
Hari-hari Maudy selalu di sibukkan, mulai dari kuliah, tugas resto ah semuanya. Tapi dia sedikit beruntung, karena hal ini menjauhkannya dari dunia percintaan. Sampai tak terasa bahkan beberapa tahun sudah berlalu, tinggal terhitung dengan bulan Maudy akan mendapat gelar sarjana, dan akan kembali lagi ke tanah air. Berkumpul kepada keluarga tercinta, menemukan kehangatannya lagi. Lalu bersiap untuk mengumpulkan modal usaha yang akan ia bangun nantinya.
Malam ini gerimis turun, membahasi kaca jendela di kamarnya. Sehingga padangannya untuk menatap keluar menjadi kabur. Maudy sudah rapi dan dia sudah mahir dengan soal memoles wajahnya. Berbeda, sungguh jauh berbeda dengan Maudy yang dulu. Itu semua paksaan, jangan di tanya ini ulah siapa. Pasti tantenya. Ah ayah sama ibu kamu pasti bakal kaget liat anaknya sekarang makin cantik. Hal yang selalu ia dengar setiap harinya.
Tap. Tap.
Suara langkah kakinya menuruni anak tangga jelas terdengar. Tidak ada aktivitas di dalam rumah yang amat megah ini. Paling hanya seorang ART yang kalau malam begini mereka pun juga sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Semua keluarga akan sibuk di resto kalau di jam sekarang.
Tugas menumpuk mengharuskan ia sedikit terlambat untuk ke resto. Omnya tentu sudah memakluminya, apa lagi bulan depan Maudy harus mulai menyusun sekripsi. Semenjak hari itu, hari dimana ia harus terpisah dengan Bima. Maudy tidak lagi ingin membuka hatinya untuk orang lain. Bukan berarti ia masih berharap lebih dengan Bima. Tapi satu hal, ia masih ingin berjumpa dengan Bima suatu saat, menunggu penjelasan atas hubungan mereka. Yang kandas tanpa ada kata, yang kandas tanpa ada memutuskan. Berpisah begitu saja, berpisah karena beda negara dan waktu.
Huh.. Maudy mulai menarik nafas. Melihat ke sekeliling resto. Yang ia pikir karena gerimis datang akan jadi penyebab pengunjung sepi. Tapi tidak, justru malah lebih ramai dari biasanya. Bahkan sudah tak terlihat lagi dimana ada meja yang kosong.
"Dy, kamu bantu order aja. Ada yang belum sempat memesan. Pelayan semua kewalahan." Maudy mengangguk dan langsung menyambar salah satu buku menu.
Meja yang masih kosong belum terisi makanan semua ia datangi. Bertanya dengan sopan, menunduk lalu pergi ketika mereka menjawab sudah memesan tinggal menunggu makanan datang. Senyum selalu ia tebar, guna memberikan kenyamanan bagi pembeli yang siap mengisi perut di resto omnya.
"Silahkan, mau pesan apa?" Meletakkan buku menu di hadapan pembeli, setelah tadi ia di panggil untuk mereka order.
Dengan cekatan mencatat ketika pembeli sudah mulai menyebut apa yang ingin mereka makan. Setelah itu langsung berjalan ke arah dapur resto, menggantungkan catatan yang sudah di pesan. Lengkap dengan nomor mejanya.
"Permisi, apakah anda sudah pesan?" Menegur dua laki-laki yang sama-sama menunduk bermain ponsel.
"Oh iya." Maudy menutup mulutnya, terjadi yang kedua kali setelah beberapa tahun lalu. Tapi, kenapa pria di hadapannya ini tampak biasa saja? Batinnya.
"Silahkan." Menyerahkan buku menu, kali ini tanpa senyuman, sebab ia masih berperang pada pikirannya sendiri.
"Sudah itu aja ya mas?" Menggunakan bahasa Indonesia. Lama sosok ini menatap Maudy. Hingga akhirnya mengerjab dan mengucek matanya.
"Maudy?" Maudy langsung tersenyum. Tapi melirik ke samping, laki-laki yang tepat duduk di hadapannya menunduk, ia juga menggunakan topi. Jadi tidak terlihat wajahnya.
Apa ini Bima? Ah tapi kalau Bima kan agak kurusan, dan lagi nggak terlalu gagah seperti ini.
"Mas Rio sehat?" Maudy mulai menjabat tangan.
"Sehat." Jawabnya dan kembali membalas senyuman Maudy.
"Mas sama siapa kesini?" Ah sengaja bertanya agar tidak penasaran dengan lelaki yang di hadapan mas Rio.
