Dia Bimaku

Dia Bimaku
Apa ini kejutan?


__ADS_3

Ada angin yang menerbangkan rambut setiap orang. Wajah-wajah ceria juga sangat terlihat di hari ini, iya karena semua yang berada disini pasti dengan keadaan baik, jika tidak baik mereka tidak disini.


"Dy, kamu mau pesan apa? Dari tadi di tanya juga!" Maudy hanya menghela nafas. Bagaimana pun tidak akan bisa di pungkiri, tidak mungkin dalam satu hari bisa melupakan Bima.


Andai lelaki yang duduk di hadapan ku kamu Bim.


"Aku sama aja kayak kamu Ki." Ucapnya seperti tidak berselera. Dan Kiki bisa tau itu.


"Pak, es kelapa mudanya dua, terus gorengan sama cabe rawit nya yang banyak ya pak." Penjual segera mencatatnya. "Kalian apa gam?"


"Kita sama aja juga lah." Padahal rata-rata juga anak orang kaya, tapi senangnya malah nongkrong di warung pinggir jalan, ya kalau hujan pasti kena, abu juga banyak.


"Udah itu aja neng?" Bertanya kembali sebelum pergi membuat pesanan pelanggan.


"Iya pak." Penjual langsung mengangguk dan pergi.


"Dy? Kamu kok melamun aja sih?" Tanya Agam.


"Ah nggak, aku cuma ngantuk aja gam." Tersenyum.


"Kenapa? Begadang nih ceritanya karena lagi galau?" Kiki langsung meliriknya, melihat reaksi Maudy seperti apa.


"Kamu kayak nggak pernah patah hati aja gam." Tersenyum lagi, mencoba terlihat kuat.


"Ya ampun Dy, kita masih muda kali. Patah satu tumbuh seribu, putus ya cari lagi yang lain." Maudy diam tidak menjawab, mungkin memikirkan omongannya Agam.


"Pacar kamu mana gam?" Kiki bertanya.


"Seminggu udah putus kalau dia mah, jangan di tanya lah." Haikal menjawab dengan santainya, Agam langsung menyikut lengan temannya.


Sial*n bisa jadi jelek reputasi ku di depan Maudy nanti!


"Bener tuh gam? Wah Playboy cap apa ni?" Kiki sepertinya tertarik dengan pembicaraan ini.


Sebelum Agam menjawab, penjual datang membawakan pesanan mereka. Mungkin ini keberuntungan Agam, bisa mengalihkan pembicaraan.


"Ah segarnya." Ucap Haikal ketika meneguk es kelapa mudanya.


"Dy, nih rawitnya udah banyak. Kan kamu yang bilang kalau galau makan pake rawit aja." Berbisik di telinga Maudy.


Tanpa menjawab Maudy langsung mengambil gorengan dan beberapa rawit di tangannya. Meneguk es miliknya, dan mengambil lagi gorengan yang selanjutnya, bahkan yang lain belum menyentuhnya. Agam sampai tercengang melihat Maudy makan begitu banyak rawit.


"Dy udah." Mengambil paksa saat Maudy akan memakan kembali. "Nanti kamu sakit perut." Wajahnya memang terlihat khawatir.


"Biar aja kali gam. Udah biasa dia."


"Buaya mulai beraksi." Gumam Haikal lalu bersiul.


Mereka kembali berbincang selayaknya anak muda, Maudy hanya sesekali mengeluarkan suara, selebihnya hanya diam. Palingan Kiki yang terlihat antusias, dari pandangan mata Maudy ia bisa tau, kalau sahabatnya ini tertarik dengan Agam. Tapi Agam lebih merespon padanya.


"Eh sebentar." Ini kedua kalinya Kiki menjawab telepon dan pergi menjauh. Tapi Maudy masih cuek, nggak mungkin juga kan dia angkat telepon di sini, kan ada Agam dan Haikal, pikirnya.


"Dy?" Melirik ke arah Agam. "Kita balik yuk? Papa aku telepon, katanya aku harus pulang sekarang nggak tau ada urusan apa."


Maudy mengangguk.


"Maaf ya gam kami duluan, makasih ya traktiran nya." Ini kali kedua Kiki yang mengucapkan terima kasih, sebelumnya ketika di gratiskan makan di cafe milik Agam juga Kiki yang mengucapkan terima kasih.


"Ah iya iya silahkan. Hati-hati kalian ya?" Kiki berjalan lebih dulu.


"Makasih ya gam, aku duluan ya gam, Haikal?" Haikal tersenyum dan mengangguk.


