Dia Bimaku

Dia Bimaku
Terimakasih kabut


__ADS_3

Pagi ini, kabut menyambut aktivitas mereka. Ya, Maudy terbangun kembali pukul 6. Ia sudah bersiap akan pulang ke rumah omnya.


"Bim. Kamu pulang hari ini kan? Berangkat jam berapa?" Hatinya sudah melunak. Sama-sama berjanji akan berjuang, soal hati yang akan menangis lagi sudah di persiapkan.


"Jam 10. Kamu mau pulang sekarang?" Sudah akan melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi. Dengan celana seksinya, menampakan bagian sensitif yang harus membuat Maudy menutup mata.


"Kenapa?" Wajahnya malah bingung, ah Bima merasa tak punya dosa sama sekali. Menahan anak perawan orang di kamar hotelnya.


"Ah kamu pagi-pagi udah buat mataku bintitan tau nggak Bim! Udah sana buruan mandi. Aku pulang ya?"


"Jangan keluar dulu sebelum aku selesai mandi." Teriaknya setelah berada di dalam, mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower. Mendinginkan pikiran yang sempat berlari ke lorong gelap. Hampir saja tak tertahan, anak orang bisa bunting di buatnya.


Di bawah guyuran air Bima malah tersenyum menampakkan barisan giginya. Bukan karena ia sedang menggosok gigi, bukan. Tapi mengingat setiap detiknya malam ini. Hangat, itu yang di rasa.


Maudy pakai bra warna apa ya?


Tertawa sendiri. Ah rasanya bahagia sekali.


***


"Kok lama sih Bim? Kamu ngapain aja di dalam?" Sudah berdiri menghentakkan kakinya. Kesal, melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 7. Jadi mandi satu jam sendiri?


"Iya sebentar sayang." Mendekat ke arah Maudy. Mengusel wajah Maudy dengan rambutnya yang basah.


"Bim?" Panggilnya dengan wajah terpaku.


"Iya sayang?" Tersenyum dan berjongkok di hadapan Maudy.


Gila! Bima tampan sekali.


"Kamu mau bilang apa?"


Ah ya ampun. Aku sendiri sampai lupa!


"Kamu nggak ngapa-ngapain aku kan Bim waktu tidur?" Bima menunduk, iya dia mengulum senyum.


"Dikit doang." Berdiri dan menyisir rambutnya.


"Bim, serius!" Maudy menatap ke bawah. Menatap dari mulai bagian perutnya hingga ke bawah, terutama di bagian intinya.


Ah, apa Bima?


"Jangan berpikir macem-macem, aku juga belum berani. Udah dibilang dikit doang."


"Kalau kamu tau. Aku pakai bra warna apa?" Maudy menanyakan guna menjebak Bima.


"Warna merah kan?" Maudy membulatkan matanya dengan sempurna. Wajahnya pucat, ketar-ketir.


"Bim jadi kamu!" Berdiri dan kelimpungan.


"Jadi bener kamu pakai bra warna merah?" Lebih kaget.


"Iya." Pasrah dengan jawabannya.


Bima tergelak. Dia langsung berjalan dan memeluk Maudy dari belakang. "Haha sayang, jadi beneran pakai warna merah?" Masih setia dengan tawanya.


"Kenapa? Pasti kamu udah liat kan?" Menyelidik Bima.


"Nggak. Belum, mana kalau memang warna merah, coba aku mau lihat?" Mengedipkan sebelah matanya.


"Ih nggak lucu!" Ah baru sadar kalau di kerjain. Padahal Bima sudah menjelaskan kalau dia juga belum berani.


***


"Bim, aku pulang ya?" Setelah Bima mengantarnya hingga ke halaman hotel tempat dimana Maudy memarkirkan mobilnya.


"Hati-hati ya. Aku bakal rindu kamu, aku bakal nunggu kamu pulang ke tanah air?" Melambaikan tangan melepas kepergian pacarnya. Wah ternyata mereka balikan, iya tentu. Udah tidur seranjang berdua lagi? Ya kali nggak balikan. Siap-siap di hadang batu besar setelah ini.


Dalam perjalanan Maudy menelpon omnya, berasalan kalau mobilnya sudah di perbaiki. Ah berbohong lagi. Senyum bahkan bisa mengalahkan tebalnya kabut di pagi ini. Entah apa yang membuat kota di negara ini mengalami kabut tebal. Tidak ingin melihat berita saat ini, melihat Bima saja sudah cukup. Merasa tidak ada yang di rugikan atas kejadian mereka tidur satu kamar dan satu ranjang. Yang ada malah suasana hati yang saling berdegup melewati setiap detiknya.


Aku masih bisa jaga kegadisanku.


Mobil sudah mulai memasuki halaman rumah mewah. Beberapa mobil lain berjajar dengan rapinya. Mungkin baru selesai di cuci, pikirnya.

