
Malam hari, setelah siap dengan pekerjaan membantu omnya di resto. Maudy enggan menutup jendela, ia masih ingin melihat bintang yang berkedip seperti membalas senyumnya. Sudah dua hari belum mendengar kabar Bima. Hal maklum, mungkin dia sibuk karena sebentar lagi akan menjadi CEO. Ah, ada rindu melihat senyumnya. Hal yang sudah menjadi terbiasa yaitu 'rindu'.
Maudy mengambil ponselnya, ingin sekali mengabaikan momen indah bersama bintang di langit, hal gila menurutnya. Biarlah, yang penting bisa tersenyum lewat kamera ponsel mahal. Satu, dua dan beberapa photo yang ia ambil. Berdiri di samping gorden yang ia sibakkan, tersenyum lalu pose. Ah sedikit terlihat bintangnya, walau hanya seperti lampu.
Maudy langsung membuka galery di ponsel, memilah, photo mana yang paling bagus yang bakal di upload. Dengan caption 'rindu'. Setelah melakukan proses edit mengedit, siap untuk mengunggahnya. Hal yang biasa di lakukan anak muda sekarang.
Matanya terbelalak, melihat ada photo cincin yang melingkar dijari manis. Menandai akun milik Bima.
Terima kasih.
Membaca dalam hati caption yang di buat oleh orang yang menandai akun sosmed milik Bima.
Luna? Siapa dia? Apa jangan-jangan, Bima udah tunangan? Dan ini? Apa benar ini orangnya?
Dengan cepat Maudy menelpon Kiki, bertanya apakah dia sudah mendengar kabar kalau Bima tunangan.
"Aku nggak tau Dy, coba kamu tanya langsung sama Bima. Disini masih siang kok, pasti Bima bakal respon panggilan kamu."
Ah iya, ini berbeda waktu, pikirnya.
"Oh gitu. Makasih ya Ki?"
Setelah menutup panggilan. Maudy cukup lama berpikir, bertanya atau tidak. Jika tidak iya memang perasaannya akan lega. Tapi jika itu benar, apa sanggup hatinya menerima? Meskipun sudah berjanji akan berjuang.
"Bim? Apa benar kamu udah tunangan?"
Lebih baik mengirim pesan. Sekarang atau pun besok, yang terpenting baginya adalah jawaban.
Melihat malam yang sudah larut, Maudy menghempaskan tubuhnya di kasur. Mengambil earphone dan memasang di telinganya. Mendengarkan lagu favoritnya. Sesekali mengikuti nada dan bernyanyi. Tidak peduli dengan waktu, besok masih libur kuliah. Tidak akan gangguan waktu di pagi hari.
Ting.
Tanda ada notif pesan yang masuk.
"Sayang maaf ya. Janji untuk berjuang!"
Hanya itu balasan dari Bima. Bukan, bukan itu yang Maudy mau. Ia mau jawaban yang jelas. Sehingga tidak membuang waktu dengan rasa penasaran.
Maudy langsung saja melakukan panggilan, tapi sepertinya Bima sibuk sehingga sudah tiga kali Maudy menelpon, Bima terus saja menolak panggilannya.
Baik lah Bim. Aku siap, aku siap.
"Makasih. Semoga niat baik akan berujung baik." Membalas pesan lalu mencabut earphone dari telinganya. Menonaktifkan ponsel, dan berdoa sebelum tidur. Mengaduh kepada sang pencipta, pemilik isi bumi. Bahwa ia ingin hubungannya baik-baik saja.
***
Pagi hari menyambutnya dengan gerimis yang rapat. Maudy mengintip aktivitas pagi para warga kota. Sepi, mungkin semua pada memilih berdiam diri di bawah selimut. Huam, sesekali menguap. Rasanya baru belum lama tertidur sudah harus kembali bangun lagi. Ah memang waktu lebih cepat berjalan sekarang, semenjak dewasa semua serba cepat. Dulu saja sewaktu kecil, ingin cepat besar, setelah merasakan pahitnya kehidupan ingin kembali ke masa kecil.
Maudy mengingat kejadian semalam setelah jiwanya terasa sudah utuh kembali. Ia langsung menyambar ponselnya. Dengan cepat melihat, begitu banyak panggilan tidak terjawab. Baik dari Bima dan ibu.
Ibu??
Kenapa telepon malam-malam, batinnya.
Ah iya aku lupa, bukan malam tapi siang. Lupa kalau berbeda waktu.
