Dia Bimaku

Dia Bimaku
Tiga hari lagi


__ADS_3

Flashback


Maudy berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, untungnya air mata masih bisa tertahankan. Dia sudah putuskan kalau malam ini benar-benar pulang tidak mau di antar Bima. Percuma, yang ada hanya pertengkaran nantinya. Maudy memang melihat mobil Bima lewat, tapi dia sendiri berjongkok agar tak terlihat oleh Bima.


Dan sampai mobil Bima menjauh, Maudy menghela nafas lega. Sampai ia berdiri kembali, ada mobil yang berhenti tepat di sampingnya, Maudy heran apa ini suruhan Bima?


Kaca jendela mobil tampak terbuka, Maudy melihat dan tatapan mereka bertemu.


"Kamu ngapain disitu?" Ternyata itu Ilham yang tak sengaja melintas.


"Aku, aku tadi dari rumah temen aku Ham. Aku boleh nebeng kamu nggak?" Langsung ke intinya.


"Boleh, ayo masuk."


Setelah duduk di dalam mobil, Maudy kembali menghela nafas. Ada tumpangan, batinnya.


"Kenapa kamu jalan kaki?" Dia juga tau, pasti Ilham akan menanyakan hal ini.


"Tadi mobilnya mogok, karena aku juga mau segera pulang, perut juga lapar jadi aku bilang mau cari taxi aja."


"Oh gitu, ya udah kebetulan aku juga lapar, kita makan dulu ya? Nanti aku antar kamu pulang."


Ha? Apa? Aku salah kasih alasan ya?


Sepanjang perjalanan, Ilham terus mengoceh, Maudy menanggapi dengan tersenyum dan mengangguk. Padahal apa yang di ucapkan Ilham juga tak masuk ke otaknya. Matanya terlalu liar, melihat keseluruhan sisi jalan, takut malah kalau Bima lihat dia sendiri yang akan di salahkan nantinya.


Hingga akhirnya mereka benar-benar mampir ke salah satu rumah makan, mengisi perutnya kembali. Saat selesai makan, sesuai janji Ilham yang akan mengatakan. Tapi ibunya menelepon kalau beliau lagi pergi keluar, menjenguk salah satu rekan kerja ayahnya yang sakit. Maudy malah senang, karena kalau menangis pun ibunya tidak akan mendengarnya nanti.


Sampai di halaman rumahnya, mata Maudy membulat sempurna. Melihat mobil Bima yang terparkir sempurna dan Bima duduk di teras.


Ah, pasti aku yang di salahkan nantinya.


Flashback end.


"Jadi, kalian makan berdua?" Maudy mengangguk setelah menjelaskan semuanya tanpa ada unsur kebohongan.


"Terus, kamu mau?" Mengangguk lagi.


"Maaf, seharusnya aku nggak menghindar dari masalah Bim. Aku terlalu gengsi untuk mengakui kalau sebenarnya aku cemburu. Harusnya aku minta penjelasan kamu malam itu juga, jadi masalahnya nggak akan terlalu lama."


"Sepertinya aku harus mempercepat pernikahan kita?"


"Apa?"


"Iya."


Maudy menggelengkan kepalanya.


"Bim, bukankah ini sudah di percepat? Lalu mau di percepat gimana lagi?"


"Minggu depan." Lebih kaget lagi.


"Ayo kita pulang sekarang, aku mau ngomong sama papa, kalau Minggu kita nikah. Urusan resepsi belakangan." Tidak, Maudy masih bingung. Apakah Bima serius? Maudy kewalahan mengikuti langkah Bima, dengan tangan yang terus di tarik.


"Bima? Tunggu sebentar lagi, sampai resto aku siap Bim." Tak menghiraukan, membuka pintu mobil dan mempersilahkan Maudy untuk masuk.


Gila, ini Bima becanda kan?? Minggu depan? Ah nggak, aku yakin dia bercanda.


***


"Sayang, aku langsung pulang ya? Titip salam sama ibu dan ayah, bilang aku nggak sempat pamit. Kalau mereka tanya bilang aku ada urusan." Langsung mengecup singkat kening Maudy. Bima turun dan berlari kecil, membuka pintu mobil mempersilahkan Maudy untuk turun.


Mata Maudy bahkan tak berkedip, seirama dengan degup jantung yang seperti berhenti beberapa detik. Mulutnya bungkam, lidah terasa kaku. Ingin menanyakan sekali lagi apakah Bima serius? Tapi percuma, jawaban Bima tetap sama.


"Sudah sana masuk." Setelah duduk di depan kemudi melihat Maudy yang masih berdiri mematung.


"Ah iya. Kamu hati-hati." Berbalik, mempercepat langkahnya. Pikiran sudah jauh terbawa suasana yang mengatakan kalau Minggu depan mereka menikah. Kalau berbicara kepada ibunya juga pasti mereka akan setuju-setuju saja.


