
Dua hari berlalu begitu cepat. Disini Maudy sekarang ia tengah berdiri di bawah teriknya panas matahari. Semua mata tampak menyipit, bukan hanya dirinya tapi semua. Ratusan siswa yang akan menjalani plonco dai seniornya. Bukan lagi hal yang mengejutkan, karena di tanah airnya sendiri juga ada. Sudah jadi turun-temurun, entahlah siapa yang dulunya menciptakan hal semacam ini.
"Oke, kalian dengar semua. Kita akan menjalani masa plonco selama tiga hari. Setelah itu kalian akan lulus dan dipastikan sudah menjadi mahasiswa." Salah satu seniornya memberi penjelasan.
"Nama saya, Albert. Kalian ingat ya, saya adalah ketua dari organisasi dalam masa plonco. Saya rasa cukup, silahkan catat bahan apa saja yang akan kalian bawa besok."
Gedung menjulang tinggi ini menjadi saksi gerutuan para calon mahasiswa. Kenapa nggak di aula aja? Kenapa disini sih? Eh tampan ketuanya!
Setelah menyiapkan semua peralatan tulis, mereka siap mendengar apa yang harus mereka bawa.
"Pertama. Bawa mobil mainan."
Ha. Untuk apa!
"Kedua. Bawa plaster yang untuk menutupi luka."
Semua para calon mahasiswa langsung saling tatap. Untuk apa? Pikir mereka. Apakah plonco nya sangat ekstrim?
"Yang ketiga bawa tali. Dan yang terakhir, jangan lupa bawa bekal dari rumah." Selesai.
"Ada yang ingin bertanya? Silahkan!"
Jelas pasti ada yang mengacungkan tangannya.
"Kak, apakah bila tidak membawa salah satu barang tersebut akan ada konsekuensinya?" Pria asal negara ini sendiri yang bertanya.
"Jelas ada! Kalian akan berjemur disini hingga semuanya selesai."
Langsung ricuh, kisak-kisuk dan berbisik pada teman yang ada di sebelahnya.
***
Esok yang di tunggu tiba. Harapan Maudy tetap sama, ia sama sekali tidak ingin berjumpa dengan Wira. Karena hari pertamanya masih lancar tanpa adanya melihat sosok pecundang seperti dirinya.
"Kamu dari Indonesia?" Tanya salah seorang lelaki di sebelahnya. Maudy mengangguk dan tersenyum.
"Aku Aldy? Kamu siapa? Kita sama kok aku juga dari Indonesia. Hanya saja pas sudah menginjak kelas dua aku pindah kesini, karena pekerjaan orang tuaku."
Sumpah aku nggak nanya.
"Oh. Aku Maudy." Menjawab sekenanya saja. Karena sudah malas untuk terlalu akrab dengan orang-orang di negara ini. Baginya disini hanya tempat menimba ilmu. Sulit memang karena itu jauh dari sifatnya untuk sombong terhadap orang lain. Tapi biarlah, semua jadi pelajaran. Hanya karena terlalu Wellcome kepada orang yang di kenal malah membuatnya jauh dari orang di dekatnya.
"Eh itu udah pada baris, ayo kesana." Maudy tidak menjawab tapi ia juga mengikuti langkahnya, yang menyebut kalau namanya Aldy. Ah siapapun Maudy tidak terlalu peduli dan bukan tugasnya untuk menghafal nama.
Suasana sudah tenang tinggal menunggu apa selanjutnya tugas dari senior mereka.
"Dy?" Suara lirih dari balik badannya. Jelas dia sendiri akan menoleh, siapapun yang akan di panggil namanya akan menoleh.
Ah ini, manusia yang tidak tau malu. Bahkan sekarang berani menegur. Maudy kembali menghadap ke depan. Menatap dan mendengar senior tampan yang memberi penjelasan.
"Dy, maaf ya, soal waktu itu." Masih saja berbicara.
Terserah aku tidak peduli! Dengan kalian semua aku tidak peduli.
