Dia Bimaku

Dia Bimaku
Haruskah batal nikah?


__ADS_3

Sampai di halaman rumah Bima. Hari sudah nampak gelap, seperti hati Maudy yang di selimuti awan mendung. Siap mengeluarkan petir dan menyambar siapa saja. Sebelum turun mata Maudy menangkap mobil yang terparkir di halaman rumah Bima, itu pasti mobil milik sekertaris nya, kalau mobil milik tuan rumah pasti sudah terjajar rapi di garasi mobil, batinnya.


"Ayo sayang?"


"Duluan aja." Bima menghela nafas. Dan apa? Dia langsung turun begitu saja ketika Maudy menolak, tidak memaksa atau sekedar membujuk.


Apa? Sekertaris aja naiknya mobil!


Maudy melihat Bima yang sudah memasuki rumah mewahnya, kini tinggal dirinya yang masih ragu mau turun atau tidak. Saat menimang beberapa menit, akhirnya memutuskan untuk turun. Terlihat mang Sugi melintas menuntun motornya, mungkin akan pulang dan berganti sift dengan securitty yang lain.


"Mang, mang Sugi?" Buru-buru ia turun.


"Yang neng Maudy ada apa?"


"Mang." Mendekat dulu. "Mang, itu ada tamu ya di dalam? Siapa mang?" Berbicara dengan sangat pelan.


Mang Sugi menoleh ke arah rumah.


"Itu ada wanita cantik sama papanya kalau nggak salah."


Apa? Wanita cantik!! Apa jangan-jangan!


"Oh gitu ya mang? Makasih ya mang."


"Iya, mari neng?" Maudy mengangguk dan melangkah gontai untuk masuk ke dalam. Santai, tenang, begitu ia membisikan ke hatinya, menghembuskan nafas secara perlahan dan membuangnya.


"Mama?" Melihat mama Lisa yang berdiri dekat sofa. Tapi sepi, bahkan tak terlihat tamu disana? Bingung, jelas.


"Maudy? Kamu ikut? Kenapa Bima nggak bilang?"


"Iya tadi aku yang minta Bima masuk duluan?"


Ini kesempatannya aku bertanya.


"Itu mobil siapa ma?" Pura-pura tidak tau.


"Itu mobilnya Om Gali. lagi ada urusan katanya." Maudy hanya ber Oh saja.


Apa? Kenapa Bima bilang kalau itu sekretaris nya?


"Mereka masih di ruang kerja papa." Mengangguk lagi, padahal hati sudah bertanya-tanya dan otak sudah traveling menuju gerbang yang di takutkan, pasti mengenai perjodohan, tebaknya.


"Kamu sudah makan?"


"Belum ma?"


"Ya udah, duduk sini sama mama, sebentar lagi juga mereka selesai dan kita makan malam bersama?"


Makan malam bersama? Berarti sama sekertaris nya juga?


Duh ini aku kenapa sih, kenapa aku jadi uring-uringan begini, padahal aku nggak pernah ngerasa begini. Semenjak Bima jadi pimpinan aku malah was-was, takut kalau ada wanita yang datang menggodanya! Argh!! Akan ku hajar siapa saja yang berani mengusik hubungan ku.


"Dy? Kenapa?"


"Ha? Nggak ma?"


"Ayo, itu mereka sudah selesai sepertinya?"


Maudy langsung menoleh ke arah pintu dimana ruang yang mereka jadikan pembahasan masalah kerja, itu katanya Bima sih. Tapi lagi-lagi rasa penasaran dan cemburu membuncah, melihat yang keluar hanya papa Adi dan seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan calon mertuanya itu.


Apa Bima masih di dalam? Berdua??? Sama wanita itu!!! Sebenarnya ngapain sih?


"Pa, udah selesai? Kita makan malam bersama ya?" Suaminya mengangguk dan tersenyum, terlihat kalau suasana hatinya benar-benar lagi senang.


"Kamu ikut juga ya Li?"


"Iya boleh Sa?" Maudy mengekor mama Lisa menuju ke meja makan. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung. Dan masih bertanya kenapa Bima lama sekali di dalam?


Mereka belum memulai makan, sampai menunggu semuanya berkumpul. Tak lama, Maudy melihat Bima yang keluar dengan seorang wanita, cantik, tinggi, mungkin setara dengan Maudy. Dan apa, Maudy jelas melihat Bima tertawa kecil sambil melangkah bersama wanita itu, hal yang sulit di lakukan Bima kepada orang lain, terkecuali sudah akrab dan dekat.