Maudy tidak berniat mengganggu Bima dengan cara menelpon. Ia tau, saat ini kekasih hati pasti sedang tertidur dengan pulasnya. Lebih baik kali ini mengalah dengan waktu, biarlah dia yang begadang nanti malam. Menunggu penjelasan Bima selanjutnya.
Maudy lebih memilih membersihkan diri, lalu turun untuk ikut sarapan bersama keluarga omnya. Sudah beberapa hari ini ia melewatkan itu, karena sibuk dengan malasnya di pagi hari. Efek dari libur kuliah yang panjang.
***
"Mo, kamu belanja ya? Kamu sudah hafal stok bahan makanan di resto kan?" Setelah selesai sarapan omnya langsung memberi perintah.
"Iya om. Gampang." Bersiap untuk segera pergi.
Maudy langsung memasuki resto, melihat apa saja yang perlu di belanjakan. Setelah selesai dengan urusan mencatat Maudy langsung bergegas pergi. Dengan di antar supir. Pergi ke salah satu market terbesar yang menyediakan semua keperluan dapur. Bukan pajak ya, ini sudah menjadi langganan omnya. Hanya disini satu-satunya tempat untuk memenuhi kebutuhan resto, karena disini tempat persediaan bahan makanan yang di impor dari Indonesia.
Maudy tidak sengaja menabrak seseorang. Ia tampak mengenali sosok tersebut.
"Aldy? Maaf ya, aku nggak sengaja."
"Eh iya, kamu Dy. Kirain siapa!" Ucapnya dan membalas senyum Maudy.
"Kamu ngapain?"
"Belanja lah Dy. Apa kamu nggak liat?" Maudy langsung tertawa, ah bodohnya aku masak nggak paham, batinnya.
"Kamu sendiri." Sambil berjalan memilih bahan makanan mereka mengobrol ringan. Membahas tentang masalah kuliah yang sudah hitungan Minggu akan mendapatkan gelar. Tentang menyusun sekripsi yang membuat otak berkeringat. Sampai tak sadar kalau semua kebutuhan sudah terpenuhi.
"Eh Dy, bagi nomor ponsel kamu dong?" Ucapnya langsung menyodorkan ponselnya.
Tidak masalah bagi Maudy. Aldy juga orangnya tidak neko-neko. Tapi, untuk apa dia meminta? Apa untuk menghubungi Maudy setiap saat?
__ADS_1
"Makasih ya Dy?" Senyum tulus tersungging di bibirnya.
"Santai, sama-sama." Maudy memukul lengannya.
"Aku duluan ya Dy. Oh iya, nanti malam aku boleh telepon kamu kan?" Maudy langsung menyerengit.
"Aku cuma mau bahas soal sekripsi nanti kok. Soalnya kamu kan mahasiswa yang terkenal pandai, nggak salah kan kalau belajar dari kamu."
"Ah biasa aja. Tapi boleh lah kalau kita sharing bareng." Maudy segera membawa seluruh belanjaannya menuju kasir. Dan Aldy sudah lebih dulu meninggalkan market. Karena ia juga belanja tidak banyak, hanya beberapa bahan saja. Berbeda dengan Maudy yang harus belanja untuk di makan orang dengan jumlah ratusan.
"Makasih nona." Tersenyum ramah. Maudy mengangguk lalu pergi.
Langkahnya terhenti kala ponselnya berdering dengan nyaring.
Kiki? Apa belum tidur itu anak.
"Ya Ki? Kenapa?"
"Kamu cek sosmed milik Bima sekarang! Lagi rame, Udah ya aku mau tidur ngantuk. Kalau mau ada yang di bahas, diceritakan, besok aja?"
Tut.. Tanpa aba-aba Kiki mematikan telepon. Menelepon hanya untuk memberi kabar, lalu seenaknya mematikan dengan alasan tidur! Ah sebal.
Sekarang pikirannya jadi tak tenang. Ada apa di sosmed? Berulang kali berputar di kepalanya. Bahkan kala sudah gangsing. Niat untuk membuka sekarang masih ia urungkan. Lebih baik, dan lagi-lagi harus mengalah dengan waktu. Sedikit lagi, sampai di rumah. Setelah ini pasti omnya akan mengatakan silahkan istirahat kalau capek.