"Apa ada yang tidak membawa peralatan yang sudah saya beri tahukan kemarin?" Setelah memberi kata sambutan akhirnya bisa di mulai. Semua diam dan itu tandanya mereka juga membawa apa yang sudah di jelaskan semalam.
"Sekarang, saya akan bagi kelompok. Terdiri dari tiga orang. Saya yang pilih." Senior di bantu anggotanya.
"1 2 3. Kalian satu kelompok." Maudy langsung menoleh ke belakang. Aldy? Masih oke lah, tapi kenapa harus Wira ada di kelompoknya?
"Maaf kak, apa orang ini bisa di ganti dari kelompok saya?" Senior langsung menatap Maudy dengan tajam. Ya begitu lah jika sesama wanita, berbeda kalau senior yang memilihnya laki-laki, di rayu sedikit pasti akan luluh.
"Kenapa?" Tanyanya dan berbalik untuk mendekat ke arah Maudy.
"Saya nggak suka dia! Dia preman kak." Wira langsung membulatkan matanya. Kaget, iyalah jelas. Maudy berbicara seperti tidak di saring. Wajahnya biasa aja malah.
"Haha, preman tidak akan di terima kuliah disini. Jangan ngaco!" Bentaknya.
"Kak, saya serius!" Maudy belum menyerah.
"Ada apa ini?" Albert mendekat melihat ada keributan kecil yang saat ini menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Dia bilang, katanya nggak mau satu kelompok sama yang laki-laki di belakangnya. Katanya preman." Jelas senior wanita yang sebelumnya berbicara dengan Maudy.
"Saya bukan preman kak!" Wira membela diri.
"Saya serius kak!" Maudy juga terus menyudutkannya.
"Baik, dia akan saya ganti." Albert lebih memilih memercayai Maudy.
Siala* baru juga hari pertama!
Maudy tersenyum menang! Mulai sekarang bodo amat! Nggak akan lagi mikirin perasaan orang lain. Kamu, ya kamu, aku ya aku. Baginya memiliki teman seperti Kiki sudah lebih dari cukup. Meski berbeda negara tapi yang penting tidak putus komunikasi. Selalu menceritakan keseharian yang terjadi.
***
"Kamu serius Dy? Haha lalu bagaimana?" Kiki sudah merebahkan dirinya setelah hari ini juga menjalani plonco di tempat kuliahnya.
"Iya. Udah ah jangan bahas lagi. Gimana hari ini kalau kamu?"
"Ya asik lah, Hem. Tapi ya lebih parah dari kalian yang di luar negeri. Disini pada songong, mending kamu ngomong gitu masih ada toleransi dari pihak senior."
"Sudah nggak apa lah. Eh iya gimana kabar Agam? Kalian baik kan?"
Kiki bangkit tapi dengan ponsel yang masih ia tempelkan di kuping. Ah ternyata Kiki haus jadi ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan mengambil minuman.
"Ah iya Dy, dia baik. Nanti malam dia juga datang kesini." Ada rasa girang di hatinya saat ini, dari nada bicaranya juga sudah terlihat.
"Ki, apa kamu berjumpa Bima? Bukan kah kamu satu universitas ya?"
Cukup lama Kiki terdiam.
"Nggak. Nggak ada jumpa kok. Dy, kita sambung nanti lagi ya. Aku mau mandi, bau banget tau badannya." Mengalihkan pembicaraan.
Maaf ya Dy aku harus bohong kali ini.
Kiki mengusap layar ponselnya. Ternyata tidak jadi mandi, ia malah rebahan dengan kaki yang menggantung. Menatap langit-langit kamar.
Tak lama matanya terpejam dengan sendirinya. Lelah menjadi seorang mahasiswa sudah tercium sejak hari pertama. Mulai dari waktu, tugas, dan lainnya. Sudah di pastikan akan menjadi kesibukannya nanti. Agam, ya kali ini Kiki satu kampus, bahkan satu kelas. Agam yang mau, semua Agam lakukan. Entah ada apa sehingga Agam mampu mengubah hatinya secepat itu. Semoga jiwa cassanova nya tidak kembali lagi.
