
Semuanya masih baik saat ini, sebelum harus berpamitan pulang pada sang pemilik acara. Maudy berinisiatif untuk tidak usah pamit, cukup memberi selamat saja kepada mas Rio.
Naik, beri selamat, lalu turun langsung pulang.
"Ya begitu saja."
"Apanya yang begitu Dy?"
Maudy membisikan idenya itu. Dan untungnya Kiki setuju.
"Sekarang Dy?" Maudy hanya menjawab dengan anggukan.
"Bim, aku pulang ya?" Sampai lupa kalau ada Bima.
"Sekarang?" Melihat sekeliling mencari keberadaan papa dan mamanya. "Sebentar, aku panggil mama aku dulu ya?"
"Eh enggak usah Bim, nanti kita aja yang samperin." Maudy menghela nafas lega, untungnya Kiki pintar kalau di ajak kompromi.
"Oh gitu, ya udah."
Bima masih menunggu, saat ini Maudy dan Kiki sudah berjalan mendekat ke arah Rio dan tunangannya.
"Selamat ya mas Rio." Memberikan senyum terbaik dan ramah.
"Makasih ya kalian udah datang, ini kenal kan Siska." Berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
Sepertinya baik, eh tapi kata Bima dia mau kenalin mas nya ke aku, lah ini udah sama orang lain aja. Tunangan lagi. Sayang sekali, si tampan udah ada yang punya hem.
Kiki melow sendiri menatap wajah Rio, Maudy menyikut lengannya agar sadar bahwa wanita yang ada di hadapannya ini tampak risih karena tunangannya di pandang seperti itu.
"Kamu apaan sih Mandang mas Rio sampe segitunya!" Gerutu Maudy setelah berjalan menjauh.
Bima masih setia menunggu disana, ditempat mereka tadi duduk. Tapi tunggu, mamanya juga sudah ada disana, berarti tadi dia beneran manggil? Batin Maudy berspekulasi.
"Tante, kita pamit pulang ya, udah malam juga."
Langsung menyalim dengan sopan. Ini nih cara terbaik supaya di pandang anak baik ya.
"Oh iya, hati-hati. Sebentar, Tante panggilkan om Adi ya." Tanpa menunggu persetujuan lagi, langsung bersiap memanggil suaminya.
"Eh tante-tante. Om Adi lagi ngobrol sama temannya, enggak usah lah Tante. Yang penting kan udah pamitan sama Tante. Enggak enak nanti kalau ganggu om Adi."
Kiki kamu memang yang terbaik.
Lain hal yang di pikirkan Bima.
Hahaha kalian takut ya sama papaku, ternyata dari tadi sengaja menghindar.
"Oh iya ya."
Kedua kalinya menghela nafas lega selama di acara ini.
Di dalam perjalanan gelak tawa terdengar oleh mereka sendiri, karena mereka yang tau hal apa yang saat ini mereka tertawakan. Menghindar dengan cara ini tuh menurut mereka lucu, belum siap aja kalau bertemu lagi. Dan itu tentu berasal dari Maudy, kalau Kiki santai sebenarnya.
"Kamu tau nggak, kita tuh kayak main kucing-kucingan. Tau deh om Adi nya nyadar atau nggak." Tertawa lagi. Hingga tanpa sadar sudah sampai tujuan, yakni rumah Maudy.
"Kamu nggak mampir Ki?" Menawarkan, basa-basi lah setidaknya walaupun udah malam. Tentu Kiki menolaknya mengingat ini udah jam 10 malam, besok juga harus sekolah lagi.
"Baju kamu nanti aku balikan ya kalau udah di laundry."
"Itu aku belikan tadi, bukan bekas aku, iya kali kamu pakai bekas aku."
"Wah, beneran? Cantik sih, tapi lucu aja aku yang pakai. Besok aku traktir kamu sepulang sekolah ya, kita minum es kelapa muda yang ada di lapangan bola."