***

__ADS_1


"Bim, kenapa mendadak? Apa Maudy hamil?" Mamanya bahkan tak percaya dengan keputusan Bima.


"Nggak ma, pa. Ini keputusan aku. Kali ini aja, papa bantu aku. Bukan kah papa sudah setuju? Aku akan lebih semangat menjalankan perusahaan kalau Maudy terus berada di sampingku pa. Pa, aku sudah dewasa sekarang. Biarkan aku memutuskan segala sesuatunya, papa dan mama hanya mendukung ku." Ternyata tekadnya sudah bulat.


"Tiga hari lagi Bim."


"Nikah saja dulu pa. Resepsi diadakan setelah pembangunan resto miliknya selesai."


Papanya tampak menimang, sesekali memijat keningnya. Mungkin merasa pusing dengan kemauan Bima. Anak yang tak pernah meminta apapun, bahkan mobil sekalipun, uang yang lebih. Dan kini meminta hal yang tak mungkin ia minta dua kali dalam seumur hidup, menikah!


"Gimana ma?" Akhirnya, Bima mendapat lampu hijau. Kalau sudah begini Bima tau jawaban mamanya.


"Besok kita datang kesana pa." Yes, Bima berteriak dalam hati. Lagian, Bima juga merasa dirinya sudah mapan. Pekerjaan, tinggal bagaimana nantinya dia bertanggungjawab sebagai seorang suami.


Kelar, bagi Bima semua sudah clear. Karena mendapat restu orang tuanya adalah hal yang ia tunggu selama bertahun-tahun. Dan malam ini, semuanya sudah jelas. Menunggu tiga hari lagi, Maudy sah menjadi istrinya, jodohnya.


"Bim?" Mamanya masuk ke dalam kamar setelah membicarakan hal penting tadi.


"Ya ma?" Duduk di tepi ranjangnya.


"Kamu siap menikah?" Jelas dia langsung mengangguk.


"Mama tau sifat kamu bagaimana, persis seperti papamu yang pencemburu. Tapi mama mau, setelah menikah sebaiknya kamu kendalikan itu, agar jauh dari pertengkaran Bim." Sebuah nasehat yang akan selalu Bima ingat.


"Mama tau, kamu berambisi seperti ini karena kamu takut Maudy di ambil orang kan?" Bima langsung menoleh, kenapa mama bisa tau, batinnya.


"Tapi, kalau memang kamu sudah yakin, besok ataupun bulan depan sama saja. Ya sudah, mama akan siapkan semuanya." Bima langsung memeluk mamanya, mengucapkan terima kasih. Rasanya ribuan terimakasih juga tidak cukup. Karena hanya mamanya yang selalu mendukung keputusannya.


"Kamu istirahat, besok kita kesana. Kamu nggak usah lembur di kantor ya?" Bima mengangguk.


"Bagaimana orang tuanya Maudy ma? Mereka belum tau." Mamanya mengentikan langkah.


"Mama sudah telepon ibunya barusan."


"Lalu, apa mereka tidak keberatan?" Bima yang berjalan mendekat sekarang, sepertinya penasaran dengan apa yang di katakan ibu Irma.


"Ibu dan ayahnya tidak keberatan, tapi-"


"Sudah, yang terpenting besok kita kesana." Tersenyum dan melangkah keluar. Meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung.


Aku harus hubungi Maudy sekarang.


Bima berdiri di balkon kamarnya, menggenggam ponsel yang sudah menunjukkan panggilan.


"Hallo?"


"Sayang? Kamu belum tidur kan?" Ketar-ketir takut kalau malam ini juga di tolak.


"Belum Bima."


"Em. Maaf ya, aku harus egois sekarang. Maaf, kamu jangan nolak kalau besok keluarga aku datang. Kamu boleh menolak malam pertama kita kalau kamu belum siap. Aku nggak masalah, aku akan sabar, yang terpenting kamu sudah jadi milikku seutuhnya." Maudy terdiam.


"Sayang?"


"Iya Bim? Aku tau, aku juga maunya kita menikah. Tapi, aku takut kalau nggak bisa bagi waktu sama kamu nantinya, karena kalau resto udah siap pasti aku akan sibuk."


"Jangan khawatirkan itu, ingat ini Bima kamu yang sekarang. Nanti akan aku utus beberapa orang buat bantu kamu."


"Merepotkan Bim."


"Tidak ada yang di repot kan, lebih repot kalau kamu sendiri yang mengerjakan."


"Sayang?"


"Iya?"


"Panggil aku sayang!"


"Iya sayang." Bima tersenyum puas.

__ADS_1


Sekarang tidak ada lagi penghalang dalam hubungan mereka, baik restu ataupun orang ketiga. Itu yang Bima yankin kan saat ini.