"Agam udah nunggu di bawah. Bisa-bisanya kamu masih tidur Ki?" Mengambil bantal dan memukul wajah anaknya. Terserah di bilang orang tua kejam tidak apa, dari pada malu mengatakan kepada Agam kalau anak gadisnya belum juga bangun.
"Apa ma?" Setelah mendengar nama pacarnya di sebut langsung membuka mata. Ah ototnya terasa kaku karena berjam-jam tidur dengan posisi yang salah. Sulit untuk di gerakan kakinya.
"Kamu cepetan mandi. Nggak enak Ki, Agam udah nunggu." Mamanya langsung keluar kamar sambil tidak berhenti menggerutu.
***
"Gam?" Sapanya. Padahal juga belum selesai menuruni anak tangga.
"Udah selesai tuan putri?" Mamanya tampak menyindir.
Angin segar sudah di rasakan Agam ketika pertama kali datang ke rumah Kiki. Mulai dari orang tuanya yang menyambutnya dengan hangat. Ah pokoknya berbeda lah dengan Maudy dan Bima.
Hal itu membuat Agam takut melepas Kiki. Bukan tentang harta, ya walau itu juga jadi salah satu alasannya. Tapi, orang tuanya yang tidak muluk-muluk bertanya ketika dia datang.
"Kita berangkat ya ma?" Mereka sudah saling tatap lalu mengangguk. Siap untuk keluar rumah.
"Hati-hati." Melihat punggung anaknya sudah menjauh dari pintu rumah.
***
"Kamu yakin dia minta berjumpa disini?" Kiki mengangguk yakin, siap menunggu orang yang akan datang dan berjumpa mereka.
15 menit. Lelaki tampan yang sangat mereka kenali datang. Dengan wajah seperti biasa, dingin. Sulit untuk tersenyum.
Setelah duduk, langsung memesan makanan.
"Kamu mau apa Bim?" Agam masih diam. Mungkin dia juga canggung karena pernah menggoda pacarnya, eh mantan. Atau apalah, mereka juga tidak tau status hubungan Bima sekarang.
"Aku minum aja." Masih fokus dengan ponselnya.
Bima benar-benar udah berubah.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu mau ngomong apa Bim? Kenapa harus berjumpa disini? Bukan kah di kampus juga bisa." Kiki langsung bertanya setelah pelayan pergi.
"Gimana Maudy sekarang? Apa dia baik?" Nada bicaranya juga berubah. Agam sengaja pergi ke toilet tidak ingin menganggu pembicaraan mereka.
Ini Bima bukan sih?
"Kamu berubah tau Bim?" Malah menyuarakan isi hatinya, dan tidak menjawab pernyataan Bima.
"Kamu kalau mau tau kabarnya, lebih baik kamu hubungi dia dan tanya langsung." Bima malah menghela nafas berat.
"Untuk apa?" Malah bertanya. Untuk apa katanya? Sepertinya Kiki mulai membenci Bima yang sekarang. Apa mungkin karena hantaman keras sejak perkelahian itu Bima jadi sedikit geser otaknya? Kiki berspekulasi sendiri.
"Percuma, aku juga akan tetap di jodohkan sama papa ku. Lebih baik aku sakit sekarang, dari pada nanti lebih sakit melihat Maudy sangat kecewa."
"Maksud kamu?" Bima diam, menunggu pelayan selesai menghidangkan makanan yang masih mengepulkan asap tipis-tipis.
"Bim?" Panggilnya ulang.
Bima lebih memilih meminum jus yang ia pesan.
"Aku, sudah di jodohkan dari sekarang. Aku sudah menolak, tapi tidak bisa."
"Kenapa?" Malah bertanya kenapa? Padahal Kiki tau gimana Adi Nugroho.
"Kamu juga baru mau mulai kuliah, masih panjang kali Bim perjalanan. Apa kamu tau ke depannya?"
Bima membuang pandangannya.
"Aku bisa bebas seperti sekarang. Aku bisa keluar kemana aku mau, dengan syarat aku menuruti perintah papa ku. Ini salah satu hal yang aku inginkan." Sepertinya Bima sudah tidak lagi ingin memperjuangkan kekasihnya. Ia lebih memilih mundur sebelum berperang.