Menutup kembali pintu mobilnya. Dengan perasaan senang di hari ini, bukan senang karena mendapat baju, bukan. Senang karena berhasil menghindari untuk bertatap muka dengan om Adi.
Mungkin tadi bakal di usir kali ya, eh tapi kan kata Tante Lisa memang papanya ngasih ijin kan kalau kami datang.
Sampai di depan pintu rumahnya ia masih saja terus tertawa kecil.
"Bu, aku pulang." Membuka dan kaget. Ibu, ayah, dan adiknya sedang duduk begitu melihatnya pulang mereka bertiga langsung menyergah dengan pernyataan.
"Mbak, makanannya enak-enak nggak tadi?"
"Dy, gimana? Orang tuanya galak nggak?"
__ADS_1
"Ada menu ikan bakar tadi Dy?"
Maudy terdiam, bingung mana dulu yang harus di jawab. Dan dengan rasa penasaran yang sangat besar di keluarga nya ini, mereka tak membiarkan Maudy memasuki kamarnya. Harus cerita dulu, masih kekeh tuh keluarga sama pertanyaan nya.
Dengan sedikit mendongengkan, Maudy duduk dan bercerita, mulai dari suasana dekornya, tamunya, makanannya, dan kemudian mengeluarkan plastik hitam dari dalam tasnya.
"Apa ini?" Tanya ibunya dan mencium aroma apa yang ada di dalam.
"Buka aja kali Bu." Nampaknya semua memang sedang menunggu.
"Apa ini? Cuma puding?" Protes ayahnya. "Kira ayah ikan bakar." Oh ya ampun, hanya itu menu favorit nya kali ya.
"Ya mana ada lah yah ikan bakar disana, yang ada itu daging panggang, atau biasa di bilang steak."
"Iya ayah tau Dy kalau steak. Jangan anggap kita susah amat lah, ayah juga sering bawa kalian pergi jalan-jalan makan di restoran mewah kalau gajih ke 13 ayah keluar."
Kembali meletakan plastik berisi puding itu, entah apa yang merasuki Maudy sehingga mau saja menerima usulan dari Kiki yang berkata lebih baik di bawa pulang.
Sebenarnya Maudy itu enggak udik, makanan mahal juga sering ia makan kok. Hanya saja, memang kali ini ia melihat itu tuh unik, dan rasanya berbeda dengan puding yang biasanya ia beli atau ibunya yang buat. Itu juga salah satu sifatnya yang disukai Bima, Maudy nggak pernah jaim.
"Udah ah jangan bahas makanan dulu, kita bahas bagaimana sih mamanya Bima itu, atau papanya. Kalau dulu sih sewaktu ibu masih bekerja, papanya ya baik. Nggak pelit gitu sama karyawan."
"Beneran bu?" Malah ia yang antusias mendengarnya.
"Iya, apa kamu belum ketemu sama papanya Bima?"
Udah lah bu. Malah menghindari lagi, bahkan di ancam juga pernah bu haha. Pahit deh kisah cinta anak ibu ini.
"Ketemu sih, cuma soal sifatnya ya belum tau lah. Namanya juga baru ketemu, ibu sendiri aja yang ngelahirin aku belum tentu tau jelas sifat aku bagaimana kan?"
"Iya juga sih."
Maudy kemudian menjadi pendongeng yang baik, dan ayah ibunya menjadi pendengar yang baik. Sementara Tisha lebih memilih masuk ke kamarnya untuk tidur. Ngantuk dengerin cerita orang dewasa katanya.
"Jadi Dy, mamanya tau nggak kalau kamu pacarnya Bima?"
Nah, harus jawab apa coba.
"Bu, jangan bahas hubungan dulu." Ayahnya melarang.
Malam semakin larut, untungnya detak jam dinding mengingatkan, dengan suaranya yang berbunyi setiap pindah ke detik berikutnya. Sehingga para manusia yang tak henti-hentinya membahas keluarga Adi Nugroho memutuskan untuk tidur.
Sementara di tempat lain.
"Uhukk, uhukk." Terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah.
