Dia Bimaku

Dia Bimaku
Hari yang di tunggu


__ADS_3

Ini yang di repot kan Bima. Hal yang selalu membuatnya ingin menekuk wajahnya sepanjang hari. Terpampang di depan kamera, harus tersenyum semanis mungkin, dan di lihat oleh banyak orang tentunya. Ingin menolak juga percuma karena ini adalah satu keharusan dalam acara resepsi pernikahan, photo bersama keluarga dan pengantinnya. Bukan sekali dua kali, bahkan berkali-kali.


Karena hari ini adalah hari dimana acara resepsi pernikahan mas nya. Megah jangan di tanya lagi. Tamu juga dari kolega bisnis papanya. Satu hari setelah Bima di ajak makan malam di luar, Bima seharian mengurung diri di kamar, menunggu jam 2 tepat untuk Maudy mengabarinya. Itu sakitnya bila berpisah dengan beda negara, soal waktu, siang, malam itu sudah berbeda. Mau tidak mau Bima yang harus ngalah untuk begadang. Alhasil setiap paginya Bima selalu tidak bisa bangun cepat.


Dan ini salah satu akibatnya. Tidak ada semangatnya ketika menghadiri acara pernikahan mas nya sendiri. Ingin sekali rasanya Bima memanggil supir dan mengantarnya pulang ke rumah. Berbaring di kasur yang empuk, memejamkan mata untuk membentuk energi lagi supaya bisa tahan melek malam.


"Kamu begadang terus ya Bim? Lingkar mata kamu sampai menghitam?" Tanya mamanya. "Pasti main game?"


"Nggak ma. Cuma kadang aku komunikasi sama Maudy. Bisanya cuma malam, karena saat itu Maudy ada waktu."


Selain itu juga aku susah tidur kali ma, sering mendengar suara seperti gerangan kucing di kamar sebelah.


"Jaga kesehatan kamu Bima. Mama mengerti kalau kamu juga selalu ingin berkabar dengan Maudy, tapi jangan sampai sakit karena sering begadang." Bima hanya diam di beri nasehat. Matanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi saat ini.


"Ma? Ayo kesana, ada teman papa?" Mengajak istrinya yang sedari tadi hanya duduk dengan Bima. Sementara dirinya sendirian yang berdiri menyambut para tamu yang hadir.


"Bim, kamu ikut. Ada teman papa yang bawa anaknya." Dengan malas Bima ikut berdiri dan mengikuti langkah papanya, pasrah saja dimana papanya akan berhenti nanti.


"Apa kabar Adi? Ini anak kamu?" Bima tersenyum. Itu juga hanya dua detik, setelah itu kembali dengan modenya diam. Bisa di bayangkan ya tersenyum hanya dua detik.


"Ini anak om, namanya Luna. Kamu bisa temani dia kan? Kami para orang tua akan membicarakan soal kerjaan, takutnya Luna bosan." Bima hanya melirik sekilas, tidak berminat untuk menjawabnya.


"Bim?" Kini papanya yang memanggil lalu menggunakan bahasa tangan. Itu juga Bima tau.


"Sudah nggak apa-apa. Cuma teman Bim." Bisik mamanya.


Bima mengangguk saja, toh wanita yang bernama Luna ini tidak akan di ajak bicaranya olehnya.


Luna mengajak Bima untuk duduk yang agak jauh dari keramaian. Dan Luna senantiasa bertanya, sementara Bima hanya menjawab sekenanya.


Luna, anak salah satu pengusaha batu bara, dan pertambangan emas. Luna, juga seumuran dengan Bima. Hanya saja, Luna tubuhnya mungil, bibirnya merah dan bertambah merah saja karena menggunakan lipstick. Rambutnya panjang, di bagian bawahnya ikal, itu juga di bentuk sendiri. Hidung mancung, pokoknya bisa di bilang hampir sama dengan berbie. Tapi bukan Bima namanya kalau tertarik.


"Bima, nanti kamu kuliah dimana?" Luna mulai bertanya lagi.


"Tanya aja sama papa." Bima yang asik sendiri dengan ponselnya.


"Loh kenapa? Kan kamu yang mau kuliah?" Masih penasaran dengan Bima yang menurutnya dingin.


Cewek ini banyak tanyak ya?


"Itu pacar kamu ya Bim?" Melihat Bima mengusap layar ponsel dan menampakkan photo nya bersama Maudy.


