Dia Bimaku

Dia Bimaku
Siapa Winda?


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Maudy dan Bima benar-benar melakukannya, dan kali ini tanpa paksaan, keduanya saling memanggut gejolak cinta di siang hari. Bersamaan dengan teriknya matahari di luar rumah, maka panas membara terjadi di sebuah kamar.


"Sakit?" Maudy mengangguk, Bima menuntunnya perlahan menuju kamar mandi.


"Udah kamu keluar aja Bim." Bima menggelengkan kepalanya.


"Kita mandi bareng." Maudy membulatkan matanya. "Kenapa? Sudah terlanjur terbuka juga." Malah mengambil air dan mengguyur tubuhnya, Maudy masih berdiri mematung.


"Sayang, sampai kapan kamu mau berdiri disana?" Menyadari belum ada pergerakan dari Maudy.


***


"Kok sepi sih?" Celingak-celinguk melihat rumah tampak tak ada orang.


"Bu, ibu..." Masuk ke kamar ibunya, ternyata kosong.


"Mbak." Beralih ke kamar Maudy dan mengetuk pintu.


Tisha berjalan masuk ke kamar, meletakkan sepatu dan tasnya. Lalu kembali keluar dan berjalan ke arah dapur. Ingin membasahi tenggorokannya dengan satu gelas air dingin. Tisha mendengar suara air di kamar mandi, yang berarti ia berpikir kalau ibunya yang mandi.


"Aw sakit." Samar-samar Tisha mendengar.


Ibu, ibu kenapa?


Berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi, dan menempelkan daun telinganya.


"Pelan-pelan Bim, sakit." Lagi, Tisha langsung menjauhkan tubuhnya.


Mereka ngapain di dalam? Apa lagi itu di kamar mandi.


Tisha langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran jorok yang langsung berputar di otaknya. Ya meskipun dia tau apa yang akan di lakukan pengantin baru. Tisha langsung berbalik dan menjauh dari kamar mandi, karena sudah mendengar suara pintu kamar mandi akan di buka. Berpura-pura membuka kulkas dan menuangkan lagi satu gelas air, meneguknya lagi sambil melirik ke arah Maudy yang berjalan tertatih dengan di gandeng oleh Bima.


"Tisha." Yang di panggil langsung menoleh.


"Kamu sudah pulang?" Mengangguk.


"Ibu kemana mbak?"


"Ibu ngantar bude, mungkin ngantarnya sampai kampung." Lanjut berjalan.


Tisha mengingat percakapan temannya saat di sekolah tadi.


Flashback


"Jadi mbak mu sudah menikah ya sha?" Tanya salah satu teman dekatnya.


"Iya sudah, tadi malam." Mereka semua tersenyum.


"Kamar kalian dekatan kan?" Tisha mengangguk.


"Pasti mulai sekarang kamu akan mendengar suara aneh." Tertawa sampai terbahak. "Kamu harus tutup telinga kamu sha!" Lagi, tertawa lagi. Tisha acuh dengan fokus memainkan ponselnya. Dan belum paham maksud perkataan temannya.


Flashback end


"Berarti ini maksud omongan mereka tadi." Gumamnya pelan dan berjalan masuk ke kamarnya. Mendengarkan musik dengan memakai Earphone di telinga. Takut kalau mendengar suara aneh lagi.


***


Sore hari, Bima dan Maudy sudah bersiap. Mereka sudah duduk di dalam mobil, akan pergi ke rumah mertua. Dan Maudy sudah berpesan pada Tisha untuk menjaga rumah, karena ibunya juga belum pulang. Mungkin malam kemungkinan mereka sampai.


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali tersenyum dan menoleh ke istrinya. Suasana hatinya sangat cerah, sama dengan matahari yang masih bersinar walau hari sudah sore.


"Kenapa sih?" Risih melihat Bima yang terus tersenyum. Bima hanya menjawabnya dengan menggeleng lalu fokus kembali menatap ke arah jalanan.


"Kita lama nggak Bim dirumah mama?"


"Kenapa?" Balik bertanya.


"Nggak apa, maksudnya apa sampai malam?"


"Kalau perlu kita menginap." Maudy terdiam. Memang baginya tidak masalah, tapi entah kenapa rasanya tak enak.


"Nggak sayang, kita pulang kok. Tapi lain kali, kita bakal menginap dirumahnya mama. Nggak apa kan?" Maudy mengangguk saja.