"Bim, ayo makan? Mona, kamu juga ya?"


Oh jadi namanya Mona? Memang ya kalau yang ujungnya NA itu nyebelin, pertama Luna, sekarang Mona! Besok siapa lagi, NANA!!


Tidak sedikit pun Maudy melirik ke arah Bima, setelah ia duduk bersama Mona, di samping Mona dan Maudy berada di hadapannya. Makan di mulai, dan keheningan sudah tercipta, hanya ada suara dentingan sendok, terutama Maudy, sepertinya ia melampiaskannya ke piring. Papa Adi tampak meliriknya, tapi Maudy acuh saja, begitu juga Bima, yang mengunyah makanan sambil terus menatap ke arah depan.


Hingga makan selesai, Maudy langsung menyambar satu gelas berisi air putih, meneguknya hingga habis.


"Ma, aku ijin ke kamar mandi ya?" Tanpa sekalipun menoleh ke arah Bima.


"Kamar mandi belakang punya ART Dy, kamu di kamar mandi Bima aja?" Maudy langsung menghentikan langkahnya.


"Iya, udah sana?" Bingung, tapi Maudy lebih mengikuti saran mama Lisa.

__ADS_1


Mereka kok nggak nanya aku siapa sih? Bahkan papa Adi juga tampaknya tak berminat memperkenalkan aku, dasar ya papa sama anak sama saja!


Sambil menaiki anak tangga Maudy menggerutu dalam hati, wajahnya di tekuk, dan menghentakkan kakinya setiap menaiki anak tangga satu persatu.


"Dy, mau kemana?" Berhasil menaiki anak tangga seluruhnya.


"Mas, mau ke kamar mandi. Tadi kata mama suruh pakai kamar mandi Bima aja."


"Oh."


Maudy mengentikan langkahnya lagi.


"Mas, kenapa nggak ikut makan?"


"Iya, mas temani kakak iparmu, makan di kamar."


"Oh gitu, nanti selesai dari kamar mandi, aku boleh liat baby Dafa kan mas?"


"Boleh dong, ya udah nanti ketuk aja pintunya kalau mas udah masuk?" Maudy mengangguk dan langsung membuka pintu kamar Bima.


Mata Maudy menangkap dress yang tergeletak di ranjang kamar Bima. Cantik, berwarna merah hati. Maudy mengambilnya, mencocokkan ke tubuhnya. Sepertinya memang ukurannya. Tapi mengingat kalau postur tubuhnya sama dengan sosok wanita tadi, Maudy langsung melemparnya lagi.


Oh jadi Bima mau kasih ini ke dia? Baik lah baik!!


Tak ingin berlama-lama memandang dress cantik yang bukan untuknya, Maudy langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai, ia kembali keluar dan tak sama sekali melirik ke arah tempat tidur, berjalan keluar dan seperti keinginannya tadi, melihat baby Dafa.


"Mas." Sambil mengetuk pintu.


"Masuk Dy, nggak di kunci."


Maudy kembali menutupnya setelah masuk ke dalam, terlihat Rafa yang tertidur di samping kakak ipar, dan baby Dafa sedang dalam gendongan mas Rio.


"Kamu mau gendong?" Maudy mengangguk antusias. Dan sekarang, ia bahkan lupa untuk kembali ke meja makan, bergabung bersama muka ketat, haha.


"Udah cocok kamu Dy." Ucap Siska spontan, melihat Maudy telaten mengajak baby Dafa bicara.


"Ah masak sih kak." Padahal sebenarnya ia senang mendengar itu.


Nggak, nggak! Jangan mikirin itu dulu, harus cari tau dulu siapa wanita tadi.


"Ada tamu ya dibawah Dy?" Duduk di samping istrinya.


"Siapa?


"Em nggak tau, katanya namanya Mona, sama papanya juga sih?" Kembali mengajak baby Dafa berbicara.


"Mau ngapain?" Maudy menoleh, sepertinya mas Rio juga kenal, apa sudah sedekat itu dia dengan keluarga ini, batinnya.


"Nggak tau." Cuek, malas bahas.


***


"Kenapa Maudy lama sekali ma?" Berbisik.


"Nggak tau, mungkin tertidur, dia juga kan lelah Bim." Bima langsung bangkit berdiri dari duduknya.


