
"Oh jadi gitu, memangnya kenapa mbak mau nunjukin ke mereka kalau mbak bahagia? Tanpa di tunjukan seluruh pelosok di negeri ini tau kalau keluarga mbak bahagia." Ibu Irma mengemukakan pendapatnya. Mama Lisa tampak menghela nafas, dan melirik ke arah Bima. Sepertinya sudah saatnya dia bercerita, begitu batinnya berbicara.
"Jadi gini, dulu tuh papanya pacaran sama seorang perempuan. Nah, dia pergi keluar negeri untuk kuliah dan berjanji akan kembali, tapi sampai 5 tahun tak kunjung pulang, malah dengar kabar kalau dia disana sukses mbak. Hingga akhirnya aku mengenal Adi, dan menjalani hubungan tanpa status. Sampai Adi sendiri mendengar kalau wanita itu sudah menikah, dan barulah dia benar-benar meyakinkan hubungannya telah berakhir. Sampai kami menikah, tanpa ada kata pacaran. Lalu, setelah aku melahirkan Rio, sekitaran umurnya masih 2 tahun terkadang wanita itu datang kesini untuk berjumpa Adi, untuk sekedar meminta maaf. Tapi suamiku jelas menolaknya mentah-mentah." Bima tetap diam mendengarkan mamanya bercerita, begitu juga Maudy tak ingin setiap detiknya kehilangan pendengaran.
"Jadi?"
Mama Lisa mengangguk.
"Iya, maka dari itu papanya tidak memperbolehkan Bima pacaran, dan berniat menjodohkan anak-anaknya. Karena dia tau sakit jika menjalin hubungan."
Jadi? Itu alasannya??
"Maaf ya mbak, aku sendiri nggak ada maksud
kepada Maudy dan Bima. Tapi aku sendiri tau, setiap manusia pasti akan pernah merasakan sakit dalam menjalankan hubungan. Mbak kan juga pernah muda kan, pasti tau?" Ibu Irma tampak mengangguk mengerti.
"Iya mbak, aku ngerti kok. Ya udah, yang terpenting sekarang, anak kita mbak. Semoga mereka bisa lekas menjalani rumah tangga, yang baik dan rukun." Mama Lisa tersenyum.
Hening sampai tiba di rumah.
"Ma, aku mau ajak Maudy pergi jalan-jalan. Mama pulang di jemput supir mau? Biar aku telepon mereka jemput mama disini." Maudy menutup matanya dan meringis.
"Iya udah nggak apa. Nanti mama aja yang telepon, ya udah kalian berangkat aja, hati-hati ya." Mama Lisa segera mengajak turun calon besannya. Ini kesempatan baginya untuk bercerita lebih banyak tanpa harus anak dan calon menantunya mendengar.
"Ma, bu, kami pergi ya?" Maudy pamit dan ikut turun terlebih dahulu sebelum pergi.
"Iya, udah sana hati-hati."
Kenapa mama Lisa malah tampak senang, Hem pasti mau bergosip ni sama ibu.
"Bim, kenapa nggak bilang dulu sih kalau kita mau pergi? Kalau aku nolak tadi gimana?" Setelah masuk kembali ke dalam mobil, duduk dengan mulut yang terus menggerutu.
"Sayang, kamu tau kan? Waktu fitting apa ada kesempatan aku bicara sama kamu berdua?" Maudy terdiam karena perkataan Bima benar.
"Aku tau kamu capek, kamu tidur aja, nanti kalau udah sampai tempatnya aku bakal bangunkan kamu." Maudy langsung memejamkan matanya setelah mobil melaju menjauhi halaman rumah. Lelah, mengantuk memang itu yang dia rasakan. Sehingga tanpa menunggu mobil berjalan jauh juga akan segera terlelap.
***
Udara dingin mulai terasa, pemandangan yang seluruhnya hijau memenuhi bola mata. Dan pegunungan yang membukit seakan menyambut kedatangan mereka. Bima, dia sengaja membuka jendela mobilnya, agar Maudy juga bisa ikut merasakan walau hanya masuk ke alam mimpinya. Bima tersenyum, dan segera mempercepat laju mobilnya untuk sampai tempat tujuan yang akan ia datangi.
Tugu besar yang berdiri sudah menyambutnya untuk masuk. Dan seperti biasanya, harus mengantri dan membayar kepada setiap penjaga di tempat tertentu.
"Bim, kok dingin banget. AC nya kamu kencengin ya?" Bima diam, menahan senyum.
Sadarlah sayang kita dimana. Batinnya, tanpa melirik membuat Maudy semakin sebal dan kembali memejamkan mata.
Mobil kembali melaju setelah mengantri dan Bima mengeluarkan uang sesuai harga yang di minta para penjaga disini. Pohon-pohon besar sudah bergoyang, seakan melambai dan tersenyum ke arahnya, Bima membalas senyuman itu. Tak peduli jika tumbuhan tak mengerti sekalipun, yang terpenting dia senang.
__ADS_1
Dan sampai akhirnya mobil berhenti tepat di area parkir. Bima belum membangunkan Maudy, ia masih ingin melihat calon istrinya tidur dengan pulasnya. Jika di bangunkan, bukan kah itu mengganggu.
15 menit kemudian. Dan Maudy benar-benar membuka matanya, melihat Bima yang malah memandangnya tanpa berkedip.
"Bim?"
"Ha, iya sayang?" Tersadar, berarti dia sedang melamun?
"Kita dimana?" Duduk ke posisi semula seperti sebelum berangkat, melihat ke sekeliling. Hanya ada mobil yang berjajar dengan rapinya, belum, semuanya belum terlihat.
