
Dua hari setelah hal gila yang di lakukan Bima, Maudy setiap pagi, siang, sore dan malam ngemil hanya dengan ice cream.
"Jujur, untung aku suka ice cream Bim, kalau nggak mungkin aku bakal muntah setiap hari harus makan ini."
Dan hari ini, Maudy menutup restonya. Memberi karyawannya libur, bukan karena lelah, bukan. Tapi karena ayahnya sakit, bagi Maudy karena resto buka belum lama, jadi belum bisa memberi kepercayaan kepada orang lain begitu saja. Tidak mungkin berkunjung sekaligus menjenguk ayahnya hanya satu atau dua jam. Kalau bisa menginap pun akan Maudy lakukan.
"Sayang, kamu belum kasih tau ibu kan?" Maudy menoleh setelah duduk di dalam mobil.
"Belum."
"Sayang, maaf ya. Aku hanya bisa antar kamu aja. Soalnya aku harus rapat hari ini. Nanti pulangnya aku jemput."
"Iya Bim, nggak apa-apa kok." Tersenyum, ah sepertinya mood sedang bagus.
"Sayang, coba tanya ibu, ayah pengen makan apa? Nanti biar aku belikan." Maudy mengangguk.
Di dalam mobil Maudy tidak mengoceh seperti biasanya, dia hanya duduk diam, tenang dan menjawab apa yang di tanyakan Bima.
"Sayang kenapa?" Hanya menggeleng pelan.
Apa aku punya salah??
Hening kembali. Bima juga ikut memilih diam.
***
Maudy menatap lekat keadaan ayahnya yang berbaring di ruang tv, dialasi dengan tempat tidur berukuran kecil. Dan tangannya yang terpasang infus. Matanya memanas, karena ibu hanya mengatakan kalau ayahnya sakit. Tidak bilang sampai harus di opname dirumah.
"Ayah." Lirihnya dan berjalan mendekat. Pertahanan langsung runtuh, air matanya menetes ketika melihat wajah pucat ayahnya.
Dan sekarang Maudy tau, dia menurun kepada siapa. Ayahnya kan? Bahkan sakit saja tidak mau di bawa kerumah sakit.
"Kenapa nggak dibawa kerumah sakit bu?"
"Ayah nggak ma Dy."
"Ayah sakit apa sebenernya?" Memeluk ayahnya.
"Cengeng! Ayah cuma kelelahan aja mungkin. Nggak ada penyakit serius." Jawaban ayah dengan senyum meski tak menaburkan sedikit pun sinar sehat di wajahnya.
"Yah, aku harus ke kantor sekarang. Maaf ya yah, aku nggak bisa lama-lama." Bima pamit setelah berbincang kepada ibunya.
"Iya nggak apa-apa Bim. Hati-hati ya."
Hening, Maudy masih menatap lekat ke arah ayahnya. Lalu sesekali membuang padangan, belum pernah ia merasa khawatir sampai begini. Ayah yang selalu di anggap tangguh ternyata bisa melemah di usia yang semakin menua.
Tangan yang sudah mulai keriput ia genggam dan cium, rasa nyaman mengalir begitu saja bersamaan dengan tendangan dari dalam perut. Maudy tersenyum dan mengelus perutnya.
"Senang ya kalau dekat kakek." Lagi, dia mengelusnya.
"Sudah aktif ya Dy?" Ibu datang kembali membawa teh hangat.
"Iya sebenarnya ada yang mau aku kasih tau ke ibu sama ayah. Tapi apa pantas di saat keadaan ayah begini."
"Memangnya ayah kenapa?" Eh ayah malah berusaha untuk duduk sekarang. "Dy, ayah hanya kecapean aja. Sama kayak kamu dulu waktu sakit, cuma beda usia jadi terlihat ayah tuh kayak orang nggak berdaya." Maudy dan ibunya saling pandang, detik berikutnya mereka tertawa.
Ayah, sosok yang di kagumi. Sakit sekalipun tetap bisa menghibur.
"Coba sekarang kami bilang, ayah sama ibu siap mendengarkan." Ayah sudah duduk dengan posisi menyandar.
"Bu, ibu bilang kan kalau kita bisa mengandung dua janin sekaligus itu biasanya ada faktor keturunan?" Ibunya mengangguk. "Nah, jadi sekarang ini aku mengandung dua janin sekaligus, berarti-"
"Hah? Kamu serius Dy?"
"Punya dua cucu sekaligus?"
Maudy langsung terdiam, belum juga sempat menjelaskan, bertanya, ataupun menyelesaikan ucapannya, sudah di potong oleh kedua orang tuanya.
"Iya bu, kemarin aku udah USG di antar sama mama Lisa dan papa Adi."
"Mereka gimana?"
"Ya senang lah bu, apa lagi jenis kelamin sesuai dengan keinginan papanya Bima." Ayah juga manggut-manggut, kali ini wajahnya mengguratkan bahagia.