"Dua hari lagi kita pergi?" Langsung menoleh.


"Bulan madu! Aku akan lembur di kantor selama dua hari ini." Tau sebelum Maudy bertanya, kemana?


"Apa papa kasih ijin?" Bima menghela nafas.


"Sayang, kita sudah menikah. Lalu apa alasan papa jika melarang? Bukan kah aku pimpinan perusahaan sekarang? Tanpa ijin papa juga kita tetap pergi."


Sombong amat Bim!


***


Mang Sugi langsung membuka gerbang ketika tau mobil Bima datang, senyum juga ia berikan sebagai sambutan untuk kedua pengantin baru yang tengah duduk di dalam mobil. Bima membuka sedikit kaca mobilnya, lalu memainkan alisnya ke arah mang Sugi sambil tersenyum.


Ya ampun den, seneng banget kelihatannya.

__ADS_1


"Selamat sore nyonya muda." Seorang penjaga menundukkan kepalanya.


"Jangan di tatap wajahnya." Begitu Bima membisikan ke telinga Maudy. Maudy hanya membalasnya dengan anggukan dan tersenyum.


Kenapa sampai manggil nyonya sih, geli.


"Bim?"


"Memang begitu sayang, kamu kan sekarang istriku. Jadi mereka harus memanggilmu nyonya." Ah tau saja kalau Maudy akan protes tentang itu.


"Bi, mama mana?" Masuk dan melihat seorang ART tengah membersihkan ruang tamu.


"Ada di belakang den." Tersenyum ke arah Maudy.


"Mau saya panggilkan den?"


"Tidak usah bi, biar kami yang kesana." Bima berjalan dengan menggandeng lengan Maudy, sementara Maudy berjalan dengan perlahan, karena di area intimnya masih benar-benar terasa sakit dan pedih. Seorang ART yang mereka sapa tadi melihat ke Maudy yang tengah berjalan, ia tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Ma?" Mamanya langsung menoleh.


"Loh, kalian kesini? Kok nggak bilang mama sih?" Tersenyum, mamanya tengah duduk seorang diri dengan ditemani secangkir teh hangat.


"Ma?" Maudy mendekat dengan berjalan pelan lalu mencium pipi kanan dan kiri.


"Kamu sakit?" Maudy melirik ke arah Bima.


"Nggak ma." Ikut duduk di samping mama Lisa.


"Ma, aku masuk dulu. Sayang kamu temani mama ya? Aku mau bereskan berkas sama baju."


"Bim? Soal pakaian kamu biar bibi saja yang bereskan nanti." Mamanya berteriak setelah melihat Bima berjalan menjauh.


"Gimana?" Maudy bingung, maksudnya apa?


"Maksud mama gimana, apa Bima betah disana dan tidak minta yang aneh-aneh kan?"


Ah ya ampun mama, kirain mau tanya gimana malam pertama kami.


"Nggak kok ma, cuma ya gitu. Kalau dirumah ibu kan nggak ada kamar mandi di dalam kamar. Jadi ya Bima kadang ngeluhnya disitu, walau dia nggak bilang tapi aku bisa tau ma."


"Nanti biar mama bilang ke Bima, untuk bangun kamar kamu supaya lebih luas." Ha? Maudy menggeleng, bukan itu maksudnya.


"Jangan ma, lagian kan kata Bima juga soal rumah dia sudah bangun?" Kesempatan untuk bertanya, karena Bima tak pernah bercerita tentang ini.


"Iya, rumah kalian nanti ya? Kamu sudah tau kan dimana letaknya?" Maudy jelas menggeleng lagi, karena dia benar-benar tidak tau.


"Di sebelah resto yang kamu bangun kan ada lahan kosong, nah itu sudah di beli oleh Bima. Ini juga lagi tahap pembangunan. Jadi dia sengaja buat disana supaya nanti kamu nggak lelah dan terlalu jauh."


Hampir saja Maudy terkena serangan jantung.


"Apa Bima nggak ada cerita?" Menggeleng lagi.


"Mungkin dia mau kasih kejutan ke kamu, dan mungkin juga nanti setelah kalian pindah tembok pembatas akan di jebol, agar resto dan rumah kalian gabung."


Ya ampun, ini memang terdengar seperti kejutan.


"Apa itu uang hasil kerja Bima ma?" Maudy memberanikan diri bertanya.