"Oh ini sama klien. Mau ngomongin bisnis disini." Melirik lagi. Tapi tetap pria itu masih fokus terhadap ponselnya.
Kenapa jantungku berpacu lebih cepat sekarang?
"Sebentar ya mas. 15 menit makanan akan di antar pelayan. Permisi." Sudah tak ingin berlama-lama. Lagian Rio sibuk akan membicarakan bisnis. Tidak mungkin ikut duduk tanpa di suruh. Padahal Maudy merasa ini kesempatannya untuk menanyakan banyak hal yang dia tidak sama sekali tau.
Maudy kembali berjalan melihat meja yang kosong. Ia sudah tak lagi melihat atau melirik Rio. Dengan cekatan berpindah-pindah. Pengunjung yang datang makan, selesai langsung pergi, dan masuk lagi pengunjung yang lain. Sepertinya sampai larut Maudy akan mengelilingi setiap sudut resto dengan memeluk buku menu.
Gila, itu Maudy cantik banget. Ah bakal nyesel kamu Bim kalau begini. Aku aja sampai nggak tanda!
Rio memerhatikan gerak-gerik Maudy dari tempatnya. Melihat Maudy yang menebar senyum, menunduk sopan. Seperti seorang manusia yang tidak memiliki beban.
"Dy. Bisa minta nomor ponsel kamu?" Rio sudah mengeluarkan ponsel miliknya. Tentu Maudy akan bertanya untuk apa? Apa Bima yang minta?
"Makasih ya. Kamu bakal pulang kan ke Indonesia?" Tanyanya sebelum pergi.
"Iya mas. Mungkin terhitung beberapa bulan lagi. Kenapa mas?" Wajar jika ia bertanya, karena perasaan ini sungguh mengganjal. Apa karena Bima? Ah masih saja nama itu tidak bisa di hapus oleh hari dan tahun yang sudah berlalu.
"Nggak. Nanti kalau udah pulang, kalau mas undang datang ya?"
Maudy semakin penasaran. Undang? Undangan maksudnya? Oh jadi Bima menikah!
"Tenang, cuma acara syukuran anak kedua mas lahiran nanti. Ya semoga kamu udah pulang." Seperti tau apa yang di pikirkan Maudy.
Oh syukur lah! Ah aku berharap apa sih sekarang.
"Mas duluan ya?" Maudy mengangguk dan dia juga melangkah pergi. Melihat jam di tangannya sepertinya sebentar lagi juga waktunya ia kembali ke rumah.
Melihat pembeli yang mulai sepi, Maudy ikut membantu membereskan meja. Baginya apapun di lakukan disini, membantu di bagian apa saja dia sudah siap. Dan selama beberapa tahun disini banyak ilmu yang di ambil. Seperti memasak, di ajarkan langsung dari chef yang bekerja di resto milik omnya.
"Mo, udah kamu balik aja ke rumah. Udah malam. Besok kamu lagi kan?" Ah ternyata omnya mengerti.
"Nggak om, masih libur kok. Nggak apa ini nanggung." Omnya langsung mengambil serbet yang di pakai untuk membersihkan meja.
__ADS_1
"Ini bukan tugas kamu, udah sana om tau kamu lelah." Tak bisa menolak, ini juga keberuntungan tidak harus menunggu resto tutup sudah kembali ke kamarnya, merebahkan tubuh dan mengaduh kejadian hari ini pada langit-langit kamar.
***
Saat mata akan terpejam karena lelahnya menjalani hari dering ponsel menganggu. Sehingga mata harusnya sudah menutup kembali terbuka lebar karena kerasnya suara dari ponsel.
Kiki? Untuk apa telepon malam-malam?
"Ya? Apa?" Berhenti sejenak mendengar Kiki menjawab.
"Apa?? Serius? Oke baik besok pagi aku kesana, tunggu ya." Meletakkan kembali dan langsung menonaktifkan ponselnya. Takut kalau tidurnya akan terganggu lagi.
***
Di sebuah kamar hotel mewah bintang lima. Hotel khusus untuk para pengunjung yang dari kalangan atas. Di dalam sinilah kedua lelaki dewasa beradu argument.
"Kamu serius terima tunangan itu?" Suara berat yang terdengar dan bercampur frustasi.
"Dia baik selama jauh dari aku!" Makin emosi mendengar jawabannya.
"Ah terserah! Jangan menyesal!" Membanting pintu dengan keras dan berjalan keluar tak tau kemana arah tujuannya. Yang penting tidak lagi berdebat dengan orang yang keras kepala.