__ADS_1
"Memang benar kamu bilang, itu karena faktor keturunan."
"Iya yang mau aku tanya apa ada di keluarga ayah atau keluarga ibu yang memiliki anak kembar?" Ibu diam, ayah juga diam. Maudy masih menunggu jawaban mereka dengan menatap kedua orang tuanya.
Ibu menjawab dengan mengangguk lemah.
"Siapa bu?"
"Om kamu." Ayah membuang pandangannya. Tak ingin ikut campur dalam penjelasan, karena baginya ini berita duka. Walau sudah puluhan tahun lamanya, tapi tetap saja jika Maudy mendengar sekarang dia pasti sedih.
"Om Wisnu?" Ibu mengangguk lagi. "Gimana bisa? Bukankah ibu bilang om Wisnu anak lelaki satu-satunya?" Ibu mengangguk lagi, ah Maudy semakin bingung sampai merubah posisi duduknya ke samping ibunya.
"Waktu itu.."
Flashback
Semua yang menunggu proses seorang ibu melahirkan di dalam rumah tampak tegang, tapi begitu mendengar suara bayi yang menangis mereka langsung bernafas lega. Senyum mengembang di setiap wajah para tetangga yang ikut hadir menunggu di depan rumah.
Hingga seorang dukun bayi keluar dengan membawa ari-ari. Ibu Irma yang saat itu masih berusia 5 tahun, dia lah yang paling terlihat gembira disana.
"Nek, apa adikku sudah lahir?" Bertanya sangat antusias. Nek Karmi, dia seorang dukun bayi di desa itu. Menjawab dengan senyuman lalu mengangguk.
"Apa adikku perempuan nek?"
"Laki-laki dan perempuan." Sontak semua yang mendengar langsung mengucap syukur dan berbisik, mengartikan bahwa anak yang di lahirkan kembar.
Nek Karmi kembali masuk setelah ari-ari bayi di serahkan pada suami dari ibu yang melahirkan.
"Apa mau langsung di kebumikan?" Samar-samar para tetangga mendengar nek Karmi berbicara. Semua terdiam, hening. Hingga ada suara Isak tangis di balik pintu kamar.
"Kenapa bude?" Irma kecil bertanya kepada kakak dari ibunya.
"Nggak apa-apa nak." Dia menghapus air matanya.
"Maaf ya ibu-ibu, rumahnya mau di bereskan. Adik saya melahirkan dua buah hati sekaligus, tapi yang berjenis kelamin perempuan tidak selamat." Semua tetangga langsung terkejut, dan segera membantu menyiapkan untuk para pelayat datang.
Irma kecil yang tak tau apa-apa saat itu hanya bisa memandang semua orang yang menangis.
"Maka dari itu, sekarang jaman udah canggih Dy. Kamu bisa lihat gimana posisi bayi kamu, sehat kah dia, bisa tidak jika lahir secara normal. Berbeda dengan dulu, bahkan periksa ke dokter setiap bulannya juga belum tentu." Maudy terdiam, tak tau harus apa. Jika menangis pun sudah tidak bisa, siapa yang akan di tangisi? Jelas dia tidak tau sama sekali bagaimana rupa adik ibunya yang meninggal.
"Sudah, ibu juga sudah ikhlas. Makannya om kamu itu jadi putra kesayangan nenek dan kakek kamu. Bahkan nenek dulu bertekad sekali untuk menjadikan om kamu orang sukses. Tapi giliran om kamu sukses malah kakek di panggil sang maha kuasa, lalu menyusul juga nenek."
"Apa ayah dan ibu juga begitu nantinya?" Hah? Mereka saling pandang.
"Kamu jangan bilang begitu! Itu sama saja kamu berdoa!"
"Iya nggak bu. Tapi jujur, sebenarnya aku sendiri takut bu, takut kalau aku nggak mampu melahirkan dua bayi sekaligus." Maudy menunduk, bayang-bayang masa lalu ibunya malah berputar di kepalanya.
Berpikir jika gizi anak tak seimbang di dalam perut malah akan menjadi efek tidak bagus.
"Ibu yakin kamu bisa."
"Kamu kan kuat Dy?" Ayah menoleh dan tersenyum.
"Apa dua-duanya berjenis kelamin perempuan?" Ayahnya bertanya.
"Nggak tau yah, hanya satu yang kelihatan."
"Semoga aja laki-laki dan perempuan, jadi nanti yang perempuan bisa dengan papanya Bima, dan yang laki-laki sama kita ya bu?" Eh ayah bisa tersenyum sekarang.
"Jadi, aku gimana yah? Aku kan orang tuanya?"
"Kamu ya buat aja lagi, hehe." Ibu dan ayah tertawa, walau sebenarnya saat ini Maudy senang tapi ia tak mau memperlihatkan, serasa anak yang belum lahir sekalipun sudah mendapatkan kasih sayang dari keluarga.