***


Pagi hari sekitar pukul 8. Tisha kembali menjadi sasaran ibunya, sementara Maudy masih bersantai duduk di tepi ranjang, dengan ditemani Kiki. Ya dia datang lagi sekali, hanya untuk membantu segala urusan ibu Irma. Bahkan mamanya juga ikut datang, rasa senang mendengar Maudy akan segera menikah membuatnya cekatan sehingga pagi-pagi sekali sudah sampai disini. Oh repotnya menyambut tamu agung yang akan datang nanti malam. Padahal hanya sebuah pertemuan keluarga, tapi karena mengingat besan dari kalangan atas, ibu Irma juga ketar-ketir mempersiapkan semuanya.


"Mbak, udah jangan masak. Aku yang pesankan kateringnya. Nanti siang juga di antar. Kita beres-beres rumah aja ya?"


"Ya ampun, repot-repot segala sih mbak." Meletakkan piring yang tadi sempat ia lap berulangkali.


"Udah nggak apa. Kita mulai bereskan sofa ya? Atau nanti mau duduk di bawah aja?"


"Eh, nggak mungkin lah mbak. Nanti ada papanya Bima yang ikut, mana mungkin beliau kita suruh duduk di bawah." Mereka tertawa, membayangkan seorang Adi Nugroho datang kerumah sederhana seperti ini.


Sementara mereka yang di dalam kamar.


"Cie, yang bentar lagi nikah. Pasti bakal uwu-uwu lah." Maudy menutup wajahnya dengan bantal, membayangkan pikiran jorok, seperti apa malam pertamanya nanti.


Eh tapi bukankah Bima bilang menunggu aku siap kan?


"Udah jangan di bayangkan, tiga hari lagi loh." Tertawa lagi.


"Gimana Agam Ki?" Secepat itu mengalihkan pembicaraan.


"Hem sudah kok, kemarin dia telepon. Katanya seminggu lagi juga pulang."


Pantas saja wajahnya sudah tidak murung.


"Jadi dia nggak bisa hadir saat aku nikah dong?" Menopang dagu dengan kedua tangan.


"Agam nggak penting Dy, yang terpenting itu Bima yang hadir." Ah iya Kiki benar, pikirnya.


"Kita keluar ya? Bantu ibu kamu?" Maudy mengangguk dan mengikuti langkah Kiki keluar kamarnya.


Mereka kebagian duduk dan mengelap piring, sementara Tisha yang libur hari ini kebagian mengepel lantai, baik dalam rumah juga teras, dengan wajahnya yang tak menunjukkan senyum sama sekali.


"Bu, apa ini harus di bersihkan semua?" Mulai kesal.


"Iyalah Tisha." Jawaban ibu selembut mungkin.


"Udah kerjain aja, nanti kakak kasih make up yang kakak janjikan kemarin. Udah kakak bawa kok?" Mata Tisha langsung memancarkan aura kesenangan. Semakin gesit ia mengepel.


Maudy dan Kiki melihatnya tertawa cekikikan.


***


Malam yang di tunggu tiba, pihak keluarga Bima sudah datang. Papa dan mamanya, selain itu juga ada Rio dan Siska, membawa bayi mereka dan menitipkan Rafa kepada salah satu ART dirumahnya.


Mereka sudah duduk di sofa, Kiki dan mamanya tidak hadir disini, karena ini hanya pertemuan keluarga saja. Mereka pulang setelah semuanya selesai. Piring yang di bersihkan juga sepertinya tidak akan terpakai mengingat kalau yang datang bisa dihitung jari.


Sumpah aku deg-degan sekarang.


Maudy menggenggam erat jarinya sendiri, Sesekali melirik ke arah Bima.


"Sepertinya yang sudah Bima katakan, kalau dia mau pernikahan di percepat dari bulan yang sudah di tentukan. Jadi bagaimana dengan keputusan keluarga?" Papanya berbicara dengan bijaksana.


"Maudy, kamu yang menjawab?" Ayahnya juga membuka suara.


"Iya aku mau yah." Mengangguk dengan yakin.


Yes, berhasil. Bima bersorak dalam hati dan menaikan sudut bibirnya menatap Maudy.


"Jadi, pernikahan akan segera di laksanakan tiga hari dari sekarang. Untuk resepsi akan kita adakan sesuai tanggal dan bulan yang sudah di tentukan." Semua sepertinya setuju. Ibu Irma tersenyum dan menoleh ke arah Maudy. Tak terasa anakku sudah dewasa dan akan segera menikah, batinnya.


Mereka berbincang kembali, ayahnya juga tak segan menanggapi apa yang di katakan oleh calon besannya.


Ternyata dia tak sesombong yang Maudy katakan, batinnya.


--__

__ADS_1


Ayo sewa kebaya buat pernikahan Bima ya, hehe


__ADS_2