"Bim, ikut." Mona mengejar Bima, hingga menaiki anak tangga. Bima langsung mencari keberadaan Maudy di kamarnya, dan di ikuti oleh Mona.


"Kenapa?"


"Nggak ada."


Saat melangkah keluar bersama Mona, Maudy juga baru saja keluar dari kamar Rio. Maudy menatap lekat Bima, dan wanita itu. Matanya memanas, tapi ia tahan agar tidak jatuh.


"Sayang?" Bima memanggilnya lembut.


Maudy diam tak menjawab, matanya menatap tajam ke arah Mona dan Bima, Bima langsung melepas tangannya yang masih menempel di handle pintu. Saat akan melangkah mendekat ke Maudy, ia langsung melangkah duluan dan menabrak tubuh Bima. Lalu turun dengan langkah di percepat.


Maudy kembali ke meja makan, dan ia akan pamit pulang.


"Pa, aku pulang ya, om mari?" Langsung berbalik. Sementara mama Lisa tidak tau kalau Maudy akan pulang tidak di antar Bima.


Maudy mempercepat langkahnya menuju pintu. Dan terus berjalan keluar gerbang. Tak peduli lagi, hatinya sakit. Melihat Bima yang keluar kamar bersama wanita lain.


Dasar ba****an!! Bilangnya masih polos, nggak tau apa-apa!! Ah sia***!!


"Mau kemana nona?" Teriak salah satu penjaga.


"Pulang!" Ucapnya ketus dan berjalan keluar gerbang tinggi. Maudy terus berjalan, berharap cepat keluar komplek dan akan mendapatkan taxi.


***

__ADS_1


"Ma? Maudy mana?" Bima yang melihat Maudy tidak ada di meja makan.


"Loh, tadi pamit pulang? Kamu nggak ngantar dia Bim?" Mamanya langsung berdiri dari duduknya, panik juga, sebenarnya ada apa?


"Nggak ma, aku juga nggak tau dia pulang?" Lebih bingung.


"Tadi waktu aku ke kamar dia juga keluar ma dari kamar mas Rio, terus turun gitu aja." Tampak Adi menaikkan sudut bibirnya, sementara Mona masih berdiri mematung tanpa merasa bersalah.


"Kejar Bim!"


"Sudah ma, dia juga bisa naik taxi." Bima tak peduli ucapan papanya, baginya mamanya yang benar, dengan cepat Bima berjalan keluar, mengeluarkan mobil dari garasi.


Membunyikan klakson panjang, agar gerbang segera di buka. Bima langsung tancap gas, melihat setiap sisi jalan. Tapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Maudy disana. Hingga sampai persimpangan jalan pun tak terlihat. Bima tau tujuannya harus kemana sekarang.


"Mungkin lagi berantem tuh sama den Bima." Salah satu penjaga rumahnya berbisik setelah kepergian Bima.


"Tau ah, urusan anak muda." Satunya menjawab.


***


Mobil Bima sudah sampai di halaman rumah Maudy, dengan cepat ia turun. Tapi melihat pintu yang tertutup, rasanya enggan untuk mengetuk, takut. Dia tau kalau sebenarnya Maudy cemburu. Tapi, tidak tau kalau sampai begini akhirnya.


Dengan beberapa kali menimang, akhirnya Bima berani mengetuk dan mengucap salam. Tapi sudah beberapa kali tak ada jawaban.


"Mas, orangnya pergi tadi." Salah satu tetangga yang melintas memberi tau. Bima langsung menoleh ke arah tempat dimana biasanya ayahnya menaruh mobil.


Ah iya, aku nunggu aja kali ya?


Dengan bersabar Bima menunggu, melihat jam di tangannya. Pukul 08:30 malam. Bima memejamkan mata sebentar. Dan sudah entah berapa lama dia disana, hingga akhirnya memutuskan pulang. Menelpon juga percuma, nomor Maudy tidak aktif.


Saat mesin mobil sudah menyala, ada sorot lampu yang juga masuk ke halaman rumah. Bima menunggu, kali aja itu ayah mertuanya. Tapi tidak, mobilnya berbeda. Bima menunggu, melihat siapa yang turun.


"Maudy?" Dahinya berkerut, dengan siapa dia pulang? Bertanya-tanya di dalam mobil, dengan mencengkram kemudi. Tak lama terlihat lelaki turun juga dari mobil yang ia lihat. Maudy menoleh, ia tau kalau itu mobil Bima.