__ADS_1


"Dy, gimana? Kamu nggak apa kan?" Langsung di sambut tantenya begitu turun, wajah khawatir sangat tak bisa ia tutupi.


"Nggak tante." Ucapnya, tak lupa senyum juga masih mengembang di bibir tipisnya.


"Jangan di pakai dulu mobilnya, sebentar lagi montir datang akan periksa mobilnya. Kamu pakai aja mobil tante." Deg. Maudy menghentikan langkahnya sebelum memasuki rumah. Gawat, hanya itu yang ada di pikirannya.


"Tapi udah aku bawa ke bengkel semalam kok tante, katanya sih mesin nggak ada masalah. Cuma karena hujan jadi aku nginep aja sekalian di hotel. Lagian Kiki kan ada disana." Ah alasan yang tepat. Untung tantenya belum tau kalau Kiki sudah kembali ke tanah air.


"Oh gitu. Ya udah, nanti biar tante bilang sama om kamu." Huh nafas lega berhembus mengiringi langkahnya.


"Kak." Teriak Bian ketika baru saja menaiki dua anak tangga.


"Ya Bian?"


"Katanya kakak nggak pulang ya semalam?" Langsung menghampiri Maudy dan ikut berjalan menaiki anak tangga.


"Ah itu, mobilnya mogok. Jadi kakak nginep aja di hotel." Sudah berapa kali berbohong. Begini nih, kalau Bima muncul lagi. Selalu hari-harinya harus mempunyai alasan karena ulahnya.


"Oh. Sama siapa?"


"Bima?" Tersenyum.


Ha? Karena berkhayal Bima bisa keceplosan gini.


"Apa?" Bian langsung menghentikan langkahnya.


"Aku nggak salah dengar kan kak?" Memegang kedua bahu Maudy.


"Kakak bilang apa emangnya?" Tenang, mencoba tenang.


"Kakak nginep sama Bima? Satu kamar? Bukan kah kakak sudah?"


"Bian, kakak tadi jawab nginep sendiri, apa sih kamu, ngaco. Udah sana, kakak mau masuk kamar." Ah iya, Bian sampai lupa kalau sudah mentok di depan pintu kamar.


"Oh. Syukur kalau gitu. Kirain beneran." Maudy tak menjawab lagi. Langsung masuk kamar, rebahan sebentar, mengkhayal kejadian tadi malam. Lalu siap untuk membersihkan diri.


***


"Pa, disini kabut lagi tebal. Penerbangan nggak bisa di lakukan. Gimana pa?" Setelah berada di dalam taxi Bima mencoba menghubungi papanya.


"Ya ampun. Ya sudahlah, padahal setelah ini ada acara makan malam keluarga bersama keluarga Luna." Terdengar nafas sebal. Sekarang hati Bima lah yang di penuhi dengan kabut.


Tidak, jangan menolak lewat telepon. Akan aku lakukan rencana kemarin.


"Maaf pa. Semua juga soal alam. Siapa yang tau kalau begini." Bersikap manis saja dulu, batinnya.


"Ya sudah. Kalau memang bisa melakukan penerbangan, secepatnya kamu pulang." Tut. Sambungan terputus.


***


Hotel mewah yang menjadi tempatnya menginap, ya dia harus kembali lagi kesini. Melangkah dengan pasti, kembali memesan kamar miliknya yang sudah ia tinggalkan dua jam lalu.


"Maaf tuan, kamar sudah ada yang menempati."


"Ha? Secepat itu?" Pihak hotel hanya bisa menjawab dengan anggukan lalu tersenyum. Lagian tidak mungkin batal memesan, gimana kalau kabut tidak akan hilang sampai besok? Bukan kah ini lebih merepotkan? Tidak mungkin kan tidur di halte, seorang Bima Adi Nugroho loh ini.


"Ya sudah. Berikan kamar yang lain." Dengan berat hati melakukannya.


Ah, sial. Padahal kalau di kamar itu kan aku masih bisa mengingat kejadian tadi malam.


"Silahkan." Menyerahkan ID card kamar hotel. Bima berjalan dengan menyeret koper miliknya.


Bima meletakkan asal kopernya. Ngapain juga di susun, kalau tiba-tiba pihak bandara menghubungi bukan kah lebih merepotkan, pikirnya.


Ya, mereka yang telah memesan tiket harus meninggalkan nomor telepon yang bisa di hubungi. Karena mereka akan di beri kabar, berupa pesan atau panggilan. Dengan sekaligus memberi tau jam keberangkatan mereka.


***


"Mo, kamu ngapain? Ada yang nyari tuh di depan." Panggilan dari balik pintu. Sepertinya suara omnya. Maudy langsung beringsut turun dari rebahan sambil menyusun sekripsi, tetapi hanya di dalam pikirannya. Belum mulai menulisnya.


"Siapa om?" Maudy heran, siapa? Tidak mungkin Bima. Bukan kah dia sudah berangkat dua jam yang lalu. Kiki? Lebih tidak mungkin, baru juga dia sampai di tanah air, masak iya balik lagi.