"Eh tunggu Dy?" Menarik lengan Maudy sebelum melangkah pergi. Maudy menatap tangan Agam yang menyentuhnya.


"Nanti balas pesan aku ya?" Tersenyum ramah. Maudy juga tidak bisa bohong, kalau lelaki di hadapannya ini juga tampan.


"Ah iya." Tersenyum lalu pergi.


"Cie, mulai deh baru juga putus sama Rina." Agam hanya tertawa.

__ADS_1


Entah kenapa aku tertarik sama wanita ini, beda banget sama wanita lain. Nggak jaim, nggak harus selalu tampil cantik, natural aja gitu.


"Ngelamunin Maudy pasti nih?" Haikal kembali menebak. Dan itu memang benar.


"Kalau aku bisa kencan sama Maudy, kamu minta apa bakal aku kasih." Tersenyum penuh arti.


***


"Loh kok ada mobil yang parkir di halaman rumah aku ya Ki? Mobil siapa ini? Apa tamu ayah? Tapi pintu aku masih ditutup kok." Heran sendiri. Maudy langsung turun ketika mobil Kiki sudah berhenti dan memarkirkan nya di sebelah mobil yang saat ini ada di halaman rumahnya.


"Nggak tau, mungkin tamu tetangga kamu lah, kan mereka nggak ada halaman besar kayak kamu." Kiki juga ikut turun dari mobilnya.


"Eh tapi aku kayak kenal mobil ini deh." Berpikir sejenak. "Ini bukannya mobil papa kamu ya Ki?"


Kiki langsung membulatkan matanya.


"Ha? Mana mungkin Dy. Mobil papa aku kan bukan ini platnya. Ah kamu ngaco, udah ah ayo masuk?" Kiki mengeluarkan ponselnya, dan sibuk mengirim pesan. Tapi Maudy meninggalkan nya dan berjalan lebih dulu.


"Bu." Mengetuk pintu.


Kok sepi sih? Apa ibu pergi?


"Ki?" Memanggil Kiki yang jalan menunduk sedang fokus dengan ponselnya.


"Iya, kenapa?" Setelah mendekat ke arah Maudy.


"Sepi, apa ibu pergi ya?"


"Kenapa tanya aku, coba aja kamu buka kan nggak di kunci?" Saran Kiki.


Maudy memegang handle pintu dan menggoyangkan nya. Tetapi memang pintunya terkunci.


"Ah iya nih mereka pergi. Gimana mau masuk coba." Kesal sendiri dan duduk di teras rumahnya.


"Biasa orang tua kamu letak kunci dimana?"


"Sebentar. Biasa di letakkan dekat pot bunga." Berjalan ke arah tempat dimana biasanya orang tuanya menyimpan.


"Ini ada!" Tersenyum senang dan memperlihatkan di hadapan wajah Kiki sambil menggoyangkan nya.


Maudy langsung membukanya, dan masuk.


"Ayo Ki? Kamu nggak mau mampir dulu?" Menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam.


"Iya mampir." Ikut masuk ke dalam.


Baru beberapa langkah masuk.


"Selamat ulang tahun." Teriak keluarga kecilnya.


Tante Ratih, om Septian? Dan, aku nggak salah. Ini ada Tante Lisa? Apa ada papanya Bima juga? Sebenarnya ada apa ini? Ya ampun, aku bahkan lupa sama hari ulang tahun aku, karena Bima mutusin aku!


"Tiup dong sayang lilinnya. Kok malah melamun." Ibunya menegur.


Maudy masih tidak menyangka, ia meniup lilin lalu berbalik. Meminta semua penjelasan kepada Kiki. Karena dia tidak mungkin tidak tau tentang rencana ini.


Bima mana?


Maudy masih berharap ada Bima disini.


"Selamat ulang tahun ya Dy?" Kiki memeluknya. Tapi Maudy masih diam mematung. Ia seperti mimpi saat ini, melihat ada tante Lisa, kalau orang tua Kiki ia tidak terlalu kaget, tapi kali ini bahkan bisa ada tante Lisa. Orang tua dari anak yang membuatnya patah hati.


Berarti Bima nggak ikut karena udah nggak ada hubungan sama aku. Dan Kiki, dia berhutang penjelasan sama aku.


"Kamu cari Bima? Dia ada kok di dapur, lagi siapin kado buat kamu." Sekali lagi perkataan ini membuatnya mematung, bahkan otaknya sudah penuh dengan pikiran yang membentuk berbagai macam opsi.