Maudy melambaikan tangan ke arah seseorang yang mengantar pulang, dan setelah itu dengan cepat ia melangkah ke arah rumah. Persetan dengan Bima yang masih di dalam mobil.


Bima menunggu mobil itu juga pergi, setelah itu ia berniat untuk masuk ke rumah dan meminta penjelasan kepada Maudy.


Bisa-bisanya pulang nggak pamit, malah pergi sama lelaki lain!


Bima langsung turun begitu mobil yang mengantar Maudy sudah pergi. Mempercepat langkahnya.


"Maudy." Teriaknya saat Maudy sudah akan menutup pintu rumahnya.


Tak peduli pintu tetap Maudy tutup, bersandar di balik pintu. Dan mendengar suara langkah Bima semakin mendekat.


"Buka!" Sekali bentakan Maudy menciut, padahal dia sendiri tengah dilanda emosi yang membuncah.


"Apa!" Membentak dengan sekeras mungkin. Kalau saja rumah mereka saling berdempetan dengan tetangga, mungkin juga yang lain akan mendengarnya.


"Kamu kenapa pulang gitu aja? Nggak ada bilang, sekarang kamu pulang di antar laki-laki lain!" Menahan pintu dengan satu tangannya takut kalau Maudy kembali menutupnya, sementara matanya fokus menatap tajam ke arah Maudy.


"Kenapa tanya? Ha, aku jadi menyesal ikut kesana, menganggu kamu dengan wanita itu, haha." Tertawa getir.


"Tadi siapa?" Tidak, Bima malah berbalik tanya.


"Kenapa?" Jadi malah saling tanya. "Dia Ilham, kenapa?" Menantang Bima.


"Oh, jadi itu Ilham? Kamu lebih milih pergi sama dia?"


"Iya, karena itu lebih bagus dari pada aku di rumah kamu, lihat kamu sama perempuan lain masuk ke dalam kamar!! Haha, lanjutkan Bim. Papa kamu dukung kok, lain hal dengan hubungan kita! Dia nggak suka aku, dan nggak akan pernah suka! Terserah, minggir aku mau tidur, aku capek aku ngantuk!" Mendorong tubuh Bima dan menutup pintu dengan kerasnya, mengunci dan langsung berjalan menuju kamarnya.


Aku nggak akan nangis!!


Sementara Bima mematung di depan pintu, bingung bagaimana cara menjelaskannya.


Maudy tidak peduli, menutup wajahnya dengan bantal agar tak mendengar kalau Bima masih berteriak memanggilnya. Tidur, tanpa terlebih dahulu membersihkan tubuhnya setelah seharian berkeliling.


Sakit rasanya melihat calon suaminya keluar kamar bersama wanita lain, bahkan Maudy sendiri saja masih segan berada disana, walaupun mama Lisa sendiri yang menyuruhnya.


Apa selama ini Bima memang sudah dekat dengannya? Sejak kapan? Kenapa aku bisa nggak tau?


Maudy mengintip dari jendela kamarnya, tampak mobil Bima yang sudah putar balik siap untuk pulang. Hela nafas lega terdengar darinya.


Besok aku harus ke proyek, sebaiknya aku tidur sekarang. Terserah kamu Bima maunya bagaimana, jika kamu lebih memilih dia, aku pastikan pernikahan kita batal dari sekarang. Memang benar kata orang-orang ya, pertunangan, dan ketika akan melaksanakan pernikahan, cobaan selalu datang bertubi-tubi. Dan sepertinya aku tak sanggup melewatinya Bim.


Maudy kembali rebahan di atas kasur, tak lama terdengar suara deru mesin mobil. Mungkin ayahnya pulang, batinnya. Untung saja ia membawa kunci cadangan rumah.


"Maudy udah pulang kayaknya yah." Terdengar suara ibunya yang berbicara di luar. Maudy mengurungkan niatnya untuk keluar kamar lagi, ia tau ibunya pasti akan bertanya, dari mana, jalan-jalan kemana saja. Dan kalau seperti itu, Maudy tidak bisa menyembunyikan kejadian hari ini, bisa-bisa ibunya juga ikut mendukung untuk pernikahan ini di batalkan.


Selama aku di luar negeri, aku banyak melewatkan perubahan kamu Bim!!


--__

__ADS_1


__ADS_2