Nah nanti tuh, tiba rebahan baru bisa liat ada apa di sosial media. Sepertinya ada berita hangat, sampai yang berbeda negara menelpon di sela-sela matanya yang sudah ingin menutup.
***
"*Selamat ya Luna!"
"Cie, akhirnya bisa dapetin anak om Adi."
"Eh beneran nih? Bukannya pacarannya sama Maudy ya?"
"Iya, liat aja photo mereka juga masih terpajang di profil!"
"Wah gila ini, gila. Kasian banget tuh yang jalanin hubungan bertahun-tahun. Ternyata cuma jaga jodoh orang*!"
Prak!! Suara ponsel terbanting dengan kerasnya. Cukup! Cukup sudah. Itu komentar terakhir yang paling sakit. Gila ya! Bertahun cuma jaga jodoh orang.
Ahhhhhhhhh kenapa sih!!! Padahal kan udah ada komitmen. Tapi kenapa aja tetap sakit, kecewa!! Terlebih Bima nggak ngasih kabar ke aku!
Ponsel masih menyala dengan semestinya. Tapi ada beberapa retak kan di layar. Biar, nanti juga bisa beli lagi. Gampang kalau disini, gampang! Banting aja lagi. Sepertinya setan terus membisikan hal itu. Wajah Maudy sudah memerah. Ia meremas benda pipih yang berukuran 5 centi itu. Rasanya sudah benar-benar marah, bukan, lebih tepatnya cemburu.
"Cantik, memang cantik." Gumamnya. Makin retak saja hatinya, sudah sama dengan layar ponselnya.
Lagi, mencari lagi.
Oh pantas saja. Anak orang kaya, jelas lah!
Sudah cukup untuk melihatnya. Maudy termenung, menatap langit kamar. Tidak lagi ingin menatap awan, yang dihiasi kebiruan langit di hari ini. Rasanya semua sama, mendung.
Entah harus bagaimana, apa yang dilakukan juga Maudy tidak tau. Mencoba bertanya ke Bima juga percuma, itu sudah kenyatannya. Dan memang itu benar.
***
"Kak mo?" Suara Bian terdengar jelas. Jangan Bian, jangan masuk. Hanya menjawab dalam hati.
"Kak? Papa nunggu di bawah."
Apalagi, nggak mungkin kan aku keluar dengan mata sembab begini.
"Kak mo?" Bian tidak menyerah.
"Bian, kakak lagi nggak enak badan. Bisa kah kamu bilang ke papamu?" Suara parau terdengar, ah sepertinya Bian percaya. Indra pendengarannya tak salah, dari apa yang ia tangkap sepertinya yang dikatakan kakaknya benar.
"Iya kak, ya udah. Nanti aku bilang, tunggu aja di kamar. Biar papa nanti panggilkan dokter."
"No Bian!" Langsung bergegas membuka pintu sebelum Bian menjauh. "Bian, nggak usah. Kakak cuma butuh istirahat aja. Kalau nanti udah enakkan kakak langsung ke resto kok." Bian menatapnya penuh selidik.
"Tapi wajah kakak pucat kak."
"Nggak. Udah kakak minta tolong, cukup bilang kakak nggak enak badan, jangan bicara yang lain lagi, jangan sampai om atau tante khawatir." Bian mengangguk lalu pergi.
Maaf kak, aku nggak mau bohong. Kakak beneran sakit!
***
"Gimana dokter?" Setelah melakukan pemeriksaan kepada Maudy.
"Dia hanya kelelahan. Saya sarankan, jangan membebani pikiran dulu, itu sangat berpengaruh sama kesehatan." Maudy membuang pandangannya.
Awas kamu ya Bian!
__ADS_1
"Dy kamu dengar kan?" Ucap tantenya.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Jangan lupa obatnya di minum, sesuai jadwal ya." Kali ini tugas Bian yang mengantar dokter sampai ke halaman rumah. Sementara maminya setia duduk di samping Maudy, yang menurutnya sakit parah. Iya parah, tapi di bagian hatinya.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan Dy? Apa kamu nggak nyaman ada disini? Atau kamu kelelahan karena tadi belanja?" Semua pertanyaan itu nggak sama sekali benar.
Bukan Tante, ya ampun aku jadi nggak enak. Melihat orang yang peduli denganku khawatir aku sungguh merasa bersalah.
"Dari dulu kamu jarang sakit loh Dy. Sekali disini kamu sering sakit, kamu bilang kalau ada sesuatu. Apa yang mengganjal di pikirin kamu seharusnya kamu ceritakan?" Masih menunjukkan wajah sendunya.