"Iya cantikan?" Nah jika di tanya mengenai ini baru Bima semangat. Bahkan ia juga tersenyum, bukan tersenyum dengan Luna. Tapi tersenyum karena pacarnya di sanjung, itu juga dia sendiri yang nyanjung.


"Hem iya." Nampak sekali senyum paksaan dari Luna.


"Udah lama ya kalian pacarannya?"


"Udah 3 tahun." Entah, Bima juga lupa. Yang terpenting sekitar segitu, pikirnya.


"Kamu nampaknya cinta banget sama dia ya?" Bima hanya melirik. Karena untuk itu dia tidak tertarik menjawab. Kalau namanya sudah pacaran pasti ada rasa yang kuat, kenapa harus di tanya lagi.


Bima kembali bersikap cuek, rasanya tidak ingin berbicara terlalu banyak dengan orang asing.


"Hallo Ki?" Lebih memilih menjawab telepon dari Kiki.


"Kamu dimana Bim? Aku udah di depan gedung ini." Ah iya Kiki juga diundang. Jadi dia ya pasti datang.


"Oh, kamu jalan aja masuk. Aku duduk disini, nanti pasti kelihatan. Kalau nggak kelihatan nanti aku panggil kamu."


Keberuntungan Bima, ada sang penyelamat untuknya. Kiki datang, setidaknya bisa menyingkirkan wanita di sampingnya ini.


"Pacar kamu ya yang telepon?" Bertanya lagi.


Bima hanya menggeleng.


"Jadi?" Masih usaha untuk mendapatkan jawaban.


"Bim? Kok kamu disini?" Ah cuma beberapa menit saja ternyata. Mungkin Kiki nggak berjalan, tapi berlari.


"Iya bosan disana." Jawabnya dan mempersilahkan Kiki untuk duduk.


"Ini siapa? Saudara kamu ya?" Kiki langsung menjabat tangan memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Bukan, itu anaknya teman papa aku."


"Oh." Kiki hanya menjawab dengan itu.


"Eh Bim, gimana kamu udah tau kabar Maudy disana kan?" Luna sepertinya sangat tertarik untuk menguping. Mendengar nama Maudy, sepertinya itu nama pacar Bima, batinnya.


"Iya. Tapi kami jarang komunikasi sekarang. Itu juga karena perbedaan waktu."


"Ih, enak tau dia disana Bim? Dia juga udah belajar nyetir mobil sekarang? Katanya sih om nya yang suruh, karena nanti kuliah Maudy harus bawa mobil sendiri."


Ha? Cuma bawa mobil aja di bilang enak?


Luna menaikan sudut bibirnya.


"Iya Ki? Memangnya Maudy sering ya telepon kamu?"


"Nggak juga sih. Soalnya kan dia juga sibuk. Ya sama lah Bim seperti kamu. Kenapa? Takut ya kalau Maudy lebih sering ngabarin aku?" Kiki mulai menggoda Bima.


Oh, jadi pacarnya di luar negeri gitu toh?


"Iya lah Ki. Kamu nggak makan? Ayo aku antar?" Kiki mengangguk. Tanda setuju atas tawaran Bima. Lalu Luna gimana? Iya mereka tinggal begitu saja. Kiki juga tidak terlalu peduli, lagian Luna juga kelihatannya sombong.


"Bim, itu tuh siapa sih?" Setelah berjalan meninggalkan Luna.


"Tau, namanya juga aku lupa." Asli Bima tidak ingin menghafal nama perempuan lain.


"Udah tuh, kamu ambil. Aku nunggu disini ya?" Sudah sampai di dekat meja hidangan.


Baru saja Bima duduk Luna sudah datang dan ikut duduk di sampingnya. Bima mendengus dalam hati. Risih rasanya jika ada wanita yang modelnya begini.


"Bim, kok aku di tinggal sih?" Gerutunya.


Lah, emangnya kamu siapa? Harus ngajak segala.


"Bim, tadi itu siapa?" Luna yang masih saja terus bertanya. Tidak melihat wajah Bima sudah mengeluarkan aura dinginnya.


"Teman aku." Jawabnya singkat.


"Oh. Aku kira itu pacar kamu. Hem, ternyata pacar kamu nggak disini ya?" Menoleh ke arah Bima. Bima tau saat ini Luna sedang menatapnya dan Bima hanya bisa menunduk. Baginya hanya Maudy, Maudy, Maudy dan Maudy. secantik apapun wanita di sampingnya ini, tidak akan membuatnya terbiasa untuk selalu berbicara.