***
"Kak mo? Kakak mau kemana?" Melihat jam masih pukul 8 pagi.
"Ah kakak mau ketemu teman kakak, Kiki. Dia ada disini." Tersenyum membayangkan ulah Kiki yang setahun sampai dua kali berkunjung ke negara ini hanya untuk melihat keadaannya. "Kenapa Bian?" Bian yang semakin tampan saat menginjak SMA.
"Aku ikut ya kak?" Langsung bergelayut manja.
"Pamit dulu sama mami kamu." Seperti Maudy tidak keberatan.
"Sebentar kak, kakak tunggu ya?" Maudy mengangguk lalu berjalan ke arah garasi mobil. Siap untuk memanaskan mesin.
Bian kembali membawa kabar gembira, maminya mengijinkannya untuk pergi bersama Maudy.
"Kamu kenapa nggak masuk hari ini?" Setelah berada di dalam mobil.
"Nggak bisa gitu juga kali Bian. Itu tuh penting buat pendidikan kamu." Bian tau pasti akan mendengar nasehat di pagi hari. Ia hanya bisa mengangguk saja ketika Maudy memberinya nasehat.
30 menit mobil sudah sampai di halaman hotel. Tempat Kiki menginap. Seperti biasa ketika akan memasuki hotel, selalu ada prosedur.
"Permisi.." Maudy langsung mengeluarkan KTP miliknya.
Setelah itu ia berjalan dengan Bian yang selalu menggandeng lengannya.
Eh ini bukan ya? Tadi 108 atau 109 ah aku lupa.
Maudy langsung mengeluarkan ponselnya, untuk kembali menghubungi Kiki.
"Kenapa kak?" Melihat Maudy yang bingung.
"Nggak aktif ponselnya." Mendengus kesal.
"Coba aja pencet belnya, kalau yang keluar bukan kak Kiki kita tinggal minta maaf." Ah Bian kamu pintar. Maudy langsung memencet bel berulang-ulang. Dan berbalik badan, menunggu Kiki membukakan pintu.
"Siapa?"
Loh kok suaranya laki-laki?
Maudy langsung meringis berarti ia salah kamar. Bian berbalik lebih dulu.
"Maaf mas, kami salah." Ucapnya Bian dengan sopan.
Merasa tak enak Maudy juga ikut berbalik, siap menunduk meminta maaf menganggu ketenangan orang lain.
"Maaf ya mas eh." Ketika mendongak melihat wajah yang sangat ia kenali. Wajah yang sudah bertahun-tahun menghilang dari pandangannya. Senyumnya langsung hilang begitu saja.
"Siapa Bim?" Langsung melihat dari balik tubuh Bima.
"Maudy?" Suara Rio terdengar lirih.
__ADS_1
"Maaf mas, salah kamar. Permisi." Menarik lengan Bian secepat mungkin dan beralih ke pintu kamar hotel yang lain.
"Kamu harus bicara Bim. Ini waktunya!" Kembali masuk. Sementara Bima belum bisa membuka mulut, masih melihat Maudy bergandeng tangan yang menurutnya adalah pacar Maudy. Wajahnya sulit di artikan. Matanya belum sempat berkedip hingga sekarang. Sampai Maudy menghilang di balik pintu kamar hotel. Sebelum masuk, Maudy sempat menoleh sebentar lalu melanjutkan langkahnya.
Bima!
"Ki?" Ucapnya dan menatap jendela kaca besar. Pandangannya kosong, seperti habis melihat hantu.
"Kamu kenapa?" Maudy diam tidak menjawab. Kiki beralih ke Bian, berharap Bian bisa menjelaskan sesuatu. Tapi Bian hanya bisa mengangkat bahu.
"Dy, kamu kenapa?" Bertanya lembut dan mengajak Maudy duduk di tepi ranjangnya. Sementara Bian langsung duduk di sofa dan menelepon pacarnya. Ah Bian ternyata juga memiliki kekasih hati.
"Tadi aku salah kamar." Ucapnya lirih.
Kiki langsung membulatkan matanya dan mulutnya terbuka lebar.
"Jadi? Ha? Kamu melihat orang lagi?" Pikirannya sudah kotor. Maudy menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Bima Ki." Hanya bisa mengucapkan itu. Rasanya tubuhnya tiba-tiba melemas melihat pemandangan di pagi ini. Ada rindu untuk memeluk, tapi ada benci juga yang membuncah. Seperti ingin memukul Bima sekarang juga. Kenapa harus datang di hadapannya sebelum Maudy mempersiapkan hatinya.