"Pa, kenapa?" Tanya istrinya yang khawatir.
"Nggak tau ma. Tiba-tiba aja tersedak."
"Ada yang ceritain papa nih, ah apa tadi masakan kita ada yang nggak enak ya pa. Jadinya mereka membahas nya ketika sudah di rumah."
***
"Dy, bangun Dy." Menggedor pintu kamar anaknya dengan sangat kencang. Padahal masih jam 4 pagi.
"Iya bu sebentar." Melihat ke arah jam dinding. Masih jam 4? Kenapa cepat sekali, pantas aja alarm aku belum hidup.
"Iya bu. Kenapa, kan masih pagi?" Melihat ibunya sudah menjatuhkan air matanya dengan deras.
"Ibu kenapa?" Langsung panik.
"Nenek meninggal Dy, jam 3 pagi tadi. Ibu harus berangkat kesana sekarang." Bagai di sambar petir di pagi hari, berita yang membuat keluarganya lemas.
Setelah ibunya pergi, Maudy langsung mandi dan bersiap untuk segalanya. Membawa beberapa pakaian, ia yakin pasti menginap, karena perjalanan jauh ke kampung.
Nenek, ada lah ibu dari ibunya. Hanya beliau orang tua satu-satunya dari ibu yang masih ada. Kalau dengan ayahnya memang sudah meninggal semua. Dan ayahnya juga asli orang kota ini, lahir dan besar di kota ini. Berjodoh dengan ibunya, karena bertemu di tempat rekreasi. Tanpa sengaja, dan akhirnya menikah. Itu namanya jodoh ya.
"Bu, aku udah siap." Melihat ayah, ibu dan adiknya sudah berkumpul.
"Lah, memang ibu ada bilang kalau kamu harus ikut?" Menatap wajah suaminya.
"Dy, kamu berani kan kalau di rumah sendiri dulu? Ibu sama ayah tiga hari disana, Tisha ikut. Rumah jangan sampai kosong, kamu juga nggak bisa libur selama itu, kamu kan bentar lagi ujian. Kamu doakan saja nenek dari sini." Dengan lembut ayahnya memberi penjelasan, dan semoga putrinya itu dapat mengerti.
Air matanya tak tertahankan langsung tumpah, sedih tidak bisa hadir. Tapi semua yang di katakan ayahnya benar. Kalau rumah disini jangan sampai kosong terlalu lama. Bakal ada maling yang masuk nanti, pasti itu.
__ADS_1
"Kamu nggak takut kan di rumah sendiri? Atau nggak minta Kiki menginap, biar ibu telepon orang tuanya. Gimana? Biar kamu ada temannya?"
Usul yang sangat baik menurut Maudy. Untungnya kedua orang tua mereka mengenal.
Pukul 5 tepat mereka berangkat dengan mobil kijang ayahnya. Maudy kembali menutup pintu, setelah ibunya selesai berbicara dengan tetangga sebelah rumah. Untuk melihat Maudy selama ia tinggal beberapa hari.
Maudy masuk ke kamar berniat akan memberi kabar ke Bima. Tapi, semua ia urungkan. Lebih baik nanti saja berbicara setelah sampai di sekolah, pikirnya.
***
"Dy, kata papa aku tadi ibumu menelpon ya, nyuruh aku nginap di rumah kamu selama mereka pulang kampung?" Menghampiri Maudy yang lebih dulu sudah berada di dalam kelas. Duduk dengan mata yang masih terlihat sembab.
"Yang sabar ya Dy?" Memeluk sahabatnya itu.
"Makasih ya Ki." Mengelus tangan yang melingkar di tubuhnya.
"Jadi batal deh minum es kelapanya."
Ya ampun, sempat-sempatnya masih ingat juga.
"Jadi kok Ki kamu tenang aja."
"Kamu serius, tapi kamu kan masih berduka Dy?"
"Iya bukan berarti berduka kan aku harus ngurung diri di rumah kan? Oh iya, kamu sudah bawa baju kan? Biar sekalian gitu, nggak pulang ke rumah lagi."