"Kenapa dia ikut sih Bim?" Mengirim pesan ke Bima. sebelum menyentuh makanannya di atas piring.


"Tau, biarin aja." Bima membalas.


"Hati-hati tau Bim. nanti bisa di jodohkan sama dia kamu?" Kiki membalas lagi lalu tertawa.


Luna mulai terusik, pasalnya ia melihat Kiki dan Bima sama-sama tersenyum ketika membuka pesan. Sementara dirinya hanya bisa diam, tidak tau juga mau ngomong apa lagi. Setiap bertanya Bima juga kadang menjawab, kadang tidak.


***


Musik mulai mengalun dengan merdu, diva sengaja di undang. Ini juga akan membawa reputasi baik di mata rekan bisnis kedua belah pihak mempelai. Kiki sudah pamit pulang, begitu juga dengan Luna. Entah dimana dia sekarang setelah di tinggal kan Bima dengan alasan mengantar Kiki ke depan.


"Ma, aku boleh pulang duluan nggak?" Setelah melihat banyaknya tamu yang datang Bima semakin risih dengan keadaan ini. Ada lagi rekan bisnis papanya yang datang membawa anaknya, takut kalau akan di kenalkan lagi.


"Kenapa Bim? Inikan acara mas kamu, kamu jangan gitu lah Bim." Ada benarnya apa yang di katakan mamanya.


"Ma, tapi kepalaku benar-benar pusing ma?" Bima memberi alasan. Dengan terpaksa mamanya menyampaikan kepada papanya. Jika sudah menyangkut kesehatan Bima papanya tidak berani untuk melarang. Ah Bima kamu pandai ternyata, kenapa tidak menggunakan alasan ini saja setiap saat? Tidak, Bima tidak bisa berbohong untuk kondisinya.


Bima pulang dengan di antar supir. Ia juga tidak berbohong mengatakan soal kepalanya sakit. Itu memang benar dirasakannya. Sampai di rumah Bima langsung masuk kamar dan meminta salah satu pembantu membuatkan teh hangat untuknya.


Sampai larut Bima tak kunjung bangun, padahal ia tidur sejak sore hari. Mamanya juga tidak kepikiran untuk melihat kondisi Bima. Pasalnya keluarga juga lelah hari ini, dan bagaimana dengan Rio? Mereka juga langsung masuk kamar, apa lagi besok adalah hari keberangkatan mereka bulan madu. Bukan, bukan bulan madu, tapi lebih tepatnya hanya menyenangkan hati Bima.


***


"Bima mana ma?" Pagi ini, sekitar pukul 8. Rio dan juga Siska sudah bersiap. Mereka mengambil penerbangan yang tidak terlalu pagi. Karena lelah semalam belum hilang, jadi tidak mungkin bisa bangun dengan cepat.


"Ya ampun, mama lupa. Kemarin dia pamit pulang duluan karena kepalanya pusing. Kata bibi sih Bima nggak ada keluar kamar lagi setelah pulang. Sebentar mama panggil dulu." Rio sudah mendengus, pasti akan telat mengenai keberangkatannya nanti.


"Bima?" Mamanya mengetuk pintu terlebih dahulu, karena memang pintu dalam keadaan terkunci.


"Bim?" Mengeraskan suaranya.


Ceklek..

__ADS_1


Suara pintu terbuka.


"Iya ma?" Dengan wajah lesunya sehabis bangun tidur.


"Loh Bim? Kamu baru bangun? Mas kamu sama kakak ipar udah nunggu di bawah Bim. Kamu jadi ikut nggak sebenarnya?" Bima langsung membulatkan matanya.


"Ma, sebentar aku mandi." Langsung menutup pintu. Secepat kilat Bima berlari, mandi juga hanya 5 menit. Yang penting sudah terkena sabun dan gosok gigi.


Ya ampun, aku belum berkemas. Gimana ini!!


Panik ketika melihat isi kopernya masih kosong.


"Bima, cepetan lah!!" Suara teriakan Rio mulai terdengar.


"Sebentar lagi kemas." Tak kalah lantang Bima berteriak. Sambil mengambil baju dan keperluan lainnya. Seharusnya Bima bisa menyerahkan ini pada salah satu ART yang ada di rumah. Tapi Bima tidak bisa melakukan hal itu, baginya ini privasi. Apa lagi bakal kelihatan ada sangkar burung nantinya. Tidak terpikirkan oleh Bima.