"Itu papa yang buatkan untuk Bima, karena seharusnya Bima itu kan yang tinggal disini karena dia anak paling kecil. Tapi Bima sendiri nggak mau, jadi papa mau berbuat adil dan membuatkan rumah disana, sebenarnya Bima juga baru tau setelah satu hari sebelum pernikahan kalian."


Papa? Benar-benar kejutan.


Maudy ingin sekali berterima kasih langsung dengan papa mertuanya, tapi mengingat dia sendiri selalu bersikap cuek dengan menantunya ini, itu yang selalu membuat Maudy sendiri harus jaga jarak.


"Kamu nggak usah pikirin lah Dy. Soal biaya pembangunan, itu memang sudah seharusnya papa yang tanggung." Terdiam lagi mendengarkan.


"Mama tau, kamu masih takut kan untuk berbicara dengan papa?" Maudy enggan menjawabnya, dan hanya bisa mengangguk.


Mama Lisa tersenyum dan mengelus lembut tangan menantunya.


"Kita masuk yuk? Sudah mulai gelap, kalian pulangnya malam kan? Kita makan bersama ya?" Maudy berdiri, dan ketika akan melangkah rasa perih kembali ia rasakan.


"Aw." Rintihnya.


"Dy, kamu kenapa nak?" Mendekat. "Apa yang sakit? Kamu keseleo?" Khawatir yang melihat Maudy masih meringis.


"Nggak kok ma." Nggak mungkin kan bilang ke mama Lisa soal ini, batinnya.


"Ya udah, sini mama bantu." Menuntun Maudy masuk ke dalam rumah.


***


Semua sudah berkumpul di meja makan, kakak ipar juga ikut dengan memangku baby Dafa, dan Rafa duduk di sebelah mas Rio. Ini alasan Maudy sebenarnya tidak ingin tinggal disini, peraturan yang ada di sini membuatnya tidak betah, makan dalam keheningan. Seperti makan dengan orang asing, bahkan nafas saja seperti tertahan.


Yang membuat Maudy heran, bahkan Rafa saja juga tidak bersuara, seperti sudah paham akan peraturan. Lucu sih, ingin sekali Maudy mencubit pipinya sekarang, tapi mengingat ada papanya Bima, begitu melirik ke arahnya semua pikiran untuk mendekat ke arah Rafa langsung buyar. Dan kembali manyantap makanan yang sudah setengah ia habiskan, walau makannya mewah tapi rasanya tidak senikmat masakan ibunya.


Ketika melihat papa Adi sudah meneguk habis satu gelas air putih, dan lanjut mengelap mulutnya dengan tissue. Maudy baru bisa bernafas lega, itupun tidak sepenuhnya hanya sedikit.


"Rafa, sini sama Aunty sayang?" Mengulurkan tangannya, sudah bebas bicara sekarang ya, tuan besar sudah selesai makan.

__ADS_1


"Mau?" Rio menanyakan dan Rafa langsung mengangguk. Maudy mengambilnya, dan kembali duduk dengan memangku Rafa.


"Mau itu onty." Menunjuk buah pisang.


"Ini." Maudy dengan telaten membukanya lalu memberikannya ke Rafa.


"Semoga cepat nular ya Dy?" Siska bersuara, Maudy langsung tersenyum dan menoleh ke arah Bima. Tentu ia juga tersenyum, membayangkan seperti apa dirinya nanti jika sudah di panggil papa.


"Hem pa? Dua hari lagi aku mau pergi bulan madu." Papanya masih diam. "Soal kerjaan nanti aku akan lembur sebelum berangkat."


"Berapa lama?"


"Seminggu pa?" Maudy langsung menatap Bima, seminggu? Batinnya. Sementara papanya masih santai dan tidak kaget, malah Maudy yang sudah takut terkena protes oleh papa Adi.


Pasti aku ujung-ujungnya yang terlibat! Rio sudah melirik ke arah papanya, menunggu jawaban apa yang akan di berikan.


"Kalian mau pergi kemana?"


"Masih di dalam negeri kok pa, ke pulau X." Manggut-manggut.


"Ya kamu minta bantuan mas kamu lah, suruh dia bantu ngehandlle pekerjaan kamu selama kamu pergi."


Nah kan!


"Mas?"


"Iya Bim iya, negeri mas!" Siska tersenyum, tau saja kalau suaminya kesal.


Setelah mengatakan hal itu, papanya langsung berdiri dan berjalan ke arah kamarnya, mungkin sudah mau tidur atau apalah.