Apakah ibu dan ayah? Dengan semangat ia menuruni anak tangga. Begitu turun, Maudy mengedarkan pandangannya ke seluruh isi rumah. Ruang tamu, ruang tv. Lalu, terakhir ruang ibadah? Ah mana mungkin, ini baru jam berapa, pikirnya.

__ADS_1


Sosok lelaki sudah duduk dengan gaya santainya di kursi teras. Maudy berhenti melangkah, menatap lekat seseorang yang memunggunginya.


"Bima?" Setelah menilik, jaket ya jaket itu memang milik Bima.


"Bim." Menepuk pelan bahunya.


"Say-" Terhenti. Bima langsung tersenyum kikuk. "Om." Menyapa lalu tersenyum.


Maudy menoleh, ah ternyata omnya mengikuti. Pasti mau kepo.


"Bukan kah katanya Maudy kamu sudah berangkat ya?" Pertanyaan yang di tujukan untuk Bima.


"Iya om. Soal kabut jadi penyebab tertundanya keberangkatan."


Ah sial, kenapa aku lebih takut bicara dengan omnya dari pada dengan ayahnya. Wajahnya juga seram, itu apa? Kenapa rambutnya warna oranye sih.


"Sebentar aku ambilkan minum ya Bim." Langsung melangkah tanpa menunggu jawaban.


"Kamu ke negara ini ada urusan apa?" Masih berlanjut mengintrogasi, tanpa adanya senyum di wajah om Wisnu. Hal itu semakin membuat Bima berkeringat dingin.


"Apa kamu juga menginap bersama Maudy semalam?" Ha? Jantung Bima sudah berpacu tak beraturan. Sesekali mengusap wajahnya yang di banjiri keringat.


Belum juga jawab pertanyaan yang tadi om.


Bima menyuplai oksigen. Seperti ikan yang di letakkan ke daratan. Rasanya susah bernafas.


"Aku disini ada jumpa sama klien om."


"Saya tanya, apa kamu juga menginap semalam dengan Maudy?"


Ah ya ampun. Omnya ngeselin sumpah.


"Nggak lah om. Walau di hotel yang sama, tapi kan beda kamar." Kebohongan yang lancar. Walau jarinya sudah memerah karena terlalu kuat menggenggam.


"Nih Bim." Menyodorkan satu gelas kopi dingin. Iya sepertinya pas jika di minum sekarang.


Minuman? Ah apa ini di kasih obat tidur, seperti minumannya semalam? Eh, untung nggak keceplosan.


"Ya sudah, saya tinggal ke dalam. Jangan main-main sama keponakan saya." Sebelum pergi om Wisnu memberikan peringatan.


Hus hus kenapa nggak dari tadi.


"Bim?" Melihat Bima terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Sayang, maaf ya?" Ucapnya dengan wajah sendu.


"Kamu kenapa berkeringat? Takut sama om ku?" Bima mengangguk pula.


"Terus kenapa minta maaf? Apa kamu bilang kalau kita satu kamar? Tidur berdua?" Bima terdiam.


"Bim? Jawab, iya kamu bilang? Ya ampun Bima!!"


"Ah bukan, aku minta maaf sudah membuatkan ketiduran semalam!" Memejamkan matanya setelah berbicara secepat kilat. Takut-takut wajahnya di tampar.


"Maksudnya?" Bingung dengan perkataan Bima. "Bim?" Melihat Bima belum menjelaskan sesuatu.


"Sayang, mama telepon. Sebentar ya?" Sedikit menjauh dari Maudy. Kenapa? Batinnya.


Setelah beberapa menit. Bima kembali duduk. Tersenyum ke arah Maudy, lalu membentuk jarinya seperti huruf V.


"Apa sih Bim?"


"Ah nggak. Sayang, aku minta maaf ya? Buat semuanya. Buat beberapa tahun ini, menjauh dari kamu. Aku sadar itu membuatku sakit. Maaf ya?" Melirik kanan dan kiri dulu sebelum memegang tangan Maudy.


Ku kira pemalunya sudah hilang. Ternyata masih.


Dua jam lamanya mereka mengobrol. Hingga pihak bandara sudah memberi kabar kalau keberangkatan akan di lakukan sore hari, barulah Bima pamit untuk pulang. Tidak bisa memeluk, mengecup, sebelum berpisah lagi. Takut kalau tiba-tiba omnya keluar.


Ah sekarang aku sadar Bim. Kamu memang sudah banyak berubah, dari cara bicara kamu, kamu sudah benar-benar dewasa sekarang. Bertahun aku melewatkan itu semua. Tapi satu yang aku tau, sifat mu tetap akan aneh jika berada di dekatku. Dan aku mau, selamanya kamu seperti itu.


Sambil memandang Bima yang menjauh berjalan.


--__

__ADS_1


__ADS_2