"Belum sih, tapi nanti aku suruh supir papa buat antar ke rumah kamu juga bisa?"
"Iya ya, enaknya yang punya supir ya."
"Atau enggak, nanti kamu ikut aku pulang dulu kerumah, gimana? Sekalian kamu ketemu mama aku, udah lama kan nggak kesana. Mumpung mereka juga ada di rumah."
Asik berbincang sendiri, tanpa tau sedari tadi sudah berdiri seseorang di belakang mereka. Yang mendengar semua percakapannya.
Jadi Maudy di tinggal di rumah sendirian, atau apa sih. Aku ketinggalan topik yang utama. Kalau aja tadi datangnya lebih cepat. Huh, ini gara-gara acara semalam, jadi kesiangan.
"Apa aku boleh duduk sekarang?" Mengintip dari balik tubuh Kiki.
"Bim, kamu udah datang?"
"Dari tadi, tapi kalian asik sendiri. Nggak nyadar kali ya kalau ada aku disini."
"Ya maaf atuh Bim." Menggeser dari tempatnya agar Bima dapat duduk.
"Kalian mau pergi kemana?" Bertanya dengan lembut dengan Maudy.
Maudy menatap mata Bima. Ada butiran yang siap jatuh saat ini.
"Kenapa?" Menggenggam erat tangan Maudy di bawah meja.
Dan itu memang harus Maudy ceritakan. Bima juga ikut merasakan kepedihan yang di rasakan Maudy saat ini.
"Kamu yang sabar ya. Mau aku peluk?" Maudy mengangguk. Dengan cepat Bima mengeluarkan ponselnya. Iya sedikit membungkukkan tubuhnya ke bawah meja. Entah apa yang akan dilakukannya kali ini, Maudy hanya memperhatikan saja, tidak ingin protes sekarang.
"Buka ponsel kamu."
Maudy yang bingung langsung melihat ponsel, ada notif disana yang tertera dari Bima.
"Sayang, sabar ya. Kuat ya, kamu kan memang kuat. Aku cinta kamu banyak-banyak Maudy Ambar Sari, emuah."
Suara halus dan lembut. Dan di akhiri dengan banyaknya emoticon peluk. Ternyata Bima merekam suaranya lalu mengirimnya ke Maudy, apa susahnya coba tinggal bilang, kenapa harus nunduk ke bawah meja segala. Ya ampun Bima.
Maudy tertawa, iya dia tertawa melihat Bima. Bima yang kaku kepada orang lain, pemalu. Tapi mampu bertingkah aneh dengan Maudy. Dan itu unik menurutnya. Bahkan di keadaan seperti ini Bima mampu membuatnya tersenyum.
Bagaimana aku nggak makin cinta sama kamu Bim.
"Makasih sayang." Panggilan yang jarang sekali di ucapkan Maudy. Yang menurut Bima akan terucap jika Maudy merasa senang, bahagia ketika bersamanya.
"Panggil aku dengan sebutan sayang setiap hari, supaya aku lebih semangat menentang papa, untuk hubungan kita." Bisik nya lembut di telinga Maudy.
Entah kenapa aku pengen peluk kamu sekarang Bim.
Tak menghiraukan suara riuhnya kelas, tak menghiraukan siswa dan siswi yang selalu bertingkah aneh, ada yang kejar-kejaran karena menagih uang khas kelas. Ada yang tidur di atas meja sambil menunggu guru yang datang. Ada yang joget dan membuat video tik tok. Ah nikmatnya suasana sekolah. Tapi itu semua tidak pernah mereka hiraukan, dan sekarang Bima mengeggegam erat tangan Maudy dengan pandangan lurus ke depan. Menatap guru yang telah datang bersiap memulai pelajaran di pagi ini.
Aku cinta kamu, setiap hari, detik dan setiap jam. Aku cinta kamu Maudy, titik! Aku berjanji tidak akan melepas kamu walaupun harus bertentangan dengan papa.
__ADS_1
--__