berjongkok dan melihat ke arah rumah, ia mencari yang mana kamar Maudy. Dengan berdoa terlebih dahulu Bima siap mengetuk jendela kamar.
"Bima, sstt!!" Maudy sudah mengeluarkan kepalanya dari jendela kamar, untung saja. Berarti jendela yang akan Bima ketuk adalah jendela ayahnya maudy, oh my God, Hampir saja.
"Kamu ngapain malam-malam kesini Bim? Nanti kalau papa kamu marah gimana?" Melihat ke arah sekeliling. "Kamu naik apa kesini? Jangan bilang jalan kaki? Ya ampun Bima, kamu nekat banget sih." Bima yang merasa terharu, bahagia karena masih bisa bicara dengan Maudy. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya di hadapan Maudy, air mata yang sejak tadi ia tahan. Bahkan di tampar papanya pun ia masih bisa menahan, tapi di hadapan kekaksihnya ini, Bima merasa lemah.
"Bim? Kenapa, kenapa nangis?" Maudy panik sendiri.
"Tunggu aku keluar sekarang."
Menutup Kemabli jendela kamarnya.
"Bu, aku keluar sebentar ya, mau beli cemilan." Terdengar di telinga Bima kalau Maudy pamit ke ibunya.
Tak lama Maudy keluar dan kembali menutup pintu rumahnya, agar ibunya tidak tau kalau saat ini ia menemui Bima di luar, bisa ngamuk nanti kalau tau. Karena ini sudah malam.
"Bim, kamu ngapain?" Bima masih diam dan belum menjawab, yang saat ini ia lakukan hanya memandang wajah Maudy.
Maudy mengajak Bima ke lapangan yang ada di seberang jalan. Duduk di bangku lapangan dengan suasana yang sepi saat ini.
"Sekarang kamu bilang, kenapa, kenapa kamu bisa kerumah aku? Jangan bilang kamu kabur dari rumah?"
Bima mengangguk.
"Enggak lucu tau Bim!!" Langsung membuang pandangan dan membelakangi Bima, dengan melipat kedua tangannya.
Bima langsung menarik Maudy ke pelukannya, sangat erat ia lakukan, Maudy tidak menolak karena jujur ia nyaman saat ini.
"Maaf kan aku Dy, maaf kan papa aku yang udah buat kamu menjauh dari aku, aku mohon jangan menghindar lagi, aku enggak bisa jauh dari kamu Dy, aku mohon, kita berjuang sama-sama, sampai suatu saat papa membuka hatinya untuk hubungan kita. Aku enggak peduli sekarang, aku tetap akan sama kamu Dy, walau nantinya kamu juga bakalan ninggalin aku. Tapi untuk saat ini aku mohon, aku mohon jangan menghindar lagi, aku lemah Dy." Menangis sesegukan di pelukan Maudy.
Apa? Jadi Bima udah tau? Dan, maksudnya apa aku bakal ninggalin dia? Apa dia juga tau kalau nanti aku bakal pergi ke negara lain?
"Bim, maaf. Maaf aku juga salah. Jujur, aku juga enggak bisa jauh dari kamu Bim." Kali ini Maudy yang memeluknya dengan erat.
Ini adalah pertama kalinya Bima memeluk Maudy, memeluk wanita lain selain mamanya. Selama pacaran hanya bercanda soal ciuman atau apa pun. Hanya sebatas chatting dan berjumpa di sekolah. Tapi malam ini, Bima berhasil memeluk Maudy secara langsung tanpa melalui emoticon yang setiap malam ia kirimkan sebelum tidur.
"Janji sama aku Dy, jangan menghindar." Mengelus puncak kepala Maudy dengan lembut.
Maudy mengangguk, ya saat ini ia yakin untuk meneruskan hubungan ini. Menepis semua penghalang di hubungannya, meski itu papa dari Bima sekalipun.
Aku tidak ingin patah hati di cinta pertama ku. Tekat Maudy saat ini.
"Bim, kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa sampai disini?" Bima belum ingin menjelaskan, yang saat ini dia mau, hanya memeluk Maudy sebagai penguat nya. Memeluk Maudy tanpa harus di lihat banyak orang. Di bawah bintang dan kegelapan malam. Bima melepas pelukannya, dan cup ia berhasil mencium wanita yang ia sayangi ini, tanpa harus melalui emoticon saja. Untuk pertama kalinya di hidup Bima dan Maudy.
--__
__ADS_1