"Tante, maaf udah buat tante khawatir. Tapi sumpah tante, aku nyaman ada disini, tinggal disini aku nyaman. Aku nggak pernah merasa terbebani dalam hal apapun. Tante, om kalian orang baik." Tantenya masih mendengarkan, berharap Maudy mau mengutarakan isi hatinya.
"Bima tante, lelaki yang waktu itu datang kesini." Menarik nafas. "Dia tunangan tante." Air mata tak sanggup Maudy tahan. Ah kenapa jadi lemah begini sih semenjak kenal cinta, apa semua orang akan begini ya? Pikirnya.
"Kamu serius? Lalu kamu gimana Dy?" Maudy langsung menceritakan semuanya, hubungannya, perasaannya, perasaan yang memang terbalaskan. Lalu kemudian rencana mereka ke depannya.
"Jadi kamu sudah tau kalau ujungnya dia bakal tunangan?" Maudy mengangguk lemah.
"Kenapa Dy?" Hati seorang wanita tetap akan merasa sakit jika mendengar hal ini.
"Karena perasaan yang memang terpaut satu sama lain tante. Bukan kah kata orang cinta bisa mengalahkan apapun?" Haduh, pusing. Cinta, cinta, dan cinta.
"Kamu yakin, maksudnya." Takut untuk mengatakan.
"Yakin Tante, Bima cuma sayang sama aku." Tau saja apa yang di pikirkan tantenya.
"Tante, aku mohon. Jangan sampai om tau." Memegang tangan tantenya.
Tersenyum lalu mengangguk. Ah rasanya sedikit lega ternyata kalau bercerita kepada orang lain. Walau tidak menemukan solusi, setidaknya ada yang di buang dari sesaknya yang menyumbat pernafasan.
Sampai larut malam Maudy masih berbaring di tempat tidur. Hanya tubuhnya yang lemah, tapi mata tetap on. Tau saja menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan orang yang berada di negara seberang.
"Ya Dy?"
Satu kali panggilan langsung mendapat jawaban.
"Aku udah baca kok."
Lama Kiki menjawab.
"Terus, kenapa kamu hubungi aku? Kenapa nggak langsung bahas ini sama Bima?"
Maudy terdiam. Detik berikutnya langsung mematikan panggilannya. Kiki juga bicara apa tidak ia dengarkan lagi.
Angkat Bim! Menggigit kuku jarinya sendiri.
"Hallo?" Maudy terdiam belum menjawab.
"Sayang?"
"Selamat ya Bim!" Suaranya lirih.
"Kamu kasih selamat atas musibah yang menimpaku?"
Deg!!
"Apa kamu tau perasaan ku sekarang? Aku takut kamu menangis disana, tanpa aku bisa menghapusnya. Terlebih ini semua karena ku."
"Dy. Kamu belum tidur? Udah di minum obatnya?" Maudy langsung meletakkan ponselnya.
"Iya tante. Tadi udah di minum, sebentar lagi juga aku tidur." Melirik ke layar ponselnya, sepertinya panggilan masih berlangsung.
"Ya udah. Besok jangan ke resto dulu, pokoknya kamu harus sembuh total. Ingat ya, jangan bebani pikiran kamu." Ucapnya dan mengelus pipi Maudy.
"Makasih tante."
Setelah melihat pintu kamarnya tertutup kembali. Maudy langsung mengambil ponsel miliknya, menempelkan tepat di telinganya, ingin mendengar apakah Bima masih disana.
"Hallo?"
"Kamu sakit? Jangan bilang karena hal ini Dy!!" Suaranya terdengar menahan emosi.
"Sayang jawab!"
"Nggak. Aku istirahat ya Bim?" Suaranya terdengar lemah.
"Dy? Maaf. Is aku harus bagaimana Maudy? Aku harus apa sekarang? Aku nggak bisa lihat kamu begini!" Sepertinya Bima menangis, tapi entahlah. Maudy juga tidak mau berbesar hati.
"Nggak Bima. Aku baik, cuma sedikit pusing. Ya udah, aku tidur ya?" Bima diam. Sepertinya dia tidak rela.
Maudy langsung menekan layarnya. Mematikan ponselnya, dan entah kapan ia mau mengaktifkan kembali ponselnya.
Tunggu sampai aku pulang Bim!
__ADS_1
--__