"Maksudnya? Kamu coba ngomong yang jelas! Tarik nafas, tenangkan lalu bicara." Jelas Kiki tidak mengerti maksudnya. Salah masuk kamar, lalu ada Bima? Apa mungkin yang di kamar itu Bima? Begitu pikirnya, tapi mustahil baginya. Padahal opsi yang dia buat sudah benar.
Setelah lima menit terdiam.
"Aku pikir itu kamar kamu, kamu kan bilang tadi malam hanya melalui panggilan bukan pesan yang bisa di baca ulang. Jadi aku kira nomor 108 kamarnya, aku telepon tapi nomor kamu nggak aktif. Jadi aku pencet aja belnya. Dan setelah aku lihat, ternyata Bima Ki. Dia Bimaku yang menghilang bertahun-tahun dari hadapan ku." Tangisnya pecah.
Kiki memeluknya dan mengusap punggung sahabatnya. Tidak, dia belum menjawab apa-apa. Sebuah kata mustahil yang ia pikirkan tadi ternyata memang benar. Tapi, dan lalu untuk apa Bima kesini? Apa dia sengaja mau bertemu Maudy? Kenapa nggak bilang aku kemarin waktu jumpa di kampus! Pikiran Kiki juga melayang jauh.
"Jadi bagaimana sekarang?"
"Kak mo kenapa nangis?" Bian langsung berjalan mendekat, menatap wajah kakaknya.
"Bian, coba kamu keluar, buka pintu lalu lihat aja penghuni kamar yang tadi. Waktu kalian salah kamar, lihat apa dia ada di luar?" Kiki memberi perintah. Bian Manggut saja lalu berjalan dengan gontai.
Bian kembali dan menggeleng kan kepalanya.
***
"Mas, lihat sendiri kan? Maudy udah berubah mas, bahkan dia datang ke hotel bersama lelaki lain! Dia juga udah lupain aku mas." Otot lehernya menegang.
Maudy, kenapa kamu berubah. Bukan soal sifat, tapi penampilan kamu. Kamu tampak jauh lebih cantik dan feminim sekarang. Bahkan aku butuh beberapa menit untuk mengenali kalau itu kamu.
Menatap ke arah luar dari ketinggian yang mampu melihat kota dari atas jendela kamar hotel yang ia sewa.
"Itu salahmu. Semua salah kamu Bim!" Rasanya sekarang Rio juga ingin memukul wajah adiknya. "Sok-sokan mau buat rencana, taunya gagal!"
"Aku kan nggak tau kalau ujungnya papa bakal jodohkan aku mas." Mendesah kesal. Mengingat soal pertunangan yang akan di laksanakan ketika Bima menyelesaikan kuliahnya. Walau Bima belum menjawab papanya akan tetap melaksanakan.
"Sekarang terserah kamu. Keputusan kamu, hati kamu, pilihan kamu. Pikirkan sendiri, kamu yang tahu Bim. Kamu udah dewasa. Maaf mas udah nggak ada waktu buat mikirin masalah kamu. Yang terpenting sekarang keluarga kecil mas." Bima langsung terdiam. Kerongkongannya terasa tercekat.
"Ayo berangkat, klien udah nunggu kita." Dengan berat hati Bima meninggalkan hotel. Sesekali ia menoleh ke belakang berharap Maudy juga keluar dari kamar. Entah dengan siapa Maudy di dalam ia juga tidak tau. Yang ia rasakan saat ini hanya kecemburuan melihat Maudy bersama orang lain yang nampaknya sudah jauh lebih bahagia.
***
Malam ini matanya sulit terpejam. Sudah beberapa kali mencoba, melakukan doa menurut kepercayaannya. Tapi tetap saja.
Suara ponselnya berdering, ia tau siapa yang menelepon. Sudah pasti Kiki. Dengan cepat Maudy menyambarnya.
Nomor tidak di kenal.
"Hallo?" Tidur dengan posisi miring dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo, siapa?" Masih belum mendapat jawaban.
"Dy?" Suara yang menurutnya tak asing. Maudy langsung terdiam. Ia langsung melempar ponselnya secara asal. Memandang nya, dan detik kemudian Maudy menutup wajahnya dengan bantal. Persetan dengan siapa yang menelepon, ia tau itu suara siapa. Meski mustahil, tapi Maudy tidak mungkin salah.
Maudy kembali mengambilnya setelah 10 menit ia biarkan begitu saja. Ternyata setelah melihat panggilan, seseorang itu langsung mematikan sambungan telepon ketika setelah memanggil namanya.
Kamu datang di saat aku benci!
__ADS_1
--__