"Ayo turun?" Bima turun lebih dulu, dan berlari kecil untuk membukakan pintu agar Maudy turun dengan gampangnya.
"Ayo?" Ucapnya lagi dan mengulurkan tangannya. Maudy bingung.
"Sayang, ini tempat kenangan kita? Bukan kah kita udah janji akan datang kesini lagi dengan status yang berbeda?" Maudy menggeleng tidak percaya. Tapi akhirnya ia turun menyambut uluran tangan Bima. Kesadaran sudah pulih setelah lamanya tertidur di dalam mobil.
"Bim, kamu serius?" Melihat pemandangan yang sudah lama sekali tak ia lihat. "Sudah banyak yang berubah Bim."
"Disini Sayang, bukan disana." Menunjuk tempat beberapa tahun lalu, dimana ia dengan bodohnya menurut melemparkan koin, dan tapi ini benar-benar terjadi.
"Kita langsung kesana ya?" Mengnggam erat tangan Maudy dan berjalan ke arah jembatan panjang.
"Maudy?" Panggil seseorang dan meneliti setiap wajah kalau yang di panggil memang benar itu orangnya. Bima langsung menghembuskan nafas kasar.
"Aldy?" Kaget juga dengan kehadirannya di tempat yang sama.
Piknik!!! Disini tuh orang datang memang mau piknik, malah tanya.
"Em kami mau kesana."
"Oh apa kabar?"
"Sayang ayo?" Berbisik di telinga Maudy, karena sudah melihat Luna berjalan mendekat ke arah suaminya. Mungkin kembali setelah membeli sesuatu, karena Luna membawa sebuah kantung plastik. Tapi Bima menamakan penglihatannya lagi, bukan di wajah Luna, tapi karena perut Luna yang sudah terlihat membuncit dengan dress yang mengepas di tubuhnya.
"Iya aku disini, karena Luna ngidam pengen melihat air terjun." Sepertinya tau Maudy akan menanyakan hal itu.
Cih, padahal kami tidak bertanya.
"Oh istri kamu udah hamil?" Melirik ke arah Luna yang sudah bergelayut di lengan Aldy.
"Iya Dy."
"Selamat ya." Tersenyum kecut. "Ayo sayang? Duluan ya Aldy?" Langsung menarik lengan Bima.
Setelah jauh dari Aldy dan Luna.
"Bim, kok perut Luna udah gede ya? Katanya ngidam, harusnya kan-"
__ADS_1
"Sstt.. Jangan urusi mereka, tuh" Menunjuk indahnya pemandangan alam, air terjun yang menyejukkan mata. Maudy terdiam sesaat, menoleh ke arah Bima dan tersenyum.
"Makasih ya Bim, kamu udah nepati janji." Bima mengubah posisi berdirinya, menghadap tepat ke arah Maudy. Memegang kedua bahu Maudy, mengecup hangat keningnya, dan "I love you." Sebuah kata yang sudah lama sekali tak di dengar Maudy.
"I love you to." Pelukan kembali terjadi di tempat yang sudah lama sekali tak mereka datangi.
"Mau lempar koin lagi?" Bima memberi usul.
"Nggak Bim, kita dapat kembali menjalani hubungan bukan karena koin, tapi memang sudah takdirnya? Semua sudah di atur dengan yang maha pencipta. Sekarang kita, bagaimana kita menjalani hubungan." Lagi, Bima menariknya lagi ke pelukannya.
Gangguan mulai datang, karena ponsel Bima yang berdering.
Papa?
"Papa telepon, sebentar sayang?" Sedikit menjauh dari Maudy. Tak masalah baginya, karena sekarang alam sedang menunjukan keindahannya, sehingga membuat senyuman terukir di bibir dan hatinya.
5 menit kemudian.
"Sayang, kita pulang ya?" Bingung, marah juga percuma. Padahal baru saja sampai.
"Kenapa Bim, ada masalah?"
"Iya, papa bilang ada urusan pekerjaan, dan sekretaris aku udah nunggu di rumah."
"Nunggu di rumah???" Kaget, dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin urusan pekerjaan di hari weekend dan, apa? Sampai datang kerumah? Maudy perang dengan batinnya sendiri.
"Nggak apa kan? Nanti kita pergi lagi kalau ada waktu senggang." Merayu Maudy yang sudah terdiam di sepanjang perjalanan menuju mobil.
"Iya tapi nggak masuk akal aja, masak sampai harus datang ke rumah kamu?"
"Iya sayang, sering juga sih kami melanjutkan pekerjaan di rumah."
"Apa???" Lebih kaget dari sebelumnya.
***
Setelah menempuh jarak yang tidak dekat, mereka sampai di daerah rumah mereka.
"Lurus, jangan belok!" Bima bingung dan memperlambat laju mobilnya.
"Aku ikut kerumah kamu!" Terdiam, Bima juga bingung, sampai akhirnya dia lebih memilih menuruti kemauan Maudy.
Aku harus tau, seperti apa bentuk dari sekretaris nya itu, dan jika papanya mempunyai rencana terselubung lagi, maaf Bim, aku harus melawan papamu dan mengibarkan bendera perang.
--_
Maaf ya, dia Bimaku memang masih panjang lagi, tapi sepertinya aku cuma siapkan novel ini aja🙏 Alasannya kenapa, mungkin pihak NT juga tau😊 Kalau mood ku berubah, mungkin aku bakal terus nulis dengan karyaku yang lain, makasih ya buat waktunya yang sudah membaca karyaku🙏🙏
__ADS_1