"Bim, udah! Kamu bawa aja ponsel sama charger. Nanti pakaian bisa beli Bim. Waktunya udah mepet loh Bim!!" Ingin sekali rasanya Rio langsung menyeret Bima keluar. Tapi Bima tak menghiraukan, ia masih terus menyusun pakaiannya.


Kenapa kepala ku sakit sekali sih? Ih kirain bakal hilang setelah tidur begitu lama.


Beberapa menit kemudian Bima turun membawa koper miliknya. Di bawah seluruh keluarga sudah menunggunya. Terutama Rio, ia sudah menatap adiknya seperti ingin menelan hidup-hidup.


"Bim? Kamu sakit? Kenapa wajah kamu pucat sekali?" Ini lagi, mamanya kenapa harus bicara begitu, padahal ada papanya disini.


"Nggak ma." Suaranya juga berbeda.


"Bima, kamu lebih baik nggak usah pergi. Semalam kamu juga minta pulang lebih dulu kan karena kepala kamu pusingkan?" Bima langsung mematung.


Sementara Rio dan Siska saling tatap.


"Tapi pa. Aku udah enakan sekarang?" Mencoba untuk membela diri.


"Nggak! Jangan karena kamu mas mu dan kakak ipar jadi repot!" Bima melemas.


Ini gara-gara mama, kenapa harus bilang gitu tadi ah!!


Untuk pertama kalinya Bima menyalahkan mamanya. Sangat berdosa memang, hanya karena kesalahan kecil Bima melupakan seribu kebaikan.


***


"Ah ya ampun, Bima kemana sih? Aku telepon dari semalam kenapa nggak bisa!!" Membanting ponsel. Duduk secara kasar di kasur.


"Kak mo?" Suara ketukan pintu.


"Ya Bian, masuk aja nggak di kunci." Sekarang menopang dagunya dengan tangan, wajahnya juga terlihat lesuh.


"Kak, kenapa?" Bian ikut duduk disampingnya.


"Nggak. Ada apa kamu kesini Bi?" Pasti ada hal yang ingin disampaikan jika Bian sampai datang ke kamarnya.


"Tadi kata papi besok kakak mau pergi ya?" Maudy mengangguk.


"Aku ikut ya kak?" Langsung membuat permintaan.


Nggak Bian nggak Bima! Sama aja, selalu cari kesempatan buat ikut kalau orang mau keluar. Memang ya, kasian sekali kalian.


"Kak, ya?" Menggoyangkan lengan Maudy.


"Iya-iya. Coba kamu ceritakan, sebenarnya papi kamu tuh memang selalu ngelarang kamu kalau mau keluar ya?" Maudy bertanya dan menoleh ke arah Bian.


"Iya kak. Sebenarnya papi nggak larang, kalau papi larang hanya kalau aku tuh bawa mobil. Karena kan umur ku masih anak-anak, belum punya SIM. Kalau itu tuh kan wajah sih kak, nah yang terlalu takut aku keluar tuh mami kak. Karena mami tau sendiri, gimana teman-teman aku disini, semuanya liar. Umurnya masih muda juga udah kenal alkohol. Pernah juga mami suruh aku untuk pulang ke Indonesia, biar sekolah disana aja. Tapi papi nggak ngasih." Terangnya.


"Terus, om Wisnu nggak pernah bela kamu gitu?"


"Pernah kak, cuma kan memang semua yang di katakan mami benar. Jadi ya papi setuju-setuju aja."


Ah kalau om Wisnu ya aku masih berani sih buat bilang kalau jangan terlalu kekang kamu, ini sih mami kamu Bian, takut ah.


"Sekarang kakak tanya, kamu keberatan nggak kalau diberi aturan untuk tidak keluar rumah?" Sengaja bertanya seperti ini, karena niat Maudy hanya membandingkan hidup Bima dan Bian. Anak orang kaya yang sama-sama tidak bisa bebas.


"Nggak kak mo, lagian juga kalau bosan aku bisa ke resto, duduk disana melihat para koki memasak. Atau nggak bantu yang lain. Jadi ya nggak terlalu bosan." Sambil tersenyum Bian berkata.


Ah beda Bim sama kamu. Kalau kamu terlalu pemalu, kalau adik tampan ku ini cerdas dia mah, bisa memanfaatkan situasi.

__ADS_1


--__


__ADS_2