"Ah payah kamu Bim!" Rasanya Kiki juga sudah malas untuk banyak bicara lagi. Sudah tau pilihan Bima apa sekarang. Yang Kiki harapkan sekarang, Maudy tidak akan bertanya lagi tentang Bima.
"Kalau begitu aku duluan ya, selamat berkencan." Minuman miliknya juga tidak sampai separuh. Bima lebih memilih pergi meninggalkan Kiki.
"Lah, mana Bima?" Agam yang baru kembali dari toilet.
"Pulang." Jawabnya dan meneguk minuman miliknya. Sepertinya haus setelah berbicara dengan Bima.
Dulu aja janjinya akan tetap berteman, akan tetap sama-sama. Mana, sekarang malah milih jalur lain! Nyesel tau nggak dukung hubungan mereka dulu, kasian Maudy.
"Sayang?" Sebuah panggilan lembut membuyarkan lamunannya.
***
Lampu taman yang tidak terlalu terang dan kesunyian di malam ini. Akan menjadi saksi Bima yang membisu. Duduk di sebuah bangku taman, dimana dulu ia menghabiskan waktu bersama Maudy. Ia hanya diam tidak melakukan apa-apa. Hanya dia dan batinnya yang tau, tanpa harus orang lain mendengar.
Kehidupan semacam apa yang terus-menerus di atur, bahkan juga jodoh! Harus hidup dalam kepura-puraan. Berpura-pura menikmati, berpura-pura bahagia, padahal seujung kuku pun dia tidak menginginkannya.
"Ah!" Bima kembali melempari batu ke dasar tanah yang sama sekali tidak bersalah.
Bima sudah menggenggam ponsel miliknya sekarang. Perlahan ia mengetik sesuatu, nomor yang selalu ia hafal di luar kepala.
Menghapusnya lagi. Begitu sampai berulang-ulang. Hingga malam semakin larut, niatan untuk beranjak juga belum ada. Baginya kesunyian adalah hidupnya, sementara keramaian adalah sandiwara yang setiap harinya harus ia jalankan. Tidak peduli kalau ada setan sekalipun yang duduk di sampingnya saat ini. Yang penting ia tak terlihat.
Matanya kembali mengerjab mungkin ngantuk sudah melanda. Ini yang di tunggu sedari tadi, jadi ketika pulang tidak perlu repot-repot berkhayal lagi. Langsung memejamkan mata akan langsung pulas. Ini salahnya yang terlalu sulit membuka diri, ini salahnya yang tidak pernah belajar untuk selalu menyuarakan isi hatinya. Semua salahnya yang tidak pernah mencoba untuk berubah dari sifatnya yang pemalu seperti anak TK.
Apa kabar baj***an yang merusak liburan indah ku?
Tersenyum kecut dan memukul kemudi berulang-ulang. Seharusnya aku membunuhnya waktu itu, karena lebih baik aku hidup di penjara. Dari pada di rumah yang seperti neraka. Itu yang ia pikirkan.
Hal-hal indah bersama Maudy dulu selalu muncul di setiap detiknya. Merasuk ke dalam pikirannya, seperti memori yang tidak bisa di hapus. Andai saja otak manusia bisa di upgrade seperti ponsel. Pasti di dunia ini tidak ada yang merasa patah hati.
Mobil berhenti di lampu merah. Dimana banyak anak-anak yang menadahkan tangan ke arah kaca mobil. Itu hal biasa bukan? Hal yang selalu orang-orang jumpai setiap hari.
Bima tersenyum ketika melihat salah satu dari mereka mengetuk pintu mobilnya. Ia mengeluarkan uang satu lembar seratus ribuan. Karena hanya itu yang ada di dompetnya. Lainnya masih tersimpan di ATM.
"Makasih kak." Anak itu langsung tersenyum girang. Begitu juga Bima. Padahal hanya di beri uang yang tidak banyak, tapi mereka sudah seperti mendapat jatah makan seminggu ke depan.
Mereka bahagia karena uang, tapi aku menderita karena uang!
--__
__ADS_1