"Bim, harusnya mas juga ikut lah. Dulu saja waktu bulan madu mas sama kakak ipar kamu ikut, malah nyusahin lagi."


"Mas sudahlah jangan di bahas lagi tragedi itu." Maudy menajamkan telinganya.


"Ya iyalah Bim. Kamu aja lemah, harusnya melawan Bim, jadi nggak babak belur."


"Mereka banyak mas." Melihat Rio ingin berbicara lagi. "Mas, sudah jangan di bahas lagi ya?" Mengingat kan.


"Untung ada Winda yang rawat kamu waktu itu Bim." Maudy semakin tidak mengerti. Apa maksudnya? Winda siapa lagi, batinnya bertanya.


"Rio." Mamanya mengingatkan, Rio langsung tertawa melihat wajah Bima sudah memerah. Rio pergi dengan menggandeng lengan istrinya, dan masih terdengar sesekali ia tertawa menaiki anak tangga.


"Winda siapa Bim?" Tak tahan dengan rasa penasaran. Mama Lisa juga ikut bangkit dan pergi menyusul suaminya ke kamar. Membiarkan pengantin baru menyelesaikan urusannya.


"Nggak kenal sayang, nggak tau. Itu ulah mas Rio aja. Supaya kamu cemburu, dan ternyata benar kamu cemburu." Maudy tak percaya dengan jawaban Bima, matanya masih menatap jama ke arah Bima.


"Sayang, kamu nggak percaya?" Masih diam, bahkan matanya tak berkedip.


"Sayang, kita pulang aja sekarang ya? Kasian Tisha, kalau ibu belum pulang gimana? Lalu, Tisha makan apa di rumah?" Maudy sepertinya satu pemikiran, tanpa menjawab ia bangkit dan berjalan, menahan rasa sakit yang terkadang muncul jika berjalan. Menaiki anak tangga karena Rafa masih ada padanya.


"Onty mau pulang?" Setelah sampai di depan pintu kamarnya.


"Iya sayang, Rafa jangan bandel ya? Nanti Aunty main kesini lagi, oke?"


"Janji Onty?" Mengacungkan jari kelingkingnya, Maudy tersenyum, siapa yang mengajarinya hal begini?


"Iya janji." Mengelus puncak kepala Rafa.


"Mas, kak aku pulang ya?"


"Iya hati-hati ya? Oh iya, apa Bima sudah kasih tau Winda itu siapa?" Siska langsung memukul lengan suaminya.


"Sudah Maudy jangan di dengar, ya udah kamu pulang aja." Maudy mengangguk.


"Sayang, kalau mereka bertengkar gimana?" Terdengar samar-samar di telinga Maudy setelah pintu tertutup, sepertinya dia sendiri harus menyelidiki siapa Winda, dan apa tadi katanya? Merawat Bima sewaktu sakit? Berarti itu ketika Bima menjauhinya.


Maudy menuruni anak tangga dengan wajah yang sudah di tekuk, sementara Bima menunggu tepat di bawah.


"Aku udah ijin pulang sama mama, kita langsung pulang aja sayang." Hanya mengangguk dan tidak menjawab.


Bima menggandeng lengan istrinya, tapi Maudy langsung menepisnya.


"Sayang kenapa sih?" Diam lagi, sampai sudah duduk di dalam mobil pun Maudy tetap diam. Terkadang dia berpikir, kenapa dirinya sekarang menjadi sangat sensitif dan cemburuan jika mendengar ada wanita yang dekat dengan Bima?


"Sayang, kamu masih mikirin yang di katakan mas Rio? Kamu marah gara-gara itu?"


"Iya, siapa Winda?"


"Ya ampun sayang, itu hanya akal-akalan mas Rio aja." Mengelak lagi.


"Jadi kamu nggak mau jujur Bim?"


"Siapa Winda?" Mengulang pertanyaan yang sama.


"Suster sayang." Tak berani menoleh ke arah Maudy.


"Dia suster yang merawat aku waktu itu." Nah kan, Maudy yakin pasti ada yang di sembunyikan Bima.


Hingga mobil sampai di rumahnya, Maudy tetap tidak mengeluarkan satu kata pun lagi, bahkan membiarkan Bima membawa semua pakaian yang di masukan ke dalam koper dan beberapa berkas yang di bawa dengan tas, Maudy tak perduli dan tak membantunya, langsung masuk kamar dan berpura-pura tidur.

__ADS_1


Ini gara-gara mas Rio!!


--__


__ADS_2