Ternyata kehadiran seorang anak sangat di butuhkan oleh orang tua, terbukti sekarang ayahnya makan dengan lahap tidak seperti semalam, yang hanya dua suapan saja. Nah sekarang malah minta tambah, dengan alasan katanya memang ingin makan SOP.
"Yah, aku aja yang suapin?" Maudy mengambil piring yang ibunya bawa, karena permintaan suami minta nambah jadilah ia harus dua kali jalan ke dapur.
***
Sore hari, mereka yang tengah duduk berbincang di ruangan TV karena menemani ayahnya yang sakit, mendengar suara klakson mobil.
"Coba lihat Dy, paling itu Bima." Maudy mengangguk lalu bangkit dari duduknya, tampaknya usia kehamilan lima bulan saja sudah terlalu berat untuknya jika ingin bergerak, tapi bukan Maudy namanya kalau dia mengeluh.
__ADS_1
"Bim, kamu udah pulang?" Berjalan mendekat, kecup sana kecup sini.
"Malu ah Bim nanti ada yang lihat malah iri." Menjauhkan tubuhnya.
"Kangen sayang hehe." Maudy langsung berjalan masuk, dia menoleh ke belakang lagi. Terlihat Bima malah kembali ke mobil bukan berjalan masuk kerumah.
"Bim, ngapain? Ayo masuk?" Berdiri tepat di depan pintu.
"Sebentar sayang."
Maudy kembali duduk bergabung dengan adik dan orang tuanya.
"Yah, ini aku bawa yang ayah mau." Masuk dengan membawa kotak.
"Apa itu?" Maudy terlihat penasaran, berbeda dengan ibu dia masih santai, dan ayah bahkan tak berkedip melihatnya, sepertinya dia tau apa yang ada di dalamnya.
"Iya bod listrik kan?" Bima mengangguk.
"Buat ayah, kata ibu ayah pengen ini." Ya ampun, ayahnya sampai menepuk keningnya, apa istriku berpikir aku sakit hanya karena menginginkan itu? Batinnya.
"Ayah, kenapa nggak bilang sama aku kalau ayah pengen itu?" Protes karena malah Bima yang membelikan.
"Kamu sibuk." Beralih menatap Bima. "Bim, makasih ya." Bima mengangguk dan tersenyum.
"Dy, sudah sore. Kamu pulang lah, Bima juga lelah." Berbisik di telinga Maudy. Maudy belum merespon masih diam dan memandang sebuah kotak yang sudah di letakkan dekat ayahnya.
"Tisha, gimana kamu betah nggak di kamar baru?" Bima bertanya.
"Udah berasa kayak orang kaya malah kak." Mereka tertawa mendengar jawaban Tisha.
"Bim, apa kamu mau pulang sekarang?" Bima diam.
"Iya lah Dy, Bima juga capek."
"Kalau kamu masih mau disini ya nggak apa-apa sayang." Mengelus lembut puncak kepala istrinya.
Setengah jam berlalu, ibu sudah kembali di dapur untuk menyiapkan makan malam. Bima enggan untuk mengajak pulang, karena dia sendiri tau kalau sebenarnya Maudy masih ingin disini, merasakan masakan ibunya.
"Nggak apa-apa kan Bim?" Memutuskan untuk pulang setelah makan malam.
"Nggak kok sayang." Tersenyum lagi.
***
Semua sudah berkumpul di meja makan, terkecuali ayah. Dengan Bima yang masih memakai stelan jas lengkap, karena jika ia mandi tidak membawa ganti.
"Bu, nanti kalau aku sudah tidak bisa lagi masak di resto, ibu mau kan bantu aku? Ibu yang masak." Ibu langsung mengangguk. Bahkan sepertinya ia senang mendengarnya.
"Sayang, kenapa merepotkan ibu? Bukan kah sudah ada karyawan kamu?"
"Tapi aku masih ragu dengan masakan mereka Bim, kalau ibu kan sudah bisa di pastikan." Ibu tersenyum dan geleng-geleng.
"Tapi sayang, kalau ibu lelah gimana?"
"Apa sih Bim, bu ibu mau kan bu?" Mencari pembelaan.
"Iya-iya ibu mau. Nggak apa-apa Bim, sudah seharusnya memang begitu." Bima mengalah dan diam, walau sebenarnya dia sendiri merasa segan.
Hingga selesai makan malam, Bima dan Maudy pamit untuk pulang. Membawa kelegaan karena ayahnya sudah lebih baik kesehatan nya.
"Sayang, besok kita pergi ya?" Setelah duduk di dalam mobil.
"Kemana Bim?"
"Sundari dan Ilham mau menikah."
"Ya ampun, akhirnya."
"Iya sayang nggak sia-sia aku jodohkan mereka."
"Apa??" Kaget, Bima diam dan sudah siap untuk dihujani beribu pernyataan dari istrinya.
--__
__ADS_1