***


Flashback.

__ADS_1


Bima.


Hari ini aku tidak sabar menunggu mama pulang, karena hari ini mama pergi ke sekolah untuk mengambil surat kelulusan ku. Aku juga yakin kalau aku lulus, dan itu pasti. Cuma bukan itu yang aku tunggu, karena aku sudah bilang kalau nanti bertemu orang tuanya Maudy mama jangan sombong. Hanya itu yang ingin aku tanyakan nanti ketika mama sampai di rumah. Persetan soal surat kelulusan ku.


Siang tiba, aku mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Jelas lah aku dengar, aku tidak berada di kamar, aku rela rebahan di sofa agar cepat bertemu mama. Mama pasti tidak heran dengan sifat ku ini, apa lagi beliau juga tau tentang hubunganku dengan Maudy, dan mama juga nggak merasa keberatan.


"Ma? Gimana?" Aku berbicara dengan sangat antusias.


"Iya kamu lulus kok Bim. Selamat ya, anak mama sudah dewasa sekarang." Aku menggandeng lengan mama dan mengajaknya duduk di sofa.


"Ma, bukan itu yang aku mau dengar. Kalau itu semua siswa juga bakal tau pasti lulus lah ma." Wajah ku sudah cemberut karena aku berpikir mama masak tidak tau apa yang di maksud anaknya.


Mama tersenyum.


"Iya mama sudah ketemu sama orang tuanya Maudy. Namanya Irma kan?" Perkataan mama mampu buat aku kembali tersenyum.


"Jadi gimana ma? Orangnya baik kan ma?" Aku sudah mendekat lagi merapatkan dudukku ke mama. Seperti aku tidak memberi celah sedikitpun untuk mama pergi sebelum bercerita semuanya ke aku.


"Iya baik kok, pantas saja Maudy juga begitu. Mama yakin orang tuanya mendidiknya dengan sangat bagus, terbukti anaknya memiliki kesopanan." Aku melayang tinggi ke udara melihat pacar ku ini di puji.


"Mama juga bertemu dengan mamanya Kiki. Namanya Ratih." Padahal aku tidak ingin mendengar tentang yang lain, tapi ya sudah aku siap mendengarnya.


"Begini Bim, tadi mama sempat pergi makan di luar bersama ibunya Maudy dan mamanya Kiki. Nah, tiba-tiba mamanya Kiki bertanya tuh ke ibunya Maudy, katanya Maudy sebentar lagi ulang tahun kan? Terus ibunya Maudy bilang iya, bahkan ia sempat lupa, malah orang tuanya Kiki yang mengingatkan. Berarti Maudy itu sangat dekat ya sama keluarganya Kiki? Terbukti kalau mereka sangat perhatian dengan anak itu." Aku hanya mengangguk dan menunggu mama berbicara lagi.


"Terus kan, mamanya Kiki ngasih ide gimana kalau buat surprise untuk Maudy, eh ibunya setuju, begitu juga dengan mama. Ya udah nanti bakal ada rencana buat kasih Maudy kejutan, dan ini juga sekalian di lakukan karena dua Minggu lagi Maudy akan berangkat ke luar negeri. Anggap ini acara makan-makan sekalian perpisahan dengan Maudy." Aku diam, kini mama menatap wajahku, wajahku yang sudah sendu mendengar kalimat akhir mama.


"Udah tenang aja, kalau jodoh nggak kemana? Apa kamu nggak mau ngasih kejutan sama Maudy?"


"Mau lah ma. Hem ya udah ma. Aku ke kamar ya ma?" Aku pamit untuk masuk ke kamar, seperti biasa aku berdiri di balkon dan curhat dengan angin, tentang perasaanku saat ini.


Hari perpisahan tiba, tidak terasa. Aku yang harusnya sedih karena akan berpisah dengan semuanya, berpisah dengan seragam sekolahku. Tapi hari ini aku terus tersenyum, mengingat rencana apa yang akan mama lakukan. Dan ketika Maudy fokus berbicara kepada bu Widya, ini kesempatan ku bertanya dengan Kiki, apa dia sudah tau atau belum.


"Iya Bim, mama aku juga udah bilang? Selamat ya, bakal datang ke rumah Maudy sama mama kamu lagi." Ucapnya membuatku semakin semangat menjalani hari.


"Aku punya rencana Ki." Aku langsung membuat kesepakatan kepada Kiki, untuk sama-sama menjaga rahasia ini.


"Kamu yakin Bim?" Tanyanya seperti takut aku mengambil keputusan ini. Aku menganggukkan kepalaku yakin.


Pembicaraan kami harus terhenti ketika Maudy sudah kembali. Aku akan melanjutkannya melalui ponsel nanti. Itu sudah aku niatkan.


Dan hari ini, aku pergi ke pantai bersama Maudy. Ini kedua kalinya moment indah terjadi, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku sengaja nyuruh Kiki menjauh dan memintanya mengambil beberapa photo candid kami, itu jelas tanpa sepengetahuan Maudy. Dan aku juga minta Kiki mengeditnya, seperti pasangan lain biar nampak romantis gitu.


Malam hari aku pulang kerumah. Aku juga sudah calling mama. Ternyata aman, papa pergi keluar kota selama dua hari bersama mas Rio. papa kejar semua kerjaannya karena sebentar lagi mas Rio akan menikah. Supaya nanti tidak repot, karena mas Rio pasti akan pergi bulan madu.


Setelah pulang mengantar Maudy, aku memang mampir ke salah satu pom bensin yang menyediakan WC umum. Aku mengganti baju, lalu aku pergi ke salah satu toko penjual alat musik yang memang terkenal bagus. Aku membeli gitar sebagai hadiah untuk Maudy. Aku selalu tersenyum di dalam mobil, mungkin aku sudah seperti orang gila. Dan ketika sampai di rumah, aku menelepon Kiki, siap untuk menjalankan rencana ku.


Aku terpaksa melakukan ini, karena ini adalah sebagian kecil kejutan ku untuknya nanti. Aku memutuskannya, setelah mengirim pesan aku berbaring dan meneteskan air mataku, iya aku menangis. Dengan beribu maaf ku ucap tanpa Maudy bisa mendengarnya.


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, aku bahkan tidak sabar untuk datang kerumah Maudy. Aku beberapa kali mengirim pesan ke Kiki menanyakan keberadaan nya. Ternyata Kiki bilang kalau dia akan pergi kerumah Maudy. Aku mengehla nafas lega, setidaknya aku akan tau kabar pacarku ini melalui Kiki.


Pukul 11. Mama berteriak memanggilku, aku langsung bergegas menuruni anak tangga.


"Iya ma?"


"Kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang ya, karena mama mau bantu ibunya Maudy masak hari ini." Mama Kembali memeriksa isi tasnya, entah apa yang ia bawa aku juga nggak tau.


Seorang istri Adi Nugroho loh ini, mamaku. Dia rela datang dan membantu memasak. Hal ini sudah menunjukan kalau mama benar-benar sayang sama Maudy. Aku segera mengambil gitar yang sudah berada di dalam tasnya. Dengan menggendongnya aku membawa ke mobil. Aku sudah seperti akan pergi melamar hari ini.


"Bim, kalau Maudy perginya dua Minggu lagi, itu berarti bertepatan sama acara mas kamu?" Deg, jantungku berdenyut. Itu berarti aku tidak bisa ikut mengantar Maudy nantinya ke bandara. Aku senang hari ini, tapi aku tidak senang mendengar kabar ini. Bagiku ini kabar duka di kehidupanku.


Saat aku berada di rumah Maudy, Kiki menelepon ku. Bertanya tentang hubungan kami, aku tau saat ini pasti Maudy mendengarkannya. Dan aku memberi alasan kalau aku di panggil mama. Padahal karena ada ayahnya yang datang menghampiri ku yang kini sedang duduk di sofa seorang diri. Kami berbicara banyak hal, ternyata ayahnya Maudy orang baik, beliau juga ramah. Aku nyaman ketika bicara dengannya.


Sampai sore pikiran ku tidak tenang, kemana mereka pergi? Karena masakkan dan dekor ala-ala tante Ratih belum selesai jadi terpaksa kami menelepon kiki jangan dulu pulang ke rumah.


Satu jam kemudian, saat semuanya sudah selesai, dekor sederhana juga sudah, masakan juga sudah. Kiki mengirim pesan bahwa mereka sudah ada di halaman sekarang. Jantungku berdebar, aku tidak sabar melihat reaksi Maudy nantinya. Dan akhirnya.


"Selamat ulang tahun." Suara itu terdengar sampai ke dapur. Iya aku tidak ikut memberi kejutan selamat, rasanya aku masih takut, takut kalau Maudy menganggap semuanya serius, termasuk hubungan kami. Ampuni aku sayang. Iya aku siap berlutut nantinya.


Bima end.

__ADS_1


--__


__ADS_2